cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Keanekaragaman Jamur di Cagar Alam Gunung Mutis Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur Hartini Solle; Ferdinandus Klau; Simon Taka Nuhamara
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 2, No 3 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v2i3.1886

Abstract

Jamur merupakan salah satu organisme yang memegang peranan penting dalam menguraikan bahan organik yang sangat kompleks menjadi bahan sederhana sehingga mudah diserap oleh organisme lainnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis jamur dan mengetahui tingkat keanekaragaman jenis jamur pada hutan cagar alam gunung Mutis. Metode yang digunakan adalah metode jelajah setiap plot dengan mencatat jenis jamur yang ditemukan pada kawasan tersebut dan dilanjutkan dengan proses identifikasi jenis jamur yang ditemukan. Pengambilan sampel dengan koleksi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 340 individu pada 17 spesies jamur dengan tingkat keanekaragaman : 1,510 yang menunjukkan tingkat keanekaragam spesies jamur yang tinggi. Spesies jamur yang paling mendominasi adalah jamur Microporus sp dan Polyporus sp, sedangkan jenis lain keberadaannya masih tergolong rendah seperti Polyporus squamosus, Coriolus hirsutus, Pycnoporus cinnabarinus, Tyromyces sambuceus, Fomytopsis pinicola, Microporus perula, Trametes orientalis, Piptoporus betulinus, Auricula polytricha, Auricularia auricula, Elfvingia applanata, Fomes sp, Laccaria vinaceoavellaneae, Paxillus curtisii, Pleurotus pulmorius.
Kelimpahan dan Pola Penyebaran Bulu Babi (Echinoidea) di Terumbu Karang Pantai Pasir Putih, Situbondo, Indonesia Andi Somma; Felicia Zahida; Pramana Yuda
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 2, No 3 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v2i3.1887

Abstract

Penelitian tentang kelimpahan ikan, moluska dan bentos pada daerah terumbu karang sudah banyak dilakukan, penelitian tentang kelimpahan dan pola penyebaran bulu babi di Pantai Pasir Putih, Situbondo sebagai daerah wisata belum dilakukan. Ramainya wisatawan yang datang mampu mengganggu daya dukung lingkungan terhadap organisme laut seperti bulu babi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan dan pola penyebaran bulu babi di ekosistem terumbu karang perairan Pantai Pasir Putih, Situbondo. Penelitian ini dilakukan pada tiga stasiun yang mewakili daerah Pantai Pasir Putih, Situbondo yaitu: Watu Lawang sebagai stasiun 1, Karang Mayit – Teluk Pelita sebagai stasiun 2 dan Watu Pon – Pon sebagai stasiun 3. Pengambilan data menggunakan metode transek kuadrat. Setiap stasiun memiliki lima transek dengan panjang dan jarak antar transek 100 m. Bidang observasi sepanjang transek menggunakan petak ukur dengan luas 1 m2. Selanjutnya kelimpahan dan pola penyebaran bulu babi dihitung. Bulu babi yang diperoleh dari penelitian ini adalah Diadema setosum, Echinothrix calamaris duri putih dan Echinothrix calamaris duri coklat belang. Bulu babi D. setosum merupakan spesies yang dominan di ketiga stasiun dengan kelimpahan relatif, berturut turut adalah 60,976%, 69,136% dan 45,333%. Pola penyebaran bulu babi D. setosum seragam, sedangkan E. calamaris duri putih dan E. calamaris duri coklat belang mengelompok.
The Life Cycle and Sensitivity of the Local Copepod, Apocyclops sp to Tributyltin Exposure Inneke F.M. Rumengan,N.D. Rumampuk, D. Sumilat, J. Rimper
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 14, No 2 (2009): June 2009
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v14i2.2367

Abstract

Uji toksisitas tributiltin secara akut telah dicobakan pada kopepoda tropis Apocyclops sp. yang diisolasi dari tambak Manembo-nembo Bitung, Sulawesi Utara. Kopepoda dikultur dalam kondisi laboratorium (25-27oC, 30 ppt dan tanpa penerangan) dengan pemberian mikroalga Nannochloropsis oculata sebagai pakan. Semua individu kopepoda yang digunakan sebagai hewan uji berasal dari sepasang induk jantan dan betina. Kopepoda untuk eksperimen tributiltin (TBT) diberi perlakuan dalam air laut dan selama eksperimen tidak diberi pakan, dan larutan stok TBT-Cl dilarutkan dalam aseton. Pengaruh starvasi (tanpa pemberian pakan) dan aseton diamati sebelum uji toksisitas TBT dilakukan. Setiap eksperimen, 10 kopepoda dewasa (5 jantan dan 5 betina) dari satu kohort dimasukkan ke dalam cawan petri (diameter 3 cm) berisi masing-masing 10 ml air laut. Ternyata perlakuan tanpa pemberian pakan tidak mempengaruhi kopepoda selama periode eksperimen. Dalam uji toksisitas TBT, hanya 3 individu yang dapat bertahan sampai akhir eksperimen (8 jam) walaupun dengan konsentrasi terendah (0.0001 ng.l-1). Kebanyakan individu telah mati sebelum 8 jam diekspos ke konsentrasi TBT 0.01 ng.l-1. Pada konsentrasi TBT yang lebih tinggi (0.1 dan 1 ng.l-1), tingkat kelulusan hidup kopepoda hanya 50% dalam waktu kurang dari satu jam, sedangkan kopepoda yang sisa masih hidup semuanya sebelum mati jam ke-4 yang diberi perlakukan. Dalam uji toksisitas ini, semua konsentrasi yang dicobakan ternyata lebih kecil dari rata-rata konsentrasi TBT di alam (10 ng.l-1). Kisaran konsentrasi TBT yang lebih lebar masih perlu diuji-cobakan untuk mengklarifikasi efek akut TBT agar dapat diperoleh konsentrasi untuk uji toksisitas secara kronis.
Aktivitas Trypsin Inhibitor Berbagai Varietas Biji Kedelai (Glycine max L.) dan Perubahannya Selama Perkecambahan Biji dari Varietas Terbaik Bayu Kanetro; Zuheid Noor; Retno Indrati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 12, No 1 (2007): February 2007
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v12i1.2529

Abstract

This study investigated the activity of trypsin inhibitor (TI) of some soybean (Glycine max L.) varieties and the change in TI activity during seed germination of the best variety. The research was aimed to determine the best variety of soybean and germination time based on the highest TI activity. There were 5 varieties of soybeans, Paderman, Argomulyo, Kaba, Sinabung, and Ijen. The best variety of soybean was Sinabung as shown by the highest TI activity. The soybean of Sinabung variety was germinated for 6 various germination times at 12, 24, 36, 48, 60 and 72 hr. The result showed that the variation of germination time changed TI activity. TI activity decreased significantly after 36 hr of germination of soybeans. The best time of germination was 36 hr.
Pengaruh Jarak Penyekat dalam Fotobioreaktor Tubular terhadap Pertumbuhan Kultur Mikroalga Ankistrodesmus convulutus Tjandra Chrismadha; Tenni Rustiani; Rosidah Rosidah; Yayah Mardiati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 12, No 1 (2007): February 2007
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v12i1.2530

Abstract

A series of partition was constructed inside a vertical tubular photobioreactor to control the culture distribution in obtaining intermittent exposure to light area in the surface of the tubular column. A microalga, Ankistrodesmus convulutus, was grown in a batch mode in the reactor with PHM medium, light sources of fluorescent lamp 3 x 40 watt (I = 5.500 lux on the surface of the tubular) and room temperature of 27 – 310C. The experiment was carried out to study the influence of partition density which was constructed at varied distance, which were 1, 2 and 3 inch on the growth and biochemical composition of the alga. A vertical tubular photobioreactor without partition was applied as the control. The partition density did not significantly affect the optical density achievement of the culture, but it significantly affected the biomass and chlorophyll concentration, as well as the protein/carbohydrate ratio of the culture. It is believed that the intermittent exposure of algal cell to the light area leads to sincronization of the light and dark reaction of the photosynthesis, as well as to vapor the catalitic proccesses to develop the functional cell structure.
Kebutuhan Protein/Asam Amino dan Karbohidrat Bagi Udang-Udang Penaeid: Suatu Studi Literatur Eka Rosyida
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 12, No 1 (2007): February 2007
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v12i1.2531

Abstract

Suatu studi literatur dilakukan untuk menelaah kebutuhan protein/asam amino dan karbohidrat bagi udang-udang penaeid, suatu jenis udang yang bernilai ekonomis penting di Indonesia maupun di pasaran dunia. Salah satu hal penting dalam membudidayakan udang tersebut adalah berkaitan dengan kebutuhan nutrisi pada fase larva. Pemberian nutrisi yang buruk dianggap secara langsung maupun tidak langsung dapat menyebabkan timbulnya beberapa penyakit, kematian massal dan penurunan produksi. Kebutuhan protein udang penaeid mempunyai korelasi dengan aktivitas enzim proteolitik dan dipengaruhi oleh umur, ukuran dan tahapan/fase dari siklus hidup udang tersebut. Faktor kualitas dan tingkat energi dari sumber protein yang diberikan secara signifikan berpengaruh terhadap pertumbuhan udang, sedangkan disakarida dan polisakarida dianggap lebih efisien sebagai sumber karbohidrat untuk udang penaeid dibanding monosakarida.
Uji Aktivitas Antibakteri dan Sitotoksik Ekstrak Metanol Aglaia silvestris (M.Roemer) Merr. Praptiwi Praptiwi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 12, No 1 (2007): February 2007
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v12i1.2532

Abstract

The antibacterial and sitotoxic activities of ganggo (Aglaia silvestris (M.Roemer) Merr. methanol extract were determined in this study. Antibacterial in-vitro test of ganggo methanol extract was exposed to Gram positive (Staphylococcus aureus ATCC 25923, Streptococcus agalactiae ATCC 8190, and Streptococcus sp.) and Gram negative (Salmonella typhii NCTC 786 E, Eschericia coli ATCC 25922, and Pseudomonas pseudomallei ATCC 15682) bacteria. The extract concentrations were 50, 25 and 12.5%, and done in triplicate. The growth inhibition area of extract was compared to those of standard antibiotic (10 unit ampicilin). Cytotoxic test of ganggo extract was done utilizing Brine Shrimp Lethality Test (BST) with Artemia salina.The result showed that growth inhibition area of 12.5% ganggo methanol extract to P. pseudomallei (19 mm) was wider than that of 10 unit ampicilin (0 mm). It showed that P. pseudomallei was sensitive to ganggo methanol extract. The result of BST showed that LC50 of ganggo extract was 345.44 ppm. It was concluded that ganggo methanol extract had antibacterial effects on some bacteria isolates and had cytotoxic effects with LC50 345.44 ppm.
Perilaku Makan Badak Sumatera di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung Ignatius Suharto; Elly Lestari Rustiati; Marcelus Adi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 12, No 1 (2007): February 2007
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v12i1.2533

Abstract

Research on the feeding behaviour, feeding plants and the way to access the plants has been conducted on Sumateran rhinos at and in collaboraton with Sumatran Rhino Sanctuary, Way Kambas National Park, Lampung, by scanning and rapid assessment methods. Feeding activity is done during day time, especially in the morning (05.00-10.00) and in the afternoon (14.00-18.00). Plants consumed include saplings (42%), followed by trees (30%), seedlings (20%) and liana (8%). Cutting (86%) is the most common way to access the food sources, followed by pulling (9%), pushing by its head and holding in between front legs (4%) and twisting by its horn (1%).
Pengaruh Variasi Fotoperiodisitas terhadap Pertumbuhan Chlorella dalam Medium Basal Bold Nining Prihantini; Winny Rachmayanti; Wisnu Wardhana
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 12, No 1 (2007): February 2007
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v12i1.2534

Abstract

The research of photoperiodicity effect on the cell densities of genus Chlorella grown in Bold’s Basal Medium (BBM) had been done. Observations were done for 14 days. Research was experimental study with full random design to 8 varieties of photoperiodicity i.e. 6 h light/18 h dark (L/D) cycles, 8 h light/16 h dark (L/D) cycles, 10 h light/14 h dark (L/D) cycles, 12 h light/12 h dark (L/D) cycles, 14 h light/10 h dark (L/D) cycles, 16 h light/8 h dark (L/D) cycles, 18 h light/6 h dark (L/D) cycles, and 24 h light/0 h dark (L/D) cycles. On peak culture, 24 h light/0 h dark (L/D) cycles produced the highest cell numbers (204.680.000 cell/ml) and the lowest cell numbers were achieved by culture with 6 h light/18 h dark (L/D) cycles. Kruskall-Wallis test showed that there were some effects of photoperiodicity variations on cell numbers of Chlorella (cell/ml) in culture (p>0.05). Multiple comparison tests showed that mean of cell numbers of Chlorella (cell/ml) differ (p>0.01) on every photoperiodicity. Relationship between photoperiodicity and cell numbers of Chlorella was determined by regression equation Ŷ = 24634821,214 + 21977643,869 X.
Pseudo-Nitzschia pseudodelicatissima Isolated From Hurun Bay: Salinity Tolerance and Domoic Acid Content Lily Panggabean
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 12, No 1 (2007): February 2007
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v12i1.2535

Abstract

Pseudo-nitzschia pseudodelicatissima dari sampel perairan Teluk Hurun, Lampung berhasil diisolasi dan dikultur dalam medium F/2 dengan penyinaran 2500 luks 12 jam per hari pada suhu 24-250C. Perlakuan salinitas menunjukkan bahwa P. pseudodelicatissima tidak toleran terhadap salinitas kurang dari 15 PSU dan sangat toleran terhadap salinitas yang tinggi hingga mencapai 45 PSU (Pressure Salinity Unit). Salinitas optimum untuk pertumbuhan P.pseudodelicatissima yaitu pada 30 dan 35 PSU. Analisis ekstrak P. pseudodelicatissima, 9 hari sesudah inokulasi, menggunakan HPLC-UV tidak menunjukkan adanya kandungan asam domoat.

Page 72 of 120 | Total Record : 1193


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue