cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Diglossia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
Monkey See, Monkey Do Otherwise: Interpolation in Maxine Hong Kingston’s Tripmaster Monkey: His Fake Book Lestari Manggong
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 11 No. 2 (2020): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v11i1.1816

Abstract

A descendant of Chinese immigrant living in San Francisco, Wittman Ah Sing—the main character in Tripmaster Monkey, the personification of a simian figure Sun Wu-k’ung from the classic  tale The Journey to the West—represents the idea of a “melting pot” gone burst. With two cultures (Chinese and American) bubbling in his veins, Wittman is chameleon-like in terms of projecting his image. Just like Sun Wu-k’ung, Wittman interposes, intervenes, and interjects a wide range of counter-discursive tactics into the dominant discourse. This essay argues that Wittman fits into the category of what postcolonial theory calls ‘interpellated subject’ (Althusser, 1970). As such, Wittman, in his reactions, interpolates (Ashcroft, 2001) or writes back the various modes of hegemonic discourse, to counter its effects by transforming them. This essay thus tackles with the problematization of Wittman’s hybridity, ranging from what this quality contributes to the narrative structure of the novel to the way it affects the complexity of how Wittman sees things. Throughout his journey in the West, Wittman only expects to see what he wants to see, the way he would like to see it. In addition, he sees things as metaphors, which is an indication of an effect of having two (or more) cultures and ideologies on each lens of his spectacles. As a result, unlike the monkey in children’s mimic game Monkey See Monkey Do, Wittman the tripmaster monkey in this instance, suffers from an inability to mimic what he sees accordingly.
Sosial budaya yang berpengaruh Terhadap Minat Membaca Mahasiswa Unmer Malang Lia Nasikhatul; Sahiruddin Sahiruddin; Ismatul Khasanah
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 11 No. 2 (2020): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v11i2.1824

Abstract

 AbstractThis study analyzes socio-cultural factors on the literacy ability of reading students at the Merdeka University of Malang. The purpose of this research is to examine the socio-cultural aspects that also influence students' reading interest and reading ability. The approach in this study is qualitative. The qualitative approach is used to answer the third objective in the form of descriptive socio- cultural factors. Participants in this study were 53 students of Merdeka Malang University. Data was collected from the results of the UKBI test and reading interest questionnaire and socio-cultural factors for students. Socio-cultural factors that affect student literacy are literacy culture and reading interest developed from childhood at the family, environment, school and government institutions. The ability to read literacy must look at the whole, from the aspects that exist in the reader and outside factors. Socio-cultural factors that influence the reading literacy of students include socioeconomic factors of the family, the level of parental education, financial position, the role of the government in promoting reading literacy, supporting book supply facilities. This research shows that reading ability is related to knowledge of sentence structure. The better the students' reading skills, the better the reading test scores. However, the factors that contribute to literacy beyond the knowledge of sentence structure need to be studied in further research.Keywords: Reading Literacy, Reading Interest, Social Factors  AbstrakPenelitian ini menganalisis tentang faktor sosial budaya terhadap kemampuan literasi membaca mahasiswa Universitas Merdeka Malang. Tujuan penelitan ini adalah mengkaji aspek sosial budaya yang turut mempengaruhi minat baca dan kemampuan membaca mahasiswa. Pendekatan dalam penelitian ini bersifat kualitatif. Adapun pendekatan kualitatif digunakan untuk menjawab tujuan ketiga berupa deskriptif faktor sosial budaya. Partisipan dalam penelitian iniadalah mahasiswa Universitas Merdeka Malang yang berjumlah sebanyak 53 mahasiswa. Data dikumpulkan dari hasil test UKBI dan angket minat baca dan faktor sosial budaya untuk mahasiswa. Faktor sosial budaya yang berpengaruh pada literasi membaca mahasiswa adalah budaya literasi dan minat baca yang dikembangkan dari masa kecil di tingkat keluarga, lingkungan, sekolah dan institusi pemerintahan. Kemampuan literasi membaca haruslah melihat secara menyeluruh, dari aspek yang ada pada diri pembaca dan faktor yang diluarnya. Faktor sosial budaya yang berpengaruh pada literasi membaca mahasiswa meliputi faktor sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan orangtua, posisi finansial, peran pemerintah dalam menggalakkan literasi membaca, fasilitas pasokan buku yang menunjang. Penelitian ini menunjukkan faktor yangberkontribusi terhadap literasi membaca di luar faktor pengetahuan struktur kalimat perlu dikaji lebih dalam pada penelitian selanjutnya.Kata Kunci: Literasi Membaca, Minat Baca, Faktor Sosial
Pilihan Kata Dalam Buku Pegangan Bahasa Prancis Le Nouveau Taxi A1 Karya Capelle-Menard Mohamad Syaefudin
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1856

Abstract

This study discusses archisémème in the book le nouveau taxi A1.  This study aims to (1) describe the form and meaning of archisémème contained in the book Le nouveau taxi A1, and (2) describe the use of archisémème in the book Le Nouveau Taxi A1. This research is a library research that uses data in the form of a phrase in the Le Nuveau Taxi A1 book.  A1.  Archisémème contained in the book Le nouveau taxi A1 is the object of this study.  Data was collected using the note note method.  Meanwhile, data analysis was carried out using the translational equivalent method.  The results of this study indicate that (1) there are 2 classes of archisémème words found in this study, namely: verbs, and adjectives.  Archisémème variation is still maintained as long as it can be understood by French learners;  (2) the use of archisémème contained in narrative texts and dialogues can help French learners to construct depictions of stories conveyed in daily communication activities by users of the book Le Nouveau Taxi A1.
Ambiguitas Struktural Pada Heading Portal Berita The Jakarta Post Dalam Pemberitaan Pemilihan Gubernur Jawa Barat Muhammad Rayhan Bustam
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 11 No. 2 (2020): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v11i2.1865

Abstract

Penelitian ini menyajikan analisis ambiguitas struktural dalam judul berita tentang pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 dari portal berita The Jakarta Post. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan kasus-kasus ambiguitas struktural dalam judul berita tersebut, dan untuk menganalisis penyebab pemicu kasus tersebut, serta untuk menggambarkan interpretasi makna dari objek kasus tersebut. Data dikumpulkan dalam rentang waktu November 2017 hingga Juni 2018, dan ditemukan 19 judul berita tentang pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 di portal berita tersebut. Dari total judul berita yang ditemukan, enam di antaranya terdiri dari kasus ambiguitas struktural. Dari kasus tersebut, sebagai penyebabnya, ada lima kasus ungkapan samar dan hanya satu kasus elemen tata bahasa yang hilang. Akhirnya, secara umum, media telah berusaha melakukan proses pengemasan berita dan tajuk dengan baik, tetapi masih perlu perbaikan strategi pengemasan berita untuk mendapatkan hasil yang sempurna di masa depan. Tetapi jika dibandingkan dengan perkembangan media di masa lalu, media saat ini telah jauh lebih maju dan berkembang terutama untuk teknik pengemasan berita yang akan dikeluarkan.
HOW IS THE FUNCTION OF SPEECH ACT BETWEEN TOUR GUIDE AND JAPANESE TOURISTS IN BALI Anak Agung Ayu Dian Andriyani; I Gusti Ayu Vina Widiadnya Putri; I Komang Sulatra Sulatra
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1870

Abstract

Ilmu pragmatik mengkaji tindak tutur dalam situasi bahasa yang sangat terikat dengan konteks. Penelitian ini mendeskripsikan fungsi tindak tutur pada interaksi pemandu wisata dengan wisatawan Jepang di Bali. Data primer berupa tuturan dalam bentuk dialog antara pemandu wisata di bawah naungan biro perjalanan dengan wisatawan Jepang disesuaikan menurut konteks yang mengikuti setiap peristiwa tutur. Lokasi penelitian berada di Pulau Bali tepatnya di kabupaten Badung dan Gianyar. karena intensitas perjalanan wisatawan Jepang sangat tinggi ke daerah tersebut. Teknik pengumpulan data yaitu, merekam berbagai interaksi lisan antara pemandu wisata dengan wisatawan Jepang, kemudian mencatat dan menyimak setiap interaksi dilanjutkan menggunakan teknik wawancara mendalam kepada pemandu wisata sebanyak 20 orang dengan kriteria yang sudah ditetapkan secara sembunyi-sembunyi guna mendapatkan informasi yang alami. Hasil analisis menunjukkan bahwa ditemukan pada tuturan pemandu wisata dalam satu konteks memungkinkan menggunakan lebih dari satu fungsi tuturan. Pada analisis ditemukan empat fungsi tindak tutur pemandu wisata ketika memberi layanan jasa kepada wisatawan Jepang  yaitu, a) fungsi asertif digunakan saat menjawab pertanyaan, menceritakan, mengomentari dan menjelaskan, b) fungsi direktif, untuk menyatakan bentuk menyuruh atau memerintah, memohon, memberikan saran, memesan, melarang dan mengkonfirmasi, c) fungsi komisif untuk menawari serta berjanji dan d) fungsi ekspresif menyatakan kegembiraan, kesedihan, kesukaan serta berhubungan dengan rasa. Dengan memahami fungsi tindak tutur maka, pemandu wisata dapat menggunakan fungsi tersebut dengan menyesuaikan pola komunikasi menurut budaya Jepang Selain itu, memahami fungsi tindak tutur mempermudah pembelajar bahasa dalam mempelajari pola pembentukan tuturan menurut tata bahasa Jepang, khususnya dalam domain pariwisata sebagai bahasa layanan. Abstract               Pragmatics examines speech acts in a language situation that related to the context of situation. This study describes the speech act function on the interaction of tour guides with Japanese tourists in Bali. Primary data are the kinds of utterances in some dialogue between tour guides in travel agency and Japanese tourists that follows the dialogue. The research location is in Bali, exactly in Badung and Gianyar regencies. This location chosen because the intensity of Japanese tourist travel is very high. Data collection techniques used recording various interactions between tour guides and Japanese tourists, then recording and listening to each interaction continued using interviews with tour guides as many as 20 people to get same information. The results of the analysis show that the utterances in a context allows using more than one speech function. There are four functions of the tour guide's speech acts when providing services to Japanese tourists such as, a) assertive functions are used when answering questions, telling, commenting and explaining, b) directive functions, to state the form of ordering, asking, giving advice, prohibiting and confirming, c) the commissive function to offer and promise and d) expressive functions expressing joy, sadness, liking and relating to taste. By understanding speech act functions, tour guides can use these functions by adjusting communication patterns according to Japanese culture. In addition, understanding speech act functions makes it easier for language learners to learn speech formation patterns according to Japanese grammar, especially in the tourism domain as a hospitality.  
Pemertahanan Bahasa Madura di Lingkungan Jawa (Studi Kasus Pedagang Asal Madura di Surakarta) yopi thahara
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 11 No. 2 (2020): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v11i2.1887

Abstract

Pemertahanan merupakan upaya yang dilakukan oleh penutur agar bahasa yang dimiliki tidak hilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan untuk mempertahankan bahasa oleh penutur bahasa Madura yang berada di Lingkungan penutur bahasa Jawa di Surakarta serta mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam pemertahanan bahasa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara merekam serta mencatat tuturan yang digunakan dalam bahasa Madura yang dilakukan oleh beberapa pedagang. Wawancara mendalam juga digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih tentang pemertahanan bahasa yang dilakukan. Analisis data menggunakan teknik identifikasi data, klasifikasi data, dan deskripsi kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemertahanan bahasa Madura dilakukan dengan cara berkomunikasi menggunakan bahasa Madura pada pembeli yang menggunakan bahasa Madura, mengajari anak-anaknya berbahasa Madura sejak kecil, berkomunikasi menggunakan bahasa Madura dengan keluarga, serta menggunakan bahasa Madura ketika berkomunikasi dengan teman di tempat kerja (tempat berdagang). 
Multimodal Depiction of Israelis and Palestinians on Gaza Conflict in Two Middle Eastern Press Robiatul Adawiyah; Esti Junining; Sri Endah Tabiati
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1920

Abstract

AbstractThis study aims to examine how two Middle Eastern Press, Daily Sabah and Iran Daily in depicting Israeli and Palestinians on Gaza conflict. This study carries out Multimodal Critical Discourse Analysis to uncover ideology of media. In other words, it focuses not only on the linguistic features but also semiotic resources realized through images. It analyses clauses that contain Van Dijk’s ideological square discourse using transitivity by Halliday (2004) and images existed in the selected articles using representational function of image by Kress & van Leeuwen (2006). The results show that both media represented Palestinians as Self-group whereas Israelis as Other-group. They portrayed the Self as the victims and right fighter in contrast to the Other as the agent of offensiveness.Keywords: Gaza conflict, multimodal critical discourse analysis, representational function of image, transitivity    AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana dua koran Timur Tengah, Daily Sabah dan Iran Daily, dalam merepresentasikan pihak Israel dan Palestina dalam konflik Gaza. Penelitian ini menerapkan analisis wacana kritis multimodal untuk mengungkap ideologi dari dua koran tersebut. Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya fokus pada aspek linguistik saja namun juga pada aspek semiotik lainnya yang direalisasikan dalam bentuk foto. Data dalam penelitian ini meliputi 1) klausa-klausa yang mengandung strategi wacana ‘ideological square’ yang akan dianalisis menggunakan transitivitas oleh Halliday (2004), dan 2) semua foto yang ada di artikel yang dianalisis menggunakan fungsi representasi gambar oleh Kress & van Leeuwen (2006). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kedua media tersebut merepresentasikan pihak Palestina sebagai self-group, pihak yang menjadi korban dan pembela hak, sedangkan pihak Israel sebagai other-group, pihak yang menjadi pelaku penyerangan.Kata kunci: analisis wacana kritis multimodal, konflik Gaza, fungsi representasi gambar transitivitas   
Text Complexity in Reading Texts of Indonesian Senior High School English Textbooks Using Coh- Metrix 3.0 Muhammad Zahrudhin Verdiansyah; Sahiruddin Sahiruddin; Putu Dian Danayanti Degeng
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1925

Abstract

AbstractThis study examined text complexity, mainly related to lexical/sematic and syntactical complexity. Two English textbooks of grade 10 and 12 of Indonesian senior high schools are assessed. Four reading texts in each book respectively selected based on text genre and word length. Coh-Metrix 3.0 was utilised. Descriptive statistics were presented, and Independent T-test was conducted to perceive differences on texts in the two textbooks. Finally, it was found that between grade 10 and grade 12, the complexity on both lexical and syntactical aspects showed no difference, but texts in grade 10 tend to produce significantly more consistent of the syntactic constructions than grade 12. It is suggested that texts in grade 12 should be revised to meet reading texts based on their levels relating to character of sophistication of language complexity.Keywords: Lexical Complexity, Reading, Syntactical Complexity  AbstrakPenelitian ini mengkaji kompleksitas pada teks, terutama yang berhubungan pada kompleksitas leksikal/semantik dan sintaktik. Dua buku Bahasa Inggris Sekolah Menengah Keatas kelas 10 dan 12 yang dinilai. 4 teks bacaan masing-masing pada setiap buku dipilih berdasarkan genre teks dan panjang teks. Coh-Metrix 3.0 yang dipakai. Deskriptif statistik dipersembahkan dan Independent T-test dilakukan untuk melihat perbedaan pada teks di dua buku tersebut. Akhirnya, ditemukan bahwasanya diantara kedua buku (kelas 10 dan 12), kompleksitas pada aspek leksikal maupun sintaksis menunjukkan tidak ada perbedaan, tetapi teks di kelas 10 secara signifikan cenderung lebih konsisten pada konstruksi sintaksisnya daripada di kelas 12. Hal ini disarankan bahwa teks pada kelas 12 sebaiknya direvisi agar sesuai dengan level terkait dengan karakter kekompleksitasan kebahasaanya.Keywords: Bacaan, Kompleksitas Leksikal, Kompleksitas Sintaktik 
Text Readability in 11th and 12th Grade English Textbook of Indonesian Senior High School with FKGL Formula Putri Rafa Salihah; Sahiruddin Sahiruddin; Putu Dian Danayanti Degeng
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 1 (2020): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i1.1931

Abstract

AbstractThis study analysed text readability on English textbooks of grade 11th and 12th on Indonesian senior high school with FKGL Formula available online at www.readable.com . This study utilised the Flesch Kincaid Grade Level formula by Rudolph Flesch (1948), through quantitative methods. The purpose of this study was to determine the level of readability of the reading texts in those two textbooks. The data of reading texts were 5 reading texts of grade 11th taken by using simple random sampling (recount and expository texts, to represent from a lot of texts) while 5 reading texts of grade 12th (procedure and expository texts to represent from a lot of texts). The results of this study indicate that the textbook is too easy to read and to comprehend for grade 11th of senior high school, does not 1 text that corresponds to grade 11. Hence, an average of 6.8 is obtained in grade 11th and is estimated for grades 7th. And an average of 11.6 in grade 12th is suitable for grade 12th with estimates for grades 12th. This is consistent with the scale of the FKGL calculation readability formula with a scale of 0-12 (such as score 7.1 is suitable for grade 7th, and 7.5 is suitable for grade 8th). Thus, an analysis of the level of readability of English textbooks is needed as the best information and best contribution for reading educators.Key Words: Readability, Textbook, and Flesch Kincaid Grade Level Formula  AbstrakPenelitian ini menganalisis keterbacaan teks pada buku teks bahasa Inggris kelas 11 dan 12 di SMA Indonesia dengan Formula FKGL diakses dari www.readable.com . Penelitian ini menggunakan rumus Flesch Kincaid Grade Level oleh Rudolph Flesch (1948), melalui metode kuantitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat keterbacaan teks bacaan di kedua buku teks tersebut. Data teks bacaan adalah 5 teks bacaan kelas 11 yang diambil dengan menggunakan metode simple random sampling (teks pengalaman dan teks ekspositori prosedur, teks naratif dan teks laporan, untuk mewakili dari banyak teks) dan 5 teks bacaan kelas 12 (prosedur dan teks ekspositori, untuk mewakili dari banyak teks). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa buku teks itu terlalu mudah dibaca dan dipahami untuk kelas 11 SMA, dan memperoleh tidak 1 teks yang sesuai dengan kelas 11. Dan buku kelas 12 sesuai dengan tingkat kelas 12, memperoleh 1 teks yang sesuai dengan kelas 12. Namun, dalam hasil akhir perhitungan teks rata-rata dinyatakan bahwa, setiap buku teks kelas 11 tidak cocok untuk pembaca target kelas 11. Karena rata-rata 6,8 diperoleh di kelas 11 dan diperkirakan untuk kelas 7. Dan rata-rata 11,6 di kelas 12 sesuai untuk kelas 12 dengan perkiraan untuk kelas 12 dan 13. Ini konsisten dengan skala formula keterbacaan perhitungan FKGL dengan skala 0-12 (seperti skor 7.1 cocok untuk kelas 7, dan 7,5 cocok untuk kelas 8). Dengan demikian, analisis tingkat keterbacaan buku teks bahasa Inggris diperlukan sebagai informasi serta kontribusi terbaik untuk pendidik khususnya skill reading.Kata Kunci: Keterbacaan, Buku Teks, dan Flesch Kincaid Grade 
Translation of Processes in a Popular Book “Ask Barbara: The 100 Most-Asked Questions about Love, Sex and Relationships”: A Systemic Functional Linguistics (SFL) Approach to Translation Study Jafar Sodiq; Sri Samiyati Tarjana; Mangatur Rudolf Nababan; Tri Wiratno
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 11 No. 2 (2020): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v11i2.1951

Abstract

 AbstractThe SFL approach to translation studies should provide the technical terms as the linguistic evidence to account for the equivalence in the syntactical elements of the clause. This research aims at analyzing the translation of expository texts in a popular book. The research objectives are a) identifying the processes translated in the expository texts from English into Indonesian; b) identifying the techniques which tend to be used by the translator to translate the processes in the texts from English into Indonesian; and c) identifying the impacts in the translation quality of using the techniques to translate the processes in the popular book. The researcher employs a qualitative approach and a case study method. The data are taken from a document of a popular book of Ask Barbara: The 100 Most-Asked Questions about Love, Sex and Relationships, raters and experts and analyzed by the Spradley’s model of data analysis technique which includes domain analysis, taxonomy analysis, componential analysis, and the cultural theme or values. The results of this research reveal that from 315 clauses in the target language, there are 121 Material processes (40.7%), 102 Relational Attributive (34.3%), 57 Mental (19.2%), 18 Verbal (5.7%), 6 Existential (2%), 6 Behavioral (2%) and 5 Relational Identifying (1.7%) processes. The use of some techniques such as transposition, modulation, implicitation, explicitation, literal and deletion has contributed to the shifts of types of process in the translation and has resulted in the translation with high level of accuracy, acceptability, and readability.Keywords: Process Types, Expository Text, Translation Technique, Translation Quality AbstrakDalam pendekatan SFL untuk studi terjemahan, terdapat istilah teknis untuk mengukur kesepadanan dalam elemen sintaksis klausa. Penelitian ini bertujuan menganalisis terjemahan teks ekspositori dalam sebuah buku. Tujuan penelitian adalah a) mengidentifikasi proses menerjemahkan teks ekspositori dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia; b) mengidentifikasi teknik yang cenderung digunakan oleh penerjemah untuk menerjemahkan teks dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia; dan c) mengidentifikasi dampak dalam kualitas terjemahan dilihat dari teknik yang digunakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Data diambil dari dokumen buku populer Ask Barbara: Ask Barbara: The 100 Most-Asked Questions about Love, Sex and Relationships, informan dan pakar dengan  model analisis data menurut Spradley yang mencakup analisis domain, analisis taksonomi, komponen analisis, dan tema atau nilai-nilai budaya. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa dari 315 klausa dalam bahasa target, ada 121 proses Material (40,7%), 102 Atribut Relasional (34,3%), 57 Mental (19,2%), 18 Verbal (5,7%), 6 Eksistensial ( 2%), 6 proses Perilaku (2%) dan 5 Identifikasi Relasional (1,7%). Penggunaan beberapa teknik seperti transposisi, modulasi, implikasi, explikitasi, literal, dan penghapusan telah berkontribusi pada pergeseran jenis proses dalam terjemahan dan telah menghasilkan terjemahan dengan tingkat akurasi, penerimaan, dan keterbacaan yang tinggi.Kata kunci: Jenis Proses, Teks Ekspositori, Teknik Terjemahan, Kualitas Terjemahan