cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
KISAH LALITAVISTARA CANDI BOROBUDUR DALAM KARYA SENI BATIK Fidyah Fafa Admaja
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 4, No 2 (2015): NOVEMBER 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1094.613 KB) | DOI: 10.24821/corak.v4i2.2366

Abstract

Borobudur is one of the World heritage Buddhist temple in Indonesia that wasestablished by UNESCO in 1951. Borobudur have some interesting historical stories seen by therelief of the Borobudur wall. One of the reliefs of Borobudur is tell about Lalitavistara story.Lalitavistara told the short story of Lord Buddha life (not a complete history) and it end by firstcommand in the Deer Park near Benares City. The life of Lord Buddha is considered as a dramaplayed by the Great Buddha, super-natural and real (Roy Adams, 1990: 22-23). Author used thehistorical value and visual relief of Lalitavistara story for a background to get inspiration.This final project was create by using esthetics, semiotics and historical approachesmethod. Sense of aesthetically identified by semiotic approach, while the value of the historicalused historical approach method and the realization panel works by SP Gustami method.Creating process by synthetic dyes batik technique. Dab and dye coloring technique. The workbegins from pencanthingan, coloring, penembokan, pelorodan and finishing.This final project get eight result that each of them tell the story of Lalitavistara truehistory with aesthetic and symbolic value. It has a different scene, but the story in a series andcontinued. Work process produced batik artwork like panel. I hope this work give moreknowledge and be useful for the general public, art lovers, and community around Borobudur.Keywords: relief, Lalitavistara story, Borobudur, batik tulis. Candi Borobudur adalah candi budha di Indonesia yang menjadi warisan Dunia (WorldHeritages) yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1951. Mempunyai beberapa kisahbersejarah yang menarik, digambarakan di relief dinding Candi Borobudur. Salah satu reliefCandi Borobudur adalah relief kisah Lalitavistara. Lalitavistara menceritakan kehidupan sangBuddha sebagai lelakon yang lebih singkat (bukan merupakan riwayat lengkap) dan berakhirdengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Benares. Hidup Buddha di dunia dianggapsebagai sandiwara yang dimainkan oleh Buddha yang Agung, adi-alami dan sungguh-sungguh.Nilai historis dan visual dalam relief kisah Lalitavistara Candi Borobudur adalah hal yangmelatarbelakangi penulis untuk menjadikan kisah Lalitavistara sebagai sumber inspirasi.Penciptaan karya Tugas Akhir ini menggunakan metode estetika, pendekatan semiotikadan historis. Makna estetis diidentifikasikan menggunakan metode pendekatan semiotika,sedangkan nilai historisnya menggunakan metode pendekatan historis dan perwujudan karyayang berupa panel dengan metode penciptaan SP Gustami. Proses perwujudan menggunakanteknik batik tulis dengan pewarna sintetis. Teknik pewarnaan yang digunakan yaitu colet dancelup. Tahapan perwujudan karya dimulai dari pemolaan, pencanthingan, pewarnaan,penembokan, pelorodan dan finishing. Penciptaan karya Tugas Akhir ini menghasilkan 8 karya yang masing-masingmenggambarkan kisah Lalitavistara sesuai dengan historisnya dan mengandung nilai estetis dansimbolis. Setiap karya memiliki adegan yang berbeda namun ceritanya berurutan danberkesinambungan. Dari proses perwujudan karya yang menghasilkan karya seni batik berupapanel. Semoga karya ini menambah ilmu pengetahuan dan dapat bermanfaat bagi masyarakatumum, penikmat seni, serta masyarakat sekitar candi Borobudur.Kata kunci: relief, kisah lalitavistara, candi Borobudur, batik tulis. Tas Furla, Sasirangan, Keramik
“HUMAN, HUMANITY, AND HUMANITIES” DALAM PENCIPTAAN KARYA KRIYA KULIT Rohmad Eko Priyono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.074 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2398

Abstract

The creation of it has a title “human, humanity, and humanities” The author would like to learn about the unique symbol of a Human and its application in the form of the installation of art. The approach used in the creation is an aesthetic approach, the method used is based on the aesthetic values embodied in art. Aesthetic is the main objective in the creation of works derived from the shape of a Human. Terms of design that has been studied in the study of art as craft unconscious part spontaneously out of the standard values in making the creation of craft art, starting from sketches to the final stage. Semiotics is used in the creation of works of art craft is semiotics Charles Sanders Peirce - sign approach based on the idea of a philosopher and thinker United clever, Charles Sanders Peirce (1839-1914) is the method used to determine whether a work of art has meaning symbol, index, and icon. This approach is actually used as the meaning of the meaning and purpose of the philosophical. In this case, the artist commented aesthetic value and his symbolization, artists explore the beauty, the uniqueness of the shape of a human and then pour it into the leather craft three-dimensional and two-dimensional. And artists have chosen the concept of human as a concept in leather craft work.Keyword: Creation, Craft, Leather and the Making Process  Jurnal Penciptaan ini memiliki judul "human, humanity, and humanities". Penulis ingin mengetahui simbol unik tentang manusia dan mengaplikasikannya dalam bentuk instalasi seni. Pendekatan yang digunakan dalam penciptaan adalah pendekatan estetika, yaitu pendekatan yang berdasar pada nilai estetika yang terkandung dalam karya seni. Estetika memiliki tujuan utama dalam penciptaan karya yang berasal dari bentuk manusia. Kerangka desain yang telah dipelajari dalam studi seni sebagai karya seni bagian bawah sadar secara tak langsung keluar dari nilai fungsional dalam pembuatan karya seni, mulai dari sketsa hingga tahap akhir. Semiotika yang digunakan dalam penciptaan karya seni adalah semiotik Charles Sanders Peirce - pendekatan tanda berdasarkan gagasan seorang filsuf dan pemikir Amerika yang cerdas, Charles Sanders Peirce (1839-1914) adalah metode yang digunakan untuk menentukan apakah suatu karya seni Memiliki makna simbol, indeks, dan ikon. Pendekatan ini sebenarnya digunakan sebagai makna - makna dan tujuan filosofis. Dalam hal ini, seniman memiliki pandangan bahwa nilai estetika dan simbolisasi, seniman mengeksplorasi keindahan, keunikan bentuk manusia dan kemudian menuangkannya ke dalam kriya kulit tiga dimensi dan dua dimensi. Dan seniman telah memilih konsep manusia sebagai konsep dalam karya seni kriya. Kata Kunci: Penciptaan, Kriya, Kulit dan Proses Pembuatan
PENGEMBANGAN DESAIN SENI KERAJINAN TATAH SUNGGING KULIT PUCUNG IMOGIRI BANTUL YOGYAKARTA Aruman Aruman; Toyyibah Kusumawati
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 1 (2017): MEI 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1705.451 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i1.2389

Abstract

One of the central handicraft center of leather sungging in Yogyakarta is in the area of Pucung Karangasem Wukirsari Imogiri Bantul. Dusun pucung karangasem, is a village known for its leather craft. One of the famous handicraft products in the world is wayang kulit. But not only that, besides wayang, other handicraft products coming from leather can be lampshade, bookmark, tissue box, candle holder, fan, keychain, wall decoration, and others.In running the craft business, the craftsmen joined in groups, including the group "Bimo Sukses" and "Srikandi". Each group consists of 15 to 20 craftsmen. Among them there is a focus on working on inlay, sunggingan, materials, and marketing. For the development of the design they usually develop their own order and there is mentoring design through coaching programs from campus ISI yogyakarta, one of the program is Science and Technology for Society.For the sake of continuity and development of this leather craft business, paran crafters cooperate with the traders and lovers of shadow puppets inside and outside the country. Innovation continues to follow the developments and demands of consumers.Keywords: design, craft, leather, Yogyakarta.   Salah satu daerah sentra kerajinan tatah sungging kulit di Yogyakarta adalah di daerah Pucung Karangasem Wukirsari Imogiri Bantul. Dusun pucung karangasem, merupakan desa yang dikenal akan kerajinan kulitnya. Salah satu produk kerajinan yang terkenal didana adalah wayang kulit. Namun tidak hanya itu, selain wayang, produk kerajinan lainnya yang berasal dari kulit dapat berupa kap lampu, pembatas buku, tempat tisu, tempat lilin, kipas, gantungan kunci, hiasan dinding, dan lainnya.Dalam menjalankan usaha kerajinannya, para perajin tergabung dalam kelompok-kelompok, diantaranya kelompok “Bimo Sukses” dan “Srikandi”. Masing-masing kelompok terdiri dari 15 sampai 20 anggota perajin. Diantara mereka ada yang fokus mengerjakan tatahan, sunggingan, material, dan marketing. Untuk pengembangan desain mereka biasanya mengembangkan sendiri sesuai pesanan dan ada pendampingan desain melalui program-program pembinaan dari kampus ISI yogyakarta, salah satu programnya adalah Iptek bagi Masyarakat. Demi kelangsungan dan perkembangan usaha kerajinan kulit ini, paran perajin melakukan kerjasama dengan para ppedagang dan pecinta wayang kulit didalam dan luar negeri. Inovasi terus dilakukan mengikuti perkembangan dan tuntutan konsumen. Kata kunci: desain, kerajinan, kulit, Yogyakarta.
POTENSI PENGEMBANGAN INOVASI DESAIN PRODUK KRIYA KUKM INDONESIA DI ERA INDUSTRI KREATIF Agung Wicaksono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.789 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i2.2380

Abstract

Inovasi desain produk kriya dapat dilakukan mulai dari pembuatan konsepperancangannya yang mengacu pada perubahan konsumennya. Produk kriya yang memilikibasis budaya dalam komunitas masyarakat tradisi sangat dibebani oleh nilai-nilai filosofis.Perubahan desain produknya sangat evolutif atau cenderung sangat lambat dan meiliki polapolatertentu. Produk kriya yang dihasilkan sebagai komoditas untuk memenuhi kebutuhankonsumen cenderung berjalan relatif lebih dinamis. Kunci utama perubahan terletak pada SDMpelakunya yang memiliki kemauan dan keterampilan untuk menginovasi desain produk supayamemiliki nilai tambah yang lebih baik lagi. Bangsa Indonesia memiliki modal untuk membuatperubahan pada desain produk kriyanya. Keterbukaan terhadap informasi dan warisan budayaadiluhung merupakan dua faktor penting terjadinya inovasi pada desain produk kriya. Kata kunci : inovasi desain, produk kriya, industri kreatif
SENI KRIYA KAYU KINETIK KUMBANG TANDUK Dedy Shofianto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 4, No 2 (2015): NOVEMBER 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1338.329 KB) | DOI: 10.24821/corak.v4i2.2371

Abstract

This Final Project’s artworks were inspired from author’s daily and hobby, it is GothicLolita that created into artwear. Lolita itself is one of fashion sub-culture that developed andpopular at Japan. Since childhood, author was really like comic and Japanese cartoon whichfamous at that time (1900s). That fondness continuing until author grows up and studyingdeeper about Japan, include their fashion such as Lolita.Creation methods that used are data collected from literature study and directobservation. Phenomenological methods are aesthetic, ergonomic, and semiotic. Realizationmethods that used for all the artworks are tie dye, batik, sulam tapis, and creative decorationtechnique which inspired from tapestry technique.The achieved result from this process is eight pieces of art wears dominated in black,red, blue, and purple that dyed from synthetic dyeing. Batik and tie dye applied in many partsof the artwear, such as skirt, pants, sleeve, and blouse. Whereas sulam tapis and creativedecoration technique applied as finishing touch to make the artwears looks glamorously. Keywords : Gothic Lolita, artwear, batik, tie dye  Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) sebagai inspirasi penciptaan karya seni kinetikkriya kayu memiliki beberapa kelebihan, yaitu keindahan kumbang tanduk dan seni kinetik.Kumbang tanduk memiliki ciri khas berupa tanduk pada kumbang jantan. Bentuk kumbangtanduk mengalami deformasi menjadi karya seni kinetik yang dibuat dengan penuh perhitungandan dengan mempertimbangkan keindahan gerak yang dihasilkan.Penciptaan karya tugas akhir ini menerapkan metode tiga-tahap enam-langkah dari SP.Gustami. Karya yang diciptakan adalah karya seni kriya kayu dalam bentuk kumbang tandukdipadukan dengan seni kinetik. Proses pembuatan karya terdiri dari proses pembuatan desain,pembentukan, finishing, dan evaluasi. Proses penghayatan, penyetaraan antara rasa danpikiran, dilakukan untuk memberikan spirit dan ruh agar karya dapat memberikan inspirasi,semangat, dan memberikan pesan-pesan kepada orang lain yang melihatnya.Dari aspek fungsi, karya ini dapat bergerak seperti layaknya kumbang tanduk hidup.Dengan mempertimbangkan nilai estetis, terciptalah enam karya seni ekspresi berwujud tigadimensi. Karya yang diciptakan menghasilkan karakter baru kumbang tanduk denganmemadukan bentuk-bentuk mekanik mesin seperti roda gigi, stang seher, baut, dan lain-lain.Semua karya terbuat dari kayu dengan tetap memperlihatkan karakter kumbang tanduk.Kata kunci: kumbang tanduk, deformasi, seni kinetik
KELELAWAR SEBAGAI SUMBER INSPIRASI DALAM PENCIPTAAN SENI TEKSTIL Arief Satriyo Wibowo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.957 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2403

Abstract

Bats are flying mammals, now these animals have several species of bats that are endangered. Due to the destruction of the original habitat of the bark in the forest that becomes the function, the exploitation of karst areas (lime), the use of pesticides on agricultural land, hunting and excessive consumption. Many functions of bat ecology therefore in need of efforts in controlling the population of bats. The idea of the creation of this textile artwork originated from personal experience, natural factors, sympathy and empathy for the preservation of fauna, namely bat animals. All of which are then transformed into non-functional work forms which furthermore want to bring the values of change so that the celebration can know it and finally feels may be able to understand the message delivered. The process of creating works on non functional techniques used in the form of nylon nylon thread wire on top of the wire. Keywords: bats, non-functional, creation textiles  Kelelawar merupakan hewan mamalia terbang, sekarang hewan ini terdapat beberapa spesies kelelawar yang statusnya terancam punah. Akibat rusaknya habitat asli kelalawar di hutan yang menjadi alih fungsi, eksploitasi wilayah karst (kapur), penggunaan pestisida pada lahan pertanian, perburuan serta pengkonsumsian yang berlebihan. Banyak fungsi ekologi kelelawar oleh karena itu di perlukan usaha-usaha dalam mengendalikan populasi kelelawar. Ide penciptaan karya seni tekstil ini berawal dari pengalaman pribadi, faktor alam, rasa simpati dan empati terhadap kelestarian fauna yaitu hewan kelelawar. Kesemua yang kemudian ditransformasikan ke bentuk karya non fungsional yang selanjutnya ingin membawa nilai-nilai perubahan sehingga khlayakan dapat mengetahuinya dan akhirnya dirasa mungkin dapat mengerti akan pesan yang disampaikan. Proses penciptaan karya pada non fungsional tehnik yang digunakan berupa lilit benang nilon hank di atas kawat. Kata kunci: kelelawar, non fungsional, penciptaan tekstil
FOOD PORN: DILEMA EKSOTISME DARI SEBUAH MAKNA MAKANAN DALAM KERAMIK EKSPRESI Dyah Retno Fitriani
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 1 (2017): MEI 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1132.743 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i1.2394

Abstract

Food porn dalam dua sampai tiga tahun terakhir ini terhitung sejak 2014 menjadi sangat viral disosial media. Food porn merupakan hashtag yang dibuat di Instagram untuk menandai foto yang menampilkan makanan dengan teknik photography yang menampilkan kelezatan makanan tersebut dari dekat. Food porn menjadi sebuah tema yang diangkat dalam pembuatan karya seni keramik ekspresi ini dengan mengambil objek donat dan bulu babi yang juga mengkhawatirkan keadaannya akibat eksploitasi yang terlalu berlebihan sehingga keberadaannya hampil punah. Kedua objek tersebut menjadi perwakilan yang akan digabungkan dengan bentuk-bentuk coral. Kelautan Indonesia yang sangat luas dan memiliki keindahan coral yang sangat luar biasa menjadikan Indonesia sebagai target spot penyelaman paling indah didunia, sama halnya seperti yang dikatakan Kall Muller (1999: 15) “The Island of Indonesia spread in a wide arc, more than 5.000 kilometer long, from mainland Southeast Asia to Papua New Guinea. Dotted with volcanoes, covered with thrick tropical vegetation and bright green rice fields, and surrounded by coral reefs, the Indonesian archipelago is one of the world’s most beautiful places”. Wacana-wacana ini menjadi latar belakang paling mendasar yang kemudian akan diolah dan dijadikan bahan ide pembuatan keramik ekspresi.Pembuatan karya seni ini dimulai dari pengeksplorasian wacana, bentuk, dan konsep yang kemudian diolah dan dijadikan sketsa rancangan. Selanjutnya untuk mewujudkan karya seni, pemilihan bahan menjadi aspek paling penting untuk kelangsungan prosesnya. Pembuatan karya ini menggunakan tanah stoneware Sukabumi dan Pacitan yang dicampur dengan perbandingan 1:1 untuk mendapatkan kekuatan dan warna yang cerah. Kemudian pengerjaan selanjutnya adalah membuat model yang akan dibuat untuk cetakan. Cetakan dibuat dengan gpsum dan dilakukan slip casting dengan tanah yang sudah diolah sebelumnya. Pendekorasian dilakukan dengan teknik krawang, pilin dan pinch untuk selanjutnya dikeringkan dan dibakar biskuit. Selanjutnya glasir dicampur dengan stain dan diaplikasikan kedalam badan keramik dengan teknik semprot menggunakan spraygun dan kompresor lalu dibakar glasir dengan suhun 1200o C. Penciptaan karya seni ini juga diperkuat dengan beberapa teori seperti : teori penciptaan, ekspresi dan art and synesthesia.Hasil karya ini merupakan sebuah perspektive challenging dari seniman untuk dipublikasikan kepada audience. Penguatan teori dengan art and synesthesia merupakan sebuah cara untuk membuktikan bahwa karya seni ini tidak hanya bisa dinikmati dengan satu indera saja, namun keterikatan antara atu indera dengan indera lainnya. Sehingga apabila hal ini secara maksimal mampu ilakukan kemudian dapat diterapkan sebagai media untuk terapi penyembuhan trypophobia karena sedikit banyak tekstur yang diaplikasikan merupakan perwujudan dari trypophobia.  Since 2014, foodporn phenomena became famous and going viral on social media. Food porn is one of Instagram’s hashtag that showing a close up mesmerizing food photography. Foodporn being adapted as a theme for this expression ceramics artwork with doughnut and almost extinct sea urchins as the main objects. The condition of sea urchins are very endanger because of excessive exploitation. Those two objects will be represent as a coral shape.Indonesia became the most huge maritime nation that having a billion beautiful coral. Indonesia became a most beautiful diving spot, Kall Muller said (1999:15) “The Island of Indonesia spread in a wide arc, more than 5.000 kilometer long, from mainland Southeast Asia to Papua New Guinea. Dotted with volcanoes, covered with thrick tropical vegetation and bright green rice fields, and surrounded by coral reefs, the Indonesian archipelago is one of the world’s most beautiful places”. The text above write as fundamental background and basic idea to making this expression ceramics artwork.This artwork start with discourse exploration, shape, and concept that elaborate into sketch design. On second step, material become the most important aspect to creating this artwork. This artwork utilize a Sukabumi and Pacitan’s stoneware soil. It mixing with ratio 1:1 to have a strong and bright color. Third step is making a model for the mold. Mold made by gypsum and slip casting with a soil mixing. Decorating conducted with cire perdue technique, coil, and pinch and then be drained and bisque firing. On the next step, glaze will be mixed with stain and applied in to ceramic’s body with a spraygun and compressor. Then glaze burned with 1200o C. This artwork also strengthed by some theory, namely; the theory of creation, expression, art and synesthesia.This artwork is a form of artist’s challenging perspective for being publish to the audience. Strengthed by art and synthesia theory, this artwork is one of the way to prove that artwork can be felt not only one sense, but connection between one with another senses. Thereby, if this artwork can be applied maximally, it might have a chance to be a new theraphy methodology for a trypophobia healing, because most texture that applied in this artwork is the embodiment of trypophobia. Keyword : Foodporn, Expression Ceramics, Texture
VIABILITAS RAGAM HIAS SULUR-GELUNG Agung Wicaksono; Akhmad Nizam
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.739 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i2.2385

Abstract

Motive of ukel, lung or plant tendrils (forming like question mark) spiraling inside andoutside is named sulur gelung ornament. These ornaments are often found in Hinduism andBudhist temples even in the mosque with particular style. Sulur gelung ornament has to befondness for people when we look at the craft as visual art. Many artefacs of heritage oftenvisualized form of lung or ukel. In javanese fashion ukel as trendil of hair fastened by ukel konde.Ukel konde is used for make up on the face also for forming of puppet’s hair and isen-isen, evenfor forming of punokawan’s hair (Semar, Gareng, Petruk, and Bagong). Form like ukel is alsofound in the architecture of mosque especially on the mihrab or altar, we can also be found inthe architecture of javanese traditional house. The temples of Hinduism and Budhist in Javahave ornament of sulur gelung, for example Candi Gondosuli, Candi Gedongsongo, CandiKalasan, candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Lumbung, and many of temples in East Java.Is this ornament comes from India through the Hinduism or Hinduism-Budhist diffusionto Java? Or possibly this is an original local archetype of java or is this the result of aculturationof Hinduism-Budhist, Java, and Islam ? This reaserch will review the sulur gelung ornamentprovenience which is commonly using as fix pattern and the spirit or viability of javanese style.The sulur gelung ornament has evoluted since Hinduism-Budhist until Islamic diffusion asreception religion in the culture. Key wors : aculturation, ornament, sulur-gelung
PELAMINAN ADAT MASYARAKAT MINANGKABAU (KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI) Nofi Rahmanita; Yulimarni Yulimarni
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.823 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i1.2376

Abstract

Aisle as a form of decorative artwork has particular unique and characteristics, contains the values associated with the livelihood of Minangkabau society. Its ppresence is very important for the sustainability of Minangkabau society cultural values preservation. Therefore, it should be revisited, how the structure and function of the aisle and how the changes shape and function of the aisle today. The visual form of aisle has been less or more affected by current development. It happens solely to fulfill the aesthetic needs of community support , like the proverbial Minang said, ”condong salero ka nan lamak, condong mato ka nan rancak” the taste prefer to the delicious one, the eye sight prefer to the beautiful one. This effect can be seen from the use of materials and techniques used for wedding decoration. Kata Kunci: Form, Structure, Aisle.   Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mencari tahu mengenai usaha Batik Topo, terutama produk kain batik yang dihasilkannya. Produk kain batik yang dihasilkan meliputi motif dan proses pembuatannya. Bagaimana motif-motif batik yang dibuat oleh Batik Topo. Apa dan bagaimana proses pembuatan kain-kain batiknya selama ini. Tujuan penelitian ini sangatlah jelas untuk mengetahui lebih mendalam dan terperinci mengenai segala hal yang diproduksi oleh Batik Topo, dalam hal ini kaitannya dengan produk kain batiknya. Penelitian mengenai usaha Batik Topo ini tentunya membutuhkan metode penelitian. Metode penelitian untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian menggunakan beberapa metode dari disiplin ilmu yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode multidisiplin. Beberapa metode dari disiplin ilmu yang berbeda di antaranya, yaitu: estetika; sejarah; dan antropologi. Sedangkan metode pencarian data dilakukan dengan cara, yaitu: observasi; wawancara; dokumentasi; dan pustaka. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa usaha Batik Topo membuat kain batik dengan cara cap dan tulis, sehingga produknya disebut batik cap dan tulis. Pembuatan kain batik dengan cara demikian ikut mendukung pelestarian batik tradisional. Kain batik tradisional dengan pembuatan secara cap maupun ditulis menggunakan canting telah diakui sebagai world heritage. Keywords: batik topo, batik, batik cap, batik tulis, world heritage.
SIMBOLISASI PENGALAMAN SOSIAL MANUSIA MELALUI KARAKTERISTIK ANEMON DALAM BENTUK KERAMIK BIOMIMICRY Nur Hardiansyah
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 4, No 2 (2015): NOVEMBER 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.369 KB) | DOI: 10.24821/corak.v4i2.2367

Abstract

This work is created as exspression of social human experiences then describe throughthe anemone texture and biomimicry form in the ceramic work. Those artistic work can takepart of the art visual element and can be used as interior accent with innovative display . Theprocess of final exam starts with finding the main idea of creation, making sketch, choosingmaterials, then doing the work. Whereas the processing of work uses various techniques, forexample coiling, pinching and molding to show of gesture and movemen of anemone characters.The next step are drying, burning, glazing, and the last displaying. Step by step all thoseprocesses are done carefully. Because of ceramic materials needs special treatment, as same asthe journey of human life also needs special attention. Doing this ceramic art which aboutanemone needs good skill, special treatment, and some theories that fixed the concept, theseare; the anatomy of anemone, semiotics theory, contemporary design of ceramic, andbiomimicry, so the final result, this works have good qualities and can be held responsible. Allthis work are the social and personal visualization of experiences and observation ofenvironment of the author. Learning from the anemone that has various colours and endlessform the author get ideas to express the work in ceramic biomimicry. Key word : Anemone, Biomimicry, Ceramic  Karya keramik ini diciptakan sebagai bentuk ekspresi pengalaman sosial manusia yangkemudian digambarkan melalui tekstur anemon dan bentuk biomimicry pada karya keramik.Karya anemon dengan bentuk artistik dapat menempati elemen rupa dan digunakan sebagaiaksen interior dengan tatanan display yg inovatif. Diawali dengan mencari sumber penciptaan,membuat sketsa, pemilihan bahan, sampai pada tahapan pengerjaan karya itu sendiri. Dalamproses berkarya ini menggunakan berbagai macam tehnik, yaitu pilin, pijat dan cetak untukmembuat gestur dan gerakan yang menjadi identitas anemon pada karya keramik. Kemudiandilanjutkan dengan tahapan pengeringan, pembakaran, penggelasiran, dan terakhirpemajangan karya. Semua proses tersebut harus dijalankan dengan teliti dan satu-persatu.Dikarenakan keramik mejadi material yang memang membutuhkan kehati-hatian, sama halnyadengan perjalanan kehidupan manusia. Semua pengerjaan karya keramik anemon yangmembutuhkan keterampilan dan perlakuan khusus tentu saja akan lebih diperkuat dengan teoriteoriyang mendukung ide dan konsep karya tersebut, teori pendukungnya antara lain: anatomitubuh anemon, teori semiotika, keramik dalam dunia desain kontemporer, wujud dalam bentukbiomimicry, sehingga karya memiliki kekuatan dan bisa dipertanggung jawabkan. Hasil karyayang penulis ciptakan merupakan visualisasi pengalaman yang diperoleh dari pengamatan lingkungan, baik secara sosial maupun personal. Kita bisa belajar dari kehidupan anemon ini,salah yang ternyata memiliki keanekaragaman dalam warna dan bentuk tak ada habisnya jikadipelajari, dengan penggunaan karakter anemon penulis mendapatkan ide dalam mewujudkankarya-karya keramik biomimicry.Kata kunci : Anemon, Biomimicry, Keramik

Page 9 of 27 | Total Record : 269