cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
TENUN KUBANG: SEMANGAT MEMPERTAHANKAN SENI TRADISI DARI PENGARUH MODERNITAS Dini Yanuarmi; Widdiyanti Widdiyanti
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.793 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i1.2374

Abstract

This research is aimed at analysing the preservation and harmonisation Kubang weavinginto development of technology and modernisation. Tenunan Kubang (Kubang weaving) as atraditional art does not necessarily mean as a piece of cloth woven from threads with certaindesigns, colours, and motives, yet it also contain the socio-cultural values of the area where itoriginates and develops. As a traditional art, every cloth possesses splendidly woven motives.The motives are used to be seamlessly woven with some certain, seemingly-tough level ofdifficulty by using the manual-traditional weaving equipment. The influences of modernisationare considered as an effort to preserve a sustainable tradition of Kubang weaving art. TheApproaches in the analysis is emphasied on sociological aspects of Kubang weaving products.The data for the analysis are collected by using both the library research and field observation.The results indicated that the long run of the Kubang weaving had always been simultaneous tothe change and development of the ages. Under the circumstances, Kubang weaving appearedas a creative, innovative, and competitive product that maintained cultural and traditionalvalues. Without those values, Kubang weaving shall loose its identity and at the same time, shallbe meaningless and abandoned by the society.Keywords: Kubang Weaving, Traditional Art, Motives, Minangkabau
KOSTUM PRAJURIT KRATON YOGYAKARTA KAJIAN PERAN DAN NILAI SIMBOLIK Septianti Septianti
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.426 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2673

Abstract

Each country has a military device, but if other countries use it as a means of maintaining the sovereignty of the region and its people, but in Yogyakarta is different. Soldiers of the palace in Yogyakarta have a role as a completeness in the ceremonies and on other occasions made by the Palace. In addition it will discuss four soldiers who use lurik as the main ingredient in the costum that is, soldiers Patang, Jagakarya, Ketanggung, and Mantrijero. The four selected soldiers have similarities to the motives imposed despite having different attributes on each costume, whether there is a supporting color on the black or red costume. The method used qualitative method with descriptive approach. While the study used in the form of role values and symbolic theories that exist in the costume. The semiotics theory was to be used belongs to Charles S. Peirce. Semiotics has a definition as a study of signs, essentially a study of codes, ie any system that allows us to view certain entities as signs or as meaningful. Therefore, the value of symbols that can be picked from this costume the existence of cultural values that can not be separated, such as lurik which mutually forwarded again with other colors, the depiction of loyalty of the warrior with his master who do not get the existence of estrangement.Keywords: Costume, soldiers, Kraton Yogyakarta   Setiap negara memiliki perangkat militer, namun bila negara lain menggunakannya sebagai alat mempertahankan kedaulatan wilayah dan bangsanya, tapi di Yogyakarta berbeda. Prajurit kraton di sini memiliki peran sebagai suatu kelengkapan dalam upacara-upacara dan pada kesempatan lain yang dilakukan oleh Kraton .Selain hal itu nanti akan hanya  membahas  empat prajurit yang menggunakan lurik sebagai bahan utama dalam kostumnya yaitu, prajurit Patang puluh, Jagakarya, Ketanggung, dan Mantri jero. Keempat prajurit yang dipilih memiliki kesamaan akan  motif yang dikenakan walaupun memiliki atribut-atribut yang berbeda pada setiap kostumnya, baik ada yang memiliki warna pendukung pada kostum  hitam  maupun merah. Metode yang akan digunakan   metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sedangkan kajian yang akan digunakan berupa nilai peran dan teori simbolik yang ada pada kostumnya. Teori semiotika yang akan digunakan milik Charles S. Peirce. Semiotika memiliki definisi sebagai suatu kajian tanda-tanda, pada dasarnya merupakan sebuah studi atas kode-kode, yaitu sistem apapun yang memungkinkan kita memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda atau sebagai suatu yang bermakna. Maka dari itu nilai simbol yang dapat dipetik dari kostum ini adanya nilai budaya yang  tak lepas, seperti lurik yang saling diteruskan lagi dengan warna lain, penggambaran kesetiaan prajurit dengan tuannya yang jangan sampai akan adanya kerenggangan.Kata kunci: Kostum, prajurit, Kraton Yogyakarta
PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN PANAKAWAN DALAM PEWAYANGAN Nurhadi Siswanto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.481 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2638

Abstract

The Panakawan figure in puppet is the original creativity of Indonesian people. Its existence is recognized as having existed before Islam emerged as the political power in the archipelago (Demak). Since the 12th century the figure of Panakawan has been mentioned in Javanese literature and developed in the walls of the temple's reliefs. Even the presence of Panakawan still exists today, with Semar, Gareng, Petruk and Bagong as the characters. Of course there were many different things between Panakawan pre-Islamic times when compared to the Islamic period. These differences were certainly very interesting to study, so they can show the influence of Islam in the world of Wayang. This paper tries to examine the history, changes and development of Panakawan figures in pre-Islamic times and the Islamic period. Using Alvin Boskoff's theory of change, and the theory of the principle of acculturation to Koentjaraningrat's culture, the author tries to examine various changes, and the development of Panakawan figures in wayang. The results of the study show that changes in the pre-Islamic Panamanian era and the Islamic period were changes due to external factors, namely the domination factor of Islamic teachings in Puppet. The strong influence of Islam has caused many changes to occur in the naming, number, form and function of the Panakawan figures.KeyWord: Punakawan, Puppet, changes and Development  Tokoh Panakawan dalam pewayangan adalah asli kreatifitas manusia Indonesia. Keberadaanya diakui telah ada sebelum Islam muncul sebagai kekuatan politik di bumi Nusantara (Demak). Sejak abad 12 tokoh Panakawan telah disebutkan dalam kesusastraan Jawa dan berkembang pada relief dinding-dingding Candi. Panakawanpun keberadaannya masih eksis sampai saat ini, dengan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong sebagai tokohnya. Tentunya banyak hal yang berbeda antara Panakawan masa pra Islam bila dibandingkan dengan masa Islam. Berbagai perbedaan tersebut tentulah sangat menarik untuk dikaji, sehingga bisa menunjukkan pengaruh Islam dalam dunia Wayang. Tulisan ini mencoba mengkaji sejarah, perubahan dan perkembangan tokoh Panakawan pada masa pra Islam dan masa Islam. Menggunakan teori Perubahan Alvin Boskoff, dan teori prinsip akulturasi budaya Koentjaraningrat, penulis mencoba mengkaji berbagai perubahan, dan perkembangan tokoh Panakawan dalam pewayangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa perubahan Panakawan masa pra Islam dan masa Islam merupakan perubahan karena faktor eksternal, yaitu faktor dominasi ajaran Islam dalam Pewayangan. Kuatnya pengaruh Islam ini telah menyebabkab banyak terjadi perubahan baik pada penamaan, jumlah, bentuk dan fungsi tokoh Panakawan. Kata Kunci: Punakawan, Wayang, Peruabahan dan Perkembangan
VIABILITAS RAGAM HIAS SULUR GELUNG TERATAI Akhmad Nizam; Wisma Nugraha Ch R.; SP. Gustami
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1038.247 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i2.2796

Abstract

The walls of Hindu and Buddhist temples in Java are often found in the carved ornament of lotus plants that is grown from tubers or urns. In early period of Islam in Java, the existence of this decorative variety remained. Based on the books of the Hindu Purana, there is an explanation of the concept of the the universe creations embodied in the form of lotus scrolls. Meanwhile, from the old manuscripts belonging to the Wali, although limited in the scope of Sufism of the Tarekat Syaththariyah there is an explanation of the lotus with the name of the Tunjung flower. This article discusses the concept of creating works of art based on the theory of adaptation by Linda Hutcheon in his book: A Theory of Adaptation. The discussion is more emphasized on the visual aesthetic aspects contained in Lara Jonggrang Prambanan temple in Kalasan Yogyakarta, Surowono Temple in Kediri East Java and Sunan Drajat tomb in Lamongan, East Java. The ornamental variety, whose concept of creation was adapted from Purana books of Hindu, was in early Islam believed to follow the theoretical procedures, as well as in later times, but the philosophical meaning may be less well known. Keywords: ornament, sulur gelung, padmamūla, tunjung Dinding candi-candi Hindu dan Buddha di Jawa, sering ditemukan pahatan ragam hias sulur tumbuhan teratai yang tumbuh dari bonggol atau guci bergelung-gelung. Pada masa Islam awal, eksistensi ragam hias ini tetap bertahan. Berdasarkan kitab-kitab Purana Hindu, terdapat penjelasan mengenai konsep pembentangan alam semesta yang diwujudkan dalam bentuk gulungan teratai. Sementara itu, dari naskah lama milik para Wali, meskipun terbatas dalam lingkup tasawuf Tarekat Syaththariyah terdapat penjelasan mengenai teratai dengan nama bunga tunjung. Artikel ini membahas tentang konsep penciptaan karya seni berdasarkan teori adaptasi oleh Linda Hutcheon dalam bukunya: A Theory of Adaptation. Pembahasan lebih ditekankan pada aspek-aspek estetis visual yang terdapat di candi Lara Jonggrang Prambanan di Kalasan Yogyakarta, Candi Surowono di Kediri Jawa Timur dan makam Sunan Drajat di Lamongan Jawa Timur. Ragam hias tersebut, yang konsep penciptaannya diadaptasi dari kitab-kitab purana Hindu, maka pada masa Islam awal diyakini mengikuti prosedur teori tersebut, begitu juga pada masa berikutnya, tetapi makna filosofisnya mungkin kurang begitu dikenal. Kata kunci: ragam hias, sulur gelung, padmamūla, tunjung
PERSEPSI SENIMAN KRIYA YOGYAKARTA TERHADAP KARYA MEBEL GAYA VINTAGE (Studi Kasus: Jakarta Vintage) Rio Raharjo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.07 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i1.2692

Abstract

Persepsi merupakan istilah yang erat kaitannya dengan psikologi dan neurologi, yang pada hakikatnya mencoba untuk mengetahui penerimaan informasi melalui otak dan memahami bentuk dan makna pada apa yang diinderai, salah satunya karya seni. Namun, dalam pendekatan sosiologi, pemahaman seseorang terhadap bentuk dan makna tersebut, dapat dibentuk melalui pembatinan atas nilai-nilai sosial-budaya di mana seseorang itu berasal (habitus). Untuk dapat mengetahui apa makna dan bagaimana makna tersebut dapat muncul dari para reseptor, yang dalam kasus ini karya mebel dari Jakarta Vintage, menggunakan metode kritik seni. Karya Jakarta vintage yang hadir dengan konsep nostalgia dianggap sebagai pembeda di antara konsep-konsep pada arus utama. Sebagai temuannya, para seniman kriya memahami bahwa makna yang muncul pada tidaklah murni sebagai makna yang utuh. Kata Kunci: Persepsi, Mebel, Jakarta Vintage, habitus  Perception is a term close to relation with psychology and neurology, which in naturally try to acceptance know information through the brain and understanding form and meaning what on sensed, one of them is art. But, In the sociology approachment, someone understanding of the forms and meanings, can be formed through pembatinan on social values and culture where someone is coming (habitus). To be able to know what is of meaning and how that meaning can arise from the receptor, which in this case works from Jakarta Vintage furniture, using the method of art criticism. The work Jakarta vintage that comes with the concept of nostalgia is considered as a differentiator between the concepts in the mainstream. As findings, craft artists understand that the meaning appears on it is not pure as meaning intact..Key Word: Perception, Furniture, Jakarta Vintage, habitus
EKSPLORASI DAN PENGGABUNGAN MESIN PADA SENI PATUNG Lutse Lambert Daniel
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.588 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2678

Abstract

One type of artwork in three dimensions is sculpture. As part of fine art, sculpture is an artistic and aesthetic statement through three-dimensional forms. Each form of car or motorcycle engine is unique. The number of machines that can no longer be used and are only piled up in the trash or even in a flea collector and destroyed again to be used as a material for machine makers that gave rise to the idea of utilizing the metal waste into three-dimensional art forms. The technique used in the embodiment of art is construction using welding and screw raft techniques. The machines will be arranged and integrated in such a way as to form a three-dimensional work according to the basic idea of making the work.Keywords: Exploration, Machine, Sculpture Salah satu jenis karya seni yang berbentuk tiga dimensi adalah seni patung. Sebagai bagian dari seni rupa, seni patung merupakan pernyataan artistik dan estetik melalui bentuk-bentuk tiga dimensional. Setiap bentuk mesin mobil maupun motor memiliki keunikan yang berbeda-beda. Banyaknya mesin-mesin yang sudah tidak bisa digunakan lagi dan hanya ditumpuk di tempat sampah atau bahkan di tukang loak dan dihancurkan lagi untuk dijadikan bahan pembuat mesin yang baru memunculkan ide untuk memanfaatkan limbah logam tersebut ke dalam bentuk seni tiga dimensi. Teknik yang digunakan dalam perwujudan karya seni adalah konstruksi menggunakan teknik rakit las dan sekrup. Mesin-mesin akan disusun dan dipadukan sedemikian rupa sehingga membentuk karya tiga dimensi seuai dengan ide dasar pembuatan karya. Kata Kunci: Eksplorasi, Mesin, Patung
STUDI EKSPERIMEN FINISHING PERHIASAN KUNINGAN DENGAN PERPADUAN ELEKTROPLATING DAN PATINASI Febrian Wisnu Adi
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.828 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2662

Abstract

Finishing Research The combination of Patina and electroplating has been carried out according to the research target, which has been able to identify metal materials, especially brass and copper. Bronze and copper Patenting techniques with various jewelry forms. The form of jewelry created amongst other things: bracelets, pendants, jewelry earrings are made with solder technique, tatah, and saws. Before the author experiment and apply patina and electroplating as the main finishing on jewelry on the work of creation. The author first conducted patina and electroplating tests to brass and copper plates with size 2 x 3 cm. The process and results of this research experiment is the answer and the first step which has successfully conducted various scientific experiments with found patina finishing formula with the ideal chemical mixing composition. Research on patina and electroplating experiments can be a contribution to the progress of finishing. Patina finishing research is preferred in brass and copper.Finishing is the finishing touch of a product with a better purpose, such as increasing the quality of the ingredients, increasing the decorative value, increasing the aesthetic value of a product, following the latest design trends, and can increase the selling value of a product. This research is a new research that has not been there before with the method of merging patina and electroplating techniques will be a trend finishing and as a pioneer finishing on jewelry with brass and copper. Keywords: jewelry finishing experiment, patination finishing, finishing electroplating  Percobaah finishing kombinasi patina dan electroplating telah dilakukan sesuai dengan target penelitian, yang telah mampu mengidentifikasi bahan logam, khususnya kuningan dan tembaga. Teknik Paten Perunggu dan Tembaga dengan berbagai bentuk perhiasan. Bentuk perhiasan yang dibuat antara lain: gelang, liontin, anting perhiasan dibuat dengan teknik solder, tatah, dan gergaji. Sebelum penulis bereksperimen dan menerapkan patina dan pelapisan sebagai finishing utama pada perhiasan pada karya penciptaan. Penulis pertama kali melakukan tes patina dan elektroplating untuk pelat kuningan dan tembaga dengan ukuran 2 x 3 cm. Proses dan hasil percobaan penelitian ini adalah jawaban dan langkah pertama yang berhasil melakukan berbagai percobaan ilmiah dengan menemukan formula finishing patina dengan komposisi pencampuran kimia yang ideal. Penelitian tentang percobaan patina dan elektroplating dapat menjadi kontribusi bagi kemajuan penyelesaian. Penelitian finishing Patina lebih disukai di kuningan dan tembaga. Finishing adalah sentuhan akhir dari produk dengan tujuan yang lebih baik, seperti meningkatkan kualitas bahan, meningkatkan nilai dekoratif, meningkatkan nilai estetika suatu produk, mengikuti tren desain terbaru, dan dapat meningkatkan nilai jual suatu produk. Penelitian ini adalah penelitian baru yang belum pernah ada sebelumnya dengan metode penggabungan patina dan teknik elektroplating akan menjadi tren finishing dan sebagai pelopor finishing pada perhiasan dengan kuningan dan tembaga. Kata kunci: percobaan finishing perhiasan, finishing patinasi, finishing electroplating
#SAVE OUR INDONESIA ( PARADE RETAK DAN MELELEH ) Asmara, Dwita Anja
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v8i1.3091

Abstract

Sebuah simbol kemunduran dan kegagalan dari sebuah bangsa yang bermartabat, lunturnya rasa kebersaman, kurang menghargai orang lain, rasa persatuan, membeda bedakan.  Seharusnya Indonesia mulai sadar tentang kerapuahan, keretakan,  ibarat barang yang keras bangsa ini makin lama makin tua, retak dan akhirnya sudah meleleh, dari budaya, tingkah laku, sikap mulai luntur. Mengusung simbol “sudah retak rasa rasa rasa” kita dalam berbangsa,  Rindunya akan rasa persatuan, rasa damai rasa kebersamaan Himbauam Selamatkan Indonesia   Kita.
PENERAPAN TEKNIK KASAB ACEH PADA PRODUK SEPATU WANITA DEWASA Zulfikar Zulfikar; Adi Isworo Josef; Ratna Endah Santoso
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.711 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i2.2793

Abstract

Indonesia has many cultural heritages, one of them are the techniques of traditional textile such as Kasab from Aceh. The purpose of this design is to invent a brand new product in ethnic women shoes diversities with edgy style.  The designs were made based on the aesthetic value and also new material as an innovation for the oldest Kasab which had been existed. The results of this creative process were 6 designs of shoes, all designs are applied on the upper and 5 amongst them were produced as 2 pairs of flat shoes and 3 pairs of wedges. Keyword : Kasab, Shoes, Surface design, Upper, Edgy Style. Indonesia memiliki banyak warisan budaya, salah satunya yaitu teknik Kasab yang berasal dari Aceh. Tujuan perancangan adalah menciptakan produk baru untuk keberagaman sepatu etnik untuk wanita dewasa dengan karakter fashion edgy style. Pengolahan visual dirancang dengan mempertimbangkan nilai estetis dan menggunakan bahan baru sebagai potensi inovasi Kasab yang sudah ada. Proses kratif dengan metode teknik ini menghasilkan 6 desain, seluruh desain diaplikasikan pada upper dan 5 diantaranya direalisasi pada 2 sepatu flat dan 3 sepatu wedges. Kata Kunci : Kasab, Sepatu, Desain permukaan, upper, Edgy
RE-AKTUALISASI KENDIL HITAM Koniherawati Koniherawati; Centaury Harjani
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v8i1.2687

Abstract

“Hidup Segan Matipun Tak Mau” adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi kembang-kempisnya hidup kerajinan gerabah tradisional di beberapa daerah, khususnya kerajinan kendil hitam di desa Kasongan, Kendil hitam dikenal dengan sebutan kendil gudeg, kendil ini biasa digunakan sebagai wadah makanan khas Jogja yaitu gudeg. Kendil dihasilkan oleh pengerajin gerabah melalui proses pembuatan secara“tradisional”. Pembuatan kendil hitam sangat tradisional menggunakan bahan tanah liat yang terdapat di alam sekitar, menggunakan peralatan sederhana, serta pembakaran ladang (field firing) suhu rendah berbahan bakar uwuh (daun-daundan ranting kering). Kendil sebagai wadah yang aman untuk makanan. Teknik seni gerabah tradisional ini sudah dikenal sebagai ciptaan manusia sejak jaman prasejarah untuk membuat barang kebutuhan sehari-hari dalam bertahan hidup (life survival). Teknik pembuatan tradisional diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang, dan saat ini dan mulai bersaing dengan produk industri yang dibuat secara massal. Tulisan ini akan mengangkat keistimewaan kendil hitam dalam bertahan hidup memenuhi kebutuhan untuk wadah makanan gudeg di jaman milenial ini. Studi pustaka, observasi, dan wawancara dengan pendekatan etnografi digunakan sebagai metode penelitian. Hasil dari penelitian diharapkan berguna untuk melengkapi pengetahuan akademik khususnya bagi mahasiswa jurusan keramik, yang selama ini hanya mengenal pembuatan keramik modern dengan peralatan canggih (modern).Kata Kunci: gerabah tradisional, bertahan hidup, era milenial. "Hidup Segan Matipun Tak Mau" is an expression that describes the struggling conditions of conserving traditional pottery crafting in several regions, especially black kendil in Kasongan village. This black kendil, known as gudeg kendil, is commonly used as a container used for storing one of Jogja's most traditional dish, namely gudeg. Kendil is produced by pottery craftsmen through a "traditional" manufacturing process. Black kendil is traditionally made out of clay that is discovered easily in surroundings areas, and by using simple equipment, that is then burnt in the field with low-temperature (field firing) using dried leaves and twigs (uwuh) to produce containers that are food-safe. This traditional pottery art technique has been known as one of human’s creations used in order to produce daily necessities for life survival since the pre-historic times. These traditional manufacturing techniques have been passed down from ancestors to the current generation, and now competes with mass industrial production. This paper will highlight the features of maintaining the use of black kendil as gudeg food containers in this current millennial era. Literature studies, observations, and interviews with the ethnographic approach are used as the methods of research. The results of the study are expected to be useful for academics, particularly students of ceramics major, who are more exposed to modern ceramic manufacturing through the use of advanced equipment. Key-word: traditional pottery, life survival, millenial era.