cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
PENGEMBANGAN DESAIN BATIK MAKASSAR DENGAN SUMBER IDE KAPAL PINISI Anadia Natasyah Utami; Setyawan Setyawan; Felix Ari D.
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.724 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2674

Abstract

The purpose of this creative process was to enrich Batik Makassar which focused on visualizing motifs by using the potential of Buginesse-Makassar heritage, the Pinisi Sailing Boat combined with Lontara writings from Makassar as a source of inspiration for Batik designs differentiation. The visual method is designed by considering its aesthetic value as a renewal products from the existing potential of Batik Makassar. The creative process with this design method produces six designs and three of those were painted on 230cm x 110 cm nonwoven silk fabric. Keywords: development, design, batik Makassar, Pinisi ailing boat, lontara Tujuan proses kreatif ini adalah mengembangkan desain Batik Makassar yang berfokus pada pengolahan visual (motif) dengan memanfaatkan potensi warisan budaya Bugis-Makassar yaitu Kapal Pinisi yang dipadukan dengan aksara Lontara Batik Makassar sebagai sumber ide pengembangan desain batik. Pengolahan visual dirancang dengan mempertimbangkan nilai estetis sebagai potensi pembaharuan batik Makassar yang sudah ada. Proses kreatif dengan metode desain ini menghasilkan enam desain dan tiga di antaranya direalisasi pada kain sutera ATBM yang berukuran 230cm x 110 cm. Kata Kunci : pengembangan, desain, batik Makassar, Kapal Pinisi, lontara
KOMPOSISI EFEK SPONTAN CAT AIR DENGAN SULUR TRADISIONAL YOGYAKARTA PADA PENCIPTAAN LUKISAN Deni Junaedi; Adnan Aditya K
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1172.096 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2640

Abstract

Penelitian “Komposisi Efek Spontan Cat Air dengan Sulur Tradisional Yogyakarta pada Penciptaan Lukisan” ini paling tidak memiliki tiga urgensi untuk pendidikan seni lukis maupun dunia seni lukis pada umumnya. Pertama, perpaduan efek spontan cat air yang terjadi dengan sendirinya dengan sulur tradisional Yogyakarta yang memiliki pakem akan menghasilkan dinamika bentuk yang diperlukan untuk penciptaan seni lukis. Kedua, sulur biasanya menjadi penghias barang fungsional, dan dalam penelitian ini ia diangkat sebagai pembangkit pengalaman estetis itu sendiri; dengan kata lain ‘sulur dihadirkan sebagai sulur itu sendiri’, bukan sekedar penghias yang menempatkannya sebagai aspek kedua setelah barang yang dihiasi. Ketiga, penelitian ini menerapkan kaidah langgam seni postmodern shock of the old, bukan shock of the new. Rumusan penciptaan dalam penelitian ini adalah bagaimana mengomposisi efek spontan cat air di kertas dengan bentuk sulur tradisional Yogyakarta untuk penciptaan lukisan. Data sulur diperoleh dengan kajian pustaka maupun observasi, yaitu di Keraton Kasultanan Yogyakarta, Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Makam Raja-Raja Imogiri, Museum Sonobudoyo, Taman Sari, Museum Kereta Keraton, dan Benteng Vredeburg. Hasil penciptaan lukisan kombinasi efek spontan cat air dengan sulur tradisional ini dikerjakan dengan dua cara yang berbeda. Cara pertama adalah menentukan bentuk sulur lalu diberi efek spontan cat air. Sebaliknya, cara kedua adalah membuat efek spontan cat air terlebih dahulu kemudian direspon dengan sulur. Kata Kunci: lukisan, sulur, efek spontan cat air, Yogyakarta This research, “Compositions between Watercolor Effects and Yogyakarta Traditional Sulurs for Painting Creations”, has at least three urgencies for painting educations and art worlds generally. First, on the one hand, watercolor effects give spontaneous forms; on the other hand, Yogyakarta traditional Sulurs (spiral forms of floral ornamens) have certain patterns. Combinations of both of them produce dynamic compositions needed for creating paintings. Second, the function of sulurs usually are for decorating things, such as ornamens on buidings, furniture, or book illuminations; in this case, sulur is as the second thing. Meanwhile, in this research, sulurs are used for arousing aesthetic experiences; it is as itself. Third, this study applies the postmodern art value ‘shock of the old’, not ‘shock of the new’. The research question is how to compose the spontaneous watercolor effects with Yogyakarta traditional sulurs for painting creations. Sulur data is obtained by literature review and observations at Yogyakarta Sultanate Palace, Tomb of the Kings of Mataram Kotagede, Tomb of the Kings of Imogiri, Sonobudoyo Museum, Taman Sari, Keraton Carriage Museum, and Vredeburg Fort. The result of this research is, the combinations of watercolor effects and sulur can be created in two different ways. The first way is determining the shape of the sulurs then given with watercolor effects. Instead, the second way is creating watercolor effects first then responded with sulurs. Keywords: painting, sulur, spontaneous watercolor effect, Yogyakarta
PERANCANGAN MONUMEN IDENTITAS KOTA JEPARA BERBASIS UKIR TRADISI MENGGUNAKAN METODE BLACK BOX Darmanto, Eko
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v8i2.2973

Abstract

The monument is an identity that undoubtedly provides an informative understanding of a region, not only is the memorial memorial, Jepara is a small town with a vast cultural culture among the most prominent cultures is carving. Carving in Jepara gradually began to erode with the flow of industrialization so as to provide a discourse to the government of Jepara district to formulate policies so that carving remains the identity of society as the largest cultural culture of society. The research was conducted in Jepara Regency in collaboration with the City Planning Department of Jepara Regency. Research using black box method with focus of research on visual masterpiece and philosophy of Jepara city monument. The results of the research are (1). Criteria and concept of a monument that has a local cultural identity, (2). The work of designing a monument with an element of carving identity as part of the most prominent cultural culture. Keywords: Identity, monument, traditional carving Monumen merupakan sebuah identitas yang tak pelak memberikan pemahaman informatif  terhadap sebuah wilayah, tidak hanya itu monumen bersifat memorial, Jepara merupakan kota kecil dengan kultur budaya yang luas diantara budaya yang paling menonjol adalah ukir. Ukir di jepara lambat laun mulai tergerus dengan arus industrialisasi sehingga memberikan wacana terhadap pemerintah kabupaten jepara untuk merumuskan kebijakan supaya ukir tetap menjadi identitas masyarakat sebagai bagian terbesar kultur budaya masyarakatnya. Penelitian dilakukan di Kabupaten Jepara dengan berkerja sama dengan Dinas Tata Kota Kbupaten Jepara. Penelitian menggunakan metode black box dengan fokus penelitian terhadap karya visual dan filosofi monumen kota jepara. Hasil penelitian berupa (1). Kriteria dan konsep monumen yang memiliki identitas  budaya lokal, (2). Karya perancangan monumen dengan unsur identitas ukir sebagai bagian kulturasi budaya yang paling menonjol. Kata kunci: Identitas, monumen, ukir tradisi
ESTETIC EXPRESSIONS OF JEPARA CARVING IN EFFORTS TO DEAL WITH THE MARKET DEMANDS Muhajirin Muhajirin
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1190.97 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i1.2779

Abstract

The demands of consumers that always evolving makes Jepara craftsmen have to adjust themselves. This is reflected in the aesthetic expression of products that are no longer homogeneous. The purpose of this paper is to analyze the aesthetic expression of Jepara carving art in an effort to face global challenges. Data obtained through interviews and direct observation in the field. The results of the study show that the carving that has now undergone a change due to adjusting to the demands of consumers and the times. European market dominance influenced European-style furniture so that the expression of Jepara carving tends to be European. However, it also developed a carving motif not fixated on the usual themes that were made in the form of motifs with stylized forms of flora fauna, but now also developed geometric and minimalist designs. There is also a simplification of a form into another form, such as by simplifying carving motifs to serve consumers who want products that are not too full of carvings. This consumer demand motivates craftsmen to always do innovation, so consumers are accommodated and served the satisfaction of their aesthetic taste and craftsmen fulfilled their economic needs. Keywords: Aesthetic expression, Jepara carving, market demands
EKSISTENSI KERAJINAN PERAK KOTO GADANG SUMATERA BARAT Hendra Hendra
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.146 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2680

Abstract

Koto Gadang Silverwork is located in District IV Koto Agam Regency which is one of the craft centers that exist near Bukittinggi. The existence of silver handicraft products that produced in Koto Gadang has started since the Dutch colonial era until now. Silver handicrafts grow and develop according as the time continue . This can be seen from changes in the function and shape of existing silver handicrafts that equal with the changes of the community. Silver handicraft products Koto Gadang can be classified into jewelry products such as necklaces and bracelets, as well as souvenir products such as miniature of clock tower. The products that produced by craftsmen are represent of their existence and their efforts to adjust the products to public demand. To maintain the quality of silver products, craftsman only sell the products in a limited market. This way is taken to maintain public confidence in the silver craft itself. With cultural changes, the silver handicrafts Koto Gadang face the challenges and obstacles that make artman must be clever in maintaining consumer confidence. This is closely related to the survival of silverwork itself around the supporting community. Keyword : existence, silver, Koto Gadang Kerajinan perak Koto Gadang terletak di Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam yang merupakan salah satu sentra kerajinan yang ada di dekat Kota Bukittinggi. Eksistensi produk kerajinan perak yang dihasilkan Koto Gadang sudah dimulai semenjak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang. Kerajinan perak tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini dapat dilihat dari perubahan fungsi dan bentuk kerajinan perak yang ada yang menyesuaikan dengan perubahan masyarakatnya. Produk kerajinan perak Koto Gadang bisa dikelompokkan menjadi produk perhiasan, seperti kalung dan gelang, serta produk cenderamata, seperti miniatur Jam Gadang. Produk yang dihasilkan oleh perajin merupakan bentuk eksistensi mereka dan usaha mereka untuk menyesuaikan produk yang dihasilkan dengan permintaan masyarakat. Untuk menjaga kualitas produk kerajinan perak tersebut, perajin hanya menjual produk yang dihasilkan dalam pasar yang terbatas. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kerajinan perak itu sendiri. Seiring perubahan budaya mengakibatkan kerajinan perak Koto Gadang menghadapi tantangan dan hambatan yang membuat perajin harus pandai-pandai dalam menjaga kepercayaan konsumen. Hal ini berhubungan erat dengan keberlangsungan kerajinan perak itu sendiri di masyarakat pendukungnya.Kata Kunci : eksistensi, perak, Koto Gadang
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KRIYA LOGAM DI DESA TUMANG CEPOGO BOYOLALI Aan Sudarwanto; Kuntadi Wasi Darmojo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.796 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2647

Abstract

This article is the result of community service, taking the theme of the Development of Metal Craft Industry. The aim is to increase the competitiveness of the metal craft industry in the village of Tumang Cepogo Boyolali. With a focus on handling product quality and production speed so that they can compete as export products. The method or approach used in the development of the metal craft industry includes training education with lecture, interactive, guidance and mentoring techniques. Then the design and application supervision was carried out as well as the provision of appropriate technology equipment stimulation to solve production problems. The main problem of SMEs especially metal craft in Tumang village is the use of simple tools, which is one of the reasons why handicraft products cannot meet market demand in a short time. So we need a strategy on how to solve these problems. Besides that, there are many other problems that need handling as a form of development strategy. Among them are handling raw material problems, design, production tools, promotion strategies, marketing and management of human resources. The focus of this empowerment activity is more directed at aspects of improving the quality of metal handicraft production which includes strengthening production systems, strengthening human resources, utilizing appropriate technology use, design, design and product branding which ultimately lead to the export of metal craft products. Keywords: Empowerment, metal crafts, quality  Artikel yang merupakan hasil pengabdian pada masyarakat ini, mengambil tema Pengembangan Industri Kriya Logam. Adapun tujuannya untuk meningkatkan daya saing industri kriya logam yang berada di desa Tumang Cepogo Boyolali. Dengan menitikberatkan pada penanganan kualitas produk dan kecepatan produksi sehingga mampu bersaing sebagai produk ekspor.  Metode atau pendekatan yang digunakan di dalam pengembangan industri kriya logam ini  antara lain menggunakan pendidikan pelatihan dengan teknik  ceramah,  interaktif, bimbingan dan  pendampingan. Kemudian dilakukan supervisi  desain dan aplikasinya serta pemberian stimulasi  peralatan teknologi tepat guna untuk memecahkan persoalan produksi. Problem utama UKM khususnya kriya logam di desa Tumang adalah penggunaan alat yang sederhana, merupakan salah satu sebab mengapa produk kriya tidak bisa memenuhi permintaan pasar dalam waktu yang singkat. Sehingga diperlukan strategi bagaimana memecahkan permasalahan tersebut. Disamping itu banyak permasalahan-permasalahan lain yang diperlukan penanganan sebagai bentuk strategi pengembangan. Diantaranya penanganan permasalahan bahan baku, desain, alat produksi, strategi promosi, pemasaran dan pengelolaan sumber daya  manusia.Fokus dari kegiatan pemberdayaan ini lebih diarahkan pada pada aspek peningkatan kualitas produksi Kerajinan logam  yang meliputi penguatan sistem produksi, penguatan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi tepat guna, perancangan desain, dan branding produk yang akhirnya bermuara pada eksport hasil produk kerajinan logam. Kata kunci : Pemberdayaan, kriya logam, kualitas
CRISTIAN Raharjo, Timbul
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v8i1.3092

Abstract

Sebuah kebidupan dunia yang benuh dengan aneka ragam. Sebuah prestasi dan perjuangan tergambar dari fungsi block mesin yg telah melalui perjalanan panjang.Karya ini saya buat ketika saat saya sakit. Ada seorang doktor dari Spanyol yang belajar konseptual art bernama Christian Gil Gil. Disaat saya di atas kursi ruda christian saya minta menata barang bekas Aluminum. Dan saya juduli "christian"
ESTETIKA DAN ETIKA WUWUNGAN RUMAH TRADISIONAL JAWA DALAM ERA GLOBAL Arif Suharson
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.18 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i2.2794

Abstract

Philosophically, the ornamental art of wuwungan on top of Javanese traditional houses is characterized by such high Javanese esthetic and ethical values. It is necessary to re-actualize the existence and essence of the Javanese ornamental art of wuwungan in the era of industrial revolution 4.0. This cultural and traditional literacy will be necessary to strengthen the national characters and values in anticipation of the rapidly global era transformation. The new cultural values in the digital era are expected to ensure improvement of survival and establishment of new understandings inspired by local cultural diversity, appreciation, and knowledge to ensure the successful actualization of Javanese traditional cultural values. This is a qualitative study and accordingly this study will employ the qualitative method using the analytical interaction method through the grounded research. This study urges the re-actualization of understanding about Javanese philosophy in the form of the ornamental art of wuwungan in Javanese traditional houses that represents Javanese esthetic and ethical values. Javanese traditional local culture can serve as the local traditional identity and is a part of Indonesian national culture. Therefore, they have to be re-actualized and represented in the adjusted and adapted forms to meet the current condition of global. The technological advancement can serve as a smart tool to enhance the innovative and creative industry based on local cultures and global discourses. Key Words: Wuwungan, Javanese Traditional House, Industrial Revolution, Global. Seni hias wuwungan pada atap rumah tardisional Jawa memiliki karakteristik di dalamnya terkandung falsafah hidup orang Jawa dimana terdapat muatan ajaran luhur yang mantap dan mendalam menyangkut nilai estetika dan etika. Reaktualisasi terhadap eksistensi dan esensi seni hias wuwungan Jawa dibutuhkan. Hal ini dapat dijadikan sebagai literasi budaya tradisi menghadapi derasnya arus perubahan zaman yang serba cepat untuk memperkuat nilai-nilai karakter bangsa. Pengaruh-pengaruh budaya baru di era digital menjadi satu daya hidup untuk memberikan bentuk pemahaman baru atas inspirasi kekayaan budaya lokal, apresiasi, dan pengetahuan baru dalam mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran luhur budaya Jawa secara luas. Penelitian ini akan memberikan penjelasan secara kualitatif, sehingga metode yang digunakan adalah metode kualitatif   dengan menggunakan metode interaksi analisis melalui grounded research. Urgensi penelitian ini terkait dengan reaktualisasi pemahaman   tentang   filosofi   hidup   orang   Jawa   melalui   seni   ornamentasi wuwungan rumah tradisional Jawa dibalik wujud visual yang tampak berdasarkan korelasi Estetika dan Etika Jawa. Keunggulan budaya lokal Jawa sebagai identitas tradisi merupakan bagian budaya nasional Indonesia yang bernilai dapat diaktualisasikan kembali dalam representasi baru menyesuaikan dengan gerak perkembangan global. Kemajuan teknologi menjadi sarana cerdas untuk memajukan kreatifitas dalam peranannya memajukan industri kreatif yang inovatif berbasis tradisi budaya lokal dalam wacana global. Kata Kunci: Wuwungan, Rumah Tradisional Jawa, Revolusi Industri, Global
RE-AKTUALISASI KISAH PERJALANAN LAKSAMANA CHENG HO DI CIREBON MELALUI BATIK (Kajian Batik di Cirebon serta hubungannya dengan Bahasa Rupa Tradisi) Amanda Rizky
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.116 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i1.2688

Abstract

Admiral Cheng Ho (Zheng He), one of the migrants from China who introduced his culture to the Indonesians. Cirebon has benefited greatly from its expedition. However, not much remains of Admiral Cheng Ho still preserved by Cirebon. Whereas Admiral Cheng Ho has contributed a lot of useful knowledge to the port and the kingdom in Cirebon, which at that time port of Cirebon known as the Port of Muara Jati became famous throughout Java and even abroad. Preserving the history of Admiral Cheng Ho's journey and its relics in Cirebon can enrich the cultural treasures to the Indonesian nation. One effort to preserve it is with batik, because batik is one of the cultural image of the Indonesian nation that easy to spread widely and the variety of Cirebon batik decoration is influenced by the ornaments from China. In order to create a textile that can tell the journey of Admiral Cheng Ho, this research will use comparative study with qualitative methods to find linkages between batik in Cirebon and Bahasa Rupa Tradisi, which later will be applied to the design. The collaboration of travel story of Admiral Cheng Ho and batik will create contemporary art that communicative and gives a new breath for Indonesian textile. Keywords: admiral cheng ho, bahasa rupa tradisi, batik, cirebon, re-actualizasion Laksamana Cheng Ho (Zheng He), salah satu pendatang dari Cina yang memperkenalkan budayanya kepada bangsa Indonesia. Cirebon banyak memetik keuntungan dari ekspedisinya. Namun, tidak banyak peninggalan Laksamana Cheng Ho yang masih dilestarikan oleh Cirebon. Padahal Laksamana Cheng Ho telah banyak berkontribusi memberikan ilmu pengetahuan yang berguna untuk pelabuhan dan wilayah kerajaan di Cirebon, yang pada masa itu pelabuhan Cirebon dikenal sebagai Pelabuhan Muara Jati menjadi terkenal di seantero Jawa bahkan mancanegara. Melestarikan sejarah perjalanan Laksamana Cheng Ho dan peninggalannya di Cirebon dapat memperkaya khasanah kebudayaan bangsa Indonesia. Salah satu upaya untuk melestarikannya adalah dengan batik, karena batik merupakan salah satu citra budaya bangsa Indonesia yang mudah menyebar luas dan ragam hias batik Cirebon banyak dipengaruhi oleh ragam hias dari Cina. Demi menciptakan tekstil yang bisa menceritakan perjalanan Laksamana Cheng Ho, maka penelitian ini akan meggunakan strategi studi komparatif dengan metode kualitatif untuk menemukan keterkaitan antara batik di Cirebon dan Bahasa Rupa Tradisi, yang nantinya akan diaplikasikan pada perancangan. Kolaborasi kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho dan batik akan menciptakan karya seni rupa kontemporer yang komunikatif  dan memberikan nafas baru bagi tekstil Indonesia. Kata kunci: bahasa rupa tradisi, batik, cirebon, laksamana cheng ho, re-aktualisasi
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERAJIN TENUN LURIK ATBM MELALUI INOVASI PRODUK Nany Noor K.; Kristiana Sri Utami; I Made Sukanadi
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.566 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2675

Abstract

The study aims to make effective model of empowerment of SMEs that can improve competitiveness and support the creative economy, so as to increase enterpreneurs that are oriented to product innovation. The specific target of the research is to obtain design and prototype of lurik weaving modification with natural fiber. The research was conducted with quantitative and qualitative approach, with Participatory Action Research (PAR) method. The research phase begins with the identification of human resources and product potentials, identifies the constraints faced by SMEs, followed by guidance and innovation development through design and prototype of lurik weaving modification with natural fiber. Based on the potential of human resources and products by considering the constraints faced by craftsmen, as well as based on the potential of natural resources (natural fiber) owned by the surrounding area, the researchers succeeded in making the design as the basis for creating prototype of the Lurik Abstract I Design, Lurik Abstract II , Lurik Dashed Lines Design, Lurik Mendong Combination Printing Design, Bamboo Lurik Feed Design and Lurik Combination Design.  Keywords: empowerment of SMEs, creative economy, lurik  Penelitian ini bertujuan membuat model pemberdayaan UKM  secara efektif yang dapat meningkatkan daya saing dan mendukung ekonomi kreatif, sehingga mampu meningkatkan pelaku usaha yang berorientasi pada inovasi produk. Target khusus penelitian adalah memperoleh desain  dan prototype modifikasi serat alam pada tenun lurik. Penelitian dilakukan dengan  pendekatan kuantitatif dan  kualitatif, dengan metode Participatory Action Research (PAR). Tahapan penelitian dimulai dengan pengidentifikasian potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dan produk, pengidentifikasian kendala yang dihadapi UKM, dilanjutkan pembinaan dan pengembangan inovasi melalui pembuatan desain dan prototype tenun lurik modifikasi serat alam. Dengan mendasarkan pada potensi SDM dan produk dengan mempertimbangkan kendala yang dihadapi perajin, serta mendasarkan pada potensi sumber daya alam (serat alam) yang dimiliki daerah sekitar, maka peneliti berhasil membuat  desain  sebagai dasar untuk membuat prototype, yaitu Desain Lurik Abstrak I, Desain Lurik Abstrak II, Desain Lurik Garis Putus-Putus, Desain Lurik Mendong Kombinasi Printing, Desain Lurik Pakan Bambu, dan Desain Tenun Lurik Kombinasi. Kata Kunci: pemberdayaan UKM, ekonomi kreatif, lurik.