cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
MAKNA GAYA BAHASA SYAIR LAGU PERJUANGAN INDONESIA PENDEKATAN TEKS DALAM KONTEKS SEJARAH H.P., F.X. Nugroho
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2219

Abstract

This research was done by comparing the texts of the three types of poems, then interpreting the meanings of nationalism according to them. Especially, the message of the language styles of the national song lyrics: Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Bhineka Tunggal Ika, Pada Pahlawan, and Bangun Pemudi Pemuda, is analyzed symbolically or poetically in the context of nationalism. From this research, some conclusions or results can be drawn. First, colonialism produces nationalism. Second, the poem Tanah Air expresses romantic nationalism which only admires the natural beauty of Sumatra. Third, the poem Aku reveals realistic nationalism which is based on the real resistance of the Indonesian people to expel the colonialist from Indonesia and reach the Independence of the Indonesian people. Fourth, the song lyrics: Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Bhineka Tunggal Ika, Pada Pahlawan, and Bangun Pemudi Pemuda communicates human nationalism which asks the whole Indonesian people to do the best for the welfare of the whole Indonesian people and country. All language styles of the song lyrics are stuck on and signify the meaning of the human nationalism. This research was done by comparing the texts of the three types of poems, then interpreting the meanings of nationalism according to them. Especially, the message of the language styles of the national song lyrics: Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Bhineka Tunggal Ika, Pada Pahlawan, and Bangun Pemudi Pemuda, is analyzed symbolically or poetically in the context of nationalism. From this research, some conclusions or results can be drawn. First, colonialism produces nationalism. Second, the poem Tanah Air expresses romantic nationalism which only admires the natural beauty of Sumatra. Third, the poem Aku reveals realistic nationalism which is based on the real resistance of the Indonesian people to expel the colonialist from Indonesia and reach the Independence of the Indonesian people. Fourth, the song lyrics: Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Bhineka Tunggal Ika, Pada Pahlawan, and Bangun Pemudi Pemuda communicate human nationalism which asks the whole Indonesian peopleto do the best for the welfare of the whole Indonesian people and country. All language styles of the song lyrics are stuck on and signify the meaning of the human nationalism.
GARAP LAKON KRESNA DHUTA DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA KAJIAN TEKTUAL SIMBOLIS -, Sudarsono
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2220

Abstract

Klimak alur ceritera lakon wayang versi Mahabarata adalah terjadinya perang besar baratayuda yang melibatkan Kurawa dan Pandawa. Sebelum perang berlangsung, Kresna menjadi duta Pandawa untuk melengkapi duta yang ketiga kalinya. Kresna mengendarai kereta Jaladara yang ditarik empat kuda yang berwarna merah, putih, hitam dan kuning, simbol kendaraan kebesaran sebagai kendaraan wisnu. Sebagai sais dipercayakan kepada Setiyaki. Ditengah perjalanan dihadang dewa Narada, Janaka, Kanwa dan Parasu. Para dewa diperintahkan Guru Dewa untuk menyaksikan perundingan antara Kresna dengan Duryudana. Setelah sampai di Astina ternyata Duryudana telah mempersiapkan banyak prajurit untuk berperang. Dalam perundingan Duryudana tidak bersedia memenuhi kewajibanya untuk mengembalikan hak bagian keluarga Pandawa tanpa diperjuangkan melalui adu kekuatan. Di Aloon-aloon Kresna telah dihadang prajurit untuk dibunuh, ternyata yang ada adalah Setiyaki. Terjadilah perang tanding antara Burisrawa melawan Setiyaki. Oleh karena gelagat akan adanya pengeroyokan, Setiyaki lari mencari Kresna. Di pendapa pasewakan terjadilah keelokan setelah Duryudana menolak permintaan Kresna. Munculah kekuatan mantram sakti Kresna yang menakutkan sehingga terjadi huru hara. Melihat gelagat yang kurang baik Narada menenteramkan Wisnu agar segera berubah kembali menjadi Kresna. Sebagai duta berarti gagal, Kresna segera kembali ke Wiratha bersama Setiyaki. Kresna melaporkan bahwa Astina sudah bersiap berperang melawan Pandawa. Story plot climax of puppet play of Mahabharata version is the great war involving Baratayuda Kurawas and Pandawas. Before the war, the Pandawas Krishna became ambassador to complement the third time. Krishna ride Jaladara fulled by four red, white, black and yellow horses vehicle , a symbol of the greatness of the vehicle as a vehicle of Vishnu. The gods instructed Guru Dewa to witness the talks between Krishna and Duryudana. After reaching Astina Duryudana apparently many soldiers have been preparing for battle. In talks Duryudana not willing to fulfill its obligations to return the part without the Pandavas fought through a power struggle. In Aloon-aloon and sisters, Krishna had been ambushed soldiers to  be killed, it turns out that there is Setiyaki. Duel ensued between Burisrawa against Setiyaki. Therefore, the existence of signs beatings, Setiyaki run for Krishna. Krishna comes the power of magic spells daunting resulting riots. Seeing unfavorable Vishnu Narada reassuring to immediately turn back into Krishna. As ambassador he felt fail, Krishna soon returned to Wiratha with Setiyaki. Krishna report that Higashi was ready to fight against the Pandawas.
PROBLEMATIKA PELAKSANAAN PENDIDIKAN SENI MUSIK DI SEKOLAH KEJURUAN NON SENI Suharto, S.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2221

Abstract

Pendidikan Seni Budaya yang termasuk kelompok pelajaran estetika memiliki tujuan khusus yang memiliki keunikan tersendiri. Dengan demikian pembelajarannya pun dapat dilakukan secara khusus. Sifat seni sang halus, indah ini diharapkan  dapat membantuk karakter siswa menjadi siswa yang apresiatif, kreatif seperti dalam proses penciptaan dan penghayatannya. Bidang garap yang berbeda ini yang tidak semata untuk mencerdaskan diharapkan dapat menunjang tujuan pendidikan secara umum, yaitu menciptakan manusia yang berbudi luhur, kreatif, dan apresiatif. Tujuan pendidikan seni yang luhur ini masih dimarginalkan di sebagian sekolah khususnya di sekolah-sekolah kejuruan non seni. Arts and culture education as one of aesthetic subjects have its specific goals and unique characteristics. Accordingly, the learning and teaching process is done in a specific way. The refined and beautiful qualities of arts are expected to shape students’ characters to be appreciative and creative in their creation and internalization. This special field, not merely made to smarten individuals is expected to support the general education goals, which is tocreate civilized, creative, and appreciative figures.
BIOLA DALAM SENI PERTUNJUKAN GANDRUNG BANYUWANGI Harmono Sejati, Irfanda Rizki
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2517

Abstract

Gandrung adalah salah satu seni pertunjukan tradisi yang cukup populer di kalangan masyarakat Banyuwangi Jawa Timur. Bentuk Gandrung merupakan perkembangan dari seni pertunjukan Seblang yang juga terdapat di Banyuwangi. Terdapat beberapa instrumen unsur-unsur gamelan yang digunakan untuk iringan musik Gandrung Banyuwangi, antara lain: kendang, ketuk, kempul, gong, kluncing (triangle), angklung, dan saron. Dalam perkembangannya, instrumen Biola dimasukkan sebagai tambahan musik iringan dalam seni pertunjukan Gandrung bersama dengan masuknya kebudayaan Barat yang dibawa pada masa kolonial  Belanda. Pola permainan instrumen Biola pada iringan Gandrung Banyuwangi mempunyai ciri khas tersendiri yang sangat berbeda dengan pola permainan instrumen biola pada musik barat. Dalam perkembangannya juga, instrumen Biola menjadi salah satu instrumen pokok pada seni karawitan Banyuwangi pada umumnya dan seni pertunjukan Gandrung pada khususnya, sehingga instrumen Biola dianggap penting dalam musik iringan seni pertunjukan Gandrung. Adapun fokus penelitian dalam penulisan ini mengulas instrumen Biola dalam seni pertunjukan Gandrung, antara lain: (1) latar belakang dan bentuk penyajian kesenian Gandrung Banyuwangi, (2) teknis permainan biola pada seni pertunjukan Gandrung Banyuwangi, dan (3) fungsi atau kegunaan pemain biola  pada seni pertunjukan Gandrung Banyuwangi Gandrung is one of popular traditional performance arts among Banyuwangi people at East Java. The form is a modification of Seblang performance art, which is popular at Banyuwangi. Among several musical instruments used in Gandrung include kendang, ketuk, kempul, gong, kluncing (triangle), angklung, and saron. In its following performances, violin was included as additional musical accompaniment in Gandrung along with the incoming western culture brought by the Dutch colonialists. The pattern of violin instrument has its own typical features different from that of western violin musical performance. In the following times, violin becomes one of core instruments in Banyuwangi musical performance in common and Gandrung performance art in particular, so that it is considered being important in Gandrung music accompaniment. The focus of the research includes (1) background and form of Gandrung musical performance at Banyuwangi, (2) techniques of violin performance in Gandrung, Banyuwangi, (3) function or use of violinists in Gandrung performance art, Banyuwangi.
TARI SESAJI PANGENTAS BILAHI SUDRA TINGAL -, Darmasti
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2518

Abstract

Tari sesaji Pangentas Bilahi ‘Sudra Tingal’ merupakan garapan baru yang ditarikan oleh sembilan penari putri. Gerak tari sesaji mengacu para tari bedhaya. Struktur tari sesaji dibagi menjadi tiga bagian yaitu maju beksan, beksan, dan mundur beksan.  Pada maju beksan penari bergerak dari pinggir menuju gawang pokok ke tengah Pedhapa Agung dengan pola gerak kapang-kapang, diiringi dengan Pathetan Vokal Putra Laras Pelog Nem  dan iringan beberapa intrumen gamelan berupa gender, rebab, gambang dan suling. Syair cakepan Pathetan digunakan untuk menggambarkan memuja ke agungan yang Maha Kuasa. Beksan pokok terdiri dari tujuh kesatuan gerak dengan berbagai garap iringan musikal seperti penggarapan gendhing Sekaten, Demung  Imbal merupakan penggambaran konflik batin antara situasi dan suasana yang terjadi. Gerak beksan pokok merupakan penggambaran tentang segala usaha manusia dalam mendekatkan diri kepada Sang penguasa Jagad Raya. Mundur beksan penari berjalan perlahan dengan pola gerak kapang-kapang dari Pendhapa Agung keluar arena pentas, dengan iringan gending ladrangan, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tari dipentaskan dalam rangka wisuda sarjana seni dan magister seni Institut seni Indonesia Surakarta yang ke empat puluh enam. Sesaji Pangentas Bilahi Sudra Tingal dance is a new performance, performed by nine female dancers. The movement of Sesaji dance resembles that of Bedhaya dance. The structure of Sesaji dance consists of three parts, namely maju beksan, beksan, and mundur beksan. In maju beksan, the dancers move from the edge to central hurdle to middle Pendhapa Agung (Grand Ballroom) in Kapang-Kapang movement pattern, accompanied by Pathetan Vokal Putra Laras Pelog Nem  and traditional musical instruments such as gender, rebab, gambang and suling (bamboo flute). Cakepan Pathetan lyric is used to express the worship of God Almighty. Beksan Pokok consists of seven movement unity with several musical accompaniments such as gendhing sekaten, demung imbal to portray an inner conflict between outer situation and one’s inner atmosphere. The movement of main beksan is a description about human’s effort in coming closer to God Almighty. In Mundur beksan, dancers walk slowly in Kapang-Kapang movement pattern out of Pendhapa Agung to performance stage, accompanied by ladrangan gending, as a gratitude to God Almighty. The dance is performed in commemoration of the 46th graduation ceremony of Indonesian Arts Institute, Surakarta.
PEMBELAJARAN ANGKLUNG MENGGUNAKAN METODE BELAJAR SAMBIL BERMAIN Kartika Putri, Diah Rizky
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2519

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kegiatan pembelajaran angklung untuk anak usia dini di TK Negeri Pembina Kota Tegal yang merupakan hal baru untuk anak usia dini. Oleh karena itu, guru harus memberikan metode pembelajaran yang menarik dan mempermudah anak dalam belajar alat musik tradisional angklung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui strategi pembelajaran angklung, kemudahan, dan kerugian pengunaan metode belajar sambil bermain dalam pembelajaran angklung untuk anak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan, menguraikan, dan menggambarkan masalah yang dikaji. Hasil Penelitian menunujukkan bahwa pe-nerapan pembelajaran angklung dengan menggunakan metode belajar sambil bermain adalah strategi yang efektif untuk menarik minat anak usia dini dalam belajar angklung.  This research is based on angklung learning activities for children at Public Kindergarten, Tegal as a new program for kindergarten children. Therefore, teachers should give an interesting and simple learning method to children to learn traditional angklung music. The goal of this research is to find out learning strategies in angklung playing, feasibility, and disadvantages of using the learning method. The approach used in this research is descriptive qualitative approach, by describing and explaining the problems. The finding shows that the use of angklung learning by using this method is an effective strategy to attract children in learning angklung.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MUSIK UNTUK MENGEMBANGKAN MENTAL DAN PSIKOMOTORIK ANAK PENDERITA DOWN SYNDROM Ardina, Mayliza Defly
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2520

Abstract

Pembelajaran musik berfungsi sebagai pembentuk mental dan fisik anak down syndrom di Balai BesarRehabilitasi Sosial Bina Grahita “Kartini” Temanggung.Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui bagaimana implementasi Pembelajaran musik yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi untuk mengembangkan mental dan psikomotorik anak penderita down syndrom di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita “Kartini” Temanggung. (2) Mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat apa saja yang ada dalam rangka mengembangkan mental dan psikomotorik anak penderita down syndrom. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan reduksi data, penyajian data dan kemudian penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran musik mampu mengembangkan mental dan psikomotorik anak penderita down syndrom dengan cara memberikan alat musik ritmis dan memperdengarkan jenis aliran musim beragam seperti pop, rock, jazz, klasik, terutama musik beraliran dangdut yang sangat diminati anak.Music learning has functions to shape mental and physical condition of the children with Down’s syndrome in the rehabilitation center. The goals of this research are (a) to find out how the implementation of music learning includes planning, implementation and evaluation to develop mental and psychomotor aptitude of children with Down’s syndrome in the rehabilitation centre, Temanggung, (2) to find out what supportive and inhibitive factors are existing in order to develop mental and psychomotor aptitude of children with Down’s syndrome.The method used in this research is qualitative method data, which was collected by means of participant’s observation technique, interview, and documentation. The obtained data was analyzed by means of data reduction, data presentation and then conclusion drawing, verification. The finding shows that music learning could enhance mental and psychomotor aptitude of children with Down’s syndrome by giving them rhythmic musical instruments and introducing them with various music genres such as pop, rock, jazz, classic, even more so to dangdut music that attract adults as well as children.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGGAMBAR BEBAS SISWA B1 MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN PEMBERIAN MOTIVASI Widiyastuti, Endang
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2521

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan mendeskripsikan strategi pembelajaran ”pemberian motivasi” bercerita/berdialog untuk membangkitkan perhatian dan merangsang lahirnya motif yang dapat dijadikan dasar dalam berkarya; serta strategi pembelajaran ”pemberian motivasi” tiga cara untuk meningkatkan kualitas hasil kemampuan menggambar bebas pada peserta didik. Penelitian tindakan kelas dilakukan dalam 3 siklus. Teknik pengumpulan data dengan observasi partisipasif; wawancara informal secara mendalam terhadap guru; dan kumpulan karya (portofolio kerja) peserta didik. Uji Validitas Data digunakan triangulasi sumber data, triangulasi metode, dan diskusi bersama guru dengan peneliti untuk membahas kemajuan yang telah dicapai. Hasil  penelitian menunjukkan hasil: a). Strategi pembelajaran pemberian motivasi melalui bercerita/berdialog yang dirancang lebih atraktif dan menarik dapat membangkitkan perhatian dan rangsangan lahirnya motif yang dapat dijadikan dasar dalam berkarya (kegiatan menggambar bebas) pada peserta didik. b). Strategi pembelajaran ”pemberian motivasi” dinyatakan dapat meningkatkan penguasaan peserta didik akan teknik, bahan/alat, dan mengenalkan warna dalam kegiatan menggambar bebas, serta meningkatkan kualitas hasil kemampuan menggambar bebas peserta didik. The goals of this research are to find out, identify, and describe learning strategy of “motivation rewarding” in retelling/making dialogs to evoke students’ attention and stimulate their motives for drawing; and to use three ways of “motivation rewarding” to develop their aptitude in a free drawing. The action research was conducted in three cycles. Techniques of collecting data were implemented by participatory observation; a thorough informal interview with teachers; and students’ portofolio. Data validity test used data source triangulation, method triangulation, and discussion with teachers and researchers to evaluate the achieved progress. The findings show: (a) Learning strategy of motivation rewarding through a more attractively designed retelling/making dialogs could evoke students’ attention and stimulate their motives to make free drawings; (b) Learning strategy of motivation rewarding could improve students’ mastery of techniques, materials/tools, and colors in free drawing activity, and enhance the quality of their free drawing aptitude.
PEMBELAJARAN BERBASIS ANAK DALAM PENGEMBANGAN BIDANG SENI (RUPA) DI PAUD BATIK DAN PAUD SABITUL AZMI SIDOARJO Khotimah, Nurul
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2522

Abstract

Pembelajarannya berbasis anak adalah pembelajaran yang diterapkan di sekolah berdasarkan kebutuhan anak, berorientasi pada perkembangan anak, bermain sambil belajar, pengajaran berpusat pada anak, PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan). Penelitian ini  menggunakan pendekatan  kualitatif, studi komparatif yaitu studi perbandingan  diusahakan untuk menemukan persamaan dan  perbedaan  kualitas pembelajaran pengembangan bidang seni (rupa) di PAUD Batik dan PAUD Sabitul Azmi Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran di PAUD Batik dan PAUD Sabitul Azmi Sidoarjo berbasis anak, pembelajaran  mengacu pada kurikulum Diknas dan kurikulum Depag yang terintregasi pada menu pembelajaran generik dengan metode BCCT dalam pengembangan bidang seni (rupa) melalui menggambar sederhana, mewarnai sederhana, dan menciptakan sesuatu dengan berbagai media dengan pendekatan ekspresi anak. Kegiatannya dilakukan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan menghasilkan karya anak. Kelebihan pembelajaran berbasis Anak di antaranya: mengutamakan kebebasan anak, sesuai ekspresi anak, dan menghasilkan karya sesuai keinginan anak, serta meningkatkan aktivitas anak. Child-based learning is applied at pre-kindergartens based on children’s needs; it is child development-oriented and children-centered, which enables them to play and learn so that it is often referred to one motto PAKEM (an Indonesia abbreviation, which means being active, creative, affective, and fun learning). This research used qualitative approach, comparative study to find out similarity and difference of learning quality in the two pre-kindergartens. The findings show that the learning in the two pre-kindergartens refer to National Education Curriculum and Department of Religion Curriculum integrated in generic learning menu with BCCT method in art development through simple drawing, coloring, and creating a craft with various media for children’s expression. The activity began with planning, implementation, and children’s products. The advantages of this learning method are that this method prioritizes children freedom, enables them to show their expression and increases their creativity.
MODEL PENGEMBANGAN NASKAH AUDIO LAGU UNTUK MELATIH PENCAPAIAN PERKEMBANGAN MUSIK PADA ANAK USIA 4 - 6 TAHUN Wulandari, Rina
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2523

Abstract

Masalah dalam penelitian adalah belum adanya model pengembangan media audio untuk melatih pencapaian perkembangan bermain musik di Kelompok Bermain. Berdasarkan masalah yang ada maka rumusan masalah penelitian yaitu bagaimanakah model pengembangan media audio yang dapat melatih pencapaian perkembangan bermain musik anak usia Kelompok Bermain. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengetahui model pengembangan media audio yang dapat melatih pencapaian perkembangan bermain musik anak usia Kelompok Bermain. Model pengembangan produk media dikhususkan untuk menentukan langkah-langkah maupun jenis kegiatan dari analisis kebutuhan, desain, pengembangan, evaluasi, dan implementasi produk penelitian ini. The problem dealt with in this research is the absence of audio media development model used to elicit children’s musical aptitude in a play group. Accordingly, the problem formulated in this research is how the development model of audio media could improve children’s musical aptitude. The goal of this research is to find out how the development model of audio media could improve the children’s musical aptitude. This model is specified to determine stages as well as kinds of activities in terms of need analysis, design, aptitude development, evaluation, and implementation of the research product.

Page 22 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue