cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
KAIN SEBAGE Era Paraswati
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 3, No 2 (2014): NOVEMBER 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1297.053 KB) | DOI: 10.24821/corak.v3i2.2350

Abstract

Sebage fabric is one of the typical fabric manufacturing techniques Lampung are madewith batik techniques. Along with the development of batik in Indonesia. Fabric Sebagereintroduced in 1999 by Governor Drs. Oemarsono, at that time. Sebage fabric used fortraditional ceremonial purposes. Sebage fabrics grouped into two types, namely Sebage fabricBalak (Large) and Sebage fabric Lunik (Small). Keywords: Fabric, Sebage, Batik, Lampung   Kain Sebage merupakan salah satu kain khas daerah Lampung yang teknikpembuatannya dibuat dengan teknik membatik. Seiring dengan perkembangan batik diIndonesia. Kain Sebage diperkenalkan kembali pada tahun 1999 oleh Gubernur Drs.Oemarsono, pada saat itu. Kain sebage digunakan untuk kepentingan upacara adat. Kainsebage dikelompokan menjadi 2 jenis yaitu kain sebage Balak (Besar) dan Kain Sebage Lunik(Kecil). Kata Kunci: Kain, Sebage, Batik, Lampung
KERETA SINGO BARONG DI KERATON KASEPUHAN CIREBON Sumino Sumino
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 1, No 1 (2012): MEI 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.492 KB) | DOI: 10.24821/corak.v1i1.2314

Abstract

This study to look at the changes the meaning of Singo Barong in the context of the past asunderstood by the public Cirebon in the present. In the time, the train experienced a period oftransit which to change the context in which the material or object of art will have meaning.As a result of the frequent occurrence of changes in the context of the meanings are oftensubject to change. It is an art object in transition, experiencing a change of meaning as aresult of changes in context. Change of meaning will evoke an emotional response whencrossing cultural boundaries.Reading of documents or artifacts that are relevant necessary to achieve a deeper meaningand detail. Therefore anthropological perspective that links production and consumption ofartifacts are not separated from the question of the culture, politics, religion and others.Borrowing the theory of "processual relativism" Svasek will bring an understanding of the artmaterial in a different time and space. At least not with borrowed this theory will be obtainedthe values behind the train characteristics. By finding the characteristics at a certain time andspace will be acquired meaning, then what meaning it will be reviewed and compared. Suchway of thinking is more easy to see the socio-cultural change at both the pattern of thought orsocial institutions Kasepuhan Cirebon palace.Singo Barong train its existence is equivalent to other objects stored in the MuseumKasepuhan Cirebon, such as gamelan, batik cloth, weapons, and so forth. Artifacts have thesame weight value when used as a tool in the ritual. But the context has a different meaning,is associated with the constituent. From time to time, the meaning is changed, both in socialand cultural areas. Religious meaning at the time of the kings was in power changed thefulfillment of the ritual or ceremonial, then change as the fulfillment of the economy andtourism.Keywords: Train Singo Barong, Svasek, Changes
POTENSI PENGEMBANGAN INOVASI DESAIN PRODUK KRIYA KUKM INDONESIA DI ERA INDUSTRI KREATIF Wicaksono, Agung
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 3, No 1 (2014): MEI 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.907 KB) | DOI: 10.24821/corak.v3i1.2341

Abstract

Craft product design innovation can be done starting from the manufacture of itsdesign concept which refers to changes in consumers . Craft products that have cultural base inthe community greatly burdened by tradition philosophical values . Changes in product designis very evolutive or tend to be very slow and has particularly certain patterns . Craft productsproduced as commodities to meet the needs of consumers tend to run relatively more dynamic. The main key change lies in HR culprit who have the will and skill to innovate the design ofproducts that have added value better again . The Indonesian people have the capital to makechanges in product design kriyanya . Openness to information and valuable cultural heritageare the two most important factors in product design innovation craft . Keywords : design innovation , product craft , creative industries  Inovasi desain produk kriya dapat dilakukan mulai dari pembuatan konsepperancangannya yang mengacu pada perubahan konsumennya. Produk kriya yang memilikibasis budaya dalam komunitas masyarakat tradisi sangat dibebani oleh nilai-nilai filosofis.Perubahan desain produknya sangat evolutif atau cenderung sangat lambat dan meiliki polapolatertentu. Produk kriya yang dihasilkan sebagai komoditas untuk memenuhi kebutuhankonsumen cenderung berjalan relatif lebih dinamis. Kunci utama perubahan terletak pada SDMpelakunya yang memiliki kemauan dan keterampilan untuk menginovasi desain produk supayamemiliki nilai tambah yang lebih baik lagi. Bangsa Indonesia memiliki modal untuk membuatperubahan pada desain produk kriyanya. Keterbukaan terhadap informasi dan warisan budayaadiluhung merupakan dua faktor penting terjadinya inovasi pada desain produk kriya. Kata kunci : inovasi desain, produk kriya, industri kreatif
ALAT TRANSPORTASI KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI STRUKTURAL Indro Baskoro Miko Putro
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.002 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2332

Abstract

The means of transport belonging to the palace of Yogyakarta Sultanate is treated asan heirloom that gets legitimacy sultan as Kagungan Dalem (the king) in accordance habitswithin the palace. Royal heirlooms, including transportation and the name has a certain degreeof corresponding 'proximity' to the sultan. Heirloom that has been used or is still used by theSultan and was named Kyai masculine , while the feminine was named Nyai. If the vehicle is amajor heirloom, then in front of Kyai or Nyai title is added to the title Kanjeng.Palace as the creator of "symbols", his actions are not solely based on theinterpretation of freedom as well as his own accord, but in pursuance of a stimulusinterpretation for the creation of a public servant interpretation response Ngayogyakartapalace. The existence of the palace transportation, must be addressed by society as a symbol ofthe greatness of Yogyakarta Yogyakarta Sultanate dynasties that have stood the test of time,proven to date is revitalized through rituals jamasan Kanjeng heritage train Nyai amulets andtrain companion Sura month, the exhibition train palace Mulud every month, and theprocession procession procession procession jumenengan sultan and the palace weddingreception using the train. Keywords: transportasi, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Integrasi Struktural  Alat-alat transportasi milik keraton Kasultanan Yogyakarta diperlakukan sebagaipusaka yang mendapat legitimasi sultan sebagai Kagungan Dalem (milik raja) sesuai kebiasaandilingkungan keraton. Benda-benda pusaka keraton, termasuk alat transportasi mempunyainama dan gelar tertentu sesuai ‘kedekatannya’ dengan sultan. Pusaka yang pernah digunakanatau masih digunakan oleh sultan dan bersifat maskulin diberi gelar Kyai, sedangkan yangbersifat feminin diberi gelar Nyai. Apabila kendaraan tersebut merupakan pusaka utama, makadidepan gelar Kyai atau Nyai tersebut akan ditambahkan gelar Kanjeng.Keraton sebagai pencipta “simbol-simbol”, tindakannya tidak semata-mataberdasarkan pada interpretasi kebebasan maupun kemauannya sendiri, namun dalamkerangka memberikan stimulus interpretasi bagi terciptanya respon interpretasi darimasyarakat kawula keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keberadaan alat transportasi keratontersebut, tentunya akan ditanggapi oleh masyarakat Yogyakarta sebagai simbol kebesarandinasti Kasultanan Yogyakarta yang tidak lekang oleh waktu, terbukti sampai saat ini masihdirevitalisasi melalui upacara-upacara ritual jamasan pusaka kereta Kanjeng Nyai Jimat dankereta pendampingnya dibulan Sura, pameran kereta keraton setiap bulan Mulud, dan prosesiarak-arakan kirab jumenengan sultan maupun kirab resepsi pernikahan menggunakan keretakeraton. Kata Kunci: transportasi, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Integrasi Struktural
KRIYA TEKSTIL TIE-DYE (IKAT CELUP): SEBUAH MEDIA EKSPLORASI ESTETIS YANG POPULER Suryo Tri Widodo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 1, No 2 (2012): NOVEMBER 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1182.694 KB) | DOI: 10.24821/corak.v1i2.2316

Abstract

Tie-dye becomes the one of the most popular craft textile, which is known almost all over theworld including in Indonesia. Making motif on to the fabric using tie-dye techniques is very easy to belearned, beside there are many kind of simple technics on it. These techniques are very unique andcould be developed and explored without limited. The unpredictable effects of motifs sometimes mayappear and can be resulted from tie-dye techniques.In this article we will study about tie-dye in many aspect i.e. term of tie-dye, tradition andculture background of tie-dye, mainly showing about tie-dye techniques, and a few tie-dye products.This paper expected give the wide describing and inspiring about tie-dye in craft textile works or tiedyeas an expression of fine art.Keywords: tie-dye, resist-dye, textile motif, craft textile, aesthetic exploration
GAMBAR KACA, BERCERITA DALAM SATU SKENA Akhmad Nizam; Agung Wicaksono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 3, No 2 (2014): NOVEMBER 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.036 KB) | DOI: 10.24821/corak.v3i2.2355

Abstract

Painted glass has many various theme, forexamples Islamic calligraphy, mosque,biography of Nabi, buroq, legend, and wayangs. In fact, painted glass has important positioningin Indonesia visual art history. The technique of painted glass making is very unique because itis done on the back of mirror surface. The result of this technique is opposite, left parts willbecome right parts, first color will become frontiest color in glass surface. The quality of paintwill be covered in glass, so it is very good in durability. Painted glass can be protected bycoating on the back of glass surface.In the year of 70’s, many of Javanese traditional house are decorated by painted glass,but it decrease gradually. Recently, the painted glass is less because glass is fragile material,damaged with age, or sold to the art shop. Many people considered the old painted glass isoutdated, however today, painted glass becomes artwork media for modern artist. It is meansthat painted glass not a pheriperal artwork. At first glance that traditional painted glassappears made by ordinary people. It seem as a naïve form, wrong composition, andcontrasting color collide. View of mountain, wet rice field, house, and human being arecomposed as one scene pile, it is wrong in perspective law. And the right question, is that true?Painted glass similary wayang beber, relief of temple wall, drawing by childern, Balitraditional painting, is composed in one scene pile. Why the traditional artist do it? In westernperspective law it is really wrong. But this is the manner of traditional painting inIndonesia.Right or wrong in ordinary drawing low is not their purpose. Their approches is ideoplastis,meaning is more important than the visualization. Keyword: tradition, scene, painted glass  Gambar kaca memiliki beragam tema, seperti tema religi (kaligrafi, masjid, kisah Nabi,singa ajaib, (buroq), legenda (Joko Tarup, Syeh Dumbo, Untung Suropati, pengantin LoroBlonyo) dan bermacam-macam tema wayang. Sebenarnya gambar kaca memiliki kedudukanyang penting dalam sejarah perkembangan seni rupa Indonesia. Pembuatan gambar kacadilakukan secara terbalik, yaitu dari belakang, inilah uniknya. Bidang gambar sebelah kananakan menjadi sebelah kiri, begitu juga sebaliknya. Warna pertama yang ditorehkan akanmenjadi warna paling depan, karena berada dibelakang kaca kualitas warna cat terlindungi,sehingga tetap cemerlang dalam waktu yang lama. Gambar kaca juga memiliki kelemahan,setelah 50-60 tahun cat akan mengelupas, hal ini dapat diatasi dengan memberi lapisanpelindung dari belakang.Era 70-an gambar kaca ini masih banyak menghiasi rumah tradisional Jawa, tetapisekarang jarang sekali dijumpai. Hal ini dapat dimengerti karena bahan kaca mudah pecah dankondisinya sudah banyak yang rusak dimakan usia, atau dijual ke art shop karena alasanekonomi, dan gambar kaca tempo dulu dianggap sudah ketinggalan zaman. Anggapan ini tidaksepenuhnya benar, era sekarang ini karya seni dengan berbagai media dapat digunakansebagai sarana berekspresi. Media kaca dapat dimanfaatkan oleh perupa modern menjadikarya seni visual, artinya sudah saatnya seni gambar kaca tidak dianggap sebagai karyapinggiran. Sekilas tampak bahwa gambar kaca tradisional dibuat oleh mereka yang tidakmengetahui seni. Bentuknya naif, olahan warnanya kontras sering bertabrakan, dan terutamakomposisinya salah. Pemandangan gunung, sawah, bangunan dan manusia disusun secarabertumpuk dalam satu skena, hal ini jika dilihat dari ilmu perspektif akan disalahkan olehmereka yang belajar disiplin ilmu seni, benarkah demikian?Gambar kaca, seperti halnya wayang beber, relief dinding candi, gambar anak, lukisantradisional Bali dibuat dengan susunan bertumpuk seperti itu. Mengapa mereka melakukan halitu? Hal ini jika dinilai dari ilmu perspektif Barat, memang salah. Tetapi demikianlah tradisimenggambar di Indonesia. Benar dan salah dalam suatu gambar, bukan yang utama, bukan itutujuannya. Yang penting adalah isi dari gambar itu dapat dibaca sepanjang waktu, menjadisebuah gambar yang hidup, gambar yang memuat banyak cerita dalam satu skena. Kata kunci: tradisi, skena, gambar kaca
“BATIK MBANTULAN” DI SENTRA BATIK GIRILOYO DAN WIJIREJO BANTUL I Made Sukanadi; Arif Suharson
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 1, No 1 (2012): MEI 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1804.362 KB) | DOI: 10.24821/corak.v1i1.2309

Abstract

The study of batik in the batik centers of Giriloyo and Wijirejo Bantul is intended to develop the existing motifs of batik mbantulan and create new motifs while maintain the identity of batik mbantulan with its local-rich characteristics in Kabupaten Bantul. The development of batik mbantulan has undergone the rising and falling trend. To survive and develop artisans of batik mbantulan have to adapt themselves to the ongoing market preference through the improved characteristics of batik mbantulan. It is necessary to explore the possible existing motifs of batik mbantulan that have brought up the batik center of Giriloyo and Wijirejo have. The motifs of batik mbantulan have to be reserved in the batik products through identification, diversification, and creation of new batik mbantulan motifs, Therefore, the new designs is expected to be more competitive in batik market and create the spirit of creativity and innovativeness among the artisans of batik mbantulan in the Batik Center of Giriloyo and Wijirejo Bantul. The main obstacles that the artisans in the batik center of Giriloyo and Wijirejo have to face up is the meeting of consumers’ orders with their new motifs. The artisans are not capable enough to create new designs through the development of mbantulan motifs and prefer to work on the present and general motifs of batik Yogyakarta. The study is expected to deal with the artisans’ problem in creating new designs / motifs and improve their capacity to make new creative and innovative designs to meet consumers’ desired standard. In turn, this will lead to a better economic prospect for the artisans of batik mbantulan in the batik center of Giriloyo and Wijirejo. Key words: batik mbantulan, artisans, motifs
NILAI NILAI ISLAM PADA WAYANG KULIT, MENJADIKAN PERAN PENTING DALAM PERKEMBANGAN SENI ISLAMI DI INDONESIA Otok Herum Marwoto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 3, No 1 (2014): MEI 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.073 KB) | DOI: 10.24821/corak.v3i1.2346

Abstract

One of the many works of art heritage in Indonesia is a shadow puppet performance(Wayang Kulit). Wayang Kulit is a one of branch of art that is popular and favored by someIndonesian, a work of art that is considering masterpiece based onphilosophical valuecontained in its story.Through the characters and the story, wayang has a role in building nation character.Since wayang is one of Indonesian valuable art tradition, if should be maintained and preservedin order to build and empower nation’s identity. The philosophy values in wayang alwaysincourage people to do a good spare not a harmful things, the spirit of commanding tho goodand fortidding unjust or a tern in the shadow puppet is “Memayu Hayuning Bebrayan Agung”,according to their own beliefs and religion.Islam as a religion that full of value and norm has its own rule for its follower. If thrfollower willing to obey the rule then he or she will get happines in the world and here after.Related to this effort, art is fully needed in the knowledge transfoemation process and valuableIslamic Education.Keyword: leather puppet, Art and Islam  Salah satu dari banyak karya seni warisan di Indonesia adalah kinerja wayang kulit(Wayang Kulit). Wayang Kulit adalah salah satu cabang seni yang populer dan disukai olehbeberapa Indonesia, sebuah karya seni yang sedang mempertimbangkan nilai onphilosophicalberbasis karya yang terkandung dalam cerita tersebut.Melalui karakter dan cerita, wayang memiliki peran dalam membangun karakterbangsa. Karena wayang merupakan salah satu seni tradisi yang berharga Indonesia, jika harusdijaga dan dilestarikan dalam rangka membangun dan memberdayakan identitas bangsa. Nilainilaifilsafat wayang selalu incourage orang untuk melakukan cadangan yang baik bukan halyang berbahaya, semangat memerintah tho baik dan fortidding tidak adil atau tern di wayangkulit adalah "Memayu Hayuning Bebrayan Agung", menurut keyakinan dan agama merekasendiri. Islam sebagai agama yang penuh nilai dan norma memiliki aturan sendiri untukpengikutnya. Jika thr pengikut bersedia untuk mematuhi aturan maka ia akan mendapatkankebahagiaan di dunia dan di sini setelah. Terkait dengan upaya ini, seni sepenuhnya diperlukandalam proses transfoemation pengetahuan dan Pendidikan Islam berharga.Kata kunci: wayang kulit, Seni dan Islam
KAJIAN ESTETIK DESAIN MATA UANG RUPIAH PADA MASA PEMERINTAHAN SOEKARNO PERIODE 1945-1949 Afrizal Afrizal
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.16 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2337

Abstract

The foreign people’s entry into Indonesia before Indonesian’s Independence aimed totrade. They used transaction means they brought with them from their own countries. Such themeans constituted gold and silver. When gold and silver were replaced with paper money bythe incomers such as Dutch and Japanese as the means of transaction, such the type of papermoney was also used as the legal means of payment in Indonesia. When Indonesiansproclaimed their independence on August 17, 1945, such the form of transaction means wasstill used as the legal means of payment. The use of transaction means the incomers hadbrought as legal payment was considered as not suitable to the Indonesian personality; thus itshould be replaced. For that reason, Indonesian government issued its own money form as thelegal transaction means: Oeang Repoeblik Indonesia (ORI).This study explored specifically the development of ORI design during Soekarno reign in1945-1949 period. The main problem was explained using historical approach and fine artscience such as esthetics and symbolism.The result of research revealed that the development of ORI design was affected byseveral factors. The role of Indonesian government as the organizer of money circulation, therole of artists as ORI’s designer who got full trust to select the picture theme to be applied tothe money form, and Indonesian support to the publication of ORI who wanted to beindependent from the colonial grip were internal factors supporting the development. Theexternal factor was that the money used before Indonesian independence was not Indonesianofficial money.Keywords: design development, rupiah currency, and esthetics.  Masuknya bangsa asing ke Indonesia sebelum bangsa Indonesia merdeka dengantujuan berdagang mereka menggunakan alat transaksi yang dibawa dari negaranya masingmasing,alatransaksi itu berupa emas dan perak. Pada saat itu emas dan perak menjadialatransaksi yang sah di Indonesia. Ketika uang emas dan perak diganti dengan uang kertasoleh bangsa pendatang seperti bangsa Belanda dan bangsa Jepang sebagai alatransaksi, jenisalatransaksi dengan bahan kertas tersebut juga diberlakukan sebagai pembayarang yang sah di Indonesia. Saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17Agustus 1945 bentuk alatransaksi itu masih digunakan sebagai alat pembayaran yang sah.Penggunaan bentuk alatransaksi yang dibawa oleh bangsa pendatang sebagai pembayaranyang sah setelah bangsa Indonesia merdeka, alatransasi itu dianggap tidak cocok dengankepribadian bangsa Indonesia, dengan demikian jenis alatransaksi tersebut harus diganti. Olehkarena itu pemerintah Indonesia mengeluarkan bentuk uang sendiri sebagai alatransaksi yangsah yaitu: Oeang Repoeablik Indonesia (ORI).Penelitian ini menggali secara khusus tentang perkembangan desain ORI pada masapemerintahan Soekarno periode 1945-1949. Pokok permasalahan dipaparkan denganpendekatan sejarah dan penggunaan ilmu seni rupa seperti: estetika dan simbolisme.Hasil penelitian menggambarkan bahwa perkembangan desain ORI dipengaruhibeberapa hal. Peran pemerintahan Indonesia selaku pengatur peredaran uang, peran senimansebagai desainer ORI yang mendapat kepercayaan penuh terhadap pemilihan tema gambaryang akan di aplikasikan kedalam bentuk uang, dan dukungan bangsa Indonesia terhadapterbitnya ORI yang ingin bebas dari cengkraman penjajah merupakan faktor internal yangmendukung perkembangan tersebut. Faktor eksternal adalah: uang yang digunakan sebelumbangsa Indonesia merdeka bukan uang resmi bangsa Indonesia. Kata kunci: perkembangan desain, mata uang rupiah, dan estetika
EKSTRAKSI BUAH SEBAGAI PEWARNA KAIN KATUN DI PUSAT STUDI BATIK UNIVERSITAS COKROAMINOTO YOGYAKARTA Riska Kurnia
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 1 (2013): MEI 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.766 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i1.2328

Abstract

This research aims to determine the level of colorfast resistance to sunlight and ash offsoap test, which is produced from pitaya natural dyeing with fixation of chalk, alum, lotus,coconut sugar, and lime.Type of Research and Development (R & D) is used in this research. In this study, someapproaches which are taken such as: 1)Preliminary Studies (Devine) on materials to beprocessed: primisima material or a kind of cotton fabric, pitaya, dragon fruit peel and otherauxiliaries. 2) Planning (Design) includes designing action steps which will be done by preparingtools as the first step. 3. Development: processing raw materials such as pitaya as the naturaldye with fixation of chalk, alum, lotus, lime, and coconut sugar.The results show a different color from any given fixation. Pitaya natural dye with lotusfixation, testing of colorfast resistance to sunlight, shows the best score of 5 and the color isyellowish beige. Pitaya with chalk fixation, the score is 5, indicates the color of light creamalmost white. Pitaya extraction with lotus fixation has score 5 and a beige brown color. Pitayapeels with lotus fixation has score 5 and a beige fawn color. Pitaya peels with the sugarfixation, score of 5, resulting a light cream color. The test results of colorfast resistance to washoff soap test, the best results are shown in Pitaya fixation with lotus, with score 4 and ayellowish beige color. Pitaya extract with lotus fixation has score 4 and the color is yellowishbeige. Pitaya peels with lotus fixation has score 4, resulting a yellowish beige color.Keywords: Pitaya, alum fixation, chalk, lotus, coconut sugar, lime. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan luntur warna pada ujisinar matahari dan uji cuci sabun. Yang dihasilkan dari pewarnaan alami buah Naga denganfiksasi kapur, tawas, tunjung, gula jawa dan jeruk nipis.Jenis penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D). Dalampenelitian ini pendekatan yang dilakukan yaitu: 1) Studi Pendahuluan (Devine) tentang bahanyang akan diolah: bahan primisima atau jenis bahan kain katun, buah naga, kulit buah nagadan bahan bantu lainnya. 2) Perencanaan (Desain) meliputi merancang langkah kerja yangakan dilakukan dengan mempersiapkan alat sebagai langkah awal. 3) Pengembangan (Development): mengolah bahan baku berupa buah naga sebagai bahan baku pewarna alamidengan perlakuan fiksasi kapur, tawas, tunjung, jeruk nipis, gula jawa.Hasil uji yang dilakukan menunjukkan warna yang berbeda dari setiap fiksasi yangdiberikan. Adapun pada pewarna alami buah Naga dari pengujian ketahanan luntur sinarmatahari yang menunjukkan score terbaik yaitu yang terdapat pada buah Naga dengan fiksasitunjung menunjukkan score 5, warna yang dihasilkan krem kekuningan. Buah Naga denganfiksasi kapur dengan score 5 menunjukkan warna krem muda hampir putih. Buah NagaEkstraksi dengan fiksasi tunjung dengan score 5 warna yang dihasilkan krem coklat muda. Kulitbuah Naga dengan fiksasi tunjung score yang diperoleh 5, warna yang dihasilkan krem coklatkekuningan. Kulit buah Naga dengan fiksasi gula jawa score 5 dengan warna yang dihasilkankrem muda. Hasil Uji tahan Luntur pada Pencucian Sabun hasil terbaik ditunjukkan pada buahNaga dengan fiksasi tunjung score 4, warna yang dihasilkan krem kekuningan. Ekstrak buahNaga dengan fiksasi tunjung score 4, warna yang dihasilkan krem kekuningan. Kulit buah Nagadengan fiksasi tunjung score 4, warna yang dihasilkan krem kekuningan. Kata Kunci : buah Naga, Fiksasi tawas, kapur, tunjung, gula jawa, jeruk nipis

Page 4 of 27 | Total Record : 269