cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mediator
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 294 Documents
Informasi dan Organisasi: Perspektif Sistem Informasi Manajemen zulfebriges, zulfebriges
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Munculnyafenomena abad informasi menghadapkan manusia pada kebutuhan mengelola informasi sebaik mungkin. Informasi memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, termasuk kehidupan kelompok danlatau organisasi masyarakat. Tufisan ini menghadirkan pendekatan untuk merancang sistem informasi terapan yang handal. seiring kian kompleksnya organisasi di abad informasi. Rancangan sistem informasi manajemen diawali dengan managing data dalam sistem pemrosesan informasi. dilanjutkan dengan managing database. Namun, tanpa kehadiran administrator handal, yang mengelola administrasi data dan administrasi database, akan sufit memaksimalkan beragam informasi yang diperoleh.
Pengaruh Sinetron terhadap Sikap Ibu-Ibu Mengenai Peran Ganda Wanita Rinawati, Rini
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was intended to describe the effect ofsinetron "Karmila" exposure on the viewer sabout woman double role. The research was conducted in Bandung, used survey method. and the sample was J20 housewives in Bandung. The result showed that: (1) the content ofmesesage in "Karmila" influenced directly on the viewer attitude about woman doubel role; (2) the presentation ofmesesage in "Karmila" influenced directly on the viewer s attitude about woman doubel role; (3) the content ofmesesage and the presentation of mesesage in "Karmila" influenced directly on the viewer sattitude about woman doubel role.
Pengaruh Jingle Iklan Teh Botol Sosro di RCTI terhadap Pengingatan Merek Barang pada Pemirsa Remaja Pelajar SMUN Bandung Nurrahmawati, Nurrahmawati
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was intended to know the amount ofverbaI and nonverbal message s influence in thejingle ads, both partially and simultaneously, on the teenager s attention and retention toward product brand. As a kind ofcausality research. which was conducted with survey method, this research was located in Bandung Town District, with some High Senior School students as its respondents. The sampling techniques usedfor this research was random sampling techniques and Path Analysis as its toolfor data analysis. In general, this research concluded that messagefactor hadsome influences on the teenagers attention toward the Teh Botol Sosro s ad. On the other hand, the attention influenced brand retention as well. Therefore, in general, commercialjingle variables which are carried through intermediary variable (which is, attention), gave a relatively significant influence toward the teen s brand retention. Meanwhile, verbal messagefactor provided less meaningful influence. Based on the research result, it was concluded that the verbal and nonverbal message factors in the commercia/jingle simultaneously aroused teenager s retention toward the ads. That attention could arousing teenager retention then toward the product brand as well. Nonverbal message implied on the commercialjingle partially aroused the teen s attention toward the ad, meanwhile the verbal message on the same commercial didn ~ arouse the same attention toward the Teh Botol Sosro sad. More originality, variations and uniqueness are needed in arranging a copywritingfor such and in order to attract more attentionfrom teenager audience.
Peranan Perkembangan Film Indie terhadap Bangkitnya Film Nasional Baksin, Askurifai
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BeBeberapajilm indie mulai bicara di ajang festivaljilm internasional. Ada pula yang memang sukses besar di bioskop. Misalnya, Kuldesak. Fenomena ini seolah memberi darah segar bagi perjilman nasional. Meski awalnya berangkat darijalur indie, bolehjadi para sineas tadi bisa beralih jalur ke mayor label. Yangjelas, terapi yang mereka lakukan telah memberi nafas baru bagi bangkitnya perjilman nasional.
Pengaruh Berita di Surat Kabar terhadap Persepsi Mahasiswa tentang Politik Yuniati, Yenni
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dengan menggunakan Agenda Setting ini dipusatkan pada pengaruh pemberitaan dalam kampanye politik terhadap persepsi mahasiswa. Dua subjekyang menjadi fokus penelitian ini adalah (1) kajian mengenaipengaruh pemberitaan dalam kampanye politik dan (2) persepsi mahasiswa terhadap pemberitaan media massa dalam kampanye politik. Hasil penelitian, antara lain, menunjukkan, penyajian berita organisasi peserta pemilu (OPP) berpengaruh terhadap pembentukan persepsi mahasiswa tentang partai politik. Ini mengandung arti, semakin banyakpemakaian kolom oleh OPp, semakin positif terbentuknya persepsi mahasiswa terhadap partai politik.
Demokrasi, Otonomi Daerah, dan Sistem Perlambangan Tanudikusumah, Djajusman
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakralan hingga kini belum banyak berubah. Sisa-sisa masa lalu terus saja berlanjut tanpa mencoba menyelami makna tersebut. Peristiwa turun denganja/an mundur meniti tangga setelah menerima bendera pada setiap upacara 17 Agustus, memberi kesan khusus, seolah-olah tokoh sakral tidak boleh dibelakangi (dipantati). Kenyataannya, setelah penerima bendera itu sampai meniti tanah, ia lalu berbalik menghadap ke tiang bendera. tadi, membelakangi juga akhirnya.
Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Barat, penggunaan metode penelitian kualitatif berkembang mulai tahun 70-an. Di negara kita, metode tersebut datang terlambat. Di Indonesia, buku-buku yang mengupas peneltian kualitatif, meski terus bertambah, hingga kini masih relatif jarang bila dibandingkan dengan buku-buku tentang penelitian kuantitatif. Terlebih lagi, secara khusus, dalam ilmu komunikasi. Yang ada pun masih dinilai sebagian kalangan sulit dipahami. Ketika Barat sudah ‘muak’ mempermasalahkan kedua pendekatan itu, hingga kini kita masih memperdebatkannya. (Mulyana, 2001:ix). Bahkan, bukan sekadar perdebatan, tetapi kadang seperti pertikaian dan debat kusir, satu sama lain saling berebut kebenaran. Dominasi penelitian kuantitatif di Indonesia memang dirasakan sangat kuat, bahkan amat mencengkram. Ketika metode kualitatif mulai hadir, sebagian akademisi kita – dosen, mahasiswa, penelitimerasa asing mengenalinya. Sebagian besar dari kita kurang menyadari bahwa metodologi yang sering kita pelajari di kampus, hanyalah salah satu jendela untuk memahami realitas, dan sayangnya, seakanakan hanya itulah satu-satunya metodologi yang andal yang masuk ke dalam peta kognitif kita. Sehingga, dalam memahami realitas melalui sebuah riset, kita hanya melihat dari satu world of view tertentu. Yang terjadi kemudian adalah para penganut taat metodologi kuantitatif menganggap metodologinyalah yang paling sahih, sambil menyepelekan metodologi kualitatif sebagai hal yang tidak ilmiah; sementara para peganut metodologi kualitatif menyerang habis-habisan metode kuantitatif sebagai metode yang usang, lapuk, dan menjemukan, seraya menyatakan metodenyalah yang akan lebih memberi pencerahan dalam memahami realitas. Jadi, muncul semacam fanatisme. Boleh jadi pertikaian demikian didorong oleh semangat pencarian kebenaran ilmiah yang sangat kuat dengan bekal pemahaman akar filosofis yang dalam, tapi boleh jadi juga hal itu timbul karena pemahaman orang masih sebatas kulit luarnya, ia silau dengan kelebihan dari metodologi yang dianutnya, seraya menonjolkan segudang kelemahan pada metodolog lain yang tidak dianutnya. Dalam situasi seperti itu, tidak mengherankan jika seorang penganut metodologi kuantitatif mengganyang hasil penelititan kualititatif dengan mempertanyakan ada tidaknya hipotesis atau operasionalisasi variabel. Sebaliknya, penganut metodologi kualitatif mengobrak-abrik hasil penelitian kuantitatif dengan mempertanyakan apakah sikap itu dapat diukur dengan angka, mengapa sangat setuju dari jawaban responden diberi skor 5, sedangkan setuju diberi skor 4, dst.? Sebetulnya, apakah penelititan kuantitatif dan kualitatif itu? Sesungguhnya, menurut Dedi N. Hidayat, yang menurunkan tulisan bertajuk “Metodologi Penelitian dalam Sebuah Multi-Paradigm Science”, isu pokok yang sebenarnya bukanlah pembedaan antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif, tetapi perbedaan epistemologi, ontologi, dan aksiologi antarparadigma yang ada. Paradigma, untuk pemahaman praktis, sering disamakan dengan pedekatan atau perspektif, atau teori, yakni sebagai cara pandang (world of view), semacam jendela dari mana kita melihat suatu realitas. Ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu komunikasi, sebenarnya merupakan suatu multi-paradigm science, di mana berbagai paradigma bisa tampil bersama sama dalam suatu era. Para ahli ilmu sosial sangat bervariasi dalam mengelompokkan paradigma: Kinloch (1977) menyebut enam paradigma (perspektif teoretikal), yakni, paradigma organik, paradigma konflik, behaviorisme sosial, fungsionalisme struktur, teori konflik modern, dan paradigm sosial-psikologis; Michael Crotty (1994) mengelompokkan teori-teori sosial ke dalam positivism, interpretivism, critical inquiry, feminism, dan postmodernism; Burrel dan Morgan (1979) mengelompokkan pendekatan pada ilmu-ilmu sosial ke dalam: radical humanist paradigm, radical structuralist paradigm, interpretive paradigm, dan functionalist paradigm. Guba dan Lincoln (1994) mengajukan tipologi yang mencakup empat paradigma: positivism, postpositivism, critical theories et al., dan constructivism, masing-masing dengan implikasi metodologi tersendiri. Paradigma dalam ilmu-ilmu sosial tampak begitu bervariasi. Namun, menurut Hidayat, untuk kepentingan mempermudah bahasan tentang implikasi metodologi dari suatu paradigma, maka teor-iteori dan penelitian ilmiah komunikasi cukup dikelompokkan ke dalam tiga paradigma, yakni: classical paradigm (yang mencakup positivism dan postpositivism), critical paradigm, dan constructivism paradigm. Antarparadigma itu dapat dibedakan atas dasar sejumlah hal mendasar, seperti asumsiasumsi tentang masyarakat, manusia, realitas sosial, keberpihakan moral, dan juga commitment terhadap nilai-nilai tertentu. Secara singkat, dari segi ontologi, paradigma klasik memandang bahwa realitas itu sebagai sesuatu yang objektif, terpisah dari si pengamat, sehingga berlaku umum; paradigma konsrtuktivisme melihat bahwa realitas itu sebagai hasil konstruksi si pengamat (masyarakat pelaku sosial), yang sama sekali tak dapat dipisahkan dari si pengamat, sehingga realitas itu bersifat kontekstual; paradigma kritis berasumsi bahwa realilitas merupakan hasil proses sejarah melalui kekuatan-kekuatan sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam komunitas masyarakat yang bersangkutan. Masing-masing paradigma ini memiliki pilihan metodenya sendiri-sendiri dengan kriteria kualitas penilaian yang berbeda pula, bahkan di antaranya ada yang saling bertolak belakang. Karena perbedaan-perbedaan tersebut, kata Hidayat, tidak selayaknya kita mempergunakan kriteria yang berlaku dalam paradigma klasik untuk menilai kualitas sebuah penelitian yang berpijak atas paradigma lain, demikian pula sebaliknya. Di manakah posisi (metodologi, metode) penelitian kuantitatif dan kualitatif di antara paradigmaparadigma itu? Ada dua pandangan: pertama, konsep ‘kuantitatif’ dan ‘kualitatif’ itu sekadar sebuah ‘jenis’ atau ‘metode’ penelitian; kedua, konsep ‘kuantitatif’ dan ‘kualitatif’ itu sudah menunjukkan paradigma itu sendiri. Dalam pengertian pertama, penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digunakan dalam berbagai paradigma. Sebagai metode, perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif dapat dilihat, antara lain, dalam hal data yang digunakan, perbedaan tahap penelitian (tahap eksploratif, deskriptif, dan eksplanatif), atau teknik analisis data. Dalam penelitian kuantitiatif, data utama yang digunakan tentu saja data yang bersifat kuantitatif atau data kualitatif yang dikuantifikasikan; data diolah melalui uji-statistik, baik statistik deskriptif maupun statistik inferensial; penelitian mendeskripsikan variabel per variabel yang diteliti, atau menguji hubungan antarvariabel. Dalam penelitian kualitatif, tidak dikenal kuantifikasi data dan uji statistik. Kekuatan penalaran peneliti dengan keluasan bantuan referensi dan sumber data, di sini, sangat diutamakan dalam mengolah data. Penelitian dalam paradigma klasik tidak semuanya merupakan penelitian kuantitatif, seperti yang sering diasumsikan orang. Kata Hidayat, banyak peneliti klasik yang juga menerapkan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif bukanlah monopoli paradigma konstruktivis atau pun kritis. Suatu penelitian kualitatif bisa juga didasarkan atas paradigma post positivism, mempergunakan struktur logika yang sama dengan penelitian-penelitian positivistik pada umumnya Namun demikian, harus diakui bahwa paradigma klasik (misalnya, positivisme), atas dasar asumsiasumsi epistemologis dan ontologis yang dipergunakannya, berorientasi pada suatu metodologi dengan Memilih Pendekatan dalam Penelitian: Kuantitatif atau Kualitatif? goodness criteria (kriteria kualitas) yang lebih memungkinkan dicapai melalui aplikasi metode-metode kuantitatif. Sebaliknya, paradigma konstruktivisme lebih memungkinkan dicapai melalui metode kualitatif. Dalam hal ini, metode kuantitatif dan metode kualitatif hanyalah implikasi dari paradigma yang mendasarinya. Penelitian kuantitatif dan kualitatif sebagai suatu metode, oleh karenanya, dapat dikombinasikan selama berangkat dari paradigma yang sama, baik secara simultan maupun dalam waktu yang terpisah. Hidayat mencontohkan, penelitian mengenai pengaruh televisi terhadap anak bisa diawali oleh sebuah penelitian kualitatif, mempergunakan metode studi kasus, yang bertujuan untuk melakukan eksplorasi terhadap variabel-variabel yang perlu diteliti dalam skala penelitian lebih luas secara kuantitatif, dengan menggunakan metode survey. Atau, sebaliknya, dimulai dari penelitian kuantitatif. Dengan demikian, penggunaan metode kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan dapat saling mengisi, melengkapi, dan mempertajam serta memperdalam pemahaman atas hasil penelitian. Tetapi, jika titik awalnya berangkat dari paradigma yang berbeda, keduanya tak dapat dipersatukan. Dalam pengertian yang kedua, perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam kasus tertentu bisa pula merupakan perbedaan yang paradigmatik yang amat mendasar. Keduanya menyangkut perbedaan dalam elemen-elemen epistemologi, ontologi, dan metodologi. Dalam hal ini, secara sederhana, sering digambarkan bahwa penelitian kuantitatif identik dengan paradigma positivisme, sedangkan penelitian kualitatif identik dengan paradigma konstruktivisme. Atau, dalam garis kontinum, penelitian kuantitatif disamakan dengan pendekatan objektivis yang berada di satu ujung; sedangkan penelitian kualitatif disamakan dengan pendekatan subjektivis yang berada di ujung lainnya. Untuk memahami perbedaan penelitian kuantitaitf dan kualitatitf, kita ambil contoh sederhana, penelitian tentang religiusitas. Dengan pendekatan kuantitatif, si peneliti berangkat dengan alat ukur yang sudah ‘baku’. Dengan alat ukur religiusitas, yang berupa angket, peneliti memotret religiusitas responden yang ditelitinya. Hasil penelitiannya dapat digeneralisasikan untuk populasi, sebagai the truth (kebenaran yang berlaku umum). Bila berangkatnya dari pendekatan kualitatif, si peneliti tidak membawa alat ukur yang dirumuskannya sedari awal, baik hasil penalarannya sendiri maupun atas teori tertentu, tetapi ia akan mengobservasi dan mewawancarai responden terlebih dahulu, apa saja menurut mereka kriteria religiusitas itu. Berdasarkan kriteria menurut responden itulah kemudian si peneliti “mengukur” religiusitas mereka. Peneliti tidak dapat menggeneralisasikan hasil peneltian ini, karena hanya berlaku untuk konteks situasi di mana ia meneliti; ia hanya mencari a truth (sebuah kebenaran spesifik). Harap dicatat, contoh ini sangat disederhanakan. Dalam jurnal edisi ini, diakui memang, hasil penelitian yang ditampilkan masih didominasi oleh metode dan penedekatan kuantitatif. Hal ini dapat dilihat pada tulisan-tulisan Neni Yulianita, Dadan Mulyana, dan Anne Maryani. Sementara itu, yang menggunakan metode kualitatif dapat disimak pada tulisan Atie Rachmiatie. *** Di tengah paradigma ilmu sosial (komunikasi) yang begitu bervariasi, ketika dominasi paradigma klasik masih sangat kuat dalam dunia keilmuan di Tanah Air, penelitian manakah yang akan kita pilih: kuantitatifkah, kualitatifkah? Tentu banyak hal yang perlu kita pertimbangkan: masalah yang akan kita teliti, tujuan penelitian, penguasaan kita atas paradigma ilmu beserta metodologi penelitiannya, permintaan ’pemberi proyek’, kesediaan pembimbing, dsb. Idealnya, kita memahami seluruh paradigma itu. Kata Hidayat, untuk bisa memahami metodologi dari perspektif lain, dan juga untuk mampu bersikap kritis terhadap metodologi klasik, maka pertamatama metodologi klasik itu sendiri harus benar-benar dikuasai atau dimengerti. Peneliti kualitatif dalam kelompok kritis dan konstruktivis yang berkualitas umumnya adalah peneliti yang benar-benar menguasai metode-metode kuantitatif dalam tradisi klasik. Pemahaman yang komprehensif mengenai berbagai paradigma ilmu dapat membuat kita lebih toleran dalam menghadapi keanekaragaman pendekatan, serta dapat menunjukkan titik-titik keunggulan dan kelemahannya secara jernih. Kita dapat menyadari bahwa realitas itu tidak akan dapat ditangkap secara utuh hanya dari satu jendela paradigma ilmu. Bila kita sudah terbiasa dengan cara pandang positivistik, misalnya, perlu membuka diri akan adanya paradigma kritis dan lainnya di luar yang kita anut. Begitu pula sebaliknya, ketika kita menjadi penganut paradigma konstruktivisme, perlu pula membuka ruang diskusi untuk paradigma lainnya. Ilmu akan berkembang dan kaya apabila berbagai gagasan diberi ruang untuk didiskusikan. Sebagai dosen atau pembimbng, misalnya, kalau kita menolak pendekatan penelitian yang disodorkan mahasiswa, seharusnya bukanlah karena arogansi keilmuan, tetapi karena pertimbangan profesionalitas, katakanlah karena kita tidak menguasainya atau pendekatan itu bukan bidang minat kita. Sebagai contoh adalah pengalaman Deddy Mulyana, penulis buku Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, di Monash University, Australia. Seorang dosennya, yang fenomenolog, menolak jadi pembimbing untuk penelitiannya yang menggunakan metode kuantitatif. Sang dosen itu menawarkan pilihan, mencari dosen pembimbing lain yang menguasai metode kuantitatif atau menggunakan pendektatan fenomenologis yang dianut dosen itu. Tentu, sikap dosen tersebut didasarkan pada pertimbangan profesional. Di sebuan PTN di kawasan Jawa bagian tengah, pernah ada mahasiswa S2 yang proposal penelitiannya ditolak mentah-mentah karena menggunakan metode kualitatif. Akhirnya, ia dapat ‘penghiburan’ dari kawannya: “Sebaiknya mengembiklah di kandang kambing jika studi kita ingin lancar!” Apakah penolakannya didasarkan pada profesionalisme? Entahlah .... Kini, keterbukaan terhadap paradigma selain pardigma klasik, di beberapa perguruan tinggi, sudah mulai maju. Minat dan perhatian orang pada penelitian kualitatif, baik sebagai metode maupun sebagai paradigma, semakin meningkat. Bahkan, di sebuah PTN, Jawa Barat, konon proposal penelitian mahasiswa ilmu sosial pada Program Pascasarjananya mulai diarahkan ke dalam penelitian kualitatif. Mahasiswa yang sudah berjalan melakukan penelitian dengan metode kuantitatif pun, di antaranya, ada yang diminta menggantinya dengan metode kualitatif. Namun, cara seperti ini, apakah nantinya tidak terjadi penyeragaman paradigma? Dengan adanya penyeragaman paradigm, bukankah itu malah membunuh kekayaan perkembangan ilmu pengetahuan? *** Tetapi, ada arus lain! Jika di beberapa kalangan yang menggeluti ilmu sosial sudah mulai mengalihkan perhatiannya dari penelitian kuantitatif (pada tradisi klasik) ke penelitian kualitatif (pada pendekatan kritis atau konstuktivis), Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya - Lembaga Penelitan Universitas Indonesia malah sebaliknya. Pada tanggal 13-18 Mei 2002, lembaga tersebut, bekerjasama dengan Pusdiklat BPS Jakarta, menyelenggarakan pelatihan “Metode Penelitian Kuantitatif untuk Ilmu Sosial-Budaya” yang dibuka untuk umum. Alasan penyelenggaraan pelatihan tersebut tampak pada tulisan di brosurnya: “Penelitian dalam ilmu sosial dan budaya selama ini lebih banyak menggunakan metode penelitian kualitatif, sedangkan metode penelitian kuantitatif jarang dan bahkan tidak pernah digunakan. Sementara itu, dalam perkembangan ilmu sosial dan budaya dewasa ini peneliti dituntut tidak saja menguasai metode penelitian kualitatif, tetapi juga diharapkan menguasai Memilih Pendekatan dalam metode kuantitatif. Penguasaan kedua metode itu tidak hanya berguna untuk memperluas wawasan tetapi sekaligus menambah keampuhan analisis dan menafsirkan data. Kenyataan yang banyak dihadapi oleh peneliti ilmu sosial dan budaya adalah kurangnya bekal pengetahuan yang cukup untuk menerapkan metode kuantitatif, sehingga sering menimbulkan persoalan bila dalam penelitiannya dituntut untuk menggunakan analisis statistik atau paling tidak anggapan bahwa penelitian kuantitatif lebih “ilmiah”, karena ciri ilmu pengetahuan harus memiliki objektivitas. Untuk objektif, maka setiap gejala yang diteliti harus dapat dan mampu diukiur dan dikuantifikasi.” Dua macam arah arus peralihan perhatian paradigma penelitian sebagaimana dikemukakan di atas, sebaiknya kita pandang sebagai bagian dari dinamika perkembangan dan pengayaan khasanah ilmu pengetahuan, bukan untuk arena debat kusir – saling menyalahkan. Penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif, sekali lagi mengutip pendapat Dedy N. Hidayat, bukanlah isu pokok. Yang paling penting adalah pemahaman peneliti atas paradigma yang melatari penelitian itu beserta perangkat metode dan goodness criteria-nya. Redaksi O. Hasbiansyah
Metodologi Penelitian dalam Sebuah "Multi-Paradigm Science" Hidayat, Dedy
Mediator Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidakjelasan paradigma serta posisi metodologi dapat mempersulit peneliti sewaktu melakukan penelitian. Selain akan menyulitkan peneliti dalam menetapkan "goodness" atau "quality criteria" dalam melakukan penelitian. juga akan menyebabkan hasil riset menjadi amat terbuka terhadap kritik dari berbagai perspektif yang berbeda. Dalam Ilmu-Ilmu sosial. termasuk ilmu komunikasi. terdapat beragam paradigma atau perspekstif sebagai fondasi filosofiS yang dapat digunakan dalam penelitian. dan masing-masing memiliki quality criteria berbeda. Di antara paradigma itu adalah paradigma klasik, kritis, dan konstruktivis. Dalam hal ini, isu pokok yang sebenarnya bukanlah pembedaan antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif tetapi perbedaa epistemologi, ontologi. dan aksiologi antarparadigma yang ada. Seorang periset komunikasi bebas memilih akan "melandaskan kajiannya dari perspektifmana pun. Namun, dari beragam hal yang menentukan kualitas penelitian-seperti kerangka pemikiran dan signifikansi penelitian-pemahaman penelitian mengenai paradigma penelitian yang diplihnya. tampaknya. merupakan yang terpenting
Pengaruh Kepemimpinan Manajer Public Relations terhadap Kualitas Manajemen Public Relations dan Korelasinya dengan Efektivitas Sistem Komunikasi Perusahaan Yulianita, Neni
Mediator Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The focus of this research was to study the personal skills and leadership functions of the public relations manager which is assumed will bear its influence on the quality of public relations management in order to enhance the effectiveness of the communication system of his organization. The approach used in this research was systems approach in the social-science context which is interlaced with interdicipliner approach from the psychology, communication, sociology,and management perspective. As for the method used was ""the Explanatory Survey Method"".  The research object was conducted in 19 BUMN in DKI Jakarta and West Java. Tocollect the data, the researcher used questionnaires, in depth interview, observation, and library study. The questionnaires were distributed to 85 respondents among Public Relations Officers (PRO) and 96 respondents among corporate managers. To fullflll the research data, the researcher took in depth interview to 19 public relations manager from selected BUMN. The conclusion from the result of hypothesis using Path AnalySis-Statistical Test and ProductMoment Correlation Coefficient r ofident that either the main hypothesis or subhypotheses proposed were accepted. The leadership (Viewed from the aspect of personal skills and leadership function) of Public Relations Manager among BUMN significantly influenced the quality of Public Relations Management and the quality of PR Manajement had significantly correlation with the effectiveness of a corporate communication system.
Menjelajah Ranah Keterampilan Hidup Hamijoyo, Santoso S.
Mediator Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterampilan hidup (life-skill) bukan gagasan baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Selain pernah di gagas UNESCO pada tahun 1949 lewat program keaksaraannya (Functional Literacy), pemerintah Indonesia pun sudah pernah mencanangkannya sebagai salah satu kebijakan Program B dalam buatan Kurikulum 1984. Sayangnya, ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan pelaksanaan program menjadikan tujuan membekali siswa didik dengan life skill tidak terCapai. Tuntutan pembekalan life skill muncul dari perubahan ciri masyarakat secara global, dari Masyarakat Pertanian ke pola Masyarakat Industri hingga menjadi Masyarakat Informasi, yang mengimbas pula pada struktur masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Melalui pembekalan life skill, siswa didik diharapkan mampu secara jeli mengobservasi peristiwa dan masalah di sekelilingnya, kemudian mahir merekonstruksi dan mengonsolidasikannya. Setelah lulus, siswa diharapkan memiliki modal intelektual, emosional, dan keterampilan manual yang mantap untuk berkiprah dalam kancah perjuangan karier dan kehidupan selanjutnya. Untukitu,dibutuhkan perancang-perancang pengajaran yang betul-betul mahir merancang pola pengajaran terprogram secara terpribadi (ipdividualized). Konsep keterampilan sendiri secara sempit dimaknai sebagai kerja manual dan hastawi. Dalam arti luasnya, keterampilan mengandung makna solusi dan realitas . Makna-makna itu menjadi kunci yang diperlukan siapa pun untuk mengatasi tantangan di setiap pola kehidupan masyarakat, baik itu Masyarakat Pertanian, Masyarakat Industri, maupun Masyarakat Informasi.

Page 7 of 30 | Total Record : 294