cover
Contact Name
Wahyu Wiji Astuti
Contact Email
ahyu_wiji@yahoo.com
Phone
+6281375372028
Journal Mail Official
wahyu_wiji@yahoo.com
Editorial Address
Medan tembung
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
BAHAS
ISSN : 24427594     EISSN : 24427594     DOI : https://doi.org/10.24114/bhs.v32i1
Jurnal BAHAS memuat kajian-kajian tentang bahasa, sastra, seni dan budaya. Jurnal ini dikelola oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan.
Articles 549 Documents
TEACHING ENGLISH LITERACY TO CHILDREN Ariatna Ariatna
BAHAS Vol 26, No 3 (2015): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v26i3.5589

Abstract

The topic of literacy is of special interest among language scholars and educators. Again and again the discussion returns to the question of how to best teach literacy. Despite the controversy over the methods of teaching literacy, the contemporary literature on literacy repeatedly describes teachers as having the power to make a change. This paper discusses what teachers need to know about teaching literacy and how to do the teaching to children. Key Words: Literacy, Teacher, Written Language, Oral Language
TERJEMAHAN MAKNA ISTILAH BUDAYA PADA SUBTITLE BAHASA INGGRIS FILM SOEKARNO Cut Mayang Purnama Sari; Umar Mono; Syahron Lubis
BAHAS Vol 29, No 3 (2018): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v29i3.12215

Abstract

The translator makes a semantic adjustment as well as possible to complete the translation in translating the original meaning of SL into TL. The semantic adjustment is considered as semantic shifts. The shift of meaning occurs when there is a semantic gap caused by some cultural and conceptual differences between SL and TL. This research is a qualitative descriptive research using objective data in the form of a cultural terms contained in the subtitle of Soekarno's film. The cultural terms in the form of spoken language of Indonesian as the source language are translated into the form of English subtitle as a target language is qualified tobe a research as a product. There are 19 cultural terms (70,3%) data from 27 cultural terms as research data in SL which have specific meaning are dominantly translated into general meaning in  TL. Then, there is 2 (7.4%) data as generic – specific translation. And 6 (22,2%) data as spefic – specific translation. The translation is considered good, but the specific meaning of the SL cultural terms are conveyed only partially.
ANALISIS TEKS NARASI CERITA RAKYAT “ASAL MULA DANAU TOBA” PENGADILEN SEMBIRING
BAHAS Vol 25, No 4 (2014): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v25i4.2494

Abstract

Pada dasarnya dalam sebuah teks judul biasanya ditulis pada bagian paling atas, atau tengah teks dengan tidak dibubuhi tanda baca. Namun ada judul-judul teks yang ditulis dengan disertai tanda baca. Kemudian judul juga terkadang diletakkan di bawah judul atas atau judul rubrik. Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa analisis tentang para-teks juga penting dilakukan dalam melakukan analisis wacana.   Atas dasar ini penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang teks narasi baik dari segi para-teks, skematika, konteks, dan realisasi aksi dan reaksi wacana yang bergenre narasi yang dalam hal ini merupakan teks cerita rakyat yang berasal dari masyarakat Toba Sumatera Utara. Dengan melakukan pengkajian secara menyeluruh, peneliti dapat membantu pemahaman mahasiswa mengenai analisis wacana dengan teori Linguistik Sistemik Fungsional, tetapi juga memajukan karya sastra Indonesia melalui penggunaan sumber data cerita rakyat asal mula "Danau Toba".
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF ROUND TABLE TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA JERMAN Linda Aruan
BAHAS Vol 27, No 3 (2016): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v27i3.5673

Abstract

Model pembelajaran round table adalah pembelajaran kooperatif, yang dapat membangun semangat dan kerjasama di dalam kelompok dan melatih mahasiswa dalam menggabungkan tulisan. Model pembelajaran ini sama dengan diskusi pada umumnya. Akan tetapi diskusi kelompok dalam model pembelajaran tipe model round table meminta mahasiswa untuk lebih fokus pada pemecahan masalah. Mahasiswa dapat memecahkan masalah lebih mudah dengan  bersama-sama mengumpulkan ide mereka.   Kata Kunci: Model Pembelajaran round table
GURU BAHASA INDONESIA, GURU SASTRA ATAU SASTRAWAN MENGAJARKAN SASTRA TIURNALIS SIREGAR
BAHAS No 69TH XXXV (2008): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i69TH XXXV.2370

Abstract

Karya Sastra merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan dan menjadikan siswa berbudi luhur.  Namun, pengajaran sastra di sekolah menjadi permasalahan akibat tidak adanya guru sastra yang dapat mengajarkannya terutama di sekolah-sekolah yang berlokasi di daerah. Jika sastrawan yang mengajarkan sastra sebagai produsen karya sastra  tidak mungkin karena mereka belum tentu mampu untuk membangkitkan dan, membimbing, dan mengarahkan siswa mencintai sastra. Oleh karena itu, guru bahasa yang sesuai  untuk mengajarkan sastra karena guru bahasa sudah menguasai kaidah-kaidah bahasa dimana bahasa merupakan media yang digunakan sastrawan dalam menghasilkan karnya sastra. Tetapi guru bahasa itu harus lah guru bahasa yang profesional yang  mencintai sastra, mampu mengapresiasi sastra dan memiliki teknik-teknik dan strategi pengajaran sastra. Kata Kunci : guru bahasa Indonesia, guru sastra, sastrawan
UTILISATIONDES VIDEOS DANS LA CLASSE DU FLE Pengadilen Sembiring
BAHAS Vol 30, No 4 (2019): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v30i4.18571

Abstract

Il est sans appel que l’utilisation des vidéos dans la classe du FLE soit recommandée. Cette recommandation provient de ses avantages précieux sur l’acquisition langagière des apprenants. Pourtant, il y a un risque d’intrusion dans l’atteinte des objectifs pédagogiques si les supports utilisés ne s’y appliquent pas de manière exacte. En vue d’éviter cette inefficacité, dans cet article les enseignants trouveront les critères de sélection des vidéos, les types des outils à exploiter, le déroulement de l’exploitation, et les sites Internet à visiter non seulement dans la préparation des cours mais aussi à utiliser dans la classe avec les apprenants. Mots clés : Classe du FLE, Vidéo.
KEEFEKTIFAN METODE PENGAJARAN MEMBACA DAN MENULIS (MMP) (STUDI DESKRIPTIF TERHADAP PENGALAMAN GURU-GURU KELAS SATU SEKOLAH DASAR) Nasrun Adil
BAHAS No 75TH XXXVI (2009): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i75TH XXXVI.2526

Abstract

Setiap pengajaran di sekolah formal melibatkan siswa, guru, tujuan, materi, fasilitas, dan cara guru menyampaikan pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Cara guru menyampaikan pelajaran ini lazim disebut metode pengajaran. Tujuan pengajaran membaca dan menulis permulaan adalah supaya anak dapat membaca dan menulis. Membaca dalam arti menyuarakan lambang atau bunyi bahasa sebelum membaca untuk memahami makna yang dibaca. Menulis dalam arti menggambar atau menuliskan gambar atau bunyhi bahasa sebelum menulis mengungkapkan pikiran atau perasaan. Dalam hal pengajaran membaca dan menulis permulaan dikenal berbagai metode pengajaran untuk pencapaian tujuannya, yaitu: metode abjad/huruf, metode bunyi (lazim disebut metode Eja), metode kata, metode suku kata, dan metode global (kalimat). Yang terakhir inil (metode kalimat) dikenal pula dengan metode SAS. Semua metode ini tentu mempunyai kebaikan dan kelemahan. Guru yang berpengalaman menerapkannya tentu dapat memberi reaksi untuk mengatakan ada metode yang efektif di antaranya. Untuk mengetahui hal itu dilakukan penelitian terhadap guru-guru SD yang pernah dan mempunyai pengalaman mengajarkan membaca dan menulis permulaan di kelas satu di semua SD yang ada di Kecamatan Talawi, Kab. Batubara yang berjumlah 44 orang. Data penelitian ini diperleh melalui wawancara terhadap guru-guru SD yang dijadikan sumber data Setelah adata dianalisis diketahui metode pengajaran MMP yang efektif menurut responden adalah metode Eja. Sebanyak 81,25% responden mengatakan mereka terus menggunakan metode Eja, karena mereka mendapatkan hasil pembelajaran lebih baik atau anak lebih cepat dapat membaca dan menulis. Dengan demikian hasil penelitian ini menyatakan metode Eja lebih efektif daripada metode lain dalam pengajaran MMP sesuai pengalaman guru-guru  responden penelitian ini.     Kata Kunci : Keefektifan, metode, pengajaran, membaca dan menulis permulaan
IDENTIFIKASI BAKAT SENI ANAK DAN TAHAPANNYA DALAM PENERAPAN TEORI LOWENFELD Azmi Azmi
BAHAS Vol 28, No 1 (2017): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v28i1.10271

Abstract

Melihat antusiasme anak-anak dalam melukis atau menggambar tidak bisa diragukan lagi bahwa anak dalam kondisi apapun, mereka pasti menyukai dunia coret-coret ini. Maka diharapkan para seniman, guru dan para mahasiswa seni rupa mau dan peduli serta bisa mengidentifikasi persoalan bakat seni anak dan tahapannya. Selanjutnya ikut merencanakan bahan-bahan kajian yang berkaitan dengan permasalahan pendidikan seni rupa anak di lembaga formal maun informal. Mahasiswa senirupa  untuk segera melakukan penelitian persoalan bakat seni anak sebagai salah satu alternatif penyelesaian tugas akhir atau skripsinya. Lewat tulisan ini mencoba gagasan untuk membuka wawasan pemecahan masalah bakat seni anak dan tahapannya terutama berkaitan dengan  upaya penerapkan teori Lowenfeld. Pemiihan pendekatan teori ini berdasarkan ada kesesuaian perkembangan usia anak dengan segala potensi yang mereka miliki, kurang mendapat porsi yang seimbang antara spritual, intelektual, fisik dan sosialnya.Teori Lowenfeld ini juga bisa mengungkapkan sejauhmana keempat hal di atas bersinergi dengan pengawasan lembaga terkait di mulai dari TK hingga PT. Sehingga ada pembinaan bakat seni anak terutama masa “golden age/usia emas” tidak terhambat atau tidak terlaksana karena tak teecantum dalam kurikulum endidikan senirupa. Melalui penelitian ini telah didapat bahwa ada cara identifikasi  bakat seni anak yakni penerapan teori Lowenfeld dan para ahli, serta melalui pengamatan hasil karya yang dihasilkan dari penerapan teori tersebut. Kata Kunci: identifikasi, bakat seni anak, tahapan, penerapan dan   teori Lowenfeld.
PENDEKATAN PENGAJARAN KOSAKATA BAHASA ASING Marice Marice
BAHAS No 69TH XXXV (2008): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i69TH XXXV.2406

Abstract

Seseorang yang mempelajari bahasa asing tidak akan mampu melakukan komunikasi dalam bahasa asing yang dipelajarinya tanpa penguasaan kosakata yang baik.Memiliki kosakata yang memadai dan bisa digunakan untuk berkomunikasi bukan suatu hal yang gampang. Salah satu permasalahan yang sering dihadapi pembelajar bahasa asing terkait dengan penguasaan kosakata seperti apa yang diungkapkan Johson (2001) adalah apa yang disebut dengan kolokasi (collocation), yaitu cara penggunaan kata-kata secara bersama-sama yang benar sesuai dengan konvensi yang ada. Terdapat beberapa pendekatan untuk mengajarkan kosakata baru dengan baik yang bisa dijadikan landasan dalam pengajaran bahasa asing, yaitu belajar secara jaringan, belajar dengan mengaktifkan semua indera, belajar secara individual.Pengajaran kosakata juga harus dengan latihan-latihan yang tepat , antara lain latihan identifikasi, substitusi, melengkapi, perluasan, dan transformasi. Sementara itu terdapat bentuk alternative lain dalam proses belajar pengajaran kosakata, yaitu penyampaian kosakata dengan table, pencatatan di buku catatan, kartu kosakata, dan peta konsep (mind map).   Kata Kunci : strategi pengajaran kosakata, tekni-tenik pengajaran kosa kata.  
POHON PISANG SEBAGAI IKON BUDAYA VISUAL DALAM ADAT ISTIADAT DI KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA, TINJAUAN TERHADAP MAKNA DAN PERUBAHANNYA Mesra Mesra
BAHAS No 82 TH 38 (2011): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v0i82 TH 38.2550

Abstract

Ikon budaya visual dari setiap suku bangsa atau etnis bervariasi bentuk dan maknanya. Makna yang terkandung di dalamnya hanya berlaku bagi warga komunal pendukungnya sendiri. Kekayaan budaya visual tradisional ini pantas dijaga kelestariannya sebagai wawasan pengetahuan bagi generasi penerus, mengenai budaya masa lalu sebagai tolok ukur keperibadian Bangsa. Pada umumnya artefak budaya masa lalu adalah berupa benda-benda mati, namun ada keunikan pada budaya Kabupaten Padang  Lawas Utara, dimana artefaknya berupa tumbuhan pisang yang bisa terus bertambah jumlahnya (berkembang biak). Makna yang terkandung dari pohon pisang Sitabar adalah pisang yang memiliki manfaat sangat besar dalam kehidupan manusia, mulai dari akar, batang, daun, tangkai daun, buah, tangkai buah, serat batang dan sebagainya bermanfaat. Kehidupan pohon pisang sitabar menjadi tauladan dalam kehidupan manusia pada kelompoknya. Pohon pisang sekali saja berbuah seumur hidup, sesudah itu dia mati, makna bagi manusia adalah hanya sekali menikah seumur hidup. Pisang berkembang biak, menambah manfaat yang semakin banyak bagi manusia. Maka diharapkan keluarga yang baru menikah juga melahirkan anak-anak yang bermanfaat bagi orang banyak. Sekarang terjadi perubahan maknya, penanaman pohon pisang di depan rumah pengantin baru adalah pertanda itu adalah pesta besar, yaitu ditandai dengan pemotongan hewan kurban (Lembu/Sapi)   Kata kunci : Ikon budaya visual, Pisang sitabar, Perubahan Makna.

Filter by Year

2007 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 34, No 1 (2023): BAHAS Vol 33, No 4 (2022): BAHAS Vol 33, No 3 (2022): BAHAS Vol 33, No 2 (2022): BAHAS Vol 33, No 1 (2022): BAHAS Vol 32, No 4 (2021): BAHAS Vol 32, No 3 (2021): BAHAS Vol 32, No 2 (2021): BAHAS Vol 32, No 1 (2021): BAHAS Vol 31, No 4 (2020): BAHAS Vol 31, No 3 (2020): BAHAS Vol 31, No 2 (2020): BAHAS Vol 31, No 1 (2020): BAHAS Vol 30, No 4 (2019): BAHAS Vol 30, No 3 (2019): BAHAS Vol 30, No 2 (2019): BAHAS Vol 30, No 1 (2019): BAHAS Vol 29, No 4 (2018): BAHAS Vol 29, No 3 (2018): BAHAS Vol 29, No 2 (2018): BAHAS Vol 29, No 1 (2018): BAHAS Vol 28, No 4 (2017): BAHAS Vol 28, No 3 (2017): BAHAS Vol 28, No 2 (2017): BAHAS Vol 28, No 1 (2017): BAHAS Vol 27, No 4 (2016): BAHAS Vol 27, No 3 (2016): BAHAS Vol 27, No 2 (2016): BAHAS Vol 27, No 1 (2016): BAHAS Vol 26, No 4 (2015): BAHAS Vol 26, No 3 (2015): BAHAS Vol 26, No 2 (2015): BAHAS Vol 26, No 1 (2015): BAHAS Vol 25, No 4 (2014): BAHAS Vol 25, No 3 (2014): BAHAS No 89 TH XL (2014): BAHAS No 86 TH 39 (2013): BAHAS No 85 TH 39 (2013): BAHAS No 85 TH 37 (2012): bahas No 84 TH 38 (2012): BAHAS No 83 TH 38 (2011): BAHAS No 82 TH 38 (2011): BAHAS No 81 TH 38 (2011): BAHAS No 80 TH 38 (2011): BAHAS No 80 TH 37 (2011): BAHAS No 79 TH 37 (2010): BAHAS No 78 TH 37 (2010): BAHAS No 77 TH 37 (2010): BAHAS No 76 TH 37 (2010): BAHAS No 75TH XXXVI (2009): BAHAS No 74TH XXXVI (2009): BAHAS No 73TH XXXVI (2009): BAHAS No 72TH XXXVI (2009): BAHAS No 69TH XXXV (2008): BAHAS No 65TH XXXIV (2007): JURNAL BAHAS More Issue