cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
Puppet Visual Adaptation on Playing Cards as Educational Media Wiyoso, Joko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 16, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v16i2.5816

Abstract

This study aims at presenting an effective media in a form of puppet picture playing cards as a means to introduce traditional puppet to the society. Research and Development (RD) was chosen as the method to develop the playing cards. Results were presented in a form of the design of puppet picture playing cards as many as 54 cards as well as 54 puppet characters as the background pictures. The design of the playing cards is adjusted to the common playing cards which are distributed widely in the society, including both the sizes and symbols, like the pictures of spade, heart, diamond, and club. In detail, the design comprises: (1) the size of playing cards which is 6 cm width of the upper and lower sides and 9 cm length for the left and right sides. (2) The playing cards’ background is in a bright color so does the puppet picture on the card can be seen clearly.
IMPLEMENTASI METODE PENDEKATAN KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN PADUAN SUARA
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2524

Abstract

Pendekatan pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran yang diduga berpengaruh terhadap baik buruknya hasil pembelajaran kelak. Peran pembimbing ataupun pelatih dalam suatu kegiatan non formal seperti ekstrakulikuler paduan suara menggunakan pendekatan dalam pembelajaran yang tepat kepada siswa yang mengikuti agar dapat mencapai tujuan secara efektif, efisien, dan kondusif sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler paduan di SMP N 2 Kendal pelatih menggunakan metode yang efektif yaitu metode pendekatan kognitif. Hasil penelitian menyatakan bahwa penerapan atau aplikasi metode pendekatan kognitif dalam pembelajaran ekstrakulikuler paduan suara di SMP N 2 Kendal adalah melalui tahapan–tahapan seperti, (1) persepsi, (2) perhatian, (3) bahasa, (4) materi pembelajaran ekstrakulikuler paduan suara, (5) ingatan, (6) imajeri, (7) penalaran, dan (8) pemecahan masalah. Learning approach is one of important components in learning process since it will influence on the results of the following learning. The role of supervisor or trainer in a non-formal activity such as extracurricular choirs should take an appropriate learning approach into account so that students would grasp the learning effectively, efficiently, and conducively as it is expected. In the choir extracurricular learning activity at Public Junior High School 2 Kendal, a trainer used a cognitive approach method. The result shows that the use or application of the approach was conducted through stages including (1) Perception, (2) Attention, (3) Language, (4) Choir extracurricular learning material, (5) Memory, (6) Imagery, (7) Reasoning, (8) Problem Solving.
PERANAN PEMBELAJARAN SENI TARI DALAM PEMBENTUKAN KREATIVITAS ANAK TK ( KAJIAN MULTIDIMENSIONAL) The Role Of Dance Teaching To Form Kindergarten Students Creativity (The Study Of Dimensional)
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v3i2.691

Abstract

Tujuan Pendidikan kesenian terutama pendidikan seni tari di Taman Kanak-kanak, adalah agar anak TK memiliki pengetahuan, nilai dan sikap serta keterampilan yang memadai sesuai dengan tingkat perkembangannya. Melalui penbelajaran seni tari anak TK diharapkan mampu mengungkapkan ide-idenya, imajinasinya, dan fantasinya secara kreatif. Untuk mencapai tujuan pendidikan kesenian dibutuhkan pendidikan seni yang merupakan inti kemampuan di bidang seni dalam mewujudkan kreativitas anak pada usia dini. Peran pendidikan seni yang bersifat multidimensional pada dasarnya dapat dimanfaatkan untuk pembentukan kreativitas anak TK. Pendekatan yang digunakan adalah belajar dengan seni, belajar melalui seni, serta belajar tentang seni. Kata Kunci : Kreativitas, imajinasi, fantasi, multidimensional,  pembelajaran, TK.
Refleksi Teori Kritik Seni Holistik : sebuah Pendekatan Alternatif dalam Penelitian Kualitatif bagi Mahasiswa Seni (Reflection on Art Criticism and Holistic Art Criticism : an Alternative Approach of Qualitative Research for Art Students)
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i1.803

Abstract

Kritik seni sudah lama dikenal dalam dalam dunia seni maupun sastra. Dalam dunia pendidikan maupun penelitian pun sudah banyak diterapkan. Walaupun semula, seperti sifatnya yang evaluatif, pendekatan kritik seni digunakan untuk penelitian evaluatif, namun dalam perkembangannya dapat digunakan untuk jenis penelitian lainnya baik  penelitian dasar maupun terapan karena sebenarnya dalam pendekatan ini ada aspek deskriptif, interpretatif, dan aspek evaluatif. Pendekatan kritik seni yang dalam analisisnya menggunakan tiga faktor seperti faktor genetik, objektif, dan afektif dapat memecahkan masalah penelitian secara komprehensip seperti sifat penelitian kualitatif yang fenomenologis dan hermeneutik. Sifatnya yang lentur, pendekatan ini dirasa sangat aplikatif untuk penelitian-penelitian pada umumnya lebih khusus lagi untuk penelitian dalam cabang ilmu humaniora.
Permasalahan Musikal dan Lingual dalam Penerjemahan Lirik Lagu (The Musical and Linguistic Problems in Lyrics Translation)
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.756

Abstract

Lagu merupakan jenis musik yang memiliki unsur non-musikal yang berfungsi sangat penting yang memberi kesan tertentu bagi musiknya, yaitu lirik lagu. Syair lagu yang berupa bahasa memberikan dimensi baru dalam lagu itu sendiri. Kesan megah, agung, gembira, sedih, dll. adalah efek yang ditimbulkan saat lagu itu dinyanyikan atau diperdengarkan. Jika lagu ituditerjemahkan ke dalam bahasa lain yang berlatar budaya lain bisa mengakibatkan efek lagu menjadi berbeda terutama jika penerjemah tidak tepat dalam mencari padanannya. Hal lain yang utama adalah tentang tekanan kata pada lagu terjemahan yang sering tidak diperhatikan penerjemah. Padahal ada jenis bahasa, misalnya bahasa Inggris, yang dikenal sebagai bahasa yang berirama yang sangat memperhatikan masalah tekanan ini. Bisa kita amati bahwa lagu yang diciptakan para penutur aslisangat memperhatikan hal ini. Bagaimana dengan lagu  terjemahan yang dibuat bukan penutur aslinya? Bisa terjadi lagu yang tidak memperhatikan masalah-masalah seperti di atas akan memiliki efek yang berbeda dengan lagu aslinya.
CITRA WANITA DALAM PERTUNJUKAN KESENIAN TAYUB (THE WOMAN IMAGE IN THE TAYUB ART PERFORMANCE)
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.725

Abstract

Kesenian tayub merupakan seni tari tradisional yang sampai sekarang masih banyak diminati oleh masyarakat di Kabupaten Blora. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana citra wanita dalam pertunjukan kesenian tayub serta upaya apa sajakah yang bisa dilakukan untuk mengangkat kedudukan citra wanita dalam pertunjukan kesenian tayub. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode kualitatif. Lokasi penelitian di desa Padaan kecamatan Japah dan di kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi serta dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis gender Hasil penelitian menunjukkan Citra wanita dalam pertunjukan kesenian tayub adalah wanita dianggap sebagai pemuas laki-laki. Kedudukan seorang penari atau joged dalam pertunjukan tayub merupakan daya tarik yang sangat kuat, karena bagi masyarakat sebagai penonton dan sekaligus sebagai penayub dan pengjuyub, menganggap seorang joged merupakan obyek penghibur dan pemuas serta sebagai obat pelepas lelah setelah seharian bekerja. Upaya-upaya yang ditempuh untuk mengangkat citra wanita dalam pertunjukkan kesenian tayub adalah: misalnya dengan dikeluarkan kebijakan baru dari Pemda bahwa: (a) ada aturan yang mengatur tentang pembatasan jam. (b) Pengatur jarak antara joged dan penayub. (c) tidak diperbolehkan memakai minum-minuman keras yang beralkohol. (d) bagi penayub harus bertindak sopan terhadap jogednya Upaya-upaya yang yang lain adalah dari diri si joged itu sendiri,yaitu dengan membentengi dirinya sendiri dari hal-hal yang berakibat negatif, misalnya selalu berhati-hati dalam bertindak. Selalu waspada dan membatasi diri, dan yang lebih penting adalah mempertebal rasa keimanan. Sedangkan dalam hal berbusana (memakai kostum) hendaknya yang sopan dan tertutup.Kata Kunci: Citra Wanita, Pertunjukan, Kesenian Tayub.
Adaptation of The Wiruncana Murca Play in The Wayang Topeng Jatiduwur (Jatiduwur Mask Puppet) Jombang Performance
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 20, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v20i1.24807

Abstract

Wiruncana Murca play is the only Panji play in the Mask Puppet Performance in Jatiduwur Jombang which still performances its dramatic structure after the Mask Puppet is extinct. Wiruncana Murca play in the Wayang Topeng Jatiduwur Performance in the past was used for nadzar rituals. When the Mask Puppet was rebuilt, the Wiruncana Murca play was performed in a different context, the Panji Festival. This study aims to analyze the transformation process of the Wiruncana Murca play with an adaptation approach. The scope of this research includes text and context. The research method is descriptive qualitative analytical. The data collection used is observation, interview, and document study. The analysis uses an analytical descriptive method. The results performance that the adaptation of Wiruncana Murca in the Wayang Topeng Jatiduwur performance was carried out because there was a different contextuality from the ritual cultural context of the Jatiduwur village community to the context of the National Panji Festival performance in 2017 in Kediri. The transformation was carried out by the stages of identification of story ideas, the embodiment of the text, the embodiment of the dramaturgy, and staging. Adaptation to the process of intellectual transformation is based on a new contextual approach using fidelity or maintaining the originality of the source. The original uniqueness of the existing art is still used as a source of inspiration or a source of reference used as material to develop new performance products. The adaptation of the Wiruncana Murca play in the context of the Wayang Topeng Jatiduwur performance at the 2017 National Panji Festival performances the creative process of mask artists. While the result is a manifestation of a new product from Mask Puppet in Jatiduwur Jombang.
The Tryout of Dance Teaching Media in Public School in The Context of Appreciation and Creation Learning Malarsih, Malarsih
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 16, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v16i1.4561

Abstract

Dance learning through appreciation and creation approach is considered important in public school. This study is aiming at realizing dance media to be used as a tool to educate students as formulated in the school curriculum. Specific target to be accomplished in this study is the realization of dance learning media as one of appreciation and creation educational tool in public school. Further, this study employed developmental research method. The tryout of the product was done to measure the effectivity and creativity of students while the media is implemented in dance learning. The product’s trial result showed that the use of dance learning media that was designed specifically for appreciation and creation approach has succesfully driven the students to be more active and creative. Teacher assistant was less needed by students whenever they have problems related to the dance learning.How to Cite: Malarsih. (2016). The Tryout of Dance Teaching Media in Public School in The Context of Appreciation and Creation Learning. Harmonia: Journal of Arts Research And Education, 16(1), 95-102. doi:http://dx.doi.org/10.15294/harmonia.v16i1.4561
GARAP LAKON KRESNA DHUTA DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA KAJIAN TEKTUAL SIMBOLIS
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2220

Abstract

Klimak alur ceritera lakon wayang versi Mahabarata adalah terjadinya perang besar baratayuda yang melibatkan Kurawa dan Pandawa. Sebelum perang berlangsung, Kresna menjadi duta Pandawa untuk melengkapi duta yang ketiga kalinya. Kresna mengendarai kereta Jaladara yang ditarik empat kuda yang berwarna merah, putih, hitam dan kuning, simbol kendaraan kebesaran sebagai kendaraan wisnu. Sebagai sais dipercayakan kepada Setiyaki. Ditengah perjalanan dihadang dewa Narada, Janaka, Kanwa dan Parasu. Para dewa diperintahkan Guru Dewa untuk menyaksikan perundingan antara Kresna dengan Duryudana. Setelah sampai di Astina ternyata Duryudana telah mempersiapkan banyak prajurit untuk berperang. Dalam perundingan Duryudana tidak bersedia memenuhi kewajibanya untuk mengembalikan hak bagian keluarga Pandawa tanpa diperjuangkan melalui adu kekuatan. Di Aloon-aloon Kresna telah dihadang prajurit untuk dibunuh, ternyata yang ada adalah Setiyaki. Terjadilah perang tanding antara Burisrawa melawan Setiyaki. Oleh karena gelagat akan adanya pengeroyokan, Setiyaki lari mencari Kresna. Di pendapa pasewakan terjadilah keelokan setelah Duryudana menolak permintaan Kresna. Munculah kekuatan mantram sakti Kresna yang menakutkan sehingga terjadi huru hara. Melihat gelagat yang kurang baik Narada menenteramkan Wisnu agar segera berubah kembali menjadi Kresna. Sebagai duta berarti gagal, Kresna segera kembali ke Wiratha bersama Setiyaki. Kresna melaporkan bahwa Astina sudah bersiap berperang melawan Pandawa. Story plot climax of puppet play of Mahabharata version is the great war involving Baratayuda Kurawas and Pandawas. Before the war, the Pandawas Krishna became ambassador to complement the third time. Krishna ride Jaladara fulled by four red, white, black and yellow horses vehicle , a symbol of the greatness of the vehicle as a vehicle of Vishnu. The gods instructed Guru Dewa to witness the talks between Krishna and Duryudana. After reaching Astina Duryudana apparently many soldiers have been preparing for battle. In talks Duryudana not willing to fulfill its obligations to return the part without the Pandavas fought through a power struggle. In Aloon-aloon and sisters, Krishna had been ambushed soldiers to  be killed, it turns out that there is Setiyaki. Duel ensued between Burisrawa against Setiyaki. Therefore, the existence of signs beatings, Setiyaki run for Krishna. Krishna comes the power of magic spells daunting resulting riots. Seeing unfavorable Vishnu Narada reassuring to immediately turn back into Krishna. As ambassador he felt fail, Krishna soon returned to Wiratha with Setiyaki. Krishna report that Higashi was ready to fight against the Pandawas.
FUNGSI JANGGRUNG DALAM UPACARA NYADRAN DI PANTAI SLILI TEPUS GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v9i1.676

Abstract

The research problems are about Nyadran ceremonial processes, functions of Janggrung in thatceremony, and special musics in Janggrung offbeat. Results and discussions: (1) Nyadranceremony can be concluded in ritual ceremony since day, time, place, head, and congregationchosen by Janggrung performance. (2) In Nyadran ceremony, Janggrung functioned as anemotional expression, an entertainment, means of communication, a symbolic representation, aphysical response, a legalization of social and ritual religion organization, to keep continuity ofculture, and as a prop of social integration. Moreover, Janggrung also functioned as extrication ofone’s vow. Janggrung dancers (tledhek) who functioned in nyadran ceremony have severalprohibition that cannot be broken, that is one of those dancers must be a virgin. (3) There are fivespecial music to accompany Janggrung those are Lung Gandhung, Sekar Gandhung, KinanthiSandhung (called Kinanti Boyong by door-keeper), Cangklek and Kebogiro Gangsaran. The Beatthat accompanies Janggrung is Javanese barreled orchestra Slendro without using garap ngajenginstrument. It is because there is no need to present lirihan instrument in Janggrung performanceinstrumentation.Kata Kunci: fungsi janggrung, upacara nyadran, fungsi gending

Page 90 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue