cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Deteksi Triploid Ikan Nilem (Osteochilus hasselti Valencienes 1842) Hasil Kejut Dingin 4oC Desi Susanti; Edy Yuwono; Yulia Sistina
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 3 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i3.149

Abstract

Protokol triploidisasi cyprinidae nilem dengan kejut dingin 4oC pada 1, 3, atau 5 menit dari waktu fertilisasi dengan lama kejut 15, 20, atau 25 menit terbukti efektif dari parameyter fertilitas, daya tetas, abnormalitas larva, sintasan benih, panjang benih, dan khususnya data dimensi eritrosit benih hasil perlakuan. Dimensi eritrosit berupa ukuran panjang (major axes), lebar (minor axes), luas, dan volume eritrosit. Benih hasil perlakuan kejut dingin terbukti triploid dengan dimensi eritrositnya secara sangat nyata (P<0,01) jauh lebih besar dibanding diploid normal kontrolnya. Perlakuan kejut dingin secara sangat nyata (P<0,01) mempengaruhi fertilitas telur dan panjang tubuh benih, namun tidak nyata (P>0,05) mempengaruhi persentase penetasan, persentase abnormalitas larva, dan sintasan benih. Penerapan protokol triploid kejut dingin nilem yang terbukit efektif untuk pada bidang akuakultur siap dijalankan.Kata kunci: Deteksi triploid, kejut dingin, lama kejut, nilem, dimensi eritrosit
Tanggap Fisiologi dan Hasil Bawang Merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) terhadap Lengas Tanah dan Ketinggian Tempat Berbeda Muhammad Anshar; Tohari Tohari; Bambang Hendro Sunarminto; Endang Sulistyaningsih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v18i1.258

Abstract

Percobaan di rumah kaca telah dilaksanakan di provinsi DIY pada bulan Maret-Juni 2009. Percobaan bertujuan mengkaji tanggap fisiologis dan hasil bawang merah terhadap kondisi lengas tanah berbeda pada ketinggian tempat berbeda. Penelitian disusun berdasarkan percobaan lokasi dalam Rancangan Petak Petak Terbagi (Split Split Plot Design) diulang tiga kali. Petak utama adalah lokasi dengan ketinggian tempat berbeda di atas permukaan laut (dpl.) terdiri atas: (1) 100 m dpl., (2) 400 m dpl., dan (3) 800 m dpl.; Sub-plot adalah varietas bawang merah terdiri atas: (1) ‘Palu’, (2) ‘Palasa’, dan (3) ‘Sumenep’. Sub-sub-plot adalah lengas tanah dalam persentase kapasitas lapangan (% KL) terdiri atas: (1) 50% KL, (2) 100% KL, dan (3) 150% KL (kondisi jenuh). Lokasi dengan ketinggian tempat berbeda memberikan tanggap fisiologi dan hasil bawang merah yang berbeda. Varietas Palu memiliki aktivitas fotosintesis lebih besar pada semua kondisi lingkungan berbeda dan lebih tahan terhadap cekaman kekurangan dan kelebihan lengas tanah terutama di dataran rendah. Lengas tanah 100% KL menghasilkan aktivitas fisiologi dan hasil umbi kering panen lebih tinggi, sebaliknya lengas tanah 50% KL dan 150% KL menurunkan pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas Palasa, Palu dan Sumenep pada semua ketinggian tempat.Kata kunci: bawang merah, ketinggian tempat, lengas tanah, fisiologi
Diversitas Ikan pada Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat Rusman Hernowo; Djumanto Djumanto; Namastra Probosunu
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v18i1.259

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengkaji keragaman ikan-ikan karang dan mengetahui penutupan terumbu karang di perairan Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat. Penelitian dilaksanakan dari akhir bulan April sampai awal bulan Mei 2012 di perairan Pulau Menjangan. Jumlah stasiun pengamatan ditetapkan sebanyak 8 lokasi berdasarkan perbedaan habitat. Pengukuran kondisi lingkungan dan pengambilan sampel dilakukan dengan penyelaman pada kedalaman 3 dan 10 m. Jumlah dan jenis ikan yang berada pada jangkauan 2,5 m dari transek sepanjang 50 m disensus dengan metode Underwater Visual Census. Jenis ikan karang diidentifikasi secara langsung insitu. Jenis dan luas penutupan karang dicatat dengan metode Line Intercept Transect. Pencatatan jenis terumbu karang yang dilewati transek didasarkan pada bentuk pertumbuhan (lifeform), sedangkan luas penutupan terumbu karang menggunakan Lifeform Report. Data yang diperoleh dianalisis secarakuantitatif berdasarkan indeks biologis. Hasil dari penelitian diperoleh nilai indeks keanekaragaman ikan (H’) berkisar antara 0,8499–2,1360, keseragaman (E) antara 0,36–0,73 dan indeks dominansi (C) berkisar antara 0,163–0,647. Cacah individu ikan sebanyak 5753 ekor dari 62 genus yang berasal dari 32 suku, sedangkan kemelimpahan ikan (D) berkisar antara 0,756–2,680 ekor/m2. Jumlah individu dan suku ikan mayor dominan pada semua lokasi. Tutupan terumbu karang berada pada kisaran 0,66–67,34% yang dikategorikan pada kondisi sedang hingga baik.Kata kunci: keragaman, ikan, terumbu karang, Pulau Menjangan, Bali
Aktivitas Antiproliferatif Ekstrak Wasbensin Daun Eupatorium riparium Reg. : Studi In Vitro Pada HeLa Cell lin Linus Yhani Chrystomo; L. Hartanto Nugroho; Subagus Wahyuono; Aditya Krishar Karim; Kumiko Terada; Tsutomu Nohno
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v18i1.260

Abstract

Eupatorium riparium Reg. adalah tumbuhan obat penting asli dari Mexico dan India Barat, yang masuk ke tanah Jawa sejak tahun 1800. Tumbuhan ini mempunyai catatan sejarah digunakan untuk obat tradisional dalam berbagai kultur budaya bangsa secara luas di seluruh dunia dan biasa digunakan untuk obat hipertensi, gagal jantung, diuretik, antikanker, antifungi, dan penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Studi pada HeLa cell line ini dilakukan selama satu bulan. Selanjutnya, studi ini bertujuan meneliti aktivitas antiproliferatif ekstrak wasbensin daun E. riparium terhadap kanker servik manusia Hela cell line. Aktivitas antiproliferatif diuji menggunakan reagen proliferatif sel WST-1 dengan waktu 1, 2, dan 4 jam setelah diinkubasi selama 72 jam pada suhu 37oC dan 5%CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak wasbensin daun E. riparium mempunyai aktivitas proliferatif yang potensial terhadap HeLa cell line dengan nilai IC50 berikut 102.69 𝜇g/ml (1 jam), 198.67 𝜇g/ml (2 jam). Saran selanjutnya, penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui mekanisme antikanker HeLa cell line.Kata kunci: Eupatorium riparium Reg, antiproliferatif, HeLa, WST-1
Sebaran Penyakit Hawar Daun Bakteri di Beberapa Sentra Produksi Bawang Merah di Indonesia Asrul Asrul; Triwidodo Arwiyanto; Bambang Hadisutrisno; Jaka Widada
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v18i1.261

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui daerah sebaran penyakit hawar daun bakteri di beberapa sentra pertanaman bawang merah di Indonesia dan kultivar bawang merah yang dapat diinfeksi, serta mengidentifikasi patogen penyebabnya. Penentuan lokasi pengamatan dan pengambilan sampel dilakukan secara stratified purpossive random sampling. Survei dilakukan dengan cara wawancara dan pengamatan di lapangan (observasi) terhadap kultivar bawang dan gejala penyakit yang terinfeksi oleh bakteri patogen. Sampel diidentifikasi melalui pengamatan morfologi koloni, uji postulat Koch, uji reaksi hipersensitif dan pengujian sifat-sifat biokimia dan fisiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit hawar daun bakteri telah tersebar secara merata di seluruh daerah pertanaman bawang merah di Indonesia, yang meliputi Kabupaten Cirebon, Tegal, Nganjuk, Bantul, dan Sigi, dengan tingkat serangan mencapai 62,5–100%. Penyakit ini menginfeksi bawang merah kultivar Bima curut, Bauji, Biru-sawah, dan Palasa. Gejala hawar daun bakteri yang dijumpai berupa water soaking, terjadi lekukan daun, pengerutan daun,  klorosis, nekrosis, mati pucuk, pertumbuhan kerdil, dan kematian. Isolat bakteri yang ditemukan mempunyai bentuk koloni bulat, cembung, berlendir, dan berwarna kuning. Ciri morfologi koloni, gejala dan karakteristik isolat bakteri mirip dengan sifat-sifat bakteri Xanthomonas axonopodis pv. allii penyebab penyakit hawar daun pada bawang bombay.Kata kunci: Sebaran, bawang merah hawar daun bakteri, Xanthomonas axonopodis pv. allii
Optimasi Isolasi Genom untuk Analisis Keragaman Mikrob pada Fermentasi Singkong "Peyem" dengan Teknik Terminal Restriction Fragment Length Polymorphism (T-RFLP) Tati Barus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v18i1.262

Abstract

"Peyem" merupakan salah satu pangan fermentasi Indonesia. Kualitas pangan fermentasi bergantung pada aktivitas mikrob yang terdapat selama proses fermentasi berlangsung. Salah satu teknik molekuler yang telah banyak digunakan untuk menganalisis komunitas mikrob pada suatu habitat adalah teknik Terminal–Restriction Fragment Lenght Polymorphism (T-RFLP). Metode isolasi genom dan jenis primer yang digunakan pada saat PCR penting pada teknik T- RFLP dalam mengkaji komunitas mikrob. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan empat metode isolasi genom dan membandingkan penggunaan dua set primer dalam mengkaji komunitas bakteri dari "Peyem" dengan teknik T-RFLP. Genom komunitas bakteri diisolasi dengan menggunakan empat metode, yaitu: 1) QIAamp DNA Stool Mini Kit (G1), 2) QIAamp DNA Stool Mini Kit + lisozim (G2), 3) Genomic DNA Purification Kit (G3), dan 4) Genomic DNA Purification Kit + lisozim (G4). Untuk mengamplifikasi 16S rDNA digunakan dua set primer, yaitu: 1) primer 27F-FAM dan 1492R, 2) primer 63F-FAM dan 1387R. Hasil penelitian menunjukkan isolasi genom dengan metode G4 menghasilkan konsentrasi genom tertinggi (330,20 ng/µl) dibandingkan metode G1, G2, dan G3 (163,50 ng/µl; 183,25 ng/µl, dan 260,80 ng/µl). Primer 27F-FAM menghasilkan jumlah peak yang lebih tertinggi (264) dibandingkan dengan primer 63F-FAM (177). Jumlah peak TRF pada teknik TRFLP menggambarkan keragaman komunitas mikrob. Dengan demikian isolasi genom dengan Genomic DNA Purification Kit + lysozyme dan penggunaan pasangan primer 27F-FAM-1492R adalah yang terbaik untuk menganalisis komunitas bakteri dari "Peyem" dengan teknik T-RFLP.Kata kunci: Genom, Primer, T-RFLP, Mikrob, "Peyem"
Aktivitas Sitotoksik dan Apoptosis Ekstrak Spons Spesies A Anggota Ordo Astroporida terhadap Sel HeLa (Cervical Cancer Cell Line) Ardaning Nuriliani; Ibnu Agus Ariyanto; Mei Ria Santi; Andi Mahendra; Ni Wayan Erly Sintya Dewi; Arif Luthfi Nurul Huda; Nastiti Wijayanti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v18i1.263

Abstract

Spons merupakan fauna laut yang diketahui memiliki berbagai senyawa bioaktif. Senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri, antivirus, dan antikanker. Penelitian ini bertujuan mempelajari aktivitas sitotoksik dan apoptosis ekstrak spons spesies A anggota ordo Astrophorida terhadap sel HeLa. Pada penelitian ini pengujian aktivitas sitotoksik ekstrak etanolik, metanolik, dan kloroform spons spesies A terhadap sel HeLa dilakukan menggunakan MTT assay dan uji apoptosis menggunakan double staining, yaitu etidium bromida-acridine orange. Deteksi golongan senyawa yang terkandung di dalam spons spesies A dilakukan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil uji sitotoksisitas menunjukkan bahwa ekstrak etanolik, metanolik, dan kloroform spons spesies A masing-masing memiliki nilai IC50 sebesar 18,25; 27,87; dan 13,87 µg/mL. Ekstrak etanolik, metanolik, dan kloroform spons spesies A pada konsentrasi 31,25 µg/mL dapat menginduksi kematian sel melalui apoptosis masing-masing sebesar 35,3 ± 11,16%; 82,64 ± 16,21%; dan 86,76 ± 9,27%. Berdasarkan uji menggunakan KLT diketahui bahwa spons spesies A menggandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, dan terpenoid. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ekstrak spons spesies A berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat antikanker.Kata kunci: ekstrak spons spesies A, sitotoksik, apoptosis, sel HeLa
Kajian Struktur Anatomi dan Morfologi Perkembangan Cypraea moneta L. dari Pantai Krakal Yogyakarta Teja Komaraningrum; Felicia Zahida; S. M. Issoegianti R.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v18i1.264

Abstract

Tujuan penelitian mengenai struktur morfologi dan anatomi perkembangan Cypraea moneta adalah mempelajari perkembangan morfologi dan anatomi C. moneta jantan dan betina. Spesimen diukur panjang cangkang dan berat, kemudian dikelompokkan menurut panjang cangkang. Cangkang spesimen dicerna dengan menggunakan HCl 5%, kemudian dibedah dengan menggunakan micro dissection kit di bawah mikroskop stereo yang telah terhubung dengan monitor PC dan kamera digital. Organ yang diamati meliputi mantel dan papila, tentakel, mata, kakiperut, dan organ reproduksi. Hasilnya memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan antara warna mantel, tipe papila, kakiperut, mata, tentakel jantan dan tentakel betina. Perkembangan morfologi ditandai dengan pertambahan ukuran cangkang, berat, jumlah geligi pada cangkang, dan bentuk cangkang. Jantan berkembang testis dan kelenjar testis, betina dengan ovarium dan lubang genital. Warna testis dan ovarium berubah sesuai dengan perkembangan kematangannya. Kata kunci: Cypraea moneta, Pantai Krakal, perkembangan morfologi dan anatomi
Determinasi Salmonella sp dan Ektoparasit dalam Pupuk Organik dari Kotoran Sapi Potong di Yogyakarta Widodo Suwito; Supriadi -; Erna Winarti; Utomo Bimo Bekti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 2 (2013): June 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v18i2.388

Abstract

One of by products derived from beef cattle farm is manure. The manure can be processed to make organic fertilizer. Salmonella sp is bacterium of the manure origin and harmful for human. Currently, organic fertilizer is mostly used for vegetables and fruits, but the problem is people consume those vegetables. The aim of this study was to determine Salmonella sp and ectoparasite in organic fertilizer which were made from the manure of beef cattle farm in Yogyakarta. A total of 10 manure samples were collected the farms to make organic fertilizer. The manure was fermented with lactic acid bacteria (BAL) for one month. Before and after fermented, the manure was isolated and identified for Salmonella sp based on biochemical reactions and ectoparasite using native method. The study showed that there were no Salmonella sp and ectoparasite in the organic fertilizer made from the manure fermented for one month. Keywords: Organic fertilizer, manure, farm, Salmonella sp Abstrak Salah satu hasil sampingan dari peternakan sapi potong adalah kotoran ternak. Kotoran ternak dapat dimanfaatkan untuk dibuat pupuk organik. Salmonella sp merupakan bakteri yang berasal dari kotoran ternak dan dapat membahayakan kesehatan manusia. Saat ini pupuk organik banyak digunakan untuk tanaman sayuran dan buah-buahan, sedangkan sebagian masyarakat mengonsumsi sayuran dalam keadaan mentah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Salmonella sp dan ektoparasit dalam pupuk organik yang dibuat dari kotoran sapi pada peternakan sapi potong di Yogyakarta. Telah dikumpulkan sebanyak 10 sampel kotoran sapi yang akan dibuat pupuk organik dari peternakan sapi potong di Yogyakarta. Kotoran sapi difermentasi dengan bakteri asam laktat (BAL) selama satu bulan. Kotoran sapi sebelum dan sesudah difermentasi dilakukan isolasi dan identifikasi Salmonella sp berdasarkan reaksi biokimia dan ektoparasit dengan metode natif. Penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam kotoran sapi yang dibuat pupuk organik dengan fermentasi selama satu bulan tidak ditemukan Salmonella sp. Kata kunci: Pupuk organik, rabuk, peternakan sapi, Salmonella sp
Kelimpahan Jenis Semut Di Areal Pemukiman Hutan Lindung Sirimau Kota Ambon Fransina Sarah Latumahina; Musyafa -; Sumardi -; Nugroho Susetya Putra
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 2 (2013): June 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v18i2.389

Abstract

AbstractThe experiment was conducted at residential areas Sirimau forest with three sampling methods, which were hand collecting, bait trap (sugar and tuna) and pitfall traps from July to September 2011. The study aims to determine abudance of ants in residential areas in Ambon Sirimau Protected Forest areas. The results of study found 16 species of ants in total reaching 14.913. The most dominant types are Odontoponera denticulata, Pheidole megacephala, Technomyrmex albipes, Tetramorium simillimum, Tetramorium bicarinatum, Tapinoma melanocephalum, Paratrechina longicornis and Anoplolepis gracilipes. Total abudance of ants is 2.789 classified as moderate by spread of number of individual spread and of community stability. The abudance of ants is strongly influenced by light intensity, temperature, humidity, wind, water and season. Difference of temperature micro, light climate, humidit, interspecific competition, availability of variety of food sources, habitat quality and human activities also affect the abudance of ants. Another finding showed invasive ants, they were Soleonopsis geminate, Paratrechina longicornis and Anoplolepis gracilipes. Keywords: Abudance of ants, invasive species, protected areas, settlement areaAbstrakPenelitian dilaksanakan pada areal pemukiman dalam Hutan Lindung Sirimau dengan tiga metode pengambilan sampel yakni hand collecting, bait trap (umpan gula dan  ikan tuna) dan pitfall trap dari bulan Juli hingga september 2011. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman semut pada areal pemukiman dalam kawasan Hutan Lindung Sirimau Ambon. Hasil penelitian menemukan adanya 16 jenis semut dengan total individu mencapai  14.913. Jenis–jenis yang sangat dominan dalam kawasan yakni Odontoponera denticulata, Pheidole megacephala, Technomyrmex albipes, Tetramorium simillimum, Tetramorium bicarinatum, Tapinoma melanocephalum, Paratrechina longicornis dan Anoplolepis gracilipes. Total keragaman jenis semut 2.789 tergolong sedang dengan penyebaran jumlah individu semut dan tingkat kestabilan komunitas sedang. Keragaman semut dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, suhu, kelembaban, angin, air dan musim. Diduga perbedaan suhu mikro, iklim, cahaya, kelembaban, pola makan, kompetisi interspesifik, variasi ketersediaan sumber makanan, kualitas habitat dan aktivitas manusia yang memengaruhi keragaman semut dalam areal pemukiman hutan lindung Sirimau Ambon. Ditemukan 3 jenis semut yang invasif yakni Soleonopsis geminate, Paratrechina longicornis dan Anoplolepis gracilipes. Kata kunci: Kelimpahan semut, spesies invasif, hutan lindung, tipe penggunaan lahan pemukiman

Page 66 of 120 | Total Record : 1193


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue