Claim Missing Document
Check
Articles

Mengapa Wacana Teks Jurnalistik Itu Unik: Sebuah Esai Santana, Septiawan
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi media massa membawa kompleksitas hubungan komunikasi manusia. Setiap manusia menjadi memakai wacana pesan yang berbeda dari sifat personal dan kelompok. Ruang sosial peristiwa-berita berkembang selaras dengan kebutuhan masyarakat dalam membuat pola interaksi sosialnya melalui media massa. Media massa, dalam perkembangannya, kemudian menginstitusikan wacana teks yang unik. Karakterisik pesan jurnalistik, sebagai bagian dari komunikasi massa, menjadi memiliki keunikan dalam sampaian dan muatannya.
Perjalanan Depth Reporting Kurnia, Septiawan Santana
Mediator Vol 2, No 2 (2001)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Depth reporting merupakan kegiatan yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu, seiring dengan perubahan nilai-nilai dan kebutuhan masyarakat. Konsep-konsep tradisional pada pelaporan, pemilihan sumber, kepekaan jurnalisme, peliputan, dan kinerja wartawan bergeser pada interes khalayak media dan tuntutan profesional. ‘Depth reporting’ sendiri merupakan karya jurnalistik yang memerlukan kesenian, kemampuan, dan perencanaan yang matang dari penulisnya.
Jurnalisme Investigasi Kurnia, Septiawan Santana
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kisah-kisah jurnalisme investigatif punya ukuran dan keluaran yang tak mudah digenera/isasikan. Ada yang mengukurnya dari pemuatan kisah "seorang korban" (victim), ada pula yang mengaitkannya dengan kelemahan sebuah sistem. Kesemua bahan liputan direkontekstua/isasikan ke dalam klasijikasi dan struktur pengisahan, berdasarkantema dan tipe-tipe spesijikasi kisah. Dari keseluruhan kerja liputan jurnalisme investigatif, pada umumnya ditentukan unsur-unsur yang dapat dikenali, yang menjadi karakteristik wacana reportase investigatif antara lain: subjek investigasi, hipotesis riset, sumber sekunder, pikiran dokumentati, narasumber, teknik riset, berpikir wisdom.
Melihat Bisnis Bias Kapital Media: Asumsi Aksiologi dan Ontologis Sederhana Kurnia, Septiawan Santana
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kisah-kisah jurnalisme investigatifpunya ukuran dan keluaran yang tak mudahdigenera/isasikan. Ada yang mengukurnya dari pemuatan kisah "seorang korban" (victim), ada pula yang mengaitkannya dengan kelemahan sebuah sistem. Kesemua bahan liputan direkontekstualisasikan ke dalam klasifikasi dan struktur pengisahan, berdasarkan tema dan tipe-tipe spesijikasi kisah. Dari keseluruhan kerja  liputan jurnalisme investigatif pada umumnya ditentukan unsur-unsur yang dapat dikenali, yang menjadi karakteristik wacana reportase investigatif, antara lain: subjek investigasi, hipotesis riset, sumber sekunder, pikiran dokumentati, narasumber, teknik riset, berpikir wisdom.
Kemungkinan Bahasa Sastra Diadopsi Jurnalisme Santana, Septiawan
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya penyampaian pesan jurnalistik cetak, yang ber-feed back tidak langsung, diatasi dengan lebih mengaransir aspek “human interest” dalam susunan pelaporan. Efek medium “cetak”, yang tidak audio visual, dieliminir jurnalisme. Tiap peristiwa yang diletakkan tiap ujud fakta, dikemas lagi ke dalam pengisahan teknik “fiksi” sastra untuk menghampiri “bayangan” pembaca akan news value (nilai berita) yang punya daya greget. Pembaca diharapkan akan asyik membayangkan rincian kisah fakta-berita yang tengah aktual terjadi, serta akan diberi ulasan yang lebih mendalam dalam perspektif yang lebih meluas. Kekuatan tulisan sastra, misalnya, menjadi alat menjiplak jurnalis: mengembangkan sebuah pelaporan yang lebih menggigit “dramatisasi”, dan pelebaran isi pesan (pemaknaan) dienkoding masyarakat. Pencairan fakta dan fiksi, misal yang lain, juga membangun kepercayaan bahwa kenyataan “semiotis” pun memiliki daya guna bagi pelaporan fakta-berita. Kenyataan sosial dan realitas empirik ternyata bisa didekati dengan sebuah upaya membangun penyampaian pesan lewat semiotika pencitraan.
“Self” Profesor Komunikasi di Kumpulan Cerpen Islami Santana, Septiawan
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judul: Senja di San Fransisco: Parade Cerpen Islami; Pengarang: Deddy Mulyana; Penerbit: PT Rosdakarya, Bandung; Tahun terbit: 2004; Tebal: x + 245 halaman.
Menulis Ilmiah Kualitatif: Sekadar Pengantar Santana, Septiawan
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia ilmiah, selama ini, banyak dikenali sebagai dunia serius. Dunia objektif. Penalaran. Kaku. Tidak boleh dibuat main-main. Ini dimunculkan, antara lain, dalam penulisan ilmiah, yang bersifat kuantitatif. Semua itu tidaklah salah. Bukan sesuatu yang buruk, sebab sudah memiliki logikanya sendiri. Namun terlepas dari berbagai pandangan orang tentang penulisan ilmiah kuantitatif, banyak orang kemudian merasa enjoy membaca laporan riset kualitatif. Sebuah laporan kualitatif, lazimnya, dipenuhi dengan pelbagai deskripsi, detail penuh warna, dan sifat-sifat yang cenderung tidak formal. Berdasarkan karakteristik itulah, di antaranya, tulisan kualitatif memiliki daya enterprise. Bila dirunut, jejak sejarahnya bertaut dengan kisah sastra (literary) memasuki dunia akademik.
Wacana “Investigative Reporting” Santana, Septiawan
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Investigative reporting, as the result of recent journalism development, becomes a new benchmark in journalism practice. To learn more about investigative journalism, one can learn from Ida Tarbell, a legend of investigative journalism, and his works. Tarbell began his journalism practice by doing preliminary research over hundreds of documents. This phase was called paper trail. Tarbell used combination of data gathering methods to gaining in depth and perspective on his issue. In order to enliven his story, Tarbell utilized narrative technique to tell his story. In recent times, Tarbell reportage become a model of basic investigative journalism. As pointed out in this article, data was dig through a series of phases: (1) surface facts; (2) repertorial enterprise; dan (3) interpretation and analysis. Based on this basic procedures, Paul N. Williams described 11 steps of investigative reporting, started from conception to publication and follow-up stories. The key of success in writing investigative reporting is probing and digging, attentively, intensively.
Model of Disaster Information Cycle of West Java Television Journalists Septiawan Santana Kurnia; Dadi Ahmadi; Satya Indra Karsa; Doddy Iskandar; Firmansyah Firmansyah
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 5, No 2 (2020): December 2020 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v5i2.415

Abstract

Disaster information is an important factor in disaster management efforts, including in West Java. It helps officers and the community to immediately anticipate disasters that may occur. Journalists are among those who play a role in disseminating disaster information. This study aims to describe disaster information cycle model of West Java television journalists in obtaining and disseminating disaster information with the help of technology to increase the speed. This research applies a qualitative method, namely a case study to describe a usage model of disaster information seeking which is uniquely influenced by the developments in information technology. Data collection is carried out through observation, interviews, and documentation. This study finds that smartphone technology contributes to the dissemination of disaster information by television journalists through providing access to social media, online media, and information in group chats. There is an interrelated flow of information between journalists, television editors, local governments, officials and the community. Participation of public and journalists in obtaining and disseminating disaster information helps the government and officers to find out the real conditions of disaster locations and how to handle them.
Jurnalisme Investigasi Septiawan Santana Kurnia
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 3, No 1 (2002): Atas Dasar Apa: Mediator Kali ini
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v3i1.744

Abstract

Kisah-kisah jurnalisme investigatif punya ukuran dan keluaran yang tak mudah digeneralisasikan. Ada yang mengukurnya dari pemuatan kisah "seorang korban" (victim), ada pula yang mengaitkannya dengan kelemahan sebuah sistem. Kesemua bahan liputan direkontekstualisasikan ke dalam klasifikasi dan struktur pengisahan, berdasarkan tema dan tipe-tipe spesifikasi kisah. Dari keseluruhan kerja liputan jurnalisme investigatif, pada umumnya ditentukan unsur-unsur yang dapat dikenali, yang menjadi karakteristik wacana reportase investigatif, antara lain: subjek investigasi, hipotesis riset, sumber sekunder, pikiran dokumentatif, narasumber, teknik riset, berpikir wisdom.