cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
MIX TEKNIK ECOPRINT DAN TEKNIK BATIK BERBAHAN WARNA TUMBUHAN DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI TEKSTIL Djandjang Purwo Sedjati; Vincentia Tunjung Sari
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v8i1.2686

Abstract

Ditetapkannya batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 dan ditetapkannya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Council. Menjadikan seni batik kembali bergairah di tengah masyarakat sekaligus melegakan karena batik terhindar dari kepemilikan atas bangsa dan negara lain. Disisi lain, batik harus berhadapan dengan tuntutan dan dinamika selera masyarakat masa kini, batik harus berhadapan dengan permintaan atau tuntutan masyarakat akan produk-produk baru yang dapat memenuhi keinginan mereka. Tidak hanya kebutuhan untuk fashion dan perangkat interior yang selalu berkembang tetapi juga kebutuhan karya-karya yang dapat memberi kepuasan batin. Dengan demikian, diperlukan ciptaan-ciptaan baru yang kreatif dan inovatif dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan pasar. Berangkat dari uraian tersebut diatas, muncul ketertarikan untuk menciptakan karya seni kreatif dengan mengeksplorasi dan menggabungkan teknik ecoprint dan batik ke dalam karya seni tekstil. Untuk mengumpulkan data digunakan metode pustaka dan metode observasi. Adapun pada pelaksanaannya digunakan metode antara lain Metode Practiced Based Research (Malins, Ure, dan Gray) untuk memperoleh pengetahuan baru melalui praktek riset dan hasil praktek. Metode Penciptaan Seni Kriya Pola Tiga Tahap Enam Langkah Gustami untuk menggali sumber ide dan perancangan. Metode Eksperimen dan Improvisasi juga dilakukan penulis untuk mendapatkan pengetahuan baru dari eksperimen yang dilakukan terutama pada ecoprint. Pada penciptaan ini, akan dilakukan stilisasi atau menggubah bentuk daun jati, jambu batu, jati kebon, sukun dan daun pohon lanang digunakan sebagai material ecoprint dengan teknik batik dan kemudian dikolaborasikan dengan teknik ecoprint. Pada batik akan diterapkan pewarna dari buah keben. Ada 3 jenis karya seni tekstil yang akan dibuat yaitu stola dan scraf sebagai dua karya fungsional dan wall hanging atau hiasan dinding sebagai karya seni ekspresi. Kata kunci: ecoprint, teknik , warna tumbuhan, penciptaan,  karya tekstil
BILIK PADI TRADISIONAL KERINCI (Arsitektur dan Seni Ukir) Nofrial Nofrial; Purwo Prihatin; Wahyono Wahyono; Marten Agung Laksono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.575 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i2.2989

Abstract

Kerinci traditional bilik padi are no longer functioning, their existence is almost extinct. Through observation, literature studies and interviews, it is known that bilik padi use pedestal, a peg system in stringing poles. The entire building is made of wood, the building enlarges upwards. Octagonal pillars, sirap roofs, small doors made under the roof of the roof. The carving motif comes from the shape of plants, forms of vines. Engraving is applied to poles, walls, lower and upper beams, and end of rafter.Keywords: Bilik Padi, Architecture and Carving Art Bilik padi tradisional Kerinci sudah tidak difungsikan lagi, keberadaannya hampir punah. Melalui observasi, studi pustaka dan wawancara diketahui bilik padi menggunakan batu umpak, sistem pasak dalam merangkai tiang dengan balok. Seluruh bangunan terbuat dari kayu, bangunan membesar ke atas. Tiang segi delapan, atap sirap, pintu dibuat kecil dibawah bubungan atap. Motif ukiran berasal dari bentuk tumbuh-tumbuhan, bentuk sulur-suluran. Ukiran diterapkan pada tiang, dinding, balok bawah dan atas, serta ujung kasau. Kata Kunci: Bilik Padi, Arsitektur dan Seni Ukir
PERANCANGAN DESAIN PERMUKAAN PADA MATERIAL DENIM UNTUK PRODUK JAKET REMAJA Clara Mayarani; Ratna Endah Santoso; Sarah Rum Handayani
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1157.808 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i2.3278

Abstract

A design of surface design on denim material for teenage jacket products is to increase the variety in fashion complementary products that have an exclusive and dynamic character. The theme of this design is Gardening Blue with bleaching techniques with the barrier media from palm and fern plants. The design method included the phases such as analiysis problem, problem solving strategy, collecting data and doing a trail. The design result were (1) Patterns which produced by bleaching technique on denim surface with the barrier media from palm and fern plants. (2) The product design of jacket is accordance with the unique and attractive character of teenagers. Bleaching technique with the barrier media from palm and fern plants are applied in a unisex concept jacket product.Keyword: Denim, Bleaching, Jacket, Teenagers Perancangan desain permukaan pada  material denim untuk  produk casual outer remaja diharapkan dapat menambah variasi pada produk pelengkap fesyen yang mempunyai karakter yang ekslusif dan dinamis. Tema perancangan ini adalah Gardening Blue dengan teknik pengelantangan dengan media perintang tumbuhan palem dan tumbuhan pakis. Tujuan perancangan ini adalah melakukan inovasi produk jaket remaja melalui teknik pengelantangan dengan material denim untuk meningkatkan nilai estetis. Metode perancangan meliputi tahap analisis permasalahan, strategi pemecahan masalah, pengumpulan data, dan uji coba. Hasil perancangan berupa (1) Corak-corak yang dihasilkan dari proses pengelantangan di permukaan denim dengan perintang tumbuhan palem dan tumbuhan pakis. (2) Desain Produk jaket sesuai dengan karakter remaja yang unik dan menarik. Teknik pengelantangan dengan media perintang tanaman palem dan tanaman pakis diaplikasikan dalam produk jaket dengan konsep unisex.Kata kunci: Denim, Pengelantangan, Jaket, Remaja.
PERANCANGAN MONUMEN IDENTITAS KOTA JEPARA BERBASIS UKIR TRADISI MENGGUNAKAN METODE BLACK BOX Eko Darmawanto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.529 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i2.3234

Abstract

 The monument is an identity that undoubtedly provides an informative understanding of a region, not only is the memorial memorial, Jepara is a small town with a vast cultural culture among the most prominent cultures is carving. Carving in Jepara gradually began to erode with the flow of industrialization so as to provide a discourse to the government of Jepara district to formulate policies so that carving remains the identity of society as the largest cultural culture of society. The research was conducted in Jepara Regency in collaboration with the City Planning Department of Jepara Regency. Research using black box method with focus of research on visual masterpiece and philosophy of Jepara city monument. The results of the research are (1). Criteria and concept of a monument that has a local cultural identity, (2). The work of designing a monument with an element of carving identity as part of the most prominent cultural culture. Keywords: Identity, monument, traditional carving Monumen merupakan sebuah identitas yang tak pelak memberikan pemahaman informatif  terhadap sebuah wilayah, tidak hanya itu monumen bersifat memorial, Jepara merupakan kota kecil dengan kultur budaya yang luas diantara budaya yang paling menonjol adalah ukir. Ukir di jepara lambat laun mulai tergerus dengan arus industrialisasi sehingga memberikan wacana terhadap pemerintah kabupaten jepara untuk merumuskan kebijakan supaya ukir tetap menjadi identitas masyarakat sebagai bagian terbesar kultur budaya masyarakatnya. Penelitian dilakukan di Kabupaten Jepara dengan berkerja sama dengan Dinas Tata Kota Kbupaten Jepara. Penelitian menggunakan metode black box dengan fokus penelitian terhadap karya visual dan filosofi monumen kota jepara. Hasil penelitian berupa (1). Kriteria dan konsep monumen yang memiliki identitas  budaya lokal, (2). Karya perancangan monumen dengan unsur identitas ukir sebagai bagian kulturasi budaya yang paling menonjol. Kata kunci: Identitas, monumen, ukir tradisi
KATAK ANAK BERACUN SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN BUSANA PESTA SIANG ANAK Septi Anti
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i1.4102

Abstract

 Frogs are one of the animals that are not liked by the general public, but the prestige of these animals is far from compared to other tetrapods. One of the poisonous dart frogs that will later become work ideas will be used as a form of child psychology or the idea that frogs are not disgusting or ugly creatures but have their own charm and introduce different types of frogs The embodiment of this work is to visualize the motif of poison dart frogs that will be translated into children's day party outfits. To realize this, it is also necessary to use several methods in the creation of works, which pay attention to the aesthetic value of fashion by taking into account the design, motifs, and the value of beauty in fashion, ergonomics which is the comfort of the child when using clothing and the semiotics of the markings on clothing. In creating this work, the 10 most dangerous poisonous dart frogs in its genus have striking and attractive colors when they see it. The coloring process itself uses naphtol and indigosol dyes. After carrying out all these processes, the process of embodying the work begins and results in children's day party outfits that are sourced from poisonous arrow frogs. Katak merupakan salah satu hewan yang tidak disukai oleh masyarakat umumnya, namun pamor hewan ini jauh dari dibandingkan tetrapoda lain. Salah Satunya katak anak panah beracun yang nantinya menjadi ide karya akan digunakan sebagai bentuk psikologi anak atau pemikiran bahwa katak bukan makhluk yang menjijikan maupun jelek namun memiliki daya tarik tersendiri dan memperkenalkan adanya jenis katak yang berbeda dengan lainya. Perwujudan karya ini berupa memvisualisasikan motif katak anak panah beracun yang akan diwujudkan ke dalam busana pesta siang anak.  Untuk mewujudkan hal tersebut juga perlu menggunakan beberapa metode dalam penciptaan karya, yang memperhatikan nilai estetika pada busana dengan memperhitungkan desain, motif, dan nilai keindahan pada busana, ergonomi yaitu kenyaman anak saat menggunakan busana dan semiotika nilai tanda yang ada pada busana. Dalam menciptakan karya ini menggunakan 10 jenis katak anak panah beracun yang paling berbahaya di genusnya yang memiliki warna-warna yang mencolok dan menarik saat melihatnya. Proses pewarnaanya sendiri menggunakan pewarna naphtol dan indigosol.  Setelah melakukan semua proses tersebut mulai melakukan proses perwujudan karya dan menghasilkan busana pesta siang anak yang bersumber ide dari katak anak panah beracun.
WARNA ALAMI DARI EKSTRAK TANAMAN KOPI ROBUSTA Susi Susyanti
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i1.3537

Abstract

Color is a supportive part of visual emotion for connoisseurs and users. Colors can be enjoyed if assisted with good lighting. The color in this study discusses natural dyes. Natural dyes used are natural ingredients robusta coffee plants taken from the plateau of Liwa, West Lampung, Indonesia. Natural dyes that have been obtained then made a group pallet from the extract of coffee plants in the form of liquid and staining to the fabric. The method used is staining with the extraction process and a variation of mordanting using the fixation of alum.  This color palette can be worn and used by anyone to create color branding or a prodak that wants to display robusta coffee images. Also done testing TLW (wet & asam) and the level of the color of the age. It is to know the quality of fabric from the staining if you want to make disposable products such as fashion.Warna merupakan bagian pendukung emosi visual bagi penikmat maupun pengguna. Warna dapat kita nikmati jika dibantu dengan pencahayaan yang baik. Warna pada penelitian ini membahas mengenai pewarna alami. Pewarna alami yang dipakai adalah bahan alam tanaman kopi robusta yang diambil dari dataran tinggi Liwa, Lampung Barat, Indonesia. Pewarna alami yang sudah didapatkan kemudian dibuat palet kelompok dari hasil ekstrak tanaman kopi berupa cairan dan dilakukan pewarnaan terhadap kain. Metode yang digunakan adalah pewarnaan dengan proses ekstraksi dan variasi mordanting menggunakan fiksasi tawas.  Palet warna ini dapat dipakai dan digunakan oleh siapapun untuk membuat color branding maupun suatu prodak yang ingin menampilkan image kopi robusta. Dilakukan juga pengujian TLW (basah & asam) dan tingkat ketuaan warna. Hal tersebut untuk mengetahui kualitas kain dari hasil pewarnaan jika akan dibuat produk pakai seperti fashion. 
PERANCANGAN KASULA DAN STOLA DENGAN IDE PENGGAMBARAN GORGA BATAK TOBA MELALUI TEKNIK BATIK TULIS Hardianti Veronika Rajagukguk
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i1.4101

Abstract

 The background of the design of the chasuble and stole with the idea of the Toba  Batak Gorga is the widest opportunity given by the Roman Chatolic Church based in Rome to decorate the Eucharistic ceremonial equipment with the characteristics of each region, without leaving the symbolism that has been determined. The study was conducted at the Saint Anthony of Padua Chatolic Church in Tiga Dolok North Sumatra. Using a design method that goes through visualization, the idea of symbolic drawing is taken from the typical ornaments of the Toba Batak tribe, namely Gorga dan completed with hand-drwan batik thecniques colored with synthetic dyes remasol. The result is a cotton chasuble and stole, with a depiction of a Gorga that shows it’s character in three colors: black, red and white, known as tiga bolit.  Latar belakang perancangan kasula dan stola dengan ide penggambaran Gorga Batak Toba ini adalah adanya kesempatan seluas-luasnya yang diberikan oleh Gereja Katolik yang berpusat di Roma untuk menghias perlengkapan Upacara Ekaristi dengan ciri khas daerah masing-masing tanpa meninggalkan perlambangan yang selama ini sudah ditentukan. Penelitian dilakukan di Gereja Katolik Santo Antonius Padua Tiga Dolok Sumatera utara. Menggunakan metode perancangan desain yang melalui tahap konsep hingga visualisasi, ide penggambaran simbol diambil dari ornamen khas suku Batak Toba, yakni Gorga dan diselesaikan dengan teknik batik tulis yang diwarnai dengan zat pewarna sintetis remasol. Hasilnya berupa stola dan kasula berbahan katun, dengan penggambaran gorga yang menonjolkan karakternya berupa tiga macam warna: hitam, merah, dan putih yang dikenal sebagai tiga bolit. 
TEPUNG MAKANAN SEBAGAI ALTERNATIF PERINTANG DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI TEKSTIL Djandjang Purwo Sedjati; Agung Suhartanto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i1.3573

Abstract

The establishment of batik as a humanitarian legacy for oral and non-material culture (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) by UNESCO on October 2, 2009 and the establishment of Yogyakarta as the World Batik City by the World Craft Council made batik gained enthusiastic in the community. On the other hand, batik has to deal with people's demands  for new products that can fulfill their desires. Thus, new creations that are creative and innovative are needed in order to fulfill theconsumers and the market needed. From the description above, there was an interest in creating creative works of art by exploring non-evening materials in the form of food flour, namely sago flour and cornstarch as other alternatives in the creation of batik and textile art. As for rice, starch and sticky rice are not used because in Japan, rice has been used as a barrier called Katazome, in Negeria, starch has been used as a barrier called Adire Eleko and in the past sticky rice was used in the manufacture of simbut fabrics in Sunda West Java. To collect data, the researcher used the library method and observation method. As for the implementation methods used the Practiced Led Research method which is a type of practical research, which is creating and reflecting new work through practical research conducted (Hendriyana, 2018: 21). The Three Step Six Step Gustami Art Pattern Creation Method is used to explore the source of ideas and design. Experiments and Improvisation Methods are also carried out by the researcher  to get new knowledge from experiments conducted mainly on non-batik material in the form of food flour. In this creation, wheat flour, cornstarch, and sago flour will be used as non-wax material then the non-wax material will be applied and the application of the non-wax material will be combined with batik wax. In this creation fast dye will be applied. There are 5 types of textile art works that will be made, namely long cloth, shawl, chair cushions, and scrafs as functional works and wall hanging or wall hangings as expressive artwork.Ditetapkannya batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 dan ditetapkannya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Council menjadikan seni batik kembali bergairah di tengah masyarakat. Disisi lain, batik harus berhadapan dengan permintaan atau tuntutan masyarakat akan produk-produk baru yang dapat memenuhi keinginan mereka. Dengan demikian, diperlukan ciptaan-ciptaan baru yang kreatif dan inovatif dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan pasar. Berangkat dari uraian tersebut diatas, muncul ketertarikan untuk menciptakan karya seni kreatif dengan mengeksplorasi bahan non malam berupa tepung makanan yaitu sagu terigu dan maizena sebagai alternatif lain dalam penciptaan seni batik dan tekstil. Adapun beras, kanji dan ketan tidak digunakan karena di Jepang, beras sudah digunakan sebagai perintang yang disebut Katazome, di Negeria, tepung kanji sudah digunakan sebagai perintang yang disebut Adire Eleko dan pada masa lampau ketan dipakai dalam pembuatan kain simbut di Sunda Jawa Barat. Untuk mengumpulkan data digunakan metode pustaka dan metode observasi. Adapun pada pelaksanaannya digunakan metode antara lain metode Practiced Led Research yang merupakan jenis penelitian praktik, yaitu menciptakan dan merefleksikan karya baru melalui riset praktek yang dilakukan (Hendriyana,2018:21). Metode Penciptaan Seni Kriya Pola Tiga Tahap Enam Langkah Gustami digunakan untuk menggali sumber ide dan perancangan. Metode Eksperimen dan Improvisasi juga dilakukan penulis untuk mendapatkan pengetahuan baru dari eksperimen yang dilakukan terutama pada bahan non malam batik berupa tepung makanan. Pada penciptaan ini, akan digunakan tepung terigu, tepung maizena, dan tepung sagu sebagai material non malam kemudian diaplikasikan bahan perintang non malam batik dan aplikasi paduan bahan perintang non malam batik dengan malam batik. Pada penciptaan ini akan diterapkan pewarnaan fast dye. Ada 5 jenis karya seni tekstil yang akan dibuat yaitu kain panjang, selendang, sarung bantal kursi, dan scraf sebagai karya fungsional serta wall hanging atau hiasan dinding sebagai karya seni ekspresi.
IMPLEMENTASI LUKISAN KLASIK KAMASAN PADA MEDIA ALTERNATIF TENGKORAK KEPALA KERBAU i gede arya sucitra
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i1.3497

Abstract

In making a contemporary work of art, takes creativity and awareness of locality values, traditional visual elements by taking a visualization of the past and present in socio-cultural discourse. The material object of the creation of this painting will develop the decorative elements of the Kamasan classical painting of Balinese tradition, with exploration in an alternative medium of fine art that is using three-dimensional of an organic object media, is buffalo skulls. The representations of works tend to be ornamental, adapting the character of shapes, and the philosophical content of Classical Kamasan paintings. Strategies for developing ornamental designs are carried out as part of adaptation to the development of global art. The Intrinsic ornamental variety development model that emphasizes of distillation, transformed, distorted and develops ornamental variety with extrinsic powers, namely the value of meaning or symbolic. The implementation of elements of tradition with alternative art media becomes part of the dynamics of cultural development that has the opportunity to process, change, enrich and transform the work of art in accordance with the times. Visualization of this tradition often appears in the visual form of signs or markers in contemporary art. The exploration and implementation of the Kamasan Classic Balinese painting with buffalo skull is expected to provide an enrichment of the visuality of traditional artifacts in Indonesian contemporary paintings.Pelestarian bukan berarti meniru, tetapi yang dituntut jiwa yang dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam pembuatan suatu karya dibutuhkan suatu kreativitas dan kesadaran akan nilai-nilai lokalitas, elemen visual tradisional serta konsep yang terkandung didalamnya. Artefak dalam kebudayaan tradisi memiliki kandungan makna yang dalam dan telah mengalami proses perenungan yang dalam untuk menangkap berbagai penampakan duniawi dan spiritual melalui perlambang maupun simbol, terlebih mengenai karya-karya kontemporer yang memiliki karakter mengambil visualisasi masa lalu dan masa kini dalam wacana sosial budaya. Karya ciptaan penulis melakukan eksplorasi media alternatif seni rupa berkaitan implementasi unsur visual lukisan klasik Bali Wayang Kamasan yang tidak menggunakan material dasar landasan lukisan yang standar yakni kain kanvas melainkan menggunakan media objek tiga dimensi organik yakni tengkorak kepala kerbau. Ketertarikan pada ornamentik/ragam hias, karakter bentuk, dan kandungan filosofis dari lukisan Klasik Wayang Kamasan memang mendorong untuk menyelidiki dan mengeksplorasinya lebih jauh terutamanya dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, kekayaan artefak seni tradisi berikut nilai lokalitasnya menjadi pergulatan wacana seni rupa kontemporer. Visualisasi tradisi ini seringkali muncul pada karya-karya kontemporer dalam bentuk tanda-tanda ataupun penanda yang mengkaitkannya pada pola-pola visualisasi pada karya-karya tradisi seperti batik, lukisan wayang, dan tarian.
MOTIF BATIK PARANG DAN KAWUNG SEBAGAI DEKORASI PADA LAMPU HIAS KERAMIK Dwita Anja Asmara
Corak Vol 9, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i1.3514

Abstract

ABSTRACTProduct innovation is a strategy that must be carried out by(UMKM) in the craft business in order to always have a competitive advantage. This research is a discussion to get ceramic products that have an assessment of Indonesia so that they can compete in the global market. Parang and Kawung traditional batik motifs representing the freedom of choice of Indonesia were chosen as a form of innovation that was tried to be mixed with ceramic decorative lighting products. This batik motif is not only placed on ceramic decorative lighting products, but will be made together and become a part or character of the ceramics. This study uses a renewal method in the design of ceramic products, starting from the exploration of trends, analysis, sketching, and the last is per work design drawings or designs. Embodiment or production is done by experimentation to get the right material composition, technique, and production method or process. It will also conduct a market test by exhibiting prototype products in art-shops owned by ceramic craftsmen.The research target in the first year is the creation of techniques or production methods, and 10 ceramic designs that are in accordance with market trends and tastes. In the second year the creation of 10 prototype products and submitted to IPR, approved scientific articles, and market testing. The results of this study are expected to help craftsmen diversify their products to increase sales for the export market.ABSTRAKInovasi produk adalah strategi yang harus terus dilakukan oleh usaha mikro kecil menengah (UMKM) kerajinan agar selalu memiliki keunggulan kompetitif. Penelitian ini adalah sebuah eksplorasi penciptaan untuk mendapatkan produk keramik yang memiliki nuansa etnis Indonesia sehingga dapat berkompetisi pada pasar global. Motif batik tradisional Parang dan Kawung mewakili nuansa etnis Indonesia dipilih sebagai bentuk inovasi yang dicoba untuk di-mix-kan dengan produk lampu hias keramik. Motif batik tersebut tidak hanya sekedar ditempelkan pada produk lampu hias keramik, akan tetapi dibuat menyatu dan menjadi bagian atau karakter dari keramik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan estetis dalam merancang desain produk keramik, dimulai dari ekplorasi trend, analisis, pembuatan sketsa, serta yang terakhir adalah perancangan gambar kerja atau desain. Perwujudan atau produksi dilakukan dengan eksperimentasi untuk mendapatkan komposisi bahan, teknik, dan metode atau proses produksi yang tepat. Selain itu juga akan dilakukan uji pasar (market test) dengan memamerkan produk prototype di art-shop yang dimiliki oleh pengrajin keramik. Target penelitian pada tahun pertama adalah terciptanya teknik atau metode produksi, dan 10 desain keramik yang sesuai dengan trend dan selera pasar. Pada tahun ke dua terciptanya 10 produk prototype dan mendaftarkan ke HKI, penerbitan artikel ilmiah, serta uji pasar. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat membantu para pengrajin melakukan diversifikasi produk guna meningkatkan penjualan terutama untuk pasar ekspor.