cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Hubungan Kepadatan dan Biting Behaviour Nyamuk Anopheles farauti Dengan Kasus Malaria di Ekosistem Pantai dan Rawa (Kabupaten Biak Numfor dan Asmat) Hanna S.I. Kawulur; Hidayat Soesilohadi; Suwarno Hadisusanto; Y. Andi Trisyono
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v19i1.452

Abstract

AbstractPopulation density and bitting behaviour of insect vectors are several of the factors that influence the number of cases of malaria. This study aims to determine the relationship between population density and bitting behaviour Anopheles farauti which is a vector of malaria in coastal ecosystems (Biak Numfor Regency) and swamp ecosystems (Asmat Regency) with malaria cases. The method used is human landing collection conducted at 18:00 to 6:00 a.m. inside and outside the house. The results showed that the population density of An. farauti in coastal ecosystems is relatively lower than the swamp ecosystems. Man bitting rate in coastal ecosystems is 4 and 4.66, at 95.52 and 42.38 in swamp ecosystem. An. farauti on two ecosystems research are eksofilik. Population density and bitting behaviour An. farauti in coastal ecosystems and swamp ecosystems are not positively correlated with the number of malaria cases.Keywords: population density, biting behavior, An. farauti, Biak Numfor, AsmatAbstrakKepadatan populasi dan aktivitas menggigit serangga vektor merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kasus malaria. Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan kepadatan populasi dan aktivitas menggigit Anopheles farauti yang merupakan vektor malaria di ekosistem pantai (Kabupaten Biak Numfor) dan ekosistem rawa (Kabupaten Asmat) dengan kasus malaria. Metode yang digunakan adalah human landing collection yang dilakukan pada pukul 18.0006.00 di dalam dan di luar rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat populasi An. farauti di ekosistem pantai relatif lebih rendah dibandingkan ekosistem rawa. Man bitting rate di ekosistem pantai adalah 4 dan 4,66 di ekosistem rawa 95,52 dan 42,38. An. farauti pada dua ekosistem penelitian bersifat eksofilik. Kepadatan populasi dan aktivitas mencari darah An. farauti di ekosistem pantai dan ekosistem rawa tidak berkorelasi positif dengan jumlah kasus malaria.Kata kunci: kepadatan populasi, aktivitas menggigit, An. farauti, Biak Numfor, Asmat
Komposisi Jenis dan Kepadatan Sponge (Porifera: Demospongiae) di Kepulauan Spermonde Kota Makassar Abdul Haris; Shinta Werorilangi; Sulaiman Gosalam; Andry Mas’ud
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v19i1.453

Abstract

AbstractSponge is one of the components on the coastal and marine ecosystems, especially coral reefs and seagrass beds. Climate change and environmental conditions can affect the life of the sponge. The study is conducted to determine the distribution of the composition and density of sponge using belt transects (transect quadrant) with a size of 5x5 m, then count the number of each type of sponge contained in the transect. Study site divided into three (3) zones indicating different conditions of eutrophication. A total of 49 species were identified from 16 families of 8 orders. Composition and density of the sponge in inner zone as many as 11 families with a density of 0.96 ind/m2, and lower compared to the composition and density in the middle zone and outer zone. This is related to the difference in environmental conditions of the three zones based on eutrophication conditions.Keywords: Sponge, species composition, density, spermondeAbstrakSponge merupakan salah satu penyusun pada ekosistem pesisir dan laut, terutama pada ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Perubahan iklim dan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan dari sponge. Maka dilakukan penelitian untuk mengetahui sebaran komposisi dan kepadatan sponge menggunakan metode transek belt (transek kuadran) dengan ukuran 5x5 m, kemudian menghitung jumlah dari setiap jenis sponge yang terdapat dalam transek. Lokasi penelitian terbagi atas 3 (tiga) zona eutrofikasi yang menunjukkan kondisi eutrofikasi yang berbeda. Sebanyak 49 spesies yang teridentifikasi berasal dari 16 famili 8 ordo. Komposisi dan Kepadatan sponge pada zona dalam sebanyak 11 famili dengan kepadatan 0,96 ind/m2,, lebih rendah dibandingkan dengan komposisi dan kepadatan pada zona tengah dan zona luar. Hal tersebut terkait dengan adanya perbedaan kondisi lingkungan dari ketiga zona yang terbagi berdasarkan kondisi eutrofikasi tersebut.Kata kunci: Sponge, komposisi jenis, kepadatan, spermonde
Kondisi Terumbu Karang di Kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu DKI Jakarta Drajad Sarwo Seto; Djumanto -; Namastra Probosunu
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v19i1.454

Abstract

AbstractThe objective of this research was to determine the condition of coral reefs, namely the percentage of coral covered, species distribution, community structure of coral, and the environmental conditions surround the core zone, protection zone, tourism zone, and residential zone in Kepulauan Seribu Marine National Park DKI Jakarta. The research was conducted from 8 to 16 May, 2013. The data was collected from four zones and each zone was set up into two stations as a point observation, at the depth of 79 meters. The percentage of coral coverring was calculated by line intercept transect method, coral genera was counted and identified using the belt transect method. Coral data was analyzed qualitatively based on ecological index. The results showed that the coral covering was range from 7.25 to 68.93% as categorized from bad to good condition. The number of coral was found approximately of 5.523 colonies that consisted of 45 genera and 16 families. The most abundance of coral was Porites and Montipora with percentage of 19.7% and 16.69%, respectively. Coral diversity index was ranged from 1.61 to 3.07 as indicated of low to high. Uniformity index was ranged from 0.44 to 0.68, which was the community in stressful to labile situation. Dominance index (D) was ranged from 0.06 to 0.32 showing that coral dominance was absence.Keywords: Coral reef, cover, diversity, Kepulauan SeribuAbstrakPenelitian ini bertujuan mengetahui kondisi terumbu karang yang meliputi persentase tutupan, sebaran, struktur komunitas dan kondisi lingkungan di zona inti, perlindungan, pemanfaatan wisata, dan pemukiman di kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 8 sampai 16 Mei 2013. Pengambilan data berada pada empat zona pengelolaan dan setiap zona ditetapkan sebanyak dua stasiun pengamatan pada kedalaman 79 meter. Persentase tutupan karang dihitung dengan metode Line Intercept Transect, genera karang dihitung dan diidentifikasi menggunakan metode Belt Transect. Data jenis karang yang diperoleh dianalisis kualitatif berdasarkan indeks ekologis. Hasil penelitian diperoleh persentase tutupan karang berada pada kisaran 7,2568,93% yang dikategorikan kondisinya buruk hingga baik. Jumlah karang dari seluruh stasiun penelitian sebanyak 5.523 koloni yang terdiri dari 45 genera dan 16 famili. Genus karang yang paling sering dijumpai adalah Porites dan Montipora dengan persentase kelimpahannya masing-masing 19,7% dan 16,69%. Nilai indeks keanekaragaman (H’) karang berkisar antara 1,613,07 yang tergolong rendah hingga tinggi. Indeks keseragaman berkisar 0,440,68 yang berarti komunitas dalam keadaan tertekan hingga labil. Nilai indeks dominansi (D) berkisar 0,060,32 yang menunjukkan dominansi karang tertentu tergolong rendah.Kata kunci: Tutupan, terumbu karang, keragaman, Kepulauan Seribu
Pengaruh Cara Pengolahan terhadapMutu Bakteriologis Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Pindang Siap Santap Ekawati Purwijantiningsih Exsyupransia Mursyanti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 13, No 1 (2008): February 2008
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v13i1.651

Abstract

The objectiveof this present research was toknowthe influence ofvarious way ofcooking on bacteriologicalquality of ready-to-eat salted little tunafish (Euthynnusaffinis).Previousstudyhas shown thatbacteriological quality ofsaltedtunafishfrom markets in Yogyakarta were not fulfill the requirements based on SNI 01-2717-1992. It was shown that the aerobic plate countswere high, i.e.2.4 x 105– 5.27 x 107CFU/g. Coliformcountranged from < 2.5 x 101- > 6.5 x 106CFU/g.Fromthe20samples observed, only 1 sample did not contain V. parahaemolyticus and 4 samples were negative from Salmonella. Therefore,it needs to bestudied whether thevarious way ofcookingsuch asfrying, fryingwith flour, fryingwith egg and fryingwith chili sauce were effectivein removing any of the groups of bacteria examined from saltedlittle tuna fish  sample. The bacterial groups examined as indicator  of quality were Staphylococcus aureus, Coliform, Salmonellaand Vibrio parahaemolyticus. The aerobic plate counts were also taken. The result showed that the various way of cooking wereeffective in reducing the aerobic plate counts, S. aureusand Coliform. Frying with chili sauce was the best cookingprocedure because it can reduced the highest number of aerobic plate counts, S.aureusand Coliform. Salmonellaand V. parahaemolyticuswere not detected in all cooking samples.
Pengaruh Jenis Prebiotik terhadap Kualitas Yogurt Probiotik Ekawati Purwijantiningsih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 12, No 3 (2007): October 2007
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v12i3.652

Abstract

Prebiotics are variety of nondigestible carbohydrates that help promote the growth of good bacteria in the intestines. Prebiotics are found naturally in legumes, vegetables, fruits and tubers. Soybean, banana and tapioca are supposed to have potential as prebiotics, promote a healthy digestive system and reduce the growth of harmful bacteria. Soybean, banana and tapioca were investigatedon their abilities to promote the quality of probiotic yogurt. Soybean flour addition to probiotic yogurt most potential to promote nutrition value and lactic acid bacteria viability. The most preference of probiotic yogurt by panelists is probiotic yogurt added tapioca.
Akumulasi dan Toksisitas Effluen yang Mengandung Kromium pada Ikan Gupi (Poecilia reticulata) Djohan Djohan
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 14, No 1 (2009): February 2009
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v14i1.653

Abstract

Accumulation and toxicityofchromium in leather-tannery effluent on guppies were investigated. An acute (96 hour) statictoxicitytestingusing 5 serialdilution of theeffluentwas conducted. Each serial dilution consisted of 3 replicates, with eachreplicate contained 5litres of diluted effluent and 10 fish. Theeffluent was diluted 0.2%to 3.2%(v/v).Theconcentrations of chromium in thedilutedeffluent and fishrange from 0.9 - 9.1 µg.mL-1and 1.4 - 58.9 µg.g-1w.w, respectively. Bioconcentration factors inthisstudy vary from 1 to 39, with a median value of 6.2. The values of LC50and ILC50are 4.2 µg.mL-1and 56 µg.g-1w.w, respectively. The results show that chromiumaccumulates in guppy and causesacute toxicity. A comparison withthe concentrations of chromium in effluent, water, and fish from otherstudies was also reported.
Isolasi, Seleksi, dan Identifikasi Kapang Kitinolitik yang Diisolasi dari Tanah Pembuangan Limbah Udang dan Rizosfer Solanaceae Nur Khikmah Sebastian Margino Rina Sri Kasiamdari
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 1 (2016): February 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v1i1.706

Abstract

Kapang kitinolitik mampu mendegradasi kitin dengan mensekresikan enzim kitinase. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kapang kitinolitik  indigenous  yang unggul dalam menghasilkan enzim kitinase. Isolasi kapang dilakukan dengan metode  spread plate  pada colloidal chitin agar. Seleksi kualitatif isolat berdasarkan indeks kitinolitik yang diperoleh dengan membagi diameter zona jernih di sekeliling koloni dengan diameter koloni.  Seleksi kuantitatif berdasarkan aktivitas spesifik kitinase yang diukur berdasarkan pengurangan substrat koloidal kitin menggunakan metode spektrofotometer. Hasil isolasi memperoleh 70 (tujuh puluh) isolat kapang kitinolitik. Delapan belas isolat dari 70 isolat kapang kitinolitik mempunyai indeks kitinolitik ≥ 2,00. Berdasarkan seleksi kuantitatif diperoleh 10 (sepuluh) isolat yang mempunyai aktivitas enzim kitinase lebih tinggi daripada aktivitas enzim kitinase Trichoderma viride  FNCC 6128 (210,14 U/mg) yang digunakan sebagai isolat acuan.  Isolat KUP2 mempunyai aktivitas spesifik kitinase tertinggi 744,20 U/mg. Isolat KUP2 teridentifikasi sebagai Trichoderma sp.
Biogrouting: Produksi Urease dari Bakteri Laut (Oceanobacillus sp.) Pengendap Karbonat Sidratu Ainiyah Puspita Lisdiyanti Maharani Pertiwi; Endry Nugroho Prasetyo
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 1 (2016): February 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v1i1.707

Abstract

Biogrouting adalah teknologi yang mensimulasi proses diagenesis yaitu transformasi butiran pasir menjadi batuan pasir (calcarinite/sandstone).  Permasalahan penelitian ini bagaimana mengoptimasi produk urease dengan melakukan uji aktifitas, mengisolasi, mempurifikasi dan mengkarakterisasi serta mengaplikasikannya sebagai material grout. Uji aktifitas dan optimasi dilakukan dengan menumbuhkan isolat Oceanobacillus sp. pada dua variasi medium (B4 urea dan B4 urin), lima variasi pH (4-8) dan dua variasi suhu (25°C dan 29°C). Hasil uji aktifitas dan optimasi selanjutnya dipurifikasi menggunakan ammonium sulfat dan dicari titik isoelektriknya. Kemudian hasil protein presipitat dikarakterisasi menggunakan SDS-PAGE. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa aktifitas urease paling tinggi adalah 203,32 unit/ml. Urease optimal dihasilkan pada isolat yang ditumbuhkan pada B4 urea pada pH 7 suhu 25°C. Berat molekul urease yang dikarakterisasi menggunakan SDS-PAGE adalah 440 kDa, sedangkan titik isoelektriknya pada pH 6. Urease dapat dijadikan material  grout  karena memiliki kemampuan untuk melakukan sementasi pada aplikasi sederhana biogrouting.
Aspek Molekuler Hubungan Asupan Zinc dan Selenium dengan Hemoglobin Glikosilasi pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Indranila Kustarini Samsuria Judiono Yuliati Widiastuti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 1 (2016): February 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v1i1.708

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang ditandai hiperglikemik kronis. HbA1c merupakan hasil pemeriksaan untuk melihat kontrol glikemik. Zinc dan Selenium merupakan faktor metaloenzim, berperan dalam mekanisme regulasi dan sintesis  insulin.  Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara  Zinc dan  Selenium  dengan HbA1C pada  pasien DMT2.  Desain  cross sectional  terhadap pasien DMT2.  Sampel berjumlah 108 orang pasien di beberapa Rumah sakit di Bandung dari tahun 2011 s/d 2013. Sampel dilakukan secara purposive sampling. Zinc dan Selenium dikumpulkan dengan Semi Quantitative Food Frequency (SQFF).  HbA1c diukur dengan metode afinitas kromatografi. Data dianalisis dengan  Fisher Exact  dan  uji  korelasi  Spearman  (p<0,05).  Penelitian ini telah mendapat persetujuan Komite Etik.  Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara Zinc, Selenium dan HbA1c (p<0,001). Ada hubungan antara Zinc dan Selenium dengan HbA1c,  sehingga penatalaksanaan diit dengan asupan Zinc dan Selenium sangat diperlukan dalam regulasi pasien DMT2.
Respon Pertumbuhan Kencur (Kaempferia galanga L.) terhadap Pemberian IBA dan BAP secara In Vitro Samanhudi Muji Rahayu Bambang Pujiasmanto; Ahmad Yunus Dian Rahmawati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 1 (2016): February 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v1i1.709

Abstract

Kaempferia galanga L. adalah salah satu tanaman obat terpenting karena  khasiatnya sebagai ekspetoransia, diuretika, dan stimulansia.  Budidaya secara konvensional belum dapat memenuhi permintaan kencur di pasaran, sehingga budidaya secara  in  vitro dapat digunakan sebagai alternatif  untuk menyediakan benih kencur yang cepat dan seragam. Eksplan yang digunakan diambil dari rimpang dan dikulturkan dalam medium MS yang dikombinasikan dengan IBA (Indole Butiric Acid)  dan BAP (Benzyl Amino Purin) dengan konsentrasi 0, 1, 2, 3 dan 4 ppm. Variable pengamatan yang utama adalah jumlah tunas yang muncul pada eksplan. Induksi tunas tertinggi terdapat pada eksplan yang dikulturkan pada perlakuan IBA 0 ppm dan BAP 3 ppm. Kebanyakan akar muncul pada  12 HST  (Hari Setelah Tanam),  dan akar paling cepat muncul pada 7 HST yang terdapat  pada perlakuan IBA 2 ppm dan BAP 4 ppm.

Page 68 of 120 | Total Record : 1193


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue