cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
ALFABET SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN KARYA BATIK Agustino Mahfudh
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 Kriya Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.733

Abstract

Penciptaan Karya Tugas Akhir berjudul “Alfabet Sebagai Sumber Ide Penciptaan Karya Batik” ini adalah sebuah wujud pengekspresian ide atau gagasan individu dengan imajinasi pribadi yang diolah sedemikian rupa sesuai kemampuan teknis dan estetis yang dimiliki. Kesederhanaan dan kedekatan huruf alfabet dalam kehidupan sehari-hari memberikan dorongan dan ketertarikan untuk menciptakan karya batik yang terinspirasi dari hal tersebut. Hurufalfabettersebutakandieksplorasimelaluibentukvisualnya, kemudiandikembangkandengandayaimajinasidankreativitassehinggaterciptakarya batik yang berbedadanunik. Media yang digunakandalamberkaryaadalahkain sutra tenun ATBM yang berasaldariGarut yang memilikitekstur di permukaannya. Metode penciptaan yang digunakan adalah studi pustaka karena banyak sumber dan gagasan yang dapat diperoleh melalui media cetak maupun elektronik. Sedangkan metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan estetis dan semiotika. Untuk proses pembuatan karyanya menggunakan teknik batik tulis dengan metode pewarnaan colet dan celup. Karya yang dihasilkan mempunyai nuansa warna-warna dingin, yang bermain di antara warna biru, ungu, hitam, namun tetap memiliki unsur warna panas yang membuat karya-karya tersebut menjadi seimbang dan harmonis. Karya disajikan dalam bentuk panel yang dibingkai dengan frame yang juga mendukung penampilan karya secara keseluruhan. Kata kunci : alfabet, batik tulis, karya panel.
Pembelajaran Ansambel Musik di SMPN 1 Banjarnegara Ismail .
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.758

Abstract

The ensemble music still be problems in various school.The tendency of the influence of the kids, teachers and school.These studies on the process of ensemble music in smpn 1 banjarnegara a qualitative accompanied by means of observations and interviews as instruments.The study concludes that the ensemble music for self-improvement and gave the students to recognize and cooperate in ensemble music. Keyword: Learning, ensemble music, junior high school
RONGGENG AMEN SEBAGAI IDENTITAS MASYARAKAT CIAMIS Dewi Melati
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.738

Abstract

Tulisan ini mengupas kesenian Ronggeng Amen dari Kabupaten Ciamis sebagai identitas masyarakat Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tari adalah segi budaya merupakan wujud yang penting dalam membaca „pandangan dunia‟ dan „perasaan dunia‟ masyarakatnya. Sehingga salah satu faktor tarian itu terciptakarena adanya sudut pandang pemikiran masyarakatnya, dan mewakili perasaan atau tingkah laku kebiasaan, adat dari masyarakatnya sendiri. Asumsi dasar dari strukturalisme Levi-Strauss adalah adanya anggapan bahwa berbagai aktivitassosial dan hasilnya, seperti misalnya upacara ritual, sistem-sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian, dan sebagainya, secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa, atau merupakan perangkattanda dan simbol, yang menyampaikan pesan-pesan tertentu. Maka dari itu terdapat ketertaatan serta keterulangan pada berbagai fenomena tersebut.Menyusun suatu struktur pada gejala-gejala budaya seperti struktur sebuah mitos, suatu sistem kekerabatan, sebuah upacara ritual, dan sebuah kostum dalam hal ini setiap gejala dipandang memiliki strukturnya sendiri-sendiri. Para ahlistrukturalis berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. Ronggeng Amen salah satu kesenian tari yang terciptadari masyarakat Ciamis sendiri, yang bercikal bakal dari kesenian Ronggeng Gunung. Relasi sebuah peristiwa dengan seni pertunjukan ditonjolkan dalam sejarah atau asal-usul terciptanya Ronggeng Gunung sebagai cikal bakal dariRonggeng Amen. Mitos-mitos mengenai nama daerah di sekitar wilayah Ciamis ternyata ada pula yang terkait dengan lahirnya salah satu kesenian khas Kabupaten Ciamis, yaitu Ronggeng Gunung. Akan nampak jelas, Ronggeng Amen sebagaiidentitas masyarakat Kabupaten Ciamis apabila diteliti melalui analisis struktur pertunjukan, analisis struktur lagu, dan analisis struktur ceritanya, sehingga terdapat sebuah relasi di baliknya yang tidak semena-mena.Kata kunci: Ronggeng Amen, identitas, Kabupaten Ciamis 
JUURNALL UGHHIK KUUPEK Ayu Permata Sari
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.737

Abstract

UghikKupek, merupakan judul yang dipilih untuk karya tari ini. Ughik Kupek diambil dari bahasa Lampung yang artinya Tumbuh Kembali, yang dimaksud tumbuh kembali adalah pembaharuan yang dihasilkan dari esensi motif gerak yang menjadi dasar karya tari ini. Motif gerak yang menjadi dasar karya tari ini adalah motif gerak mempam bias, babar kipas, dan injak lado.Karya tari ini merupakan jenis koreografi kelompok dengan menggunakan sebelas penari perempuan.Tidak ada makna khusus dalam jumlah penari Ughik Kupek ini, penata hanya ingin mencoba dan membuat pola lantai yang bervariasi dengan menggunakan sebelas penari.Selain itu, ekspresi penari pada karya tari ini adalah sinis dan sombong.Ekspresi sinis dan sombong terinspirasi dari seorang putri Ayu anak dari Raden Jambad.Putri Ayu adalah putri yang sangat sombong dan sinis, sehingga kesombongannya itu membuat putri tersebut menjadi perawan tua seumur hidupnya.Karya tari ini adalah Studi motif gerak mempam bias, babar kipas, dan injak lado. Penata mencari pengembangan atau kemungkinan-kemungkinan dalam mengembangkan esensi motif gerak tersebut, misalnya esensi gerak kaki pada motif gerak injak lado di pindah ke tangan, maka akan menghasilkan gerak yang baru. Formasi karya tari ini menggunakan titik lemah pada proccenium stage serta konsep pemanggungan on stage selama pertunjukan berlangsung, namun konsep on stage dalam karya ini tidak murni on stage dikarenakan terdapat bagian black out, namun ketika blackout penari tidak keluar dari arena pementasan, tetapi berproses membentuk SigerLampung, Perahu Lampung, dan motif pucuk rebung.Kata Kunci :Studi, Esensi Gerak, Ekpresi
Alep ing Ngeruji Asri Dwi Hapsari
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.736

Abstract

Alep Ing Ngeruji adalah sebuah judul karya tari oleh asri dwi Hapsari yang mengusung nilai-nilai keindahan dalam bentuk gerak tangan yang gemulai, yang disebut dengan namaNgeruji. Ngeruji itu sendiri diambil dari salah satu gerakan tari tradisional gaya Yogyakarta yang dilambagkan dengan gerakan tangan yang sarat akan makna. Hal tersebut menginspirasi dan juga menyulut hasrat penata untuk mengambil tema Ngeruji sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah karya tari yang apik.Nilai-nilai lain kemuadian muncul saat penata mengamati Ngeruji sebagai subjek dan bukan objek, dan hal itu justru diluar pemikiran awal. Ngeruji secara makna menarik beberapanilai yang cenderung berlawanan atau kotradiktif. Sebut saja bentuk lentik sekaligus kokoh, kelembutan sekaligus ketegasan. Banyak hal yang menjiwai karya tari ini, baik yang bersifat besar maupun yang bersifat sepele. Ngeruji dalam karya tari ini juga bukan semata membahas pergelangan tangan ( yang Ngeruji) tetapi juga tubuh.Garapan Tugas Akhir ini adalah transformasi Koreografi III yang pernah penata gagas pada semester lalu. Akan tetapi, tidak berarti bahwa penata hanya mengemas ulang garapansebelumnya. Ada beberapa hal yang dikembangkan dari karya tersebut, dengan kata lain karya penata kali ini merupakan metamorfosis dari gagasan sebelumnya (Baca: Koreografi III).Beberapa perbedaan antara garapan sebelumnya dan garapan pada Tugas Akhir ini terletak pada gagasan, artikulasi bentuk garapan, dan komposisi tarinya. Pada Koreografi III yang telahlalu, penata murni berbicara ngeruji sebagai ngeruji, sedangkan dalam Tugas akhir ini, segala sisinya diformat ulang.Dimensi ide, komposisi tari, dan maknanya sarat dengan ‘pembaharuan’. Pada dasaran awal ngeruji direpresentasikan sebagaimana khalayak memahaminya (fokus eksplorasi terpusat pada pergelangan tangan). Sedangkan digarapan kali ini, penata ingin memperluas fokusnya dengan jalan mengekplor seluruh tubuh yang menari gemulai seperti tangan yang Ngeruji. Hal tersebut diangkat guna membahas Ngeruji sebagai symbol gerakan yang sarat makna.Alep in ngeruji adalah judul sebuah tarian yang digarap oleh Asri Dwi Hapsari.Kata Kunci: Ngeruji, Kontradiktif, Transformasi.
BENTUK PENYAJIAN DAN SPESIFIKASI KESENIAN OGLEK TURONGGO SETO GEDANGAN, SENTOLO, SENTOLO KULON PROGO Ambar Cahyani
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Karawitan
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.734

Abstract

Oglek Sentolo art widely available in the Sentolo village, Kulon Progo regency. Almost in every pedukuhan (a little part of village, consist of aproximately 40 houses) in the Sentolo village have paguyuban (society) that engage in the field of oglek art. One is the paguyuban Turonggo Seto in Gedangan hamlet. Oglek art is an art form that belongs to the kuda kepang (horse braid) genre. Kuda kepang identical to a dance using kuda kepang property that tells the story of a riding soldier, with the trance scene on the crest of the show. Although it belongs to the genre of kuda kepang dance, oglek art has its own characteristics. Oglek art hallmark can be viewed and obtained from the elements in the form of performance such as the costumes worn, accompaniment, shape and motion properties and the order of performance.Based on the observation of Paguyuban Turonggo Seto oglek art forms can be seen the differences between oglek arts with the another kuda kepang art genre. The elements that exist in the performing arts of oglek Turonggo Seto can also be used as a differentiator between Oglek Turonggo oglek Seto with other arts that live in the same village, because the elements that exist in the oglek Turonggo Seto performance form has its own characteristics. These characteristics are only presented in the form oglek Turonggo Seto art performance so that people can easily recognize oglek art form the Paguyuban Turonggo Seto itself.Key words: Oglek Turonggo Seto, Spesifications
JURNAL PRANATA Andre Nur Vily
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.735

Abstract

Pranata merupakan nama belakang dari inspirasi karya tari ini. Prana berarti nafas dan ta berarti tata, Pranata mempunyai makna mengatur nafas. Mengatur nafas diartikan sebagai kesabaran. Dio Pranata terlahir dalam keadaan tidak sempurna, beberapa indra seperti mata, telinga, dan mulut tidak berfungsisecara normal. Dio menyukai cahaya, berjalan menggunakan tumit sebagai tumpuan dan tangan kanan selalu bergetar. Dio terlihat sibuk dengan dunianya sendiri yang merupakan salah satu ciri anak autis. Kondisi yang dialami Dio dan tiga sosok yang mempunyai konflik batin paling kuat menginspirasi terbentuknya karya tari ini.Gerak dasar dalam karya tari ini banyak terinspirasi dari peristiwa tertabraknya kucing dan tingkah laku Dio yang dieksplorasi berdasarkan kemampuan dan ketubuhan penata. Keterkurungan merupakan tema dalam karyatari ini yang diungkapkan melalui konsep nine point dari Horoyuki Miuraa tetapi dari sudut pandang kubus dalam matematika disadari sebagai kesadaran ruang dangerak yang diungkapkan dinamis dan penuh ketegangan. Dirangkai dalam lima adegan yaitu sekilas sosok Dio dan Ayah, rasa bersalah dan kelahiran, bahasa isyarat, perbedaan dimensi antara sosok Ayah, Dio, dan Penata, lalu keterkurungan.Karya tari Pranata disajikan dalam bentuk koreografi kelompok yang ditarikan oleh tiga orang penari laki-laki dan menggunakan iringan musik MIDI (Musical Instrument Digital Interface). Menggunakan busana yang berwarna abuabusebagai simbol diantara hitam dan putih juga dihiasi sentuhan kotak-kotak sebagai dimensi. Masing-masing busana berbeda menyimbolkan sosok Ayah, Dio, dan Penata.Kata Kunci : Dio, Keterkurungan, Pranata
JURNAL KHOYAK Duwi Novrianti
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.739

Abstract

This dance work is entitled Khoyak, which in Melayu language means ‘shaking’. This dance work reflects about the spirit to work together, to coordinate dan the dancers’ balance when they are making interaction with their lukah (s). This lukah gilo game is always started with a bomo or supranaturalist that moves the bamboo stick in his hand and sings a ‘mantera’ (spell) that makes the lukah which is held by peladen (s) moving anywhere the bamboo moved by the bomo. This dance work is also developing a motive in Zapin Dance that is meniti batang motive which has a similar pattern of movement with the lukahwhen it is spelled with the ‘mantera’. This dance work does not expose the ritual of the lukah gilo game, but it ismore showing the game or exploration with the ‘lukah’ as dance property. Lukah in the Khoyak dance work is done in unnecessarily ways which is always played in hands (of peladen), but it can be done with feet and to be bitten. This gamepresents a fun sitution from the five dancers’ spirits when they are playing with their lukah (s), and there is a part telling a story on an event (making lukah onpart 1 of the dance).
JURNAL WISAYAWISA Erry Novia Hermawan Sutedja
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.740

Abstract

Wayang menjadi gambaran dan simbol hidup juga kehidupan manusia. Wayang berdasar nilai realitas sehari-hari masyarakat. Sekian banyak tokoh wayang yang ada, penata tari sangat tertarik pada salah satu tokoh wayang dengan segi psikologi dan fisiknya yang dianggap mampu menjadi bentuk filosofi manusia saat ini. Tokoh Dasamuka yang lebih dikenal dengan Rahwana Rahwana terlahir dari pasangan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi, Rahwana dilahirkan bukan sebagai buah cinta mereka melainkan krena godaan Bathara Guru dan Dewi Uma yang merasuki mereka. Dilahirkan dengan berupa darah yang menjadi sepuluh gumpal darah. Sepuluh gumpal darah tumbuh menjadi sepuluh wajah yang dimilikinya, dan dikenal dengan Dasamuka. Dasamuka berarti Dasa = sepuluh, muka = wajah. Sepuluh wajah yang dimiliki Rahwana, tertanam sembilan sifat negatif dan satu sifat positif. Rahwana menjadi  enggambaran manusia yang menjalani kehidupannya dengan berbagai nafsu, namun dalam setiap manusia ditanamkan satu sifat istimewa yang berbeda-beda untuk saling melengkapi. Penata tari menguraikan kisahnya dalam karya tari dengan gerak tari klasik gaya Yogyakarta yang telah dimodifikasi. Beragam gerak yang terinspirasi dari ragam kalangkinanthang raja, mampu mewakili karakter keras seorang Rahwana. Didukung dengan aspek koreografi seperti tema, tipe tari, rias busana, mode penyajian yang dipilih penata, dikemas dalam tugas akhir pada karya tari dengan judul Wisayawisa.Kata kunci: Wisayawisa, karakter, Sifat
SESER Galih Puspita Karti
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.741

Abstract

Seser adalah karya tari yang terinspirasi upacara adat Rebo Pungkasan, dengan lemper raksasa bernama Boga Wiwaha sebagai iconnya. Upacara tersebut berada di dusun Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Lemper Boga Wiwaha merupakan simbol tentang bagaimana upaya manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik/kesempurnaan jiwa. Pada dasarnya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik manusia harus dapat mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, untuk itu dalam karya tari ini dihadirkan gagasan tentang konsep hidup orang Jawa yaitu cakramanggilingan, bahwa hidup itu kadang di atas dan kadang di bawah. Hal tersebut dapat dijadikan pedoman agar manusia selalu ingat kepada Tuhan yang Maha Esa. Gagasan tersebut dituangkan menjadi sebuah koreografi yang disajikan melalui penari tunggal wanita dengan empat orang pengirit. Gerak tarinya berpijak pada tari tradisi gaya Yogyakarta yang simbolis. Konsep cakramanggilingan disimbolkan dengan empat buah trap yang apabila disatukan dapat membentuk suatu lingkaran yang “Seser” (lingkaran yang sempurna).Kata Kunci: Lemper Boga Wiwaha, upaya manusia,   cakramanggilingan ,