cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Pengetahuan dan Sikap Masyarakat di Kecamatan Seram Utara Barat, Provinsi Maluku, Terhadap Keberadaan Burung Gosong Astri Dwyanti Tagueha; Isye Jean Liur
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 5, No 2 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v5i2.3619

Abstract

Kemampuan burung gosong sebagai satwa yang mampu menghasilkan telur dengan ukuran diatas rata-rata dan ditetaskan oleh alam telah menjadi pemicu adanya eksploitasi tidak terkendali oleh manusia. Keadaan tersebut disebabkan adanya perbedaan cara pandang di tengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap masyarakat di Kecamatan Seram Utara Barat terhadap keberadaan burung gosong. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap, yaitu Juli 2017 dan Agustus 2018 di dua desa utama (Labuan dan Pasanea) dan disertai observasi lokasi bertelur di beberapa gugusan pulau setempat (Pulau Tujuh). Hasil penelitian menunjukkan para pengumpul telur memiliki pengetahuan yang lebih lengkap tentang karateristik burung gosong dibandingkan masyarakat biasa. Pengetahuan tersebut kemudian dimanifestasikan dalam beberapa sikap konservasi untuk melindungi habitat dan populasi burung gosong, yaitu penggalian telur secara manual, rekonstruksi sarang bertelur, pelepasan anak burung, evaluasi kondisi telur, dan reinkubasi telur bertunas. Sikap tersebut belum mampu mengendalikan tingkat eksploitasi diantara masyarakat sehingga penting untuk dirumuskan program konservasi dan aturan hukum setempat yang sifatnya mengikat.
Effect of the Type of Organic Waste and Retention Time on Biogas Production from Cow Dung Oktavius Yoseph Tuta Mago; M A Yohanita Nirmalasari; Agustina Dua Kuki; Yohanes Nong Bunga; Aljefridus Misa
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 5, No 3 (2020): October 2020
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v5i3.3682

Abstract

Nowadays, the demand on fossil energy is increasing in number whereas its availability is decrease. People are still reckoned on it, despite of its rareness. Fossil energy utilized must be banned due to its negative effect. It is time for us to use renewable and eco-friendly energy (biofuel). Biogas is one of biofuel produced from anaerobic decomposition of organic matter by microorganisms. Organic waste as a by-product of our daily activities can be used as raw material to produce biogas. To use waste, means to decrease the environmental pollution problem. This research is aim to study the type of organic waste as a raw material to produce biogas through anaerobic digestion and its retention time. Organic wastes that were used in this research are domestic waste (food waste), agriculture waste (corn leaves) and industrial waste (solid and liquid waste of tofu). All of these wastes were mixed with cow dung as the starter/inoculum. As a control, the starter was used without organic waste addition. The testable retention times were 1st week until 9th week. The experimental design was Factorial Complete Randomized Design with confidence level 95%. The result showed that all the type of organic waste can be used to produce biogas through anaerobic digestion. Statistically, the average volume of biogas produced from industrial waste per week, 5794,3 ml was significantly different from any other organic waste (P=0,000). The best retention time was found on 8th week with the average volume of biogas was 3675,6 ml (P=0,006). There was no interaction between these two factors (P=0,1). This research is expected to open the people’s awareness about the management of useable organic waste as a raw material to produce biogas.
Identifikasi Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Miza Nina Adlini; Adi Hartono; Miftahul Khairani; Indayana Febriani Tanjung; Khairuna Khairuna
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 2 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i2.3842

Abstract

Tumbuhan Cryptogamae merupakan kelompok tumbuhan tingkat rendah yang berkembang biak dengan tidak memakai biji. Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu divisi tumbuhan Cryptogamae yang memiliki pola penyebaran yang cukup luas dan lazim ditemui di sekitar lingkungan. Kampus II UINSU. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tumbuhan tumbuhan paku yang terdapat di kampus II UINSU yang diharapkan dapat bermanfaat sebagai pengembangan dalam pembelajaran kontekstual Botani Cryptogamae yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata dengan mengamati berbagai spesies tumbuhan Cryptogamae yang ditemukan di areal kampus II UINSU. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode survey eksploratif dan deskriptif, dengan melakukan pendataan tumbuhan serta mengamati morfologi dan deskripsi tumbuhan tersebut. sampel dikoleksi dalam bentuk segar dan diidentifikasi di laboratorium Tadris Biologi FITK UINSU. Identifikasi tumbuhan menggunakan prosedur pendataan ciri morfologi tumbuhan dan kunci identifikasi yang bersumber dari buku Tjitrosoepomo (2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2 kelas tumbuhan paku yakni kelas Filicinae dan Lycopodiinae, dimana terdapat 1 ordo, 1 famili, 5 sub famili dan 6 spesies untuk kelas Filicinae serta 1 ordo, 1 famili, dan 1 spesies untuk kelas Lycopodiinae yang ditemukan di Kampus II UINSU.
Identifikasi Bakteri yang Berperan dalam Pengasaman Kedelai dalam Fermentasi Tempe Berdasarkan Sekuen 16S rDNA Tati Barus; Widyah Widyah; Wisnu Adi Wicaksono; Vivitri Dewi Prasasty
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 2 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i2.4029

Abstract

Proses fermentasi dalam pembuatan tempe di Indonesia terdiri atas dua tahap. Tahap pertama berupa perendaman kedelai untuk pengasaman kedelai yang penting bagi pertumbuhan kapang. Dalam tahapan ini jenis mikroba yang berperan adalah kelompok bakteri. Namun informasi tentang jenis bakteri tersebut masih terbatas. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis jenis bakteri yang berperan dalam proses pengasaman kedelai saat fermentasi tempe. Isolasi bakteri dilakukan dari tempe yang diambil langsung dari pengrajin tempe di Jakarta. Bakteri ditumbuhkan pada media Plate Count Agar, de Man Rogosa and Sharpe Agar, MacConkey Agar dan Eosin Methylene Blue Agar. Selanjutnya diuji perannya dalam pengasaman kedelai dengan pengukuran pH air rendaman kedelai dan selanjutnya bakteri tersebut diidentifikasi. Ditemukan isolat P211, P3a, Mc4b, B1p, dan Man2b berperan dalam pengasaman dengan menurunkan pH air rendaman kedelai dari 7 menjadi sekitar 4,7 hingga 5,8. Identifikasi berdasarkan sekuen 16S rDNA lima bakteri tersebut masing masing adalah Klebsiella pneumoniae, Enterobacter ludwigii, Enterobacter sp., Lactobacillus agilis, dan Pantoea sp.  dengan kemiripan 98-100%. Selanjutnya, perlu diteliti tentang perannya dalam menentukan kualitas tempe.
Pengaruh Hormon terhadap Induksi Embrio Somatik Kacapiring (Gardenia jasminoides) dan Potensi Aplikasinya dalam Pembuatan Benih Sintetik Yosua Pardede; Exsyupransia Mursyanti; Boy Rahardjo Sidharta
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 3 (2021): October 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i3.4093

Abstract

Kacapiring (Gardenia jasminoides) merupakan tanaman hias yang memiliki banyak kegunaan, sebagai penghasil bunga potong, bahan makanan, bahan tekstil, bahan baku kosmetik, dan mengandung senyawa terapeutik. Tingginya permintaan kacapiring perlu diseimbangkan dengan hasil budidayanya. Perbanyakan konvensional kacapiring memiliki kelemahan seperti daur hidup yang lama, genotip dapat berbeda dari induk, dan dapat membawa penyakit dari induk. Oleh karena itu, diperlukan teknik perbanyakan kacapiring yang lebih efisien, salah satunya adalah dengan membuat benih sintetik. Benih sintetik dapat dihasilkan dengan cara melakukan enkapsulasi embrio somatik. Embrio somatik adalah kumpulan sel embrionik yang terbentuk dari sel soma yang memiliki kemampuan untuk beregenerasi menjadi tanaman baru yang utuh. Hormon merupakan bahan organik yang terdapat secara alami pada tumbuhan atau sintetik. Hormon berpengaruh dalam diferensiasi dan pertumbuhan tanaman. Embriogenesis somatik dapat dilakukan menggunakan hormon auksin dan sitokinin, karena auksin dapat menginduksi kalus embriogenik dan sitokinin dapat menginisiasi terjadinya proses embriogenik pada kalus. Benih sintetik adalah embrio somatik tunggal yang diselubungi oleh matrik, sehingga dapat disimpan dengan durasi waktu tertentu dan dapat tumbuh menjadi tanaman yang utuh dalam keadaan in vitro maupun exvitro.
Optimasi Metode Ekstraksi DNA pada Melon (Cucumis melo L.) Berdasarkan Suhu, Lama Inkubasi, dan Kondisi Daun Dewi Retnaningati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 5, No 2 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v5i2.4096

Abstract

Melon is a fruit commodity that has high economic value and is in demand by the community, so it has the potential to be developed. Therefore it is necessary to study various sciences, one of which is the molecular approach. DNA is an essential element in molecular research. The right extraction technique will determine the quality and quantity of DNA produced. The temperature and incubation time applied in the DNA extraction technique, as well as the quality of the leaves as a source of plant DNA, are among the determining factors for the quality and quantity of extracted DNA, so it is necessary to carry out an assessment and optimization. This study aims to assess the optimal temperature and incubation time in extracting DNA from material (melon leaves) under different conditions. Research activities include planting melon seeds, collecting leaf samples, DNA extraction and quantitative DNA testing. The results showed that the concentration and purity of DNA extracted from cold leaves was higher than that from fresh leaves. The highest DNA concentration was obtained from the 65 ° C incubation treatment for 20 minutes, namely 2707.6 ng / μl, and the highest DNA purity was obtained from the 70 ° C incubation treatment for 10 minutes, namely 1.94 from leaf material that had been cooled overnight at a temperature of -20 ° C .
Potensi Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) sebagai Biofertilizer pada Tanaman Jagung (Zea mays) Kuntum Febriyantiningrum; Dwi Oktafitria; Nia Nurfitria; Nurul Jadid; Dewi Hidayati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 1 (2021): February 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i1.4131

Abstract

Mining activities can cause environmental damage, and needs land rehabilitation efforts. One approach to land rehabilitation after mine is with repairing the ecosystem condition by improving the quality of the soil, with increase fertility and enriching soil nutrient content by providing a biofertilizer from microbe, such as mycorrhizal fungi.  This study aims to determine the potential use of vesicular arbuscular mycorrhizal fungus (MVA) as a biofertilizer by examining the effect of MVA on the growth of corn plant (Zea Mays). Applicated indigenus MVA was able to increase the absorption of phosphorus (P) nutrients in the soil by corn plant so it had an effect on increasing the height and diameter of the corn plant stalks. MVA has the potential as a basic material for making biofertilizer, so it can be used to improve soil quality and environment in ex-limestone mining areas.  
Potensi Antibakteri Ekstrak Tanaman Suku Rubiaceae dan Aplikasinya dalam Sediaan Hand Sanitizer Sriwahyuni Iskandar Rasid; Exsyupransia Mursyanti; Boy Rahardjo Sidharta
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 2 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i2.4165

Abstract

Tanaman suku Rubiaceae merupakan tanaman yang banyak digunakan sebagai obat tradisional. Kandungan senyawa aktif yang ada dalam tanaman suku Rubiaceae meliputi alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, fenol, dan minyak atsiri (antrakuinon) yang berpotensi sebagai senyawa antibakteri. Kandungan alkohol dalam hand sanitizer yang beredar di pasaran memberi rasa iritasi dan terbakar pada kulit jika digunakan secara terus menerus sehingga inovasi hand sanitizer dari tanaman suku Rubiaceae dapat dijadikan alternatif untuk membersihkan tangan. Hasil literature review ini menunjukkan bahwa ekstrak dan sediaan hand sanitizer tanaman suku Rubiaceae yang diuji aktivitas antimikrobianya dengan metode difusi agar dan broth dilution mempunyai daya antibakteri terhadap S. aureus dan E.coli. Sediaan hand sanitizer tanaman suku Rubiaceae juga memiliki kualitas karakteristik fisik seperti bentuk, warna, dan bau serta  stabilitas seperti pH, viskositas, homogenitas, daya lekat dan daya sebar yang baik. Kategori kualitas baik ini didasarkan pada kesesuaian SNI terkait kestabilan gel antiseptik.
Variasi Morfologi Bunga Anggrek Bulan Hybrida Phalaenopsisamabilis: Analisa Karakter dengan Pendekatan Numerik Agustina Yohana Setyarini Arobaya
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 7, No 1 (2022): February 2022
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v7i1.4207

Abstract

Informasi mengenai keanekaragaman bunga hibrida Phalaenopsis amabilis sebagai tanaman hias telah terdokumentasi secara lengkap. Namun, karakter yang menentukan varietas bunga masih belum teridentifikasi. Oleh karena itu penelitian ini akan mengeksplorasi dan mengidentifikasi karakter morfologi yang berperan dalam pembentukan keanekaragaman Phalaenopsis amabilis. Secara keseluruhan terdapat tiga puluh lima karakter morfologi yang terbagi menjadi sebelas sifat vegetatif dan dua puluh empat sifat generatif yang digunakan untuk menganalisis enam belas sampel anggrek. Enam belas sampel tanaman anggrek Phalaenopsis amabilis teridentifikasi sebagai delapan varietas. Delapan varietas tersebut kemudian dianalisis menggunakan PATN versi 4.00. Hasil analisis menunjukkan bahwa baik sifat vegetatif maupun generatif dapat digunakan sebagai indikator identifikasi dan penentuan verietas Phalaenopsis amabilis. Dua klaster hierarkis dalam setiap dendrogram analisis sifat vegetatif, sifat generatif atau gabungan keduanya menunjukkan dua kelompok varietas. Karakter morfologi batang, daun dan bunga merupakan parameter yang menentukan keanekaragaman varietas dari Phalaenopsis amabilis. 
Utilization of Used Cardboard and Vegetable Waste as Growth Media for White Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus) Jovita Lavenia; Aniek Prasetyaningsih; Catarina Aprilia Ariestanti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 2 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i2.4278

Abstract

White oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) is a highly nutritious food with simple cultivation process using sawdust as its main substrate. Nowadays, availability of sawdust become a problem for some mushroom farmers. Cardboard and vegetable wastes are easily found and difficult to maintain. Based on their characteristics, those wastes can be used as mushroom growth media. This study aims to determine the effect of cardboard and vegetable waste on mushroom growth and the best media composition to obtain maximum productivity. Those wastes are used as the main substrate in eleven composition variations with complete randomized design (CRD) analysis method using One-Way ANOVA and simple linear regression statistical test. The results showed, variations in media composition affect the condition of the media which then influence the growth of P. ostreatus. Maximum productivity was found in media composition XI with mycelium growth rate up to 3.91 cm/day, media IX with the biological efficiency up to 45.38%, and media X with the highest total yield up to 97.28 grams. From this study it can be concluded that cardboard and vegetable waste can be an alternative growth substrate for P. ostreatus in urban areas with a maximum concentration of vegetable waste no more than 30% by weight of the media used.

Page 57 of 120 | Total Record : 1193


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue