Harmonia: Journal of Research and Education
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
" Vol 7, No 2 (2006)"
:
10 Documents
clear
Skala Pengukuran sebagai Alat Evaluasi dalam Menilai Tari Karya Mahasiswa (Measurement Scale as Instrument of Evaluation in Assessing Studentââ¬â¢s Piece of Dance)
Triana, Dinny Devi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.680
Paparan ini hanyalah sebuah wacana dan pemikiran yang mungkin dapat diterima, khususnya bagi para pendidik di institusi kependidikan, karena penilaian terhadap satu bentuk seni masih sulit diukur secara kuantitatif. Penilaian mata kuliah koreografi sebagai hasilÃÂ proses pembelajaran yang komprehensif bagi mahasiswa tari seringkali dirasakan sangat subjektif, bahkan keputusanÃÂ tim penguji tidak lagi melihat kepada produk yang dihasilkan sebagai penilaian performance, tetapi juga dipengaruhi oleh penilaian proses. Penilaian performance lebih kepada penilaian penampilan tari itu sendiri yang harus dipahami sebagai kesatuan bentuk atau gagasan kreatif yang divisualkan. Oleh karenanya dibutuhkan alat evaluasi sebagai pedoman observasi untuk penilaian tersebut, sehingga hasil akhir dapatÃÂ berupa nilai secara kuantitatif yang dapat mempengaruhi terhadap indeks prestasi mahasiswa dan tentu saja nilai performance dapat dipertanggungjawabkan. Pedoman observasi dengan skala pengukuran yang tepat dapat memperkecil pengaruh unsur subjektivitas dan sense of art penguji. ÃÂ Kata kunci : Penilaian, Performance,Eevaluasi, Psikomotor, Skala Pengukuran
Pengaruh Portugis pada Musik Keroncong (Portuguese Influence to Kroncong Music)
Ganap, Victor
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.753
Keroncong diyakini berasal dari Portugis, berdasarkan fakta sejarah: (1)sejarah pada abad ke-16 para pelaut Portugis pernah singgah di kepulauanNusantara; (2) ââ¬â¢cavaquihoââ¬â¢ adalah instrumen tradisional Potugis, di manadi Indonesia disebut dengan ukulele atau secara sederahana disebutkeroncong; (3) repertoar keroncong seperti, Moresco, Cafrinho, Proungaadalah nyanyian fado orang-orang Portugis abad ke-16 di mana di Indonesiadikenal sebagai Kr. Moritsko, Kaparinyo; (4) istilah Potugis ââ¬Ëcoraçãoââ¬â¢(dalam hati) merupakan ekspresi khusus yang juga ditemui dalammenyanyikan keroncong, seperti cengkok ; (5) Kertoncong Toegoe sudahdianggap sebagai genre pertama aliran musik keroncong di Indonesia.Kata Kunci : Genre, Repertoar, Waditra, Ekspresi
Bangkitnya Kembali Kesenian Tradisional Rakyat sebagai Warisan Budaya Nenek Moyang di Bukit Menoreh Bhumi Sabhara Budhara (The Re-animation of the Traditional Folk Arts as the Ancestors Cultural Heritage at Bukit Menoreh Bhumi Sambhara Budhara)
Handayani, Conny
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.754
Seni Tradisional Rakyat atau Traditional Folk Arts akhir-akhir ini tidak lagipopuler di kalangan anak-anak muda. Penghambat utama adalah kemajuantehnologi media yang berupa radio, tv, video, vcd dan sebagainya. Sebagianbesar anak muda Indonesia baik di desa dan terutama di perkotaan cenderungmendengarkan/menonton program yang berbau kebarat-baratan atau musikirama dangdut yang lebih dinamis dan variatif. Namun kaum muda di daerahperbukitan Menoreh di Bhumi Sambhara Budhara tidak tergoyahkan olehkemajuan zaman maupun kemajuan tehnologi media. Mereka tetap mencintaiKesenian Tradisional Rakyat Warisan Budaya Nenek Moyangnya. Merekaterus berusaha melestarikannya, bahkan terus berkreasi danmempertahankannya tanpa mempedulikan krisis ekonomi yangberkepanjangan dan melanda pedesaan saat ini.Kata kunci: Kesenian Tradisional Rakyat, Warisan, Nenek Moyang
Musik Dangdut dan Keberadaannya di Masyarakat : Tinjauan dari Segi Sejarah dan Perkembangannya (Dangdut and Its Existence in the Society :The Review of Its History and Development )
Muttaqin, Moh.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.755
Dangdut merupakan salah satu jenis musik yang kemungkinan besarpenamaannya diduga diambil dari peniruan bunyi sepasang kendang yangdimainkan secara khusus dalam musik ini, sungguhpun dalam pekembanganselanjutnya keberadaan alat ini tidak mutlak ada dalam setiappenyajiannya. Sebagai salah satu musik yang sampai saat ini masih tetapeksis dan berkembang di tengah pencintanya dan musik jenis lainnya,secara kontekstual keberadaan musik ini setidaknya memberikan fungsisebagai hiburan bagi masyarakat pendukungnya, sementara secara tekstual,musik ini mampu beradaptasi dan berkembang seiring denganperkembangan musik lain yang ada sehingga dalam perkembangannyalahir warna-warna baru seperti disco dangdut, reggae dangdut, dangdutrock, dangdut jaipong dan lain sebagainya juga memiliki kedudukan yangsama dengan musik lain.Kata Kunci: Musik dangdut,perkembangan,fungsi,keberadaan
Permasalahan Musikal dan Lingual dalam Penerjemahan Lirik Lagu (The Musical and Linguistic Problems in Lyrics Translation)
Suharto, S.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.756
Lagu merupakan jenis musik yang memiliki unsur non-musikal yang berfungsi sangat penting yang memberi kesan tertentu bagi musiknya, yaitu lirik lagu. Syair lagu yang berupa bahasa memberikan dimensi baru dalam lagu itu sendiri. Kesan megah, agung, gembira, sedih, dll. adalah efek yang ditimbulkan saat lagu itu dinyanyikan atau diperdengarkan. Jika lagu ituditerjemahkan ke dalam bahasa lain yang berlatar budaya lain bisa mengakibatkan efek lagu menjadi berbeda terutama jika penerjemah tidak tepat dalam mencari padanannya. Hal lain yang utama adalah tentang tekanan kata pada lagu terjemahan yang sering tidak diperhatikan penerjemah. Padahal ada jenis bahasa, misalnya bahasa Inggris, yang dikenal sebagai bahasa yang berirama yang sangat memperhatikan masalah tekanan ini. Bisa kita amati bahwa lagu yang diciptakan para penutur aslisangat memperhatikan hal ini. Bagaimana dengan lagu terjemahan yang dibuat bukan penutur aslinya? Bisa terjadi lagu yang tidak memperhatikan masalah-masalah seperti di atas akan memiliki efek yang berbeda dengan lagu aslinya.
Pornografi dalam Dunia Seni Tari (Pornography in Danceââ¬â¢s World)
Pratjichno, Bambang
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.769
Pornografi dapat dipahami sebagai ekspresi perilaku secara erotis, disadariatau tidak mampu untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks (libido).Inheren dengan fenomena pornografi tersebut, dunia tari sering disinyalirsebagai bidang yang relatif dekat (implikatif) dengan pornografi. Sinyalemenatau kesan seperti itu barangkali ada benarnya karena aktivitas tari sendirimemang lekat dengan pengolahan tubuh, sehingga layak diduga mudahmemunculkan libido orang yang menikmatinya. Kelenturan gerak dan sikapyang dilakukan oleh seorang penari tidak jarang mengundang daya pesonatertentu. Namun demikian, tari tidak selayaknya dipandang sebagai suatuproduk sebuah mesin atau unsur-unsur kebendaan, melainkan harus dipandangsebagai bagian yang integral dari eksistensi manusia itu sendiri terutamamenyangkut salah satu kebutuhan dasar manusia, yakni simbol. Sebab, sangatmungkin bahwa tujuan awal orang menari bukanlah untuk menari itu sendiri,tetapi untuk memenuhi kebutuhan simbolisasi (pernyataan diri). Sebaliknya,bila kita ingin menempatkan tari sebagai objek kajian, maka harus didasarkanperspektif yang mampu menggali latar belakang dan potensi pada tari yangbersangkutan.Kata kunci: Pornografi, Etika dan Estetika.
Seni sebagai Sarana Interaksi Sosial (Art as a Tool of Social Interactions)
-, Wadiyo
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.771
Interaksi sosial merupakan kebutuhan manusia sebagai makhluk yang secarakodrati hanya bisa hidup jika berhubungan dengan orang lain. Dalam berkesenian,manusia juga memerlukan orang lain. Seni diciptakan oleh manusia sebagaibentuk ekspresi budaya dan ungkapan sosialnya. Dalam pengertian ini senidiciptakan oleh manusia tidak semata-mata hanya untuk dirinya tapi juga untukorang lain. Berapresiasi terhadap sebuah karya seni juga merupakan wujudinteraksi sosial manusia dengan benda seni ciptaan manusia meskipun interaksisosialnya mungkin masih dalam tataran kontak sosial. Berkait dengan itu untukmencapai tataran interaksi sosial yang sempurna diperlukan dua tahap syaratyang tidak bisa ditawar, yakni tahap kontak sosial dan komunikasi. Jikamengapresiasi sebuah karya seni masih dianggap sebagai kontak sosial, makauntuk ditingkatkan menjadi bentuk interaksi sosial harus lah telah ada komunikasiantara apresiator dengan pencipta seninya. Jika pencipta seni telah sadar bahwakarya seninya diapresiasi oleh orang lain dan/ atau telah terjadi aksi dan reaksiantara pencipta dengan apresiatornya, maka interaksi sosial telah terjadi.Demikian juga antara penampil seni atau penyaji seni dengan penikmat. Jika telahada aksi dan reaksi antara penampil seni dengan penikmat maka interaksi sosialitu telah terjadi. Berinteraksi sosial melalui seni tidak harus melakukan kegiatanseni bersama/ berkesenian bersama. Mengkomunikasikan produk seni antaraindividu satu dengan individu lain, Individu satu dengan sebuah kelompok atausebaliknya, serta kelompok dengan kelompok, juga merupakan bagian dari senisebagai sarana interaksi sosial.Kata kunci: Interaksi Sosial, Kontak Sosial, Komunikasi, Berkesenian, ProdukSeni.
Komputer dan Pengetahuan Program Aplikasi Musik Komputer (The Computer and Knowledge of Application Program of Komputer Music)
Widodo, Tri Wahyu
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.804
Perkembangan komputer sudah sangat pesat dimulai pada era tahun 1946 sehinggadewasa ini. Demikin pula terhadap hadware dan software musik, banyak para musisi(brainware) terbantu oleh kehadirannya dalam mengaplikasikan ide-ide kebentukaudio (wave) maupun MIDI, di mana peran komputer, hadware dan software musiksangat berperan penting dalam perkembangan era musik digital saat ini.Katakunci: Komputer, Hadware, Software Musik, MIDI dan Audio Digital.
Simbolisme Tari Lambangsih dalam Upacara Perkawinan Adat Jawa Surakarta (Lambangsih Dance Symbolism in the Wedding Javanese Traditional Ceremony of Surakarta Style)
-, Dwiyasmono
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.805
Tari lambangsih merupakan bentuk tari berpasangan yang melambangkancinta kasih dua orang berlainan jenis.Tari Lambangsih sebagai salah satu tariuntuk kepentingan ritual perkawinan.Tari berbentuk pasihan, di antara seorang lelaki dengan seorang perempuanyang menggambarkan percintaan. Tari Lambangsih sarat dengan nasehat,tergambar dalam koreografi yang ditata sedemikian rupa oleh seorang emputari Keraton Kasunanan Surakarta. Kesan yang muncul dalam tarian,memberikan nasehat yang diharapkan dapat diserap sebagai petuah yangberisi pendidikan kepada penganten disamping sebagai hiburan bagi yanghadir. Pesan yang diungkapkan dalam tarian Lambangsih dapat ditangkapoleh semua orang dengan kedalaman arti yang berbeda tergantungkecerdasan estetika penikmat seni.Kata kunci: Simbol, Tari Lambangsih, dan Koreografi.
Musik Kontemporer sebagai Media Pembelajaran Musik (Contemporer Music as Medium of Music Learning)
Retnowati, Tjut Etty
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.806
Musik kontemporer merupakan salah satu wujud sikap kreatif komponisdalam perluasan gramatika musik dari masa ke masa. Komponis masa kinidituntut untuk memiliki gaya sendiri yang khas Di dalam musikkontemporer terkandung makna-makna pendidikan yang ditransfer menjadinilai-nilai pengajaran kreatif. Hakekat pengembangan gaya-gaya baru olehseorang komponis dalam mencipta dapat ditafsirkan sebagai sebuahkegiatan trial and error bagi para siswa. Fenomena inilah dapat menjadidasar dalam proses pembelajaran musik untuk pendidikan siswa.Pembelajaran musik melalui media musik kontemporer dapat memacukreativitas siswa. Apabila proses kreatif ini bisa ditanamkan dandikembangkan kepada para siswa niscaya dapat menumbuhkan sikappercaya diri dan kemandirian pada diri siswa.Kata kunci: Musik Kontemporer, Kebebasan Individual