cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 1,394 Documents
ANALISA PENGARUH TEMPERATUR PIROLISIS DAN BAHAN BIOMASSA TERHADAP KAPASITAS HASIL PADA ALAT PEMBUAT ASAP CAIR Taufiq Hidayat; Qomaruddin Qomaruddin
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengertian umum asap cair (liquid smoke) merupakan suatu hasil destilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran tidak langsung maupun langsung dari bahan yang banyak mengandung karbon dan senyawa-senyawa lain. Bahan baku yang banyak digunakan untuk membuat asap cair adalah tempurung kelapa, cangkang kopi, kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu, dan lain-lain. Pembuatan asap cair menggunakan metode pirolisis yaitu peruraian dengan bantuan panas tanpa adanya oksigen atau dengan jumlah oksigen yang terbatas. Biasanya terdapat tiga produk dalam proses pirolisis yakni: gas, pyrolisis oil, dan arang, yang mana proporsinya tergantung dari metode pirolisis, karakteristik biomassa dan parameter reaksi. Asap hasil pembakaran dikondensasi dengan kondensor yang berupa koil melingkar yang dipasang dalam bak pendingin. Pada prinsipnya desain kondensor sama dengan desain heat exchanger. Efisiensi kondensor sangat tergantung pada luas permukaan pendinginan, debit air pendingin, dan perbedaan temperatur antara air pendingin dan gas/asap. Kondensor yang digunakan sangat sederhana yaitu berupa koil yang dicelupkan dalam air pendingin.Penelitian dilakukan dengan variasi temperatur pirolisis yaitu 150oC dan 250oC. Biomassa yang digunakan adalah tempurung kelapa dan cangkang kopi. Pengujian dilakukan pada kapasitas hasil asap cair dan komposisi kimia dari asap cair yang dihasilkan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada temperatur 250oC dengan biomassa cangkang kopi menghasilkan asap cair rata-rata sebanyak 763 ml, sedangkan biomassa tempurung kelapa menghasilkan rata-rata 1128,6 ml. Pada temperatur 150oC untuk biomassa cangkang kopi menghasilkan rata-rata 239,4 ml asap cair, sedangkan biomassa tempurung kelapa menghasilkan rata-rata 723,4 ml asap cair.  Untuk komposisi hasil asap cair yang paling baik adalah dari biomassa tempurung kelapa. Kata kunci: asap cair, pirolisis, tempurung kelapa, cangkang kopi.
TROUBLESHOOTING SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL MOTOR BAKAR GASOLINE EMPAT SILINDER 4 TAK Edy Susilo Widodo; Eko Surjadi
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pengapian merupakan suatu sistem yang berfungsi untuk menaikkan beda potensial dan kemudian akan disalurkan ke busi guna membakar campuran bahan bakar dan udara dalam silinder. Pada saat proses tersebut tentunya akan banyak ditemui masalah, baik yang ditimbulkan dari fungsi, cara kerja maupun masalah yang lainya.Ketika permasalahan muncul akan menyebabkan motor tidak dapat runing dengan sempurna bahkan tidak dapat runing sama sekali. Dari uraian di atas perlu kiranya dilakukan trouble shooting, agar permasalahan dapat di temukan dan diselesaikan dengan benar dan cepat serta tidak muncul kembali permasalahan yang sama. Untuk dapat melakukan Trouble shooting sistem pengapian motor bensin empat silinder dan komponen-komponen pendukungnya maka perlu kiranya melakukan pengujian terhadap fungsi dan kinerja komponen pendukung pengapian serta akibatnya. Hasil pengujian ini merupakan gambaran tentang gangguan dan masalah serta cara penanganan dalam melakukan perbaikan terhadap permasalahan pada sistem pengapian. Variabel independent adalah memberikan malfunction pada komponen sistem pengapian konvensional, variabel dependent akibat yang muncul setelah malfunction komponen sistem diberikan, sedangkan Sistem pengapian yang sempurna, bahan bakar yang digunakan adalah premium, kondisi kerja kendaraan meliputi saat start, putaran idle (750 rpm), putaran tinggi (5000 rpm) dan kondisi lain adalah variabel control. Trouble shooting sistem pengapian motor bensin empat silinder dan komponen-komponen pendukungnya akan dapat dilakukan jika ada keluhan, masalah dan permasalahan komponen. Pengetahuan cara kerja dan fungsi komponen pendukung sistem pengapian merupakan satu syarat untuk melakukan Trouble shooting yang benar. Kata kunci : Trouble shooting sistem pengapian, Busi, koil
PENINGKATAN KADAR ZINGIBEREN DALAM MINYAK JAHE DENGAN EKSTRAKSI CAIR-CAIR Dwi Handayani; Vita Paramita; Laila Faizah
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak jahe merupakan salah satu komoditas eksport minyak atsiri. Selama ini minyak jahe yang dihasilkan produsen atsiri di Indonesia masih banyak yang belum memenuhi standard yang telah ditetapkan sehingga harganya tidak dapat bersaing di pasaran internasional.Hal ini disebabkan kadar Zingiberen yang rendah yaitu lebih kecil dari 20% dan kadar kamfen serta impuritasnya yang tinggi. Zingiberen mempunyai putaran optik yang negatif, sedangkan kamfen mempunyai putaran optik positif. Karena kadar zingiberen yang rendah dan kadar kamfen yang tinggi maka mempunyai putaran optik positif. Pada hal menurut ISO Internasional 7355 putaran optik yang diharapkan (-20o)-(-45o) sedangkan minyak jahe yang diproduksi di Indonesia antara (+6o)–(+12o)sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan kadar Zingiberen atau menurunkan kadar kamfen, yaitu dengan ekstraksi cair-cair. Penelitian bertujuan untuk mengetahuipeningkatan kadar Zingiberen dan faktor yang paling berpengaruh pada ekstraksi cair-cair.Ekstraksi dilakukan dengan pelarut alkohol 95% dan variabel yang diuji adalah ratio solute : solven ; waktu ekstraksi dan kecepatan pengadukan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh pada ekstraksi adalah banyaknya pelarut yang digunakan yaitu 5 kali volume minyak jahe. Sedangkan kadar zingiberene mengalami kenaikan dari 10,42% menjadi 18,02%. Kata kunci : ekstraksi, ,minyak jahe, zingiberene
PERLAKUAN PEMANASAN AWAL ELEKTRODA TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN FISIK PADA DAERAH HAZ HASIL PENGELASAN BAJA KARBON ST 41 Fauzan Habibi; Sri Mulyo Bondan Respati; Imam Syafa’at
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan teknologi di bidang konstruksi yang semakin maju tidak dapat dipisahkan dari pengelasan karena mempunyai peranan penting dalam rekayasa dan reparasi logam. Pembangunan konstruksi dengan logam pada masa sekarang ini banyak melibatkan unsur pengelasan khususnya bidang rancang bangun karena sambungan las merupakan salah satu pembuatan sambungan yang secara teknis memerlukan ketrampilan yang tinggi bagi pengelasnya agar diperoleh sambungan dengan kualitas baik maka harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan  salah satunya adalah elektroda  yang digunakan dalam proses pengelasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan kondisi elektroda terbungkus terhadap pengelasan SMAW pada baja karbon rendah ST 41 berbentuk plat, dengan elektroda E7016. Pada  jenis elektroda yang digunakan terlebih dahulu dipanaskan dengan temperatur 100°C,120°C,140°C,160°C,180°C dan pemanasan di bawah sinar matahari. Setelah itu plat dilas menggunakan elektroda tersebut. Kemudian plat yang sudah dilas dibuat sepesimen uji tarik dan diuji tarik, Pada daerah haz difoto mikro. Hasil pengujian tarik yang paling baik adalah pada temperatur 180°C. Semakin tinggi suhu pemanasan elektroda maka strukturnya  lebih halus. Kata kunci : Pegelasan, Pemanasan Elektroda, Sifat Mekanik
PENGEMBANGAN METODE PENILAIAN KEBERLANJUTAN (SUSTAINABILITY ASSESSMENT) KLASTER INDUSTRI PERIKANAN Ratna Purwaningsih; Haryo Santosa
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa wilayah pengelolaan perikanan Indonesia telah mengalami overfishing sehingga terjadi penurunan produksi perikanan tangkap dan ancaman bagi keberlanjutan klaster industri perikanan. Hal ini disebabkan oleh overinvestment bidang perikanan dan kurangnya perencanaan serta pengawasan pelaksanaan kebijakan pembangunan perikanan. Keberlanjutan klaster dapat terancam oleh faktor ekologi, ekonomi maupun sosial. Ketiga hal tersebut adalah pilar dari pembangunan berkelanjutan. Adanya indikator yang dapat menilai keberlanjutan klaster industri dapat membantu perencanaan investasi dan mengidentifikasi aspek-aspek keberlanjutan klaster yang masih lemah dan membutuhkan penguatan. Maka, perlu dikembangkan metode untuk menilai keberlanjutan klaster industri perikanan agar klaster tidak mengalami collapse. Originalitas  penelitian  adalah memandang industri perikanan sebagai klaster dengan unit pengolahan ikan sebagai inti klaster. Indikator dari FAO belum melibatkan industri pengolahan dan berbagai lembaga dalam klaster perikanan yang berperan sebagai fishing pressure. Parameter dan indikator klaster diperoleh dari studi lapangan dan studi pustaka. Penelitian ini menghasilkan daftar indikator dan parameternya untuk mengukur keberlanjutan klaster industri perikanan. Hasil lainnya adalah metode untuk pengolahan data dan representasi data secara komunikatif. Kata kunci: klaster industri perikanan, penilaian keberlanjutan, ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan
SIFAT FISIS DAN MEKANIS LAPISAN NIKEL-CHROMIUM PADA PERMUKAAN BAJA AISI 410 A.Noor Setyo HD; Suheli Suheli
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kuat arus pada  proses elektroplating Nickel-Chromium (Ni-Cr) pada baja AISI 410 terhadap perubahan struktur mikro logam dasar dan kekerasan lapisan hasil. Proses pelapisan delakukan dengan memvariasi kuat arus  1,25; 1,5 dan 1,75 Amper dengan tegangan 6 Volt dan lama proses pelapisan 30 (tiga puluh) menit konstan. Pelapisan Ni-Cr dilakukan dalam dua tahap. Pertama, pelapisan Ni (Nickel) yang dilakukan dengan menggunakan anoda berupa batang Ni (Nickel), jenis larutan elektrolit watt’s bath yang terdiri dari campuran 150 g/l NiSO4, 30 g/l NH4Cl, 30 g/l H3BO3 pada temperatur kerja 25 – 35 oC, pH 4 -6 dengan agitasi udara. Tahap dua Proses Chromium plating, jenis anoda Pb (lead) dan Sn (antimony), sedang larutan berupa campuran elektrolit 300 gr/l CrO3, 3gr/l H2SO4 pada temperatur kerja 40–55 oC, pH sekitar 0,4 – 0,5 dan agitasi udara. Struktur mikro dapat diketahui dengan mikroskop optic digital, sedang kekerasan permukaan lapisan dengan uji mikro Vickers pada beban 25 gr. Hasil penelitian menunjukkan kekerasan permukaan pada arah lateral meningkat bila kuat arus meningkat. Pada kuat arus 1,25 Amper, sebesar 302 VHN0,025, kuat arus 1,50 Amper 398,64 VHN0,025, dan kuat arus 1,75 Amper sebesar 533,90 VHN0,025. Sedangkan struktur mikro logam dasar akibat proses plating tidak mengalami perubahan yaitu ferrit. Kata kunci : agitasi udara, ferrit, struktur mikro,
APLIKASI PROBIOTIK HERBAFARM IKAN, UDANG DAN TAMBAK PADA PEMELIHARAAN UDANG VENAME (LITOPENAEUS VANNAMEI) DAN IKAN KERAPU MACAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI PERIKANAN NUSANTARA Dian Risdianto; Jauhul Amri; Zakka Athoo’ Illah
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurunnya kualitas lingkungan dapat disebabkan akibat dari aktifitas budidaya itu sendiri (pencemaran internal). umber pencemar dapat berasal dari sisa pakan yang tidak dimakan, kotoran dan komponen jasad biologis yang mengalami kematian di dalam air pemeliharaan. Limbah organik ini dapat menjadi sumber polutan dalam air yang mengakibatkan menurunnya kualitas air serta ketidakmampuan mikroorganisme dalam melakukan perombakan. Sebagai solusi diterapkan teknologi Herbafarm yang merupakan aplikasi probiotik yang mempunyai kemampuan dalam memperbaiki dan mempertahankan kualitas air serta menghambat pertumbuhan mikroorganisme pathogen dengan Bacillus sp dan Bakteri Asam Laktat (BAL) sebagai kontrol biologis. Dengan menggunakan parameter perlakuan kontrol, dosis 1 ppm dan dosis 1,5 ppm didapatkan bahwa herbafarm dengan dosis 1 ppm mampu menurunkan ammonia sebesar 32,14%,meningkatkan sintasan pada ikan dan udang sebesar 96% dan pertumbuhan harian mencapai 0,18%. Hasil ini tidak terlepas dari probiotik yang mampu tumbuh hingga 105 CFU/ml pada pH 8,5 – 9 serta salinitas 0-3 ppt. Kata kunci : Probiotik, Bacillus sp., Bakteri Asam Laktat (BAL)
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) DENGAN METODE STRUCTURAL EQUATION MODELING (Studi kasus UKM berbasis Industri Kreatif Kota Semarang) Ratna Purwaningsih; Pajar Damar Kusuma
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Semarang sebagai suatu kawasan dimana terdapat aliran barang, jasa, investasi dan tenaga kerja terampil semakin mendukung perkembangan sektor UKM. Perkembangan industri kreatif yang memiliki nilai tambah tinggi terhadap harga produk perlu mendapat perhatian yang lebih besar agar semakin berkembang. UKM yang menjadi fokus adalah UKM yang berbasis industri kreatif yaitu UKM klaster batik dan UKM klaster handicraft. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi kinerja UKM di kota Semarang, (2) mengetahui hubungan keterkaitan antara faktor Eksternal, faktor Internal terhadap kinerja UKM. Metode untuk mengetahui hubungan antar faktor tersebut menggunakan partial least square-structural equation modelling (PLS-SEM) dengan software smartPLS 2.0. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal  memberi pengaruh terhadap kinerja UKM. Faktor eksternal terdiri dari kebijakan pemerintah, kondisi sosial ekonomi dan budaya, peranan lembaga terkait memberi pengaruh yang signifikan pada kondisi faktor internal yang terdiri dari aspek sumber daya manusia, keuangan, teknis produksi, dan pemasaran. Pengaruh faktor eksternal terhadap kinerja UKM lebih besar dibanding faktor internal. Pada UKM berbasis industri kreatif ini faktor internal berupa teknologi memberi pengaruh kecil karena teknologi proses produksi masih sederhana, sebagaian besar proses produksi merupakan kerajinan buatan tangan. Kata Kunci : Structural Equation Modeling, faktor eksternal, faktor internal, Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
REKAYASA MESIN PRES GUNA MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI UKM LIMBAH TAHU Wijoyo Wijoyo; Zubaidi Zubaidi
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah tahu (ampas tahu) tersedia cukup melimpah di tempat pengusaha tahu Watukelir, Sukoharjo. Potensi tersebut selain dijual untuk pakan ternak juga dapat diolah menjadi makanan ringan. Permasalahan terjadi yaitu pesanan selalu tidak dapat terpenuhi karena terbatasnya kapasitas produksi yang hanya dilakukan secara manual. Tujuan program ini adalah melakukan rekayasa alat pengepres limbah tahu sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dari UKM dalam memenuhi permintaan pasar sekaligus meningkatkan pendapatannya. Program ini didahului melalui surve ke UKM guna mendapatkan permasalahan-permasalahan yang ada dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan penawaran alternative pemecahannya. Pemecahan yang ditawarkan yaitu berupa rancangan alat pres yang dapat digunakan untuk mengolah limbah tahu tersebut. Hasil dari program ini adalah berupa alat pres limbah tahu dengan ukuran lebar 75 cm dan tinggi105 cm, kapasitas 60 kg/jam. Dari hasil pengujian awal didapatkan hasil yang cukup baik pada alat tersebut yaitu berupa hasil presan yang sudah sangat sedikit kandungan airnya sehingga menjadi lebih mudah untuk diproses selanjutnya, serta kapasitas produksi naik menjadi tiga kali lipat. Kata kunci : Limbah tahu, Pres, UKM
TINJAUAN IMPLEMENTASI ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DALAM PERENCANAAN MODEL MANAJEMEN BERKARAKTER KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DI BENGKEL (WORKSHOP) PEMESINAN POLITEKNIK Bambang Kuswanto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masih tingginya jumlah kasus kecelakaan kerja di industri, bahkan ada kecenderungan telah terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, diungkapkan oleh PT Jamsostek berkenaan dengan meningkatnya jumlah klaim setiap tahunnya. Bengkel (workshop) pemesinan Politeknik, seperti bengkel pemesinan yang lain di industri berpotensi terjadi kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh kurang tersedianya alat pelindung diri (APD) dan kesadaran manusia/pekerja itu sendiri tentang pentingnya K3. Bertujuan untuk mengetahui harapan dan kenyataan dari implementasi alat pelindung diri (APD) di bengkel (workshop) pemesinan Politeknik, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode angket. Mahasiswa, dosen dan tenaga laboran sebagai respondennya diperoleh hasil untuk menjawab pertanyaan: seberapa baik implementasi pada pengelolaan dan ketersediaan alat pelindung diri (APD) dalam manajemen bengkel (workshop) pemesinan Politeknik sampai saat ini masih sebesar 20 % dari yang diharapkan 100% . Oleh karena itu bengkel (workshop) pemesinan Politeknik membutuhkan model manajemen yang berkarakter kesehatan dan keselamatan kerja (K3) agar menghasilkan calon tenaga kerja yang memiliki kesadaran pentingnya K3 dalam setiap melakukan pekerjaan. Kata kunci: kecelakaan, APD, karakter

Page 45 of 140 | Total Record : 1394