cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Estetika Lokal Pohon Pala (Myristica Fragrans Houtt) dalam Inovasi Batik Kontemporer Motif Palawan Cahyani, Isma Awal
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.13951

Abstract

ABSTRACTInnovation of batik motifs is a form of 'local wisdom' that is displayed. Its actualization when being able to study the historical background, expression, techniques to explore local wisdom in an effort to develop creativity in creating new symbols. A batik craftsman from Sukabumi founded the first batik production house, in 2014 the craftsman created a batik motif inspired by nutmeg which is a native Indonesian spice plant that grows well and is of high quality in Sukabumi. This article raises the topic of the creation of the Palawan batik motif carried out by craftsmen by raising the aesthetic potential of the nutmeg tree, the fuli/nutmeg seed has a unique line, then the craftsman processes the form into the visual Palawan motif. Craftsmen apply the concept of local aesthetics in the process of composing batik motif patterns/ compositions, including aesthetic terminology in Sundanese including shape, color, naming, expression to the composition pattern of the mandala/kacu in the Sundanese aesthetic concept. Uniqueness can be found in the application of an understanding in the creation of cultural objects. The factors that influence it also vary, ranging from the geographical location of a region, customs, beliefs and other objects of wisdom. The approach used is a qualitative descriptive case study. The study focuses on producing an exposition of the description and narrative of visual elements of contemporary Palawan motif batik and a description of local aesthetics (Sundanese) applied by craftsmen in the process of creating contemporary Palawan motif batik. The selection of nutmeg material objects as an idea for developing batik motifs in Sukabumi has gone through a process of in-depth study carried out by craftsmen. An artist (craftsman) must have a bias in creating a work of art, so that it produces a visual provocation in a positive way towards a certain thing or goal. ABSTRAKInovasi motif batik merupakan bentuk dari ’kearifan lokal’ yang ditampakan. Aktualisasinya ketika mampu mempelajari latar belakang sejarah, ekspresi, teknik untuk menggali kearifan lokal dalam upaya mengembangkan kreativitas dalam menciptakan simbol baru. Seorang pengrajin batik asal Sukabumi mendirikan rumah produksi batik pertama, pada tahun 2014 pengrajin menciptakan motif batik yang terinspirasi dari buah pala yang merupakan tanaman rempah asli Indonesia yang tumbuh dengan baik dan berkualitas di Sukabumi. Tulisan ini mengangkat topik mengenai penciptaan motif batik Palawan dilakukan oleh pengrajin dengan mengangkat potensi estetika dari pohon pala, bagian fuli/biji pala memiliki salur yang unik, kemudian pengrajin mengolah bentuk tersebut ke dalam visual motif Palawan. Pengrajin menerapkan konsep estetika lokal dalam proses menyusun pola/komposisi motif batik, diantaranya terdiri dari peristilahan estetika dalam bahasa Sunda meliputi bentuk, warna, penamaan, ekspresi hingga pola komposisi mandala/kacu dalam konsep estetika Sunda. Kekhasan dapat ditemukan pada penerapan sebuah pemahaman dalam penciptaan benda budaya. Faktor yang mempengaruhinya juga berbeda-beda, mulai dari keadaan letak geografis suatu wilayah, adat istiadat, kepercayaan dan objek kearifan lainnya. Pendekatan yang digunakan merupakan studi kasus yang bersifat deskriptif kualitatif. Studi difokuskan untuk menghasilkan paparan mengenai deskripsi dan narasi elemen visual batik kontemporer motif Palawan dan uraian estetika lokal (Sunda) yang diterapkan pengrajin dalam proses penciptaan batik kontemporer motif Palawan. Pemilihan objek material pala sebagai ide pengembangan motif batik di Sukabumi sudah melalui proses pendalaman yang dilakukan oleh pengrajin. Seorang pelaku seni (pengrajin) harus memiliki keberpihakan dalan menciptakan sebuah karya seni, sehingga menghasilkan sifat provokasi visual dalam hal positif terhadap suatu hal atau tujuan tertentu.
Inovasi Seni Tatah Timbul Kulit Sapi Pada Produk Fungsional di UMKM Geoge Leather Yogyakarta Priyono, Rohmad Eko; Novilasari, Ima; Rahmawati, Junende
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.14757

Abstract

This research aims to raise the embossed inlay technique applied to functional products made by Geoge Leather Yogyakarta MSMEs. The embossed inlayment technique produced by Geoge Leather Yogyakarta MSME products is one of the innovative products that is the hallmark of the Geoge Leather Yogyakarta Brand DNA. Embossed inlaid products as one of the leather craft arts prioritize hand skills (handicraft) by paying attention to aesthetic and functional values. Through qualitative research with artistic research methods that discuss practice-based research that produces knowledge and technical understanding of embossed inlays applied to plant-based tanned leather media that has not been widely applied to leather industry products that produce bags, shoes, jackets, etc. The identity of Geoge Leather products is not only in terms of technical creation, but also motif designs that raise the local wisdom of the archipelago's culture such as puppets, batik, dance visuals, and so on as part of product innovation that becomes the identity or Brand DNA of the UMKM.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengangkat teknik tatah timbul yang diterapkan pada produk fungsional karya UMKM Geoge Leather Yogyakarta. Teknik tatah timbul hasil produk UMKM Geoge Leather Yogyakarta sebagai salah satu produk inovasi yang menjadi ciri khas dari Brand DNA Geoge Leather Yogyakarta. Produk-produk tatah timbul sebagai salah satu karya seni kriya kulit mengutamakan keterampilan tangan (handicraft) dengan memperhatikan nilai estetika dan fungsionalitas. Melalui penelitian kualitataif dengan metode penelitian artistic yang membahas tentang penelitian berbasis praktik yang menghasilkan pengetahuan dan pemahaman teknis tatah timbul diterapkan pada media kulit samak nabati yang belum banyak diterapkan pada produk industry kulit penghasil tas, sepatu, jaket, dsb. Identitas produk Geoge Leather tidak hanya dari segi teknis penciptaannya, namun juga desain motif yang mengangkat kearifan lokal budaya Nusantara seperti wayang, batik, visual tarian, dan lain sebagainya sebagai bagian dari inovasi produk yang menjadi identitas atau Brand DNA UMKM tersebut. 
Pembuatan Obi Modifikasi Berbahan Crinoline dengan Aplikasi Bordir Sholekah, Andawiyah Fatikhatus; Arifiana, Deny
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.10081

Abstract

The purpose of this research is to find out how the process of making obi made of crinoline with embroidery applications, and find out the results of making obi made of crinoline with embroidery applications. This study uses the method of creation of work which is divided into four stages. The first is the pre-design stage. Second, the design stage. Third, the embodiment stage. Fourth, the presentation stage. This research resulted in the process of making obi made of crinoline starting from making designs, making patterns, laying patterns and cutting materials, sewing. The process of making embroidery applications begins with making designs, working on embroidery applications by embroidery craftsmen, cutting embroidery applications according to the design. The process of applying the embroidery application to the obi made from crinoline begins with laying the embroidery application, then installing the embroidery application using a sum stitch with the help of a needle and string thread. The finished result of making an embroidery application on a crinoline obi is not in accordance with the source of ideas and designs that have been made.ABSTRAKTujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan obi berbahan crinoline dengan aplikasi bordir, dan mengetahui hasil pembuatan obi berbahan crinoline dengan aplikasi bordir. Penelitian ini menggunakan metode penciptaan karya yang terbagi menjadi empat tahap. Pertama yaitu tahap pra-perancangan. Kedua, tahap perancangan. Ketiga, tahap perwujudan. Keempat, tahap penyajian. Penelitian ini menghasilkan proses pembuatan obi berbahan crinoline dimulai dari pembuatan desain, pembuatan pola, peletakan pola dan memotong bahan, menjahit. Proses pembuatan aplikasi bordir dimulai dengan pembuatan desain, pengerjaan aplikasi bordir oleh pengrajin bordir, pemotongan aplikasi bordir sesuai dengan desain. Proses penerapan aplikasi bordir pada obi berbahan crinoline dimulai dengan peletakan aplikasi bordir, lalu pemasangan aplikasi bordir dengan menggunakan tusuk sum dengan alat bantu jarum dan benang senar. Hasil jadi pembuatan aplikasi bordir pada obi berbahan crinoline kurang sesuai dengan sumber ide dan desain yang telah dibuat.
Modifikasi Hanbok dengan Kain Songket Motif Nampan Perak Wijaya, Rekha Nurani; Astuti, Astuti Astuti
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.10782

Abstract

AbstractHanbok (한복) Hanbok is a traditional Korean clothing consisting of Jeogori (jacket) and Chima (skirt) / Baji (pants). Generally, Hanbok is only used on big celebration days or festivals. However, Hanbok is still used as daily clothing for Korean people who still live in traditional villages such as Chunghak-dong on Mount Jiri. Hanbok is made of hemp fabric which is neatly woven and of high quality. The characteristics of the cloth used to make Hanbok have similarities with songket cloth. Songket is a traditional handwoven fabric. In general, songket is woven with gold and silver threads. The songket motif used is a nampan perak motif. The nampan perak motif depicts the glory and obedient attitude of the princes and priyayi to their leader (Sultan). Therefore, the purpose of making this dress is to produce a fashion product that is rich in cultural values. The method used is the method of observation, literature study, as well as observation and problem solving.AbstrakHanbok (한복) Hanbok merupakan pakaian tradisional masyarakat Korea yang terdiri dari Jeogori (jaket) dan Chima (rok) / Baji (celana). Umumnya Hanbok hanya digunakan pada hari perayaan besar atau festival saja. Namun, Hanbok masih digunakan sebagai pakaian sehari hari masyarakat Korea yang masih tinggal di desa-desa tradisional seperti Chunghak-dong di gunung Jiri. Hanbok dibuat dengan kain rami yang ditenun rapi serta memiliki kualitas yang tinggi. Karakteristik kain yang digunakan untuk membuat Hanbok memiliki kesamaan dengan kain songket. Kain songket merupakan kain tenun tradisional yang ditenun dengan tangan. Pada umumnya kain songket ditenun dengan benang berwarna emas dan perak. Motif kain songket yang digunakan adalah motif nampan perak. Motif nampan perak menggambarkan kejayaan dan sikap patuh para pangeran dan priyayi kepada pimpinannya (Sultan). Maka dari itu, tujuan pembuatan busana ini adalah menghasilkan satu produk busana yang kaya akan nilai budaya. Metode yang digunakan adalah metode observasi, studi literature, serta pengamatan dan pemecahan masalah.
Penerapan Aplikasi Bordir Bermotif Naga Dan Burung Phoenix Pada Crinoline Gaun Choengsam Azifah, Ni'matul; Arifiana, Deny
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.10086

Abstract

AbstractThis study aims to find out how the finished process of applying dragon and phoenix patterned embroidery applications to crinoline cheongsam dresses, and to find out the results of applying dragon and phoenix patterned embroidery applications to crinoline cheongsam dresses. This study uses the method of creation of work which is divided into four stages. The first is the pre-design stage. Second, the design stage. Third, the embodiment stage. Fourth, the presentation stage. This research resulted in the process of applying embroidery with dragon and phoenix motifs to the cheongsam crinoline dress starting from making the design, making and cutting the pattern, sewing the main material, sewing the crinoline by providing trim with tile cloth, attaching the crinoline to the cheongsam dress by tucking it tightly, then giving Embroidered patches with dragon and phoenix motifs by sewing using strings. The finished result is the application of embroidery with dragon and phoenix motifs on the crinoline cheongsam dress according to the design that has been made. With the characteristic selection of yellow color with dragon aAnd phoenix embroidery, it really describes the characteristics of Chinese Dress.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses dari penerapan aplikasi bordir bermotif naga dan burung phoenix pada crinoline dress cheongsam, dan mengetahui hasil penerapan aplikasi bordir bermotif naga dan burung phoenix pada crinoline dress cheongsam. Penelitian ini menggunakan metode penciptaan karya yang terbagi menjadi empat tahap. Pertama yaitu tahap pra-perancangan. Kedua, tahap perancangan. Ketiga, tahap perwujudan. Keempat, tahap penyajian. Penelitian ini menghasilkan proses penerapan aplikasi bordir bermotif naga dan burung phoenix pada crinoline dress cheongsam dimulai dari membuat desain, membuat dan memotong pola, menjahit bahan utama, menjahit crinoline dengan memberikan lis dengan kain tile, memasangkan crinoline pada dress cheongsam dengan dijelujur rapat, kemudian memberikan aplikasi bordir tempel bermotif naga dan burung phoenix dengan cara disum menggunakan senar. Hasil jadi penerapan aplikasi bordir bermotif naga dan burung phoenix pada crinoline dress cheongsam sesuai dengan desain yang telah dibuat. Dengan pemilihan karakteristik warna kuning dengan bordiran naga dan burung phoenix sangat menggambarkan karakteristik dari chinese dress.
Pembuatan Kertas Daur Ulang dari Kertas Bekas, Ampas Tebu dan Kulit Buah Naga sebagai Alternatif Kertas Seni Rahmi, Hijratur; Oktayanti, Yetty
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.11084

Abstract

AbstractPembuatan kertas seni menggunakan kertas bekas, amaps kulit tebu, dan kulit buah naga merupakan salah satu bentuk pemanfaatan limbah organik untuk menghasilkan benda bernilai seni dan bernilai jual. Berdasarkan kandungannya, ampas tebu yang kaya kandungan selulosa dapat menjadi bahan utama selain kertas bekas dalam pembuatan kertas seni. Penelitian ini menggunakan metode Practice based research melalui percobaan langsung dengan mengikuti empat tahapan penciptaan karya yaitu tahapan eksplorasi, perencanaan, perwujudan dan evaluasi. Berdasarkan metode praktikum secara fisika ini didapatkan hasil bahwa kertas yang dihasilkan memiliki tekstur lebih kasar dan bercorak serta kulit buah naga tidak dapat memberikan pengaruh terhadap warna kertas. Pada pembuatan kertas seni , dibutuhkan analisa terhadap beberapa aspek seperti aspek teknik pembuatan, bahan, estetis, dan fungsi. 
Aksara Mandailing sebagai Motif Batik pada Kemeja Harahap, Mai Yusnanda; Yanuarmi, Dini; Prastawa, Wisnu
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.10612

Abstract

AbstractMandailing script is one of the cultural heritage relics of the Mandailing people handed down by ancestors in the form of ancient writing. Mandailing scriptas an idea of creation on batik shirts is a work to raise the local value of the Mandailing people’s wisdom. The concept of creating this work departs from the Mandailing script as a motif on batik shirts. The script that’s applied to the shirt inthe form of the introduction of the induk surat (ina ni surat) and anak surat of the will then be arranged vertically, horizontally and zigzag vertically as sentences in the form of advice in Mandailing. The theoretical basics used in realizing work is form, function, motive, color and aesthetics. The method of creation includes the stages of exploration, design and materialization. The materials used are mori primissima and remasol dyes. The techniques used in the creation of works are batiktulis and sewing. The result of this work is a longsleeved shirt that can be used at formal events such as weddings, meetings and other events. There were 3 shirts works and named, they are "Poda na Lima", " Martanggung Jawab ", and "Hatoguan"AbstrakAksara Mandailing merupakan salah satu peninggalan warisan budaya masyarakat Mandailing yang diturunkan oleh nenek moyang berupa tulisan kuno. Aksara Mandailing sebagai ide penciptaan pada kemeja batik merupakan sebuah usaha untuk mengangkat nilai kearifan lokal masyarakat Mandailing. Konsep penciptaan karya ini berangkat dari aksara Mandailing sebagai motif pada kemeja batik. Tulisan aksara diterapkan pada kemeja berupa pengenalan induk surat (ina ni surat) dan anak surat kemudian disusun secara vertikal, horizontal dan zig-zag vertikal berupa kalimat petatah-petitih berupa nasihat yang ada di Mandailing. Landasan teori yang digunakan dalam mewujudkan karya yaitu bentuk, fungsi, motif, warna dan estetis. Metode penciptaan meliputi tahap eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Bahan yang digunakan adalah mori primissima dan pewarna remazol. Teknik yang digunakan pada penciptaan karya yaitu batik tulis dan jahit. Bentuk karya berupa kemeja berlengan panjang yang dapat digunakan pada acara formal. Karya yang diciptakan yaitu 3 kemeja dengan judul “Poda na Lima”, “Martanggung Jawab”, dan “Hatoguan”.
Permodelan Media Ajar Ukir Kayu Bagi Penyandang Disability Intelektual BBRSP di Temanggung Sumino, Sumino; Mujahidin, Ahmat
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.7433

Abstract

AbstractProducts made of wood such as Educational Toys, Building Puzzles, Game Block Sets in general are currently experiencing a sluggishness, especially those equipped with carvings which can be said to be stuck. Experiencing even more apprehensive conditions during the Covid-19 pandemic, apart from the reasons for government regulation of the Imposition of Restrictions on Community Activities (PPKM), it was also caused by the level of creativity of the loggers themselves who were not used to conducting Trend Forecasting, namely not carrying out the research process and formulating predictions about behavior of future users. A social institution, namely the Center for Social Rehabilitation of Persons with Intellectual Disabilities (BBRSPDI) located in Temanggung, is an education provider for persons with intellectual disabilities which is then referred to as beneficiary benefits, deems it necessary and important to have educational media and woodcarving prototypes as models for demonstration purposes or as part of the intellectual educational development process. However, since the founding of this social institution, they have never had a model of teaching media for woodcarving for reasons of not having expert instructors in carving or for reasons of inability or Low Accessibility Response for beneficiaries (students with intellectual disabilities). Woodcarving has complex processes and ornaments, so it is considered an activity that is difficult for students with disabilities to respond to. Actually, this is not the case, wood carving has a content of tiered techniques and working methods, namely Basic, Intermediate to Advanced, so it is easy to learn for someone who has never carved at all. The basic problem for disabled people is that their Intelligence Quotient (IQ) is low, so there is a delay in their reasoning power in translating images and techniques, but they still have adaptive intelligence in managing Emotional Quotient (EQ). Then it is still possible to understand even the practice of carving. Therefore the aim of this research is to design models of woodcarving teaching media that are easy for people with disabilities to respond to. The method for achieving this goal is Practice Ied Research, which is a method of combining creative practice with creative techniques and technology which outside of it is a research-based creative product, starting from a). Preparation or exploration to dig up data to concept formation (Conceptual Practices), b). Concept development to the process of making creative designs (Dialectical Practices), c) Embodiment or implementation of research results to create new products (Contextual Practices). The output targets to be achieved in this study include, a) models of teaching media made of wood including Educational Toys, Puzzles Building, Game Block Sets using carving techniques then coated with top coad of the solid Duco system or the Melamine system.AbstrakProduk-produk media edukasi berbahan kayu seperti Educational Toys, Puzzles Building, Game Block Sets pada umumnya saat ini mengalami kelesuan, apalagi yang dilengkapi dengan ukiran malahan bisa dikatakan macet. Mengalami kondisi lebih memprihatinkan dikala pandemi Covid-19, selain alasan regulasi pemerintah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), juga disebabkan oleh tingkat kreatifitas pelaku per-kayu-an itu sendiri yang tidak biasa melakukan Trend Forecasting yaitu tidak melakukan proses meneliti dan merumuskan prediksi tentang kebiasaan para pengguna di masa depan. Sebuah lembaga sosial yakni Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disability Intellectual (BBRSPDI) berlokasi di Temanggung merupakan penyelenggara pendidikan bagi penyandang disability intellectual yang kemudian disebut sebagai penerima manfaat, menganggap perlu dan penting adanya media edukasi maupun prototipe ukir kayu sebagai model untuk tujuan demonstrasi atau sebagai bagian dari proses pengembangan pendidikan intelektual. Namun semenjak berdirinya lembaga sosial tersebut belum pernah memiliki model media ajar ukir kayu karena alasan tidak memiliki instruktur ahli bidang ukir maupun karena alasan ketidakmampuan atau Low Accessibility Response bagi penerima manfaat (siswa penyandang disability intellectual). Ukir kayu memiliki kerumitan proses maupun ornamentasinya, sehingga dianggap sebagai aktivitas yang sulit direspon di kalangan siswa difabel. Sesungguhnya tidak demikian, persoalan ukir kayu memiliki muatan teknik dan metode garap berjenjang yakni Basic, Intermediate hingga Advanced, sehingga mudah untuk dipelajari bagi seseorang yang belum pernah mengukir sama sekali. Persoalan mendasar para difabel adalah Intelligence Quotients (IQ) nya rendah, sehingga ada keterlambatan daya nalar mereka dalam menterjemahkan gambar maupun teknik, tetapi masih memiliki kecerdasan adaptif dalam mengelola Emotional Quotient (EQ). Maka masih sangat mungkin untuk memahami bahkan praktik mengukir sekalipun. Metode untuk mencapai tujuan tersebut adalah Practice Ied Reseacrh, yakni metode penggabungan antara praktik kreatif dengan teknik maupun teknologi kreatif yang luarannya adalah produk kreatif berbasis penelitian, yakni mulai dari a). Persiapan atau ekplorasi untuk menggali data hingga pembentukan konsep (Conceptual Practices), b). Pengembangan konsep hingga proses pembuatan desain kreatif (Dialectical Practices), c) Perwujudan atau implementasi hasil penyelidikan untuk melahirkan produk kebaruan (Contextual Practices ). Produk dalam penelitian ini antara lain, a) model media ajar berbahan kayu meliputi produk Educational Toys, Puzzles Building, Game Block Sets.
Bentuk Palaminan Sebagai Interior Istano Basa Pagaruyung Septiani, Ilfa; Bahrudin, Ahmad; Akbar, Taufik
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.10645

Abstract

AbstractThis research is entitled "The Shape of Palaminan as the Interior of Istano Basa Pagaruyung". The purpose of this research is to describe the form of application and what elements are found in the palaminan at Istano Basa Pagaruyung in terms of motifs and colors. This research uses descriptive qualitative research method. The object of this research is Palaminan in Istano Basa Pagaruyung. Informants in this study were obtained by purposive sampling method. This palaminan research method was conducted through qualitative research to describe the palaminan found in Istano Basa Pagaruyung. Data collection was obtained through observation, interviews, documentation, and recording the results of interviews. The results of Palaminan research in Istano Basa Paguruyung consisting of : nine elements in their application, there are 5 motifs and colors that give the value of Minangkabau traditionalism, seen in terms of aspects of color psychology. Palaminan color has a meaning that is compatible with the function of space utilization that applies Palaminan to the building in Istano Basa Paguruyung.AbstrakPenelitian ini berjudul  “Bentuk Palaminan Sebagai  Interior Istano Basa Pagaruyung”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk penerapan dan elemen-elemen apa saja yang terdapat pada palaminan di Istano Basa Pagaruyung ditinjau melalui bentuk motif dan warna. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah  Palaminan  yang  ada  di  Istano  Basa  Pagaruyung.  Informan  dalam penelitian ini diperoleh dengan metode purposive sampling.Metode penelitian palaminan ini   dilakukan melalui penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan palaminan yang terdapat di Istano Basa Pagaruyung. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan pencatatan hasil wawancara.Hasil dari penelitian Palaminan di Istano Basa Paguruyung berupa bentuk, yang terdiri dari : sembilan elemen dalam pengaplikasiannya,terdapat 5 Motif, dan warna yang memberi nilai ketradisian Minangkabau, dilihat dari segi aspek psikologi warna. Warna palaminan memiliki makna yang bersesuaian dengan fungsi pemanfaatan ruang yang menerapkan Palaminan pada bangunan di Istano Basa Paguruyung tersebut.