cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
KEKUATAN TRIPLE HELIX DALAM USAHA PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI PERAJIN BAMBU DI KERTAYASA, MANDIRAJA, BANJARNEGARA, JAWA TENGAH Retno Purwandari
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.822 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2664

Abstract

Triple helix is the power of a synergy between academics, business people, and the government. These powers seeded as one way to maximize have been potential fields regions throughout Indonesia. One program that describes force triple helix is Program Kemitraan Masyarakat (PKM) of ristekdikti. PKM have done 2017 from the volunteers of Art Institute Indonesia Yogyakarta is ”IbM Usaha Kerajinan Bambu ”D’Bantar Bamboo Craft” dan ”Ali’s Bamboo Craft” di Desa Kertayasa, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara”. PKM done it has various program aimed to improve the quality and the production of bamboo. This program has been implemented because bamboo in this village is one of the pillars of the government in improving the welfare of the village community Kertayasa, Banjarnegara. These programs are to be given priority to: a). The development of design product, b). Diversified products, c). The procurement of production machine, and d). Provisions for management.Training and participation partner who directly involved is right methods and profitable for the government and partner, as by means of like this partner felt responsible for himself and the government in managing local potential. Hence, as broad outline focused training to: a). Training design making, b). Training deversified products, c). Task of procuring, and d). Training in management. A whole these activites having the main target, among others in the form of: expertise make a design, products craft bamboo, efficient technology to, and energy skilled. Thus, problems partner would gradually handled well. Keywords: Triple Helix, PKM (Program Kemitraan Masyarakat), bamboo craft, Banjarnegara Triple Helix merupakan kekuatan sinergi antara akademisi, pebisnis, dan pemerintah. Kekuatan ini sangat diunggulkan sebagai salah satu cara untuk memaksimalkan potensi-potensi daerah di seluruh Indonesia. Salah satu program yang menggambarkan kekuatan triple helix ini ialah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Ristekdikti. PKM yang telah terlaksana tahun 2017 ini dari para pengabdi ISI Yogyakarta ialah ”IbM Usaha Kerajinan Bambu ”D’Bantar Bamboo Craft” dan ”Ali’s Bamboo Craft” di Desa Kertayasa, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara”. PKM yang telah terlaksana ini melakukan berbagai program kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas dan percepatan produksi bambu. Program ini dilaksanakan karena bambu di desa ini merupakan salah satu pilar pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Kertayasa, Kabupaten Banjarnegara. Program-program tersebut diprioritaskan pada: a). Pengembangan Desain Produk, b). Diversifikasi Produk, c). Pengadaan Mesin Produksi, serta d). Pembekalan Manajemen.Pelatihan dan Partisipasi mitra yang terlibat langsung merupakan metode yang tepat dan menguntungkan bagi pemerintah dan mitra, karena dengan cara seperti ini mitra merasa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan pemerintah dalam mengelola potensi lokal. Pelatihan difokuskan pada: a). Pelatihan Pembuatan Desain, b). Pelatihan Diversifikasi Produk, c). Pengadaan Alat, dan d). Pelatihan Manajemen. Keseluruhan kegiatan tersebut memiliki target utama, antara lain berupa: keahlian membuat desain, produk kerajinan bambu, teknologi tepat guna, dan tenaga terampil. Dengan demikian, persoalan mitra secara perlahan akan teratasi dengan baik.  Kata Kunci : Triple Helix, PKM (Program Kemitraan Masyarakat)), kerajinan bambu, Banjarnegara
PENCIPTAAN PRODUK BATIK ECO FRIENDLY DENGAN TEMA KENDARAAN TRADISIONAL KHAS YOGYAKARTA PIT ONTHEL (SEPEDA KAYUH) SEBAGAI UPAYA PENGUATAN INDUSTRI KREATIF KERAKYATAN DAN PARIWISATA Sugeng Wardoyo; Isbandono Hariyanto; Titiana Irawani
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1069.802 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i1.2776

Abstract

This article has title “Design of Eco Friendly Batik Products with traditional vehicle Pit Onthel (bicycle) theme as effort Yogyakarta Folk Creative Industry and Tourism. Yogyakarta city known called as bicycle city, because it was many people used to ride bicycle as traditional vehicle beside andong and becak. Recently has changed habit in use transportation models. Eco friendly batik products which is used natural dyes or non synthetic dyes. This product suitable to be applied, because it has high price, at the same time reduces the negatife impact of environment. So that Design of eco friendly batik products is an positive inovation, because demand of batik products also getting increase. Keywords: eco friendly, creative batik, natural dyes, traditional vehicle  Artikel ini berjudul “Desain Produk Batik Ramah Lingkungan dengan tema kendaraan tradisional Pit Onthel (sepeda) sebagai upaya Industri Kreatif dan Pariwisata Rakyat Yogyakarta. Kota Yogyakarta dikenal dengan sebutan kota sepeda, karena sudah banyak orang mengendarai sepeda sebagai kendaraan tradisional di samping andong dan becak. Baru-baru ini telah mengubah kebiasaan dalam menggunakan model transportasi. Produk batik ramah lingkungan yang digunakan pewarna alami atau pewarna non sintetis. Produk ini cocok untuk diterapkan, karena memiliki harga tinggi, sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Sehingga Desain produk batik ramah lingkungan adalah inovasi positif, karena permintaan produk batik juga semakin meningkat. Kata kunci: ramah lingkungan, batik kreatif, pewarna alami, kendaraan tradisional
BATIK TULIS PADANG LAMUN (PADANG LAMUN SEBAGAI SUMBER IDE PERANCANGAN BATIK TULIS UNTUK SELENDANG SUTRA) Andina Febrasari; Felix Ari Dartono; Ratna Endah Santoso
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.987 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2683

Abstract

Seagrass bads is a variety of flora that lives on the sea coast. The objective of this project is to produce a new visual alternative for silk batik scarfs by visualizing Seagrasses bads which live under water; its illusion of motion, dimensions, and biodiversity. This research use design method consist of exploration process, extraction, and termination are described in four operational steps i.e. analysis, concept, visualization, and prototypes. The design is directed at new creative batik for premium products. The result was a silk batik scarfs made by Lorodan batik technique which was able to produce illusory effects and layered images which would offer a new visual sensation, differentiation, and novelty. Keywords: Seagrass Bads, batik tulis, silk scarf Padang Lamun merupakan keanekaragaman flora yang hidup di pesisir laut. Tujuan penelitian ini adalah memberikan alternatif visual baru desain batik tulis untuk selendang sutra dengan mengolah visual Padang Lamun yang hidup terendam air, ilusi gerak, dimensi, dan ragam biota. Penelitian ini menggunakan pendekatan desain yang terdiri atas proses eksplorasi, ekstraksi, dan titik terminasi yang dijabarkan dalam empat langkah operasional, yakni analisis, konsep, visualisasi, dan tes produk. Desain diarahkan pada batik kreasi baru untuk produk premium. Hasilnya berupa desain selendang sutra menggunakan teknik batik tulis Lorodan yang mampu menghasilkan efek ilusi dan bayangan, sehingga memberikan sensasi visual baru, diferensiasi, dan kebaharuan. Kata Kunci : Padang Lamun, batik tulis, selendang sutra
TRIBAWANA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI BATIK Ernawati Ernawati
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.29 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2648

Abstract

The purpose of this research is to find out the meaning and function of the Tribawana concept in the process of creating batik art and the creative process of creating batik art. The method used in this research is descriptive qualitative method with a Case Study approach at the Babaran Segaragunung Cultural House. The results of this study indicate that Tribawana is three dimensions of nature, namely microcosm, macrocosm and creative sources. The creative process with the Tribawana concept is a process of reviving Javanese cultural traditions. The implementation of the Tribawana concept in the creative process at the Babaran Segaragunung Cultural House consists of an understanding process in the form of shared knowledge and practice or practice. Visualization of Semen batik as an example of batik image which contains elements of the universe. Keywords: Tribawana, Creative Process, Cement Batik Image  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna dan fungsi konsep Tribawana dalam proses berkarya seni batik dan kegitan proses kreatif penciptaan karya seni batik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Studi Kasus di Rumah Budaya Babaran Segaragunung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tribawana merupakan tiga dimensi alam, yaitu Mikrokosmos, Makrokosmos dan sumber kreatif. Proses kreatif dengan konsep Tribawana merupakan proses penyadaran kembali kepada tradisi budaya Jawa. Pelaksanaan Konsep Tribawana dalam proses kreatif di Rumah Budaya Babaran Segaragunung terdiri atas proses pemahaman dalam bentuk pengetahuan dan latihan bersama atau praktik. Visualisasi batik Semen sebagai contoh citra batik yang di dalamnya mengandung unsur tiga jagad. Kata kunci:  Tribawana, Proses Kreatif, Citra Batik Semen
BUSANA KULIT Hanitawati, Setyo Indah
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v8i1.3093

Abstract

Eksplorasi Busana dan Aksesories Kulit dengan Motif Tokoh Wayang Sembadra.
PENCIPTAAN SENI KRIYA LOGAM KREATIF DENGAN MEMANFAATKAN LIMBAH ONDERDIL KENDARAAN Irawani, Titiana; Hartono, Budi
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v8i2.2795

Abstract

Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas dan ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang dilaksanakan bertujuan untuk memanfaatkan limbah onderdil kendaraan yang berupa skrup, baut, rantai, gir, blog mesin, dan lain-lain menjadi sebuah karya kriya logam yang kreatif-inovatif. Selain itu juga untuk meningkatkan nilai tambah secara ekonomis, dari semula limbah yang umumnya dijual murah dengan harga kiloan, menjadi produk seni kriya yang memiliki nilai artistik dengan harga yang tinggi. Produk yang diciptakan adalah produk-produk fungsional atau home decorative. Kata Kunci: kriya logam, kreatif, limbah onderdil
YOUTH, CARVING AND DIGITAL MEDIA Bambang Kartono Kurniawan
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.192 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i1.2689

Abstract

Wood carver from Jepara have been known as craftsmen who have ability to make creation art carve smooth wood and beautiful results from every his engraving. Generally his expertise owned on a non-formal inherited on a down hereditary from one senior generation to generation. All along it is change social, economic, and culture   the community increasingly a little found young engraver in Jepara, who pursue and continue expertise art carve. Many factors that cause reduced interest young generation to continue expertise art tradition carve, But, in some year engraver village Sukodono districts Jepara, started to use of technology digital media marketing for introduce art tradition carve. Through technology digital media, art tradition carve could easy introduced for circles generation millennial. This study aim for knowing how some engraver in the village Sukodono Jepara make use of digital media for art tradition carve, so it could sustainable, and permanent in demand for circles  young generation. Method research used were: studies literature, study case, and observation on the perpetrator directly from community art carve village Sukodono in the district Jepara. This research will do two stage. First stage: from research is do mapping the young engraver, with case studies on engraver wood in the village Sukodono. Second stage is observation, interview and documentation art tradition carve wood engraver village Sukodono, This research expected  produce recommendation study art carve wood   in effort preservation art tradition and bring impact positive for the community. Keywords: digital media, tradition, wood carving   Pengukir kayu dari Jepara sudah sejak lama dikenal sebagai  perajin yang memiliki kemampuan membuat karya seni ukir kayu yang halus dan indah dari setiap hasil pekerjaannya ukirannya.  Pada umumnya keahliannya dimiliki secara non formal yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi senior ke hingga generasi lebih muda. Saat ini, seiiring adanya perubahan sosial, ekonomi, dan budaya  masyarakat semakin sedikit dijumpai pengukir muda di Jepara yang menekuni dan meneruskan keahlian seni tradisi ukir. Banyak faktor yang menyebabkan berkurangnya  minat generasi muda melanjutkan keahlian seni tradisi ukir,  Namun demikian,  dalam beberapa tahun dijumpai pengukir desa sukodono kabupaten Jepara yang memulai memanfaatkan teknologi pemasaran digital media untuk memperkenalkan seni tradisi ukir. Melalui pemanfaatan teknologi digital media seni tradisi ukir dapat mudah diperkenalkan bagi kalangan generasi milenial.  Penelitian seni tradisi ukir ini  bertujuan untuk mengetahui bagaimana beberapa pengukir di desa Sukodono Jepara memanfaatkan media digital agar seni tradisi ukir masih dapat lestari, berkelanjutan dan tetap diminati bagi kalangan generasi muda. Metode penelitian yang digunakan antara lain yaitu:  studi literatur, studi kasus, dan observasi pada pelaku langsung dari komunitas seni ukir desa Sukodono di kabupaten Jepara. Penelitian ini akan dilakukan dua tahap. Tahap pertama dari penelitian adalah melakukan pemetaan para  pengukir usia muda dengan melakukan studi kasus pada pengukir kayu di desa sukodono. Tahap kedua adalah melakukan observasi, wawancara dan pendokumentasian seni tradisi ukir kayu pengukir desa Sukodono. Diharapkan penelitian ini menghasilkan rekomendasi  kajian seni ukir kayu  dalam upaya pelestarian seni tradisi dan membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Kata kunci : digital media, tradisi, ukiran kayu
KAJIAN ESTETIKA MOTIF BATIK GIRILAYU KABUPATEN KARANGANYAR Sugeng Wardoyo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.086 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2676

Abstract

Batik craft is a one choice of big part of Girilayu regions, beside to be farmer as theirs main works. The existence of Girilayu batik has influenced from Surakarta batik style, especially influence from Mangkunegaran royal palace, in motifs, technics, and colouring. Surakarta batik style with soft colour, dark blue, dark brown, and yellow white, at the side of Mangkunegaran batik has design style similar with Surakarta batik, but has different in colour i.e. yellow and dark brown dominant. From motif aspect mangkunegaran batik has more creative than Surakarta batik. These motifs are introduced in Girilayu and to be developed and also continues in new era. This research aims in aesthetics mainly in motif which resulted in this area, i.e. relevance with structure and style in art. Keywords: batik aesthetics, Girilayu batik, batik structure, batik style Pekerjaan membatik merupakan pilihan bagi sebagian besar masyarakat Girilayu, di samping bertani sebagai mata pencaharian utama. Keberadaan batik Girilayu mendapat pengaruh dari batik Surakarta, khususnya Keraton Mangkunegaran, baik berupa motif, teknik pembatikan, dan pewarnaan. Motif batik Keraton Surakarta mempunyai ciri khas antara lain dari warna yang cenderung lembut, biru kehitaman, merah kecoklatan, dan krem, sedangkan batik Keraton Mangkunegaran memiliki gaya desain seperti batik Keraton Surakarta pada umumnya, tetapi ciri khas warnanya cenderung warna kuning dan soga yang lebih dominan. Dari segi motifnya batik Mangkunegaran memiliki motif yang lebih kreatif dibandingkan batik Keraton Surakarta karena keragaman dari motif yang dihasilkan. Motif-motif batik inilah yang kemudian diperkenalkan pada masyarakat Girilayu dan dikembangkan serta dilestarikan sesuai dengan perkembangan zaman. Penelitian ini menekankan pada aspek estetika utamanya dari motif yang dihasilkan daerah tersebut, yaitu berkaitan dengan aspek struktur dan gaya. Kata Kunci: estetika batik, batik Girilayu, struktur batik, gaya batik
PERANCANGAN PERHIASAN BERBAHAN PEWTER Budi Hartono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.519 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2666

Abstract

The use of tin as natural wealth in Indonesia for jewelry is not well known. White tin mixed with copper and antimony metal turns out to be a material that is visually appealing. In general, the materials used as jewelery in Yogyakarta, especially Kotagede are silver, brass and copper. White tin which is widely available in Indonesia can actually be used as an art product. Craftsmen prefer to use metals, such as silver, copper and brass. Generally, tin is used as a metal connecting material, whereas the white tin can be used as jewelry if mixed with antimony and copper in certain quantities. With a more affordable price, if it has become a well-worked art product, it will open up employment opportunities for the wider community. Direct observation and experimentation are the right methods in designing this product, through stages: a) Surveying, b) Synthesis, c) Design development, d) Evaluation will get comprehensive and near perfect data. Because in that way the community is no longer awkward to use quality pewter. The main reason pewter is attractive is that although the metal is not considered a precious metal, it is mixed with copper and antimony when it is almost the same color as silver. As a jewelry material, pewter has an attractive appearance. With a touch of contemporary design, it will add value to the material. Key Word : design, pewter, jewelry  Pemanfaatan timah putih sebagai kekayaan alam di Indonesia untuk bahan perhiasan belum cukup dikenal. Timah putih yang dicampur dengan logam tembaga dan antimonium ternyata bisa menjadi bahan perhiasan yang menarik secara visual. Secara umum, material yang dipakai sebagai bahan perhiasan di Yogyakarta, khususnya Kotagede adalah perak, kuningan, dan tembaga. Timah putih yang banyak terdapat di Indonesia sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi produk seni. Perajin lebih suka memanfaatkan logam, seperti perak, tembaga, dan kuningan. Umumnya, timah dijadikan bahan penyambung logam, padahal timah putih tersebut bisa dimanfaatkan menjadi bahan perhiasan apabila dicampur antimonium dan tembaga dalam takaran tertentu. Dengan harga yang lebih terjangkau, apabila sudah menjadi produk seni yang digarap dengan baik, akan membuka peluang kerja bagi masyarakat luas. Pengamatan langsung dan eksperimen merupakan metode yang tepat dalam perancangan produk ini, melalui tahapan: a) Survei, b) Sintesis, c) Pengembangan desain, d) Evaluasi akan diperoleh data yang komprehensif dan mendekati sempurna. Sebab dengan cara seperti itu masyarakat tidak canggung lagi untuk menggunakan pewter yang berkualitas. Alasan utama pewter menarik adalah jenis logam tersebut meskipun dianggap bukan jenis logam mulia, namun logam ini apabila dicampur dengan tembaga dan antimon akan memiliki warna yang hampir sama dengan perak. Sebagai material perhiasan, pewter memiliki penampilan yang menarik. Dengan sentuhan desain yang kekinian, akan menambah nilai material tersebut. Kata Kunci: perancangan, pewter, perhiasan
ELING PIWELING Wulandari, Tri
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v8i2.3094

Abstract

Kata mutiara Jawa menjadi piweling atau pesan-pesan yang diingat, diresapi, dan diimplementasikan dalam kehidupan bagi masyarakat Jawa. Kata mutiara Jawa diwujudkan dalam tulisan aksara Jawa di atas media kain panjang. Pada kain pertama, menyampaikan pesan ati suci marganing rahayu mengingatkan kita bahwa hati yang suci adalah jalan keselamatan. Kain kedua, aja panasten mengingatkan kita untuk menjadi orang yang tidak sering panas hati karena rasa iri dan dengki. Kain ketiga, janma tan kena kinira kinaya napa mengingatkan kita bahwa manusia itu tidak dapat diterka maupun diduga.