cover
Contact Name
Mochamad Rochim
Contact Email
mochammad.rochim@unisba.ac.id
Phone
+6224-8508013
Journal Mail Official
yasir.alimi@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/about/editorialTeam
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE
ISSN : pISSN246     EISSN : eISSN246     DOI : DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4516
Core Subject : Education, Social,
Di Data GARUDA saya, jurnal KOMUNITAS yang diterbitkan oleh UNNES belum terakreditasi, seharusnya sudah terakreditasi SINTA 2 sesuai data SINTA. https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=komunitas
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2015): March 2015" : 15 Documents clear
Contributions of Non-Farm Employment Opportunities on Household Income: Study on Itinerant Vegetable Traders in Sumowono Village Hardati, Puji; Rijanta, R; Ritohardoyo, Su
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3599

Abstract

This study aims to analyze the contribution of non-farm employment opportunities to household income. The experiment was conducted in the Sumowono Village, Semarang Regency Central Java province. Respondents were itinerant vegetable traders and community leaders. Data collection is carried out by means of in-depth interviews. The analysis showed that non-farm employment opportunities in rural areas conducted by itinerant vegetable traders became one of alternative employment and contribute to labor force participation. Generally itinerant vegetable vendor is male. Mostly are married, have an average of two children, and only 20 percent is unmarried. The majority of junior high school education is finished. Reach of the work area is varies, begin from the surrounding villages in the sub-district, outside the district, regencies and outside the province. Motorcycle become one of the means of transportation used. The outpouring of working time each day an average of 9 hours. Contribution to household income by 70 percent.       Penelitian bertujuan menganalisis kontribusi kesempatan kerja non-pertanian terhadap pendapatan rumahtangga. Penelitian dilaksanakan di Desa Sumowono Kabupaten Semarang provinsi Jawa Tengah. Responden adalah pedagang sayur keliling dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilaksanakan dengan cara wawancara mendalam. Hasil analisis menunjukkan bahwa  kesempatan kerja non-pertanian di perdesaan yang dilakukan oleh pedagang sayur keliling menjadi salah satu alternatif kerja dan berkontribusi terhadap partisipasi angkatan kerja. Umumnya pedagang sayur keliling berjenis kelamin laki-laki. Sebagian besar berstatus kawin, dengan rata-rata memiliki anak 2 orang, dan hanya 20 persen bujang. Pendidikan mayoritas adalah tamat sekolah lanjutan pertama. Jangkauan wilayah kerja bervariasi, mulai dari desa sekitar satu wilayah kecamatan, luar kecamatan, luar kabupaten dan luar provinsi. Sepeda motor menjadi salah satu alat transportasi yang digunakan. Curahan waktu kerja setiap hari 9 jam. Kontribusi terhadap pendapatan rumahtangga sebesar 70 persen.
Developing Research Base Learning in Urban Sociology Class Arofah, Lumban
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3665

Abstract

This article aims to describe an introduction research base learning in the urban sociology class. The idea came after evaluating answer sheet from previous year students. Although the student had an ability to demonstrate their understanding on the subject, but they could not be able to relate and describe the subject into the local urban case. The lecture developed the lesson plan that enable student to do a small research and will be presented in the class. The research report and participation of presentation will be counted in for final score. The project divided into 5 steps; preparation - research – presentation – discussion – summarizing. Reflecting the lesson process, there are several important points as a lesson learned; student have an ability to reflect the theories and perspective in urban sociology, understand the differences of formal migrant and informal migrant, describe the behavior of inhabitant in public sphere, analyzing survival mechanism of informal trader, and understand how urban sub culture maintain their culture and develop their group as a place of fellowships for other sub culture members.Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan digunakannya metode pembelajaran berbasis riset pada mata kuliah Sosiologi Perkotaan. Hal tersebut merupakan hasil dari evaluasi lembar jawaban Mahasiswa pada tes final semester pada tahun sebelumnya. Hasil tes final menunjukkan bahwa Mahasiswa mampu menjelaskan materi yang diajarkan dalam pembelajaran namun kesulitan ketika harus mengkaitkannya terhadap permasalahan lokal perkotaan. Pengajar kemudian membuat rencana pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan penelitian sederhana yang nantinya dipresentasikan di depan kelas. Laporan penelitian dan partisipasi dalam pembelajaran diperhitungkan sebagai komponen penilaian dalam skor akhir. Proyek tersebut dibagi kedalam lima tahapan; persiapan – penelitian lapangan – presentasi – diskusi – simpulan.  Berpijak dari pembelajaran yang telah dilakukan, didapat beberapa hal yang penting sebagai hasil refleksi belajar; Mahasiswa memiliki kemampuan dalam menjelaskan teori dan pendekatan dalam Sosiologi Perkotaan, memahami proses migrasi antara migran formal dan informa, menjelaskan perilaku penduduk kota di ruang publik, melakukan analisa terhadap mekanisme survival pedagang Usaha Kecil dan Menengah (UKM), memahami bagaimana masyarakat perkotaan membentuk organisasi berbasis primordial dan bagaimana mereka mengambil manfaat dari organisasi tersebut.
Efforts to Promote Surakarta and Makassar as Children Friendly Towns Hamudy, Moh Ilham A.
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3596

Abstract

This study is about child-friendly city (KLA). This research is motivated by the lack of attention of the local government in protecting children and the issuance of Law No. 35 of 2014 on Protection of Children, which mandates local government obligations in the care of the child. This study sought to describe the various efforts made by the government of Surakarta and Makassar in realizing the KLA, the following supporting factors and obstacles surrounding the KLA embodiment. By using descriptive method and combine it with a qualitative approach, this study found some important points about the efforts of local governments in realizing the KLA. In Surakarta, for example, there have been several child-friendly community health centers (puskesmas). The Puskesmas is equipped with a private lounge complete with a children’s playground. In addition, services for children such as nutrition garden, corner of breast milk, pediatrician, child counseling services and a child abuse victim services also continue to be equipped, and many other programs. No wonder the Ministry of Women Empowerment and Child Protection Republic of Indonesia assessment scoring 713 from a total value of 31 indicators contained in the KLA who had filled the city of Surakarta. Meanwhile, Makassar City has not done a lot of local government programs, because the relatively new Makassar proclaimed KLA and is still central to reform. Among the new programs are being implemented and the Government of Makassar is giving birth certificate free of charge, to build flats in slums, and make the two villages as a pilot project KLA. The factors that affect the embodiment of the KLA it is a commitment. Not only the commitment of the head region, but also all relevant parties. As a cross cutting issue, the KLA also requires institutional capacity. Not only is the capacity of Women Empowerment and Child Protection Agency as a leading sector in the KLA, but also all work units other related areas. The success of the KLA in a city / county is also very dependent on the commitment of all parties concerned built. In addition, the program can not be done KLA in a short time, and require no small cost. Penelitian ini adalah tentang kota layak anak (KLA). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya perhatian pemerintah daerah dalam melindungi anak dan keluarnya UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang mengamanatkan kewajiban pemerintah daerah dalam mengurus anak. Penelitian ini berusaha menggambarkan pelbagai upaya yang dilakukan pemerintah Kota Surakarta dan Makassar dalam mewujudkan KLA, berikut faktor pendukung dan penghambat yang melingkupi perwujudan KLA tersebut. Dengan menggunakan metode deskriptif dan memadunya dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menemukan beberapa poin penting tentang upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan KLA. Di Surakarta, misalnya, sudah ada beberapa puskesmas ramah anak. Puskemas itu dilengkapi dengan ruang tunggu khusus anak lengkap dengan alat bermainnya. Selain itu, layanan-layanan untuk anak seperti taman gizi, pojok ASI, dokter spesialis anak, layanan konseling anak dan tempat pelayanan korban kekerasan terhadap anak juga terus dilengkapi, dan masih banyak program lainnya. Tidak heran kalau penilaian Kementerian PPPA memberikan skor 713 dari total nilai yang terdapat dalam 31 indikator KLA yang sudah dipenuhi Kota Surakarta. Sedangkan, Kota Makassar belum banyak program yang dikerjakan pemerintah daerah. Pasalnya, Makassar relatif baru mencanangkan KLA dan kini masih tengah melakukan pembenahan. Di antara program yang baru dan sedang dilaksanakan Pemerintah Kota Makassar adalah pemberian akta kelahiran secara gratis, membangun rumah susun di kawasan kumuh, dan menjadikan dua kelurahan sebagai proyek percontohan KLA. Adapun faktor yang memengaruhi perwujudan KLA itu adalah komitmen. Tidak hanya komitmen kepala daerah, tetapi juga semua pihak terkait. Sebagai sebuah isu yang melibatkan pelbagai pihak, KLA juga membutuhkan kapasitas kelembagaan. Tidak hanya kapasitas Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai leading sector KLA, tetapi semua satuan kerja perangkat daerah terkait lainnya. Selain itu, program KLA tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Social Strategy of Ciliwung River Bank Community Maring, Prudensius; Hasugian, Fordolin; Kaligis, Retor AW
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3600

Abstract

This article explains relation of social economic strategy applied by the community on the setting of watershed area with dinamics and complexity of urban life.  To explain the problem, this article use the perspective of ecological anthropology and urban anthropology. This research uses indepth-interview, participatory observation, and focus group discussion. This research was conducted on the community of Ciliwung watershed on Kampung Melayu and Cawang village in East Jakarta. This research shows that  the community on Ciliwung watershed area have social organization based on primordial and religion. The social organization have inclusive orientation and have goal to overcome everyday social problem. The community have model of ecological adaptation and social-economic strategy that have characteristics of resistance (control, protect, defend, and resist) as respon to uncertainty of policy and involution of Ciliwung watershed development.Tulisan ini menjelaskan hubungan antara strategi sosial ekonomi yang dijalankan masyarakat dalam latar ekologi bantaran sungai dengan kondisi kehidupan perkotaan yang dinamis dan kompleks. Untuk menjelaskan masalah tersebut, penelitian ini menginspirasi kepada perspektif antropologi ekologi dan antropologi perkotaan. Penelitian ini mengacu kepada pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode wawancara mendalam, pengamatan terlibat, dan diskusi kelompok terfokus. Penelitian lapangan dilakukan pada masyarakat bantaran sungai Ciliwung di Kelurahan Cawang dan Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa masyarakat bantaran sungai Ciliwung memiliki organisai sosial berbasis asal-usul daerah dan agama berorientasi inklusif dan bertujuan mengatasi masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat memiliki pola adaptasi ekologi dan strategi sosial ekonomi berciri bertahan (menguasai, melindungi, bertahan, dan melawan) sebagai respon terhadap ketidakpastian kebijakan dan involusi pembangunan bantaran sungai Ciliwung.
The Role of Social and Cultural Values in Public Education in Remote Island: a Case Study in Karimunjawa Islands, Indonesia
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3336

Abstract

This paper aims to analyze education problems in remote islands especially in Parang island of Karimunjawa Islands, Indonesia. Specifically, this paper aims to identify socio-cultural values and its role in education both formal and nonformal. The research was conducted in the Parang Island one of thousand  remote islands in Indonesia. The result shows that education in Parang island encounter strategic issues including the teacher attendance who mostly comes from outside of the island. Their mobility of certain matters force the teachers to go out from the island but sometime because of geographical condition their return to the island is unable to be ensured. This natural constraints precisely construct typical socio-cultural values especially in local education. The values which include multiculturalism, mutual cooperation, and togetherness has integrated into some subjects such as, Citizenship Education, Indonesian Language, Islamic Education, and some local contents such as Marine Education. It has been internalized into empirical experiences of the students as part of marine community that is typically open and egalitarian in character. Meanwhile, Islamic tend to be patterned in syncretism which promote balance and harmony of life. These values have been practices transmitted in religious education such as madrasah and some of informal Islamic institutions. The multiculturalism live, in harmony is effectively socialized through education, family life and community.Artikel ini mengkaji permasalahan bagaimana kondisi pendidikan di Pulau Parang sebagai pulau terpencil berlangsung dan bagaimana peranan nilai-nilai sosial budaya di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan di Pulau Parang menghadapi berbagai persoalan strategis antara lain eksistensi guru tetap yang hampir semuanya berasal dari luar pulau dengan mobilitas yang tinggi harus sering ke luar pulau dan karena gelombang laut yang besar sering tidak dapat dipastikan waktu kembalinya ke Pulau Parang. Kendala alamiah ini justru mengkonstruksi nilai-nilai sosial budaya khas Pulau Parang yang berperan penting dalam beragam pendidikan. Nilai multikulturalisme, sambatan, tolong menolong, dan kebersamaan diinternalisasikan secara intensif melalui mata pelajaran IPS, PKN, BI dan PAI yang dintegrasikan dalam pengalaman empirik murid yang multietnik sebagai etnik maritime dengan karakter terbuka dan egaliter. Nilai-nilai religiusitas keIslaman yang cenderung bercorak sinkritisme mengedepankan keseimbangan dan keselarasan hidup ditransmisikan dalam pendidikan Madrasah Diniyah Mathali’ul dan beberapa ‘pondok’ perseorangan. Nilai-nilai multikulturalisme disosialisasikan secara efektif melalui pendidikan, keluarga dan masyarakat.
The Electability of Women Candidates in The Election of Central Java DPRD in 2014
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3666

Abstract

The study aims to analyze the factors supporting the electability of women candidates in Central Java DPRD election 2014. This type of research is descriptive. Techniques of data collection used the in-depth interviews with all women members of the Central Java DPRD election results 2014. Data processing techniques are data reduction, data display, concluding and verifying. The study found women candidate’s electability factors because they master/control the political capital, social capital and economics capital. By political capital (party officials) so candidate nominated in small number candidacy and electoral district party base. Social capital (activists of social/professional organizations ) support the loyalty and solidity candidate team and candidate voice, and economics capital to support the political cost. Some of them have kinship with the party elite /social elite so openly their access to social and politics capital. An open list proportional electoral system makes it difficult increasing women representation if not followed party policy affirmations committed. In order to reach the 30% the representation of women in the legislature should be intervention laws forcing the party implementing gender justice policies candidacyPenelitian ini bermaksud menganalisa  faktor-faktor pendukung keterpilihan caleg perempuan di DPRD Jawa Tengah dalam Pemilu 2014. Tipe penelitian ini deskriptif.Teknik pengumpulan data  menggunakan wawancara mendalam terhadap seluruh perempuan anggota DPRD Jawa Tengah hasil Pemilu 2014. Teknik pengolahan data dalam penelitian ini adalah reduksi data, display data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil Penelitian menemukan faktor-faktor keterpilihan caleg perempuan karena mereka menguasai modal politik (pengurus partai) sehingga dicalonkan dinomor urut kecil dan dapil basis partai, modal sosial (pengurus organisasi sosial/profesi) yang membantu kerja dan mendapat dukungan suara, dan modal ekonomi untuk biaya politik, dan kekerabatan dengan elit partai/sosial membuka akses untuk modal politik dan sosial. Sistem pemilu proprsional terbuka menyulitkan kebijakan afirmasi jika tidak diikuti komitmen partai. Untuk bisa mencapai keterwakilan 30% perempuan di lembaga perwakilan harus ada intervensi undang-undang yang memaksa partai melaksanakan kebijakan berkeadilan gender dalam pencalonan
Deconstructing Gender Stereotypes in Leak
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3597

Abstract

The belief of Balinese people towards leak still survive. Leak is a magic based on durgaism that can transform a person from human to another form, such as apes, pigs, etc. People tend to regard leak as evil. In general, the evilness is constructed in gender stereotypes, so it is identified that leak are always women. This idea is a power game based on the ideology of patriarchy that provides legitimacy for men to dominate women with a plea for social harmony. As a result, women are marginalized in the Balinese society. Women should be aware of so it would provide encouragement for them to make emancipatory changes dialogically. Kepercayaan orang Bali terhadap leak tetap bertahan sampai saat ini. Leak adalah sihir yang berbasiskan durgaisme yang dapat mengakibatkan seseorang bisa merubah bentuk dari manusia ke wujud yang lain, misalnya kera, babi, dll. Leak termasuk magi hitam sehingga dinilai bersifat jelek. Pada umumnya perempuan diidentikkan dengan leak sehingga melahirkan asumsi yang bermuatan steriotip gender bahwa leak = perempuan. Gagasan ini merupakan permainan kekuasaan berbasis ideologi patriarkhi dan sekaligus memberikan legitimasi bagi laki-laki untuk menguasai perempuan dengan dalih demi keharmonisan sosial. Akibatnya, perempuan menjadi termarginalisasi pada masyarakat Bali.  Perempuan harus menyadarinya sehingga memberikan dorongan bagi mereka untuk melakukan perubahan secara dialogis emansipatoris.
Relocation as Empowerment: Response, Welfare, and Life Quality of Street Vendors After Relocation Handoyo, Eko; Widyaningrum, Nur Ranika
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3428

Abstract

Keberadaan PKL di sepanjang jalan raya Magelang-Yogyakarta km 5-8 menyebabkan terganggunya kelancaran, ketertiban, keindahan dan kebersihan jalan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, pemerintah Kabupaten Magelang merelokasi PKL di sepanjang jalan raya Magelang-Yogyakarta km 5-8 ke PKL Mertoyudan Corner. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana respons, kesejahteraan, dan kualitas hidup PKL pasca relokasi untuk melihat praktik pemberdayaan yang efektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwan PKL di jalan raya Magelang-Yogyakarta km 5-8 sebagian besar menunjukkan respons yang positif terhadap kebijakan relokasi, yaitu dalam bentuk penerimaan dan persetujuan (40% di antaranya memutuskan pindah). Kesejahteraan PKL, terutama dilihat dari pendapatan mengalami penurunan. Kualitas hidup PKL yang diukur dari aspek penghasilan, pemenuhan kebutuhan material, derajat dipenuhinya kebutuhan hayati, kebutuhan manusiawi dan kebebasan memilih juga menunjukkan penurunan. Kesimpulannya relokasi sebagai pemberdayaan agar berfungsi dengan baik harus mengembangkan program-program kreatif untuk mempopulerkan tempat relokasi.The presence of street vendors along Highway Magelang-Yogyakarta KM 5-8 lead to the disruption of the smooth, order, beauty and cleanliness of the streets. To resolve these problems, the government relocate the street vendors to street vendors Mertoyudan Corner. The purpose of this study was to analyze how the response, quality of life, and well-being after relocation to illuminate the practice of effective of empowerment. This study used qualitative methods. results showed that street vendors in Magelang-Yogyakarta highway km 5-8 mostly show a positive response to the relocation policy, namely in the form of acceptance and approval, while 40% of them decide to move. The welfare of street vendors, expecially seen from the revenue decline and the quality of life as measured from the street vendors prosperous income aspect, the fulfillment of material needs, the degree of fulfillment of biological needs, human needs and freedom of choice also showed a decline. The study concludes that  to function properly,  relocation as empowerment should develop creative programs to develop the relocation sites.
Food Security and the Futures of Farmers in Decentralisation Era: a Case Study From Sigi District Central Sulawesi Alamsyah, Muhammad Nur; Sultan, Sultan; Sayuti, Sayuti
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3620

Abstract

Decentralization is a form of democratization used to push development at district level. The formation of new autonomous regions results into more land conversion and politicization of society, rather than the strengthening of food security and the wellbing of farmers. This study examines the effectivity of local policy of Sigi District South Sulawesi to strengthen food security and elevate the prosperity of farmers. Through qualitative methods to bring together stakeholders (farmers, local authorities) through focus group discussions and in-depth interviews, the study found that the district policy still is formalistic. There is no standard information dissemination,no better attitude and commitment to the policy, limited resources, and there is no work standard. The role of regional food security council is not optimal, a lot of institutional barriers, there is no involvement of the community in accessing the programmes and also high politicization of this top down policy. Key Word: Policy, Local Goverment, food security, DecentralizationDesentralisasi merupakan wujud demokratisasi daerah untuk pembangunan. Pembentukan daerah otonom baru (DOB) melahirkan terjadinya alih fungsi lahan dan politisasi masyarakat seperti petani daripada penguatan ketahanan pangan dan penguatan petani. Penelitian ini bertujuan meneliti kebijakan Kabupaten Sigi dalam hal penguatan ketahanan pangan dan petani. Melalui metode kualitatif dengan mempertemukan pemangku kepentingan (petani, pejabat daerah) melalui diskusi kelompok terfokus dan wawancara mendalam, diketahui bahwa kebijakan masih bersifat formalistik. Tidak ada sosialisasi informasi secara baik, sikap dan komitmen terhadap kebijakan kurang, keterbatasan sumber daya, tidak ada standar kerja. Dewan ketahanan pangan daerah belum optimal, hambatan struktur dan kelembagaan, tidak ada keterlibatan masyarakat dalam mengakses penyusunan program serta tingginya politisasi pada bidang pertanian yang semuanya dikelola secara top down di daerah.
Empowerment of Waria Ludruk Artists in AIDS/HIV Prevention Program Maimunah, Maimunah; Aribowo, Aribowo
Komunitas Vol 7, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3598

Abstract

Waria or transgender is one of the key population which has a significant role in the success of HIV/AIDS prevention program in East Java. It is estimated that the biggest waria community is in East Java, particularly in Surabaya. The main objective of this research is improving capacity building of ludruk artist waria through HIV/AIDS prevention program. The study has two objectives; firstly to find the effective strategies in improving waria’s feminine skills such as knitting, hair dressing. Secondly to find the effective programs both on-stage and off-stage to improve the quality of ludruk performance such as revitalizing their marketing management, using social media to promote their schedule to the young generation. Some inportant points can be conluded from this study. Firstly, integrated coordinating system between ludruk artist waria and waria communities such as Perwakos and Iwama should be improved. HIV/AIDS prevention programs become uneffective without coordination. In this point, ludruk artist waria need to know that HIV/AIDS prevention programs such as VCT, HIV testing is free of charge. Secondly, in terms of management internal system, ludruk needs to revitalize the content of the story in their performance to be more compatible with the younger audience. To do so, the cooperation is needed among all the stakeholeders to make ludruk survive in the capitalist industrial show business in Indonesia.Salah satu populasi kunci yang memberi kontribusi tingginya prevalensi HIV dan AIDS di JATIM adalah komunitas waria karena di propinsi ini estimasi jumlah waria terbesar di Indonesia. Penelitian ini akan membahas bagaimana waria seniman ludruk dilibatkan dalam pencegahan HIV/AIDS. Program yang telah dilakukan adalah revitalisasi baik on-stage (diatas panggung) dan off-stage (di luar panggung). On-stage memfokuskan pada upaya revitalisasi pertunjukan ludruk dengan sistem dan manajemen pertunjukan yang lebih modern, menarik penonton generasi muda dan memanfaatkan tekhnologi internet dalam pemasarannya. Sedangkan Off-stage melalui penguatan keterampilan feminine (feminine skills) seperti menjahit, salon, wirausaha dll sehingga mereka mandiri secara ekonomi. Hasil penelitian menyimpulkan ada faktor internal yaitu kurangnya koordinasi pimpinan ludruk dengan organisasi induk waria dalam mensosialisasikan program penanggulangan HIV/AIDS. Disamping itu, mobilitas waria yang tinggi antar kota menjadi kendala tersendiri untuk mengumpulkan mereka ketika ada pemeriksaan VCT dan tes HIV. Faktor internal ludruk adalah perlunya revitalisasi dan inovasi managemen pemasaran yang modern berbasis tekhnologi serta inovasi cerita ludruk agar lebih menjangkau anak muda. Dibutuhkan kerjasama dengan semua stakeholders agar ludruk tetap bertahan dalam gempuran industri hiburan di Indonesia. 

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2023): September Vol 15, No 1 (2023): March Vol 14, No 2 (2022): September 2022 Vol 14, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2022): September Vol 13, No 2 (2021): September 2021 Vol 13, No 1 (2021): March 2021 Vol 12, No 2 (2020): September 2020 Vol 12, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2020): September Vol 12, No 1 (2020): March Vol 11, No 2 (2019): September 2019 Vol 11, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019 Vol 11, No 2 (2019): September Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): September 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018 Vol 10, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March Vol 9, No 2 (2017): September 2017 Vol 9, No 2 (2017): Komunitas, September 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): March 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 8, No 2 (2016): September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): March 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): September 2015 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): September 2014 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 5, No 2 (2013): September 2013 Vol 5, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 4, No 2 (2012): September 2012 Vol 4, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 3, No 2 (2011): September 2011 Vol 3, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 2, No 2 (2010): September 2010 Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal More Issue