cover
Contact Name
Wahyu Wiji Astuti
Contact Email
ahyu_wiji@yahoo.com
Phone
+6281375372028
Journal Mail Official
wahyu_wiji@yahoo.com
Editorial Address
Medan tembung
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
BAHAS
ISSN : 24427594     EISSN : 24427594     DOI : https://doi.org/10.24114/bhs.v32i1
Jurnal BAHAS memuat kajian-kajian tentang bahasa, sastra, seni dan budaya. Jurnal ini dikelola oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan.
Articles 549 Documents
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Menganyam Dasar dengan Menggunakan Metode Demonstrasi di Kelas XI SMA Swasta Yayasan Perguruan Indonesia Membangun Namorambe Medan T.A 2012/2013. EVARIYANTI TARIGAN; MESRA MESRA
BAHAS No 85 TH 39 (2013): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i85 TH 39.2431

Abstract

Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMA Swasta Yayasan Perguruan Indonesia Membangun Namorambe Medan. Dari hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Seni Budaya, diketahui bahwa banyak siswa merasa bosan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Selain itu siswa tidak banyak berlatih untuk mengembangkan kreativitasnya, sehingga berpengaruh terhadap rendahnya aktivitas belajar siswa maupun hasil belajarnya. Faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar adalah karena guru menerapkan model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah. Pelajaran seni budaya lebih banyak muatan praktikum daripada kajian teori, sehingga kurang cocok kalau menggunakan metode ceramah dalam pengajarannya. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar menganyam dasar siswa kelas XI SMA Swasta Yayasan Perguruan Indonesia Membangun Namorambe Medan dengan menerapkan metode demonstrasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus. Subjek dalam penelitian PTK ini adalah siswa kelas XI IA di SMA Swasta Yayasan Perguruan Indonesia MembangunNamorambe Medan dengan jumlah siswa seluruhnya 30 orang, yang terdiri dari siswa laki-laki 12 orang dan siswa perempuan 18 orang. Setiap siklus memiliki tahapan Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, dan Refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Lembar Penilaian Siswa, Tes Unjuk Kerja, Lembar Observasi dan Dokumentasi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah terjadinya peningkatan hasil belajar. Pada siklus I rata-rata kelas mencapai 73,70, dengan siswa yang tuntas belajar 14 siswa (46,67%). Pada siklus II nilai rata-rata kelas mencapai 80,88. Siswa yang mengalami tuntas belajar adalah 24 siswa (80%). Penilaian terhadap karya anyaman siswa meliputi : Aspek pengukuran kertas pada siklus I 17 siswa (56,67%) yang tuntas, pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 25 siswa (83,33%) yang tuntas. Aspek pemotongan kertas pada siklus I 17 siswa (56,67%) yang tuntas, pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 25 siswa (83,33%) yang tuntas. Aspek ketepatan iratan pada siklus I 14 siswa (46,67%) yang tuntas, pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 24 siswa (80%) yang tuntas. Aspek finishing pada siklus I 11 siswa (36,67%) yang tuntas, pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 24 siswa (80%) yang tuntas.     Kata Kunci :Hasil Belajar, Menganyam Dasar, Metode Demonstrasi.
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA DI SEKOLAH Sanggup Barus
BAHAS No 76 TH 37 (2010): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i76 TH 37.2600

Abstract

IPTEKS terus berkembang sekarang ini. Pemerolehannya yang paling tepat dan relevan adalah melalui membaca pemahaman. Agar siswa tidak tertinggal dalam perkembangan-nya, peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa benar-benar diperlukan. Untuk itu, upaya yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan minat baca siswa, memberi motivasi kepada siswa, memilih strategi pembelajaran membaca yang relevan, dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.   Kata Kunci : Beberapa Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman
KATA MAJEMUK BAHASA INDONESIA SUATU KAJIAN LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL GENERATIF Basyaruddin Basyaruddin
BAHAS Vol 26, No 2 (2015): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v26i2.5549

Abstract

Morfologi adalah ilmu bahasa yang memperbincangkan proses pembentukan kata. Di dalam Bahasa Indonesia, ada tiga cara pengembangan pembentukan kata, yaitu afiksasi, reduplikasi dan komposisi. Komposisi sebagai unsur pembentukan kata lebih dikenal dengan pemajemukan atau kata majemuk. Pemajemukan adalah suatu proses pembentukan kata-kata baru dengan menggabungkan dua kata atau lebih. O’Grady dan Dobrovolsky (dalam Ba’dulu dan Herman, 2005:30)  mengatakan bahwa pemajemukan adalah suatu proses yang mencakup penggabungan dua kata (dengan atau tanpa afiks) untuk menghasilkan suatu kata baru. Konsep pemajemukan menurut ahli di atas inilah yang dikenal dengan nama kata majemuk.  Menurut Baeur (1983:201), cara yang biasa digunakan untuk mengkasifikasikan kata majemuk ialah berdasarkan fungsi yang dimainkannya dalam kalimat sebagai nomina, verba, adjektiva dan  sebagainya. Berdasarkan ujudnya yang terdiri dari dua kata, hampir  tidak dapat dibedakan antara kata mejemuk dengan frasa. Untuk itu di dalam tulisan ini dipaparkan analisis kata majemuk dalam bahasa Indonesia menurut kajian Linguistik Transformasional Generatif.   Kata Kunci: Kata Majemuk, Linguistik Transformasional Generatif
REPRESENTASI BYRONIC HERO DALAM NOVEL MARY SHELLEY FRANKENSTEIN KARYA MARY SHELLEY Bima Pranachitra
BAHAS Vol 29, No 1 (2018): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v29i1.11563

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penokohan Byronic Hero, menemukan representasi permasalahan dalam konteks sosial, politik,  dan budaya dalam  Novel Mary Shelley Frankenstein karya Mary Shelley. Serta pengaruh Romansa Gotik terhadap perubahan peradaban manusia berdasarkan teori dan pendekatan Postrukturalisme. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif. Data penelitian adalah novel Mary Shelley Frankenstein karya Mary Shelley dan sejumlah buku acuan. Teknik pengumpulan data dikumpulkan dengan teknik baca, simak dan catat. Teknik analisis data dilakukan dengan metode Analisis Konten menggunakan teori Dekonstruksi Derrida dan Pendekatan Arketaipal dalam tujuan untuk mengungkapkan makna tersembunyi di balik teks. Berdasarkan hasil analisis penokohan Byronic Hero diperoleh hasil bahwa penokokohan Victor Frankenstein, Robert Walton dan Sang Monster dalam novel Mary Shelley Frankenstein karya Mary Shelley menggambarkan penokohan yang banyak terlibat konflik batin dan berjiwa tak stabil, juga ditemukan berbagai representasi permasalahan dalam konteks sosial, politik, budaya yang terjadi dalam kehidupan. Maka dapat disimpulkan bahwa karya sastra Romansa Gotik seperti novel Mary Shelley Frankenstein karya Mary Shelley cenderung mengungkapkan permasalahan yang berkaitan dengan konteks sosial, politik, dan budaya yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dengan gambaran teror dan horor sebagai diskursusnya.
PERAN MOTIVASI, STRATEGI BELAJAR, DAN PERAN GURU DALAM BELAJAR BAHASA JERMAN Rina Eviyanti
BAHAS No 72TH XXXVI (2009): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i72TH XXXVI.2473

Abstract

Belajar bahasa Jerman bagi seseorang membutuhkan beberapa hal yang mendukung dalam proses belajar bahasa tersebut. Beberapa diantaranya adalah faktor motivasi, strategi belajar siswa, dan juga peran guru memegang peranan penting dalam mensuksekan seseorang dalam belajar. Bahasa  Jerman menempati kedudukan kuat dalam pengetahuan dan sastra. Jerman sebagai bahasa pengetahuan dan teknologi memainkan peran penting dalam penelitian dan pendidikan Terdapat  beberapa faktor yang berkaitan dalam mempelajari bahasa kedua dan hal ini terkait dengan pembelajar sebagai pelaku langsung dalam proses pembelajaran ini adalah motivasi. Kata Kunci: Motivasi, strategi belajar, peran guru, belajar bahasa Jerman
DRAMA : CLASSICAL VERSUS MODERN Ade Aini Nuran
BAHAS Vol 26, No 4 (2015): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v26i4.5625

Abstract

This study is aimed at explaining classical drama and modern drama in general. It is also purposed to compare the differences between classical drama and modern drama. One of the most significant contrasts between classical drama and modern is the difference in the protagonists.  Classical tragedy, for instance, involves royalty, the elite.  The idea was that for a character to have a great and far-reaching influence over society he/she had to be in a position of great power and authority. In contrast, modern drama often uses common people as protagonists. Modern drama no longer had its heroes, heroines and villains of days gone by—the subjects of the stories were now ordinary people one might meet any day on the street. Keywords: Drama, Classical, Modern
Eufemisme Bahasa Minangkabau Dialek Pariaman SYAMSUL BAHRI
BAHAS No 84 TH 38 (2012): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i84 TH 38.2328

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang penghalusan bahasa  yang merupakan ungkapan - ungkapan yang lebih santun dan sopan untuk menghindari pernyataan yang dirasakan kasar,yaitu mengenai Eufemisme Bahasa Minangkabau Dialek Pariaman.  Masyarakat Minangkabau termasuk Pariaman masih kuat berpegang teguh pada adat istiadat dan agama,hal ini memandu masyarakat tersebut memiliki sikap yang lebih santun dan  sopan dalam berbicara.Tatakrama dalam berbicara inilah yang disebut Langgam Kato.Pada Masyarakat Minang Pariaman,ditemui juga penggunaan penghalusan bahasa atau Eufemisme pada kata sapaan yang berhubungan dengan Kato Nan Ampek yang disesuaikan dengan tatakrama berbicara atau Langgam Kato yaitu Kato Mandaki (  yaitu kata sapaan yang digunakan kepada orang yang lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi ),Kato Manurun (yaitu kata sapaan  yang digunakan kepada orang yang lebih muda atau status sosialnya lebih rendah ),Kato Malereng (  yaitu kata sapaan yang digunakan kepada orang yang berada dalam posisi yang sama dan saling menghargai atau menghormati dalam suatu hubungan keluarga ) dan Kato Mandata (yaitu kata sapaan yang digunakan pada orang yang sebaya atau sama dari segi umur,status sosial dan hubungannya lebih dekat atau akrab). Pada bahasa Minangkabau dialek Pariaman ternyata ditemui juga jenis jenis Eufemisme menurut Allan and Burridge,yaitu ekspresi figuratif (figurative expression ),metafora ( metaphor ),Plipanci (flippancy),memodelkan kembali (remodeling ) ,sirkumlokasi ( circumlocutions ),satu kata untuk menggantikan kata lain ( one for one substitution ),Umum ke khusus ( general for specific ),hiperbola ( hyperbole),makna diluar pernyataan ( understatement),dan kolokial (colloquial ).Dengan adanya penghalusan bahasa ini tentu dapat memperkaya bahasa Minangkabau Dialek Pariaman yang lebih santun yang dapat terus berkembang dan dilestarikan dalam upaya pengembangan bahasa daerah yang dapat memperkaya bahasa nasional.
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA Muhammad Natsir
BAHAS Vol 30, No 1 (2019): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v30i1.16668

Abstract

Abstrak           Pemerolehan bahasa pertama adalah  segala kegiatan seseorang dalam rangka menguasai bahasa ibu. Pemerolehan bahasa kedua adalah proses yang disadari atau tidak disadari dalam rangka menguasai bahasa kedua setelah seseorang menguasai bahasa ibunya ; proses belajar itu dapat bersifat alamiah ataupun ilmiah. Pengertian kedwibahasaan tidak bersifat hitam atau putih , tetapi bersifat relatif kira-kira atau kurang lebih. Pengertian kedwibahasaan  merentang dari ujung yang paling  ideal, sampai keujung  yang minimal. Pendidikan kdwibahasaan sudah berlangsung sejak zaman Yunani. Pendidikan kedwibahasaan sampai saat ini berkembang terus dan dapat dipastikan berlangsung terus menerus pada masa-masa mendatang. Kontak bahasa yang terjadi didalam diri dwibahasa menyebabkan saling pengaruh antara B1 dan B2. Saling ini dapat terjadi pada setiap unsur bahasa ,seperti : fonologi,morfologi, dan sintaksis. Penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lainnya disebut transfer. Bila sistem yang digunakan bersamaan maka transfer itu disebut transfer positif. Transfer negatif lebih dikenal dengan istilah interferensi. Interferensi dapat diartikan sebagai penggunaan B2 sedangkan sistem tersebut tidak sama dalam kedua bahasa itu. Key words : Pemerolehan Bahasa, kedwibahasaan, B1dan B2, transfer.
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN BERBICARA Rafika Dewi Nasution
BAHAS No 81 TH 38 (2011): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i81 TH 38.2505

Abstract

Kemampuan dan keterampilan berbicara sangat diperlukan, karena berbicara adalah merupakan wujud dari aktifitas lisan dalam berkomunikasi. Kemampuan dan keterampilan berbicara perlu dikembangkan  melalui faktor-faktor  yang mempengaruhi efekifitas berbicara.   Kata kunci : berbicara
TVRI MEDAN, RRI MEDAN DAN TAMAN BUDAYA MEDAN SEBAGAI WADAH MUSIK ORKESTRA DI KOTA MEDAN Herna Hirza
BAHAS Vol 27, No 1 (2016): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v27i1.5685

Abstract

Mendengar kata musik orkestra bagi orang yang menggeluti dunia musik klasik memang sudah tidak asing lagi, tetapi bagi masyarakat awam tentu kata musik orkestra jarang mereka dengar bahkan ada yang tidak pernah mendengar. Penulis tertarik ingin menuliskan bagaimana masa-masa kejayaan musik orkestra di kota Medan. Seiring dengan berjalannya waktu kejayaan musik orkestra memudar bahkan menghilang digantikan oleh kelompok band, keyboard tunggal, duet, trio, perkusi,  dan berbagai jenis aliran musik lainnya yang lebih easy listening. Mempersiapkan kelompok musik orkestra bukanlah hal yang mudah, disamping membutuhkan banyak pemain, banyak alat musik, banyak dana, kedisiplinan pemain musik dan waktu latihan yang ketat, belum lagi berkurangnya pemain musik disebabkan meninggal dunia atau pindah rumah  beberapa hal inilah yang menjadi kendala menghilangnya musik orkestra di kota Medan yang dahulunya pernah mencapai puncak kejayaannya. TVRI, RRI dan Taman Budaya Medan adalah wadah yang sangat berjasa bagi perkembangan musik orkestra di Kota Medan. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan kemajuan zaman kini musik orkestra yang ada di TVRI, RRI dan Taman Budaya Medan sudah sangat berkurang keberadaannya bahkan bisa dikatakan menghilang. Sungguh sangat di sayangkan.   Kata Kunci: musik orkestra, TVRI Medan, RRI Medan, Taman Budaya Medan Pendahuluan

Filter by Year

2007 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 34, No 1 (2023): BAHAS Vol 33, No 4 (2022): BAHAS Vol 33, No 3 (2022): BAHAS Vol 33, No 2 (2022): BAHAS Vol 33, No 1 (2022): BAHAS Vol 32, No 4 (2021): BAHAS Vol 32, No 3 (2021): BAHAS Vol 32, No 2 (2021): BAHAS Vol 32, No 1 (2021): BAHAS Vol 31, No 4 (2020): BAHAS Vol 31, No 3 (2020): BAHAS Vol 31, No 2 (2020): BAHAS Vol 31, No 1 (2020): BAHAS Vol 30, No 4 (2019): BAHAS Vol 30, No 3 (2019): BAHAS Vol 30, No 2 (2019): BAHAS Vol 30, No 1 (2019): BAHAS Vol 29, No 4 (2018): BAHAS Vol 29, No 3 (2018): BAHAS Vol 29, No 2 (2018): BAHAS Vol 29, No 1 (2018): BAHAS Vol 28, No 4 (2017): BAHAS Vol 28, No 3 (2017): BAHAS Vol 28, No 2 (2017): BAHAS Vol 28, No 1 (2017): BAHAS Vol 27, No 4 (2016): BAHAS Vol 27, No 3 (2016): BAHAS Vol 27, No 2 (2016): BAHAS Vol 27, No 1 (2016): BAHAS Vol 26, No 4 (2015): BAHAS Vol 26, No 3 (2015): BAHAS Vol 26, No 2 (2015): BAHAS Vol 26, No 1 (2015): BAHAS Vol 25, No 4 (2014): BAHAS Vol 25, No 3 (2014): BAHAS No 89 TH XL (2014): BAHAS No 86 TH 39 (2013): BAHAS No 85 TH 39 (2013): BAHAS No 85 TH 37 (2012): bahas No 84 TH 38 (2012): BAHAS No 83 TH 38 (2011): BAHAS No 82 TH 38 (2011): BAHAS No 81 TH 38 (2011): BAHAS No 80 TH 38 (2011): BAHAS No 80 TH 37 (2011): BAHAS No 79 TH 37 (2010): BAHAS No 78 TH 37 (2010): BAHAS No 77 TH 37 (2010): BAHAS No 76 TH 37 (2010): BAHAS No 75TH XXXVI (2009): BAHAS No 74TH XXXVI (2009): BAHAS No 73TH XXXVI (2009): BAHAS No 72TH XXXVI (2009): BAHAS No 69TH XXXV (2008): BAHAS No 65TH XXXIV (2007): JURNAL BAHAS More Issue