cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Budaya Mitoni: Analisis Nilai- Nilai Islam dalam Membangun Semangat Ekonomi Umi Machmudah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.984 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i2.3682

Abstract

Culture as the result of ideas, feelings and intention in Islam is the manifestation of worship. This paper is written through literary review that is completed with observation from some mitoni traditions. The culture form of ideas, activities and artifact is applied in 'mitoni'. It is a celebration on seventh month of pregnancy age. The activities done in mitoni are 1) bathing, 2) 'brojolan' ritual, 3) clothing change ritual, 4) prayer, 5) gift. Islamic values that inspire economic activities in mitoni are 1) thanksgiving that encourages people to be productive, 2) 'tafaa’ul' through prayer to be selective in consuming goods, 3) helping each others to manage the production cost, 4) implied education as all the activities are based on knowledge, 5) visitation to make connection through service distribution, 6) almsgiving through the gift that will maximize the production value, 7) reciting the verses of al-Quran and their meaning, some of which related to prosperity, 8) economic creativity, through the use of various apparatus and foods, bearing production activities.Budaya sebagai hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia, dalam Islam merupakan manifestasi dari ibadah. Makalah ini ditulis melalui kajian pustaka dilengkapi dengan observasi dari beberapa acara mitoni. Wujud budaya yang berupa gagasan, kegiatan dan artefak yang teraplikasi pada budaya 'mitoni' 'Mitoni' adalah perayaan tujuh bulan usia kehamilan. Rangkaian mitoni adalah 1) siraman, 2) upacara brojolan, 3) upacara pergantian busana, 4) doa dan 5) 'mberkat'. Nilai-nilai Islam yang menyemangati aktivitas ekonomi dalam budaya 'mitoni' adalah: a) tasyakuran, mendorong orang untuk produktif 2) 'tafaa’ul' (optimisme) melalui doa, yang menjadi kekuatan untuk selektif dalam mengkonsumsi barang, 3) tolong menolong, yang berdampak pada penekanan biaya produksi, 4) pendidikan (pre natal) yang tidak terstruktur, menyebabkan penghematan biaya operasional, karena semua tindakan dilandasi ilmu pengetahuan, 5) silaturrahmi, berarti membuat jejaring untuk memperluas distribusi barang atau jasa. 6) sedekah melalui 'mberkat' akan memaksimalkan nilai produksi, 7) tilawah al-Quran dan tadabbur maknanya, yang sebagian berhubungan dengan kemakmuran, 8) kreatifitas ekonomi, melalui penggunaan berbagai piranti dan makanan, yang melahirkan aktivitas produksi.
Perolehan Bahasa dalam Perspektif Al Quran Abdul Aziz
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.785 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i1.4905

Abstract

Language is a social phenomenon that has existed together with the existence of human being. It is used as a means of communicating idea, understanding each other, discussing problems, and expressing feeling and desire. The focus of this study is on the way the language is acquired. The first theory says that human language is acquired because Allah teaches the language to human being. The second theory states that language develops because of the convention among people that emerged from the spontaneous pronunciation of something. The third theory claims that language is acquired because of a particular human drive or instinct to express idea, both sensory and spiritual, using particular sentences. In the Qur' anic perspectives, language is given by Allah both directly through divine inspiration and indirectly through the teaching learning process as Allah teaches knowledge to human being. Al least, human being is given a gift from Allah, that is, a competence to learn the language through their mothers, language learning institution, and other learning media. Bahasa adalah fenomena sosial yang telah ada bersamaan dengan keberadaan manusia. Ini digunakan sebagai sarana mengkomunikasikan ide, memahami satu sama lain, mendiskusikan masalah, dan mengekspresikan perasaan dan keinginan. Fokus dari penelitian ini adalah pada cara bahasa diperoleh. Teori pertama mengatakan bahwa bahasa manusia diakuisisi karena Allah mengajarkan bahasa kepada manusia. Teori kedua menyatakan bahwa bahasa berkembang karena adanya konvensi di antara orang-orang yang muncul dari pengucapan spontan atas sesuatu. Teori ketiga mengklaim bahwa bahasa diperoleh karena dorongan atau naluri manusia tertentu untuk mengekspresikan ide, baik sensorik dan spiritual, menggunakan kalimat tertentu. Dalam perspektif Al-Qur'an, bahasa diberikan oleh Allah secara langsung melalui ilham ilahi dan secara tidak langsung melalui proses belajar mengajar karena Allah mengajarkan pengetahuan kepada manusia. Setidaknya, manusia diberi karunia dari Allah, yaitu, kompetensi untuk belajar bahasa melalui ibu mereka, lembaga pembelajaran bahasa, dan media pembelajaran lainnya.
Kejawen Spiritualism: The Actualization of Moral Values at Paguyuban Suci Hati Kasampurnan in Cilacap Mustolehudin Mustolehudin; Siti Muawanah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.972 KB) | DOI: 10.18860/el.v19i2.4029

Abstract

In Java, the existence of penghayat—believing in the One Almighty God—has grown significantly during the early reign of President Joko Widodo. This is supported by the Regulation of Ministry of Education and Culture Number 27 in 2016 about education services related to the belief in the One Almighty God at schools. Paguyupan Hati Suci Kasampurnan is one of penghayat groups in Cilacap which implements the teaching of budi pekerti (good behaviors) towards its adherents. This is a qualitative research examining the hidden meaning contained in the guidance book of Paguyupan Hati Suci Kasampurnan through semiotic analysis. This study results in two findings. First, the main source used at this paguyuban is Kitab Adam Makna. Second, the main teaching of this paguyuban is the teaching of good behaviors towards the adherents in order to reach the level of perfect life which is known as manunggaling kawula gusti.Di Jawa, keberadaan penghayat terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo. Hal ini dikuatkan dengan terbitnya regulasi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2016 tentang layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada satuan pendidikan. Paguyuban Suci Hati Kasampurnan merupakan salah satu kelompok penghayat di Cilacap yang ikut berperan aktif dalam mengimplementasikan ajaran budi pekerti kepada pemeluknya. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini berupaya mengkaji makna yang tersirat dalam kitab ajaran Paguyupan Hati Suci Kasampurnan melalui analisis semiotika. Hasil penelitian berupa dua temuan. Pertama, sumber ajaran Paguyuban SHK adalah Kitab Adam Makna (berupa simbol-simbol yang terdapat di jagat raya). Kedua, bahwa intisari dari ajaran paguyuban ini adalah mengajarkan budi pekerti luhur sebagai dasar untuk memperoleh kesempurnaan dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti).
Transformasi Belajar dan Pembelajaran Menuju Abad 21 Sutiah Sutiah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.102 KB) | DOI: 10.18860/el.v5i1.5145

Abstract

The development of learning and learning patterns is directed to the four pillars as a whole, learning to know, learn to do, learn to be true, and learn to live together. These four pillars in the 21st century should be developed in an integrative way to be able to issue a refused out put. Learning and learning transformation in an effort to improve the quality and quality of education should continue to be pursued as a consequence of the demands of learning in accordance with the development of science and technology, learning styles, the development of learning and learning theories, and the needs and trends that occur in society as part of the development of the times. The transformation of learning and learning is intended to provide a passive atmosphere, character and learning patterns, depending on a single source, minimal and simplified facilities, uniform learning styles and not empowering learners. Furthermore, it should be developed into patterns and attitudes of learning that develop the integrity of learners actively, productively, and proactively. Pengembangan pola belajar dan pembelajaran diarahkan pada empat pilar secara utuh yaitu, belajar untuk mengetahui, belajar untuk berbuat, belajar untuk menjadi jati diri, dan belajar untuk hidup bersama. Keempat pilar ini pada abad 21 harus dikembangkan secara integratif agar mampu mengeluarkan out put yang refresentatif. Tranformasi belajar dan pembelajaran dalam upaya meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan harus terus diupayakan sebagai konsekuensi dari tuntutan belajar yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, gaya belajar, perkembangan teori belajar dan pembelajaran, serta kebutuhan dan kecenderungan yang terjadi di masyarakat sebagai bagian perkembangan zaman. Transformasi belajar dan pembelajaran dimaksudkan untuk memberikan suasana, watak, dan pola-pola belajar yang pasif, tergantung dari satu sumber, fasilitas yang minim dan seadanya, gaya belajar yang seragam serta tidak memberdayakan peserta didik. Selanjutnya perlu dikembangkan menjadi pola dan sikap belajar yang mengembangkan keutuhan peserta didik secara aktif, produktif, dan proaktif.
Konsep Kepribadian Guru: Perspektif Historis Isti'anah Abubakar
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.584 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i3.4609

Abstract

Teaching is perceived as a very heavy duty, but for other, teaching is the art and full charity. Teacher is person who teaches pupils to rich their best life. However, public does not care about the teaching profession. New generations are seemingly not interested in this profession. Lack in prosperity of teacher's life is the main factors of public's undesirable to the teaching profession which becomes a problem. Based on the phenomenon, there are many ways to undertake. One of them is Public Regulation of Teaching Profession (UU No. 14, 2005). The regulation is not the mere solution, yet, it is recommended that teacher's personality and performance have to improve to the ideal one. This paper offers the effort which is based on qonaah and commitment. It means that teachers should not be passive by encouraging themselves to conduct classroom action research. In addition, teachers should uphold their commitment to improve their integrity as professional teacher. Pengajaran dianggap sebagai tugas yang sangat berat, tapi bagi yang lain, pengajaran adalah seni dan amal penuh. Guru adalah orang yang mengajarkan murid untuk kaya dengan kehidupan terbaik mereka. Namun, masyarakat tidak peduli dengan profesi mengajar. Generasi baru nampaknya tidak tertarik dengan profesi ini. Kurangnya kemakmuran hidup guru merupakan faktor utama yang tidak diinginkan masyarakat terhadap profesi mengajar yang menjadi masalah. Berdasarkan fenomena tersebut, ada banyak cara untuk melakukan. Salah satunya adalah Peraturan Umum Profesi Pengajaran (UU No. 14, 2005). Peraturannya bukanlah solusi belaka, namun, disarankan agar kepribadian dan kinerja guru harus ditingkatkan sesuai keinginan. Makalah ini menawarkan usaha yang didasarkan pada qonaah dan komitmen. Artinya, guru tidak boleh bersikap pasif dengan mendorong diri mereka untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Selain itu, guru harus menjunjung tinggi komitmen mereka untuk meningkatkan integritas mereka sebagai guru profesional.
Kekerasan dan Kekuasaan dalam Praksis Berbahasa: Memahami Kekerasan dalam Perspektif Galtung Mudjia Rahardjo
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.077 KB) | DOI: 10.18860/el.v2i2.5179

Abstract

As a social phenomenon, violence has attracted the interest of social scientists to further study, cultivate and explore its exploratory theorists. One of them is Johan Galtung. This paper explores Galtung's theory of violence in relation to language practice. According to Johan Galtung, violence occurs when humans are affected in such a way that actual physical and mental realizations are under their potential realization. Galtung will see something as violent if in the future the event can be overcome or prevented, but still left. As a symbolic reality, language can not be separated from the inner world of the wearer and the social setting that exists. These include social conflicts such as violence, murder, rape, looting, harassment, robbery, repression, and so on. Coinciding with the violent phenomenon that plagues this nation, modesty or ethical language is now experiencing erosion or extraordinary setbacks. To overcome this, ethics of language decency needs to be addressed in the context of language teaching in Indonesian cultural lands. Sebagai fenomena sosial, kekerasan telah menarik minat para ilmuwan sosial untuk lebih jauh mempelajari, menggeluti dan mencari  teoretis eksplanatorisnya. Salah satu di antaranya ialah Johan Galtung. Tulisan ini memaparan tentang teori kekerasan Galtung dalam hubunganya dengan praktik bahasa. Menurut Johan Galtung, kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Galtung akan melihat sesuatu sebagai kekerasan bila di masa mendatang peristiwa tersebut bisa diatasi atau dicegah, tetapi tetap dibiarkan. Sebagai realitas simbolik, bahasa tidak bisa lepas dari dunia batin pemakainya dan setting sosial yang ada. Termasuk di antaranya konflik-konflik sosial berupa kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, pelecehan, perampokan, penindasan, dan lain sebagainya. Berbarengan dengan fenomena kekerasan yang melanda bangsa ini, kesopanan atau etika berbahasa kini mengalami erosi atau kemunduran luar biasa. Untuk mengatasi itu, etika kesopanan berbahasa perlu disikapi dalam konteks pengajaran bahasa dalam lahan budaya Indonesia.    
Aktualisasi Etika Islam dalam Dunia Bisnis M. Nur Asnawi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.764 KB) | DOI: 10.18860/el.v4i2.4636

Abstract

In the context of an increasingly transparent macro life, the transcendental normative values of Islam are challenged to be able to manifest themselves in real terms. This demand seems to be a logical consequence when the reference to life is practically more dominated by value order, such as the idea of hedonism. In the economic activity that is becoming a new trend nowadays, there are many cheats, tackling friend's profession, monopoly, etc. This is evidence of hedonism. Islam gives the suggestion that in conducting its economic activity always hold fast to ethics and norm. This research explains that human economic life should be based on the teachings of God. Doing business has an ethical principle that is responsible, honesty, cling and always grateful. With ethics and norms packaging the economic activity, it will undoubtedly bring about a virtue. Such virtue will give birth to true happiness in economy. In the end this will lead to the establishment and success of the upcoming economy. Dalam konteks kehidupan makro yang semakin transparan, nilai-nilai normatif transendental Islam ditantang untuk mampu mewujudkan diri secara riil. Tuntutan ini nampaknya sebagai konsekuensi logis ketika acuan kehidupan secara praktis lebih didominasi oleh tatanan nilai nilai, seperti faham hedonisme. Dalam aktivitas ekonomi yang menjadi tren baru saaat ini, terdapat banyak kecurangan, menjegal kawan seprofesi, monopoli, dll. Hal ini merupakan bukti adanya paham hedonisme. Islam memberikan anjuran agar dalam melakukan aktifitas ekonominya senantiasa berpegang teguh pada etika dan norma. Penelitian ini memaparkan bahwa kehidupan berekonomi manusia hendaknya tetap berlandaskan pada ajaran Tuhan. Berbisnis memiliki prinsip beretika yaitu bertanggung jawab, kejujuran, berpegang teguh dan selalu bersyukur. Dengan etika dan norma sebagai kemasan dalam aktivitas perekonomian, niscaya akan melahirkan suatu kebajikan (virtue). Kebajikan tersebut akan melahirkan kebahagiaan sejati dalam berekonomi (ultimate happiness). Pada akhirnya ini akan menggiring kepada kemapanan dan kesuksesan perekonomian mendatang.
Reorientasi Paradigma Pendidikan Keguruan: Telaah terhadap Rancangan Sertifikasi Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Nur Ali Rahman
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.821 KB) | DOI: 10.18860/el.v7i2.4658

Abstract

A good society can be seen by the positive characteristics displayed by its people. A person with positive characteristic is a product of a good quality of education. It is said that education quality is influenced by the quality of teachers. Low-qualified teachers are mostly related with the system of teacher development and the low-qualified institutions whose aim is to educate the future teachers. This article discusses the orientation of teacher education that has been programmed by government for several years. It is listed in 10 basic competences of professional teacher. The program of certification as the professional guarantee is also one of parts of this article. It can be assumed that to solve any kinds of educational problems, the renewal of orientation in developing education paradigm is highly needed. Masyarakat yang baik hanya dapat dibentuk dengan menampilkan individu-individu dengan karakter baik. Individu yang berkarakter baik dapat dibentuk melalui pendidikan yang berkualitas. Sedangkan, kualitas pendidikan banyak dipengaruhi oleh kualitas guru. Rendahnya kualitas guru banyak berkaitan dengan pola pengembangan guru dan banyaknya lembaga pendidikan berkualitas rendah yang menghasilkan guru. Artikel ini membahas orientasi pendidikan guru yang dicanangkan pemerintah beberapa tahun ini. Program-program tersebut tercakup dalam 10 kompetensi dasar untuk profesionalisme guru. Program sertifikasi sebagai penjamin juga menjadi salah satu bahasan di sini. Dapat disimpulkan bahwa untuk menyelesaikan masalah-masalah pendidikan, pembaharuan orientasi dalam pengembangan paradigma pendidikan sangat dibutuhkan. 
Mengurai Problem Dikotomik Eksistensial Manusia Dalam Perspektif Agama Dan Teori Evolusi Rasmianto Rasmianto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.033 KB) | DOI: 10.18860/el.v6i2.4669

Abstract

In 1960s, one Ahmadiyah figure, Saleh A. Nahdi tried to prove that evolution theory is even better to interpret Alquran’s ayah. Furthermore, he stated that the theory was indeed written in Alquran. Some of them are in surah Nuh (71), ayah 13 to 17. “What is (the matter) with you that you do not attribute to Allah grandeur? While He has created you in stages (evolution)? Do you not consider how Allah has created seven heavens in layers”. In a big scope, this article discusses the evolution theory in some religions’ perspectives and a classical debate about ‘Adam’ mystery. Some scholars of religion oppose the theory based on their religion’s beliefs, but some other are positive. They even use the theory to explain their religion’s doctrine written in the bible. In a further discussion, the experts are classified into two groups over Adam (as the first human) discussion. By explaining the proofs, some experts stated that Adam is not the first human as people believe. Some others believe that the descending of Adam is an indication that God delegates human as the caliph on earth. Pada 1960an seorang tokoh Ahmadiyah, Saleh A. Nahdi berusaha memberikan bukti bahwa teori evolusilah yang lebih tepat menafsirkan ayat-ayat Alquran. Ia malah mengatakan, teori evolusi itu justru terdapat dalam Alquran, umpamanya pada ayat ke-13 hingga ke-17 surat Nuh (71). Yang artinya mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal, Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian (evolusi)? Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat. Secara garis besar, artikel ini membahas teori evolusi dalam perspektif agama dan perdebatan klasik tentang misteri ‘Adam’. Sebagian ahli agama menentang berdasarkan ajaran agama mereka, tetapi sebagian lain menerima teori evolusi. Bahkan menggunakan teori tersebut untuk menjelaskan ajaran di kitab sucinya. Sedangkan, dalam pembahasan Adam sebagai manusia pertama di bumi pun para ahli terbagi menjadi dua golongan. Dengan beberapa bukti, sebagian berpendapat bahwa Adam bukanlah manusia pertama. Tafsiran lain juga menyatakan bahwa turunnya Adam ialah pertanda Tuhan mengutus manusia sebagai khalifah di muka bumi. 
Dialektika Manusia dan Agama Muh. Yunus
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.636 KB) | DOI: 10.18860/el.v1i3.4695

Abstract

The existence and role of religion (Islam) get a sharp criticism, which essentially needs a re-examination of religious dogma that has been frozen, if religion does not want to be abandoned by the swift stream of modernization. Truly the religion God revealed to the earth is for man. So religion is born to man, not man born to religion. If man is born to religion, then the most prominent is his transcendent dimension, the religious world from which he came, far from the earth. If so, then humans enter into the world aIkoholistik-theocentric, intoxicated. Factors that cause humans away from the ideal message of the Qur'an is a factor understanding of religion. A series of worship conducted by religious people such as prayer, zakat, fasting, pilgrimage, and the like only stop at the point of carrying out obligations (fiqh oriented) and become a symbol of piety, while the fruits of worship that dimensi sosial less visible. Among religious communities, there has been a misunderstanding in interpreting and appreciating and appreciating the symbolic message. As a result, religion is understood only as an individual savior and not as a social blessing.  Eksistensi dan peran agama (Islam) mendapatkan kritik tajam, yang intinya perlu adanya pengkajian ulang terhadap dogma agama yang selama ini telah membeku, jika agama tidak ingin ditinggalkan begitu saja oleh derasnya arus modernisasi. Sesungguhnya agama itu diturunkan Tuhan ke bumi memang untuk manusia. Jadi agama lahir untuk manusia, bukan manusia lahir untuk agama. Jika manusia lahir untuk agama, maka yang pal­ing menonjol adalah dimensi transendennya, dunia agama tempat asal ia turun, jauh dari bumi. Jika demikian, maka manusia masuk kedalam dunia aIkoholistik-teosentris, mabuk ketuhanan. Faktor yang menyebabkan manusia jauh dari pesan ideal al Quran adalah faktor pemahaman terhadap agama. Serangkaian ibadah yang dilakukan umat beragama (Islam) seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan sejenisnya hanya berhenti pada sebatas menjalankan kewajiban (fiqh oriented) dan menjadi simbol kesalehan, sedangkan buah ibadah yang berdimensi sosial kurang nampak. Di kalangan masyarakat beragama, telah terjadi kesalahpahaman dalam memaknai dan menghayati serta mengapresiasi pesan simbolik itu. Akibatnya, agama hanya di pahami sebagai penyelamat individu dan bukan sebagai keberkahan sosial. 

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue