cover
Contact Name
Tri Wahyu Widodo
Contact Email
notasi3@yahoo.co.id
Phone
+6287839174055
Journal Mail Official
promusika7@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indoneisa Yogyakarta Jl. Parangtritis Km 6,5 Sewon Bantul Yogyakarta Telp: 0274-384108, 375380, fax: 0274-384108/0274-484928 HP: Hp. 087839174055
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik
ISSN : 2338039X     EISSN : 2477538X     DOI : https://doi.org/10.24821/promusika.v1i2
Core Subject : Art,
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik, focuses on the results of studies in the field of music, that its topics scope encompasses: Western Music Studies; History of music; Music theory/ analysis; Choir; Orchestra/ Ensemble/ Chamber Music; Composition/ Arrangement; Music Pedagogy/ education; Instrumental/ Vocal Studies; Music Technology; Popular/ folk Music; Music Esthetic/ philosophy
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2024): April 2024" : 6 Documents clear
Struktur dan Harmoni Komposisi Sonata Op. 2 No. 1, 4th Movement Ludwig van Beethoven: Sebuah Kajian Musikologis Indrawati, Dorothea Belicia Violista; Hananto, Paulus Dwi
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.10940

Abstract

Beethoven adalah salah satu komposer dan pianis yang terkenal dari Jerman pada periode klasik. Semasa hidupnya, Beethoven membuat 32 sonata dan salah satu yang terkenal adalah Sonata Op. 2 No. 1. Sonata merupakan bentuk struktur yang banyak digubah oleh komponis pada periode klasik. Sonata Op. 2 No. 1 merupakan karya yang digubah oleh Beethoven pada awal karirnya dan dipersembahkan untuk gurunya, Joseph Haydn. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur musik, teknik pengolahan motif di antaranya sekuen, motif yang digunakan dan harmoni seperti progresi akord dan kadens yang terdapat dalam Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement. Penelitian ini juga meneliti karakteristik Haydn yang ada di dalamnya dikarenakan karya Sonata Op. 2 No. 1 ini dipersembahkan kepada Joseph Haydn. Penelitian ini didasarkan dari practice-based reserach atau penelitian berdasarkan praktik. Penelitian ini bersandar pada dokumen secara tekstual dan menggunakan pendekatan musikologi. Struktur komposisi pada Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement berbentuk sonata form yang terdiri atas eksposisi, pengembangan, dan rekapitulasi. Hasil penelitian menunjukkan komposisi ini menggunakan  karakter Haydn yaitu menggunakan pola triplet broken chord, menggunakan sonata form pada movement terakhir, periode tema yang tidak teratur, dan ada kecondongan untuk menekankan pentingnya second subject.Structure and Harmony of Ludwig van Beethoven's Sonata Op. 2 No. 1, 4th Movement: A Musicological StudyAbstractBeethoven is one of Germany's most famous composers and pianists in the classical period. During his lifetime, Beethoven composed 32 sonatas, one of which is the Sonata Op. 2 No. 1. Sonata is a form of structure that many composers composed in the classical period. Sonata Op. 2 No. 1 is a work composed by Beethoven at the beginning of his career and dedicated to his teacher, Joseph Haydn. This research aims to analyze the musical structure, motif processing techniques, sequences, motifs used, and harmonies such as chord progressions and cadences contained in Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement. This research also examines Haydn's characteristics because the Sonata Op. 2 No. 1 is dedicated to Joseph Haydn. This research is based on practice-based research. It relies on textual documents and uses a musicological approach. The compositional structure of Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement is in sonata form, which consists of exposition, development, and recapitulation. The results show that this composition uses Haydn's characters, namely using triplet broken chord patterns, using sonata form in the last movement, irregular theme periods, and there is a tendency to emphasize the importance of the second subject.Keywords: Musicological Analysis; Beethoven; Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement.
Teknik Permainan Guzheng pada Turkish March Mozart Orkestrasi Quartet Wang Zhong Shan Evellyn, Evellyn; Sagala, Jayanti M.
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.10352

Abstract

Piano Sonata No. 11 in A major, K331 movement ke-3, Alla Turca atau Turkish March merupakan musik piano karya Mozart yang terkenal karena bentuknya yang menyerupai jenis lagu mars dengan tempo cepat, gembira, dan meriah. Popularitas Turkish March di abad ke-21 membuat karya ini diaransemen dan diorkestrasikan dalam berbagai instrumen, salah satunya yaitu alat musik tradisional Tiongkok, guzheng oleh Wang Zhong Shan pada tahun 2009. Meskipun piano dengan guzheng merupakan instrumen string, namun perbedaan bentuk instrumen, bahan pembuatan, serta cara memproduksi bunyi mengakibatkan adanya beberapa perbedaan teknik permainan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik permainan guzheng dalam Turkish March karya Mozart yang diorkestrasikan oleh Wang Zhong Shan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data berupa studi literatur, studi diskografi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik permainan guzheng yang digunakan dalam Turkish March antara lain teknik memetik senar yang paling dasar yaitu dengan keempat jari, kemudian teknik memetik senar dengan kedua telunjuk kanan dan kiri secara bergantian, teknik menekan senar untuk mendapatkan nada tertentu yang tidak ditala pada senar guzheng, teknik double stop, teknik tremolo, dan teknik arpeggio. Baik notasi yang tertulis di partitur maupun bunyi permainan guzheng yang dihasilkan, ternyata tidak memiliki perbedaan signifikan dengan karya musik piano asli karena teknik permainan guzheng yang digunakan diolah sedemikian rupa untuk tetap menghasilkan bunyi yang mirip dengan karya aslinya
Indikator Ideal Pendidikan Vokasional Bidang Musik Abad XXI di Indonesia Fu'adi, Fu'adi; Agustianto, Agustianto; Kusumawati, Heni; Sritanto, Sritanto
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.12557

Abstract

Model Pendidikan abad XXI menjadi hal yang sangat penting untuk dijadikan rujukan dalam penyelenggaraan sebuah pembelajaran. Artikel ini menguraikan berbagai indikator ideal dalam pendidikan vokasional bidang musik di Indonesia. Melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, diperoleh beberapa indikator ideal pendidikan vokasional bidang musik antara lain 1) Konteks pembelajaran vokasional bidang musik dapat ditinjau dari konteks ekonomi, sosial, pendidikan, sejarah dan internasional yang mampu memberikan daya kreatifitas dan skill yang tinggi dengan didukung sarana prasarana yang mutakhir; 2) Proses input melalui pengembangan instrumen tes berbasis kompetensi yang bertujuan untuk mengukur kompetensi; 3) Proses pembelajaran menggunakan strategi, metode, teknik, gaya dan taktik pembelajaran yang efektif; 4) Output pendidikan vokasional musik meliputi kompetensi utama dan tambahan yang harus dimiliki; 5) Outcome pendidikan vokasional musik terkait dengan kemandirian, kepercayaan publik, dan kreatifitas. Indikator-indikator ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan pendidikan musik yang ideal untuk menghadapi tantangan kehidupan yang sangat dinamis dan kompleks di abad XXI.AbstractIdeal Indicators of XXI Century Vocational Education in Music in IndonesiaThe 21st-century education model is very important to use as a reference in organizing learning. This article describes various ideal indicators in music vocational education in Indonesia. Through observation, interviews and documentation studies, several ideal indicators of vocational education in the field of music were obtained, including 1) The context of vocational learning in the field of music can be viewed from economic, social, educational, historical and international contexts which can support high levels of creativity and skill. state-of-the-art infrastructure; 2) Input process through the development of competency-based test instruments which aim to measure competency; 3) The learning process uses effective learning strategies, methods, techniques and tactics; 4) Music vocational education output includes main and additional competencies that must be possessed; 5) The outcomes of vocational music education are related to independence, public trust and creativity. These indicators can be the basis for developing ideal music education to face the very dynamic and complex challenges of life in the 21st century.Keywords: Indicators; vocational education; Indonesia's 21st century music
Kreasi Musik dalam Gaya Permainan Gitar Keroncong oleh Tukiyo Tjiptomartono Seto, Novan Daru Anggoro; Kiswanto, Kiswanto
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.10347

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan tentang kreasi musik dalam gaya permainan gitar keroncong Tukiyo Tjiptomartono. Tukiyo Tjiptomartono adalah seorang musisi keroncong yang lahir di Surakarta, 15 November 1948 dan wafat di Surakarta, 19 Oktober 2021. Kebiasaan dan kegemaran semasa hidupnya dalam melakukan eksplorasi dan eksperimen untuk mengulik teknik dan pola permainan gitar keroncong telah menjadikan dirinya memiliki gaya yang khas, sehingga banyak seniman dan penikmat musik keroncong yang mengakui dan mengagumi kepiawaiannya dalam membawakan permainan melodi gitar keroncong hingga saat ini. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tukiyo Tjiptomartono sebagai seniman musik keroncong, yang dikenal dan dikenang oleh seniman-seniman musik keroncong dengan ciri khas melodi gitarnya. Ciri khas yang muncul dapat diidentifikasi berdasarkan teknik permainan, pola permainan gitar keroncong, dan variasi atau pengembangan pola gitar gaya Tukiyo Tjiptomartono. Teknik permainan merupakan tata cara teknik dasar dalam permainan gitar keroncong, pola permainan yang dimaksud merupakan bentuk-bentuk melodi pada pola akor dalam struktur keroncong asli akor 1, 2, 4, dan 5. Variasi atau pengembangan merupakan hasil dari kreativitas Tukiyo Tjiptomartono dan dapat dianalisis melalui perpindahan akor, susunan not, dan improvisasi-improvisasi yang dilakukan oleh Tukiyo Tjiptomartono.Music Creation in Keroncong Guitar Playing Style by Tukiyo Tjiptomartono. AbstractThis research aims to identify and explain the musical creations in Tukiyo Tjiptomartono's keroncong guitar playing style. Tukiyo Tjiptomartono is a keroncong musician born in Surakarta on November 15, 1948, and died in Surakarta on October 19, 2021. His lifelong habit and passion for exploration and experimentation to explore the techniques and patterns of keroncong guitar playing have made him a distinctive style that many artists and keroncong music lovers recognize and admire his expertise in performing keroncong guitar melodies to this day. The findings of this study show that Tukiyo Tjiptomartono is a keroncong music artist known and remembered by keroncong music artists for his characteristic guitar melodies. Playing styles, keroncong guitar playing patterns, and modifications or advancements of Tukiyo Tjiptomartono-style guitar patterns can all used to identify the qualities. The playing technique is an essential technical procedure in playing the keroncong guitar. The playing pattern is the melody formed in the chord pattern in the original keroncong structure of chords 1, 2, 4, and 5. Variation or development results from Tukiyo Tjiptomartono's creativity and can be analyzed through chord switching, note arrangement, and improvisations made by Tukiyo Tjiptomartono.Keywords: music creation; playing style; Tukiyo Tjiptomartono; keroncong guitar; artistry
Komodifikasi Musik Bertema Cinta: Pertunjukan Yovie Widianto “Billion Songs Concert and Festival” Zahra, Assalova Schissandra; Koapaha, Royke Bobby
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.12490

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap komodifikasi Yovie Widianto pada pertunjukan Billion Songs Concert and Festival dalam konteks komodifikasi musik bertema cinta pada Industri Kebudayaan Massa oleh Theodor W. Adorno. Masalah penelitian yang diangkat adalah bagaimana strategi Yovie Widianto mengkomodifikasi karyanya dalam bentuk pertunjukan ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Data dikumpulkan melalui observasi langsung pada lokasi pertunjukan, wawancara dengan Yovie Widianto, serta analisis berbagai dokumen terkait seperti materi promosi, artikel berita, dan data streaming. Pertunjukan ini sebagai contoh studi kasus karena menggambarkan fenomena komersialisasi musik bertema cinta dalam industri musik masa kini. Aspek komersialisasi ini dapat terlihat dari seleksi lagu-lagu populer, kolaborasi dengan berbagai musisi populer, yang meningkatkan antusiasme dan daya tarik masyarakat serta menunjang penjualan tiket yang tinggi. Penelitian ini akan melihat bagaimana lagu-lagu bertema cinta dijadikan komoditas, dengan fokus pada model karya yang disajikan, strategi komodifikasi, dan pengaruh komersialisasi terhadap nilai artistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komodifikasi musik bertema cinta melibatkan pemilihan lagu hits, kolaborasi musisi, dan strategi promosi yang menyatukan antusiasme dan daya tarik masyarakat terhadap pertunjukan. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa strategi komodifikasi yang digunakan berhasil meningkatkan popularitas dan eksposur Yovie Widianto, serta mengukuhkan posisi musik bertema cinta sebagai komoditas yang bernilai dalam industri musik masa kini.The Commodification of Love-Themed Music: Yovie Widianto's Performance “Billion Songs Concert and Festival”AbstractThis research aims to study the commodification of Yovie Widianto in the Billion Songs Concert and Festival performance within the context of the commodification of love-themed music in the Mass Culture Industry by Theodor W. Adorno. The research problem addressed is how Yovie Widianto's strategies in commodifying his works through this performance. This study employs a qualitative method with approaches including observation, interviews, and document analysis. Data were collected through direct observation at the performance venue, interviews with Yovie Widianto, and analysis of various related documents such as promotional materials, news articles, and streaming data. The performance serves as a case study example because it illustrates the phenomenon of commercialization of love-themed music in the current music industry. This commercialization aspect is evident from the selection of popular songs, and collaborations with various popular musicians, which enhance public enthusiasm and appeal, and support high ticket sales. This research examines how love-themed songs are commodified, focusing on the model of works presented, commodification strategies, and the impact of commercialization on artistic value. The results of the study show that the commodification process of love-themed music involves the selection of hit songs, musician collaborations, and promotional strategies that unite public enthusiasm and appeal for the performance. These findings imply that the commodification strategies used have successfully increased Yovie Widianto's popularity and exposure, and have cemented the position of love-themed music as a valuable commodity in today's music industry.Keywords: The commodification of music; Yovie Widianto; Billion Songs Concert and Festival; Mass Cultural Industry
Made Mouthpiece Bandung: Produksi dan Organologi Hybrid Alto Saxophone Supiarza, Hery; Ramadhan, Gilang
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.12556

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan Made Mouthpiece Bandung: Produksi dan Organologi Mouthpiece Type Hybrid Alto Saxophone. Masalah penelitian ini mengkaji proses produksi mouthpiece  hybrid alto saxophone oleh made mouthpiece Bandung, Diketahui banyak pemain saxophone di Indonesia yang menggunakan produk dan mengakui kualitas mouthpiece produksi made mouthpiece Bandung. Hal ini yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji secara komprehensip organologi mouthpiece buatan made sebagai keilmuan yang khusus mendalami asal muasal karakter bunyi. Tujuan penelitian menganalisi bahan yang digunakan dalam produksi mouthpiece type hybrid, tahapan – tahapan pembuatan Mouthpiece type hybrid alto saxophone dan karakter bunyi mouthpiece type hybrid produksi made mouthpiece Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dokumentasi, dan analisis data dilakukan dengan tahapan reduksi, klasifikasi data, interpretasi data, dan deskripsi data dalam bentuk kata-kata, kemudian menarik kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa karakter suara made mouthpice dihasilkan oleh sistem organologi, dan teknik produksi. Kemudian peneliti menemukan 6 tahapan proses pembuatan sehingga menghasilkan karakter bunyi khas made mouthpiece type hybrid. Tahapan tersebut meliputi 1) Proses pembuatan desain, 2) Proses pembuatan cetakan silicon, 3) proses bubut logam kuningan, 4) Proses pencetakan mouthpiece, 5)  Proses Refacing, 6) Proses Finishing. Implikasi penelitian ini dapat menjadi role model bagi peneliti selanjutnya untuk menganalisis akustik organologi mouthpiece alto saxophone dari berbagai tipe dan pembuat yang beragam.Made Mouthpiece Bandung: Hybrid Alto Saxophone Production and OrganologyAbstractThis research describes Made Mouthpiece Bandung: Production and Organology of Hybrid Alto Saxophone Mouthpiece Type. This research problem examines the production process of the hybrid alto saxophone mouthpiece by made mouthpiece Bandung, It is known that many saxophone players in Indonesia use products and recognize the quality of the mouthpiece produced by made mouthpiece Bandung. This makes researchers interested in comprehensively studying the organology of mouthpieces made by made as a science that specifically explores the origin of sound characters. The research aims to analyze the materials used in the production of hybrid type mouthpieces, the stages of making Mouthpiece type hybrid alto saxophone and the sound character of the hybrid type mouthpiece production made mouthpiece Bandung. This research uses descriptive qualitative methods with data collection techniques including interviews, observation, documentation, and data analysis is carried out with the stages of reduction, data classification, data interpretation, and data description in the form of words, then draw conclusions. The results of the study found that the sound character of made mouthpice is produced by the organological system, and production techniques. Then the researcher found 6 stages of the manufacturing process so as to produce a typical made mouthpiece type hybrid sound character. These stages include 1) Design making process, 2) The process of making silicon molds, 3) brass metal lathe process, 4) Mouthpiece molding process, 5) Refacing process, 6) Finishing process. The implications of this research can be a role model for future researchers to analyze the acoustic organology of alto saxophone mouthpieces of various types and various makers.Keywords: Organology; Sound character; Mouthpiece; Production; Saxophone

Page 1 of 1 | Total Record : 6