cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
REPRESENTASI FENOMENA WAKTU Muh. Nadziril Bunyani
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.701

Abstract

Setiap makhluk di dunia ini memiliki waktunya sendiri-sendiri, bukan hanya terbatas pada makhluk hidup saja, namun benda matipun akan menjadi aus dimakan oleh waktu. Sadar atau tidak, waktu telah menguasai manusia, mengatur hidup sedemikian rupa, mulai dari deadline, timeline, time table, time schedule dan banyak hal tentang waktu yang kini membelenggu kebebasan manusia,. Kebebasan berekspresi, kebebasan berpikir, bahkan kebebasan bermimpi. Representasi fenomena waktu adalah gambaran pengalaman setiap saat atau gejala-gejala yang dapat disaksikan dengan panca indera dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah pada sekalian rentetan masa lampau, sekarang dan yang akan datang. Kemudian divisualisasikan, sebagai catatan-catatan yang digunakan untuk introspeksi. Persoalan waktu dengan beragam fenomena yang terjadi di dalamnya merupakan persepsi psikologis yang dipengaruhi oleh tempat, kondisi, peristiwa sehari-hari yang terekam dalam memori. Melalui memori kisah-kisah lama tentang bencana alam, konflik sosial dan yang lain, bisa menjadi pelajaran masa lalu untuk merekonstruksi masa depan. Masa depan pun kelak akan menjadi masa silam yang akan tetap diungkap oleh memori manusia dari generasi ke generasi berikutnya. Pada konsep visual, menampilkan bentuk-bentuk figuratif yang dideformasi dengan pendekatan surealistik, yakni berupa persandingan antara bentuk-bentuk realistik dengan imajinatif sehingga menciptakan ilusi yang absurd. Kata kunci: Fenomena, Waktu, Deformasi, Surealistik
REPRESENTASI ANAK-ANAK DI DALAM PERANG Ragil Surya Mega
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.702

Abstract

Situasi yang terjadi pada anak-anak di dalam perang  menimbulkan empati yang mendalam, selain mengancam jiwa, perang berbahaya secara psikologis bagi anak-anak. 'Berhadapan terus menerus dengan bom, roket, senjata, dan darah bisa menjadi faktor utama trauma dan tekanan mental'.[1] keadaan yang jauh dari kata indah menimbulkan permasalahan tersendiri dalam pemilihan tematik untuk penciptaan karya seni lukis, namun menjadi menarik karena, 'Sesungguhnya tidak perlu diulang-ulang dan diributkan bahwa seni tidaklah harus selalu indah. Baik pandangan historis maupun secara sosiologis, ternyata bahwa hasil seni sering-sering merupakan yang tidak indah'.[2] Terlahirnya gagasan ini dalam sebagian karya terpicu dari kegiatan kehidupan sehari-hari. Diantaranya melihat anak-anak yang sedang bermain lompat tali, lalu menumbuhkan imajinasi seperti meminjam sosok anak bermain lompat tali diantara ranjau darat di daerah perang dalam bahasa visualnya. Dalam ide yang lainnya, melihat anak-anak yang sedang bermain bongkar pasang seperti action figure dan meminjam kerangka mainan itu sendiri digantikan dengan anak nyata sebagai pengganti action figure tersebut. Berkenaan dengan ini, sependapat dengan Marcia Muelder Eaton, yaitu 'kondisi keharusan (necessary condition) dan kondisi yang mencukupi (sufficient condition) untuk menunjukan bahwa sesuatu adalah objek, kegiatan, pengalaman, atau situasi estetis'.[3] Dengan demikian, mengasah kepekaan diri tidak menutup mata juga pada pengalaman empiris yang banyak dilihat pada pameran seni rupa di luar seni lukis. Mengangkat karya penciptaan yang bertemakan sosial khususnya anak-anak korban perang bukan suatu kebetulan, yang pada dasarnya adalah penafsiran, dimana tafsir merupakan 'persoalan yang menyangkut apa yang baik dan tak baik, yang adil dan tak adil, berguna dan tak berguna, juga persoalan otoritas dan kebebasan'.[4] Sejalan dengan hal ini, menciptakan sebuah karya dari fenomena lingkungan sekitar yang terjadi, khususnya pada anak-anak di dalam negara konflik perang sebagai sumber inspirasi. Dengan menemukan sudut pandang yang menarik dari sebuah polemik perang yang tak berkesudahan sebagai sebuah usaha interpretasi kegelisahan yang dirasakan pada diri sendiri selama menempuh studi seni lukis ini.
SELUK-BELUK SEPAK BOLA DALAM SENI LUKIS Lukman Edi Santoso
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.703

Abstract

Tugas akhir penciptaan ini mengangkat tentang sepak bola yang divisualisasikan melalui seni lukis, dengan dilatar belakangi kesukaan penulis terhadap sepak bola menjadikan penulis tertarik untuk mengulas sepak bola dari sudut pandang yang berbeda.Sepak bola merupakan olahraga yang banyak digemari oleh semua kalangan, sepak bola juga menyajikan pertunjukan olahraga yang enak ditonton sebagai hiburan maupun sebagai olahraga itu sendiri. Seiring berkembangnya teknologi sepak bola saat ini juga lebih berkembang, bukan hanya sebatas cabang olahraga saja, melainkan telah menjadi industri sepak bola yang banyak menghasilkan keuntungan bagi sebagian kalangan masyarakat.Dalam upaya untuk mewujudkan permasalahan yang ada dalam sepak bola, penulis melibatkan tokoh-tokoh dalam sepak bola untuk dijadikan sebagai objek utama dalam lukisan, seperti pemain, pelatih, suporter.Objek-objek tersebut penulis kemas dalam bentuk karikatural, untuk memmberikan kesan menyenangkan dan menghibur.Kata Kunci: Olahraga, Sepak bola, seni lukis, pemain sepak bola, pelatih, suporter, karikatur.
FOTOGRAFI PERJALANAN DENGAN OBJEK KEPULAUAN KARIMUNJAWA Sigit Hardiyanto
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.704

Abstract

Photography is believed to tell the return of the reality that is seen by the eye, in the making of the final project work of The TripPhotography to Karimunjawa Island, using the basis of the theory of the creation of documentary photography by applying photographic documentary into a sightseeing trip to the Karimunjawa Island, covering back in a series of stories which will be described to the public as information to others about the tour on the Karimunjawa Island. A trip can be conducted by many people in different ways, even if it is in the same destination. Therefore, every pictures that is produced by photographers that are documenting a journey to places among the tourist will always differrent.   Karimunjawa archipelago consists of 27 islands; Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk (mosquitos), Genting, Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Besar, Cemara Kecil, Gleang, Burung, Bengkoang, Menyawakan, Kembar, Katang, Krakal Besar, Krakal Kecil, Sintok, Mrico / Mrican, Tengah, Pinggir, Kecil, Gundul, Seruni, Sambangan, Cendikian and Kumbang. With the main island at the center of his district, and is located in Jepara district with 98 kms distance the trip uses boats. Karimunjawa has the natural-beauty worthy of a tour destination. This project is made from the process of observating, explorating, tol the formating process works with digital printed on glossy photo paper and packed in a frame for display.   This photography project is a hobby that is applied to the final project, then to be told again about the trip conducted by the author in Karimunjawa with the medium of documentary photography that is applied into the tour as information to the public about the realities of travel in Karimunjawa and also for personal archiving on Karimunjawa.   Keywords: Photography, Travel, Publications
PERANCANGAN IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SEBAGAI KAMPANYE PELESTARIAN BAHASA JAWA KOTA YOGYAKARTA MELALUI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL Vici Tiara Anjarsari
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.705

Abstract

Penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu bagi masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, khusunya di Yogyakarta secara dini harus dilestarikan agar keberadaannya selalu terjaga dan terhindar dari kepunahan. Kurangnya perhatian dari orangtua terhadap pendidikan bahasa Jawa di lingkungan keluarga harus ditingkatkan. Upaya pelestarian bahasa Jawa di lingkungan sekolah juga memang perlu disosialisasikan, mengingat saat ini ada gejala yang menunjukkan bahwa bahasa jawa akan ditinggalkan oleh penuturnya, terutama generasi muda di kota Yogyakarta. Gejala tersebut dimulai dari hal yang sederhana, yaitu sudah jarang sekali generasi muda sebagai pewaris budaya jawa yang memiliki kemampuan berbahasa (Jawa) secara memadai. Mereka pada umumnya "lari" menggunakan bahasa Indonesia sebagai kompensasinya. Perancangan Iklan Layanan Masyarakat Kampanye Sosial ini menggunakan metode pengumpulan data dengan kuisioner dan wawancara. Hasil dari metode tersebut nantinya akan memberikan dampak dan berlanjut pada aktivitas target audience. Kemudian dari data-data yang telah didapat dan akan memecahkan masalah komunikasi pesan dalam Iklan Layanan Masyarakat ini secara komunikatif, efisien, dan estetis. Melalui perancangan ini, dapat membuka wawasan bagaimana mendekatkan diri dan mempelajari perilaku dari Target Audience yang ada di Kota Yogyakarta. Target Audience dijadikan sumber utama dalam melakukan analisis untuk mewujudkan konsep media dan konsep kreatif dari media- media kampanye yang nantinya akan digunakan. Sehingga media- media yang terpilih dapat bersinergi dengan gaya hidup dan keseharian Target Audience. Perancangan kampanye sosial ini diharapkan dapat memberi alternatif pendekatan Iklan Layanan Masyarakat terutama masalah pelestarian bahasa Jawa kota Yogyakarta. Dengan adanya perancangan ini masyarakat diajak untuk berpikir dalam mencerna pesan yang disampaikan melalui cara yang berbeda yaitu memanfaatkan berbagai sisi dalam kehidupan yang ada dibenak masyarakat khususnya generasi muda jaman sekarang (insight). Pemakaian insight akan memudahkan target audience untuk mencerna pesan karena mereka bisa melihat diri mereka sendiri dalam pesan yang disampaikan lewat media-media yang di gunakan dalam bersosialisasi.  Keyword : DKV, ILM, Bahasa Jawa, Budaya Jawa, Kota Yogyakarta
PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL EVENT PENGENALAN KELOMANG DARAT OLEH KOMUNITAS HAPPY CRABBIE 2014 Stephanus Brasstya
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.706

Abstract

Kelomang darat merupakan satwa khas daerah pesisir di pantai-pantai Indonesia. Di dunia ini ada sekitar 13 spesies kelomang darat, 8 di antaranya hidup di Indonesia. Namun, masyarakat pada umumnya tidak mengenal nama kelomang darat. Masyarakat lebih mengenal melalui nama daerahnya seperti pong-pongan (Yogyakarta dan Jawa Tengah) atau Kumang (Jawa Barat). Kelomang darat sering dianggap sebagai keong atau siput, padahal mereka adalah jenis hewan yang berbeda. Selain itu, kelomang darat dianggap sebagai mainan anak-anak, bukan sebagai binatang peliharaan. Padahal kelomang darat bisa dijadikan binatang peliharaan seperti kucing, anjing, atau ikan. Di tengah ketidak pedulian masyarakat terhadap kelomang darat, ada sebuah komunitas bernama Happy Crabbie yang didirikan oleh Felix J. Wang, seorang pecinta kelomang darat. Komunitas ini berinteraksi di dunia maya lewat jejaring social facebook. Komunitas inilah yang akan berperan sebagai payung untuk memberikan pengenalan dan pemahaman yang benar mengenai kelomang darat. Pengenalan kelomang darat akan diwujudkan dalam sebuah event yang diikutsertakan pada Pameran Flora dan Fauna Yogyakarta 2014. Event itu akan dirancang dengan berbagai media dan konsep kreatif yang menarik sehingga pesan dan informasi yang ingin disampaikan dapat berjalan dengan sukses.   Kata Kunci : Perancangan Komunikasi Visual, Komunitas Happy Crabbie
AKSESORIS GOTHIK DALAM KERAMIK Amar Tasbikhi
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 Kriya Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.707

Abstract

Istilah gothik terlahir dari salah satu nama suku bangsa Jerman terutama Jerman Timur. Suku ini mempunyai nama lain Visigoth. Padamasasebelummasehisampaiabadke -2 dansampaike – 6 masehi.Ketikaitueksistensi Visigoth sangat di perhitungkan.Sampaisaatinimasihbanyak orang yang memandang miring tentanggotheess (penganutataupecintagothik).Kebanyakan orang beranggapanbahwa gothic sangaterathubungannyadenganhal yang berbausatanik (pemujaanterhadapsetan).Dalamperkembanganduniaseni, gothic tidaklagikentalsebagaisuatu pagan, atautidakmengambilsudutpandang gothic sebagaipemujasetan.Gothiklebihterkenalsebagaisalahsatualiranmusik yang cenderung minor, danjugasebagaiseni fashion senipatung, lifestyle.Memangtidak bias dipungkiriparagotheess (penganutataupecintagothik) selalumenampakkandanmenonjolkandirimerekadenganpakaian yang terkesangelapdankelam.Dari situlah orang awammenganggap gothic ituterkaitdengansatanikdankekerasan.Merekadicapsebagaiorang orang yang bermasalah.   Berawal dari ketertarikan terhadap karakteraksesorisgothik metal dalamkonser di Yogyakarta muncul gagasan penulis untuk mewujudkan kedalamkaryakriyakeramik.Ide yang munculdalambenakpenulisdenganmemvisualisaaikandalamkarya.Mengetahuiselukbelukanekamacampakaiandanaksesorisgothik.Mengembangkankreatifitassemaksimalmungkin.   Dalamperkembanganduniaseni, gothic tidaklagikentalsebagaisuatu paganDi sisi  lainpakaianinisangatberkelasbagipenikmatdanpemakainya,tidakmengambilsudutpandang gothic sebagaipemujasetan. Gothiklebihterkenalsebagaisalahsatualiranmusik yang cenderung minor.GayainidiJepangtetapeksishinggasekarang.Nama lain di Jepangadalahgothiklolita.Hal iniberpengaruhjugapada Indonesia lewatbudayaJepangyang membentukbudaya Indonesia styleinimemanganehdilihatoleh orang awam.   Kata Kunci: Aksesoris,gothik,keramik
PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL PORTAL DISTRO ONLINE DISTROID.COM BESERTA MEDIA AKTIVASINYA Nanda Mahardhika
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.708

Abstract

Perancangan Komunikasi Visual Portal Distro Online Distroid.com beserta Media Aktivasinya adalah sebuah perancangan yang memberi media baru bagi para pemilik merek clothing yang berakar dari komunitas anak muda untuk memasarkan produknya secara lebih luas dalam 1 wadah website. Website distroid.com ini berisikan produk-produk distro dari produsen merek clothing indie. Para pemilik merek yang sudah mendaftar terlebih dahulu bisa mengupload produknya secara mandiri. Perancangan ini difokuskan pada media utama yaitu portal website dengan domain: distroid.com. Perancangan website dimulai dari perancangan user experience hingga desain user interface website. Selanjutnya perancangan komunikasi visual aktivasi untuk mengenalkan distroid.com kepada masyarakat luas dengan berbagai media. Perancangan tersebut diwujudkan melalui identifikasi dan analisis secara ilmiah untuk menghasilkan suatu perancangan komunikasi visual yang tepat, efektif  dan estetik  sesuai target yang diinginkan.   Kata-kata kunci: Distro, Komunitas, Website, Bisnis Online, User Experience, User Interface
TUMBUHAN SEBAGAI TANDA DALAM FOTOGRAFI JALANAN Andri William
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.710

Abstract

The creation of works of art about the human and the plant, see the definition of the new form will sign from plants, found in streets is present as a result of the pattern of human behaviour, with the construction of different every day. by construction into the street photography.See the results of the construction of the plant as a marker in a street photography is not just as a silent picture.With no sign of man cannot communicate, study of the coat of arms (including sign) that represents the object (objects, ideas, feelings, situations, circumstances) out of him. This concept is integrated in many theories related to the language, discourse, and non verbal activities. The meaning arises from the triangular relationship (triad of meaning): object (referent), mind (reference), and the coat of arms semantic knowledge , about the direct relationship between symbol and its object. A dictionary is a book reference sematic. Sintaktika, about the relationship between coat of arms. Coat of arms does not stand alone, but rather with other symbols, in a larger symbol system called code. Here, the symbol can be verbal or non-verbal. Pragmatics, about the practical usefulness of the human in the midst of a particular culture. From the perspective of semiotics, for successful communication is not enough to understand the symbols separately, but also grammar (Syntax) which regulates the relationships between patterns-coat of arms, as well as culturalPhotography was present to record the memories of the incident or the memory of its history in a particular space that never experienced and known or he believes at a given time. street photography is a portrait of a social community of the city. Messages that it contains also have social mission and invite others to ponder the meaning behind such works. Nevertheless, it is precisely not a few of the perpetrators of street photography is thus viewed it as their personal papers make it for personal ambitions for the sake of satisfaction in creating the work.Keywords: human, plants, signs and street photography
PERANCANGAN INTERIOR LOBI, GALERI DAN KAFE LAWANGWANGI BANDUNG Suyudi Haryono
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.711

Abstract

Lawangwangi adalah galeri seniyang terletak di kota Bandung, Jawa Barat. Pada awalnya Lawangwangi diresmikan sebagai Art & Science Estate, sebuah infrastruktur yang menyerupai model Taman Seni dan Sains. Lawangwangi memiliki dari tiga fondasi utama perusahaan yang bergerak di bidang Art Gallery, Design Space dan kafe. Lawangwangi menyadari bahwa kota Bandung membutuhkan ruang kreatif yang dapat dinikmati kapan saja dan siapa saja, maka Lawangwangi membentuk sebuah kafe yang terletak pada lantai dua. Tujuan perancangan Lawangwangi adalah merancang interior yang merepresentasikan sebuah bangunan yang berintegrasi dengan kebudayaan lokal (sunda) pada desain interiornya. Dengan hadirnya desain interior yang mengusung kebudayaan lokal, sehingga dapat memberikan perasaan nyaman bagi para penggunanya serta memperkenalkan budaya sunda. Perancangan interior Lawangwangi meliputi area lobi, galeri dan kafe, menerapkan gaya modern vintage dan mengangkat tema urban nature. Tema yang digunakan pada perancangan interior lobi, galeri dan kafe Lawangwangi Bandung adalah urban nature. Maksud dari kata urban mengacu kepada bangunan dan perilaku masyarakat perkotaan sekarang ini yang gemar melakukan relaksasi atau hang out bersama kerabat disebuah kafe. Sedangkan maksud dari nature yaitu kehidupan masyarakat yang saling berdampingan dengan alam. Penggunaan material kayumerupakan cara menghadirkan suasana hangat, selain itu juga pengaplikasian kayu pada lantai berfungsi sebagai penanda arah sirkulasi. Selain kayu, terrazzo untuk lantai berfungsi baik untuk menahan beban yang berat, warna yang gelap dan bertekstur berguna untuk membiaskan sinar matahari yang masuk. Merespon lingkungan sekitar melalui aspek arsitektural dengan banyaknya penggunaan dinding kaca dimaksudkan agar mendapatkan suasana tanpa batas sehingga pengguna merasakan kedekatan diri dengan lingkungan sekitar. Sedangkan material yang diaplikasikan pada plafon adalah PVC putih yang dikombinasikan dengan material lokal yaitu bambu.  Kata Kunci: Kesenian, galeri seni, Bandung