cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 553 Documents
PREPARASI DAN KARAKTERISASI SIFAT OPTIK KACA POSFAT Sulhadi, -; Rinto, A.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gelas fosfat telah sukses dibuat dengan komposisi P2O5-MgO dan P2O5-CaO menggunakan teknik quenching leleh. Bahangelas dibuat dengan memanasinya pada suhu 850oC selama 30 menit. Sampel gelas dipersiapkan dengan komposisi fosfat 70-85%, dengan interval 5%. Gelas fosfat yang diproduksi dengan komposisi 80% memiliki sifat transparan yang baik dan tidak pecahketika dicetak. hasil analisis optik menunjukkan bahwa gelas fosfat dengan pemodifikasi MgO memiliki sifat optik yang baik. lebihtransparan daripada CaO. Phosphate glass has been successfully made with compotition P O -MgO dan P O -CaO by melt quenching technique. The 2 5 2 5 process of making glass forming material by heating at a temperature 850oC and maintained for 30 minutes. Glass samlpe preparedwith the compotition of phosphate 85%, 80%, 75%, 70%. Phosphate glass produced with 80% compotitions which have goodtransparency properties and do not break when molded. The result of optical analysis shows phosphate glass with modifier MgOhas good optical properties than CaO. Taken as a macroscopic phosphate glass with MgO modifier is more transparent than withCaO, so that both glass allows for futher applicationsKeywords: phosphate glass; optical properties; preparation,quenching
EKSPLORASI KESULITAN BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN CAHAYA DAN UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING Wijayanti, P. I.; Mosik, -; Hindarto, N.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP pada pokok bahasan cahaya melalui pembelajaran inkuiri terbimbing. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifateksperimen yang dilaksanakan dengan mengambil sampel dua kelas dari enam kelas sebagai kelas eksperimen dan kelaskendali. Data peningkatan hasil belajar kognitif diperoleh dari pre test dan post test, sedangkan data mengenai kesulitan belajar diperoleh dari analisis soal yang diujikan. Hasil penelitian menunjukkan siswa mengalami kesulitan belajar fisika pada pokokbahasan cahaya yang meliputi kesulitan memahami materi, kesulitan mengaitkan hubungan antar konsep, kesulitan mengertirumus, kesulitan mengoperasikan rumus untuk menyelesaikan soal. Secara umum persentase kesulitan belajar pada kelaseksperimen lebih kecil daripada kelas kendali. Hal itu diikuiti dengan meningkatnya hasil belajar kelas eksperimen secarasignifikan dibandingkan kelas kontrol. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat mengatasi kesulitanbelajar siswa pada pokok bahasan cahaya yang berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. The goals of this research are to study students difficulty of light topic and increases learning achievements of Junior High Schoolstudents of that topic through guided inquiry learning. This experiment study used two classes of sample: experiment and control.The data of cognitive learning achievement improvement was gathered by using pre test and post test, while those of learningdifficulty were found through problem tested analysis. The results of the study show that the students encounter learning difficultiesin the form of understanding the material, relating between concepts, understanding the formula, and operating formula for solvingthe problem. In general, percentages of learning difficulties of experiment group are less than those of control group. It is concludedthat guided inquiry learning can solve the learning difficulties of student of light topic which in turn can increase students learningachievement.Keywords: Learning difficulty; guided inquiry; learning achievement
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MENYIMPULKAN DAN MENGKOMUNIKASIKAN KONSEP FISIKA MELALUI KEGIATAN PRAKTIKUM FISIKA SEDERHANA Kurnianto, P.; Dwijanant, P.; Khumaedi, -
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan menyimpulkan dan mengkomunikasikan konsep Fisika siswa kelasXI SMA, materi mekanika fluida dengan kegiatan praktikum Fisika sederhana. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelasyang dilaksanakan dalam tiga siklus setiap siklusnya terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.Lembar observasi digunakan untuk mengamati keterampilan menyimpulkan dan mengkomunikasikan, sedangkan untukmengetahui peningkatan dari satu siklus ke siklus berikutnya digunakan uji gain (g). Hasil penelitian menunjukkan peningkatanketerampilan menyimpulkan dan mengkomunikasikan konsep Fisika signifikan setelah dilakukan kegiatan praktikum fisikasederhana dalam pembelajaran. Hasil ketuntasan klasikal keterampilan menyimpulkan pada siklus I sebesar 69,44%, siklus IIsebesar 83,33% dan siklus III sebesar 88,89%. Hasil ketuntasan klasikal keterampilan mengkomunikasikan pada siklus I sebesar77,78%, siklus II sebesar 88,89% dan siklus III sebesar 94,44%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kegiatan praktikumFisika sederhana materi mekanika fluida dapat meningkatkan keterampilan menyimpulkan dan mengkomunikasikan konsepFisika. The purpose of this research is to develop ability of the students of XI grade in concluding and communicating physics concept ofmechanics fluid material using simple physics laboratory activity. This classroom action research was held in three cycles, each ofthem consisting of planning, action, observation and reflection. Observation sheet was used to observe the concluding andcommunicating abilities, while gain test was used to know the increase of the abilities from one cycle to the next. The result showsthat there is an increase of concluding and communicating abilities after having simple physics laboratory activity. The result ofclassical learning mastery of concluding ability in the first cycle is 69.44%, in the second cycle is 83.33% and in the last cycle is88.89%. The result of classical learning mastery of communicating ability in the first cycle is 77.78%, in the second cycle is 88.89%and in the last cycle is 94.44%. In conclusion, the activity of simple physics laboratory can increase ability of concluding andcommunicating physics concept.Keywords: Concluding ability; Communicating Ability; Simple Physics Laboratory Activity
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DENGAN METODE PICTORIAL RIDDLE PADA POKOK BAHASAN ALAT- ALAT OPTIK DI SMP Kristianingsih, D. D.; Sukiswo, S. E.; Khanafiyah, S.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran dengan menerapkan model inkuiri dengan metodepictorial riddle pada pokok bahasan alat-alat optik di SMP sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dan bagaimanapeningkatan hasil belajar siswa pada pokok bahasan alat-alat optik di SMP setelah menggunakan model pembelajaran inkuiridengan metode pictorial riddle. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Data penelitian berupahasil belajar kognitif diperoleh dari test, hasil belajar afektif dan psikomotorik diperoleh dari lembar observasi. Hasil analisis statistikdengan menggunakan uji g terhadap data hasil belajar siswa dari siklus I, siklus II dan siklus III menunjukkan adanya peningkatan.Peningkatan dapat dilihat dari ketuntasan klasikal hasil belajar kognitif siswa siklus I sebesar 61,92%, kemudian meningkatmenjadi 88,10% pada siklus II dan 97,62% pada siklus III. Ketuntasan hasil belajar afektif siswa siklus I sebesar 76,19%, kemudianmeningkat menjadi 90,48% pada siklus II dan 92,86% pada siklus III. Ketuntasan hasil belajar psikomotorik siswa siklus I sebesar57,14%, kemudian meningkat menjadi 80,95% pada siklus II dan 90,48% pada siklus III. Dari hasil analisis tersebut dapatdisimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri dengan metode dapat meningkatkan hasil belajar siswa.pictorial riddle This research are aimed to study how the learning process employing inquiry model with riddle pictorial method on opticalinstrument topic in JHS can improve students achievement and to improve students achievement after having the model oflearning. The research used classroom action research. The data of cognitive learning achievement improvement was gathered byusing test, while the affective and psychomotor one was derived from observation sheet. The result of statistical analysis shows thatthere is an improvement of learning achievement from cycle I, II and III. The result of classical learning mastery of cognitive aspectin the first cycle is 61.92%, in the second cycle is 88.10% and in the last cycle is 97.62%. The classical learning mastery of affectiveaspect in the first cycle is 76.19%, in the second cycle is 90.48% and in the last cycle is 92.86%. In addition, the classical learningmastery of psychomotor aspect in the first cycle is 57.14%, in the second cycle is 80.95% and in the last cycle is 90.48%. Based onthe above result, it can be concluded that inquiry model with riddle pictorial method can improve students achievement.Keywords: Learning achievement; inquiry learning model; riddle pictorial
PEMBUATAN MMC BERBASIS TEKNOLOGI METALURGI SERBUK DENGAN BAHAN BAKU ALUMINIUM DARI LIMBAH KALENG MINUMAN DAN ADITIF ABU SEKAM PADI Akrom, M.; Marwoto, P.; Sugianto, -
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komposit matriks logam (aluminium) yang berasal dari limbah kaleng minuman dengan penguat partikel silikon karbida danpenguat tambahan abu sekam padi telah berhasil difabrikasi dengan metode teknologi metalurgi serbuk. Tujuan dari penelitian iniadalah merekayasa material baru yang murah akan tetapi memiliki mutu dan daya saing yang sangat baik. Penelitian ini terdiri daribeberapa tahap yakni, pembuatan bahan baku, pencampuran, pencetakan sampel, sintering dan pengujian. Dari hasil pengujianfisik diperoleh bahwa komposit matrik logam dengan penambahan abu sekam padi memiliki kerapatan lebih rendah dibandingkandengan komposit Al/SiC tanpa sekam padi, sedangkan sifat kekerasan dan kekuatannya jauh lebih besar dibandingkan Al/SiCtanpa penambahan abu sekam padi. Dari analisis XRD ditemukan bahwa terjadi penyebaran unsur utama Al, Si, senyawa SiC,serta timbul senyawa stabil MgAl O , Al O yang bersifat konstruktif yang dapat memberikan sifat mekanis yang baik bagi komposit,dan senyawa destruktif Al C yang bersifat korosif. Analisis SEM menunjukkan ukuran butiran partikel yang cenderung lebar danmemanjang, ikatan antar partikel penyusun bahan yang terbentuk cukup baik, sehingga memberikan sifat mekanis bahan yangbaik.Tidak tampaknya pori-pori bahan menunjukkan pula bahwa ikatan partikel antar bahan cukup baik. Metal (aluminium) matrix composite originated from beverage can waste with carbide silicon particle reinforcement and additionalreinforcement of paddy chaff ash has been fabricated successfully by employing powder metallurgy technology method. Thepurpose of the research is to create a cheap new material, qualified and having high competitive value. This research wasconducted through several stages, those were making raw material, mixing, sample moulding, sintering, and testing. The result ofphysical test shows that metal matrix composite added by paddy chaff ash has lower density, stronger and bigger power comparedto Al/SiC composite without paddy chaff. The XRD analysis shows that there is distribution of the main element of Al, Si, SiCcompound, and there are also stable constructive compounds of MgAl O and AlO, which can give good mechanical properties tothe composite and destructive compound of Al C, which can give corrosive property. The SEM analysis shows that size of particlegrain appears to be wide and get longer and the bond between ingredients are good enough, creating good mechanical property ofthe material. No pores are found showing that the bond particle between materials is good enough.Keywords: Aluminium; paddy chaff ash; metal matrix composite; powder metallurgy
PENINGKATAN KUALITAS PERKULIAHAN SOLUSI DERET MELALUI PENDEKATAN TEACHING ASSISTANT Masturi, -; Marwoto, P.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurangnya aktivitas belajar dan rendahnya nilai yang diperoleh mahasiswa dalam perkuliahan solusi deret merupakan masalahpembelajaran yang harus dipecahkan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penerapan pendekatanteaching assistant dapat meningkatkan kualitas perkuliahan solusi deret. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa PendidikanFisika UNNES. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Fisika UNNES dengan desain penelitian tindakan kelas dua siklus. Instrumenyang digunakan adalah instrumen aktivitas yang meliputi: motivasi belajar, intensitas belajar dan interaksi belajar dan instrumenprestasi untuk mengukur hasil belajar. Dari penelitian ini didapatkan bahwa asistensi dapat meningkatkan aktivitas dan prestasibelajar. Hal itu terlihat dari 50 mahasiswa yang diberi tindakan, aktivitas belajar mereka pada siklus I dan II berada pada kategoribaik. Dari hasil observasi selama perkuliahan didapatkan adanya peningkatan intensitas pengerjaan tugas dan kuis. Nilai yangdiperoleh, dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan dari 65 menjadi 71. Dengan demikian, pendekatan teaching assistantterbukti dapat meningkatkan kualitas perkuliahan solusi deret. In this research, the effects of teaching assistant approach on the improvement of lecture quality of series solution topic wereinvestigated. The classroom action research with two cycles was set in physics education program. Some instruments that used toexplore the students activities were learning motivation, learning intensity, and learning interaction. Achievement instrument isused to measure the students achievement. The results of the research show that teaching assistant can improve the studentsactivity as well as their achievement. It can be seen from the increasing activity of 50 students with good category from cycle one tothe second one. The observation results show that there is a significant improvement in intensity of students interest in doing thetasks and quizzes. The average of students achievement was rose from 65 to 71 in cycle I to cycle II. From these results, it can beconcluded that the teaching assistant can improve the teaching quality of the solution of series chapter.Keywords: series solution; learning quality; teaching assistant
PERCOBAAN KISI DIFRAKSI DENGAN MENGGUNAKAN KEPING DVD DAN VCD Supliyadi, -; Khumaedi, -; Sutikno, -
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran fisika di sekolah seharusnya menjadi suatu kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses-prosespembentukan konsep-konsep fisika dengan menggunakan media dan kegiatan praktikum sehingga pada akhirnya dapatmeningkatkan hasil belajar fisika. Dalam pembelajaran fisika sering muncul permasalahan, diantaranya adalah kurangtersedianya alat praktikum dikarenakan sulitnya didapatkan suatu alat praktikum ataupun juga karena harganya yang mahalmisalnya kisi difraksi. Pemanfaatan keping DVD (digital video disk) dan CD (compact disk) sebagai kisi difraksi adalah salah satuupaya inovatif bagi guru dan siswa untuk mengatasi kurang tersedianya dan mahalnya alat praktikum. Pemanfaatan keping DVDdan CD sebagai kisi difraksi didasari pada konsep difraksi cahaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa lebar kisi CD sebesar(1467,85 ± 16,41) nanometer dengan kesalahan relative 1,12%, sedangkan lebar kisi DVD sebesar (644,39 ± 7,48) nanometerdengan kesalahan relative 1,16%. Learning physics at school should be activities that involve students directly in understanding the concept of physics. To gain thiseffort, support of materials and equipments are very important. On the other hand, it is common that those supporting materials arevery expensive and very rarely found.Actually, physics can be tought by using simple material as a learning media. The use ofCDorDVD as diffraction slits is one of the physics teaching innovations. By using diffraction concept, these CD and DVD were tested toget their slit widths. The results show that the CD and DVD have slit width about 1,467.85 16.41 nm and 644.39 7.48 nm,respectively with relative error 1.16 %.Keywords: experiment equipment; compact disk; digital video disk
PENENTUAN KADAR RADIONUKLIDA PADA LIMBAH CAIR PABRIK GALVANIS DENGAN METODE ANALISIS AKTIVASI NEUTRON THERMAL REAKTOR KARTINI Dwijananti, P.; Widarto, -; Darmawati, Y.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kadar unsur-unsur pada limbah cair pabrik galvanis perlu diketahui, hal ini penting dilakukan sebelum limbah cair pabrik galvanisdibuang ke lingkungan. MetodeAnalisis Aktivasi Neutron (AAN) digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatifdapat mengetahui unsur yang terkandung, sedangkan analisis kuantitatif untuk mengetahui kadar unsurnya. Sampel limbah cairdiaktivasi menggunakan sumber neutron dari Reaktor Kartini, kemudian dicacah menggunakan spektrometri- , setelah itudianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis kualitatif teridentifikasi 7 unsur pada limbah cair pabrik galvanis. Unsurtersebut adalah Mangan (Mn), Zirkon (Zr), Chlorine (Cl), Seng(Zn), Bromine (Br), Natrium (Na), dan Besi (Fe). Analisis kuantitatifmenunjukkan kadar unsur tersebut yaitu : Mn (1,89 - 1,92).10-9gram/l, Zr (5,65 - 5,66).10-4gram/l, Cl (4,39 - 4,50).10-8 gram/l, Zn(6,47 - 6,65).10-5 gram/l, Br (1,32 -1,35).10-3gram/l, Na (4,18 - 4,19).10-4 gram/l, dan Fe (5,65.10-5 ) gram/l. Berdasarkanperhitungan dan setelah dibandingkan dengan baku mutu limbah dan baku mutu air, maka limbah cair pabrik galvanis dalam batasaman. The content of elements in liquid waste of galvanise factory are recommeded to be determined first before the waste is expelled intoenvironment. The Neutron Activation Analysis was used to have qualitative and quantitative analysis. The qualitative method wasused to identify the element contained,while the quantitative one was used to measure the decay rate of the element.Tified, thosewere Mangan (Mn), Zirkon (Zr), Chlorine (Cl), Zink (Zn), Bromine (Br), Sodium (Na) and Ferrum (Fe). The quantitative analysisshows the content of each elements as follows. Mn (1.89 – 1.92) x 10-9 g/l; Zr (5.65 – 5.66) x 10-4 g/l; Cl (4.39 – 4.50) x 10-8 g/l; Zn(6.47 – 6.65) x 10-5 g/l, Br (1.32 – 1.35) x 10-3 g/l; Na (4.18 – 4.19) x 10-4 g/l, and Fe (5.65 x 10-5 g/l). Based on the calculation andafter comparing it to the waste and water standard quality, it can be concluded that the liquid waste of galvanise factory is on the safelimit.ABSTRAKABSTRACTghe sample ofliquid was activated by using neutron source at Kartini Reactor. It was then counted by using !-spectrometer and analysedquantitatively and qualitatively. From analysis, seven elements contained in liquid waste of galvanise factory were identKeywords: Element rate; factory liquid waste; neutron activation analysis method
PEMANFAATAN MODEL SELF REGULATED LEARNING SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BELAJAR MANDIRI PADA MATA KULIAH OPTIK Ellianawati, -; Wahyuni, S.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil belajar mata kuliah optik selama semester gasal 2005/2006 kurang menunjukkan capaian yang maksimal, mahasiswa masihkurang menunjukkan sikap aktif dan mandiri dalam belajar. Sejumlah temuan mengindikasikan bahwa mahasiswa malas mengerjakantugas dan tidak mempersiapkan diri menghadapi perkuliahan. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut peneliti berupaya untukmeningkatkan mutu pembelajaran agar dapat menumbuhkan kemauan mahasiswa untuk belajar mandiri dan aktif di kelassehingga dapat meningkatkan capaian hasil belajar mata kuliah optik. Model pembelajaran Self Regulated Learning paling sesuaiuntuk menyelesaikan permasalahan ini karena model ini memberi kesempatan mahasiswa untuk mengeksplorasi diri danmengarahkan ma-hasiswa untuk belajar secara mandiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kebebasan memilihteman dalam kelompok dan memilih pola belajar sesuai dengan minatnya ternyata memberi kenyamanan belajar dan motivasiberkompetisi yang positif sehingga capaian belajarnya lebih baik. Learning achievement of optics subject during odd semester of 2005/2006 showed that students achievement was not maximal.The students were inactive and did not have self learning attitude. Several findings indicated that the students were lazy in doing theassignment and did not have preparation in facing the lesson. Based on the above evaluation, the researchers have an effort toincrease the quality of the lesson in order to grow students will to be active and have self learning attitude, which in turn canincrease their achievement on optics subject. Self Regulated Learning model is the most suitable model to be applied for solving theproblem. It is because this model gives students a chance to explore and direct themselves to be able to have self learning attitude.The result shows that the opportunity to choose friend in a group and learning pattern suitable with the students interest givestudents enjoyable learning and motivation to compete positively leading to get better achievement.Keywords: Autonomous; optics; self regulated learning
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION UNTUK MENUMBUHKAN SIKAP ILMIAH SISWA Istikomah, H.; Hendratto, S.; Bambang, S.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektifitas model pembelajaran Group Investigation dalam menumbuhkan sikapilmiah siswa. Penelitian ini menggunakan jenis eksperimen semu dengan desain random-pretest- posttest. Data diperoleh denganmenggunakan angket dan observasi. Data sikap ilmiah siswa antara kelompok investigasi dan Jigsaw, dianalisis denganmenggunakan uji t. Hasil analisis data sikap ilmiah antara kelompok eksperimen dan kontrol dihasilkan thitung=1,994 danttabel=1,99 berarti thitung > ttabel sehingga dapat dinyatakan sikap ilmiah kelompok investigasi lebih baik daripada kelompokJigsaw secara signifikan. Hal ini didukung oleh data observasi sikap ilmiah kelompok investigasi yakni 4,87% (sedang), 58,53%(tinggi), dan 36,59% (sangat tinggi), sedangkan kelompok Jigsaw 17,5% (sedang), 60% (tinggi), dan 22,5% (sangat tinggi). Hasiltersebut menunjukkan bahwa persentase sikap ilmiah kelas Jigsaw lebih tinggi dari Group Investigation pada kategori sedang dantinggi, sedangkan pada kategori sangat tinggi, persentase sikap ilmiah model pembelajaran group Invvestigation lebih tinggi dariJigsaw. Disimpulkan bahwa model pembelajaran Group Investigation lebih efektif menumbuhkan sikap ilmiah siswa. Disarankanuntuk penggunaan model pembelajaran Group Investigation agar sikap ilmiah siswa dapat ditumbuhkan This research aimed to describe effectiveness of Group Investigation learning model in growing students scientific attitude. Thisresearch used a quasi experiment with random-pretest-posttest design. The data were gathered by using questioner andobservation. The data of students scientific attitude between investigation and jigsaw group were analyzed using t-test. The dataanalysis result found that tc = 1.994 and tt=1.99 which means that tc > tt and students scientific attitude of investigation group issignificantly better than that of jigsaw group. This result was supported by observation data of students scientific attitude ofinvestigation group, which were 4.87 % (medium), 58.53% (high), and 36.59% (very high), and those of jigsaw group which were17.5% (medium), 60% (high) and 22.5% (very high). It was concluded that group investigation learning model is more effective to beused to grow students scientific attitude. It is suggested to apply the model in order to grow students scientific attitude.Keywords: Group investigation; jigsaw; scientific attitude

Page 7 of 56 | Total Record : 553