cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
BENTUK DAN ANALISIS MUSIK KERONCONG TANAH AIRKU KARYA KELLY PUSPITO Rachman, Abdul
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i1.2534

Abstract

Musik keroncong merupakan musik asli Indonesia karena tumbuh dan berkembang di Indonesia. Namun perkembangannya tidak sebaik jenis musik barat seperti pop, rock ataupun musik dangdut. Musik keroncong sering dianggap sebagai musik yang dikonsumsi kalangan orang tua saja karena memang peminat musik keroncong sebagian besar adalah orang tua. Seorang komponis keroncong asal Semarang yaitu Kelly Puspito tergugah untuk mengembangkan musik keroncong karena melihat musik keroncong sudah mulai ditinggalkan oleh para remaja. Kelly Puspito melakukan inovasi terhadap musik keroncong asli dengan cara mengembangkan harmonisasi atau progresi akor dengan menambahkan akor-akor yang sudah baku, melodi yang bervariasi bergerak melangkah dan melompat,  rentangan nada yang luas, ritmis bervariasi yaitu bernilai seperempatan, seperdelapanan, hingga seperenambelasan, serta interval nada yang cukup tajam baik naik maupun turun. Hal itu sesuai dengan karakteristik remaja yaitu selalu ingin berinovasi, menyukai tantangan dan ingin mencoba hal-hal yang baru. Keroncong music is an original Indonesian music since it grew and developed in Indonesia. However, its development was not as good as western music such as pop, rock, or dangdut. Keroncong music is often regarded as music consumed only by the adults since those who like the music are mostly adults. A keroncong composer from Semarang Kelly Puspito was encouraged to familiarize keroncong music since she noticed that the music has been abandoned by youngsters. Kelly has innovated the music by enhancing harmonization or accord progression by adding standard accords, more various melodies of moving forward and skipping, extensive tone stretching, variously patterned rhythmic tone by 1/4, 1/8, and even 1/16 and a sharp tone interval either ascending or descending tones. This is relevant to youngsters’ characteristics to always innovate, take challenges, and want to experiment with new things. 
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH MELALUI PENDIDIKAN SENI TRADISI Ambarwangi, Sri; Suharto, S.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i1.2535

Abstract

Indonesia adalah negara yang terdiri dari banyak budaya, karakter, etnik yang tersebar di pelosok negeri. Itulah sebabnya masyarakat Indonesia dianggap sangat plural. Keragaman budaya dengan berbagai karakter ini juga ternyata menjadi ancaman perpecahan yang disebabkan kurangnya kesadaran tentang makna keberagaman ini. Gesekan-gesekan yang berbau sara terus terjadi karena kurangnya kesadaran budaya masyarakatnya. Pelajaran seni tradisi di sekolah menengah bisa menjadi wahana pembelajaran multikultural bagi peserta didik. Pembelajaran multikultural ini penting bagi agar  mereka siap dan sadar menjadi anggota masyarakat yang plural. Indonesia is a country consisting of countless cultures, characters, ethnic groups spread in various regions. That’s why Indonesian community is very pluralistic. The diverse cultures with these considerable characters have threatened disunity caused by people’s consciousness of this diversity. The ethnic segregation and conflict have kept going because of the lack of community’s cultural awareness. Subject on tradition and art in high schools could be a medium for multicultural learning for students. This multicultural learning is important in order that they are ready and aware of being pluralistic community members.
PENGARUH BUSANA TERHADAP GERAKAN TARI OLEG TAMULILINGAN Astini, Siluh Made
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i1.2536

Abstract

Tari Oleg Tamulilingan merupakan  salah satu warisan nusantara yang muncul di pulau Bali pada tahun 1950-an. Tari ini eksis sampai sekarang karena balutan busananya yang menarik sehingga beberapa teba gerak dipengaruhi oleh balutan busana tersebut, yang memberikan kesan feminim dan maskulin. Kain yang menjulur ke belakang di sela-sela kaki kanan dan kaki kiri, rambut panjang yang berjuntai ke bawah, oncer yang bergelayut di pinggang sebelah kanan dan sebelah kiri, memberikan kesan lemah gemulainya gerakan tari.  Langkah kaki untuk bisa berjalan napak dengan tempo yang pelan dan berjalan jinjit dengan tempo yang cepat sangat dipengaruhi oleh disain kain yang menjulur ke belakang sepanjang 1 meter yang melewati di antara kaki kanan dan kaki kiri.Tari ini menggambarkan percintaan sepasang kumbang yang sedang mengisap sari atau bunga. Sepasang penari putra dan putri merealisasikan tari ini dengan balutan busana yang indah dan gerakan-gerakan yang menarik. Kedinamisan gerak dari sepasang penari  ini juga bisa dilihat dari tempo yang dimainkan seperti cepat, sedang, dan lambat. Tari ini selalu tampil di hotel-hotel atau di beberapa tempat pariwisata yang ada di Bali untuk menghibur wisatawan dan wisatawati yang berkunjung ke Bali. Oleg Tamulilingan dance is one of Indonesian archipelago heritages, which originated in Bali Island in the 1950-s. The dance has been existing up to this present. The dancers wear alluring costumes and the costumes influence the dancers’ dance movement, either feminine or masculine movement. The cloth extending backward between right and left feet, long hair elongating downward, oncer slinging round the right and left waists, giving its suave dance movement. The footsteps to walk on sole in a slow tempo and on tiptoe in a quick tempo is really influenced by cloth design extending backward of 1 meter long between the right and left feet. This dance portrays a love romance between a couple of bees, which were sucking nectars. A couple of male and female dancers communicate this dance by their appealing costumes and movement. The dynamic movement of the dancers could also be noticed from its tempo. This dance is always performed in hotels and several tourism sites in Bali to entertain visitors to Bali.
Bedah Buku: Musikus yang Berkompromi dengan Ideologi dan Berbaju Barat Suharto, S.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i1.2537

Abstract

Judul Buku: Ismail Marzuki, Musik, Tanah Air dan CintaPenulis: Teguh Esha, dkk.Pengantar: Dieter MackPenerbit: Pustaka LP3ES IndonesiaCetakan: Pertama, Agustus 2005Tebal Buku: xiii + 195 halaman
VALUE OF MORALITY IN MUSIC OF CONFUCIUS (551-479 BC) Budi Santosa, J.C.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2775

Abstract

In line with the basic concept of ”jen” and some things related to the virtue, Confucius emphasized on the maintenance of beauty and music. The emphasis of those two things illustrated the feeling of self-dualism that is morals and aesthetics. Talking about the development of one’s personality, Confucius said, ”Through the poetry one’s attention will grow, through the various rites one’s mentality will be set; through music one becomes perfect (Analects of Confucius, chapter 8, section 8). The maintenances of beauty and music were expected to be part of one’s sublime nature and human civilization, according to Confucius, maintenance and reasonable combination between the yen and the beauty was indeed necessary for the self perfection and the improvement from disgraceful deeds. Just like a house with a strong base had certainly a proportional shape; then, one with his opportunities to do well was supposed to be able to express it with deep thoughts (feelings) and with good manners. Sejalan dengan konsep dasar dari “jen” dan beberapa hal yang berkaitan dengan kebaikan, Konfusius lebih menekankan pada pemeliharaan keindahan dan musik. Dua hal penekanan itu menggambarkan perasaan dualisme akan diri pribadi yaitu moral dan estetika. Membicarakan tentang perkembangan kepribadian seseorang, Konfusius berkata, “lewat puisi perhatian seseorang akan tumbuh, lewat berbagai upacara tabiat seseorang diatur; lewat musik seseorang menjadi  sempurna (Ana¬lects of Konfusius, bab 8, seksi 8). Pemeliharaan keindahan dan musik diharapkan mampu menjadi bagian dari sifat luhur seseorang dan peradaban masyarakat menurut Konfusius, pemeliharaan dan kombinasi yang wajar antara yen dan keindahan memang perlu untuk kesempurnaan diri dan perbaikan dari sifat-sifat tercela. Seperti halnya sebuah rumah dengan pondasi (dasar) yang kuat tentu memiliki bentuk yang menyenangkan  maka seharusnya orang dengan kesempatan yang dimilikinya untuk berbuat baik mampu mengungkapkannya dengan pikiran yang mendalam (perasaan) dan dengan cara-cara yang baik).
JAROG DANCE FOR CHILDREN WITH SPECIAL Needs : Case Study in The Celebration of The International Dance Day in Surakarta Wahyu, Eko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2776

Abstract

The International Dance Day is celebrated every year as a self-expression since dances belong to the world. Jarog dance was created to facilitate children with special needs in order to celebrate the International Dance Day in Surakarta in 2013. The research method applied was data collection consisting of observation, interview and documentation. The data analysis was the narrative one by using qualitative approach. The research result shows that Jarog is a new creation dance which combines Jaranan dance and Reog dance. The main functions of Jarog dance are character education, entertainment, and self-confidence improvement. Persistent learning, special commands by beating kendhang loudly and raising hands highly in every movement change and the rhythm of the instruments supporting the dance are needed. There were internal and external factors which support and obstruct the dance performance. The internal supporting factors were motivation, identification, sympathy and audience’s interest, while the external supporting factors were the influence of the world recognition, the motto ”Solo Berseri”, and the development of technology. The obstructing internal factors were the difficulties in practicing and adapting the movement, gendhing which was memorized easily, the beats of kendhang and other instruments which should have been louder. The external obstructing factors were the time-consuming rehearsal which interfered the children’s study hours, less attention from their parents, and the poor cooperation with the supporting karawitan musicians. Hari tari dunia diperingati setiap tahun sebagai ekspresi diri karena tari dianggap sebagai milik dunia. Tari Jarog diciptakan untuk memenuhi anak berkebutuhan khusus dalam rangka merayakan hari tari dunia di Surakarta tahun 2013.  Metode penelitian meliputi pengumpulan data yang terdiri atas observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data bersifat naratip, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian yang dicapai, Jarog merupakan tari kreasi baru yang menggabungkan antara tari Jaranan dengan tari Reog. Fungsi utama tari Jarog adalah sebagai pendidikan karakter, hiburan yang menyenangkan, dan meningkatkan kepercayaan diri. Diperlukan pembelajaran yang ulet, aba-aba khusus melalui pukulan kendhang yang keras dengan angkatan tangan yang tinggi pada waktu perpindahan gerak tari serta bunyi irama instrumen sebagai pendukung tari. Terdapat faktor  yang mendukung dan menghambat dalam pentas tari, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor  internal yang mendukung adalah motivasi, identifikasi, simpati dan animo penonton dari luar. Adapun faktor eksternal yang mendukung adalah pengaruh pengakuan dunia, slogan Solo berseri, dan perkembangan teknologi. Faktor penghambat dari dari dalam antara lain kesulitan dalam berlatih dan membiasakan gerak, gendhing mudah yang dihafal, bunyi kendhang dan instrumen tertentu harus lebih keras. Faktor penghambat dari luar antara lain pada saat berlatih  menyita banyak waktu belajar, kurangnya perhatian orang tua, kerjasama dengan musik  karawitan pendukungnya.
ANALISIS KEBUTUHAN GURU SENI MUSIK DALAM KONTEKS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS ACTION LEARNING DI SEKOLAH Utomo, Udi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2777

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendiskripsikan kompetensi yang diperlukan para calon guru seni musik dalam konteks pelaksanaan pembelajaran berbasis action learning dan kendala-kendala yang dihadapinya. Artikel hasil penelitian ini merupakan temuan pada tahap kegiatan analisis konteks penelitian pengembangkan materi ajar mata kuliah keahlian Program Studi Pendidikan Seni Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Penelitian dilakukan dengan pendekatan penelitian pengembangan yang diadaptasi dari desain penelitian model spiral yang dikembangkan oleh Cennamo dan Kalk. Berdasarkan data yang diperoleh pada kegiatan analisis konteks yang terkait dengan kebutuhan yang diperlukan dalam penelitian pengembangan materi ajar mata kuliah keahlian Program Studi Pendidikan Seni Musik dalam Konteks Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Action Learning ini diperoleh informasi pentingnya beberapa hal seperti: (1) penguasaan konsep dan simbul-simbol musik yang diperoleh melalui berbagai pengalaman musikal (bernyanyi, bermain alat musik, berkreasi  musik, dan lain-lain); (2) strategi pembelajaran seni musik yang mencakup metode, kegiatan pembelajaran, dan media pendukung; (3) kemampuan memainkan alat musik pengiring seperti keyboard, piano atau gitar; dan (4) kemampuan menciptakan lagu model yang diperlukan dalam pembelajaran seni musik.This study aims to identify and describe competencies required by students of   music education in the context of action learning-based and learning constraints that their face. This article is the result of research findings in the step of context analysis of development research  of subject matter expertise, Musical Arts Education Program, Faculty of Languages and Arts, Semarang State University.  The study was conducted by the development  research approache adapted of the research model design developed by Cennamo and Kalk. Based on the data obtained in the context of analytical work related to the research needs required in the course of teaching material development expertise at Music Education Program Implementation in  the context of action learning-based is obtained the importance  information of things such as: (1) mastery of concepts and music symbols obtained through a variety of musical experiences (singing, playing musical instruments, creating music, etc.), (2) the art of music learning strategy  includes methods, learning activities, and media support, (3) the ability to play a musical instrument such as keyboards, piano or guitar , and (4) the ability to create a song model required in music learning.
MAKNA SIMBOLIK TARI BEDHAYA TUNGGAL JIWA Pebrianti, Sestri Indah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2778

Abstract

Bedhaya Tunggal Jiwa merupakan  elemen penting dalam upacara Grebeg Besar. Pada penelitian ini fenomena yang menarik untuk dikaji (1) Mengapa tari Bedhaya Tunggal Jiwa dipertunjukkan, (2) Bagaimana bentuk pertunjukan, dan (3) Apa makna simbolik yang terkandung pada tari Bedhaya Tunggal Jiwa. Di dalam memahami fenomena yang terjadi pada Bedhaya Tunggal Jiwa, penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggali berbagai data lapangan dalam menjelaskan mengenai persoalan yang terjadi. Perolehan data lapangan itu kemudian diolah dan dituliskan dengan metode deskriptif analisis dengan pendekatan etnokoreologi. Bedhaya Tunggal Jiwa merupakan salah satu unsur budaya masyarakat Demak, yang dipertunjukkan sebagai bagian dari rangkaian upacara tradisi Grebeg Besar di Kabupaten Demak. Kehadirannya sebagai kebutuhan estetis manusia serta menimbulkan keserasian manusia dan lingkungannya. Unsur yang ditampilkan pada pertunjukan Bedhaya Tunggal Jiwa terdiri dari beberapa eleman di antaranya: penari, gerak, pola lantai, musik, rias, busana, properti dan tempat pementasan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna simbolik Bedhaya Tunggal Jiwa sebagai gambaran menyatunya pejabat dengan rakyat dalam satu tempat untuk menyaksikan tari Bedhaya Tunggal Jiwa sehingga tampak sebuah kekompakkan, kedisiplinan dan kebersamaan langkah untuk menggapai cita- cita. Unsur-unsur simbolik ditunjukan pada peralatan yang digunakan dalam rangkaian upacara, tindakan yang dilakukan penari, arah dan angka,  integritas dan sosial kemasyarakatan. Makna simbolik terdapat pada gerak, pola lantai, kostum, iringan tari, dan properti yang sesuai dengan kondisi sosial budaya Kabupaten Demak. Keseluruhan menggambarkan kegiatan hubungan vertikal dan horisontal umat manusia. The Bedhaya is the important element in Grebeg Besar ceremony. In this research, the phenomenon that will be interesting to be studied are (1) Why Bedhaya Tunggal Jiwa dance is showed?, (2) How the pattern of the show is?, and (3) What the symbolic meaning of Bedhaya Tunggal Jiwa dance is?. In understanding the phenomenon happened in Bedhaya Tunggal Jiwa, this research applies the qualitative method to discover all the field data in explaining the problems occur. The result of field data, processed and written in descriptive analysis method etnokoreologi approach. That approach is done by textual and contextual analysis. The textual study, can lineout or describe in detail about the structure in Bedhaya Tunggal Jiwa dance, while the contextual study can reveal socio-cultural condition the residents in Demak regency. Bedhaya Tunggal Jiwa is one of the cultural elements in Demak society that is showed as a part of series traditional ceremony Grebeg Besar in Demak regencey. The presences human aesthetic need and also create the harmony of human and their environment. The performance of Bedhaya Tunggal Jiwa consists of several elements, including: motion, floor pettern, music, make up, clothing, properties and place of performing that overall is simple. The research result shows that Bedhaya Tunggal Jiwa is understood as teaching of life that cantains togetherness, unity and discipline to archive the useful purpose of live individually or in group. The symbolic meaning is contained in motion, floor pattern, costume, dance accompaniment, and properties that appropriate with the socio-cultural condition in Demak regency. The symbolic elements showed in the equipment that is used in the ceremonial series, the dancer actions, directions and number, integrity and social. The whole show vertical and horizontal relation activities of human being.
SEJARAH MUSIK SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN ILMIAH UNTUK BELAJAR TEORI, KOMPOSISI, DAN PRAKTIK MUSIK Martopo, Hari
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2779

Abstract

Dalam ranah pendidikan music, mata sejarah musik memiliki fungsi paling dasar dan penting sebagai pengetahuan ilmiah bagi semua mata pelajaran dan minat-minat studi yang terkait dengan bidang studi musik. Sejarah musik sangat bermanfaat untuk belajar teori-teori (musicology), atau penciptaan musik (composition), dan juga praktik-praktik vokal maupun instrumen musik (performance). Sekalipun sejarah musik penting sebagai pengetahuan ilmiah, tetapi perlu dilengkapi dengan sumber informasi tambahan antara lain pengetahuan tentang kebudayaan; sejarah filsafat; sejarah umum; perkembangan teknologi dan sains; bahkan mitologi. Artikel ini diharapkan akan dibaca dan bermanfaat bagi siapa saja terutama para pelajar musik dan juga termasuk para pengajar sejarah musik. Pembelajaran sejarah musik dapat dieksplorasi agar menjadi lebih menarik, menyenangkan, dan mencapai tujuannya yakni sebagai ilmu pengetahuan ilmiah musik. In the domain of music education — the history of music has the most basic and important function as scientific knowledge for all subjects and interests – the interests of related subjects with majors in music. It is very beneficial to learning theories (musicology), or music creation (composition), and also practices of vocals and music instruments (performance). Though it is important as scientific knowledge, but it needs to be complemented by additional information sources like knowledge of culture, the history of philosophy, public history, the development of technology and science, and even mythology. This article will hopefully be useful for anyone, especially the students and also teachers of music history. Learning music history can be explored in order to become more attractive and fun, and achieve the goal of learning; that is a source of scientific knowledge.
FUNGSI TOPENG IRENG DI KURAHAN KABUPATEN MAGELANG Hapsari, Lisa
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2780

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan kedudukan kesenian rakyat di Kurahan Kabupaten Magelang Indonesia. Topeng Ireng merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. Kehidupan seni ini tergantung masyarakat pendukungnya. Seni rakyat bisa tetap eksis apabila masyarakat masih mendukung, baik secara pasif maupun aktif. Keberadaan Topeng Ireng menjadi suatu bentuk terapi bagi masyarakat pendukungnya, terapi secara fisik maupun psikis. Ditengah arus modern yang melanda masyarakat kita dewasa ini, membuat beberapa bentuk seni rakyat semakin kabur keberadaanya. Kehidupan seni rakyat semakin memprihatinkan secara kuantitas maupun kualitas. Akan tetapi tidak sama halnya bagi masyarakat Kurahan Kabupaten Magelang. Bagi mereka kesenian Topeng Ireng menjadi sarana penyaluran ekspresi yang pada akhirnya akan berkembang terkait dengan paradigma masyarakat mengenai kesenian rakyat. Upaya-upaya pelestarian tetap dilakukan dari waktu ke waktu sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kesenian yang hidup di Kurahan Magelang ini. Pertumbuhan seni tradisi di Kurahan Magelang selalu menyertakan banyak aspek, diantaranya seniman dan masyarakat pendukungnya. The aim of this research is to show the position of folk art in Kurahan Magelang Regency.Topeng Ireng is one of the folk performing arts alive and thriving in the middle of rural communities. The survival of this art depends on the community support. Folk arts can still exist in the community that still supports, either actively or passively. The existence of Topeng Ireng can be a form of physical and psychological therapy for the community supporters. In modern life nowadays, folk arts are precisely hard to find. Its existence is increasingly concerned in quantity as well as quality. However, this condition does not occur in the society of Kurahan Magelang Regency. Here, Topeng Ireng has become a means of channeling the expression that will eventually develop along with the paradigm of society of folk art. The efforts of preserving folk arts are undertaken from time to time as a form of people’s attention toward arts existing in Kurahan, Magelang. The growth of artistic traditions in Kurahan always includes many aspects, including artists and community supporters.

Page 24 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue