cover
Contact Name
widyasari putranti
Contact Email
widyasari@pharm.uad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mediafarmasi@pharm.uad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Media Farmasi : Jurnal Ilmu Farmasi (Journal Of Pharmaceutical Science)
ISSN : 14127946     EISSN : 25035223     DOI : 10.12928
Core Subject : Health, Science,
Media Farmasi is a scientific journal published by the University of Ahmad Dahlan worked closely with Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Media Farmasi published two times a year, namely in March and September since 2002 with ISSN 1412-7946 and e-ISSN 2503-5223. The article published in the Journal Media Farmasi selected by editors and reviewed by the reviewer. Articles published in Media Farmasi must not be published in other journals or have been previously published. Media Farmasi publishes a review article, original article, as well as short communication in all scopes of Pharmaceutical Science.
Arjuna Subject : -
Articles 455 Documents
AKTIVITAS PENANGKAPAN RADIKAL DPPH OLEH FRAKSI N-HEKSAN DAN FRAKSI ETIL ASETAT DAUN KELOR (Moringa oleifera, Lamk) Beta Ria Erika; Marita Dellima; Rini Sulistyawati
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 11, No 1: Maret 2014
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2654.715 KB) | DOI: 10.12928/mf.v11i1.1392

Abstract

Radikal bebas dikenal sebagai mediator berbagai penyakit. Beberapa kandungan kimia  tumbuhan  seperti  senyawa  fenolik  dan  flavonoid  telah  dilaporkan berkorelasi  terhadap  aktivitas  penangkapan  radikal. Salah  satu  tanaman  yang berpotensi  sebagai  penangkap  radikal adalah  kelor (Moringa  oleifera  Lamk). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas penangkapan radikal  bebas 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH)  fraksi n-heksan (fraksi non polar) dan fraksi etil asetat (fraksi polar).Serbuk daun kelor dimaserasi menggunakan etanol 80%, kemudian  pelarut  diuapkan. Ekstrak etanolik daun kelor selanjutnya difraksinasi menggunakan beberapa pelarut  dengan polaritas yang berbeda. Setiap fraksi yang dihasilkan  kemudian  diuji  aktivitas  penangkapan  radikal  DPPH menggunakan metode  spektrofotometri  tampak  pada  panjang  gelombang  517  nm.Kemampuan fraksi-fraksi  daun  kelor  dalam  menangkap  radikal  DPPH  diamati menggunakan parameter  IC 50. Fraksi etil asetat mempunyai  IC 50 kecil (6,59 ¼g/mL) dibanding fraksi  n-heksan  (77,80¼g/mL).Hal  ini  menunjukkan  bahwa  fraksi  etil  asetat mempunyai kemampuan  menangkap  radikal  bebas  DPPH  yang  lebih  besar diibandingkan fraksi heksana. Kata kunci : daun kelor, penangkapan radikal bebas, DPPH.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOLIK BERBAGAI JENIS SAYURAN SERTA PENENTUAN KANDUNGAN FENOLIK DAN FLAVONOID TOTALNYA Farisya Nurhaeni; Tri Lestari; Subagus Wahyuono; Abdul Rohman
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 11, No 2: September 2014
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5961.165 KB) | DOI: 10.12928/mf.v11i2.1876

Abstract

Tumbuh-tumbuhan diketahui kaya antioksidan alami seperti vitamin E, vitamin C, beta karoten dan flavonoid.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan10 jenis sayuran, Amaranthus lividus L.sensu Thell., Cichorium endivia, Brassica juncea (L.) Czern., Sauropus androgynus (L.) Merr., Ocimum bassilicum, Brassica oleracea var.botrytis  L.,  Brassica oleracea var.botrytis L. subvar cauliflora DC., Brassica oleracea var.capitata L., Brassica oleracea var.capitata L. forma rubra, Cosmos caudatus H.B.K dan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi senyawa fenolik dan flavonoid pada aktivitas antioksidannya. Uji aktivitas antioksidan dilakukandengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril hidrazil) dengan menggunakan baku pembanding kuersetin. Analisis kandungan fenolik total ditentukan oleh kemampuan sampel untuk mereduksi reagen Folin Ciocalteau. Analisis flavonoid total dilakukan secara spektrofotometri didasarkan adanya kemampuan flavonoid  membentuk kompleks yang berwarna kuning dengan AlCl3 , yang selanjutnya akan bereaksi dengan  NaOH membentuk warna merah muda yang dapat diukur absorbansinya pada panjang gelombang 510 nm. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kenikir (Cosmos caudatus H.B.K.) memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi dengan nilai IC50 19,49 µg/ml. Hubungan antara aktivitas antioksidan 10 jenis sayuran dengan kandungan fenolik total diperoleh persamaan regresi linear  y = -34,94 x +562,5, r2 = 0,235 , sementara itu hubungan aktivitas antioksidan dengan flavonoid totalnya diperoleh persamaan y = -16,57 + 755,9, r2 = 0,471. 
The Influence of Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) on Piroxicam Absorption with Everted Intestinal SAC Method Fea Prihapsara; Anif Nur Artanti; Mimiek Murrukmihadi
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 12, No 1: Maret 2015
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.006 KB) | DOI: 10.12928/mf.v12i1.3028

Abstract

Oral drug absorption was highly influenced by dissolution rate, especially for poorly and insoluble drugs. Piroxicam is a nonsteroidal anti-inflammatory drug that is practically insoluble in water. The oral absorption rate of piroxicam is dependent on its dissolution rate in the GI tract. Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) as surfactant can increase drug solubility by means of a micelle forming mechanism. The aim of the study was to know the influence of addition and variation of Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) on Piroxicam absorption with everted intestinal sac method.  The  concentration of piroxicam solution was prepared by PVP in  1.0,2.0 and 3.0 % respectively. Crane and Wilson tube containing 75 ml of themucosal fluid was taken at 37 0 C in waterbath. Than, serosal solution of 1.5 mlwas added to intestinal sac by turned upside down and tied to a cannula, then put into the tube containing the mucosal fluid and constantly flowing oxygen gas.Serosal solution of 1 ml were taken every 15 minutes and then diluted with 2 ml of Ba (OH) 2 and 2 ml of ZnSO4 then centrifuge until 25 minute. The absorbant of supernatant was measured by UV spectrophotometer and data analyse wascalculated by one-way ANAVA.  PVP at 1%,2% and 3% increased piroxicamabsorption from the phosphate buffer pH 7.5 compared with negative control.According to P app , the values were 2.52 ± 0.43 cm/minute (negative control), 3.41 ± 2.17 cm/minute (1% PVP), 2.75± 1.14 cm/minute (2% PVP) and 4.77 ± 4.93 cm/minute (3% PVP) respectively. In conclusion. Lower doses of the surfactant (1%, 2%, and 3% PVP) significantly increased absorption of the drug by altering the membrane permeability.  
Tanggungjawab Hukum Dokter dan Apoteker Dalam Pelayanan Resep Wendi Muh; Fadhli Fadhli; Siti Anisah
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 13, No 1: Maret 2016
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.511 KB) | DOI: 10.12928/mf.v13i1.5743

Abstract

Resep adalah permintaan tertulis oleh dokter kepada apoteker untuk menyiapkan dan menyerahkan obat kepada pasien. Terdapat problematika yang telah lama terjadi dan secara terus menerus berlangsung, berupa penulisan resep dokter yang sulit dibaca dan ketidaklengkapan administrasi resep sebagai informasi pengobatan pasien (legalitas). Ini merupakan salah satu faktor yang dapat mengakibatkan medication error dari sebuah pelayanan kesehatan. Didasarkan hal itu, maka perlu dikaji bagaimana pertanggungjawaban dokter dan apoteker dalam pelayanan resep yang menyebabkan medication error. Penelitian bertujuan untuk memahami bentuk pertanggungjawaban hukum dokter dalam penulisan resep dokter yang sulit dibaca yang menyebabkan medication error pada pasien dan untuk memahami tanggungjawab Apoteker Pengelola Apotek (APA) dalam pelayanan resep dokter yang dapat menyebabkan medication error. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode penelitian normatif-empiris, yakni dengan melihat fakta-fakta yang ada di lapangan dan kemudian dibandingkan dengan aturan yang berlaku. Data lapangan dibutuhkan untuk memahami permasalahan-permasalahan yang terjadi di lapangan, dan upaya mengatasi permasalahan tersebut ditinjau dari aspek hukum yakni peraturan perudang-undangan yang berlaku. Dari hasil penelitian, pertanggungjawaban hukum dokter terhadap pelayanan resep meliputi tahap Prescribing error menyangkut segala permintaan dalam resep, sedangkan APA bertanggungjawab terhadap segala sesuatu menyangkut transcribing error (error terjadi pada saat pembacaan resep), dispensing error (kesalahan penyebaran/distribusi), administrasion error (kesalahan pemberian obat), dan patient compliance error (kesalahan kepatuhan penggunaan obat oleh pasien). Tanggung jawab dokter selaku profesi dalam pelaksanaan tugas profesional di bidang kesehatan, didasarkan tanggung jawab norma etik dokter serta tanggung jawab hukum yang didasarkan pada ketentuan hukum perdata, pidana, dan administrasi. Tanggung jawab APA adalah memberikan obat pada pasien sesuai dengan yang tertulis di dalam resep sebagai suatu kuasa, tetapi didasarkan ilmu, keterampilan dan wewenang yang dimilikinya. Kata kunci: dokter, apoteker, medication error, tanggungjawab huku
STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK NON RESEP DI APOTEK KOMUNITAS KOTA KENDARI Sunandar Ihsan; Kartina Kartina; Nur Illiyin Akib
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 13, No 2: September 2016
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.238 KB) | DOI: 10.12928/mf.v13i2.7778

Abstract

Penggunaan antibiotik memerlukan pertimbangan klinis yang tepat untuk memenuhi rasionalitas, sehingga menjamin keamanan, ketepatan dan efektivitas yang maksimal. Penggunaan yang tidak tepat akan menimbulkan masalah resistensi yang berdampak pada morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi maupun kerugian ekonomi dan sosial yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penggunaan antibiotik tanpa resep di apotek komunitas Kota Kendari yang ditinjau dari perilaku pasien dan pengetahuan pasien serta faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan antibiotik tanpa resep dokter yaitu konsumen apotek. Penelitian ini bersifat deskriptif, dilakukan di 10 apotek yang ditetapkan dengan cluster random sampling dan 287 konsumen apotek yang dipilih dengan accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan pasien.Hasil penelitian menunjukkan pasien cenderung pernah menggunakan antibiotik tanpa resep dokter dengan tingkat pengetahuan pasien kurang (56,44%). Penggunaan antibiotik terkait perilaku adalah sebagian besar pasien memperoleh antibiotik di apotek (94,07%), sumber informasi dalam menggunakan antibiotik adalah dokter (43,90%), jenis penyakit yang diobati adalah gejala demam (54,34%), jenis antibiotik yang sering digunakan adalah amoksisilin (54,34%), pembelian antibiotik untuk satu kali pengobatan adalah 87,80%. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan antibiotik tanpa resep adalah: sebagian besar diperoleh dari riwayat kebiasaan sebelumnya yang tidak pernah menggunakan resep dokter 87,45%,jika ditinjau berdasarkan pengalaman sebelumnya dari resep dokter subyek menggunakan antibiotik tanpa resep karena gejala dan obat yang sama 89,89%,  sebagian besar karena pengalaman penggunaan sebelumnya yang memberi hasil baik 75,26% dan subyek tetap menggunakan antibiotik (77,70%) meski tidak memiliki pengetahuan tentang penyakitnya. Tingginya penggunaan antibiotik tanpa resep di Kota Kendari ditinjau dari perilaku pasien dan pengetahuan serta faktor yang mempengaruhinya dapat menimbulkan kerugian baik secara klinis maupun secara ekonomi.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L) TERHADAP GAMBARAN KLINIS DAN LAMA RAWAT INAP PADA PASIEN ANAK DENGAN DEMAM BERDARAH Akrom Akrom; Nurcholid Umam Kurniawan; Ery Al Ridho
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16, No 2: September 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.051 KB) | DOI: 10.12928/mf.v16i2.13500

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan virus dengue dan sampai saat ini belum ada pengobatan kuratif untuk mengatasi kebocoran plasma. Penelitian sebelumnya melaporkan daun jambu biji berfungsi sebagai penambah trombosit namun pengujian klinis ekstraknya sebagai antidengue masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) terhadap perbaikan klinis, laboratoris dan lama rawat inap pada pasien DBD di bangsal anak RS PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta. Design penelitian adalah eksperimental (RCT) dengan penyamaran single blind. Terdapat 2 kelompok yaitu kelompok intervensi yang mendapatkan terapi standar dan ekstrak daun jambu biji dan kelompok kontrol yang mendapatkan terapi cairan standar WHO. Variable yang diukur adalah suhu badan, trombosit, hematokrit dan lama rawat inap. Analisis data menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok terhadap jumlah rerata trombosit pada demam hari ke 1 sampai 10 (p>0,05). Pada parameter hematokrit dan lama rawat inap tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antar kelompok dimana nilai p lebih besar dari 0,05 (p>0,05). Pada parameter suhu badan juga tidak terdapat perbedaan sgnifikan (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok intervensi dan kontrol pada parameter laboratorium,klinis maupun lama rawat inap.
TINGKAT PENGETAHUAN CIVITAS AKADEMIKA KESEHATAN DIBANDINGKAN NON KESEHATAN TENTANG KANKER SERVIKS DAN VAKSINASI HPV DI SLEMAN Ndaru Setyaningrum; Uzlah Fawati Zuar; Ninisita Sri Hadi
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16, No 2: September 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.728 KB) | DOI: 10.12928/mf.v16i2.14296

Abstract

Kanker serviks merupakan jenis kanker yang menimbulkan kematian tertinggi pada wanita. Tingkat pengetahuan mahasiswa mengenai kanker serviks dan vaksinasi HPV masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan civitas akademika kesehatan dibandingkan non kesehatan tentang kanker serviks dan vaksinasi HPV di Sleman Yogyakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampel menggunakan teknik cluster random sampling untuk menentukan jurusan dan perguruan tinggi di Kabupaten Sleman. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner pada bulan Agustus - September 2016. Subjek penelitian terdiri dari civitas akedemika kesehatan 120 responden dan non kesehatan 80 responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Tingkat pengetahuan diolah secara deskriptif sedangkan perbedaan tingkat pengetahuan antara civitas akademika kesehatan dan non kesehatan dilakukan uji Mann Whitney. Sejumlah 8 (6,67%) responden kesehatan sudah melakukan vaksinasi HPV. Rata - rata tingkat pengetahuan civitas akademika bidang kesehatan lebih baik dibandingkan non kesehatan. Tingkat pengetahuan kategori baik terkait kanker serviks dan vaksinasi HPV untuk responden kesehatan berturut - turut 90(74,69%) dan 87 (72,22%) sedangkan non kesehatan berturut - turut 53 (66,41%) dan 52 (64,79%). Sebagian besar responden kesehatan (90,28%) dan non kesehatan (88,75%) memiliki persepsi positif terhadap vaksinasi HPV. Tingkat pengetahuan responden kesehatan mengenai kanker serviks dan vaksinasi HPV lebih baik dibandingkan responden non kesehatan, namun tidak berbeda signifikan secara statistik (p>0,05).
EFEK EKSTRAK ETANOL GANGGANG HIJAU (Ulva lactuca , L) TERHADAP EKSPRESI COX-2 MIOKARDIUM TIKUS YANG DIINDUKSI ISOPROTERENOL Wahyu Widyaningsih; Nina Salamah; Suwidjiyo Pramono; Sugiyanto Sugiyanto; Sitarina Widyarini
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16, No 2: September 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.479 KB) | DOI: 10.12928/mf.v16i2.12822

Abstract

Penyakit kardiovaskuler masih merupakan masalah di Indonesia salah satunya adalah Infark Miokardial Akut (IMA). Patofisiologis AMI karena rective oxigen spesies  (ROS) melibatkan stimulasi sitokin pro inflamasi salah satunya adalah  interleukin-1 yang berakibat peningkatan ekspresi COX-2. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek ekstrak etanol ganggang hijau dalam menurunkan ekspresi COX-2 pada tikus IMA yang diinduksi isoproterenol (ISO). Ekstraksi ganggang hijau dengan maserasi menggunakan etanol 96%. Tikus berat 200-250 g dibagi menjadi 6 kelompok masing-masing 6 ekor. Kelompok I kontrol, tikus tidak diberi ISO hanya diberi CMC Na, kelompok II kelompok ISO, tikus diberi CMC Na dan ISO, kelompok III, IV dan V tikus diberi ekstrak etanol ganggang hijau dosis 250, 500 dan 750 mg/KgBB peroral dan kelompok VI diberi melatonin 10 mg/KgBB. Perlakuan ekstrak selama 28 hari. Pada hari ke 29 dan 30 tikus diberi isoproterenol dosis 85 mg/KgBB selama 2 kali pemberian secara subkutan kecuali kelompok I. Pada hari ke 31 tikus diambil organ jantung kemudian dibuat preparat histologis dan dilakukan analisis ekspresi COX-2 dengan metode imunohistokimia dengan antibodi anti COX-2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol ganggang hijau dosis 250, 500 dan 750 mg/KgBB dapat menurunkan ekspresi COX-2 pada tikus yang diinduksi isoproterenol.
PERBANDINGAN DISPENSING TIME DAN PENGETAHUAN PASIEN BERDASARKAN INDIKATOR WHO DI PUSKESMAS KABUPATEN SLEMAN Diesty Anita Nugraheni; Nadia Pudiarifanti
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16, No 2: September 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.992 KB) | DOI: 10.12928/mf.v16i2.13988

Abstract

Pengetahuan pasien yang tidak memadai tentang obat yang diserahkan adalah hasil dari buruknya proses dispensing, misalnya seperti pemberian etiket, pemberian informasi obat dan dispensing time. Pengetahuan pasien yang memadai tentang obat saat mereka keluar dari fasilitas kesehatan adalah hal kritis dalam penerimaan kualitas informasi selama interaksi pasien dengan dokter dan apoteker. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan dispensing time dan tingkat pengetahuan pasien tentang obat di Puskesmas Ngemplak 1 dan Ngemplak 2 Kabupaten Sleman. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan metode cross-sectional. Populasi adalah pasien atau keluarga pasien yang mendapatkan obat di Unit Farmasi Puskesmas Ngemplak 1 dan 2 Kabupaten Sleman. Sampel dipilih menggunakan teknik systematic random sampling. Sumber data primer yaitu menghitung dispensing time dan wawancara terstruktur terkait pengetahuan serta karakteristik pasien dan petugas. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pasien Puskesmas Ngemplak 1 mempunyai persentase pengetahuan obat benar lebih banyak dibandingkan Ngemplak 2 terdiri dari nama obat, dosis obat, aturan pakai dan durasi atau lama penggunaan obat. Kesimpulan penelitian adalah rata-rata dispensing time di Puskesmas Ngemplak 1 adalah 62,58 detik dan Ngemplak 2 adalah 63,38 detik. Persentase tingkat pengetahuan pasien tentang obat pada kategori baik di Puskesmas Ngemplak 1 sebesar 65,38% dan Ngemplak 2 sebesar 43,08%.
ANALISIS COST OF ILLNESS DAN LAMA RAWAT INAP PADA PASIEN STEVENS JOHNSON SYNDROME DAN TOXIC EPIDERMAL NECROLYSIS DARI PERSPEKTIF RUMAH SAKIT DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Darwis Darwis; Dyah Aryani Perwitasari; Sri Awalia Febriana
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16, No 2: September 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.389 KB) | DOI: 10.12928/mf.v16i1.14642

Abstract

Stevens-Johnson Syndrom (SJS) dan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) merupakan suatu reaksi hipesensitivitas akut ditandai dengan nekrosis kutaneus dan masuk 10 besar efek samping terbanyak yang dilaporkan di Indonesia sebesar 3%. Banyaknya terapi dan lama perawatan diRumah sakit berdampak pada meningkatnya morbiditas, mortalitas dan biaya kesehatan. Tujuan dari penelitian inia adalah mengetahui cost of illness dan perbandingan lama rawat inap pada pasien SJS dan TEN akibat penggunaan obat dari perspektif rumah sakit. Design penelitian iniadalah cross sectional study dengan pengambilan data retrospektif. Data yang diambil adalah pasien yang terdiagnosa SJS dan TEN akibat penggunaan obat dan menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta selama periode tahun 2014-2018 sesuai kreteria inklusi daneksklusi. Sebanyak 48 pasien dilibatkan dengan diagnosa SJS sebanyak 41 pasien dan TEN sebanyak 7 pasien. Rata-rata total biaya pasien SJS sebesar Rp. 16.546.233,0224±16.091.819,01889, sedangkan untuk pasien TEN sebesar 14.356.586,2086 ± 6.645.740,75924. Rata-rata lama rawat inap pasien SJS (12,66±5,77 hari) dan TEN (13,29±3,03 hari). Tidak terdapat perbedaan signifikan rata-rata total biaya dan lama rawat inap antar pasien SJS dan TEN dimana nilai p > 0,05. SJS dan TEN tidak terdapat perbedaaan signifikan tetapi dapat menjadi beban biaya cukup tinggi dan peningkatan durasi lama rawat inap bagi pasien.

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 22 No. 2 (2025): September 2025 Vol. 22 No. 1: March 2025 Vol. 21 No. 2: September 2024 Vol. 21 No. 1: March 2024 Vol 20, No 2: September 2023 Vol. 20 No. 2: September 2023 Vol 20, No 1: March 2023 Vol. 20 No. 1: March 2023 Vol 19, No 2: September 2022 Vol. 19 No. 2: September 2022 Vol. 19 No. 1: March 2022 Vol 19, No 1: March 2022 Vol 18, No 2: September 2021 Vol. 18 No. 2: September 2021 Vol 18, No 1: Maret 2021 Vol. 18 No. 1: Maret 2021 Vol 17, No 2: September 2020 Vol. 17 No. 2: September 2020 Vol. 17 No. 1: Maret 2020 Vol 17, No 1: Maret 2020 Vol. 16 No. 2: September 2019 Vol 16, No 2: September 2019 Vol 16, No 1: Maret 2019 Vol. 16 No. 1: Maret 2019 Vol. 15 No. 2: September 2018 Vol 15, No 2: September 2018 Vol 15, No 1: Maret 2018 Vol 15, No 1 (2018) Vol. 15 No. 1: Maret 2018 Vol 14, No 2 : September 2017 Vol 14, No 2 : September 2017 Vol 14, No 1: Maret 2017 Vol. 14 No. 1: Maret 2017 Vol 14, No 1: Maret 2017 Vol 13, No 2: September 2016 Vol 13, No 2: September 2016 Vol. 13 No. 2: September 2016 Vol. 13 No. 1: Maret 2016 Vol 13, No 1: Maret 2016 Vol 13, No 1: Maret 2016 Vol 12, No 2: September 2015 Vol 12, No 2: September 2015 Vol. 12 No. 2: September 2015 Vol. 12 No. 1: Maret 2015 Vol 12, No 1: Maret 2015 Vol 12, No 1: Maret 2015 Vol 11, No 2: September 2014 Vol 11, No 2: September 2014 Vol. 11 No. 2: September 2014 Vol 11, No 1: Maret 2014 Vol 11, No 1: Maret 2014 Vol. 11 No. 1: Maret 2014 Vol. 10 No. 2: September 2013 Vol 10, No 2: September 2013 Vol 10, No 2: September 2013 More Issue