cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Respons Pembentukan Kalus Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb.) dengan Penambahan Naphtalene Acetic Acid dan Benzyl Amino Purin Secara In Vitro Nurhayati Anwar; Mayta Novaliza Isda
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 5, No 3 (2020): October 2020
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v5i3.3232

Abstract

Gotu kola (Centella asiatica (L.) Urb.) is a medicinal plant that contains chemical compounds as triterpenoids and saponins.  The chemical compounds can be produced quickly using in vitro callus induction.  The callus is a very important source of planting material in regenerating new plants.  Therefore, by inducing callus the need for seedling in large quantities achievable in a short time.  This study aimed to determine the effect of the BAP single and combination of BAP and NAA, and determine the effective concentration of a BAP single and combination of BAP and NAA on callus induction of gotu kola leaf explant using in vitro method.  This study used Complete Randomized Design (CRD) which consisted of nine treatments (control, 1 mg/l BAP, 2 mg/l BAP, 1 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA, 1 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA, 1 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA) with five replication for each treatment. Data obtained from observation were analyzed descriptively.  The results of this research showed that a single BAP and combine of BAP and NAA were able provide a response in the form of colour, swelling and callus formation.  The best concentration that from the most optimal callus and the highest callus growth (+++) is the treatment of P5 ( 1 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA) which is equal to 100% with the caracteristics of green callus and callus covering the entire surface of explants.  All the callus produced was textured compact, while the colour of the callus was green and brown. Keywords: Gotu Kola (Centella asiatica (L.) Urb.), Callus, BAP, NAA   Abstrak Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb.) merupakan tanaman berkhasiat obat yang mengandung berbagai bahan aktif seperti triterpenoid dan saponin.  Bahan aktif tersebut dapat diproduksi dengan cepat menggunakan teknik induksi kalus secara in vitro.  Kalus merupakan sumber bahan tanam yang sangat penting dalam meregenerasi tanaman baru.  Oleh karena itu, dengan menginduksi kalus kebutuhan bibit dalam jumlah banyak dapat dicapai dengan waktu singkat.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan BAP tunggal dan kombinasi BAP dan NAA, dan menentukan konsentrasi terbaik dari penambahan BAP tunggal dan kombinasi BAP dan NAA terhadap pembentukan kalus dari eksplan daun pegagan secara in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 9 (sembilan) perlakuan (kontrol, 1 mg/l BAP, 2 mg/l BAP, 1 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA, 1 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA, 1 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA) dan masing-masing diulang sebanyak 5 (lima) ulangan.  Data hasil pengamatan yang diperoleh dibahas secara deskriptif karena tidak semua ulangan menghasilkan kalus.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan BAP tunggal dan kombinasi penambahan BAP dan NAA mampu memberikan respons pada eksplan daun pegagan berupa perubahan warna, pembengkakan dan terbentuknya kalus.  Konsentrasi terbaik yang mampu membentuk kalus paling optimal dan pertumbuhan kalus paling tinggi (+++) yaitu perlakuan P5 ( 1 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA) yakni sebesar 100% dengan ciri-ciri kalus berwarna hijau dan kalus menutupi seluruh permukaan eksplan.  Semua kalus yang dihasilkan bertekstur kompak, sedangkan warna kalus yang dihasilkan hijau dan coklat. Katakunci: Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb.), Kalus, BAP, NAA
Identifikasi dan Uji Aktivitas Antimikrobia Bakteri Asam Laktat dari Fermentasi Singkong (Gatot) terhadap Bacillus cereus dan Aspergillus flavus Maria Hesty Febriana; Ekawati Purwijantiningsih; Pramana Yuda
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 1 (2021): February 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i1.3312

Abstract

Gatot is a traditional food from fermented cassava. Lactic acid bacteria (LAB) can be found in fermented cassava food, gatot. Lactic acid bacteria can produce an antimicrobial compound for inhibiting pathogen microorganism. The aim of this research were isolation and identification LAB from gatot and antimicrobial activity test against Bacillus cereus and Aspergillus flavus. Three isolates from raw gatot and three isolates from cooked gatot used in this research. Isolation of LAB was conducted using pour plate method, purification is conducted by streak plate method, the antimicrobial test was conducted by agar well diffusion and molecular identification was conducted by PCR colony method using LABFw and R16RDNA-1492bac primer. Lactic acid bacteria from cooked gatot identified as Enterococcus sp. FTBUAJY04, Enterococcus sp. FTBUAJY05, Enterococcus sp. FTBUAJY06, while LAB from raw gatot identified as Lactococcus lactis strain FTBUAJY01, Lactococcus lactis strain FTBUAJY02 dan Lactococcus lactis strain FTBUAJY03. The results obtained from the inhibition zone test showed that all isolates were able to inhibit the growth of B. cereus and A. flavus.  The greatest inhibition zone against B. cereus was shown by LAB Gt5 supernatant or L. lactis supernatant strain FTBUAJY02 of 1.87 ± 0.67 cm2, while the results of the greatest inhibition zone against A. flavus was LAB Gt6 supernatant or L. lactis supernatant strain FTBUAJY03 of 3.83 ± 0.73 cm2.
Coprinellus sect. Disseminati: Source of Gastropod Mycophagy in Bogor-Indonesia Ivan Permana Putra; Juan Alvares Dagtonan Thamrin
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 3 (2021): October 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i3.3316

Abstract

Mycophagy is the process of the organism consuming fungi. Fungal  tissue considered  as  valuable  resource  with  high  nutritional content for organisms which have the metabolic abilities to digest it. To date, there is no previously published record of animal mycophagy in Indonesia. Field observations in IPB University Campus Forest has been done to monitor mycophagy activity by any animals in sampling site. Only 1 of the 4 observasion period showed the evidence of animal mycophagy in sampling site. Mycophagous gastropod found to consume Coprinellus disseminatus fruit body as diet source. Macrofungi fruit body was eaten within two to three minutes. The snail only consume the pileus part of fruit body of Coprinellus disseminatus. It showed to use it’s anterior tentacles to pick the stages of fruit body. The gastropod tend to prefer mature fruitbody, yet the the reasons are still not clear. This is the first report of animal mycophagy evidence in Indonesia.
Kualitas dan Aktivitas Antioksidan Selai Lembaran Kombinasi Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) dan Ekstrak Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Gisela Dian Prasetyani; Franciscus Sinung Pranata; Yuliana Reni Swasti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 7, No 1 (2022): February 2022
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v7i1.3328

Abstract

Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) dan kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L) dikombinasikan untuk diolah menjadi selai lembaran yang memiliki manfaat kesehatan. Manfaat tersebut diperoleh dari kandungan antioksidan dari kedua bahan yang dapat mencegah timbulnya penyakit degeneratif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kombinasi ubi jalar ungu dan ekstrak kelopak bunga rosella terhadap kualitas kimia, fisik, mikrobiologi, dan organoleptik. Berdasarkan hasil uji tersebut akan ditentukan pula selai lembaran dengan kualitas paling baik. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan kombinasi ubi jalar ungu dan ekstrak kelopak bunga rosella yaitu 100:0 (P), 100:20 (Q), 100:40 (R), 100:60 (S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selai lembaran kombinasi ubi jalar ungu dan ekstrak kelopak bunga rosella memberikan pengaruh terhadap kadar air, kadar abu, serat kasar, serat terlarut, total padatan terlarut, total asam tertitrasi, total fenolik, aktivitas antioksidan, tekstur dan angka kapang khamir, tetapi tidak memberikan pengaruh pada warna dan angka lempeng total. Selai lembaran perlakuan 100:60 (S) menghasilkan kualitas paling baik berdasarkan parameter kimia, fisik, mikrobiologi, dan organoleptik. 
Genotipe Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Gen PLA2G10 T512C dan T-123/IN1C pada Penderita Angina Pektoris di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta, Indonesia Dzul Fithria Mumtazah; Erlin Listiyaningsih; Nastiti Wijayanti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 5, No 3 (2020): October 2020
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v5i3.3345

Abstract

Angina pektoris merupakan salah satu gejala awal yang menjadi penanda masalah kardiovaskuler berat seperti penyakit jantung koroner. Sementara gen PLA2G10 dipercaya memiliki peran, baik dalam progresi aterosklerotik yang menyebabkan deposit plak dan penyumbatan pada arteri koroner, atau justru sebaliknya yaitu antiaterogenik. Polimorfisme PLA2G10 pada titik SNP T512C (rs36072688) dan T-123/in1C (rs4003232) mampu mengubah level ekspresi gen PLA2G10 sebagai gen pengode enzim sPLA2-GX. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui genotip dari PLA2G10 pada titik SNP T512C (rs36072688) and T-123/in1C (rs4003232) para penderita angina pektoris dan mengkaji apakah penyakit disebabkan karena mutasi. Sampel penelitian berupa peripheral blood mononuclear cell koleksi Divisi Litbang Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Sampel berjumlah 113, berasal dari penderita angina pektoris dengan dan tanpa plak pada arteri koroner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen PLA2G10 pada titik SNP T512C (rs36072688) memiliki genotip homozigot wildtype (TT) dan T-123/In1C (rs4003232) memiliki genotip heterozigot (TC) melalui metode TaqMan® SNP Genotyping Assay, dan tidak ada polimorfisme yang ditemukan pada kedua grup sampel tersebut.
Induksi Tunas dari Eksplan Epikotil Jeruk Kasturi (Citrus microcarpa Bunge.) dengan Penambahan BAP dan Kinetin secara In Vitro Putri Maisarah; Mayta Novaliza Isda
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 3 (2021): October 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i3.3416

Abstract

Jeruk kasturi (Citrus microcarpa) adalah salah satu jenis buah yang termasuk ke  dalam genus Citrus, memiliki kandungan vitamin C, dan anti oksidan juga termasuk tinggi. Perkembangan secara generatif setelah berumur 5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dan menentukan konsentrasi BAP dan Kinetin terbaik secara tunggal atau kombinasi dari kedua regulator pertumbuhan untuk pembentukan tunas dari eksplan epikotil jeruk kasturi secara in vitro pada media Ms. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 16 taraf perlakuan (kontrol, 0,5 mg/l BAP, 1 mg/l BAP, 1,5 mg/l BAP, 0,5 mg/l Kinetin, 1 mg/l Kinetin, 1,5 mg/l Kinetin, 0,5 mg/l BAP+ 0,5 mg/l Kinetin, 0,5 mg/l BAP + 1 mg/l Kinetin, 0,5 mg/l BAP + 1,5 mg/l Kinetin, 1 mg/l BAP + 0,5 mg/l Kinetin, 1 mg/l BAP + 1    mg/l Kinetin, 1  mg/l BAP + 1,5 mg/l Kinetin, 1,5 mg/l BAP + 0,5 mg/l Kinetin, 1,5 mg/l BAP + 1 mg/l Kinetin, 1,5 mg/l BAP + 1,5 mg/l Kinetin). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian perlakuan BAP dan Kinetin tunggal atau kombinasi mampu memberikan respons pada eksplan epikotil jeruk kasturi berupa waktu muncul tunas, jumlah tunas, jumlah daun dan panjang tunas. Konsentrasi terbaik yang mampu membentuk jumlah tunas paling banyak yaitu perlakuan P6 (1,5 mg/l Kinetin) sebesar 1,6 tunas.
Perbandingan Metode Isolasi DNA sebagai Templat PCR untuk Identifikasi Jenis Kelamin Cerek Jawa (Charadriius javanicus) secara Molekuler Menggunakan Primer 2550F/2718R Yulius Wahyu Pratomo; Felicia Zahida; Pramana Yuda
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 2 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i2.3444

Abstract

Dalam studi molekuler, ekstraksi dapat memakan waktu dan biaya saat diterapkan dalam penelitian skala besar, sehingga beberapa studi mengkaji tingkat keberhasilan amplifikasi menggunakan metode isolasi DNA alternatif (tanpa ekstraksi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode isolasi DNA paling efektif untuk molecular sexing Cerek Jawa. Penelitian ini menggunakan 5 sampel darah kertas saring, dan 8 sampel darah EDTA yang diisolasi dengan metode ekstraksi kit, alkalin lisis dan PCR langsung. Molecular sexing dilakukan dengan primer 2550F/2718R. Hasil penelitian menunjukan bahwa DNA pada sampel darah kertas saring dan EDTA, baik metode ektraksi kit, alkalin lisis dan PCR langsung, berhasil diamplifikasi dengan primer 2550F/2718R yang menghasilkan pita CHD1-Z dengan ukuran 621 bp dan pita CHD1-W dengan ukuran 459 bp. Penelitian ini menunjukan bahwa ekstraksi DNA dengan kit menghasilkan DNA template yang paling efektif untuk molecular sexing Cerek Jawa.
Pemanfaatan dan Skrining Fitokimia Infusa Daun Rumput Knop (Hyptis capitata Jacq.) Nelsiani To'bungan
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 5, No 3 (2020): October 2020
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v5i3.3520

Abstract

Rumput Knop (Hyptis capitata Jacq.)  banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional  oleh masyarakat suku Toraja.  Informasi  ilmiah tentang pemanfaatan Rumput Knop dan kandungan metabolit sekundernya yang berkhasiat sebagai obat tradisional  masih terbatas.  Penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan informasi dari masyarakat suku Toraja mengenai khasiat Rumput Knop dalam mengatasi berbagai penyakit, variasi organ tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat dan cara pengolahannya. Data pemanfaatan rumput knop diperoleh melalui wawancara. Untuk mendukung data khasiat, dilakukan uji fitokimia kualitatif meliputi uji alkaloid, triterpenoid, steroid, saponin, tannin dan flavonoid. Rumput knop diaplikasikan untuk beberapa penyakit seperti sakit perut, sakit kepala, demam dan luka terbuka. Organ tumbuhan yang sering digunakan dalam pengobatan adalah daun muda. Cara pengolahan yang paling banyak dilakukan adalah perebusan. Berdasarkan hasil tersebut, maka organ yang dipilih untuk dilakukan skrining fitokimia adalah daun dan metode ekstraksi metabolit sekundernya dengan metode infusa. Skrining fitokimia menunjukkan infusa daun Rumput Knop mengandung flavonoid, steroid dan tannin.  Kata Kunci: Etnobotani, Infusa, rumput knop, nutrasetika
Hubungan Panjang Berat Dan Faktor Kondisi Relatif Lima Spesies Ikan di Sungai Suwi Muara Ancalong, Kutai Timur Rudy Agung Nugroho; Apri Pauci Florentino; Lariman Lariman; Retno Aryani; Rudianto Rudianto; Monica Kusneti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 2 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i2.3524

Abstract

The length-weight relationship of fish and the condition factor provides an overview of the fish growth conditions in the river. The purpose of this study was to determine the length-weight relationship and factor condition of five fish species in the Suwi River wetlands. The method of catching fish used gill nets, ceiling nets, fishing rods, traps, and other nets. The research was conducted for to months in the Suwi river wetlands. The results the length-weight relationship of five fish were varied, Ompok bimaculatus had b value 2,93, Helostoma temminckii (b  value 2.15), Mystus nemurus  (b value 2,62), and Channa) micropeltes (b 2.61) which indicated a negative allometric growth pattern. Meanwhile Leptobarbus hoevenii (b 3.12) was a positive allometric growth pattern. Negative allometric indicates growth in length faster than weight growth, thus the physical shape looks flattened, while positive allometric indicates growth in fish length slower than growth in fish weight. Based on the relative weight (Wr) of Ompok bimaculatus 101.28 ± 19.13, Helostoma temminckii 101.05 ± 15.51, Mystus nemurus 100.95 ± 14.84, Channa micropeltes 101.09 ± 14.14, Leptobarbus hoevenii 103.71 ± 34.57. Condition factor above 100, indicates sufficient food availability or low predator density
Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Batang Rumput Knop (Hyptis capitata Jacq.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) Nelsiani To'bungan; Wibowo Nugroho Jati; Felicia Zahida
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 1 (2021): February 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i1.3577

Abstract

Rumput Knop (Hyptis capitata Jacq.) memiliki sejarah etnobotani. Informasi mengenai keamanan pemanfaatan rumput Knop sebagai obat tradisional perlu untuk dilakukan. Uji keamanan dilakukan dengan uji toksisitas. Uji toksisitas akut dengan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dilakukan sebagai uji toksisitas awal. Batang rumput Knop diekstrak dengan  metode maserasi, menggunakan penyari etanol. Ekstrak etanol batang rumput Knop dibuat dengan berbagai konsentrasi, yakni 1000, 500, 250, 125 dan 62,5 µg/ml. Larva Artemia salina (L.) diberi paparan ekstrak etanol batang rumput Knop selama 24 jam. Toksisitas ekstrak ditentukan berdasarkan jumlah larva yang mati setelah paparan ekstrak. Jumlah larva yang mati, dianalisis dengan analisis probit untuk menentukan nilai LC50. Kandungan senyawa fitokimia dalam ekstrak etanol batang rumput Knop diuji dengan uji fitokimia kualitatif. Besar nilai LC50 ekstrak etanol batang rumput Knop adalah 880,579 µg/ml. Ekstrak etanol batang rumput Knop mengandung steroid. 

Page 56 of 120 | Total Record : 1193


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue