cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
GERABAH SITI KENCONO AJI DI DESA PANJANGREJO PUNDONG BANTUL Indro Baskoro; Arif Suharson
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1212.028 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i2.2382

Abstract

Kelompok pengrajin gerabah Siti Kencono Aji adalah salah satu kelompok pengrajingerabah yang ada Desa Panjangrejo. Kelompok pengrajin ini didirikan sebagai wahana kegiatanbersama untuk meningkatkan kesejahteraan kelompok pada khususnya dan kesejahteraanmasyarakat pengrajin gerabah di Desa Panjangrejo pada umumnya. Hasil produk gerabahbiasanya berwujud souvenir yang pada umumnya dipasarkan dalam bentuk merahan danhanya berdasarkan pesanan. Sebagian besar masyarakat pengrajin gerabah di Panjangrejobelum mengoptimalkan diri untuk membuat desain-desain baru ataupun mengaplikasikanteknologi finishing pada produk gerabahnya. Belum lagi system pengelolaan usaha danmanajemen yang masih seadanya, sehingga hasil produksi gerabah yang dikerjakan olehpengrajin Panjangrejo belum dapat berkembang dengan baik.Kegiatan meningkatkan mutu produksi terutama dalam menciptakan desain-desainbaru dan finishing produk, teknik pewarnaan dengan warna cat dan aplikasi bahan lain yangada di sekitar pengrajin menjadi solusi tepat agar gerabah Panjangrejo memiliki ciri khas.Sistem manajemen usaha dan pemasaran juga menjadi target program pendampingan agarkelompok masyarakat pengrajin gerabah di Desa Panjangrejo mampu mengelola danmengembangkan usaha gerabahnya. Sehingga dengan program ini, masyarakat pengrajingerabah Desa Panjangrejo akan menjadi maju dalam usaha gerabah dan meningkat tarafekonominya yang didukung dengan pengeloaan usaha/ manajemen yang baik.Program ipteks bagi masyarakat (IbM) diharapakan mampu membantu permasalahanmitra dalam hal inovasi dan finishing produk gerabah di Desa Panjangrejo. Pengembangandesain diarahkan agar gerabah produksi masyarakat Panjangrejo tidak monoton berbentuksilindris, tetapi memiliki diversifikasi bentuk, dan lebih mengarah pada perbaikan mutuproduk agar mampu menembus pasar global, sehingga meningkatkan ekonomi masyarakatpengrajin gerabah Panjangrejo. Pelatihan manajemen dan pemasaran e-commerce melaluimedia on line juga menjadi sasaran program pemberdayaan masyarakat, agar pemasaranproduk gerabahnya dapat menjangkau pasar yang lebih luas secara nasional maupuninternasional. Kata Kunci: Gerabah, Panjangrejo Pundong, Desain, Finishing
PENGARUH LAMA WAKTU MORDANTING TERHADAP KETUAAN WARNA DAN KEKUATAN TARIK KAIN MORI DALAM PROSES PEWARNAAN DENGAN Esther Mayliana
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.942 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i1.2373

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui (1) ketuaan warna kain mori pada pewarnaan mengunakan zat pewarna sabut kelapa dengan lama waktu mordanting 8 jam, 12 jam dan16 jam, (2) kekuatan tarik kain mori pada pewarnaan menggunakan zat pewarna sabut kelapa dengan lama mornadanting 8 jam, 12 jam dan 16 jam, (3) pengaruh lama waktu mordanting 8 jam, 12 jam dan 16 jam terhadap ketuaan warna (4) pengaruh lama waktu mordanting 8 jam, 12 jam, dan 16 jam terhadap kekuatan tarik kain. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Sabut kelapa dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alam dengan mordan soda abu dan tawas. Variabel bebas penelitian ini adalah lama waktu mordanting (8 jam, 12 jam, 16 jam), dengan 12 jam sebagai kontrol. Variabel terikatnya adalah ketuaan warna dan kekuatan tarik kain mori. Unit eksperimen berupa kain mori primissima merek kereta kencana. Rancangan acak lengkap digunakan pada teknik penentuan letak pengambilan sampel uji. Ketuaan warna diuji dengan Sepectrophotometer, ukuran sampel uji 5cmx5cm. Kekuatan tarik uji dengan cara jalur potong (Strip test), tiap ukuran sampel uji 2,5 cm x 30 cm dan diuji menggunakan alat Tenso Lab. Normalitas dan Homogenitas diuji dengan Chi Kuadrat dan C-Cochran. Data dianalisis dengan menggunakan Analisis Varians satu jalur. Rerata hasil penelitian nilai ketuaan warna kain mori yang dimordanting 8 jam adalah 1,015, mordanting 12 jam adalah 1,067 dan mordanting 16 jam adalah 1,033, dengan hasil warna coklat muda untuk ketiga perlakuan. Rerata kekuatan tarik kain mori yang telah dimordanting 8 jam adalah 20,680, mordanting 12 jam 10,019, dan mordanting 16 jam 21,119. Analisa data menunjukkan hasil: (1) tidak ada pengaruh lama waktu mordanting (8 jam, 12 jam, 16 jam) terhadap ketuaan warna kain mori pada pewarnaan dengan zat pewarna sabut kelapa, (2) tidak ada pengaruh lama waktu mordanting (8 jam, 12 jam, 16 jam) terhadap kekuatan tarik kain mori pada pewarnaan dengan zat pewarna sabut kelapa. Hasil pengujian diatas terjadi karena hasil pewarnaan tidak hanya dipengaruhi oleh mordanting saja tetapi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Kata kunci: lama waktu mordanting, ketuaan warna, kekuatan tarik kain  
SENI HIAS WUWUNG MAYONG JEPARA JAWA TENGAH KAJIAN BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI Arif Suharson
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 4, No 2 (2015): NOVEMBER 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.509 KB) | DOI: 10.24821/corak.v4i2.2364

Abstract

Javanese culture derives from the intellectual, emotional, and physical process inJavanese environment. This process goes on to keep up with the constant changes in theenvironment. This process has resulted in such artistic products as decorative roof top ofwuwung in Mayong Jepara Central Java. The wuwung has been aesthetically put on top ofJavanese traditional houses precisely above the blandar penuwun. This roof top serves thefunction as the cover to keep water and dust from entering the house. This such kind ofwuwung is characteristically decorated with glass mozaik and is therefore uniquely differentfrom that in other regions.This analysis is attempting to identify and prove qualitative explanation. Accordinglythis study employs qualitative method to avoid mathematic calculation. It is so because whatmatters is the value of particularly specific and unique objects which contain meaningfulaction. The study deals with visual art, particularly ceramic craft of clay. It is expected thatthere will be sustainable benefits to reserve local genius in the national culture. The art workof decorative wuwung from Mayong Lor Jepara Central Java is characteristically clear and canbe classified by time, technique of making, decorative technique, material, and meaning.Results of thestudy suggested that wuwungan wayang in Mayong Central Java which isfamiliar in Javanese society clearly represents such good characters or heroic figures. For theJavanese people who already held particular beliefs such animism and dynamism long beforethe introduction of such religons as Hindu, Budha, and Islam, put a historical background in thedevelopment of meaningful symbols. Home decoration implies more than physical activities;rather it implies praying and expectation represented by the decorative wuwung produced inMayong Jepara with its aesthetic beautiful mozaik of glass.Keywords: decorative art, wuwung, glass mozaik, Mayong Jepara  Kebudayaan Jawa lahir dari olah pikir, rasa, dan karsa pada lingkungan hidupmasyarakat etnis Jawa dalam kurun waktu yang terus berproses dalam menghadapi perubahanzaman yang ada. Dari kebudayaan Jawa itu, lahirlah berbagai produk sebagai hasil untukpemenuhan kebutuhan dari olah pikir, rasa, dan karsa tersebut. Salah satunya adalah seni hiaswuwung hasil kreasi masyarakat Mayong Jepara Jawa Tengah yang menghiasi atap rumahadat tradisional Jawa. Wuwung hias dipasang pada atap rumah paling atas di atas blandarpenuwun yang berfungsi sebagai penutup genteng paling atas dan berfungsi menahan debuatau air agar tidak masuk ke dalam rumah dengan ornamentasi pecahan beling yang memilikiciri khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Kajian ini berusaha mencari dan memberikan penjelasan secara kualitatif, sehinggametode yang digunakan adalah kualitatif. Metode ini menghindari perhitungan matematis,karena yang dicari adalah value ‘nilai’ yang muncul dari objek kajian yang bersifat khusus,bahkan sangat spesifik, unik dan selalu mengandung meaning full action. Penelitian ini sebagaisalah satu telaah lingkup bidang ilmu seni rupa, khususnya seni kriya keramik yangmemanfaatkan material tanah atau lempung. Hal ini akan memiliki dampak yangberkelanjutan, sehingga kekayaan tradisi lokal akan tetap berjalan sebagai ciri local geniusyang memperkaya khasanah budaya bangsa. Produk seni wuwung hias dari Mayong Lor JeparaJawa Tengah yang dijadikan obyek penelitian, memiliki ciri khas dan sifat yang dapatdiidentifikasi secara jelas, dan dapat diklasifikasi menurut waktu, teknik pembuatan, teknikseni hias, dan bahan material yang digunakan serta makna yang terkandung dari penciptaanseni hias wuwungan tersebut.Mengambil inti sari dari hasil kajian penelitian yang telah dilakukan bahwa sebutanwuwungan wayang yang akrab dalam kehidupan masyarakat Jawa, maka penafsiran bentukbentukseni hias wuwung Mayong Jepara Jawa Tengah jelas mengarah pada tokoh-tokohkebaikan atau tokoh-tokoh pahlawan dalam membela kebenaran. Keyakinan masyarakat Jawayang sudah memiliki agama sebelum agama-agama besar datang seperti Hindu, Budha, danIslam, tentu keberadaan kepercayaan animisme dan dinamisme menjadi latar belakang sejarahyang kuat dalam menggambarkan simbol yang mempunyai arti. Keberadaan menghias rumahtentu tidak hanya sekedar menghias, tetapi sekaligus merupakan doa dan harapan yang ingindicapai yang terwujud pada seni hias wuwung Mayong Jepara dengan ciri khusus ornamenpecahan beling yang indah.Kata Kunci: Seni hias, wuwung, pecahan beling, Mayong Jepara
DEFORMASI BENTUK DAN TEKSTUR RADIOLARIA DALAM KERAMIK INSTALASI Dyah Retno Fitriani
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.199 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2396

Abstract

Passion, love, and interest can be an inspiration to an artist. That thing can be a stimulation in creating a work of art. Some scene of film Life of Pi shows an ocean view which glows at night became such an admiration to the writer. The astonishment then stimulated curiousities of the writer about that phenomenon. Finally, there came out the word Radiolaria. Radiolaria are tiny sized planktons which have holes and spikes in their bodies. The shape and texture of Radiolaria became an inspiration that later will be deformed and shaped into a ceramic instalation. Innovation and creation that arise in this work were also displayed using phospor as a medium to show the phenomenon of Bioluminesensi. The intention to introduce the shape and function of Radiolaria gives an enormous stimulation to the writer, so that this artwork was made to give an education through this work of art. The creation of this artwork began with making skecth planning, material choosing, up to the stage of creating which was done by some techniques, which are a cire perdue, pinch, slab, and decorating stage with the technique of piercing and twisting. After that, there was a drying stage, biscuit burning, glacing, glacing burning, phospor finishing, and displaying. Furthermore, the artwork was strenghten by some supporting theories, such as: ceramic theory, deformation, instalation, semiotic, and aesthetic theory. This work is a ceramic applied art which was displayed in the varied colors and shapes instalation. Semiotic contains were slipped in this artwork and were hoped to create a good communication with the society and art lovers. This Radiolaria themed work of art was made to introduce Radiolaria to people in general with applying the touch of personal expression touch so that originality of this work would remains the same without fading the impression of the real Radiolaria. Key Words: Deformation, Radiolaria, Ceramic Instalation.   Kesukaan, kecintaan, ketertaikan akan suatu hal dapat menjadi sebuah inspirasi bagi seorang seniman, tentunya hal tersebut dapat menjadi sebuah rangsangan dalam menciptakan sebuah karya seni. Film Life of Pi yang dibeberapa scene nya memperlihatkan pemandangan laut yang dapat berpijar dimalam hari memberikan rasa takjub sehingga merangsang rasa ingin tahu tentang apa yang menyebabkan adanya fenomena tersebut, yang kemudian didapatlah kata Radiolaria. Radiolaria merupakan plankton yang berukuran sangat kecil dengan ciri khas memiliki lubang-lubang dan duri-duri pada tubuhnya. Bentuk dan tekstur Radiolaria ini dijadikan sumber ide yang kemudian akan dideformasi dan dijadikan keramik instalasi. Inovasi dan kreasi yang muncul dalam karya ini juga ditampilkan dengan menggunakan fosfor sebagai media untuk menunjukkan peristiwa Bioluminesensi. Rasa ingin memperkenalkan akan bentuk dan manfaatRadiolaria memberikan dorongan yang begitu besar, sehingga diciptakanlah karya ini agar dapat memberikan edukasi baru melalui karya keramik instalasi.Penciptaan karya ini diawali dengan membuat sketsa perancangan, pemilihan bahan, hingga tahap perwujudan yang dilakukan dengan beberapa teknik yaitu cetak tuang, pinch, dan slab dan tahap pendekorasian dengan teknik krawang, dan pilin. Kemudian tahapan pengeringan, pembakaran biskuit, pengglasiran, pembakaran glasir, finishing dengan fosfor, dan pendisplayan. Lalu diperkuat dengan beberapa teori pendukung seperti : teori keramik, deformasi, instalasi, semiotika, dan estetika.Hasil karya ini merupakan seni kriya keramik yang didisplay secara instalasi yang memiliki variasi bentuk dan warna, dan kandungan semiotika yang disisipkan pada setiap karyanya sehingga diharapkan karya ini dapat berkomunikasi dengan masyarakat, dan penikmat seni dengan baik. Karya keramik dengan tema Radiolaria ini dimakudkan untuk memperkenalkan Radiolaria dikalangan awam dengan menerapkan sentuhan ekspresi pribadi sehingga orisinalitas karya tetap terjaga tanpa mengurangi kesan dari Radiolaria yang aslinya. Kata Kunci : Deformasi, Radiolaria, Keramik Instalasi.
UNSUR KOMBINASI PADA VISUALISASI RAGAM HIAS BATIK KLASIK SEMÈN GAYA YOGYAKARTA Suryo Tri Widodo; G.R. Lono Lastoro Simatupang; R.M. Soedarsono; SP. Gustami
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.505 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i2.2387

Abstract

Semèn motifs on classical batik of Yogyakarta style, is a motif which visualize floral form withvarious elements motifs on it. Semèn motifs influenced Hindu-Java and Islamic culture. Influencefrom Islamic culture delivere a few motifs in stylization. From visual aspect, some of elementsmotifs on it visualize combine motifs. It become visual concept characteristic in Islam art includein semèn motifs on classical batik of Yogyakarta style. Visualization of motifs can be hide withcombined elements motifs. Keywords: semèn motifs, Yogyakarta classical batik, combine motifs
INOVASI PERANCANGAN MOTIF TIE-DYE (IKAT CELUP) DI KOTA YOGYAKARTA Sugeng Wardoyo; Suryo Tri Widodo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.557 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i1.2378

Abstract

The existence of tie-dye in Yogyakarta city as a craft products has promised prospect.Uniqueness of tie-dye compare with another crafts textiles is in processes making which is simpleto result a motifs on to the fabric are faster and easier to learn about. As a tourism city,Yogyakarta has potential to develop tie-dye also as a good place to produce and market tie-dyeproducts. So inovation in designing new tie-dye motifs become positive step, because demandtie-dye products in market rapidly, beside always on dynamic market.Keywords: Craft textiles, Textile motifs, Tie-dye, Jumputan Yogyakarta
PESONA KERAMIK DALAM BUSANA ART WEAR DENGAN APLIKASI MOTIF BATIK CEPLOK Santa Citra Cendana
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 4, No 2 (2015): NOVEMBER 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.912 KB) | DOI: 10.24821/corak.v4i2.2369

Abstract

The passion of fashion stimulates the writer to create ceramic fashion art wear. Byexamining the latest fashion and following fashion event, the writer has anidea to combineclothes and ceramic.Data collection method which is used by the writer is observation and libraryresearch. This creation is based on three step of creating handcrafted art which has practicalfunction. The first step is braind storming (brainstorming of the idea, concept, andbackground of a creation), designing (making the design of ideas),creating (therealization of creation). Ceramic fashion art will come as an innovation in the ceramicindustry.The result of this creation is a handcrafted ceramic in a various forms andcolorswhich is hoped to be well accepted by society. This final assignment is afunctional ceramiccreation. All of the ceramic fashion creation can be worn in some occasion.Key words: ceramic, fashion, art wear, Ceplok Menciptakan karya dengan sumber inspirasi Badak Jawa didasari atas ketertarikanpenulis terhadap binatang badak khususnya badak Jawa. Badak Jawa memiliki keunikantersendiri dari badak lainnya dan fenomena kepunahan yang terjadi saat ini seperti bentuk fisikkulit badak yang belipat seperti membentuk baju baja, cula, dan tergolong hewan yang hampirpunah sehingga penulis tertarik untuk menciptakan sebuah karya seni kriya logam bertemakanbadak Jawa ke dalam tugas akhir ini sekaligus sebagai syarat menyelesaikan studi S1 jurusankriyaMetode pendekatan yang digunakan adalah ekspresi, kontemplasi, estetis, kemudianmetode pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan observasi. Proses penciptaankarya seni ini memalui tiga tahapan yaitu, eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Karyalogam yang disajikan dalam Tugas Akhir ini merupakan karya figuratif dan dikembangkanobjeknya yang merupakan hasil dari perwujudan badak Jawa.Hasil karya ini adalah seni kriya logam tiga dimensi dengan bentuk badak Jawa sebagaiinspirasi dari penciptaan seni kriya dan memiliki pengembangan bentuk yang sedemikian rupa.Diharapkan karya ini dapat berkomunikasi dengan masyarakat secara baik. Karya seni kriyalogam ini dibuat bukan dimaksudkan untuk mencari solusi ataupun menyelesaikan masalah,tetapi merupakan sebuah sentuhan ekspresi dan sarana penyampaian ide pribadi yangdisampaikan kepada penikmat seni pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.Kata kunci: Badak Jawa, Seni kriya, Kriya logam
KAJIAN IKONOGRAFI PADA MAKAM RAJA-RAJA MATARAM ISLAM DI KOTAGEDE YOGYAKARTA Rohiman Rohiman
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.98 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2401

Abstract

Makam merupakan peninggalan sejarah manusia yang dapat dilihat oleh manusia. Makam menjadi penanda kerajaan yang pernah berkembang di komplek makam raja Kotagede. Peneliti mengajukan pertanyaan tentang bentuk Makam Panembahan Senopati (Mataram Islam) di Kotagede Yogyakarta. Bentuk Makamnya berbeda serta struktur yang mengandung konspirasi menjadi ketertarikan peneliti. Melalui analisis struktural sebagai pisau bedah, dapat membantu evaluasi terhadap objek material Makam. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara sebagai alat untuk menganalisis Makam. Teknik analisis data menggunakan sistem pengkodean secara bertahap dengan fokus perhatian pada faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk makam. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk makam yaitu kedudukan, jasa, ahliwaris, kekuasaan, dan pakem. Terdapat tiga tingkatan dalam komplek makam, tingkatan pertama Tajuk, kedua beringgitan dan yang ketiga proboyokso, yang mana tingkatan tersebut merupakan truktur makam pada komplek makam panembahan senopati dan tingkatan juga mempengaruhi kesetrataan soaial, periode, dan keturunan di Keraton Ngayokyakarta.Kata kunci : Makam, Struktur, Ikonografi, Surface Structure, deep structure  The tomb is a relic of human history that can be seen by humans. The tomb became a marker of the kingdom that once developed in the tomb complex of Kotagede king. Researchers ask questions about the form of the tomb of Panembahan Senopati (Mataram Islam) in Kotagede Yogyakarta. The shape of his tomb is different and the structure that contains conspiracy becomes the researcher's interest. Through structural analysis as a scalpel, it can help the evaluation of the object of the Tomb material. This study uses interview techniques as a tool to analyze the Tomb. Data analysis techniques use a gradual coding system with a focus on the factors that influence the shape of the tomb. Factors that affect the shape of the grave of position, service, heirs, power, and grip. There are three levels in the tomb complex, the first stage of the Header, the second hinged and the third proboyokso, which is the tomb structure of the tomb complex of senopati and the level also affect the equality of soaial, period, and descendants in Keraton Ngayokyakarta.Keywords: Tombs, structure, Iconography, surface structure, deep structure
KOMODIFIKASI TEKNIK CETAK SARING DI KAMPUNG WEDI, KLATEN Nadiyah Tunnikmah
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 1 (2017): MEI 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.933 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i1.2392

Abstract

The active use of screen printing techniques by industry sectors encourages this technique to be developed both in the use of tools or materials. It is undeniable that the use of screen printing techniques or so-called commercial screen printing makes this technique can be studied not only in formal educational institutions but also non-formal. The emerging of screen printing practitioners made this technique development specifically according to their individual needs. One of Commodification of screen printing techniques in the community is in dukuh Krangkungan, di Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Central Java. Characteristics that developed in Wedi researched using field methods of observation, documentation and interviews. Paguyuban as a place to communicate and socialize have a role to screen printing technique that exist in Wedi. The spirit of togetherness that is built in Paguyuban Kampung Sablon not only in the stage of running a business but also on various aspects besifat technically one of them is to divide the screen printing ability. Paguyuban also as a forum to exchange information about the technical, tools and materials. Paguyuban also encourages employees who have working experience as a screen printing and has mastered the technical screen printing to open screen printing services themselves. Seen from the number of members of the community that has grown from 9 at the beginning of established now become 15 units of screen printing. The screen printing unit developed will be able to survive one of them with improved quality, work ability and efficiency. Key word: Screen Printing, Commodification, Sablon  Penggunaan secara aktif teknik cetak saring oleh sektor industri mendorong teknik ini terus dikembangkan baik dalam penggunaan alat atau bahan. Tidak dapat dipungkiri penggunaan teknik cetak saring atau yang biasa disebut sablon secara komersial membuat teknik ini dapat dipelajari tidak hanya di lembaga pendidikan formal tapi juga non formal. Praktisi sablon yang akhirnya bermunculan juga mengembangkan teknik ini lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Komodifikasi teknik cetak saring di masyarakat salah satunya di dukuh Krangkungan, di Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Karakteristik serta rekayasa teknik yang berkembang di Kampung Sablon Wedi diteliti menggunakan metode lapangan berupa observasi, dokumentasi dan wawancara. Paguyuban sebagai wadah untuk berkomunikasi dan bersosialisai mempunyai peran terhadap teknik sablon yang ada di Wedi. Semangat kebersamaan yang dibangun dalam Paguyuban Kampung Sablon tidak hanya dalam tahap menjalankan usaha tapi juga pada berbagai aspek yang besifat teknis salah satunya adalah membagi kemampuan menyablon.. Paguyuban juga sebagai wadah untuk bertukar informasi mengenai teknis, alat dan bahan. Paguyuban juga mendorong karyawan yang telah lama bekkerja sebagai tukang sablon dan telah menguasai teknis sablon utnuk membuka jasa sablon sendiri. Terlihat dari jumlah anggota paguyuban yang telah bertambah dari 9 pada awal didirikan sekarang menjadi 15 unit sablon. Unit sablon yang dikembangkan akan bisa bertahan salah satunya dengan peningkatan kualitas, kemampuan kerja dan efisiensi kerja. Kata Kunci: Cetak Saring, Komodifikasi, Sablon
MODEL DASAR PEMBELAJARAN INSTRUMEN REBAB BAGI ANAK-ANAK TINGKAT SEKOLAH DASAR: SEBUAH UPAYA MENGGALI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KARAWITAN JAWA Kriswanto Kriswanto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.411 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i2.2383

Abstract

Dewasa ini Seni Karawitan telah mengalami perkembangan luar biasa, akan tetapimasih terdapat permasalahan, terutama yang menyangkut pendidikan karawitan bagi anak usiasekolah dasar. Gamelan Jawa sebagai media penting dalam karawitan terkonsep untuk orangdewasa dan dimainkan oleh kaum laki-laki dalam sikap duduk bersila, bukan untuk anak. Apabilamengacu pada pola pengembangan pendidikan, segala bidang keilmuan termasuk SeniKarawitan harus dimulai dari tingkat sekolah dasar. Budi Raharja (PHB 2001-2002) dalampenelitiannya telah menghasilkan Gamelan Anak dengan desain sesuai dengan kebutuhan anak,akan tetapi belum ditindaklanjuti aplikasi permainan masing-masing instrumen dan perannyadalam karawitan.Rebab merupakan instrumen karawitan dalam kategori sulit dipelajari, terlebih untukanak-anak tingkat sekolah dasar, dibutuhkan waktu cukup lama untuk mempelajarinya. Gunamemenuhi kebutuhan tersebut diperlukan instrumen rebab yang sesuai dengan kondisi fisikanak, berikut model-model pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat kemampuannya.Penelitian ini khususnya pada tahun pertama bertujuan merancang model-model pembelajaraninstrumen rebab meliputi pengenalan dan cara memainkannya yang disesuaikan dengan teknismusikal anak. Pada tahun kedua, merealisasikan hasil penelitian yang dicapai tahun pertamauntuk disosialisasikan pada sekolah-sekolah dasar unggulan yang memiliki basic seni karawitandan jika dimungkinkan pada sanggar seni karawitan anak di wilayah Daerah IstimewaYogyakarta. Adapun penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode perancangan dansosialisai. Kata kunci: Model pembelajaran, rebab, anak-anak.

Page 11 of 28 | Total Record : 280