cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
+6281362081363
Journal Mail Official
jurnalekspresi@isi.ac.id
Editorial Address
Jl. Parangtritis No.KM.6.5, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ekspresi: Indonesian Art Journal
ISSN : 14114305     EISSN : 29645921     DOI : https://doi.org/10.24821/ekp.v1i11
EKSPRESI is a double-blind peer-reviewed international journal published twice a year in April and October. Ekspresi published by Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas, art creation, and community service activities in the fields of arts and humanities.
Articles 78 Documents
Tradisi Manggusuak pada Pernikahan di Nagari Paninggahan, Solok, Sumatera Barat Sefitriani, Cantika; Endrizal, Endrizal
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.17150

Abstract

AbstrakArtikel ini merupakan luaran penelitian yang mendeskripsikan tradisi Manggusuak di masyarakat Nagari Paninggahan, Solok, Sumatera Barat. Tradisi ini menjadi bagian penting dari siklus pernikahan yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini menggunakan teori dari Clifford Geertz. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan teknik pengumpulan data observasi lapangan, wawancara, dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Manggusuak merupakan prosesi luluran calon pengantin wanita dengan ramuan tradisional sebagai bentuk simbolis penyucian diri sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Prosesi ini dilaksanakan tiga hari sebelum acara baraelek (pesta pernikahan). Ramuan ini terdiri dari berbagai bahan alami yang masing-masingnya memiliki makna simbolik. Tradisi Manggusuak tidak hanya berfungsi sebagai proses penyucian calon pengantin perempuan secara fisik, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau mengenai kesiapan memasuki kehidupan rumah tangga. Prosesnya yang kompleks, dimulai dari pengumpulan bahan alami, pengolahan secara tradisional, hingga peluluran yang disertai petuah dan doa, menjadikan Manggusuak tidak hanya sebagai upacara perawatan diri, namun juga cermin dari sistem pengetahuan lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat.Kata kunci: Tradisi, Manggusuak, PaninggahanAbstractManggusuak in Nagari Paninggahan: Local Specificity within Minangkabau Matrimonial Traditions. This article presents the findings of a research project that describes the Manggusuak tradition practiced by the community of Nagari Paninggahan, Solok, West Sumatra. This tradition forms an integral part of the marriage cycle and has been passed down through generations. The study employs Clifford Geertz’s interpretive cultural theory and adopts a qualitative approach, utilizing field observation, interviews, and documentation as data collection techniques. Data were analyzed through reduction, presentation, conclusion drawing, and verification. Manggusuak is a ritual in which the bride-to-be undergoes a traditional body scrub using herbal mixtures, symbolizing purification before entering married life. The ritual is performed three days prior to the baraelek (wedding celebration). The herbal mixture consists of various natural ingredients, each bearing symbolic meaning. Beyond its function as physical cleansing, Manggusuak serves as a medium for transmitting the Minangkabau community’s core values regarding readiness for marriage. Its intricate process—from gathering natural materials and preparing them traditionally to the act of scrubbing accompanied by advice and prayers—positions Manggusuak not merely as a beauty ritual, but as a reflection of local knowledge systems embedded in everyday life.Keywords: Tradition, Manggusuak, Paninggahan.
Pertunjukan Tradisi Lukah Gilo di Nagari Tarung-Tarung IX Koto Sungai Lasi Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat Fitri, Anisa; Kasman, Selvi
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.17151

Abstract

AbstrakArtikel ini ditulis untuk mendeskripsikan tata cara pelaksanaan serta fungsi pertunjukan tradisi Lukah Gilo bagi masyarakat setempat. Adapun artikel ini merupakan luaran penelitian yang menggunakan teori tradisi dari Bronislaw Malinowski. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung di lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Adapun objek penelitian ini adalah pertunjukan tradisi Lukah Gilo. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber data primer dan sekunder. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Lukah Gilo merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat yang menampilkan keahlian khas masyarakat dalam menciptakan ilusi seolah-olah sebuah benda mati yakni lukah atau perangkap ikan dari bambu dapat bergerak dan hidup dengan sendirinya. Gerakan-gerakan lukah tersebut tidak dilakukan secara langsung oleh manusia, melainkan melalui serangkaian ritual, mantra, dan iringan musik tradisional yang diyakini mengundang kekuatan gaib. Atraksi ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerminkan kepercayaan spiritual serta kearifan lokal masyarakat pendukung tradisi tersebut. Fungsi pertunjukan tradisi Lukah Gilo bagi masyarakat Taruang-Taruang, adalah sebagai hiburan, sebagai tempat ekspresi bagi pelaku kesenian,memberikan kenikmatan estetis,sebagai komunikasi dan juga pengintegrasian masyarakat, sebagai representasi simbolis, sebagai respon fisik, memperkuat konformitas norma-norma sosial, serta stabilitas kebudayaan. Lukah Gilo juga berfungsi sebagai hiburan dan tontonan yang menarik terutama dalam acara-acara adat, festival, atau upacara tertentu.Kata kunci :  Lukah Gilo, Pertunjukan, Tradisi, FungsionalismeAbstractThe Lukah Gilo Traditional Performance in Taruang-Taruang IX Koto Sungai Lasi, Solok Regency, West Sumatra Province. This study aims to describe the procedures of implementation as well as the functions of the Lukah Gilo traditional performance for the local community. To support the research, the study employs Bronislaw Malinowski’s theory of tradition. In addition, the research applies a qualitative approach with data collection techniques including direct field observation, interviews, and documentation. The object of this research is the Lukah Gilo traditional performance. The data sources consist of both primary and secondary sources. Data analysis was carried out through three stages: data collection, data reduction (which includes reducing data, presenting data, and drawing conclusions with verification). The results of the study indicate that the Lukah Gilo performance is one form of folk performing arts that showcases the distinctive skills of the community in creating the illusion that an inanimate object—namely lukah (a bamboo fish trap)—can move and come to life on its own. The movements of the lukah are not directly controlled by humans, but rather are brought forth through a series of rituals, chants, and traditional musical accompaniment believed to summon supernatural forces. This attraction not only entertains but also reflects the community’s spiritual beliefs and local wisdom. The functions of the Lukah Gilo traditional performance for the people of Taruang-Taruang include entertainment, providing a space for artistic expression, offering aesthetic enjoyment, serving as a means of communication and community integration, symbolic representation, physical response, reinforcing conformity to social norms, and maintaining cultural stability. Lukah Gilo also functions as an appealing spectacle, especially in customary ceremonies, festivals, or certain rituals.Keywords: Lukah Gilo, Performance, Tradition, Functionalism
Bentuk dan Fungsi Gamelan dalam Kidung Surajaya Mahatmajangga, Binarung
Ekspresi Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i2.17649

Abstract

AbstrakKidung Surajaya adalah naskah skriptorium Merapi-Merbabu yang bergenre santri lelana brata serta bertema kegamaan Hindu-Buddha. Teks menceritakan perjalanan Ki Singamada yang merupakan anak dari seorang penguasa di Majapahit menuju ke hutan-hutan dan pertapaan-pertapaan di pegunungan serta perjalanan spiritualnya untuk mencapai moksa. Masa penulisan teks diperkirakan berasal abad 17 Masehi di sekitar pegunungan Merapi-Merbabu sehingga dapat menjadi acuan untuk menelisik kebudayaan masyarakat Jawa pada masa itu salah satunya adalah karawitan atau gamelan Jawa. Gamelan dalam teks Kidung Surajaya ini memiliki berbagai fungsi yaitu sebagai pengiring dalam peribadatan, berkidung, peperangan, dan juga sebagai selingan pembentuk suasana keindahan dalam alur cerita Kidung Surajaya. Kata kunci: Kidung Surajaya, Karawitan, Gamelan, Manuskrip, Musik, Jawa  AbstractThe Form and Function of Gamelan in Kidung Surajaya. Kidung Surajaya is a manuscript from the Merapi-Merbabu scriptorium, categorized as a "santri lelana brata" (wandering student seeking for soul liberation) genre and featuring Hindu-Buddhist religious themes. The text narrates the journey of Ki Singamada, the son of a ruler in Majapahit, to the forests and hermitages in the mountains, as well as his spiritual journey to attain moksha (liberation). The estimated period of the text's composition is around the 17th century AD in the Merapi-Merbabu highlands, making it a reference for examining Javanese culture of that time, one aspect of which is karawitan or Javanese gamelan. The gamelan in the Kidung Surajaya text serves various functions, namely as accompaniment in worship, chanting, warfare, and also as an interlude to create an atmosphere of beauty within the storyline of the Kidung Surajaya. Keywords: Kidung Surajaya, Karawitan, Gamelan, Manuscript, Music, Java
Interpretasi Hening Sesanti Niskala sebagai Janturan menjadi Karya Musik Asmoro, Panji Probo; Aji, Ananto Sabdo; Nastiti, Dian
Ekspresi Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i2.17514

Abstract

AbstrakHening Sesanti Niskala adalah komposisi musik yang terinspirasi dari kedalaman makna filosofis janturan. Karya ini bertujuan merepresentasikan substansi janturan secara musikal sebagai pesan spiritual. Konsep karya dibangun atas tiga elemen: Hening (ketenangan), Sesanti (doa), dan Niskala (keselamatan), yang dimaknai sebagai kekhusukan manusia saat berdoa kepada Tuhan. Metode penciptaan meliputi tiga tahapan utama: persiapan, observasi, dan tafsir garap yang melibatkan eksplorasi bunyi serta teknik instrumen. Karya ini diharapkan menjadi referensi alternatif dalam metode penciptaan musik baru, khususnya bagi akademisi karawitan. Kata kunci: Janturan, Suasana Musikal, Doa, Makna, dan Eksplorasi AbstractInterpreting Hening Sesanti Niskala as Janturan into a Musical Composition. Hening Sesanti Niskala is a musical composition inspired by the profound philosophical meaning of janturan. This work aims to represent the substance of janturan musically as a spiritual message. The concept is built upon three elements: Hening (stillness), Sesanti (prayer), and Niskala (salvation), which are interpreted as the solemnity of human devotion to God. The creation method comprises three main stages: preparation, observation, and tafsir garap (musical interpretation), involving the exploration of sounds and instrumental techniques. This work is expected to serve as an alternative reference for new music creation methods, particularly for Karawitan scholars. Keywords: Janturan, Musical Atmosphere, Prayer, Meaning, and Exploration
Tradisi Alek Pisang Manih dalam Upacara Perkawinan di Nagari Panyakalan dalam Analisis Teori Fungsionalisme Nazar, Rikal Junifra; Aziz, Basyarul
Ekspresi Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i2.17572

Abstract

AbstrakPenelitian ini menganalisis tradisi Alek Pisang Manih dalam upacara perkawinan masyarakat Nagari Panyakalan, yang unik dan disertai sanksi adat serta moral, menggunakan teori Fungsionalisme Bronislaw Malinowski untuk mengungkap fungsi budayanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tradisi ini mencakup unsur sistem pengetahuan, bahasa, peralatan, dan organisasi sosial dari adat salingka nagari, serta bagian dari rangkaian adat perkawinan yang dilestarikan hingga kini, mencerminkan nilai budaya dan harapan rumah tangga harmonis. Berdasarkan teori Fungsionalisme Malinowski, tradisi berfungsi menjaga struktur sosial matrilineal, menguatkan kekerabatan dan solidaritas, pisang tando sebagai sarana estetika, serta lembaga adat sebagai penjaga nilai dan tata tertib." Kata kunci: Tradisi Alek Pisang Manih, Fungsi, Struktur Sosial Matrilineal, Solidaritas Sosial. Abstract This research analyzes the Alek Pisang Manih tradition in the wedding ceremony of the Nagari Panyakalan community, which is unique and accompanied by customary and moral sanctions, using Bronislaw Malinowski's Functionalism theory to reveal its cultural functions. This research employs a descriptive qualitative approach with data collection through observation, interviews, and documentation. This tradition encompasses elements of knowledge systems, language, equipment, and social organization from the adat salingka nagari, as well as part of the wedding custom series that is preserved to this day, reflecting cultural values and hopes for a harmonious household. Based on Malinowski's Functionalism theory, the tradition functions to maintain the matrilineal social structure, strengthen kinship and social solidarity, pisang tando as aesthetics medium, and customary institutions as guardians of values and order. Keywords: Alek Pisang Manih Tradition, Function, Matrilineal Social Structure, Social Solidarity.
Eksploitasi Tambang Pasir di Kabupaten Garut sebagai Inspirasi Penciptaan Naskah Drama Uga Wangsit Siliwangi Firmansyah, Nova Rizky; Nugraeni, Elara Karla; Dhani, Kurnia Rahmad
Ekspresi Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i2.19312

Abstract

AbstrakPenelitian penciptaan ini bertujuan untuk menghasilkan naskah drama Uga Wangsit Siliwangi berdasarkan kritik terhadap kerusakan lingkungan serta konflik sosial akibat eksploitasi tambang pasir di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penulisan naskah ini juga hendak menghidupkan kembali legenda Prabu Siliwangi sebagai simbol pelestarian alam. Metode penciptaan menggunakan pendekatan berbasis praktik seni yang diangkat dari realitas sosial. Observasi lapangan dilakukan di wilayah Leles, Garut, dengan wawancara dengan narasumber terkait. Studi pustaka terhadap naskah Carita Parahyangan, serta perumusan treatment, penokohan, alur berbasis perkembangan watak, dan latar Leuweung Sancang dan Buwana Larang. Hasil karya adalah berupa naskah drama tiga babak yang mengaplikasikan pendekatan estetika surealisme satir politis. Naskah ini memadukan bahasa Sunda buhun dan keseharian, serta menyajikan elemen surealis (seperti tembok pasir) dan satir politik melalui dialog-dialog sindiran. Naskah yang dihasilkan menawarkan pendekatan penceritaan baru dalam teater ekologis melalui perpaduan unik antara surealisme satir politik, bahasa Sunda, dan narasi folklor yang diadaptasi secara kritis. Kata kunci: teater ekologis, Uga Wangsit Siliwangi, satir politik, surealisme, tambang pasir. AbstractSand Mining in Garut Regency as Inspiration for the Creation of the Drama Script Uga Wangsit Siliwangi. This creative research aims to produce a play script titled Uga Wangsit Siliwangi, based on a critique of environmental degradation and social conflicts resulting from sand mining exploitation in Garut Regency, West Java. The script also intends to revitalize the legend of Prabu Siliwangi as a symbol of nature conservation. The creation method employs an arts-based practice approach derived from social reality. Data collection included field observations in Leles, Garut, and interviews with relevant informants. Additionally, a literature study was conducted on the Carita Parahyangan manuscript, followed by the formulation of the treatment, characterization, character-driven plot, and settings in Leuweung Sancang and Buwana Larang. The final work is a three-act play script that applies a political-satiric surrealist aesthetic. The script blends archaic (buhun) and colloquial Sundanese, featuring surreal elements—such as walls of sand—and political satire through satirical dialogue. The resulting script offers a new storytelling approach in ecological theater through a unique synthesis of political satiric surrealism, Sundanese language, and critically adapted folklore narratives. Keywords: Ecological theater, Uga Wangsit Siliwangi, political satire, surrealism, sand mining.
Interpretasi Legenda Dadong Guliang dalam Karya Tari Rwa Bhineda Karmaphala Maharani, Femasari Puan; Kurniasari, Lysandra Hari; Putri, Mentari Sas; Gusanti, Yurina
Ekspresi Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i2.15423

Abstract

AbstrakPenelitian penciptaan karya tari Rwa Bhineda Karmaphala ini terinspirasi dari legenda Dadong Guliang dari Bali, namun proses interpretasi serta penciptaannya belum terdokumentasi secara akademis. Penelitian penciptaan ini bertujuan untuk menganalisis proses adaptasi naratif folklor ke dalam karya koreografi dan pertunjukan, serta selanjutnya menciptakan satu karya tari kontemporer yang diinterpretasikan dari legenda Dadong Guliang. Penelitian penciptaan ini menggunakan pendekatan practice-based research dengan metode penciptaan melalui eksplorasi gerak, improvisasi, dan komposisi. Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tim kreatif, dan dokumentasi audio-visual. Karya tari Rwa Bhineda Karmaphala yang yang dihasilkan, terstruktur dalam empat adegan simbolis menggunakan tiga strategi interpretasi utama yaitu transposisi naratif, simbolisasi gerak, dan kontekstualisasi sosio-spiritual. Karya ini dinilai dapat mempertahankan basis filosofis legenda namun sekaligus dapat menghadirkan relevansi kontemporer terkait isu marginalisasi dan ketidakadilan gender. Penelitian penciptaan karya ini menunjukkan bahwa seni dapat berfungsi menjadi medium hermeneutis yang efektif dalam merevitalisasi warisan budaya. Karya ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan metodologi penciptaan berbasis riset dalam pendidikan seni. Kata kunci: penelitian penciptaan, interpretasi, legenda Dadong Guliang, tari kontemporer AbstractThe Interpretation of the Dadong Guliang Legend in the Dance Work Rwa Bhineda Karmaphala. This creation research of the dance work Rwa Bhineda Karmaphala is inspired by the Dadong Guliang legend from Bali; however, its interpretation and creation processes have not been academically documented. This creation research aims to analyze the adaptation process of folklore narrative into choreographic and performative works, and subsequently create a contemporary dance piece interpreted from the Dadong Guliang legend. This study employs a practice-based research approach through movement exploration, improvisation, and composition methods. The research was conducted qualitatively via participant observation, in-depth interviews with the creative team, and audio-visual documentation. The resulting dance work, Rwa Bhineda Karmaphala, is structured into four symbolic episodes using three main interpretation strategies: narrative transposition, movement symbolization, and socio-spiritual contextualization. This work is considered capable of maintaining the philosophical foundation of the legend while also presenting contemporary relevance regarding issues of marginalization and gender injustice. This creation research demonstrates that art can function as an effective hermeneutic medium for revitalizing cultural heritage. It is hoped that this work can contribute to the development of research-based creation methodologies in arts education. Keywords: creation research, interpretation, Dadong Guliang legend, contemporary dance
Musik Nusantara sebagai Praktik Budaya dalam Pendidikan Humanitas di Perguruan Tinggi Widyanta, Nugrahanstya Cahya
Ekspresi Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i2.19272

Abstract

AbstrakMusik Nusantara merupakan bagian penting dari kebudayaan Indonesia yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memuat nilai sosial, identitas budaya, dan pengalaman kolektif masyarakat pendukungnya. Dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya pada Program Studi Studi Humanitas, Musik Nusantara diposisikan sebagai praktik budaya yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran kontekstual dan reflektif untuk memahami kebudayaan secara lebih nyata. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran mata kuliah Musik Nusantara dan Kajian Budayanya dalam pembelajaran Studi Humanitas di perguruan tinggi, serta menganalisis bagaimana mahasiswa terutama yang tidak memiliki latar belakang musik memaknai Musik Nusantara sebagai praktik kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus pada mata kuliah Musik Nusantara dan Kajian Budayanya di Program Studi Studi Humanitas Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Data diperoleh melalui observasi proses pembelajaran, analisis materi perkuliahan, serta refleksi tertulis mahasiswa mengenai pengalaman belajar mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata kuliah ini berfungsi sebagai media pembelajaran lintas disiplin yang menghubungkan seni, budaya, sejarah, dan kehidupan sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi orisinal dengan menunjukkan bahwa Musik Nusantara dapat dipahami dan dimaknai secara kritis oleh mahasiswa non-musik sebagai praktik budaya yang hidup, bukan sekadar objek estetis atau keterampilan teknis. Temuan ini memperkaya kajian pendidikan humanitas dengan menempatkan musik sebagai sarana pembentukan kesadaran budaya reflektif, apresiatif terhadap keberagaman, dan pemahaman kontekstual terhadap dinamika masyarakat Indonesia.Kata kunci: Musik Nusantara, Pendidikan Humanitas, Praktik Budaya; Mahasiswa Non-Musik, Studi Kasus. AbstractNusantara Music is an essential part of Indonesian culture that functions not only as entertainment but also as a medium through which social values, cultural identity, and collective experiences are expressed. In the context of higher education, particularly within Humanities study programs, Nusantara Music is positioned as a cultural practice that serves as a contextual and reflective learning medium for understanding culture. This article aims to examine the role of the course Nusantara Music and Its Cultural Studies in Humanities education at the university level and to analyze how students especially those without a musical background—interpret Nusantara Music as a form of cultural practice. This study employs a descriptive qualitative approach using a case study design conducted in the Humanities Study Program at Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Data were collected through classroom observations, analysis of course materials, and students’ written reflections on their learning experiences. The findings indicate that the course functions as an interdisciplinary learning medium that connects art, culture, history, and social life. This study offers an original contribution by demonstrating that Nusantara Music can be critically understood and meaningfully interpreted by non-music students as a living cultural practice rather than merely as an aesthetic object or technical musical skill. These findings enrich Humanities education discourse by positioning music as a pedagogical tool for fostering reflective cultural awareness, appreciation of diversity, and contextual understanding of Indonesian socio-cultural dynamics.Keywords: Nusantara Music, Humanities Education, Cultural Practice, Non-Music Students, Case Study.