cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mediator
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 294 Documents
Mediamorfosis: Teknologi yang Menstruktur Masa Depan Manusia Astuti, Santi Indra
Mediator Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judul: Mediamorfosis: Memahami Media Baru; Pengarang: Roger Fiddler; Penerbit: Bentang Budaya, Yogya, (kerjasama dengan Yayasan Adikarya Ford Foundation); Tahun terbit: Feb 2003; Tebal: xxviii + 444 halaman; Harga: Rp 40.000,00
Salam Astuti, Santi Indra
Mediator Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Merayakan Wacana KontemporerSeekor anjing Amerika yang kurus kering akibat hukum ekonomi pasar bebas kapitalisme, konon, berkunjung ke Moskow. Berhadapan dengan anjing Rusia yang gemuk dan sehat, anjing Amerika itu ternganga. “Dog (Kalau berhadapan dengan manusia, mungkin ia akan bilang Man), bagaimana mungkin kamu bisa semakmur ini? Di Rusia? I can’t believe it!” Anjing Rusia itu menyalak riang. “Kalau mau tahu rahasianya, ikuti aku,” tuturnya. Maka anjing Amerika tersebut mengikuti temannya menuju ke sebuah tempat, yang pada gerbangnya bertuliskan “Pavlov Institute.” “Be quiet and watch me,” tutur si anjing Rusia. Anjing Amerika itu lalu mengamati temannya memencet sebuah bel. Terdengar dering bel. Pintu bangunan terbuka, dan seorang scientist berjubah putih –a conditioned scientist—membawa sepiring makanan anjing yang lezat, meletakkannya di depan pintu. Tepat pukul sebelas, saatnya makan siang. Kedua anjing menikmati makanan lezat, yang diberikan oleh pria berjubah putih itu. A conditioned scientist.Kisah ini terasa biasa-biasa saja. Greget cerita ini memang baru terasa kalau Anda elaborasikan kisah ini dengan percobaan Institut Pavlov. Untuk membuktikan paradigma behaviourism, yang mengasumsikan bahwa makhluk hidup disetir oleh lingkungannya, ilmuwan Institut Pavlov melakukan serangkaian conditioning experiment. Seekor anjing (ada yang bilang, monyet atau tikus putih) diajari memencet bel. Setiap kali bel dipencet, makanan pun datang. Dengan cara ini binatang tersebut dikondisikan untuk memahami hubungan antara stimulus lingkungan dan respons organisme.Dalam kisah di atas, bukan anjingnya yang terkondisikan. Melainkan ilmuwannya. Sang ilmuwan terkondisikan dengan pencetan bel yang didengar. Setiap kali pada jam yang sama ia mendengar dering bel, otomatis ia langsung mengambil makanan dan diberikan kepada anjing. Dengan cara itulah ia terkondisikan. Dan itu sebabnya Umberto Eco, sang penutur cerita, menyebut sang ilmuwan sebagai a conditioned scientist.Eco memang nakal—dan jenaka. Sebagai ahli semiotika, dan disebut-sebut salah satu jenius logika abad ini, penulis novel The Name of The Rose yang mendunia itu adalah jagonya berpikir terbalik. Pemikiran-pemikirannya kerap mengejutkan publik, karena membalikkan asumsi-asumsi yang telanjur dipostulasikan secara dogmatik sebagai puncak kebenaran ilmiah. Demikianlah, cerita di atas memperlihatkan salah satu ‘kejahilan’ Eco. Kesimpulan ilmiah yang mengobjekkan anjing sebagai makhluk hidup yang terkondisikan oleh lingkungannya melalui relasi antara pencetan bel dan sepiring makanan tersebut dibalik oleh Eco dengan memosisikan sang scientist sebagai objek yang terkondisikan oleh ulah si anjing melalui relasi yang sama –antara dering bel dan sepiring makanan yang disiapkannyauntuk anjing tersebut ...Joke ini tidak berkehendak memertanyakan siapa yang lebih cerdas: anjing atau manusia? Pun, joke ini tidak bermaksud mengajak Anda menertawai, apalagi melecehkan behaviourism. Apa yang ingin ditampilkan di sini adalah sebuah eksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang tak terbayangkan sebelumnya. Itulah yang juga coba diungkap dalam MediaTor edisi kali ini, ketika kami memutuskan untuk mengangkat sejumlah wacana kontemporer.Wacana kontemporer pertama yang kami angkat berkisar pada kemungkinan ideologi beroperasi dalam setiap lini kehidupan, termasuk menyetir wacana kita. Perkara ideologi, yang biasanya direduksi dalam wilayah-wilayah formal-legalistik-konstitusional, kini semakin diyakini memiliki kekuatan besar merekonstruksi perspektif individu dan hubungan-hubungan sosial di dalam masyarakat. Lebih dari itu, seperti disimpulkan Foucault, ilmu pengetahuan tidaklah sebersih, semurni, seobjektif yang kita sangkakan. Melalui serangkaian studi genealogisnya dalam Discipline and Punishment, Foucault Merayakan Wacana Kontemporer Merayakan Wacana Kontemporer mencurigai relasi antara power dan knowledge. Dan kemungkinan ideologi power tersebut menyetir wacana pengetahuan kita lantas coba dipertajam kembali melalui serangkaian telaah dan refleksi Teun A. van Dijk seputar diskusi antara wacana, pengetahuan, dan ideologi. Teun A. van Dijk. Nama ini sangat istimewa dan populer belakangan ini, berkat membesarnya minat terhadap analisis tekstual secara kritis-kualitatif. Kami memang beruntung dapat berkorespondensi via surat elektronik secara langsung dengan beliau. Dan terus-terang, kami serasa mendapat durian runtuhketika beliau mengizinkan kami menerjemahkan beberapa tulisannya untuk MediaTor. Apa yang Anda baca di sini, “Wacana, Pengetahuan, dan Ideologi: Reformulasi Pertanyaan-Pertanyaan Lama”, adalah bagian pertama dari rangkaian tulisan van Dijk yang akan dimuat dalam MediaTor. Van Dijk mengulas sejumlah isu yang diperdebatkan pada titik-titik kritis relasi antara wacana, pengetahuan, dan ideologi.Tulisan tersebut menjadi pengantar bagi artikel selanjutnya yang memperlihatkan dengan jelas relasi antara wacana, pengetahuan, dan ideologi tersebut dalam level praksis. Adalah rekan kami, Ema Khotimah, yang menerjemahkan karya van Dijk. Kami patut berterimakasihkarena di tengah kesibukan mengerjakan usulan penelitian tesis S2 di BKU Komunikasi Universitas Padjadjaran, Ema masih bersedia menyempatkan diri menerjemahkan tulisan van Dijk secara maraton. Pilihan kami tidak keliru karena sejak setahun belakangan ini Ema mengakrabi van Dijk dan para teoretisi analisis wacana lainnya—berkaitan dengan usulan tesisnya yang memfokuskan pada wacana media. Pemikiran Ema, sekaligus embrio usulan tesisnya dapat kita simak bersama pada artikel berjudul “Ba’asyir dalam Pertarungan Wacana”. Ema mengkaji bagaimana proses regimentasi –peminggiran wacana— terhadap ustadz Ba’asyir dan kelompok Islam berlangsung. Sebuah studi yang mengajak kita untuk lebih kritis lagi menyikapi pemberitaan media. Tak ada salahnya bersikap curiga terhadap media—media toh ternyata bukan entitas yang steril-suci hama. Adalah kecurigaan terhadap media pulalah yang diangkat oleh pengamat sekaligus praktisi media, Ignatius Haryanto, dalam “The Age of Capital: Pers, Uang, dan Kekuasaan”. Pada zaman di mana hukumbukan lagi panglima, maka kemungkinan uanglah yang berkuasa. Wajah pers Indonesia sendiri, dalam amatan Ignatius Haryanto, sudah menunjukkan ciri-ciri—meminjam istilah sejarawan Inggris Eric Hobswam— The Age of Capital. Persoalan modal, fenomena kepemilikan silang media, dan ekspansi bisnis perusahaan pers bermodal kuat memperlihatkan kekuatan logika kapitalisme dalam operasi bisnis media di Indonesia. Diangkat dari refleksi atas Hari Pers Nasional ke-57, tulisan ini sengaja kami angkat karena menohok persoalan etis media, yang hitam putih pemberitaannya kerap diatur oleh kekuatan modal di belakangnya. Ignatius Haryanto adalah Direktur LSPP—Lembaga Studi Pers dan Penyiaran.Kami lagi-lagi merasa beruntung karena beliau memercayakan naskahnya untuk kami terbitkan dalam MediaTor kali ini. Apabila logika kapitalisme dicurigai menjadi standar operasi media belakangan ini, maka, bagaimana semestinya pers bersikap dalam memberitakan persoalan-persoalan di kawasan konflik? Di tengahtengah label Indonesia sebagai kawasan rawan konflik, Thomas Hanitzsch, kolega kami dari Ilmenau University of Technology Germany, menawarkan perspektif alternatif: Peace Journalism. Tidak sekadarmengumandangkan slogan, tulisan Hanitzsch yang lengkapnya berjudul “Interreligious Dialogue through the Media: Perspectives and Limitations of Peace Journalism” mendeskripsikan standar-standar operasional peace journalism dan asumsi-asumsi dasar yang digunakan sebagai panduan liputan. Tentang mengapa peace journalism yang ditawarkan sebagai alternatif bagi Indonesia, Hanitzsch berargumen, “The concept of Peace Journalism looks quite suitable especially for Asian and Islamic cultures where the purpose of communication is to generate social harmony and freedom” (Hasnain, 1988).Bagi para praktisi maupun teoretisi jurnalistik, tulisan ini penting dicermati mengingat praksis kerja jurnalisme kian terspesialisasi dengan munculnya pelbagai tantangan. Selain war journalism, jargon lain yang kini muncul adalah patriotic journalism dan ‘jurnalisme nasionalis’!   Kehadiran istilah-istilah baru dalam dunia jurnalisme kita, sesungguhnya tak lepas dari kecurigaan terhadap pers dalam menyikapi pelbagai isu. Simak lebih jauh lagi tulisan Haryati “Sikap Pers terhadap Kondisi Keterpurukan Bangsa Indonesia.” Haryati mensinyalir, pers Indonesia belum berpihak sepenuhnya pada publik. Dalam kondisi keterpurukan bangsa saat ini, pers Indonesia ditengarai menyikapinya dengan menampilkan kecenderungan pemberitaan mengarah pada isu-isu politik yang hangat, kontroversial, dan penuh sensasi. Sementara peristiwa yang langsung berkaitan dengan realitas masyarkat, seperti kemiskinan, pengangguran, degradasi moral, dan lain-lain, malah terluput dari perhatian pers.Tapi, mari tinggalkan Ibukota dengan segala hingar-bingarnya. Kita beralih ke daerah, yang mungkin jauh lebih tenang, namun menyimpan potensi sosial-politik-ekonomi tak kalah penting dengan pers di pusat-pusat negeri. Bagaimana peran pers di daerah di tengah era otonomi daerah? Sejauhmana warga lokal memanfaatkan surat kabar untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka? Adakah perbedaan mengonsumsi surat kabar ditinjau dari beda status sosial ekonomi? Simak penelitian La Iru mengenai “Pengaruh Status Sosial Ekonomi terhadap Pemanfaatan Surat Kabar KENDARI POS di Kota Kendari.”Kebangkitan Dunia Ketiga menarik minat penulis ini. Bermula dari suatu gerakan politis antikolonial, arus kuat menggugat pemberhalaan segala sesuatu yang serba Barat –westernized—mengimbas pula pada dunia ilmu dan perspektif-perspektif metodologisnya. Cultural Studies memang lahir lewat pemikiran para sosiolog-filosof Neomarxis, yang rata-rata berasal dari Eropa. Namun spirit pembebasannya dari standarisasi ‘Barat’ disambut dengan antusias oleh para cendekiawan Dunia Ketiga. Mereka mengadopsi Cultural Studies untuk memaknai identitas diri yang kerap sebelumnya hanya diidentifikasi sebagai ‘theOther’. Bagaimana persinggungan komunikasi dengan Cultural Studies, dan tantangan apa yang dihadirkan oleh pendekatan ini terhadap studi-studi komunikasi, lengkapnya bisa dibaca dalam artikel yang ditulis oleh Santi Indra Astuti: “Cultural Studies dalam Studi Komunikasi: Suatu Pengantar”.Ngomong-ngomong, tulisannya ini adalah buah tangan Santi usai bertualang ke Trawas, Jawa Timur, awal Februari lalu. Dengan segenap kenekatan, ia hadir sebagai salah satu peserta Indonesia’s International Conference on Cultural Studies: Global Local Nexus on Cultural Studies. Hadirnya Cultural Studies menjadi titiktolak baru untuk memaknai identitas dari perspektif yang berbeda. Ini bukan semata-mata persoalan individual. Tapi juga merembesi dimensi-dimensi sosial. Agaknya, apa yang ditulis oleh H.M. Ali Syamsuddin dalam “Kelahiran Masyarakat Modern Dalam Sosiologi Kontemporer” menarik untuk dicermati bersama. Antitesis-antitesis mazhab Parsonian dapat ditemukan di sini, dalam versi yang lebih kritis. Tidak hanya itu, penulis artikel ini juga menguraikan pelbagai tantangan isu yang dihadapi para teoretisi Marxis dan upaya mereka meraih kembali perannya dalam lingkaran sosiologis dengan cara memasukkan dan mengembangkan perspektif baru dalam konstruk teorinya.Lebih jauh lagi tentang perspektif Neomarxis, dan aplikasinya dalam analisis media, dapat disimak dalam artikel Zulfebriges, “Teori Media Marxist: Suatu Pengantar”. Pendekatan Social Media Marxist menawarkan cara pandang baru untuk menganalisis media, peran media, dan produksi wacana yang diturunkan dari para pemikir Neomarxis: Mazhab Frankfurt dengan Teori Kritis, Antonio Gramsci dengan konsep Hegemoni, Stuart Hall dengan teori Encode/Decode yang mengantarkan kita pada diskusi seputar posisi pembaca yang berbeda-beda dalam pembacaan kultural. Artikel ini penting bagi setiap peminat studi komunikasi, utamanya mereka yang tengah melibatkan diri dalam studi-studi media.Masalah komunikasi pembangunan menjadi perhatian Prof. Rochajat Harun, yang pada MediaTor edisi ini kembali menyumbangkan artikelnya. Berjudul “Development Communication in Indonesia: Programmes, Methods, and Approaches”, tulisan Rochajat Harun mengangkat ragam metode dan pendekatan untuk menetapkan strategi komunikasi pembangunan yang akan diwujudkan dalam program-program komunikasi pembangunan. Satu hal yang menarik, Rochajat Harun menyatakan, “Development communication is an art and science ...” Berdasarkan pernyataan itu, kami ingin mengajak Anda, pembaca tercinta, untuk mencermati bersama ragam pendekatan yang ditawarkan Rochajat Harun: sudahkah membebaskan warganegara dari posisi mereka yang selama ini hanya dimaknai sebagai objek pembangunan? Maklum, sampai kini, seperti disinyalir teoretisi perubahan sosial Mansour Fakih, perspektif developmentalism masih mendominasi paradigma komunikasi pembangunan di Indonesia.Masih berkisar pada masalah pembangunan, kali ini yang menjadi sorotan adalah pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia). Roy R. Rondonuwu, kolega kami yang punya pengalaman mengajar di institut negeri dan swasta, menyumbangkan artikel berjudul “Peningkatan Keunggulan Kompetitif Perguruan Tinggi Melalui Analisis Struktur Industri Porter”. Melalui artikel ini, Roy menguraikan dimensidimensi keunggulan kompetitif yang diperlukan untuk menyusun strategi baru pengembangan perguruan tinggi di tengah kondisi globalisasi dan hyper-competitive market. Masalahnya, idealisme pendidikan jika dikaitkan dengan biaya pendidikan biasanya berkembang menjadi isu sensitif. Maka, apabila perguruan tinggi dianalisis dengan pendekatan bisnis, tidakkah ini melenceng dari idealisme pendidikan? tentang ini, Roy menegaskan, “By using the business process reengineering, the organization can get new energy (revitalization) to make it one of the best in the competition.” Yang diuntungkan di sini tentu saja bukan cuma penyelenggara pendidikan, tapi semua pihak—termasuk mahasiswa sebagai subjek pendidikan.Bukan cuma perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan yang mendapatkan tantangan tantangan untuk berkompetisi di tengah globalisasi. Pendidik pun mendapat tantangan yang tidak kalah berat. Tulisan Soeganda Priyatna, “Teacher’s Union Demands and Prospects of Teachers In The Globalization Era” menghadirkan permasalahan tersebut. Siapa bilang jadi guru itu mudah? Iwan Fals dengan legenda klasik Oemar Bakri-nya, atau Wim Umboh dengan sosok Mang Udel dalam film Si Mamat, secara jujur merefleksikan nasib pendidik di Indonesia yang dalam dunia nyata kita bukanlah hero Orde Baru yang mengonstruksi guru sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Permasalahan pelik yang dihadapi para pendidik, sehubungan dengan identitas multidimensi dan idealisme pendidikan yang dibebankan padamereka di tengah orientasi ekonomi yang sudah berubah, menurut Soeganda dapat dicarikan alternatif solusinya melalui Teacher’s Union. Merujuk pada ratifikasi konvensi ILO (International Labor Organization),Soeganda yang juga Dekan Fikom Unpad, mengajak guru bersatu untuk mempromosikan social movement yang mengacu pada perbaikan nasib bangsa secara menyeluruh. Hidup Guru! Masih tentang pendidik, kali ini kami tampilkan tulisan Yusuf Hamdan, mantan Dekan Fikom Unisba yang sedang menempuh studi S3 di Program Pascasarjana Komunikasi UI. Menjadi dosen di era globalisasi, menurut Yusuf, memang tidak cukup sekadar mengandalkan gelar dan ijazah saja. Agar dapat menjadi manusia yang sangat efektif dalam menyikapi perubahan-perubahan zaman, dosen masa kini perlu mengadopsi trik-trik pengembangan kepribadian ala Stephen Covey. Untuk itulah Yusuf dalam MediaTor kali ini menampilkan tulisan “Penerapan Konsep 7 Habits Terhadap Profesi Dosen.”Tema pemerintahan juga muncul dalam MediaTor edisi kali ini. Tulisan Dr. Nasrullah Nazsir, “Pemerintahan yang Bersih (Good Governance)” mengulas konsep dan teori pemerintahan ideal untuk negara-negara sedang berkembang yang senantiasa mendambakan bentuk pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa di mata masyarakatnya. Nasrullah menawarkan penggunaan metode kualitatif yang diyakini dapat menjawab dan memberikan bentuk contoh kegiatan praktis serta teoretis dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Tapi, ada apa dengan pemerintah kita?Yenrizal, mahasiswa program Pascasarjana S2 Bidang Komunikasi Universitas Padjadjaran menyoal “Budaya ‘Politik Kulit’ dan Komunikasi Politik Demokratis di Indonesia”. Dalam kacamata Yenrizal, budaya politik Indonesia sampai saat ini masih sangat menonjolkan kekuatan simbol-simbol, lambanglambang, dan atribut suatu lembaga politik, ketimbang substansi yang dibawanya. Hal ini menjadikan budaya politik rendah dan minim partisipatif—fenomena ini disebutnya sebagai politik kulit. “Politik kulit” bukan model yang bisa dibenarkan dalam sistem negara demokrasi. Untuk itu, komunikasi politik yang demokratis adalah salah satu solusi guna mengubah kecenderungan tersebut. Bukan sembarang komunikasi politik, Yenrizal yang juga aktif sebagai peneliti menawarkan komunikasi politik dengan pendekatan bottom-up berdasarkan prinsip “Saya Oke, Kamu Oke”. Selain masalah komunikasi politik yang cuma menyentuh kulit, perkara komunikasi lain terkait dengan kewarganegaraan juga mengemuka. Kami angkat dalam MediaTor kali ini penelitian LukiatiKomala Erdinaya berjudul “Pengaruh Interpersonal Response Traits Masyarakat WNI Keturunan Cina Muslim terhadap Komunikasi Pembauran.” Lukiati mencoba mencari jawaban atas faktor-faktor internal yang mempengaruhi Komunikasi Pembauran melalui perspektif Ilmu Komunikasi, dengan bantuan Interpersonal Response Traits yang mengarahkan perilaku antarpersona.Simpulannya, yang menunjukkan bahwa Interpersonal Respons Traits masyarakat Cina Muslim  berpengaruh terhadap Komunikasi Pembauran, perlu dicatat oleh para pejabat Departemen Dalam Negeri. Setidaknya, agar institusi tersebut mampu merumuskan pendekatan yang lebih manusiawi dalam menjalankan program-program Komunikasi Pembauran—hingga tidak dimanipulasi dalam dimensi yang semata-mata politis.Permasalahan anak didik menjadi topik tulisan terakhir yang ditampilkan MediaTor edisi kali ini. Pien S. Supinah menyumbangkan hasil penelitian berjudul “Pengaruh Keterampilan Menyimak dan Intelligence Quotient (IQ) terhadap Prestasi Belajar Siswa”. Di antara aktivitas yang terkait dengan kegiatan intelektual lain, menyimak kerap tidak mendapat perhatian layak dari para pendidik yang lebih mementingkan uji kemampuan kognitif melalui hasil yang tecermin lewat aktivitas menulis. Padahal, menyimak (listening) sebagai komunikasi langsung merupakan salah satu aspek dari empat perilaku komunikasi insani yang menduduki posisi penting dalam penyampaian materi pada proses belajar mengajardi sekolah. Hasil penelitian Pien merekomendasikan pentingnya memoles kemampuan menyimak anak didik. Dalam menyusun strategi belajar efektif bagi siswa, bukan cuma aspek IQ yang perlu diperhatikan—faktor kemampuan menyimak pun perlu dieksplorasi secara mendalam.Demikianlah racikan MediaTor edisi kali ini. Memang tidak ada tampaknya kerangka tema umum yang kami hadirkan di sini. Dan mungkin tidak akan bisa, mengingat tema komunikasi begitu beragam, begitu juga segala aspek permasalahannya. Kendati demikian, pelangi itulah justru yang menurut kami sangat penting untuk terus-menerus dikedepankan. Dalam konteks ilmu komunikasi, hal menarik yang kami temukan sejauh ini adalah betapa ruang terbuka yang disediakan untuk ragam pendapat itu, pada akhirnya menghadirkan loncatan-loncatan pemikiran dan wacana-wacana kontemporer yang luar biasa.Maka, salamhari ini, carpe diem,dan mari rayakan bersama ruang terbuka bagi wacana-wacana kontemporer! Santi Indra Astuti
Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari Politik, Media, sampai Lain-Lain Indonesia termasuk ke dalam golongan yang dicurigai menyimpim potensi "born" politik internasional. Berbagai peristiwa teror, macam Born Bali, meledakan sumbu konflik yang terpendam sejak lama. Berbagai tokoh politik Islam Indonesia dianggap tersangkut dengan ledakan 11 September 2001 di Amerika. Abu Bakar Baasyir ialah contohnya. Adakah seperti itu? Adakah Indonesia memang mengandung magma teror seperti itu? Adakah keislaman Indonesia punya daya robek politik seperti itu? Berbagai pertanyaan ini merupakan pertanyaan antara terhadap domain konflik intemasional yang menyangkut Indonesia. Apakah itu terkait dengan representasi keislaman di Indonesia? Di fase reformasi kini, Indonesia dikenal merepresentasikan nilai-nilai ideologis Islam yang kuat. Tapi, apa benar? Teun A. van Dijk, dalam "Discourse, Ideology and Context", menjelaskan tentang ideologi. "Ideologies are also at play when language users engage in the ongoing construction of context as subjective, as well as group-sensitive, interpretations of the social situation," tulisnya. Ia memokuskan telaahannya pada penjadian ideologi yang dibangun melalui kognisi sosial dari representasi kelompok-kelompok sosial. Ideologi menjadi sebentuk social beliefs, dengan mengambil jargon social psychology and political science, dengan strukturisasi pertanyaan-pertanyaan tujuan pengelompokan seperti: (I) Menzbership devices (gender, etnicity, appearance, origin, etc.): Who are we? (2) Actions: What do we do? (3) Aims: Whydo we do this? (4) Norms and Values: What is good or bad? (5) Position: What is our position in society, and how we relate to other groups? (6) Resources: What is ours? What do we want to have/keep at all costs? Sebuah ideologi dipenuhi oleh unsur-unsur knowledge dan attitudes, yang terbentuk mental model (merepresentasikan episodic memory dan people experiences). Dari sanalah, Dijk menegaskan bahwa ideologi tidak selalu merupakan hal yang negatif, bukan selalu sepersis false consciousness". Ideologi mencerminkan konteks dari mental representations, yang bersifat dynamic structures di dalam pengelompokan, tapi sekaligus juga sebagai pengontrol dari model-model konteks pengelompokan, seperti liberal atau konservatif, feminis atau anti-feminis, atau Islam dan nonislam. Rembesan ideologi merniliki banyak representasi di dalam pengelompokan yang bersifat kebangsaan. Dalam kasus Indonesia, hal itu terjadi dengan pemunculan pelbagai permasalahan yang menempel dan menyeruak di berbagai kasus yang terjadi akhir-akhir ini. Tentu saja, tidak semata berbagai konflik dan letupan kekerasan yang tejadi di Indonesia akhir-akhir ini dikarenakan persoalan ideologis. Akan tetapi, berbagai hal laten, dan berpotensi konflik, turut menyertai berbagai persoalan keindonesiaan kita. Deddy Mulyana, dalam "Bridging Islam and the West: Toward the Development of Intercultural Understanding", menjelaskannya dari sisi keislaman dan kultural di Indonesia. Banyak faktor mendorong ketidakselarasan hubungan Indonesia, termasuk kalangan Islamnya, dengan bangsa-bangsa Barat. Dan faktor-faktor itu, di antaranya, dibangun oleh ketidakharmonisan antarkelompok (etnik, ras, agama) di dalam perhubungan kebangsaan. Berbagai konflik antarkelompok, di beberapa tahun terakhir, misalnya, merupakan problem nasional yang mesti diselesaikan. Semua itu, kemudian, mengakumulasi pada persoalan struktural (seperti,jurang sosial kaya-miskin) dan kultural (seperti, antarsuku). Dari sanalah, antara lain, dalam perhubungan dengan Barat, Indonesia memiliki rasa rendah diri dan pengagungan kepada Barat. Maka itulah, dibutuhkan upaya merumuskan kembali identitas nasional dan budaya keindonesiaan berdasar nilai-nilai positif sejarah, budaya (termasuk nilai-nilai agama universal), serta dari sumber budaya mana pun sejauh aspek-aspek budaya tersebut meningkatkan martabat manusia Indonesia. Selain itu, usaha mereorientasi pendidikan nasional melalui pendidikan multibudaya di segala tingkatan serta melalui media massa, disertai usaha untuk mengatasi kendala struktural yang ada. Berangkat dari sana, bisa ditelusuri, antara lain, pemunculan tudingan Barat terhadap gerakan fundamentalisme keagamaan yang berdimensi teror. Fundamentalisme itu, seperti juga yang dimiliki kaum fundamentalisme Kristen di negeri-negeri Barat, membawakan penyelesaian problem nasional keindonesiaan dengan gerakan-gerakan yang radikal- walaupun belum tentu terorisme. Bagi Tim Behrend, dalam "Reading the Myth: Public Teachings ofAbu Bakar Baasyir", Baasyir hanyalah seorang penganut Islam yang taat dan disiplin. Kedua unsur itu memola kiprah penganut dan pengajar keagamaan yang absolut dan simplistis. Model begini tak ubahnya dengan kaum Kristen fundamentalis, yang menyimpan gelegak radikal di dalam logika nalar dan gerak keagamaannya. Dan, tentu saja, sangat rentan bila berhadapan dengan sistem politik yang ingin merengkuh segala jurusan kepentingan. Bukan hanya di wilayah domestik keindonesiaan, penokohan macam itu juga bertabrakan dengan skematik politik western. Dunia western memang tidak lagi diisi dengan kisah-kisah para koboi dan para sherief Dunia western kini sudah berteknologi high tech dengan menyisakan peran-peran sherief internasional ke berbagai belahan dunia yang terpuruk - dan tersungku masalah sosial-ekonomi, macam Indonesia. Dunia western kini telah memakai media massa sebagai cermin mematut para marusia di belantara nilai baik dan buruk. Dan, cermin itu begitu kuat mengungkung peradaban. Mah.. ketika peradaban internasional kini dicengkram oleh warisan post-kolonial, terjadilah pengerangkaan "otak kotak politik dengan banyak dimensi. Dimensi Islam, di antaranya, kembali jadi cermin dunia western mengolah peradaban. Bashy Quraishy, dalam "Islam in the Western Media", mengungkapkan hal itu. Ledakan gedung World Trade Center, AS, memicu wajah buruk Islam di cerminan media western. Dirautlah sebutan terorisme, fundamentalisme, vandalisme, dan lainnya. Dimunculkan realitas-berita demonstran, Quran dan pedang, dan lainnya. Quraishy memotret hal itu cukup intens. Kapitalisme media memang telah menggeser arah visi media sebagai hanya pengungkap kebenaran. Kebenaran "bisnis" media dipenuhi tujuan meraup laba. Para pemilik media menuntut pengelola media menggerakkan pendulum bisnis. Berbagai potensi dasar individu, macam kesenangan pada hiburan, digenjot ke titik-titik nadir. Kehadiran infotainment begitu meruyak. Masyarakat disedot dengan kepuasan hal-hal yang leisure. Dari sanalah, Septiawan Santana K., dalam "Melihat Bias Kapital Media: Asumsi Aksiologis dan Ontologis Sederhana", menunjukkan seringkalinya media mengalami bias: bias kapital, bias kekuasaan, bias kepentingan wartawan sendiri, dan bias-bias lainnya. Pengemasan iklan itu seakan untuk mengelabui pembaca. Hal ini menunjukkan, orientasi media makin lama makin bergeser ke pasar. Kini, paradigma ekonomi menjadi salah satu penentu yang mempengaruhi pertumbuhan jurnalisme, selain nilai-nilai responsibilitas sosial dan pelayanan publik dari demokrasi liberal. Padahal, idealnya media massa menjadi pilar demokrasi, juga mencerahkan dan memberdayakan warga negara. Tapi, dunia iklan bukan hanya milik bisnis media. Dunia politik pun memakainya. Zulfebriges, dalam "Political Advertising: Strategi Partai Politik dalam Pemilu", memaparkan perkembangan periklanan politik, terutama di negara demokrasi, yang mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak kemunculannya pada awal tahun 1950 di AS. Efektivitasnya membuat kandidat dan partai politik yang bertarung tidak ragu mengeluarkan biaya jutaan dolar untuk mengungguli lawan politiknya. Berbeda dengan periklanan komersial, periklanan politik sering menyampaikan pesan-pesan politik yang bersifat negatif, mendiskreditkan lawan politik, sebagai cara mudah merebut suara pemilih. Dunia politik pun dipakai media massa untuk membantu penguatan strategi politik partai. Neni Yulianita, dalam "Media Massa: Strategi Partai Politik dalam Menghadapi Pemilu 2004", menunjukkan bagaimana keberhasilan pemilu tidak hanya tergantung pada peran komunikator politik. Media massa kerapkali memainkan peran di dalamnya. Pentingnya aktivitas kampanye melalui media massa telah menyadarkan partai politik peserta pemilu untuk merencanakan dan merancang strategi kampanye yang tepat. Bila ditangani secara serius, akan banyak pengaruhnya terhadap perolehan suaranya dalam pemilu. Politik memang memerlukan upaya komunikasi yang intens. Komunikasi politik adalah salah satu kuncinya. Reza NasruHah, dalam "Komunikasi Politik: Kasus di Jawa Barat", memaparkan bagaimana seluk-beluk praksis komunikasi politik diejawantahkan. Praksis politik mensyaratkan adanya pemahaman mengenai sejumlah konsep kunci komunikasi politik. Bagaimanapun hebatnya interaksi politik yang dilakukan, tujuan akan sulit tercapai jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Pada titik inilah penting sekali pemahaman mengenai konsep-konsep kunci komunikasi politik, di antaranya menyangkut makna input/output bagi sistem politik, kontrol, feedback, dan sistem proses. Studi kasus mengenai sistem komunikasi politik di Jawa Barat menunjukkan bahwa kinerja partai masih jauh dari harapan rakyat selaku konstituen pemilihnya. Kemungkinan besar, ini disebabkan karena macetnya sistem komunikasi politik dan kegagalan partai memanfaatkan saluran kQmunikasi untuk merangkul massanya. Isi MediaTor kali ini juga mengetengahkan berbagai kajian di sekitar komunikasi lainnya.  Askurifai, dalam "Kebudayaan Audio Visual: Telaah terhadap Nilai-Nilai Berita Televisi", menjelaskan tentang budaya audiovisual memunculkan tantangan baru bagi konsumsi dan produksi media massa. Sebelumnya, berita disampaikan dan dicema lewat budaya tulis yang dibawa oleh media cetak. Kini, dengan maraknya televisi, berita ditransfer kepada khalayak dan dikonsumsi melalui budaya audiovisual. Pengamat kebudayaan Neil Postman dan Jerry Mander menilai, bahasa tertulis menghadirkan pengertian yang teratur dan dapat dipercaya. Sementara, konsepsi-konsepsi tentang dunia yang ditawarkan televisi cenderung kacau balau dan tidak masuk akal, dan karenanya berbahaya bagi masyarakat. Ini dibantah oleh pengamat lain. Mengutip Edmund G. Brown, Arswendo Atmowiloto justru mencermati, kehadiran televisi memberi kesempatan bagi semua - satu kelebihan yang tidak bisa ditandingi oleh budaya tulis yang bersifat elitis akibat faktor literacy yang menyertainya. Bagi para praktisi media dan teoretisi komunikasi sendiri, yang paling penting adalah mencermati karakteristik masing-masing medium informasi dan komunikasi massa, serta menyiasati karakteristik tersebut untuk mengoptimalkan fungsinya di tengah masyarakat. Berita televisi memang bisa saja sungguh-sungguh, dan serius. Tapi bisajuga membodohi masyarakat, berpura-pura, dan terbuka untuk dimanipulasi. Di sinilah letak urgensi moralitas-kehadiran moralitas mutlak diperlukan dalam produksi dan sajian berita televisi sehingga khalayak mendapatkan aspek terbaik dari budaya audiovisual. Ike Junita Triwardhani, dalam "Televisi sebagai Media Quantum Learning bagi Anak", menyatakan bahwa televisi, di samping mengundang gugatan karena sejumlah efek negatifnya, juga memiliki banyak sisi positif, antara lain, sebagai media belajar bagi anak.  Melalui metode Quantum Learning, suatu tayangan acara televisi diberi makna sebagai substansi pendidikan yang menyenangkan, metode pengajaran partisipatif, serta suasana Jingkungan yang membuat anak merasa nyaman. Dalam hal ini, " kehadiran orang tua sebagai mitra dialog bagi anak, untuk memberikan makna yang mudah dicerap mengenai suatu acara televisi, sangat diperlukan. Belajar dalam suasana menyenangkan, sebagai prinsip penting dalam metode Quantum Learning, akan memberikan hasil yang lebih optimal. Metode ini berangkat dari keyakinan bahwa manusia temyata memiliki kemampuan luar biasa untuk meloncat di atas kemampuan yang diperkirakan. Ririn Gunawan, dalam "Pengaruh Komunikasi Pemasaran Terpadu terhadap Perilaku Konsumer", mengemukakan komunikasi pemasaran terpadu merupakan salah satu bagian integral dan vital dari kegiatan pemasaran. Ia memainkan peranan penting dalam pertukaranjaringan. Pada tingkat yang dasar, komunikasi pemasaran terpadu dapat menginformasikan dan membuat kesadaran pengguna yang potensial. Komunikasi berusaha mempengaruhi secara langsung kepada konsumer yang potensial sehingga menyebabkan mereka senang melakukan pertukaran hubungan secara loyal. Di dalam komunikasi pemasaran terpadu, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan: faktor persepsi, bauran pemasaran, positioning, dan faktor lingkungan. Selain itu, juga terdapat beberapa premis yang perlu diperhatikan dalam usaha mempengaruhi perilaku konsumer, yakni: konsumer adalah yang berkuasa, motivasi konsumer dan perilakunya dapat dimengcrti melalui penelitian, perilaku konsumer dapat dipengaruhi lewat kegiatan persuasif, dan pcrsllasi tcrhadap konsumer akan bermanfaat sepanjang pengaruhnya layak, legal, dan bermoral. Agung M.S.G., dalam "Mengintip Komunikasi Pemasaran di Matahari Supermarket", menjelaskan bagaimana persaingan yang kian tajam di dunia pemasaran menuntut mental yang kreatif dan inovatif agar dapat mengetahui kebutuhan masyarakat yang kian cerdas dalam menentukan pilihan terhadap suatu produk. Akan tetapi, sebelum menyiasati strategi pemasaran, harus terlebih dahulu meninjauUlang paradigma marketing dan pemasarnya itu sendiri agar selalu terbarukan seiring dengan Perkembangan target pasar. Strategi pemasaran dalam membidik pasar tersebut dilakukan dengan lintas visi, pemanfaatan database, serta memahami marketing plan yang meliputi marketing objective, COlllllll/lzicatioll objective, dan communication strategy. Kiki Zakiah, dalam "Pcngaruh Jaringan Komunikasi Organisasi terhadap Pencapaian Tujuan Badan Komunikasi Wanita Islam", mengemukakan penelitian mengenai kegiatanjaringan komunikasi organisasi yang dilakukan pada Badan Kerjasama Wan ita Islam (BKSWI) Jawa Barat. Penelitiannya menunjukkan hasil efektfinyajalur komunikasi horisontal dan komunikasi informal, dan ketidakefektifan komunikasi vertikal dalam mencapai tujuan organisasi. Abdul Firman Ashaf, dalam "Tema-Tema Dominan dalam Musik Populer Indonesia", menggambarkan tema-tema yang cenderung muncul dalam lirik lagu populer Indonesia. Ia menemukan dominasi tema personal dan cinta, ketimbang tema-tema sosial. Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan ckspektasi-ekspektasi realliberalisasi sikap yang menuju hubungan intim laki-Iaki dan perempuan. Antar Venus, dalam "Nonverbal Expectancy Violation Theory: Esensi dan Perkembangannya", mengupas bahwa setiap orang memiliki harapan tertentu pada perilaku nonverbal orang lain. Jika harapan tersebut dilanggar, maka orang akan bereaksi dengan memberikan penilaian positif atau negatif sesuai karakteristik pelaku pelanggaran tersebut. Bila kita menyukai orang tersebut maka besar kemungkinan kita akan menerima pelanggaran tersebut sebagai ~~suatu yang wajar dan menilainya secara positif. Sebaliknya, bila sumber pelanggaran dipersepsi tidak menarik atau kita tidak menyukainya maka kita akan menilai pelanggaran tersebut sebagai sesuatu yang negatif. Rochajat Harun, dalam "Concept and Methodology of Peoples Participation in Agricultural Extension", menguraikan bagaimana penyuluhan pertanian memiliki dimensi-dimensi desentralisasi kcwenangan pelaksanaan dari pusat ke daerah, pergeseran pendekatan dari orientasi komoditas ke orientasi agribisnis yang terintegrasi. Semua itu membantu para petani untuk menolong dirinya sendiri dalam upaya mengatasi berbagai persoalan. Untuk keberhasilan suatu program dalam penyuluhan, diperlukan adanya partisipasi. Partisipasi yang sejati adalah melibatkan masyarakat petani dari perencanaan hingga pengambilan keputusan. Demikianlah MediaTor kali ini menjumpai Anda, sidang pembaca. Septiawan Santana K.
Melihat Bisnis Bias Kapital Media: Asumsi Aksiologi dan Ontologis Sederhana Kurnia, Septiawan Santana
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kisah-kisah jurnalisme investigatifpunya ukuran dan keluaran yang tak mudahdigenera/isasikan. Ada yang mengukurnya dari pemuatan kisah "seorang korban" (victim), ada pula yang mengaitkannya dengan kelemahan sebuah sistem. Kesemua bahan liputan direkontekstualisasikan ke dalam klasifikasi dan struktur pengisahan, berdasarkan tema dan tipe-tipe spesijikasi kisah. Dari keseluruhan kerja  liputan jurnalisme investigatif pada umumnya ditentukan unsur-unsur yang dapat dikenali, yang menjadi karakteristik wacana reportase investigatif, antara lain: subjek investigasi, hipotesis riset, sumber sekunder, pikiran dokumentati, narasumber, teknik riset, berpikir wisdom.
Media Massa: Strategi Partai Politik dalam Menghadapi Pemilu 2004 Yulianita, Neni
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan pemilu, tidak hanya terletak pada peran komunikator politik. Media massa kerapkali memainkan peran di dalamnya. Pentingnya aktivitas kampanye melalui media massa telah menyadarkan partai politik peserta pemilu untuk merencanakan dan merancang Strategi Kampanye yang tepat. Bila ditangani secara serius, akan banyak pengaruhnya terhadap perolehan suaranya dalam pemilu
Kebudayaan Audio Visual: Telaah terhadap Nilai-Nilai Berita Televisi Baskin, Askurifai
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya audiovisual memunculkan tantangan baru bagi konsumsi dan produksi media massa. Sebelumnya, berita disampaikan dan dicerna lewat budaya tulis yang dibawa oleh media cetak. Kini, dengan maraknya televisi, berita ditransjer kepada khalayak dan dikonsumsi melalui budaya audiovisual. Pengamat kebudayaan Neil Postman dan Jerry Mander menilai, bahasa tertulis menghadirkan pengertian yang teratur dandapat dipercaya. Sementara, konsepsi-konsepsi tentang dunia yang ditawarkan televisi cenderung kacau balau dan tidakmasdk akal, dan karenanya berbahaya bagi masyarakat. Jni dibantah oleh pengamat lain. Mengutip Edmund G. Brown, Arswendo Atmowiloto justru mencermati, kehadiran televisi memberi kesempatan bagi semua - satu kelebihan yang tidak bisa ditandingi oleh budaya tulis yang bersijat elitis akibatjaktor literacy yang menyertainya. Bagi para praktisi media dan teoretisi komunikasi sendiri, yang paling penting adalah mencermati karakteristik masing-masing medium injormasi dan komunikasi massa, serta menyiasati karakteristiktersebut untuk mengoptimalkanjungsinya di tengah masyarakat. Berita televisi memang bisa saja sungguh-sungguh, dan serius. Tapi bisa juga membodohi masyarakat, berpura-pura, dan terbuka untuk dimallipulasi. Di sinilah letak urgensi moralitas-kehadiran moralitas mutlak diperlukan dalam produksi dan sajian berita televisi sehillgga khalayak mendapatkan aspek terbaik dari budaya audio visual.
Televisi sebagai Media "Quantum Learning" bagi Anak Triwardhani, Ike Junita
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Televisi, di samping mengundang gugatan karena sejumlah efek negatifnya juga memiliki banyak sisi positip,  antara lain, sebagai media belajar bagl anak. Melalui metode Quantum Learning, suatu tayangan acara televisi diberi makna sebagai substansi pendidikan yang menyenangkan metode pengajaran partisipatif, serta suasana lingkungan yang memembuat anak merasa nyaman. Dalam hal ini kehadiran orang tua sebagai mitra dialog bagi anak adalah untuk memberikan makna yang mudah diserap mengenai suatu acara televisi, sangat diperlukan. meotode belajar dalam suasana menyenangkan. sebagai prinsip penting dalam metode  QuantumLearning  akan memberikan hasil yang lebih optimal. Metode ini berangkat dan keyakinan bahwa manusia ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk meloncatdi atas kemampuan yang diperkirakan.
Political Advertising: Strategi Partai Politik dalam Pemilu: Strategi Partai Politik dalam Pemilu zulfebriges, zulfebriges
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan periklanan politik, terutama di negara demokrasi, mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak kemunculannya pada awal tahun 1950 di AS. Efektivitasnya membuat kandidat dan partai politik yang bertarung tidak ragu mengeluarkan zaya jutaan dolar untuk mengungguli lawan politiknya. Berbeda dengan periklanan kontroversial, Periklanan Politik sering menyampaikan pesan-pesan politik yang bersifat negatif, mendeskreditkan lawan politik, sebagai cara mudah merebut suara pemrih.
Pengaruh Komunikasi Pemasaran Terpadu terhadap Perilaku Konsumer Gunawan, Ririn
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi Pemasaran Terpadu merupakan salah satu bagian integral dan vital dari kegiatan pemasaran dan memainkan peranan penting dalam pertukaran Jaringan. Pada tingkat yang dasar, Komunikasi Pemasaran Terpadu dapat menginformasikan dan membuat kesadaran pengguna yang potensial. Komunikasi berusaha mempengaruhl secara langsung kepada konsumer yang potensial sehingga menyebabkan mereka senang melakukan pertukaran hubungan secara loyal. Di dalam Komunikasi Pemasaran Terpadu, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan: faktor persepsi, bauran pemasaran, faktor persepsi dan faktor lingkungan. Selain itu juga terdapat beberapa premis yang perlu dlperhatlkan dalam usaha mempengaruhi perilaku konsumer, yakni: konsumer adalah yang berkuasa. motivasi konsumer dan perilakunya dapat dimengerti melalui penelitian. perilaku konsumer dapat dipengaruhi lewat kegiatan persuasif, dan persuasi terhadap konsumer akan bermanfaat sepanjang pengaruhnya layak, legal, dan bermoral.
Mengintip Komunikasi Pemasaran di Matahari Supermarket MSG, Agung
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persaingan yang kian tajam di dunia pemasaran menuntut mental yang kreatif dan inovatif agar dapat mengetahui kebutuhan masyarakat yang kian cerdas daLam menentukan pilihan terhadap suatu produk. Akan tetapi sebelum menyiasati strategi pemasaran, harus lebih dahulu meninjau uLang paradigma marketing dan pemasarnya itu sendiri agar selalu terbarukan seiring dengan perkembangan target pasar. Strategi pemasaran dalam membidik pasar tersebut dilakukan dengan lintas divisi, pemanfaatan database, serra memahami marketing plan yang meliputi marketing objective, communication objective, dan communication strategy.

Page 11 of 30 | Total Record : 294