cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Diglossia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1 (2020): September" : 6 Documents clear
Pilihan Kata Dalam Buku Pegangan Bahasa Prancis Le Nouveau Taxi A1 Karya Capelle-Menard Mohamad Syaefudin
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1856

Abstract

This study discusses archisémème in the book le nouveau taxi A1.  This study aims to (1) describe the form and meaning of archisémème contained in the book Le nouveau taxi A1, and (2) describe the use of archisémème in the book Le Nouveau Taxi A1. This research is a library research that uses data in the form of a phrase in the Le Nuveau Taxi A1 book.  A1.  Archisémème contained in the book Le nouveau taxi A1 is the object of this study.  Data was collected using the note note method.  Meanwhile, data analysis was carried out using the translational equivalent method.  The results of this study indicate that (1) there are 2 classes of archisémème words found in this study, namely: verbs, and adjectives.  Archisémème variation is still maintained as long as it can be understood by French learners;  (2) the use of archisémème contained in narrative texts and dialogues can help French learners to construct depictions of stories conveyed in daily communication activities by users of the book Le Nouveau Taxi A1.
HOW IS THE FUNCTION OF SPEECH ACT BETWEEN TOUR GUIDE AND JAPANESE TOURISTS IN BALI Anak Agung Ayu Dian Andriyani; I Gusti Ayu Vina Widiadnya Putri; I Komang Sulatra Sulatra
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1870

Abstract

Ilmu pragmatik mengkaji tindak tutur dalam situasi bahasa yang sangat terikat dengan konteks. Penelitian ini mendeskripsikan fungsi tindak tutur pada interaksi pemandu wisata dengan wisatawan Jepang di Bali. Data primer berupa tuturan dalam bentuk dialog antara pemandu wisata di bawah naungan biro perjalanan dengan wisatawan Jepang disesuaikan menurut konteks yang mengikuti setiap peristiwa tutur. Lokasi penelitian berada di Pulau Bali tepatnya di kabupaten Badung dan Gianyar. karena intensitas perjalanan wisatawan Jepang sangat tinggi ke daerah tersebut. Teknik pengumpulan data yaitu, merekam berbagai interaksi lisan antara pemandu wisata dengan wisatawan Jepang, kemudian mencatat dan menyimak setiap interaksi dilanjutkan menggunakan teknik wawancara mendalam kepada pemandu wisata sebanyak 20 orang dengan kriteria yang sudah ditetapkan secara sembunyi-sembunyi guna mendapatkan informasi yang alami. Hasil analisis menunjukkan bahwa ditemukan pada tuturan pemandu wisata dalam satu konteks memungkinkan menggunakan lebih dari satu fungsi tuturan. Pada analisis ditemukan empat fungsi tindak tutur pemandu wisata ketika memberi layanan jasa kepada wisatawan Jepang  yaitu, a) fungsi asertif digunakan saat menjawab pertanyaan, menceritakan, mengomentari dan menjelaskan, b) fungsi direktif, untuk menyatakan bentuk menyuruh atau memerintah, memohon, memberikan saran, memesan, melarang dan mengkonfirmasi, c) fungsi komisif untuk menawari serta berjanji dan d) fungsi ekspresif menyatakan kegembiraan, kesedihan, kesukaan serta berhubungan dengan rasa. Dengan memahami fungsi tindak tutur maka, pemandu wisata dapat menggunakan fungsi tersebut dengan menyesuaikan pola komunikasi menurut budaya Jepang Selain itu, memahami fungsi tindak tutur mempermudah pembelajar bahasa dalam mempelajari pola pembentukan tuturan menurut tata bahasa Jepang, khususnya dalam domain pariwisata sebagai bahasa layanan. Abstract               Pragmatics examines speech acts in a language situation that related to the context of situation. This study describes the speech act function on the interaction of tour guides with Japanese tourists in Bali. Primary data are the kinds of utterances in some dialogue between tour guides in travel agency and Japanese tourists that follows the dialogue. The research location is in Bali, exactly in Badung and Gianyar regencies. This location chosen because the intensity of Japanese tourist travel is very high. Data collection techniques used recording various interactions between tour guides and Japanese tourists, then recording and listening to each interaction continued using interviews with tour guides as many as 20 people to get same information. The results of the analysis show that the utterances in a context allows using more than one speech function. There are four functions of the tour guide's speech acts when providing services to Japanese tourists such as, a) assertive functions are used when answering questions, telling, commenting and explaining, b) directive functions, to state the form of ordering, asking, giving advice, prohibiting and confirming, c) the commissive function to offer and promise and d) expressive functions expressing joy, sadness, liking and relating to taste. By understanding speech act functions, tour guides can use these functions by adjusting communication patterns according to Japanese culture. In addition, understanding speech act functions makes it easier for language learners to learn speech formation patterns according to Japanese grammar, especially in the tourism domain as a hospitality.  
Multimodal Depiction of Israelis and Palestinians on Gaza Conflict in Two Middle Eastern Press Robiatul Adawiyah; Esti Junining; Sri Endah Tabiati
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1920

Abstract

AbstractThis study aims to examine how two Middle Eastern Press, Daily Sabah and Iran Daily in depicting Israeli and Palestinians on Gaza conflict. This study carries out Multimodal Critical Discourse Analysis to uncover ideology of media. In other words, it focuses not only on the linguistic features but also semiotic resources realized through images. It analyses clauses that contain Van Dijk’s ideological square discourse using transitivity by Halliday (2004) and images existed in the selected articles using representational function of image by Kress & van Leeuwen (2006). The results show that both media represented Palestinians as Self-group whereas Israelis as Other-group. They portrayed the Self as the victims and right fighter in contrast to the Other as the agent of offensiveness.Keywords: Gaza conflict, multimodal critical discourse analysis, representational function of image, transitivity    AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana dua koran Timur Tengah, Daily Sabah dan Iran Daily, dalam merepresentasikan pihak Israel dan Palestina dalam konflik Gaza. Penelitian ini menerapkan analisis wacana kritis multimodal untuk mengungkap ideologi dari dua koran tersebut. Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya fokus pada aspek linguistik saja namun juga pada aspek semiotik lainnya yang direalisasikan dalam bentuk foto. Data dalam penelitian ini meliputi 1) klausa-klausa yang mengandung strategi wacana ‘ideological square’ yang akan dianalisis menggunakan transitivitas oleh Halliday (2004), dan 2) semua foto yang ada di artikel yang dianalisis menggunakan fungsi representasi gambar oleh Kress & van Leeuwen (2006). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kedua media tersebut merepresentasikan pihak Palestina sebagai self-group, pihak yang menjadi korban dan pembela hak, sedangkan pihak Israel sebagai other-group, pihak yang menjadi pelaku penyerangan.Kata kunci: analisis wacana kritis multimodal, konflik Gaza, fungsi representasi gambar transitivitas   
Text Complexity in Reading Texts of Indonesian Senior High School English Textbooks Using Coh- Metrix 3.0 Muhammad Zahrudhin Verdiansyah; Sahiruddin Sahiruddin; Putu Dian Danayanti Degeng
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1925

Abstract

AbstractThis study examined text complexity, mainly related to lexical/sematic and syntactical complexity. Two English textbooks of grade 10 and 12 of Indonesian senior high schools are assessed. Four reading texts in each book respectively selected based on text genre and word length. Coh-Metrix 3.0 was utilised. Descriptive statistics were presented, and Independent T-test was conducted to perceive differences on texts in the two textbooks. Finally, it was found that between grade 10 and grade 12, the complexity on both lexical and syntactical aspects showed no difference, but texts in grade 10 tend to produce significantly more consistent of the syntactic constructions than grade 12. It is suggested that texts in grade 12 should be revised to meet reading texts based on their levels relating to character of sophistication of language complexity.Keywords: Lexical Complexity, Reading, Syntactical Complexity  AbstrakPenelitian ini mengkaji kompleksitas pada teks, terutama yang berhubungan pada kompleksitas leksikal/semantik dan sintaktik. Dua buku Bahasa Inggris Sekolah Menengah Keatas kelas 10 dan 12 yang dinilai. 4 teks bacaan masing-masing pada setiap buku dipilih berdasarkan genre teks dan panjang teks. Coh-Metrix 3.0 yang dipakai. Deskriptif statistik dipersembahkan dan Independent T-test dilakukan untuk melihat perbedaan pada teks di dua buku tersebut. Akhirnya, ditemukan bahwasanya diantara kedua buku (kelas 10 dan 12), kompleksitas pada aspek leksikal maupun sintaksis menunjukkan tidak ada perbedaan, tetapi teks di kelas 10 secara signifikan cenderung lebih konsisten pada konstruksi sintaksisnya daripada di kelas 12. Hal ini disarankan bahwa teks pada kelas 12 sebaiknya direvisi agar sesuai dengan level terkait dengan karakter kekompleksitasan kebahasaanya.Keywords: Bacaan, Kompleksitas Leksikal, Kompleksitas Sintaktik 
Text Readability in 11th and 12th Grade English Textbook of Indonesian Senior High School with FKGL Formula Putri Rafa Salihah; Sahiruddin Sahiruddin; Putu Dian Danayanti Degeng
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1931

Abstract

AbstractThis study analysed text readability on English textbooks of grade 11th and 12th on Indonesian senior high school with FKGL Formula available online at www.readable.com . This study utilised the Flesch Kincaid Grade Level formula by Rudolph Flesch (1948), through quantitative methods. The purpose of this study was to determine the level of readability of the reading texts in those two textbooks. The data of reading texts were 5 reading texts of grade 11th taken by using simple random sampling (recount and expository texts, to represent from a lot of texts) while 5 reading texts of grade 12th (procedure and expository texts to represent from a lot of texts). The results of this study indicate that the textbook is too easy to read and to comprehend for grade 11th of senior high school, does not 1 text that corresponds to grade 11. Hence, an average of 6.8 is obtained in grade 11th and is estimated for grades 7th. And an average of 11.6 in grade 12th is suitable for grade 12th with estimates for grades 12th. This is consistent with the scale of the FKGL calculation readability formula with a scale of 0-12 (such as score 7.1 is suitable for grade 7th, and 7.5 is suitable for grade 8th). Thus, an analysis of the level of readability of English textbooks is needed as the best information and best contribution for reading educators.Key Words: Readability, Textbook, and Flesch Kincaid Grade Level Formula  AbstrakPenelitian ini menganalisis keterbacaan teks pada buku teks bahasa Inggris kelas 11 dan 12 di SMA Indonesia dengan Formula FKGL diakses dari www.readable.com . Penelitian ini menggunakan rumus Flesch Kincaid Grade Level oleh Rudolph Flesch (1948), melalui metode kuantitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat keterbacaan teks bacaan di kedua buku teks tersebut. Data teks bacaan adalah 5 teks bacaan kelas 11 yang diambil dengan menggunakan metode simple random sampling (teks pengalaman dan teks ekspositori prosedur, teks naratif dan teks laporan, untuk mewakili dari banyak teks) dan 5 teks bacaan kelas 12 (prosedur dan teks ekspositori, untuk mewakili dari banyak teks). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa buku teks itu terlalu mudah dibaca dan dipahami untuk kelas 11 SMA, dan memperoleh tidak 1 teks yang sesuai dengan kelas 11. Dan buku kelas 12 sesuai dengan tingkat kelas 12, memperoleh 1 teks yang sesuai dengan kelas 12. Namun, dalam hasil akhir perhitungan teks rata-rata dinyatakan bahwa, setiap buku teks kelas 11 tidak cocok untuk pembaca target kelas 11. Karena rata-rata 6,8 diperoleh di kelas 11 dan diperkirakan untuk kelas 7. Dan rata-rata 11,6 di kelas 12 sesuai untuk kelas 12 dengan perkiraan untuk kelas 12 dan 13. Ini konsisten dengan skala formula keterbacaan perhitungan FKGL dengan skala 0-12 (seperti skor 7.1 cocok untuk kelas 7, dan 7,5 cocok untuk kelas 8). Dengan demikian, analisis tingkat keterbacaan buku teks bahasa Inggris diperlukan sebagai informasi serta kontribusi terbaik untuk pendidik khususnya skill reading.Kata Kunci: Keterbacaan, Buku Teks, dan Flesch Kincaid Grade 
Morphological Analysis of Derivational Prefixes in Fable Story of “Raja Lebah dan Sesendok Madu” Lusi Susanti
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.2105

Abstract

Abstract As we know that language is very important to our life to interaction in our daily life. The purpose of this study to describe the derivation prefixes which happen in the fabled story and will focus an analysis of the derivational prefixes in the fabled story “Raja Lebah dan Sesendok Madu”. This data research is a qualitative description, data collection using the literature study. Data analysis uses word-class classification in the speech section. The results of this study show that Derivational prefixes consist of se-, me-, meN-, ber-, di-. Although they are included in the derivation prefix they also have different in word classes. For example the word “sendok” as a noun and the word “sesendok” as an adverb. Based on the result from the analysis derivational prefixes above we find that there are several words that have different word classes when we add the prefix phonemes in front of a word. For example, the words "sendok" and "sesendok" have different word classes.Keywords: Morphology, Morphemes, derivational prefixes.  AbstrakSeperti yang kita ketahui bahwa bahasa sangat penting bagi kehidupan kita untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan prefiks derivasi yang terjadi pada cerita fabel dan akan memfokuskan analisis prefiks derivasi dalam dongeng “Raja Lebah dan Sesendok Madu”. Data penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Analisis data menggunakan klasifikasi kelas kata pada bagian pidato. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prefiks Derivasional terdiri dari se-, me, meN-, ber-, di-. Meskipun mereka termasuk dalam awalan derivasi, mereka juga memiliki kelas kata yang berbeda. Misalnya kata “sendok” sebagai kata benda dan kata “sesendok” sebagai kata keterangan. Berdasarkan hasil analisis prefiks turunan di atas didapatkan bahwa terdapat beberapa kata yang memiliki kelas kata yang berbeda bila kita menambahkan prefiks fonem di depan sebuah kata. Misalnya kata "sendok" dan "sesendok" memiliki kelas kata yang berbeda.Kata kunci: Morfologi, Morfem, prefiks turunan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6