cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
EKSPLORASI SOAL MATEMATIKA PADA KONFLIK SKENARIO PROGRAM CERITA GAUSSEULIER EPISODE “THE TRUE HERO” Dwianto Humardhani
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.691

Abstract

Today the children's interest towards animation is very high, both in the form of games and film animation story. It is inversely proportional to the child's interest in learning, especially subjects that are generally not favored by the majority of children, math. This would be very good if the animation used as a media of learning for children. The purpose of this paper is to presents the story in the forms of animation programs which contains the elements of mathematics education, providing learning of mathematics in the form of word problems, as well as broadens the variety of creations of television programs in the Faculty of Arts of Media Recording majoring Television. The artwork is a serial story program for children age 7-12 years at presentation packed into the form of an animation program. The concept of aesthetic creation of this artwork in the form of exploration of mathematical problems will be presented, the exploration refers to the manufacture of math problems are packed into a story program. The conclusion of this work is the making of mathematics that is identical to the complicated problems can be made fun if presented in the proper way, this is what is expected to stimulate children's interest in learning and improving the quality of a child's thinking.   Keywords: scenario, animation, math problems
EXPRESSION LINES IN MONOPRINT Muhammad Saifuttibyan
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.692

Abstract

There are several things that trigger the onset of an idea before creating a work of art. One of the factors that trigger it because of the desire and curiosity to try things that are still not widely understood by the author. The author had the idea that the incision line can be used as an expression of feeling, be it at the time felt sad, confused, or happy. The emergence of these feelings impression interpreted as expression lines. Expression lines can be visualized as a description of various personal experiences varied. For example, among others, to learn to create abstract artwork.The line can be used as a symbol of freedom of expression because the broadest line utilization is often not limited by anything particular form or are not intended to form a case. The line can be thick, thin can, scratched or etched spirit slowly can produce lines of different nature. Thus the character of the line can also be used to optimize the impression of rhythm. The line is also more dynamic than simply create forms that refer to certain objects realistically made​​. An idea can sometimes be obtained from the incision line. Specifically, this idea originated from the confusion swriters often feels a dat the moment. The line is two points are connected. In theart world is often the presence of a line is not only just as a line but sometimes as a symbol of the emotions expressed through theline, or more precisely called a scratch. Scratches or lines made ​​by an artist will give a different impression of psychological presented one a line. General line is a series of dots that are not limited. In this case there are at least two senses of the line of a line and the line in general. A line is a line that is a dynamic entity, containing an action or actions of the action because it is needed to create a line.  The line-  in-general can be interpreted as orientation, direction, motion, and energy. Nevertheless, the explicit understanding that the line usually refers to the direction of two-dimensional art such as painting or drawing. While the meaning of the expression is the disclosure or the express intent, idea, ideas, messages, opinions, statements, emotions, and feelings that arise in human action. Meaning of expression might also be regarded as a means of communication of one's feelings to others. The expression covers a wide range that can be felt and understood by human beings or society.
MITOLOGI BURUNG PHOENIX SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS Wiwik Setyawati
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.693

Abstract

Mitologi Burung Phoenix merupakan prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, yang mengandung penafsiran tentang makhluk supranatural berwujud burung . Salah satu elemen dalam kehidupan yaitu unsur api yang mewakili burung Phoenix, sebagai simbolisasi kebangkitan kembali, mampu mempengaruhi imajinasi penulis. Mitologi yang tersebar dan berkembang di beberapa kebudayaan, menjadikan ragam visual dan narasi, hal itu memperkaya persoalan yang ingin diangkat ke dalam karya seni.Phoenix sebagai penjaga surga dan dewa matahari menjadi simbolisasi atas kemenangan kekuatan kebaikan melawan kejahatan, menciptakan bumi dan langit. Dalam kebudayaan Hindu terdapat kepercayaan adanya suatu burung Agni atau Vadavamukha yang berarti gunung berapi. Memaknai kebangkitan pada suatu peradaban yang telah hancur sebagai suatu rangkaian hukum alam yang memunculkan kehidupan baru setelahnya.Dalam imajinasi penulis, keberadaan makhluk burung mitologi ini seperti ada pada suatu zaman dimana terdapat kebudayaan yang gemilang dengan tekhnologi yang sangat canggih. Pusat pemerintahan yang megah dengan ilmu pengetahuan tinggi, sehingga manusia pada zaman itu mampu menciptakan makhluk-makhluk superior dengan cara rekayasa genetika untuk dimanfaatkan sebagai keperluan berpindah tempatDalam kebentukan hasil seni rupa, dapat dibedakan antara Visual Form dan Aesthetic Structure. Yang pertama adalah benda seninya suatu eksistensi yang dapat dilihat, yang kedua adalah hasil pengamatan terhadap objek yang dipengaruhi oleh berbagai kondisi. Distorsi bentuk diadopsi dari ragam budaya, sebagai wujud empati akan tradisi dan budaya yang harus didokumentasikan dalam karya seni lukis. Digambarkan dengan perpaduan gaya surealis dan ekspresif, guna mengkomunikasikan kepada khalayak umum.Kata Kunci: Mitologi Burung Phoenix, Kebudayaan Barat dan Timur, Peradaban, Imajinasi, Distorsi, , Seni lukis.
EROTISME DALAM FOTOGRAFI: Studi Kasus Foto Pentas Biduanita Dangdut dalam Akun Facebook “HaSoe SE” Bari Paramarta Islam
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.694

Abstract

Eroticism in a photograph show dangdut female singers can not be separated from intervening the photographers. Intentionally or not, the impression of erotic present by itself through a number of photographic visual elements. This research is a study eroticism in photography with a case studi of dangdut show photos female singers from in facebookaccount “HaSoe SE”. A method of research using approach descriptive qualitative analysis by operating two devices namely photography and eroticism. The result from the sample of the elections with the methods convienence of sampling, been gained 13 photograph as a sample of being regarded as having value representation of data. Thirteen a photograph is then divided into three categories photograph erotic covering, a charm the body (a photograph show of singers dangdut woman when the body singer present in a singular manner or to predominant), bid and surrender (photograph presented meaning gaze and body positioning), the body and mediation a sense of sexual (photo events, sexual interaction of depicting someone good singer and people who are around him involved in the demonstration like the individual who is conducting sexual intercourse).Keywords: erotic, Dangdut photo, Hasoe.
MUCAK PENDAK Silvia Yunita
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.695

Abstract

Mucak Pendak sebagai judul yang telah dipilih pada karya tari ini, agar dapat menggambarkan isi garapan. KataMucak Pendakberasaldaribahasadaerah Bangka.Mucak berarti memperbaiki diri dan Pendak berarti jangka waktu. Mucak Pendak bermaksud memperbaiki diri dan menamatkan ilmu setiap jangka waktu 4 tahun sekali pada pembelajaran pencak silat. Penciptaan karya tari ini merupakan penuangan ide serta kreativitas yang dilatarbelakangi oleh tindakan kekerasan seperti penganiayaan, pelecehan seksual dan lain-lain, yang dilakukan para penjajah (perompak/lanon dari China, Arab dan Persia)  terhadap perempuan-perempuan Bangka zaman dahulu. Oleh karena sejak peristiwa silam, perempuan-perempuan Bangka selalu dibekali senjata rahasia sebagai penjaga diri oleh tetua zaman dahulu (abuk atau guru). Sebutan akrab bagi masyarakat Bangka untuk menyebutkan senjata rahasia adalah Pegamen.  Pegamen sebagai alat untuk melindungi diri yang digunakan adalah tusuk konde sebagai hiasan kepala para gadis Bangka. Selain dibekali Pegamen, gadis-gadis Bangka juga dibekali ilmu bela diri pencak silat. Karya tari ini ditarikan oleh 7 penari perempuan, dengan maksud memberikan gambaran kepada perempuan khususnya, bahwa betapa pentingnya mempelajari ilmu bela diri. Oleh karena itu, penata memvisualisasikan semangat dan kegigihan para perempuan-perempuan yang sedang berlatih pencak silat, untuk melindungi diri. Kata kunci : Mucak Pendak, Pegamen, Abuk, Lanon
Perancangan Boneka Bubur Kertas Dagadu Bocah Djokdja dengan Mengangkat Karakter Anak sebagai Prajurit Keraton. Anggun Wijayana
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.696

Abstract

Pengetahuan akan prajurit Keraton pada generasi muda saat ini dirasa kurang. Hal ini dikarenakan kurangnya media yang mengusung tema Prajurit Keraton. Karakter anak sebagai Prajurit Keraton dipilih untuk mendekati dunia anak, dengan tujuan memberikan pengetahuan mengenai nama dan bentuk Prajurit serta sejarah perjuangannnya sehingga mampu menanamkan sikap kepahlawanan dan rasa cinta budaya lokal hingga ia dewasa nanti. Perancangan media edukasi ini dilakukan untuk memberikan pilihan permainan yang edukatif untuk anak-anak usia 7-12 tahun. Perancangan ini dipersembahkan untuk  Dagadu Bocah Djokdja, dimana karakter anak Prajurit Keraton ini nantinya mampu memberikan kontribusi dalam misi pelestarian budaya lokal. Studi mengenai dasar teori yang terkait dalam perancangan ini meliputi teori tentang perkembangan anak, teori tentang belajar, teori tentang bermain, teori tentang karakter anak dan teori tentang Prajurit Keraton diperoleh melalui studi pustaka. Data mengenai target audience diperoleh dari visi misi Dagadu Bocah Djokdja, kemudian data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik 5W+1H, dengan menganalisa permasalahan dari What (apa), Where (mengapa), Why (mengapa) ,When (kapan), Who (siapa) dan How (bagaimana). Perancangan desain ini tidak hanya sebagai media permainan yang edukatif namun juga sebagai beban untuk melaksanakan misi edukasi dari sisi budaya lokal khususnya Yogyakarta, sehingga diharapkan anak dapat merasa menjadi bagian dari kebudayaan tersebut sejak usia dini.   Kata kunci : Komunikasi Visual, Karakter Anak,  Prajurit Keraton, Dagadu Bocah Djokdja.
Pengolahan Surprise pada Skenario Program Cerita Listen to Me yang Menggunakan Penceritaan Terbatas (Restricted Narration) Danna Cynthia Marsha Chikieta
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.697

Abstract

Gejala seseorang mengidap Skizofrenia adalah ketika ia mulai tidak bisa membedakan imajinasinya dan kenyataan sebenarnya. perilaku penderita seperti ini yang menjadi objek perciptaan dalam penciptaan karya seni ini. Objek penciptaan Skizofrenia ini akan diwujudkan dalam skenario yang menonjolkan unsur dramatik surprise yang dengan menggunakan penceritaan terbatas (Restricted Narration)Pengolahan surprise menggunakan penceritaan terbatas ini dikarenakan dengan teknik ini akan mampu memberikan efek kejutan yang maksimal pada penonton nantinya. Skenario yang menggunakan teknik penceritaan terbatas bila telah diwujudkan dalam sebuah film penonton hanya akan melihat dan mendengar apa yang dilihat dan didengar oleh tokoh utamanya saja.Kata Kunci : Skizofrenia, Skenario, Surprise, Penceritaan Terbatas
PERANCANGAN KOMIK ADAPTASI NOVEL TOTTO-CHAN Maria Tintun Surya Nurani
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.698

Abstract

Komik merupakan media unik yang mampu menyampaikan pesan melalui gambar, tulisan, dan berbagai macam elemen yang tidak ditemukan di media lain. Komik memiliki unsur menghibur sehingga komik bisa diterima oleh berbagai kalangan. Teknik pembuatan komik tidak terbatas dan bisa dibuat dengan menggunakan berbagai macam media dan gaya yang hingga kini masih bisa  dieksplorasi terus. Perancangan komik adaptasi novel Totto-chan ini bertujuan untuk memberikan bacaan alternatif bagi anak-anak. Anak-anak memiliki potensi yang sangat luas sehingga harus diberi asupan bacaan yang baik pada masa awal kehidupan mereka agar kelak dapat memetik pelajaran dan memanfaatkannya dalam kehidupan. Novel Totto-chan mengandung pendidikan karakter yang baik bagi kehidupan anak-anak. Oleh karena itu, penulis mencoba memvisualisasikannya dalam karya komik dengan media cat air dengan harapan agar anak-anak tertarik untuk membaca dan mendapatkan pelajaran yang berguna bagi masa depan. Kata kunci : komik, cat air, Totto-chan, komunikasi visual
ADAPTASI DONGENG TANTRI PADA PENCIPTAAN SKENARIO DRAMA TELEVISI “ TANTRI DAN ESWARYADALA” EPRILLIANA FITRI AYU PAMUNGKAS
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.699

Abstract

Remaja yang tidak dibekali atau kurang penanaman nilai moral, besar kemungkinan mereka melakukan tindak kriminal. Dewasa ini kasus kriminal yang cukup banyak dilakukan oleh remaja karena nilai moral yang rendah. Karya ini bertujuan setidaknya dapat merefleksi para remaja. Dongeng Tantri yang mengandung nilai budi pekerti, dapat dikaitkan dengan fenomena remaja saat ini. Remaja penting memiliki moral dan nilai budi pekerti yang dapat mempengaruhi peningkatan kenakalan remaja.Karya ini berupa skenario drama televisi dengan judul “Tantri dan Eswaryadala” yang akan menggunakan teori adaptasi. Mengacu pada teori adaptasi yang menyebutkan bahwa adaptasi dapat berbeda jalan cerita, menggabungkan beberapa tokoh, menghapus beberapa bagian cerita asli, menambahkan dan mengubahnya. Adaptasi adalah sebagai sebuah karya seni menyuling agar sebuah karya seni dapat menjadi sesuatu yang segar dan bening. Selain itu dari segi alur untuk mewujudkan karya skenario akan mengadaptasi alur cerita berbingkai menjadi alur multiplot. Multiplot adalah plot yang jalan ceritanya sedikit melebar ke tokoh lain, walaupun melebar namun konsep daripada multiplot tetap fokus pada tokoh utama. Multiplot dipilih sebagai alur dari skenario ini karena, agar dapat menyatukan beberapa tokoh dalam cerita asli menjadi beruntun dan saling berkaitan.Kata Kunci : nilai moral, Tantri, adaptasi, multiplot.
KONTINUITAS DAN PERUBAHAN KELOMPOK MUSIK RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA DI PEKANBARU RIAU ABRIANDY OKTOBERTHA
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.700

Abstract

Kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia merupakan sebuah kelompok musik yang konsisten menjadikan musik tradisi Melayu sebagai genre musik mereka. Riau Rhythm Chambers Indonesia lahir dan terbentuk di kota Pekanbaru pada tanggal 17 Juni tahun 2001. Tujuan didirikannya kelompok musik ini adalah untuk mengembangkan musik tradisi Melayu, serta sebagai wadah bagi generasi muda untuk turut serta dalam upaya-upaya mengembangkan seni tradisi, khususnya musik tradisi Melayu. Dalam proses perjalanannya, kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia telah mengalami kontinuitas yang meliputi warna musik, Penggunaan instrumen gambus Melayu, dan nuansa musik tradisi yang selalu ada dalam setiap fase perubahannya. Kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia juga mengalami perubahan.Perubahan tersebut meliputi perubahan konsep musik, formasi personil dan instrumen, serta perubahan aransemen dalam karya-karyanya. Perubahan yang terjadi pada tubuh kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia dibagi menjadi tiga fase. Pada fase pertama Riau Rhythm Chambers Indonesia hanya terdiri dari tiga orang personil yang bermain multi instrumen menggunakan konsep yang diberi namaethnotronica. Pada fase kedua, Riau Rhythm Chambers Indonesia merubah formatnya menjadi combo band dengan menggunakan konsep world music. Dan pada fase ketiga, Riau Rhythm Chambers Indonesia kembali melakukan perubahan pada formasi personil, instrumen dan format bermusik yang lebih cenderung kepada musik tradisi, hingga perubahan pada konsep musik yang diberi namaethno contempo. Perubahan yang terjadi pada kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia terdiri dari beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal yang mempengaruhi terjadinya perubahan pada kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia ditandai dengan adanya perubahan pada formasi personil, sehingga memicu terjadinya regenerasi di dalam tubuh kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia. Faktor eksternal yang mempengaruhi terjadinya perubahan pada kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia adalah faktor ekonomi sebagai penunjang keberlangsungan kelompok ini, serta semakin terbatasnya lahan sebagai media ekssistensi dari musik tradisi, khususnya seni musik tradisi Melayu.   Kata kunci: kontinuitas, perubahan, Riau Rhythm Chambers Indonesia.