cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 198 Documents
Kalibrasi Multikamera Sebagai Acuan Perhitungan Rekonstruksi Pose Objek Virtual pada Seni Animasi Tiga Dimensi Samuel Gandang Gunanto
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Rekam 7
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v0i0.377

Abstract

The development of computer vision technology has penetrated in the field ofanimation and game art. Production time which generally takes a long time can be shortened significantly so that the animation industry productivity increases. But the existence of this technology is still very rarely used because of the expensive equipment and at least a man who mastered. This research is intended as an initial stage of looking for an alternative design of this technology. A good camera calibration will be a key reference for the right model of 3-dimensional reconstruction poses. Calibration error factor in pixels reprojection in this research is still good, 0.12. Visual results in 3-dimensional reconstruction of the cube as a result of exposure to the performance of this system is also still looks good, although shifting as much as 4.54 cm due to the extraction point.
Sejarah Singkat Studio Fotografi Potret di Yogyakarta 1945-1975: Sumber Daya Manusia, Teknologi, dan Kreasi Artistiknya Irwandi Irwandi; G.R. Lono Lastoro Simatupang; Soeprapto Soedjono
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 11, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v11i2.1298

Abstract

Penulisan sejarah fotografi di Indonesia pascakemerdekaan boleh dikatakan masih belum banyak dilakukan. Catatan sejarah yang ada lebih mengarah pada perjalanan fotografi dalam merekam momen pra dan pascakemerdekaan, yang sebagian besar bersumber pada foto-foto dokumen milik IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). Ini berarti, masih dibutuhkan penelusuran lebih lanjut guna merekonstruksi sejarah fotografi Indonesia dalam bidang yang lain, studio misalnya. Tulisan ini membahas perkembangan studio foto di Yogyakarta pascakemerdekaan. Hal yang dijadikan fokus utama ialah sumber daya manusia, teknologi, dan upaya-upaya artistik yang dilakukan dalam praktik studio foto masa itu. Penelusuran sejarah dilakukan dengan metode wawancara kepada pemilik studio, praktisi fotografi yang merupakan pelaku dan saksi sejarah studio fotografi pascakemerdekaan. Observasi juga dilakukan guna mengetahui lebih detail tentang upaya-kreatif yang dilakukan pihak studio foto dalam mewujudkan karyanya. Dapat disimpulkan bahwa aspek teknologi memberi pengaruh besar dalam proses perwujudan karya foto studio. Dapat terlihat bagaimana para pelaku usaha studio foto mengatasi keterbatasan teknologi.A Brief History of Portrait Photography Studio in Yogyakarta 1945-1975: Human Resources, Technology and Artistic It’s Creation.Writing the history of photography in the post-independence Indonesia arguably still not been done. The historical record that there are more leads on a photography trip in the pre and post-independence record the moments, which are largely sourced on the photographs of documents belonging IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). This means, still needed further investigation in order to reconstruct the history of photography Indonesia in other fields, for example studio. This paper discusses the development of a photo studio in Yogyakarta post-independence. It is used as the primary focus is human resources, technology, and the efforts made in the artistic practices of the past photo studio. Search history conducted by interview to the owner of the studio, photography practitioner who is the perpetrator and witnesses photography studio post-independence history. Observations were also conducted to determine more details about the creative efforts that made the photo studio in realizing his work. It can be concluded that the technological aspects of great influence in the process embodiment studio photographs. It is noticeable how the photo studio business operators overcome the limitations of technology.
Perubahan Karakter Rangga Sebagai Salah Satu Bentuk Proses Kreatif Mira Lesmana Dalam Film Ada Apa dengan Cinta 2 (2016) Sugeng Nugroho; Danissa Dyah Oktaviani
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1937

Abstract

Mira Lesmana, produser terkemuka Indonesia, membuat gebrakan dengan meliris dan menulis sendiri cerita film Ada Apa dengan Cinta 2. Kekuatan film ini tidak semata-mata bersandar dari sekuel sebelumnya, namun juga dikemas dengan aliran cerita yang menarik. Alur menggantung pada sekuel sebelumnya merupakan peluang besar untuk mengembangkan kreatifitas. Bentuk kreativitas Mira Lesmana dalam menulis cerita film ini adalah untuk mengubah karakter utama, Rangga. Karakter Rangga sengaja dibuat berbeda didasari tokoh Cinta. Perubahan karakter Rangga terjadi pada awal dan akhir cerita. Perubahan karakter Rangga dapat dilihat dari ekspresi, dialog dan tanggapan dari orang lain mengetahui sehingga dapat diketahui perubahan karakter dasar (karakter tokoh 3D) adalah fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Perubahan karakter Rangga dapat diketahui melalui pendekatan psikologi yang didalamnya memuat karakterisasi tokoh, kostelasi tokoh, dan konsepsi tokoh. Melalui pendekatan tersebut akan nampak struktur, dinamika, dan perkembangan tokoh Rangga sehingga dapat diketahui perubahan karakter Rangga yang berdampak pada kehidupannya dalam film ini. Mira Lesmana, Indonesia's leading producer, made a breakthrough by writing  story itself and released the film “What’s Up with Love? 2”. The strength of the film is not simply leaning on the previous sequel, but also packed with interesting stories flow. Flow hang on previous sequel is a great opportunity to develop creativity. Mira Lesmana form of creativity in the writing of this movie is to change the main character, Rangga. Characters of  Rangga deliberately made different based on the character of Cinta. Rangga character changes occur at the beginning and end of the story. Character of Rangga change can be seen from the expression, dialogue and feedback from others to know that it can be seen changes in the basic character (characters 3D) is a physiological, sociological, and psychological. Rangga character change can be known through the psychological approach which includes the characterization of the figures, kostelasi character, and character conception. Through this approach would seem the structure, dynamics and character development that can be known Rangga character changes that have an impact on life in this film.
Fotografi Surealisme Visualisasi Estetis Citra Fantasi Imajinasi Soeprapto Soedjono
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i1.3341

Abstract

ABSTRAKSebagaimana yang terjadi pada ranah seni sastra dan seni rupa, pengaruh surealisme sebagai moda artistik penciptaan karya seni, ternyata juga memengaruhi perkembangan bentuk dan genre baru di ranah fotografi. Sebagai bagian dari upaya-upaya penciptaan karya kreatif fotografis, beberapa fotografer menggunakan berbagai aspek dalam domain fotografi untuk juga bisa menampilkan karya-karya yang bernuansa surréal dan terkesan bersifat surealistis dengan berbagai teknik-teknik penciptaan visualnya. Prinsip-prinsip surealisme yang berkaitan dengan upaya memadukan elemen visual yang nyata dan yang bersifat tidak nyata (virtual, dream-like, fantasy) dalam karya-karya fotografi merekamenghasilkan sebuah fenomena ‘keraguan’ dalam menyikapi karya fotografinya. Hal ini terjadi karena yang selama ini karya fotografi diyakini sebagai medium penghasil karya seni visual yang nyata/realis dan merupakan satu bentuk representasi realitas yang faktual telah menjadi ‘ragu’ terhadap hasil karya fotografi surrealistic yang diciptakannya.Visualisasi bentuk-bentuk yang riil tertampilkan bertentangan dengan kelayakan konvensi logika visual alamiah realisme media fotografi yang ada. Namun, secara artistik tentunya kehadiran fotografi surealistik ini bisa dijadikan sebagai salah satu upaya alternatif penampilan visual karya seni fotografi yang ekspresif. Dalam arti bahwa ranah fotografi juga memiliki moda ungkapan ekspresif estetik yang juga memiliki kemungkinan untuk mengekplorasi aspek-aspek dunia mimpi bawah sadar, fantasi, yang bernuansa simbolisme visual dalam kancah pengembangan budaya visual yang bernilai ‘nyata - tidak nyata’. Surrealism Photography: Aesthetic Visualization of the Imagination Fantasy Imagery. As appeared in the sphere of literary and fine arts, the influence of surrealism as an artistic mode for the creation of works of art, apparently it also influences the development of new forms and genres in the sphere of photography. As part of the efforts to create photographic creative works, some photographers use various aspects in the photographic domain to also be able to present works which are surreal in nature and seem surrealistic in their various visual creation techniques. The principles of surrealism are associated with the attempts to combine visual elements which are real and not real (virtual, dream-like, fantasy) in photography works produce a phenomenon of ‘doubt’ in addressing the photographic work. This happens because all this time photography is believed to be a medium that produces visual art works that are real or realistic and is a form of factual reality representation which has become ‘doubtful’ of the surrealistic photographic works that it creates. The visualization of the real forms that appear is contrary to the feasibility of the natural visual logic conventions of the realism of the existing photographic media. However, artistically, the presence of this surrealistic photography can be used as an alternative attempt for the visual appearance of expressive photographic artworks. In the sphere of photography, it makes sense that it has an aesthetic expressive mode of expression which also has a possibility to explore the aspects of the subconscious self, fantasy, having the nuance of visual symbolical in the domain of developing visual culture which could be valued as ‘real-not real’.
Are You Sure You Have a Strategy Muhammad Kholid Arif Rozaq
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Rekam 6
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v0i0.368

Abstract

Tujuan tulisan ini adalah untuk mendiskusikan alternatif dalam prosesformulasi strategi. Seniman dalam menghadapi era industri kreatif tentunya membutuhkan strategi tertentu. terutama konsep dasar dalam formulasi strategi pada tingkat strategi bisnis, khususnya dalam industri kreatif. Telaah literatur menitikberatkan pada pendekatan strategi, apakah menggunakan strategi darurat (emergent strategy) atau strategi yang terartikulasi (deliberate strategy), atau campuran keduanya. Tulisan menawarkan salah satu pendekatan formulasi yang dikemukakan oleh Hambrick dan Fredrickson, 2001 yang dikenal dengan istilah Strategic Diamonds. Sebuah simpulan mengindikasikan bahwa Strategic Diamonds (Hambrick, 2001) sangat berguna dalam mengindentifikasi apa sebenarnya yang menjadi inti dari sebuah strategi. Elemen-elemen dari Strategic Diamonds dapat dipertimbangkan sebagai “penghubung” atau “titik pusat” dalam merancang sebuah sistem yang komprehensif dan terintegrasi. Tulisan ini mengusulkan kepada pelaku bisnis atau seniman untuk  engartikulasikan strategi secara jelas (deliberate view), dan mengikuti Lima Elemen yang dikenal dengan Strategic Diamonds: arena, vehicles, differentiators, staging and economic logic sebagai inti dari penyusun sebuah strategi.
Perjalanan Fantasi Menembus Ruang dan Waktu (Analisis Semiotika Film The Time Machine) Sudjadi Tjipto R
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 11, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v11i1.1292

Abstract

Cerita klasik usaha manusia untuk menaklukkan ruang dan waktu sudah menjadi impian sejak dahulu. Novel fiksi ilmiah terkenal The Time Machine (1895) karya H.G. Wells merupakan salah satu cerita klasik fantasi ilmiah manusia menembus batasan ruang dan waktu. Film sebagai hasil kreativitas insan menjadi media hiburan yang digemari karena mampu mewujudkan imajinasi mengarungi waktu. Hal ihwal yang belum dapat tercapai saat ini, lewat media film terwujudkan. Film fiksi ilmiah (science fiction) adalah genre film yang muncul sebagai medium realisasi imajinasi. Pada tahun 2002 industri film Hollywood memproduksi kembali cerita klasik populer The Time Machine. Dengan menggunakan metode analisis semiotika penelitian ini berkeinginan mengkaji film fiksi ilmiah The Time Machine untuk membongkar kepalsuan pencapaian teknologi yang dilakukan Hollywood sebagai kapanjangan tangan negara adidaya. Dari hasil penelitian diharapkan muncul kesadaran kritis penonton untuk tidak secara langsung mempercayai apa yang ditontonnya dan menyadari bahwa yang dilihatnya adalah sebuah imajinasi palsu.Fantasy Trip Entering the Space and Time (Semiotics Analysis on Film The Time Machine). Classic stories about human’s dreams to conquer space and time have been existing since long time ago. One of the most known science fiction novel about space and time wanderers is The Time Machine (1895) by H.G. Wells. This novel was than adapted in the movie  with the same title (2002) by movie industry in Hollywood. This movie is both a form of a creative work  and on the other hand is entertaining. This movie was very popular at the time because it could express the human imagination of time wanderers and the technology used and at the same time could realize it although only in a movie form. The technology of the time wandering itself is impossible at the time, even nowaday. Science fiction is then known as a genre of movie which could realize human imaginations. Using semiotic analysis, this study is trying to review this movie to show the fake thruths that Hollywood is than just a part of super power state (US)  statements. The result of the study is trying to give references to audience that the movie they might watch might be just a fake imagination.
Estetika Formalis Film Pohon Penghujan Sutradara Andra Fembriarto Naafi Nur Rohma
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i1.1579

Abstract

Penelitian berjudul Estetika Formalis Film Pohon Penghujan Sutradara Andra Fembriarto menggunakan metode penelitian kualitatif, pendekatan estetika formalis Sergei Eisenstein dan teori estetika formalis Sergei Eisenstein. Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui estetika formalis dari film Pohon Penghujan sehingga dapat diketahui makna dibalik film Pohon Penghujan. Permasalahan yang muncul dalam penelitian adalah estetika formalis dalam film Pohon Penghujan Sutradara Andra Fembriarto. Analisis yang dilakukan adalah analisis interpretasi pendekatan estetika formalis Sergei Eisenstein, yaitu mise-en-scene, sinematografi, montase dan suara. Hasil yang didapatkan dalam penelitian adalah terpilihnya empat adegan berdasarkan tingkat dramatik film dan makna dibalik keempat adegan tersebut.The research of Formalist Aesthetics of Rainy Tree Film directed by Andra Fembriarto uses method of qualitative research, formalist aesthetics approach and Sergei Eisenstein formalist aesthetics theory. The aim of this research is the truth of formalist aesthetics Pohon Penghujan film so that it can be seen artistic message of Pohon Penghujan film. The main problems that arise in this research is formalist aesthetics of Rainy Tree Film directed by Andra Fembriarto. Analysis for this research is Sergei Eisenstein formalist aesthetics approach: mise-en-scene, cinematography, montage dan sound. The results of this research is artistic message of Pohon Penghujan film as formalist aesthetics.
Butterfly: Video Mapping Transformasi Kupu-Kupu sebagai Simbol Transformasi Diri Dina Dwika Oktora
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i2.3251

Abstract

AbstrakKupu-kupu mengalami proses transformasi sebagai bagian dari siklus hidup normal. Kupukupujuga merupakan representasi dari simbol tentang sukacita, kebahagiaan, musimsemi, kelahiran kembali, dan pembaharuan. Image serangga cantik ini juga menyimbolkankelembutan, yang bisa menyentuh dalam masa sulit. Dalam proses kesedihan, orang yangberduka telah belajar bagaimana menghadapi kehilangan, atau perubahan yang signifikan.Banyak orang mungkin menyembunyikan diri seperti berada dalam kepompong ketikamencoba untuk menyembuhkan jiwanya. Fase kepompong merupakan salah satu fasetransformasi dari introspeksi dan refleksi. Proses ini berakhir dengan orang yang munculdari kepompong mereka, bermetamorfosis menjadi orang yang berbeda. Video instalasi inimerupakan salah satu seni media baru, dengan menggunakan video mapping sebagai teknikyang akan memperlihatkan fase-fase transformasi kupu-kupu hingga menjadi kupu-kupu yangcantik sebagai simbol transformasi diri. Butterfly: Video Mapping of Butterfly’s Transformation as a Symbol of Self- Transformation.Butterfly undergoing a process of transformation as part of the normal life cycle. Butterfliesalso represent a symbol of a lot of joy, happiness , spring, rebirth and renewal. This beautifulinsect image also symbolizes light and soft, which can touch the heart during this difficult timeand force one to think about the migration of power. In the process of grief , grieving peoplehave learned how to deal with loss or significant change. many people may hide themselvesfrom all over the world such as in a cocoon when trying to heal his soul. Cocoon phase is onestage of the transformation of introspection and reflection. This process ends up as peopleemerged from their cocoons, morphed into a different person. This video instalation is one ofnew media art, by using video mapping technique will show how the phases through which thebutterfly in its transformation into a beautiful butterfly as a symbol self transformation.
Lev Manovich: “The Language of New Media” (A Book Review) Retno Mustikawati
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Rekam 9
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v0i0.543

Abstract

Banyak istilah baru tentang teknologi yang masih belum diketahui secara lengkap oleh masyarakat. Salah satu istilah yang menarik adalah NewMedia (Media Baru). New Media ini mencakup kemunculan digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20. Lev Manovich adalah seorang profesor ilmu komputer di City University of New York, menerbitkan buku The Language of New Media yang membahas tentang sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai “media baru”digital, yang seringkali memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, mampat, interaktif dan tidak memihak.Kata kunci: Lev Manovich, new media, digital
Bahasa Indonesia dalam Animasi Lagu Anak Indonesia Bersama Diva Produksi Kastari Animation Sudaryanto Sudaryanto
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i2.2112

Abstract

Indonesian Language in Lagu Anak Indonesia Bersama Diva Animation Production by Kastari Animation. Indonesian children’s songs are numerous and have their own peculiarities. One of the uniqueness of it is the utilization of verbal aspects of Indonesian language in the lyrics of the song. However, not everyone, including parents is aware of it. In the Lagu Anak Indonesia Bersama Diva with the production division of Kastari Animation, found a number of verbal aspects that are used by the songwriter. The purpose of this study is to describe the verbal aspects of Indonesian language in the lyrics of Indonesian children’s songs, especially in Lagu Anak Indonesia Bersama Diva animation. The research method used is qualitative method. The results of this study are descriptions of verbal aspects of Indonesian language including (1) rhyme, (2) onomatopoeia, and (3) toponimi used by children’s songwriters. As for the Indonesian children’s songs being researched are Naik Becak, Menanam Jagung, Tik Tik Bunyi Hujan, Burung Kakak Tua, Halo-Halo Bandung, Satu Nusa Satu Bangsa, and Bendera Merah Putih.

Page 9 of 20 | Total Record : 198