cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mediator
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 294 Documents
Komunikasi Antarbudaya dalam Momentum Pelaksanaan Ibadah Haji Rinawati, Rini
Mediator Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap peristiwa komunikasi sebenarnya memiliki potensi sebagai komunikasi antarbudaya karena para peserta yang terlibat di dalamnya memiliki perbedaan kultur sekecil apa pun. Apalagi dalam momentum Ibadah Haji, berbagai ras, bangsa. suku bangsa berbaur dalam ruang dan waktu yang sama. Berbagai perbedaan kultur di kalangan jemaah haji sering menimbulkan kesalahpahaman yang dapat berakibat fatal. Untuk mengeliminasi kesalahpahaman tersebut, yang perlu dilakukan oleh jemaah haji adalah menyadari akan keunikan budaya setiap orang, bangsa, suku bangsa, tidak terjebak etnosentrisme, serta berupaya mengembangkan empati.
Komunikasi Persuasif, Kohesi Kelompok, dan Apresiasi Seni Gamelan Sunda: Kasus di Kalangan Mahasiswa Maryani, Anne
Mediator Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survai dengan unit analisisnya para mahasiswa anggota Lingkung Seni Sundapada tiga perguruan tinggi: Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pasundan (Unpas), dan Universitas Langlangbuana (Unla). Variabel bebas yang diteliti adalah (I) komunikasi persuasif pelatih seni gamelan Sunda (XI: kredibilitas, X2: daya tarikpesan, X3: kepribadian anggota); (2) kohesivitas kelompok (X4: ketertarikan anggota pada satu sama lain, X5 : ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok); dan (3) Variabel terikat (Y): apresiasi mahasiswa anggota Lingkung Seni Sunda terhadap gamelan Sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya hubungan variable X2, X3,dan X4 masing-masing secara terpisah, tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan variable Y. Sedangkan variabel bebas lainnya, baik secara terpisah maupun sebagai satu kesatuan, memiliki hubungan yang signifikan dengan variabel Y.
Televisi: Kotak Ajaib bukanKotak Dungu Astuti, Santi Indra
Mediator Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menonton Televisi sebagai Praktik Konsumsi
Wacana, Pengetahuan, dan Ideologi: Reformulasi Sejumlah Persoalan Klasik Dijk, Teun Van
Mediator Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ideologi merupakan sistem sosial yang digunakan bersama dalam kelompok dan menjadi representasi mental kelompok tersebut. Ideologi lebih fundamental ketimbang pengetahuan. Ideologi melambangkan prinsip-prinsip yang mendasari kognisi sosial dan karenanya membentuk dasar-dasar pengetahuan, sikap, dan lebih spesifik lagi kepercayaan-kepercayaan yang digunakan bersama oleh suatu kelompok. Seluk-beluk representasi mental, proses, dan strategi-strateginya menjadi kontrol ideologis bagi wacana. Ada pengetahuan umum dan juga pengetahuan lainnya yang bias ideologis, serta terlibat dalam produksi dan pemahaman wacana.
Ba’asyir dalam Pertarungan Wacana Khotimah, Ema
Mediator Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Situasi internasional pascatragedi WTC sangat sensitif terhadap gerakan dan kelompok yang dipandang radikal, ekstrem, apalagi yang “berbau” terorisme. Ironisnya, semua keonaran ini telah ditudingkan kepada kelompok Islam garis keras sebagai pelakunya. Media massa secara simultan mem-blow-up relasi Islam dan terorisme dari waktu ke waktu. Bahkan, Indonesia terkena getahnya, negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam ini pun dikukuhkan oleh media Barat dan didukung oleh media massa nasional sebagai sarang teroris, lalu Abu bakar Ba’asyir dicap sebagai pemimpin teroris di kawasan Asia Tenggara. Meski sampai saat ini tim penyidik belum menemukan bukti keterlibatan Ba’asyir dalam aksi terorisme, Ba’asyir masih mendekam di penjara sampai 1 Maret 2002 sesuai BAP Polri . Di media massa, Ba’asyir dan kelompok Islam cenderung telah terpinggirkan dalam pertarungan wacana. 
“The Age of Capital”: Pers, Uang, dan Kekuasaan Haryanto, Ignatius
Mediator Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pers, uang, dan kekuasaan merupakan tiga unsur yang membuat roda industri pers berputar dengan lancar. Tiga unsur tersebut menjadi titik tolak untuk mengupas permasalahan aktual yang dihadapi pers pasca pemerintahan Soeharto, setelah negara tidak lagi menjadi penguasa pers. Simpulan yang disampaikan menunjukkan indikasi terwujudnya The Age of Capital dalam Industri Pers Indonesia, yaitu tatkala modal menjadi kekuatan utama yang menguasai urat nadi kehidupan pers, dan pada akhirnya menghilangkan mekanisme pers yang sehat dan objektif. Sejumlah contoh yang terjadi menunjukkan betapa Dewan Pers sendiri, yang diharapkan mampu menjamin keberlangsungan kehidupan pers yang sehat, ternyata telah terkooptasi oleh kapitalisasi modal para pengusaha yang berkepentingan dengan pembentukan citra produk mereka.
Interreligious Dialogue through the Media: Perspectives and Limitations of Peace Journalism Hanitzsch, Thomas
Mediator Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uprising clashes and conflicts among Indonesians originated from religious conflicts need an urgent interreligious dialogue. Media, as one of social system agent, is believed could facilitate those kind of dialogue. The concept being introduced here which fitted for such purpose is Peace Journalism. By definition, Peace Journalism is a program or frame of journalistic news coverage, which contributes to the process of making and protecting peace respectively the peaceful settlement of conflicts. The concept of Peace Journalism looks quite suitable especially for Asian and Islamic cultures where the purpose of communication is to generate social harmony and freedom (Hasnain, 1988). However, this concept also has limitations. Those limitations come from the complex relationship between journalism and society, and the challenges from journalism which served well for constructing realities. According to the author, there are five solutions could be achieved in order to maintain a fruitful interreligious dialogue facilitate by Peace Journalism. First, improvement on journalism education and further training for journalist. Second, a thoroughly and in-depth-research by scholars to provide external view on journalism and its operations that may induce self-correction. Third, the growth of “media journalism”. Fourth, a strong press council to control the press. Fifth, and possibly most important, a reliable law system.
Sikap Pers terhadap Kondisi Keterpurukan Bangsa Indonesia Haryati, Haryati
Mediator Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam model efek komunikasi massa, pers diasumsikan memiliki pengaruh positif juga negatif. Melalui pemberitaan yang berimbang, pers dapat membantu masyarakat  menjelaskan situasi yang tengah bergolak. Di sisi lain, melalui pemberitaan yang tidak akurat, pers dapat menambah eskalasi konflik yang tengah terjadi. Sementara itu, dalam kondisi keterpurukan bangsa saat ini, pers Indonesia ditengarai menyikapinya dengan menampilkan kecenderungan pemberitaan mengarah pada isu-isu politik yang hangat, kontroversial, dan penuh sensasi. Peristiwa yang langsung berkaitan dengan realitas masyarkat, seperti kemiskinan, pengangguran, degradasi moral, dan lain-lain, malah luput dari perhatian pers. Gejala ini memperlihatkan pers Indonesia belum sepenuhnya berpihak pada masyrakat. Padahal, fungsi pers paling utama justru melayani publik. Pers Indonesia, di tengah euforia kebebasan pers saat ini, karenanya perlu menengok kembali undang-undang, kode etik, atau pun standar profesional yang menempatkan masyarakat sebagai titik tolak pengabdiannya – baik dari segi jurnalistik, isi media, narasumber, maupun kontrol sosial.
Pengaruh Status Sosial Ekonomi terhadap Pemanfaatan Surat Kabar “Kendari Pos” Iru, La
Mediator Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam usaha pembangunan nasional, surat kabar sangat berperan besar, karena melalui surat kabar hasil-hasil pembangunan dapat disebarluaskan di seluruh pelosok Tanah Air. Oleh karena itu, surat kabar dalam mengemban tugas sebagai kontrol sosial harus dapat menyampaikan pesan pembangunan agar masyarakat memperoleh gambaran yang jelas dan objektif. Penelitian ini dilakukan kepada 102 orang yang terdiri atas 34 orang berpenghasilan tinggi, 34 orang berpenghasilan menengah, dan 34 orang berpenghasilan rendah. Dalam usaha mendapat data dipergunakan komunikasi langsung kepada respoden. Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan analisis Varians dan regresi serta uji t. Setelah dianalisis dengan menggunakan statistik dapat diketahui bahwa status sosial ekonomi, baik secara bersama-sama penghasilan tinggi dan penghasilan menengah serta penghasilan rendah, maupun secara terpisah, mempunyai pengaruh terhadap pemanfaatan surat kabar Kendari Pos di kota Kendari, namun tidak signifikan.
“Cultural Studies” dalam Studi Komunikasi: Suatu Pengantar Astuti, Santi Indra
Mediator Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan baru dalam diskursus ilmu sosial, yang dimotori oleh munculnya pemikiranpemikiran Neomarxis Mazhab Frankfurt dengan Teori Kritisnya, menghadirkan penyegaranpenyegaran dalam menyikapi realitas sosial yang sesungguhnya serba sublim, serba cair. Salah satu penyegaran ini mengemuka dalam cultural studies yang berupaya mendobrak dominasi dan arogansi negara-negara yang mentahbiskan diri berperadaban tinggi di tengah budaya dan peradaban lain. Bertitik tolak dari semangat egaliterian yang tinggi, cultural studies juga menghadirkan perspektif baru terhadap fenomena komunikasi. Melalui pelbagai metodologinya, cultural studies berupaya mengkaji komunikasi dari subjektivitasnya, yang nyata-nyata tampak cair, berkat dialektika di antara setiap pelaku komunikasi, yang tidak lagi dibatasi dalam kerangka subjek-objek. Lewat cultural studies pula, bisa diungkap bagaimana produksi tanda yang mewujud dalam setiap bentuk komunikasi sesungguhnya merupakan hasil kerja entitas tertentu yang berusaha menghegemoni dunia id —ideologi—disadari atau tidak.

Page 9 of 30 | Total Record : 294