cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Analisis Pasal 284 KUHP tentang Tindak Pidana Zina M. Aunul Hakim
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.136 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i3.4602

Abstract

Indonesia is a state with a Criminal Code named KUHP. The regulation draft about adultery is especially mentioned at paragraph 284. According to this paragraph, the definition of adultery is sexual intercourse conducted by a man/woman who has valid marriage with another woman/man who is not his/her wife/husband and it is conducted based on the wish of each of them. In Criminal Code, it is stated that such deed may be imposed as a crime if there is a plea from the wife/husband who is harmed. Adultery crime is called as offense that warrants complaint, and punishment is nine months. It is different from the meaning of adultery according to Islamic Law which has meaning a sexual intercourse conducted by a man and woman who are not a valid pair of marriage. Besides, the criminal code was established based on rationale consideration. While the objective of legal realism is to construct the law which is more responsive toward the social need. Therefore KUHP regulation on adultery should be revisited to accomodate the Islamic values held by moslem as the dominant citizen in Indonesia.     Indonesia adalah negara dengan KUHP yang bernama KUHP. Rancangan peraturan tentang perzinahan terutama disebutkan pada paragraf 284. Menurut paragraf ini, definisi perzinahan adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang pria / wanita yang memiliki pernikahan yang sah dengan wanita / pria lain yang bukan isteri / suami dan istrinya. dilakukan berdasarkan keinginan masing-masing. Dalam KUHP, dinyatakan bahwa akta tersebut dapat dikenakan sebagai tindak pidana jika ada permintaan dari istri / suami yang dirugikan. Kejahatan perzinahan disebut sebagai pelanggaran yang menjamin pengaduan, dan hukuman sembilan bulan. Hal ini berbeda dengan makna perzinahan menurut Hukum Islam yang memiliki arti hubungan seksual yang dilakukan oleh pria dan wanita yang bukan pasangan perkawinan yang sah. Selain itu, kode pidana didirikan berdasarkan pertimbangan rasional. Sedangkan tujuan realisme hukum adalah membangun undang-undang yang lebih responsif terhadap kebutuhan sosial. Oleh karena itu peraturan KUHP tentang perzinahan harus ditinjau kembali untuk mengakomodasi nilai-nilai Islam yang dimiliki umat Islam sebagai warga negara yang dominan di Indonesia.
AGAMA DAN KEKERASAN MASSA Ghony, M. Djunaidi
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.997 KB) | DOI: 10.18860/el.v4i3.5166

Abstract

Tulisan· ini membahas secara sosiologis fenomena terjadinya berbagai kekerasan massa. Selanjutnya akan difokuskan pada agama sebagai salah satu variabel penting yang perlu juga dilihat dalam setiap peristiwa kekerasan terjadi. Meskipun kekerasan bukan semata-mata dipicu oleh agama, tapi seringkali agama dimanfaatkan untuk memberi legitimasi. Anggapan seperti ini segera mengundang diskursus karena merefleksikan kenyataan paradoks dengan misi yang diemban oleh agama. Karena itu dalam konteks ini, agaknya perlu dipertegas tempat sosiologis, sehingga dengan mudah dapat dideskripsikan kaitan agama dengan kekerasan. Dalam hal ini, tata nilai dan moral dapat dijadikan pandangan hidup bagi masyarakat manusia, tetapi di pihak lain agama juga kadang-kadang dapat menjadi pemicu konflik yang pada urutannya dapat menimbulkan kekerasan atau pun perselisihan yang meluas. Meskipun dalam batas tertentu, perselisihan itu sendiri mempunyai nilai positif dan negatif. Teori konflik dalam sosiologi keagamaan cenderung mementingkan peran self interest dalam perilaku manusia termasuk perilaku yang bersifat religius. Karena itu, dengan optimalisasi peran agama, kekerasan clan konflik dalam masyarakat dengan sendirinya dapat tereliminir atau diperkecil bahkan ditiadakan. This paper discusses sociologically the phenomenon of mass violence. It will then focus on religion as one of the important variables that need to be seen in any violent incident. Although violence is not solely triggered by religion, it is often used to legitimize religion. This kind of opinion immediately invites discourse because it reflects the reality of paradox with the mission carried by religion. Hence in this context, it seems necessary to emphasize the sociological place, so that it can easily be described as a religious link to violence. In this case, values and morals can be used as a worldview for human society, but on the other hand religion can sometimes be a trigger of conflict that in a sequence may lead to widespread violence or dispute. Although in some respects, the dispute itself has a positive and negative value. Conflict theory in religious sociology tends to emphasize the role of self-interest in human behavior, including religious behavior. Therefore, by optimizing the role of religion, violence and conflicts within society can in itself be eliminated or minimized and even eliminated.   
Analisis Likuiditas Saham Sebelum, Saat dan Sesudah Pengumuman Stoch Split Agus Sucipto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.291 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i1.4619

Abstract

Stock split announcement is one of information type published by emitent that is used to know market reaction. When stock split announcement contains information, the market reacts that is shown by the changing of stock price. This study is intended to describe the effect of stock split announcement to market reaction using event study. This approach is used to identify the reaction of the market which is an activity of trading volume and bid-ask spread of stock used to know stock liquidity. The findings show that there is no significant difference between stock trading volume activity before, during and after stock split announcement. Whereas, the period of before and after the announcement, there is a significant difference of stock trading volume activity. The finding of bid-ask spread stock shows that there is a significant difference in the period of before and after stock split announcement. But there is no significant difference in the period of before and after stock split announcement. Pengumuman pemecahan saham adalah salah satu jenis informasi yang diterbitkan oleh emiten yang digunakan untuk mengetahui reaksi pasar. Bila pengumuman pemecahan saham berisi informasi, pasar bereaksi yang ditunjukkan oleh perubahan harga saham. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efek pengumuman pemecahan saham terhadap reaksi pasar dengan menggunakan kajian peristiwa. Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi reaksi pasar yang merupakan aktivitas volume perdagangan dan pemecahan saham yang digunakan untuk mengetahui likuiditas saham. Temuan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara aktivitas volume perdagangan saham sebelum, selama dan setelah pengumuman pemecahan saham. Padahal, periode sebelum dan sesudah pengumuman, ada perbedaan yang signifikan dari aktivitas volume perdagangan saham. Temuan menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada periode sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham. Namun tidak ada perbedaan yang signifikan pada periode sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham.
Pendidikan (Agama) Pluralis: Upaya Menciptakan Kerukunan Bangsa Muhammad Walid
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.324 KB) | DOI: 10.18860/el.v9i3.4650

Abstract

Religious education has to give contribution to form pluralistic attitude that appreciates the truth of other religions. The claim of being the only true religion by various religious followers may result in horrific conflicts. It is dangerous when religion is used to justify sadistic act in many conflicts. Therefore, religious education is very important to develop religiosity and to improve religious tolerance. As a social process, education is a mean of transferring religious values and knowledge to the religious followers that, in turn, form their religious attitudes. Consequently, if religion is learned exclusively, the output will be exclusive. Conversely, if religion is learned openly or inclusively, the output will be open-minded, it means they can understand the others. Pendidikan agama harus memberi kontribusi untuk membentuk pribadi pluralis yang menghargai kebenaran ajaran agama lain. Klaim pengkikut yang menyatakan agama mereka sebagai ajaran yang paling benar akan berakibat pada konflik besar. Sangat berbahaya jika agama digunakan untuk membenarkan perlakuan sadis di banyak konflik. Karenanya, pendidikan agama dirasa penting untuk membangun religiusitas dan menambah toleransi agama. Sebagai proses sosial, pendidikan adalah alat transfer nilai-nilai agama dan pengetahuan kepada pengikutnya yang pada akhirnya membentuk perilaku religius mereka. Akibatnya, jika agama dipelajari secara eksklusif maka hasilnya pun eksklusif. Sebaliknya, jika dipelajari secara terbuka atau inklusif maka akan menghasilkan pribadi yang open-minded, itu berarti mereka dapat memahami ajaran lainnya.
Kekerasan terhadap Wanita: Sebuah Fenomena Sosial Keagamaan Moch. Sony Fauzi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.223 KB) | DOI: 10.18860/el.v3i1.4684

Abstract

Violence against women is actually a phenomenon which in its study has a long historical aspect, this is considering the high level of repatriation in the world history stage. History ink is always faithful to write events after event, war for the battle in which is full of violence against women. This paper describes the position of women from different perspectives and theology of Islam. Furthermore, this paper discusses violence against women in religious social phenomena. With our shared understanding that violence against women can be approached by observing the religious understanding of the perpetrators of violence, then the search for a solution to the social problem can begin with the rearrangement of our religious beliefs in particular how religion actually views gender. Kekerasan terhadap wanita sebenarnya merupakan sebuah fenomena yang dalam kajiannya mempunyai aspek kesejarahan yang panjang, hal ini mengingat tingginya tingkat keterulangannya dalam pentas sejarah dunia. Tinta sejarah senantiasa setia menuliskan peristiwa demi peristiwa, peperangan demi peperangan yang di dalamnya sarat dengan praktek kekerasan terhadap wanita. Tulisan ini menjabarkan kedudukan wanita dari beragam perspektif dan teologi Islam. Lebih lanjut, tulisan ini membahas mengenai kekerasan terhadap wanita dalam fenomena sosial keagamaan. Dengan pemahaman kita bersama, bahwa kekerasan terhadap wanita bisa didekati dengan mengamati pemahaman agama dari pelaku kekerasan tadi, maka pal­ing tidak pencarian solusi bagi problem sosial itu bisa kita mulai dari penataan kembali .pemahaman agama kita khususnya bagaimana sebenarnya agama memandang tentang gender.
Agama dan Kekerasan terhadap Perempuan: Mencari Akar-Akar Kekerasan terhadap Perempuan Perspektif Islam Umi Sumbulah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.24 KB) | DOI: 10.18860/el.v3i1.4712

Abstract

Violence against women, especially domestic violence that is currently prevalent, is actually a multilevel and multi-dimensional problem. This paper explores the roots of violence against women at various social, educational and economic levels. In the literature of feminism, the frequent form of violence against women is also the exploitation and exploitation of women, belonging to the violence of pornography, the harassment of women's image and dignity. This paper also offers some thoughts to solve them, as follows: 1) Reinterpretation of sacred texts that are just and uphold the principles of equality between men and women; 2) Internalization and socialization of equality values in multi-level and social stratification of the community regardless of ethnicity, race, gender, religion and other social level; 3) Creation of a sakinah and harmonious household situation; 4) Continuity of movement and struggle against inequality and injustice against women, baiik by men as well as by women themselves; 5) Handling of victims of violence, whether from psychological, legal, or other aspects; 6) Provision of legal facilities and political containers that accommodate the interests of women and counseling for the handling of violence. Kekerasan terhadap kaum perempuan khususnya kekerasan dalam rumah tangga yang saat ini marak terjadi, sebenarnya adalah masalah yang multilevel dan multi dimensional. Tulisan ini mengeksplorasi akar kekerasan terhadap kaum perempuan di berbagai tingkat sosial, pendidikan dan ekonomi. Dalam literatur-literatur feminisme, bentuk kekerasan terhadap perempuan yang sering juga dipersoalkan adalah eksploitasi dan seksploitasi terhadap perempuan, yang tergolong pada kekerasan pornografi, yakni pelecehan terhadap citra dan martabat perempuan. Tulisan ini juga menawarkan beberapa pemikiran untuk menyelesaikannya, sebagai berikut: 1) Reinterpretasi teks suci yang berkeadilan dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan; 2) Internalisasi dan sosialisasi nilai-nilai kesetaraan di multi level dan stratifikasi sosial masyarakat tanpa memandang etnis, ras, jenis kelamin, agama dan tingkat sosial lainnya; 3) Penciptaan situasi rumah tangga yang sakinah dan harmonis; 4) Kontinuitas gerakan dan perjuangan melawan ketimpangan dan ketidakadilan terhadap kaum perempuan, baiik oleh laki-laki maupun oleh perempuan sendiri; 5) Penanganan korban kekerasan, baik dari aspek psikis, hukum, maupun lainnya; 6) Penyediaan fasilitas hukum dan wadah politik yang mengakomodir kepentingan perempuan serta konseling untuk penanganan kekerasan.
Modernisme dan Fundamentalisme sebagai Fenomena Gerakan Keagamaan dalam Sosial Masyarakat Mohammad Asrori Alfa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.345 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i2.4749

Abstract

Many issues on "Modernism" and "Fundamentalism" prove the development of ideologies and sects as religious, social, and politic phenomena existing in society. Nevertheless, this study aims to focus on the religious phenomena only because each of the ideologies and sects cannot be separated from its historical root that is related much to the problems of Christian development in western countries. Furthermore, this study results from intellectual exploration that is able to find out and sketch the characteristics of "Modernism" and "Fundamentalism" as religious phenomena existing in society. As a result, it can finally distinguish the typology of social communities that include in the category of each ideology. Moreover, it explains that that various performances of religious movements in society can be included in the typology of each ideology Banyak isu tentang "Modernisme" dan "Fundamentalisme" membuktikan perkembangan ideologi dan sekte sebagai fenomena agama, sosial, dan politik yang ada di masyarakat. Namun demikian, penelitian ini bertujuan untuk fokus pada fenomena keagamaan hanya karena masing-masing ideologi dan sekte tidak dapat dipisahkan dari akar historisnya yang terkait dengan masalah perkembangan Kristen di negara-negara barat. Selanjutnya, hasil penelitian ini berasal dari eksplorasi intelektual yang mampu mengetahui dan membuat sketsa karakteristik "Modernisme" dan "Fundamentalisme" sebagai fenomena religius yang ada di masyarakat. Akibatnya, akhirnya bisa membedakan tipologi komunitas sosial yang termasuk dalam kategori masing-masing ideologi. Terlebih lagi, ini menjelaskan bahwa berbagai pertunjukan gerakan keagamaan di masyarakat dapat dimasukkan dalam tipologi masing-masing ideologi
Flood Disaster, Local Belief and Islam-Sufism Harifuddin Harifuddin; Rasyidah Zainuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.492 KB) | DOI: 10.18860/el.v19i1.3916

Abstract

Flood disaster as a natural phenomenon has a lot of meaning for the rural community. They believe that flood is the power of deity, as a sign that a quarrel is happening ‘under water’, and a sign of God’s kindness because flood has negative and positive aspects. These show that people’s thoughts are shaped by several factors, such as local and religious beliefs (Sufism). This paper outlines how Segeri society describes the meaning of flood disaster constructed by local beliefs and Islamic sufism. Historically, the spread of Islam in South Sulawesi – that is generally characterized as ‘Sufi’ – is the factor influencing the religious belief of local society. The aforementioned belief is the sufism characteristic which is about the absolute resignation toward God’s will and fate. This study uses phenomenological approach to interpret the understanding of flood and the local belief obtained through in-depth interview to Bissu and farmers. The interview data is also linked to the observation of the natural environment. The research shows that Segeri society believes that flood is God’s will and reprisal. By being given an ordeal, someone’s sins will be decreased. Flood – they believe – will give positive impacts and also bring God’s blessing in their lives. This belief causes the so-called ‘resignation’ everytime flood destroys their area.Bagi masyarakat pedesaan, bencana banjir adalah fenomena alam yang memiliki banyak makna. Beberapa di antaranya yaitu banjir sebagai perwujudan kekuasaan dewa, sebagai pertanda sedang terjadi pertikaian di alam bawah air, dan merupakan tanda kebaikan Tuhan karena banjir memiliki aspek negatif dan positif. Contoh-contoh tersebut menunjukkan pemaknaan masyarakat yang dibentuk oleh beberapa faktor, antara lain kepercayaan lokal dan keyakinan keagamaan (sufisme). Tulisan ini menguraikan pemaknaan masyarakat Segeri terhadap terjadinya bencana banjir yang dikonstruksi kepercayaan lokal dan Islam sufisme. Secara historis, penyebaran agama Islam di provinsi Sulawesi Selatan yang umumnya berciri ‘sufistik’ merupakan salah satu faktor yang membentuk keyakinan keagamaan masyarakat setempat. Keyakinan keagamaan yang dimaksud adalah adanya karakteristik sufisme yang berisi ‘kepasrahan’ mutlak atas kehendak dan takdir Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan menafsirkan pemahaman masyarakat Segeri terhadap banjir, kepercayaan lokal mereka yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan bissu dan petani. Data wawancara tersebut juga dihubungkan dengan pengamatan terhadap lingkungan alam setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Segeri meyakini banjir sebagai cobaan dan kehendak dari Tuhan. Setiap cobaan yang dialami manusia berarti menggugurkan dosa-dosanya. Banjir yang datang dianggap memiliki hikmah kebaikan dan keberkahan Tuhan dalam kehidupan mereka. Keyakinan tersebut berkonsekuensi terhadap ‘kepasrahan’ masyarakat setiap banjir terjadi
Following The Prophet Muhammad Character through Ngabuleh Tradition in Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan Moh. Wardi; Ismail Ismail
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.759 KB) | DOI: 10.18860/el.v20i1.4473

Abstract

This research is part of the relevance of personality character of the Prophet Muhammad with the ngabuleh tradition in the theory of FAST (fathanah, amanah, siddiq, and tabligh). The purpose of this study is to find out and explain the ngabuleh tradition in religious, cultural, and economic reviews. The study is categorized in phenomenological research using qualitative approach. The data were obtained from observation, in-depth interview, and documentary study. It was then analyzed by data reduction, data presentation, and conclusion phase. Informant in this study is kabuleh in Pondok Pesantren Darul Ulum at Banyuanyar District, Pamekasan Regency. The results show that,in the view of religion ngabuleh is the implementation of Islamic values about following the character of the Prophet Muhammad and sincerity. Culturally, as a form of adherence of high respect to the pillars of culture in Madura, namely bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato (father, mother, teacher/kiai and queen/government). Economical-wise, ngabuleh is a kind of paying respect to the kiai by working in the corporate run by kiai/Pesantren and at once, contributing santri’s skill and competence in the field of entrepreneur.Penelitian ini merupakan bagian dari relevansi karakter kepribadian Nabi Muhammad dengan tradisi kabuleh dalam teori FAST (fathanah, amanah, siddiq, and tabligh). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan tradisi ngabuleh dalam tinjauan agama, budaya, dan ekonomi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Data diperoleh dari hasil observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan tahap kesimpulan. Informan dalam penelitian ini kabuleh di Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan. Hasil penelitian menunjukan bahwa, secara agama, ngabuleh merupakan implementasi nila-nilai ajaran Islam tentang keteladanan sifat Nabi, dan keikhlasan. Secara budaya, sebagai bentuk kepatuhan penghormatan yang tinggi kepada pilar-pilar penyangga kebudayaan Madura, yakni bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato (bapak, ibu, guru/kiai, ratu/pemerintah). Secara ekonomi, bahwa kabuleh yang berkhidmat kepada kiai dengan bekerja pada usaha milik kiai/pesantren memberikan kontribusi skill dan kompetensi santri dalam bidang entrepreneur.
Mengembangkan Islam dengan Local Wisdom: Strategi Kebudayaan Nahdlatul Ulama Ahmad Arifi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.031 KB) | DOI: 10.18860/el.v10i2.4583

Abstract

Religion and culture are two entities which always interact to each other. Interaction between religion and culture can manifest in cohesiveness of religion into community culture in the form of plural society behavior as an expression of religious society. In addition, a culture of society can integrate into the practices of religious values that manifested in the spirit of religious society. Further, it is called as religious traditions or religious experiences based culture. The Nahdlatul Ulama (NU) is a Muslim community which upholds local tradition values. Its movement is based on three principles: Islamic values, Indonesian culture and community benefit. The implementation of these principles required the understanding of local wisdom as the heart of the community. As long as the local tradition goes with the principles, it can accomodate the model of cultural development of NU. Therefore, the religious practices of nahdliyyin (members of the NU) reflect the nuance of Islamic culture. Agama dan budaya adalah dua entitas yang selalu berinteraksi satu sama lain. Interaksi antara agama dan budaya dapat bermanifestasi dalam kekompakan agama ke dalam budaya masyarakat dalam bentuk perilaku masyarakat majemuk sebagai ungkapan masyarakat religius. Selain itu, budaya masyarakat dapat mengintegrasikan ke dalam praktik nilai-nilai agama yang terwujud dalam semangat masyarakat beragama. Selanjutnya, ini disebut sebagai tradisi keagamaan atau budaya berbasis pengalaman religius. Nahdlatul Ulama (NU) adalah komunitas Muslim yang menjunjung tinggi nilai tradisi lokal. Pergerakannya didasarkan pada tiga prinsip: nilai Islam, budaya Indonesia dan manfaat masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip ini mewajibkan pemahaman kearifan lokal sebagai jantung masyarakat. Selama tradisi lokal berjalan dengan prinsip, ia bisa mengakomodasi model perkembangan budaya NU. Oleh karena itu, praktik keagamaan nahdliyyin (anggota NU) mencerminkan nuansa budaya Islam.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue