cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Menyingkap Feminisme Perspektif Akuntansi Islam Ahmad Fahrudin Alamsyah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1692.882 KB) | DOI: 10.18860/el.v3i1.4687

Abstract

Modern culture is actually dominated by masculine traits, such as material life, expansive rational, exploitative, competitive, egoistic, quantitative, and so on. Femininity will give a place to masculinity to power while femininity is behind. This is evident from the existence of a comparative study between mainstream accounting and Shari'ah accounting, in an attempt to expose the Ah-Shari'ah feminism that has been marginalized. This paper discusses Islamic accounting perspective as a new paradigm. The essence of Islamic accounting is essentially an attempt to deconstruct modern accounting into a more humanist and value-packed form. Shari'ah accounting is a new technology that shows that social, moral, and spiritual values are an important concern in determining the principles to be developed. Therefore, the concept of accountability in shari'a accounting is more emphasis on two mutually balanced sides of the concept of responsibility in the context of Hamblum minallah and Hamblum minannas. In the first concept is a form of manifestation of worship, which relates between human beings as being with Al-lah as-the Creator. While the second refers more to the existence of human beings as social beings. This form of accountability is manifested in the objectives of shari'ah accounting. Budaya modern sebetulnya didominasi oleh sifat maskulin, seperti kehidupan yang material, rasional ekspansif, eksploitatif, kompetitif, egois, kuantitatif, dan sebagainya. Femininitas akan memberikan tempat kepada maskulinitas untuk berkuasa sementara femininitas berada di belakang. Hal ini tampak dari adanya suatu studi komparatif antara akuntansi mainstream dengan akuntansi Syari’ah, sebagai upaya untuk menyingkap feminisme Ah-Syari’ah yang selama ini terpinggirkan. Tulisan ini membahas perspektif akuntansi Islam sebagai paradigma baru. Esensi dari akuntansi Islam pada dasarnya merupakan sebuah upaya mendekonstruksi akuntansi modem ke dalam bentuk yang lebih humanis dan sarat nilai. Akuntansi syari’ah merupakan suatu teknologi baru yang menunjukkan bahwa nilai sosial, moral, dan spiritual menjadi suatu perhatian penting dalam penetapan prinsip-prinsip yang akan dikembangkan. Oleh karena itu konsep akuntabilitas pada akuntansi syari’ah lebih menekankan pada dua sisi yang saling berimbang yakni konsep pertanggunggungjawaban dalam konteks Hamblum minallah dan Hamblum minannas. Pada konsep pertama merupakan bentuk manifestasi dari ibadah, yang berhubungan antara manusia sebagai mahluk dengan Al­lah sebagai-Sang Pencipta. Sedangkan yang kedua lebih mengacu pada eksistensi manusia sebagai mahluk sosial. Bentuk akuntabilitas tersebut dimanifestasikan dalam tujuan akuntansi syari’ah.
Perempuan dan Keutuhan Bangsa: Terikat atau Merekat? Mufidah Ch.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.774 KB) | DOI: 10.18860/el.v3i1.4714

Abstract

This paper describes the role of women in unifying the nation associated with Islamic perspectives. The role of women in various sectors of the nation's life is an urgent need. Many things women can do for the benefit of nation and state. Women have been suggested as male subordination, marginalized and difficult self-actualizing well. Patterns of power and status that assume that men are higher than women are very influential on the pattern of gender relations. Not a few policies and regulations are born on the perception. It is therefore not surprising that in the community there is a gender ideology that seeks to fundamentally dismantle policies and regulations that are not considered gender-sensitive. Cultural context always puts women as second class people. Women are more required to fulfill obligations regardless of rights, used to struggle to become human beings who exist in their community. Such social construction makes women more patient, testable and istiqomah in the fight for peace, harmony and unity mission. Tulisan ini memaparkan peran perempuan dalam mempersatukan bangsa yang dikaitkan dengan perpektif Islam. Peran perempuan dalam berbagai  sektor kehidupan bangsa merupakan kebutuhan mendesak. Banyak hal yang dapat dilakukan perempuan untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Selama ini perempuan dikesankan sebagai subordinasi laki- laki, termarginalkan dan sulit mengaktualisasikan diri dengan baik. Pola kekuasaan dan status yang beranggapan bahwa laki-laki lebih tinggi dari perempuan sangat berpengaruh pada pola relasi gender. Tidak sedikit kebijakan dan peraturan lahir atas persepsi tersebut. Karena itu tidak heran jika dimasyarakat muncul ideologi gender yang berupaya meninjau secara mendasar membongkar berbagai kebijakan dan peraturan yang dinilai tidak berwawasan gender. Konteks budaya selalu menempatkan perempuan sebagai manusia kelas dua. Perempuan lebih dituntut untuk memenuhi kewajiban tanpa memperhitungkan hak, terbiasa berjuang untuk menjadi manusia yang eksis dalam komunitasnya. Konstruksi sosial demikian itu menjadikan perempuan lebih sabar, tahan uji dan istiqomah dalam memperjuangkan misi kedamaian, kerukunan dan persatuan. 
Variasi Nama Tuhan dalam Teks Serat Sastra Gendhing, Kajian Akulturasi terhadap Sastra Suluk Yuli Kurniati Werdiningsih; Nazla Maharani Umaya
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.512 KB) | DOI: 10.18860/el.v19i1.3827

Abstract

The purpose of this study is to describe the mechanism interculturalism in “Serat Sastra Gendhing”, which is focused on the mechanisms acculturation.  This research is motivated by the concept that the Suluk is a product of cultural contacts. In order to achieve the objectives of the study, we used the method of literature with a qualitative approach and supported the theory  interculturalism. The results of this research is the discovery of variations mention of God that is the product of contact Javanese culture, Hinduism, and Islam. Variations of the name of God found them are Hyang, Widdhi, Hyang Manon, Pangeran, Allah Kudusul Almi, and Gusti Allah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan mekanisme interkulturalisasi dalam Serat Sastra Gendhing, yang difokuskan pada mekanisme akuturasi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh konsep bahwa sastra suluk merupakan produk dari kontak budaya. Guna mencapai tujuan penelitian tersebut, maka digunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif dan didukung dengan teori interkulturalisasi. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya berbagai variasi penyebutan nama Tuhan yang merupakan produk dari kontak budaya Jawa, Hindu, dan Islam. Variasi nama Tuhan yang ditemukan diantaranya adalah Hyang, Widdhi, Hyang Manon, Pangeran, Allah Kudusul Almi, dan Gusti Allah
Prophetic Values in Post-Reform Modern Javanese Novels Djoko Sulaksono; Budi Waluyo; Dewi Pangestu Said
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.77 KB) | DOI: 10.18860/el.v20i1.4590

Abstract

This study aims to describe the prophetic value in post-reform modern Javanese novels. This was a qualitative study. The analysis technique used is content analysis. The results showed that post-reform modern Javanese novels contain many prophetic value. Nowadays, many societies abandoned the understanding of prophetic values. The character of society has shifted to become more individualistic and only concerned with the welfare of him-self. It’s due to inappropriate outer cultural filtration. People find a difficulty to sort foreign cultures that are compatible with Indonesian characteristics (especially Javanese Moslem). It needs to get a community guidance to return to his nature as an individual, social, and aware of his position as a servant of Allah swt. This research can be used as a medium to educate people about positive values in life. The prophetic values taught are divided into three dimensions: humanization dimension (ammar ma›ruf), liberation (nahi munkar), and transcendence (tu›minu billah). Meanwhile, theoretically this research can enrich the treasury of knowledge in the field of literature, provide input in noble learning through the medium of literature, and it can be used as a basis for more in-depth research. The character of society has changed to become more individualistic and only concerned with the welfare of him-self. Meanwhile, this research also enriches the treasury of knowledge in the field of literature, as an alternative in moral education through literary media, and can be used as a basis for more in-depth research.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan nilai-nilai profetik dalam novel-novel Jawa modern pascareformasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis isi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa novel-novel modern pascareformasi banyak mengandung nilai-nilai profetik. Dewasa ini, pemahaman mengenai nilai-nilai profetik banyak ditinggalkan. Karakter masyarakat telah bergeser menjadi lebih individualis dan mementingkan kesejahteraan dunia belaka. Hal ini disebabkan karena filtrasi budaya luar yang kurang maksimal. Masyarakat kurang dapat memilah budaya-budaya yang sesuai dengan karakteristik Indonesia (khususnya muslim Jawa). Perlu adanya upaya pembinaan kepada masyarakat agar kembali kepada fitrahnya sebagai mahluk individu, sosial, dan menyadari posisinya sebagai seorang hamba Allah swt. Penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana mendidik masyarakat perihal nilai-nilai positif dalam hidup. Nilai-nilai profetik yang diajarkan terbagi dalam tiga dimensi yaitu dimensi humanisasi (ammar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu’minu billah). Sementara itu, secara teoretis penelitian ini dapat memperkaya khazanah pengetahuan pada bidang sastra, memberi masukan dalam pembelajaran aklak mulia melalui media sastra, serta dapat digunakan sebagai landasan penelitian yang lebih dalam lagi.
Membangun Budaya Lembaga Pendidikan Sugeng Listyo
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.9 KB) | DOI: 10.18860/el.v10i1.4599

Abstract

The culture of educational institution is something that is built from the companionship between the values followed by the leader and those followed by the teachers and the staffs. Those values are built by human thought existing in the madrasah (school). The companionship, then, produces the thought of organization which emerges in the form of values to be believed by all members of the institution. Furthermore, those values will be the main medium to shape the culture of its educational institution. The culture then rises in many kinds of visible symbols and acts in the daily life of the educational institution. The concept of building the culture through companioning different values becomes an interesting topic to be explored through this paper. This paper also intends to explore the significance of forming and shaping the thought of organization as the way to lead a harmonious institution atmosphere. Budaya lembaga pendidikan adalah sesuatu yang dibangun dari persahabatan antara nilai-nilai yang diikuti oleh pemimpin dan yang diikuti oleh para guru dan para staf. Nilai tersebut dibangun oleh pemikiran manusia yang ada di madrasah (sekolah). Oleh karena itu, persahabatan menghasilkan pemikiran tentang organisasi yang muncul dalam bentuk nilai yang dapat dipercaya oleh semua anggota institusi. Selanjutnya, nilai tersebut akan menjadi media utama untuk membentuk budaya lembaga pendidikannya. Budaya kemudian meningkat dalam berbagai jenis simbol dan tindakan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari institusi pendidikan. Konsep membangun budaya melalui pendampingan nilai yang berbeda menjadi topik yang menarik untuk dijelajahi melalui makalah ini. Makalah ini juga bermaksud menggali makna pembentukan dan pembentukan pemikiran organisasi sebagai cara untuk memimpin atmosfir institusi yang harmonis.
Pluralisme Budaya dalam Reformasi Hukum di Indonesia Musleh Herry
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.075 KB) | DOI: 10.18860/el.v5i1.5151

Abstract

Every product of legislation that has been issued or ratified, must be obeyed by the Indonesian people, both individually and in groups. In order for every regulation issued by the community to be obeyed by the community, it must meet several conditions, namely: the regulations to be and/or made must really accommodate what the culturally diverse community wants. However, the things that are accommodated must be those that do not interfere with the development of society, nation and state. After the regulation is issued or ratified, in order to run well in the sense of being obeyed by the wider community, it must be equipped with proportional law enforcers and really have an enforcement spirit so that the regulations that are followed can be implemented consistently and justice will be achieved, both according to the regulations. themselves and according to society Setiap produk peraturan perundang-undangan yang telah dikeluarkan atau disahkan, seharus ditaati oleh masyarakat Indonesia baik secara individual maupun secara kelompok. Agar sctiap peraturan yang dikeluarkan tersebut di taati oleh masyarakat maka harus memenuhi beberapa syarat, yaitu: peraturan yang akan dan/atau dibuat itu harus benar-benar mengakomudasi apa yang di inginkan oleh masyarakat yang beragam budaya tersebut. Akan tetapi hal-hal yang diakomodasi itupun harus yang tidak mengganggu perkembangan masyarakat, bangsa dan negara. Setelah dikeluarkan atau disahkan peraturan tersebut, agar dapat berjalan dengan baik dalam arti dipatuhi oleh masyarakat luas, harus dilengkapi dengan penegak hukum yang proporsional dan benar-benar mempunyai jiwa penegak sehingga peraturan yang dijalani dapat terlaksana secara konsekuen dan akan tercapai keadilan, baik menurut peraturan itu sendiri maupun menurut masyarakat
Serangan Noldeka terhadap Autentisitas Al-Qur'an Bisri Musthofa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.234 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i1.4616

Abstract

The missionary orientalists continuously attack Muslim community through their teachings. After arguing against sirah nabawiyah, they tried to question the authenticity of the Qur'an. They question both the authenticity of the Qur'an interpretation method and the content of the Qur'an. Hermeneutics is one of the methods of interpreting the Qur'an they offer to replace tafsir and ta'wil methods that the Muslim scholars have used before. Using the method, they raise an issue that the Qur'an is only the product of culture. The issue will distort the sacredness of the Qur'an. This paper explores the perspective of Noldeka and other orientalists who argued negatively toward Muhammad in presenting the content of the Qur’an. Despite their effort to conduct comprehensible study on Islamic thought and Al Qur’an, they exposed their finding in fragment. In general their studies concerned on specific entities but failed to integrate the meaning of Islam as a religion and views of life which involve certain principles and traditions. Para orientalis misionaris terus menyerang komunitas Muslim melalui ajaran mereka. Setelah berdebat melawan sirah nabawiyah, mereka mencoba mempertanyakan keaslian Alquran. Mereka mempertanyakan keaslian metode penafsiran Qur'an dan isi Alquran. Hermeneutika adalah salah satu metode untuk menafsirkan Alquran yang mereka tawarkan untuk menggantikan metode tafsir dan ta'wil yang telah digunakan para ilmuwan Muslim sebelumnya. Dengan menggunakan metode ini, mereka mengangkat sebuah isu bahwa Alquran hanyalah produk budaya. Masalah ini akan mendistorsi kesucian Alquran. Makalah ini membahas perspektif Noldeka dan orientalis lainnya yang mengemukakan pendapat negatif terhadap Muhammad dalam menyajikan isi Alquran. Terlepas dari usaha mereka untuk melakukan studi yang dapat dipahami tentang pemikiran Islam dan Al Qur'an, mereka menemukan temuan mereka dalam fragmen. Secara umum studi mereka berkaitan dengan entitas tertentu namun gagal mengintegrasikan makna Islam sebagai agama dan pandangan hidup yang melibatkan prinsip dan tradisi tertentu.
Islam di Afrika Utara Bagian Barat (Al Murabitun) Rina Dewi Ayuarini
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.328 KB) | DOI: 10.18860/el.v11i2.5211

Abstract

The objective of this study is to describe the formation process of al Murabitun dynasty, and also discussing on the prosperity, the decrease, and the destruction of al Murabi tun dynasty. Al Murabitun dynasty was the unique dynasty as it was built based on the spirit of religiousity. And also the existance of the dynasty has been wellknown as it had wide area covering all of Africa and Spain. At the following time, the dynasty experienced the decrease after it had been lead by the third last king, until finally it faced the destruction period. The main cause of the down of the dynasty was a movement which was known as al-Muwahhidun dynasty. The destruction the dynasty caused by its poioer which was not in line with the attitude of tolerance of the society. The exploration on the spam of the dynasty will, then, strengthen our point of view on the ups and downs side dynasties in Islam as this is meaningful resource for Islamic scholars. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan proses pembentukan dari dinasti al Murabitun, dan juga membahas tentang kemakmuran, yang menurun, dan penghancuran dinasti al Murabi tun. Al Murabitun dinasti adalah dinasti yang unik karena dibangun berdasarkan semangat agama. Dan juga keberadaan dinasti telah diketahui dengan baik karena luasnya mencakup seluruh Afrika dan Spanyol. Pada waktu berikutnya, dinasti mengalami penurunan setelah itu dipimpin oleh raja terakhir ketiga, hingga akhirnya menghadapi periode penghancuran. Penyebab utama turunnya dinasti adalah sebuah gerakan yang dikenal sebagai dinasti al-Muwahhidun. Penghancuran dinasti disebabkan pelopornya yang tidak sejalan dengan sikap toleransi dari masyarakat. Eksplorasi pada spam dari dinasti akan kemudian, memperkuat sudut pandang kita pada dinamika sisi naik dan turun di Islam karena ini adalah sumber yang berarti bagi para ilmuwan Islam.
At-Taghayyur An-Nutqiy fi Mufradat Al-Arabiyah Ad-Dakhilah fi Al-Lughah Al-Indunisiah Torkis Lubis
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.823 KB) | DOI: 10.18860/el.v9i3.4647

Abstract

One of language realities is that Indonesian is affected by Arabic. It is proven by many Arabic vocabulary items which are absorbed in Indonesian. However, after adopting the Arabic words into Indonesian, it has changed in Phonemics, Syntax, and Semantics. In Phonemics, the changing of Arabic to Indonesian can be seen in “ث” which becomes “s”; “ح” to “h”; “ذ” to “z”; “ص” to “s”; “ض” to “d”; “ط” to “t”; “ظ” to “z”; “ع” to “_’_”;  “غ” to “g”; and “ق” to “k”. Besides, there are still many changes in the Phonemics that is the change of alphabetic sound which has harakat becomes non-harakat and vice versa. For example, the sound of “a” becomes “e”, the lost of space and long sound, tasydid becomes non-tasydid, the unsounded of “ء” in the end of the word, and many more. Salah satu realitas bahasa adalah bahwa Bahasa Indonesia terpengaruh dengan Bahasa Arab. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya kosa kata Arab yang diserap Bahasa Indonesia. Tapi kosa kata Arab tersebut setelah diadopsi Bahasa Indonesia mengalami berbagai perubahan di dalam sistem bunyi, sintaksis, dan semantik. Di dalam sistem bunyi kosa kata Bahasa Arab yang diadopsi Bahasa Indonesia mengalami perubahan, seperti bunyi “ث” menjadi bunyi “s”; bunyi “ح” menjadi “h”; bunyi “ذ” beralih ke bunyi “z”; bunyi “ص” menjadi “s”; bunyi “ض” menjadi “d”; bunyi “ط” beralih menjadi “t”; bunyi “ظ” beralih ke bunyi “z”; bunyi “ع” beralih ke bunyi “_’_”;  bunyi “غ” menjadi “g”; dan bunyi “ق” menjadi “k”. Di samping itu, ada perubahan lain yang berkaitan dengan sistem bunyi, yaitu perubahan bunyi huruf yang berharakat menjadi tidak berharakat atau sebaliknya. Bunyi vokal “a” menjadi bunyi vokal “e”. Bunyi jeda lama menjadi biasa, bunyi tasydid beralih ke bunyi tanpa tasydid, dan tidak adanya bunyi “ء” yang ada di akhir kata dan lain sebagainya.
Perebutan Kekuasaan Internal NU Imam Muslimin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.818 KB) | DOI: 10.18860/el.v6i2.4678

Abstract

Since its establishment, NU has always been characterized by various internal rivalries between fractions fighting for influence. This paper discusses the internal upheaval of NU. Furthermore, the paradigmatic camps, ideological camps and competing fractions are also reviewed comprehensively. The result of competition for the power, most obviously, is the shift in power-sharing internally. At the time of its establishment until the 1950s, the greatest part of power in NU was held by non-politician kiai (syuriah) fraction, then the politician fraction (tanfidiyah) dominated it until the first half of the 1980s, and after that NU was in the hands of the fractions "Scholar". Semenjak kelahirannya, NU selalu ditandai dengan berbagai persaingan internal antar fraksi yang berebut pengaruh. Tulisan ini membahas mengenai pergolakan internal NU. Lebih jauh, kubu-kubu paradigmatik, kubu ideologis dan fraksi yang berlaga juga diulas secara komprehensif. Buah dari persaingan menuju kekuasaan itu, yang paling nyata, adalah pergeseran pembagian kekuasaan internal. Pada saat berdirinya hingga tahun 1950-an, bagian terbesar kekuasaan dalam NU dipegang oleh fraksi kiai-non politisi (syuriah), kemudian fraksi politisi (tanfidiyah) mendominasi hingga paroh pertama dekade 1980-an, dan setelah itu hingga sekarang NU berada di tangan fraksi “Cendekia”.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue