cover
Contact Name
Wahyu Wiji Astuti
Contact Email
ahyu_wiji@yahoo.com
Phone
+6281375372028
Journal Mail Official
wahyu_wiji@yahoo.com
Editorial Address
Medan tembung
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
BAHAS
ISSN : 24427594     EISSN : 24427594     DOI : https://doi.org/10.24114/bhs.v32i1
Jurnal BAHAS memuat kajian-kajian tentang bahasa, sastra, seni dan budaya. Jurnal ini dikelola oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan.
Articles 549 Documents
An Approach to the Teaching of English in Indonesia WILLEM SARAGIH
BAHAS No 84 TH 38 (2012): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i84 TH 38.2342

Abstract

Due to its great role which is now globalizing, to be able to communicate in English well is a dream of all people over the world, including Indonesians. However, it is not easy for non-English people to learn the language, especially for those whose native language is so greatly different in terms of the pronunciation, spelling, and grammatical features. For Indonesian people, generally, English is not easy to learn that efforts to facilitate he learners’ English language acquisition have been made from time to time for example by changing or evaluating the English Curriculum, the teaching methods, etc. Until now, there has not been a single method or technique known to be truly effective and efficient to use in teaching the language to the Indonesian students. This article presents some views which need considering for the success of the learning of English in Indonesia. That intrinsic learning motivation which results from self-awareness of the English language great role in everyone’s study or career is advisable to be possessed by the learners is one main factor for their good success in learning the language. Therefore, it should be socialized to the children as early as possible. In learning the English words, the teacher should familiarize the students with how every word is used in context, not in isolation as words actually do not carry clear meanings in isolation. The meaning of a word is determined by its context, so it should be contextually studied. The aspects of grammar to he dealt with also should be based on the dominant grammatical mistakes in the sentences made by the learners so as to arouse their curiosity and interest in acquiring the language. The outdated thinking that one who is using English at public places is regarded as showing off or conceited, and the language should be used only in the classroom or at certain occasions, should be eradicated now since it hampers language acquisition.
PERSONIFIKASI DALAM TEKS “PEREMPUAN DI PINGGIR DANAU” DAN PENERJEMAHANNYA Siti Kudriyah
BAHAS Vol 30, No 3 (2019): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v30i3.17174

Abstract

Abstract Literary works comprise an expressive textual type whose dimensions are aesthetic, in which the author expresses his words and thoughts in a creative and artistic ways. In a translation, the literary text must convey this aesthetic form. Thus, the translation of literary works means changing, reducing, or supplementing the original in order to translate the translated work appropriately into the target language of the text. The text "Frauen am Rande der See" is the translation of the opera drama " Perempuan di Pinggir Danau”. The text “Frauen am Rande der See” is a story that also addresses nature in particular. Therefore, there are many expressions that present  the effect of beauty through the means of personification and artistically describe the atmosphere. The aim of this study is to cover the translation of the personification of Bsu/SL  (Indonesian) into Bsa/ TL (German)  in the drama. Other, the used translation strategies into Bsa is discussed. Based on the analysis, the personification is translated by two approaches, which are appropriate without change, and the context of meaning is adapted by applying transposition and modulation strategies. In particular, when translating literary texts, grammatical adjustments, additional information and explanations are used to provide an adequate translation and to take into the beauty of the written language.Keywords: personification, translation, source language (SL), target language (TL)
SENI KERAJINAN CENDERAMATA SEBAGAI SENI WISATA BERBASIS SENI ETNIS BATAK GUNA MENDUKUNG KEPARIWISATAAN DI SUMATERA UTARA Wahyu Tri Atmojo
BAHAS No 74TH XXXVI (2009): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i74TH XXXVI.2519

Abstract

Salah satu komponen pengeluaran komunitas wisatawan adalah untuk belanja seni kerajinan cenderamata. Mereka menghendaki seni kerajinan cenderamata yang memiliki ciri khas dan hasil karya masyarakat setempat. Masyarakat setempat masih menjunjung tinggi terhadap benda-benda tradisional yang diyakini memiliki kekuatan magis. Komunitas wisatawan menghendaki seni kerajinan cenderamata yang berbasis tradisional dan sumber daya masyarakat setempat itu terjadi akulturasi sehingga muncul seni kerajinan cenderamata yang disebut sebagai seni wisata (tourist art) yang di dalamnya mencerminkan lima ciri khusus. Artikel ini merupakan implementasi hasil penelitian Hibah Bersaing Tahun Pertama. Pelaksanaan penelitian tahun pertama ditempuh melalui tiga tahap, yakni identifikasi, klasifikasi, dan eksplanasi. Tahap I adalah mengidentifikasi data yang telah dikumpulkan berkaitan dengan ornamen dan benda pakai tradisional di lima etnis Batak. Tahap ke II adalah mengklasifikasi terhadap jenis ornamen dan benda pakai tradisional etnis Batak. Tahap ke III adalah memberikan penjelasan secara komprehensip dan menentukan jenis ornamen maupun benda pakai tradisional etnis Batak sebagai bahan acuan merumuskan model seni kerajinan cenderamata sebagai seni wisata untuk mendukung kepariwisataan di Sumatera Utara.   Kata Kunci: Seni kerajinan cenderamata, seni wisata, dan seni etnis Batak
KESENYAPAN (SILENCE) DALAM PERCAKAPAN BAHASA JERMAN Ahmad Bengar Harahap
BAHAS No 82 TH 38 (2011): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i82 TH 38.2543

Abstract

Dalam kaidah percakapan, ajasensi atau pasangan bersesuaian dirumuskan dalam peristiwa tutur atau peristiwa berbahasa untuk aktivitas-aktivitas yang diatur oleh norma-norma pengguna percakapan. Salah satu peristiwa berbahasa itu dapat di bentuk dalam sebuah pola pasangan yang disebut dengan bentuk kesenyapan (silence). Kesenyapan dalam percakapan berkaitan dengan urutan sisipan (insertion sequence) yang tujuannya sebagai bentuk penundaan penyampaian maksud atau tujuan dalam berbahasa. Demikian juga dengan bahasa Jerman, secara umum memiliki struktur percakapan dan kaidah kesenyapan yang dapat di analisis dalam wacana-wacana percakapan jerman. Kata kunci : Kesenyapan, Pasangan Bersesuaian.
Peer Reviewer : MORFOLOGI GENERATIF: SUATU TINJAUAN TEORETIS Zainuddin Zainuddin
BAHAS No 84 TH 38 (2012): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i84 TH 38.3092

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini berkenaan dengan ihwal teoretis morfologi generatif dalam proses pembentukan kata dan pendekatanya dalam proses morfofonemik bahasa Gayo (BG). Teori Morfologi Generatif model Halle (1973), menyatakan  satuan-satuan dasar leksikon adalah ”morfem” dan menurut leksikalis Aronoff berpendapat bahwa ”kata” adalah dasar semua derivasi. Menurut Halle dalam analisis proses morfofonemik terdiri dari empat subkomponen yang saling terpisah: 1) Daftar Morfem, 2) Kaidah Pembentukan Kata, 3) Saringan, 4) Kamus. Dalam DM semua morfem diidentifikasikan ke dalam kategori-kategori tertentu, yakni dua kategori utama atau kelas utama: 1) Kata pangkal (Kp) dan Afiks, dan 2) Kata pangkal bebas atau kata pangkal terikat. Seperti nomina pangkal, verba pangkal dan adjektiva pangkal. Dalam komponen kedua kaidah pembentukan kata (KPK) bagaimana morfem-morfem di susun dalam gugus tertentu untuk membentuk kata-kata baru dalam hal ini proses morfofonemik untuk menghasilkan kata yang berterima dan yang tidak berterima. Dalam komponen filter menanggani proses pembentukan kata secara fonologis, morfologis dan sintaksis dan penurunan kata dari bentuk struktur asal menjadi struktur lahir dalam proses morfofonemik. Pada komponen kamus merupakan komponen terakhir model morfologi generatif untuk menghimpun kata-kata yang telah melalui filter. Pendekatan analisis teori morfologi generatif dalam proses morfofonemik BG menunjukkan bahwa terdapat rumusan struktur asal (SA) dan struktur lahir (SL) dalalm proses morfofonemik dan kaidah morfofonologis yaitu : (a) kaidah pelesapan fonem nasal  Velar /n/ dengan ciri-ciri [+nasal,-anterior,-koronal,+bersuara]. (b) kaidah asimilasi fonem nasal Velar /ŋ/ dan pelesapan konsonan hambat velar /k/ dengan ciri-ciri [+nasal,-anterior, dan –koronal].   Kata Kunci : Morfologi Generatif, Teoretis.
DIGITALISASI TABU "REBU" DALAM MASYARAKAT BATAK KARO SEBAGAI MATERI DARING PEMBELAJARAN DEUTSCH FUR TEURISMUS Surya Masniari Hutagalung; Bella Kristin Alleminaita Pelawi
BAHAS Vol 31, No 4 (2020): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v31i4.21856

Abstract

ABSTRAK
FILSAFAT JAWA DALAM NOVEL-NOVEL KUNTOWIJOYO Muharrina Harahap
BAHAS Vol 28, No 3 (2017): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v28i3.10075

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguraikan filsafat Jawa dalam novel-novel Kuntowijoyo. Ketiga novel itu adalah  Pasar (P), Mantra Pejinak Ular (MPU), serta Wasripin dan Satinah (WdS).Novel-novel Kuntowijoyo ini merupakan gambaran bagi orang yang tidak mengenal  kenyataan “ada” dengan tidak menjalankan atau mencari pengetahuan, maka dari segi etikanya orang akan  memiliki budi pekerti rendah, demikian sebaliknya. Jadi,  jelaslah bahwa antara metafisika, epistemologi, dan aksiologi dalam  filsafat Jawa masing-masing tidak dapat berdiri sendiri. Ketiga  bidang itu merupakan segi yang tidak terpisahkan dalam gerak usaha manusia menuju kesempurnaan. Dapatlah dirumuskan, dengan memakai analogi filosofi Yunani, filsafat Jawa berarti cinta kesempurnaan (the love of perfection). 
HUBUNGAN PENGETAHUAN KEBUDAYAAN PRANCIS DAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN KETERAMPILAN MENULIS BAHASA PRANCIS. Siti Renggo Geni ZEN
BAHAS No 69TH XXXV (2008): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i69TH XXXV.2438

Abstract

  The research was intended to determine the relationship between (1) The Knowledge of French Cultural and the Ability of Writing French, (2) the Reading Comprehension Mastery and the Ability of Writing French and (3) the Knowledge of French Cutural with the Reading Comprehension Mastery and the Ability of Writing French. The result of the research indicate positive correlation between (1) the Knowledge of French Cultural and th Ability of Writing French, (2) the Reading Comprehension Mastery and the Ability of Writing French and (3) the Knowledge of French Cultural with the Reading Comprehension Mastery and the Ability of Writing French.     Kata Kunci : Pengetahuan Kebudayaan, Membaca Pemahaman, Keterampilan Menulis
PENGAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA MELALUI KAJIAN SASTRA Asti Purbarini; Amalia Saleh
BAHAS No 77 TH 37 (2010): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i77 TH 37.2605

Abstract

Berkembangnya pendekatan komunikatif pada tahun 80 an berdampak pad pengajaran bahasa Prancis sebagai bahasa asing. Karya sastra dianggap sebagai sumber belajar bahasa karena karya sastra merupakan komunikasi antara pengarang dan pembaca. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memerikan pengajaran keterampilan berbahasa melalui kajian sastra. Karya sastra berupa teks berbentuk puisi, prosa dapat dijadikan materi belajar bahasa untuk meningkatkan keterampilan berbahasa. Sebuah karya sastra baik itu berupa puisi maupun prosa dapat dijadikan sumber belajar bahasa melalui tahap kegiatan belajar  yang terdiri dari Memahami (Comprendre), Menganalisa (Analyser) dan Menulis (Ecrire). Melalui kegiatan Memahami (Comprendre), mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan pemahamannya terhadap wacana lisan dan tertulis. Kemampuan menganalisa wacana terdapat pada kegiatan Menganalisa (Analyser). Pada tahap ini bukan saja kemampuan kebahasaan, seperti kemampuan tata bahasa, kosa kata, kemampuan berbicara dapat ditingkatkan namun kemampuan untuk mengapresiasi sebuah karya sastra sebagai salah satu bentuk komunikasi dapat ditingkatkan. Tugas kepada mahasiswa berupa permintaan untuk membuat  rangkuman (resume), mentransformasi sebuah wacana deskriptif menjadi wacana narasi merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilaksanakan pada tahap Menulis (Ecrire). Tahap Menulis (Ecrire) merupakan muara dari seluruh keterampilan berbahasa.   Kata Kunci : keterampilan berbahasa, karya sastra, komunikasi
MULTIFUNGSI KATA ‘TOUT’ DALAM BAHASA PRANCIS Pengadilen Sembiring
BAHAS Vol 26, No 2 (2015): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v26i2.5557

Abstract

Kosa kata dan sistem tata bahasa Prancis memiliki keunikan dan kesederhaan yang tidak dimliki oleh bahasa-bahasa lainnya di dunia. Keunikan dan kesederhanaan kosa kata dan sistem tata bahasa tersebut dapat dilihat melalui keberadaan beberapa kata yang memiliki bentuk ortograf yang sama namun memiliki fungsi yang berbeda ketika kata tersebut digunakan dalam sebuah kalimat. Salah satu kata yang multifungsi tersebut adalah ‘tout’. Tout dalam bahasa Prancis dapat berfungsi sebagai, adjektiva, pronomina atau adverbia. Untuk dapat memahami multifungsi yang dimiliki oleh kata ‘tout’ tersebut, dalam tulisan ini akan dijelaskan secara gamblang mengenai kata tersebut.   Kata Kunci: Tout, adjektiva,  adverbia dan  pronomina.

Filter by Year

2007 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 34, No 1 (2023): BAHAS Vol 33, No 4 (2022): BAHAS Vol 33, No 3 (2022): BAHAS Vol 33, No 2 (2022): BAHAS Vol 33, No 1 (2022): BAHAS Vol 32, No 4 (2021): BAHAS Vol 32, No 3 (2021): BAHAS Vol 32, No 2 (2021): BAHAS Vol 32, No 1 (2021): BAHAS Vol 31, No 4 (2020): BAHAS Vol 31, No 3 (2020): BAHAS Vol 31, No 2 (2020): BAHAS Vol 31, No 1 (2020): BAHAS Vol 30, No 4 (2019): BAHAS Vol 30, No 3 (2019): BAHAS Vol 30, No 2 (2019): BAHAS Vol 30, No 1 (2019): BAHAS Vol 29, No 4 (2018): BAHAS Vol 29, No 3 (2018): BAHAS Vol 29, No 2 (2018): BAHAS Vol 29, No 1 (2018): BAHAS Vol 28, No 4 (2017): BAHAS Vol 28, No 3 (2017): BAHAS Vol 28, No 2 (2017): BAHAS Vol 28, No 1 (2017): BAHAS Vol 27, No 4 (2016): BAHAS Vol 27, No 3 (2016): BAHAS Vol 27, No 2 (2016): BAHAS Vol 27, No 1 (2016): BAHAS Vol 26, No 4 (2015): BAHAS Vol 26, No 3 (2015): BAHAS Vol 26, No 2 (2015): BAHAS Vol 26, No 1 (2015): BAHAS Vol 25, No 4 (2014): BAHAS Vol 25, No 3 (2014): BAHAS No 89 TH XL (2014): BAHAS No 86 TH 39 (2013): BAHAS No 85 TH 39 (2013): BAHAS No 85 TH 37 (2012): bahas No 84 TH 38 (2012): BAHAS No 83 TH 38 (2011): BAHAS No 82 TH 38 (2011): BAHAS No 81 TH 38 (2011): BAHAS No 80 TH 38 (2011): BAHAS No 80 TH 37 (2011): BAHAS No 79 TH 37 (2010): BAHAS No 78 TH 37 (2010): BAHAS No 77 TH 37 (2010): BAHAS No 76 TH 37 (2010): BAHAS No 75TH XXXVI (2009): BAHAS No 74TH XXXVI (2009): BAHAS No 73TH XXXVI (2009): BAHAS No 72TH XXXVI (2009): BAHAS No 69TH XXXV (2008): BAHAS No 65TH XXXIV (2007): JURNAL BAHAS More Issue