cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
PENINGKATAN MOTIVASI KERJA PADA FRESH GRADUATE MELALUI PEMBENTUKAN MOTIVATIONAL CLIMATE Kadiyono, Anissa Lestari; Nur Annisa, Siti Fauziah
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17485

Abstract

Abstrak. Upaya untuk meningkatkan motivasi pada pegawai baru dapat dilakukan dengan membentuk iklim dalam organisasi yang memotivasi. Situasi organisasi menjadi salah satu hal yang penting untuk menciptakan kinerja yang maksimal bagi pegawai. Persepsi pegawai mengenai situasi lingkungan kerja yang ditekankan melalui kebijakan, penerapan dan prosedur yang akan memunculkan kriteria mengenai keberhasilan dan kegagalan, selanjutnya akan memprediksi hasil kerja pegawai dikenal dengan namamotivational climate.Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran motivational climate pada pegawai baru dalam organisasi yang baru terbentuk yang terdiri dari dua dimensi motivational climate yaitu, mastery climate dan performance climate. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik stratified random sampling, melibatkan pegawai baru pada perusahaan baru di Pangandaran, Jawa Barat sejumlah 90 orang. Pengambilan data menggunakan Motivational Climateat Work Questionnaire (MCWQ)yang diadaptasi dari Nerstad, Roberts, & Richardsen (2013). Rancangan penelitian ini menggunakan non-eksperimental kuantitatif. Hasil dari penelitian menggambarkan bahwamotivational climate yang terdapat pada organisasi berada pada kategori favorable. Hal tersebut menunjukkan bahwa persepsi pegawai baru terhadap kebijakan, penerapan dan prosedur dalam perusahaan sudah mendukung pegawai baru tersebut dalam mencapai tujuannya dan dapat meningkatkan motivasi kerja mereka. Abstract. An Efforts to improve motivation in new employees can be done by creating a motivation climate at organization.The situation of the Organization become one of the things that are important to creates maximum performance for the employees. Employees perceptions about the situation of the working environment who emphasized through of policy, practices and procedures that will bring up the criteria regarding the successes and failures, will predict the results of the work of employees is motivational climate. The purpose of this research was to get a description of motivational climate on fresh graduate employees in new organization at Pangandaran West Java. Sampling techniques of the research was stratified random sampling techniques at 90 fresh graduate employees. The data retrieval used the Motivational Climate at Work Questionnaire (MCWQ) from Nerstad, Roberts, & Richardsen (2013). The design of these studies used non-experimental quantitative. The results of this study shows that the motivational climate in the organization is in the favorable category. Fresh graduate employee‟s perception in new organization service towards policy, application and procedure has supported new employee in reaching their goal and can improve their work motivation.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN SELF COMPASSION REMAJA DI PANTI ASUHAN Nafisah, Afifatun; Hendriyani, Rulita; Martiarini, Nuke
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17494

Abstract

Abstrak. Self compassion merupakan kemampuan untuk berbelas kasih pada diri sendiri, tanpa kemampuan itu individu mungkin tidak siap untuk berbelas kasih pada orang lain. Proses dalam keluarga seperti dukungan keluarga akan berkontribusi menumbuhkan self-compassion. Pada kenyataannya, banyak anak-anak harus ditempatkan di  panti asuhan untuk dapat memenuhi kebutuhan. Remaja di panti asuhan memiliki self compassion di mana tidak meyakini bahwa di dalam dirinya memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan, belum dapat belajar memahami kondisi keluarga, menganggap orang lain lebih bahagia, masih berandai-andai jika keluarga berkumpul, merasa sendirian. Memiliki sikap belas kasih terhadap diri sendiri bisa menjadi awal dalam mengatasi segala emosi negatif yang dirasakan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan self compassion remaja di panti asuhan. Penelitian ini menggunakan penelitian korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja yang terdapat di yayasan panti asuhan desa Sadeng kecamatan Gunungpati. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling atau penelitian populasi dengan jumlah populasi sebanyak 95 subjek. Dukungan keluarga diukur menggunakan skala dukungan keluarga yang terdiri dari 37 item dan self compassion diukur menggunakan skala self compassion  yang berjumlah 25 item. Analisis validitas menggunakan product moment dimana instrument skala dukungan keluarga dinyatakan valid dengan koefisien validitas tertinggi sebesar 0,831 dan terendah sebesar 0,203. Validitas tertinggi pada skala self compassion sebesar 0,920 dan terendah sebesar 0,290. Koefisien reliabilitas skala dukungan keluarga sebesar 0,959 dan koefisien reliabilitas skala self compassion sebesar 0,760. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara dukungan keluarga dengan self compassion remaja yang artinya jika dukungan keluarga pada kategori tinggi maka self compassion berada pada kategori tinggi. Hasil ini dapat dilihat berdasarkan analisis korelasi Product Moment yang menunjukkan bahwa nilai r = 0,205 dengan nilai signifikansi atau p = 0,046. Peneliti menyimpulkan bahwa hipotesis kerja yang berbunyi “ada hubungan positif antara dukungan keluarga dengan self compassion remaja”, diterima.  Abstract. Self compassion is the ability to be compassionate to oneself, without that ability individuals may not be ready to be compassionate to others. The process in the family such as family support will contribute to fostering self-compassion. In fact, many children must be placed in an orphanage to meet needs. Teenagers in orphanages have self-compassion where they do not believe that they have something to be proud of in themselves, have not been able to learn to understand family conditions, consider other people happier, still imagine if the family gathers, feels alone. Having a compassionate attitude towards yourself can be the beginning in overcoming any negative emotions that are felt. The purpose of this study was to determine the relationship of family support with adolescent self-compassion in orphanages. This study uses correlational research. The population in this study were all teenagers found in Sadeng village orphanage in Gunungpati district. This study uses a total sampling technique or population research with a population of 95 subjects. Family support was measured using a family support scale consisting of 37 items and self compassion was measured using a self-compassion scale totaling 25 items. Validity analysis uses a product moment where the family support scale instrument is declared valid with the highest validity coefficient of 0.831 and the lowest is 0.203. The highest validity on the self-compassion scale is 0.920 and the lowest is 0.290. The reliability coefficient of family support scale is 0.959 and the reliability coefficient of self compassion scale is 0.760. The results in this study indicate that there is a positive relationship between family support with adolescent self-compassion which means that if family support is in the high category, self-compassion is in the high category. This result can be seen based on the Product Moment correlation analysis which shows that the value of r = 0.205 with a significance value or p = 0.046. The researcher concluded that the working hypothesis which reads "there is a positive relationship between the support of a family with adolescent self-compassion", is accepted.  
PERBEDAAN INTENSI TURNOVERDITINJAU DARI MASA KERJA DENGAN MENGENDALIKAN ADVERSITY QUOTIENT DI PERUSAHAAN “X” (DIFFERENCE OF TURNOVER INTENTION BASED EMPLOYEE WORK PERIOD CONTROLLEDBY ADVERSITY QUOTIENT IN COMPANY “X”) Dianriasning, Elysa
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17487

Abstract

Abstrak. Turnovermerupakansatuhal yang dicegah ataupun diihindari oleh pengelola organisasi. Kemuculan intense turnover pada perusahaan “X” diduga berkaitan dengan masa kerja yang dimiliki para karyawan. Disamping itu, ada variable adversity quotient yang juga diduga berperan mewarnai kemunculan intense turnover.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan rata-rata nilai intensi turnover berdasarkan masa kerja karyawan perusahaan “X” dengan memperhitungkan pengaruh dari adversity quotient. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan intensi turnover berdasarkan masa kerja karyawan perusahaan “X” dengan mengendalikan adversity quotient. Populasi pada penelitian ini sebanyak164 orang, dan 110 orang darinya dijadikan sampel penelitian. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purposive kuota sampling, yaitu teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan (Sugiyono, 2012). Dalam penelitian ini, kuota yang dimaksud adalah sebanyak 37 karyawan per-tingkatan masa kerja. Sampel akan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu karyawan dengan masa kerja baru, karyawan dengan masa kerja sedang, dan karyawan dengan masa kerja lama. Berdasarkan Uji F anakova menunjukkan bahwa besarnya pengaruh antar-kelompok masa kerja setelah dikendalikan oleh variabel adversity quotient didapatkan nilai F sebesar 0,144 dengan nilai signifikansi sebesar 0,020 (p < 0,05) maka H1 diterima, artinya ada perbedaan intensi turnover berdasarkan masa kerja karyawan dengan mengendalikan adversity quotient. Abstract. The purpose of this study was to determine differences in the average value of turnover intention by the employees of the company "X" to account for the influence of adversity quotient. The hypothesis of this study is no difference turnover intention by the employees of the company "X" by controlling the adversity quotient. The population in this study amounted to 164 people, then the samples taken by Isaac and Michael with an error rate of 5% in a population of 164 people is 110 people. Sampling technique in this research is purposive quota sampling, which is a technique for determining a sample of the population that have certain characteristics to the number (quota) desired (Sugiyono, 2012). In this study, the quota in question is as much as 37 per-level employee work period. For the sample will be divided into three groups, namely employees with new working period, employees with tenure medium, and employees with long working lives (each group of 37 people). Based Anacova F test showed that the magnitude of the effect between groups after the work period is controlled by a variable adversity quotient obtained F value of 0.144 with Sig. amounted to 0,020. Because Sig. 0,020 <significant level (a) 0.05 then the H1 is accepted, meaning that there are differences in turnover intention by the employees of the company "X" by controlling the adversity quotient. In other words, this hypothesis is accepted.
PENGARUH TRAINING UMUM ORIENTASI (TUO) UNTUK MENINGKATKAN OCCUPATIONAL SELF EFFICACY PADA KARYAWAN BARU Sabrina, Alfira Bahro; Muhammad, Amri Hana; Undarwati, Anna
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17495

Abstract

 Abstrak. Sebagian besar individu yang memulai masuk dunia kerja belum tahu bagaimana rincian kerja yang akan ditugaskan kepadanya terutama pada individu yang mengalami masa transisi dari pelajar. Sangatlah mungkin individu yang baru masuk dunia kerja merasa tidak mampu karena belum paham dengan apa yang harus dikerjakan ketika bekerja nantinya. Rasa ketidakmampuan dalam hal ini jika ditinjau dari sudut psikologis merupakan bentuk kurangnya keyakinan akan kemampuan dirinya sendiri dan ini dapat menghambat individu untuk meraih kesuksesan di masa depan. Keyakinan akan  kemampuan dan kompetensi dalam menampilkan unjuk kerja disebut occupational self efficacy. PT Indah Kiat Pulp and Paper Serang Mill, Tbk memiliki agenda training umum orientasi setiap bulannya yang dilaksanakan untuk karyawan baru diharapkan dengan adanya training ini dapat meningkatkan occupational self efficacy pada karyawan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran baik sebelum maupun sesudah dilakukannya training umum orientasi (TUO) terhadap occupational self efficacy dan menguji ada tidaknya pengaruh training umum orientasi (TUO) terhadap occupational self efficacy. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif eksperimen dan dengan desain one group pre-test posttest design dengan pretest 1 kali dan posttest 1 kali. Perlakuan yang diberikan adalah training umum orientasi yang dilaksanakan selama 3 hari. Data penelitian diambil menggunakan skala occupational self efficacy dengan koefisien realibilitas sebesar 0,950 dan dari 40 item diperoleh 29 item yang valid. Analisis data menggunakan teknik uji non parametrik wilcoxon signed ranks test dengan bantuan software pengolahan data. Hasil uji wilcoxon signed ranks test diperoleh nilai Z = -3,927 dengan tingkat signifikansi (sig (2-tailed)= 0,000) kurang dari α 5% maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini terdapat perbedaan occupational self efficacy  sebelum dan sesudah diberikan training umum orientasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa training umum orientasi (TUO) dapat meningkatkan occupational self efficacy pada karyawan baru. Abstract. Most individuals who embark on entering the workforce do not yet know how the details of work will be assigned to them, especially on individuals who are experiencing a transition from the learner. It is possible that individuals who are new to the workplace feel inadequate because they have not understood what to do when working later. Disability in this case if viewed from a psychological point of view is a form of lack of confidence in his own ability and this can hinder individuals to achieve success in the future. The belief in the ability and competence in performing performance is called occupational self efficacy. PT Indah Kiat Pulp and Paper Serang Mill, Tbk has a general orientation training agenda every month for new employees expected with this training can increase occupational self efficacy in new employees.The aim of this research is to know the description before and after the general orientation training (TUO) to occupational self efficacy and to test whether there is influence of general training orientation (TUO) to occupational self efficacy. This research uses experimental quantitative research type and with one group pre-test posttest design design with pretest 1 time and posttest 1 time. The treatment provided is a general training orientation that is carried out for 3 days. The research data was taken using occupational self efficacy scale with realibility coefficient of 0.950 and from 40 items obtained 29 valid items.Data analysis using non parametric test technique wilcoxon signed ranks test with the help of data processing software. Wilcoxon signed ranks test results obtained Z = -3,927 with significance level (sig (2-tailed) = 0,000) less than α 5% it can be concluded that this study there are differences in occupational self efficacy before and after being given general training orientation. Based on the result of research can be concluded that general training orientation (TUO) can increase occupational self efficacy in new employees. 
[NASKAH DITARIK] Kompetensi Dosen Menurut Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya Yulianik, Endah; Herani, Ika
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17488

Abstract

Setelah melakukan evaluasi dan komunikasi dengan pihak-pihak terkait. Redaksi Jurnal INTUISI menyatakan bahwa naskah dengan judul “Kompetensi Dosen Menurut Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya”  yang ditulis oleh Endah Yulianik dan Ika Herani, kami TARIK dari publikasi di Volume 10 Nomor 2, Juli 2018. Alasan utama penarikan naskah tersebut adalah adanya bukti bahwa naskah telah dipublikasikan secara bersamaan (duplicate publication) di jurnal lain, sejak pengumuman ini dibuat. Hak publikasi penulis yang bersangkutan atas naskah tersebut telah kami cabut. Jurnal INTUISI juga menyatakan bahwa tidak ada permasalahan yang muncul dengan pengelola jurnal lainnya. Jurnal INTUISI berharap keputusan penarikan naskah ini dapat diterima dan dimengerti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Terima kasih.
INTENSI PERILAKU PRO-KONSERVASI DITINJAU DARI ORIENTASI NILAI INDIVIDU PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Dahriyanto, Luthfi Fathan; Rahmawati, Dyah Ayu; Muhammad, Amri Hana
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17496

Abstract

Abstrak.Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) bertujuan agar mahasiswa dapat memahami mengenai paradigma, pengertian, dan etika lingkungan hidup. Selama ini UNNES telah memberikan mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada mahasiswa, namun evaluasi dan efeknya terhadap orientasi nilai dan intensi berperilaku pro-konservasi (lingkungan) masih belum banyak diteliti sehingga diperlukan analisis untuk mengetahui efek dari PLH yang sudah dijalankan sebagai salah satu matakuliah wajib di UNNES. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensi perilaku pro-konservasi pada mahasiswa UNNES ditinjau dari orientasi nilai individu. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan subjek  mahasiswa UNNES yang telah lulus, atau sedang mengambil mata kuliah PLH atau Pendidikan Konservasi.Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala, yaitu Skala Intensi Perilaku Pro-Konservasi dan Skala Orientasi Nilai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa UNNES yang telah mengambil mata kuliah PLH mempunyai intensi perilaku pro-konservasi pada kategori sedang (71,5%) dan tinggi (28,2%), hal ini membuktikan bahwa PLH memberikan niat yang kuat untuk berperilaku pro lingkungan. Pada variabel orientasi nilai, ditemukan bahwa orientasi nilai kompetitor 40,8%, sedangkan orientasi nilai prososialnya adalah 29,4%. Sebanyak 91 mahasiswa mempunyai orientasi nilai yang bercampur dari ketiga orientasi nilai. Berdasarkan perhitungan juga ditemukan bahwa intensi perilaku pro-konservasi tidak berbeda ditinjau dari orientasi nilai individu, yaitu dengan nilai F=1,983 (F>0,05). Abstract. Environmental Education (EE) aims to make students can understand about the paradigm, understanding, and environmental ethics. UNNES has provided Environmental Education (EE) courses, but its evaluation and its effect on value orientation and intention of pro-conservation (environment) behavior have not been studied so much so that analysis is needed to know the effect of EE which has been run as one of compulsory courses at UNNES. This study aims to determine the intentions of pro-conservation behavior in UNNES students viewed from the orientation of individual values. The research method used is quantitative, with the subject of UNNES students who have taken or are still taking a course of EE or Conservation Education. Data collection method used in this research is scale method, that is Pro-Conservation Behavior Scale and Value Orientation Scale. The results of this study indicate that most of UNNES students who have taken the course of PLH have intention of pro-conservation behavior in medium category (71,5%) and high (28,2%), this proves that PLH give strong intention to behave pro-environmentally. In the value orientation variable, it was found that the competitor's value orientation was 40.8%, while the prosocial value orientation was 29.4%. A total of 91 students have a mixed value orientation of the three value orientations. Based on the analysis also found that the intention of pro-conservation behavior is not different in terms of the orientation of individual values, with the value F = 1,983 (F> 0.05). 
EMPATI DAN EFIKASI DIRI GURU TERKAIT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR BEBAS BULLYING Ahyani, Latifah Nur; Pramono, Ridwan Budi; Astuti, Dwi
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17489

Abstract

Abstrak. Bullying adalah permasalahan umum yang terjadi di seluruh negara, pada lingkungan pendidikan di sekolah manapun. Bullying hadir dalam berbagai bentuk, agresi verbal, fisik sampai pada pengucilan dari kelompok. Pelaku bullying tidak hanya terbatas pada siswa, namun juga guru kepada siswa. Penelitian ini merupakan penelitian awal yang diharapkan menjadi dasar untuk menyusun metode pelatihan yang efektif dalam menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bebas bullying. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada perbedaan empati dan efikasi diri guru sekolah dasar (SD) laki-laki dan guru perempuan. Subjek penelitian adalah guru laki-laki dan perempuan yang bertugas di kabupaten Kudus. Instrumen penelitian menggunakan skala empati dan efikasi diri dengan teknik analisis data independent sample t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan efikasi diri antara guru laki-laki dan perempuan, dengan nilai t sebesar -0,699 df=18, (p>0,05). Pada aspek empati, terdapat perbedaan dengan nilai t sebesar 3,106 df=45,15, (p<0,01). Adanya perbedaan empati dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan metode pelatihan KBM bebas bullying khususnya pada pelatihan kemampuan empati pada guru laki-laki dan perempuan.        Abstract. Bullying is a common problem that occurs throughout the country, in an educational environment in any school. Bullying comes in various forms, verbal, physical aggression to the exclusion of the group. Bullying perpetrator are not only limited to students, but also teachers. This research is a preliminary study which is expected to be the basis for formulating effective training methods in creating free bullying teaching activities. This study aims to examine whether there are differences in empathy and self efficacy of primary school teachers (SD) men and female teachers. Research subjects were male and female teachers who served in Kudus. The research instrument used empathy scale and self efficacy with independent data t test. The results showed that there was no difference of self efficacy between male and female teacher, with t value of -0,699 df = 18, (p> 0,05). In aspect empathy, there is difference with t value equal to 3,106 df = 45,15, (p <0,01). The difference of empathy can be concluded that there are different methods of training KBM-free bullying, especially on training the ability of empathy in male and female teachers. 
HUBUNGAN ORGANIZATIONAL JUSTICE KEBIJAKAN PHK DAN EMOTIONAL LABOUR PEKERJA PT. YURO MUSTIKA Deputri, Laurensia Novenia Damar; Prihastuty, Rahmawati
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17497

Abstract

Abstrak. Penelitian ini dilatar belakangi adanya kebijakan PHK yang diberlakukan oleh PT. Yuro Mustika perusahaan yang bergerak di bidang produksi boneka dan wig, adanya kebijakan PHK sebagai salah satu upaya untuk menangani krisis ekonomi yang terjadi. Adanya PHK membuat pekerja harus mengatur emosi yang keluar agar sesuai dengan tujuan organisasi atau disebut dengan emotional labour. Terjadinya emotional labour tidak terlepas dari lingkungan organisasi, kebijakan PHK yang diberlakukan menyebabkan persepsi pekerja apakah mereka diperlakukan secara adil dengan membandingkan proses yang dilakukan dengan hasil yang diberikan perusahaan desebut dengan organizational justice. Tujuan dari penelitian ini untuk menguji hubungan organizational justice kebijakan PHK dan emotional labour. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi penelitian ini adalah pekerja PT. Yuro Mustika. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sejumlah 108 pekerja produksi. Teknik sampling yang dipakai yaitu incidental sampling. Data penelitian dihimpun menggunakan skala organizational justice dan skala emotional labour. Skala emotional labour terdiri dari 22 item (α = 0,647). Skala organizational justice terdiri dari 31 item (α = 0,748). Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi Product Moment dengan hasil koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,076 dan nilai signifikansi sebesar 0,434 (α > 0,01). Berdasarkan nilai koefisien tersebut hipotesis “ada hubungan organizational justice dan emotional labour” ditolak.Emotional labour pekerja PT. Yuro Mustika berada pada kategori tinggi dengan dimensi deep acting deep acting yang paling berpengaruh. Organizational justice kebijakan PHK PT. Yuro Mustika berada pada kategori tinggi dengan komponen procedural justice yang paling berpengaruh.     Abstract. The background of this research is the existence of the termination of employment policy which is conducted by PT.YuroMustika, a company that is engaged in the production of dolls and wig, the existence of this policy as one of the efforts to overcome the economic crisis. This termination of employment make the employees should manage the emotions that displays to adjust with the goals of organization which is called emotional labour. The occurrence of emotional labour cannot be separated from the environmental organization, the application of the termination of employment policy led the perception of the employees whether they are treated fairly by comparing the process undertaken with the given result of the company which is called organizational justice. The aim of this research is to examine the relation between organizational justice and emotional labour. This research is quantitative correlational research.Population of this research is employees of PT. YuroMustika. Total of samples used in this research is 108 production employees. The sampling technique used is incidental sampling. The research data were collected using the organizational justice scale and emotional labour scale. The emotional labour scale consists of 22 items (α = 0,647. The organizational justice scale consists of 31 items (α = 0,748). The method analysis in this research uses Product Moment correlation technique with the result of correlation coefficient (rxy) 0,076 and a significance value 0,434 (α > 0,01). Based on that coefficient value, a hypothesis that states: “there is a relationship between organizational justice and emotional labour” is rejected.The emotional labour of the PT. YuroMustika’semployees places the high category with the most influential deep acting dimension. Organizational justice which is the termination of the employment policy of PT. YuroMustika places the high category with the most influential procedural justice component  
Pengaruh Social Support dan Self-Esteem terhadap Subjective Well-Being Remaja Korban Bullying di Pondok Pesantren Rahmanillah, Chaista; Pratiwi, Enditiara Yuli; Sari, Fitriyanti Herlinda
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 3 (2018): November 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i3.18867

Abstract

Abstrak. Bullying merupakan bentuk perilaku agresif yang mungkin sering ditemui di lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah atau pondok pesantren sebagai tempat anak-anak dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus bangsa sering menjadi sorotan sebagai tempat yang rentan terjadinya tindak kekerasan terhadap anak. Pondok Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan pun tidak luput dari tudingan yang berlaku pada dunia pendidikan umumnya yang memperlakukan anak secara “keras”. Goswami (2012) dalam penelitiannya mengenai hubungan antara social relationships dengan subjective well being pada anak mengatakan bahwa anak-anak yang menjadi korban bullying dan perlakuan yang tidak adil akan memiliki subjective well being yang rendah. Artinya, korban bullying cenderung sering mengalami perasaan yang tidak puas terhadap kehidupannya, dan jarang mengalami perasaan yang menyenangkan. Perasaan-perasaan negatif tersebut dapat memicu korban menjadi pelaku bullying, senior memiliki alasan bahwa tindakan seperti itu adalah tradisi yang dulu juga pernah diterimanya ketika masih menjadi junior. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh social support dan self-esteem terhadap subjective well being. Sampel dalam penelitian ini adalah santri pondok pesantren yang pernah mengalami bullying di Pondok Pesantren Daar el Qolam sebanyak 196 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling. Analisis data yang digunakan adalah Multiple Regression Analysis pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan social support dan self-esteem terhadap subjective well being. Proporsi varians dari subjective well being yang dijelaskan oleh semua independent variable adalah sebesar 22,6%, sedangkan 77,4% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian ini. Kata Kunci : Social Support, Self Esteem, Subjective Well Being  Abstract. Bullying is a form of aggressive behavior that may often be encountered in the school environment. The school environment or boarding school as a place for children to be prepared to become the next generation of the nation is often in the spotlight as a place that is vulnerable to acts of violence against children. Islamic boarding schools as one of the educational institutions are not immune from accusations that apply to the world of education generally which treat children "hard". Goswami (2012) in his research on the relationship between social relationships with subjective well being in children said that children who were victims of bullying and unfair treatment would have low subjective well being. That is, victims of bullying tend to often experience feelings of dissatisfaction with their lives, and rarely experience pleasant feelings. These negative feelings can trigger the victim to be a bullying agent, the senior has a reason that such an act is a tradition that he also received when he was a junior. This study aims to see whether there is an impact of social support and self-esteem on subjective well being of bullied students in boarding school. Subjects in this study were 196 bullied students of Daar el Qolam Boarding School in 2018, which was chosen by using nonprobability sampling technique. The method of collecting data uses the scale of social support, self esteem and subjective well being scale. Data analysis technique used is Multiple Regression Analysis with level of significance 0,05. The results showed that there was a significant impact of social support and self-esteem on subjective well being. The proportion of variance of subjective well being described by all independent variables is 22.6%, while the remaining 77.4% is influenced by other variables outside this study.
Peran Obsessive Passion Sebagai Mediator Dalam Hubungan Antara Tuntutan Pekerjaan Dan Kesejahteraan Psikologis Di Tempat Kerja Rahayu, Puspita Puji; Salendu, Alice
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 3 (2018): November 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i3.18809

Abstract

Abstrak. Fenomena terkait rendahnya kesejahteraan psikologis karyawan seringkali dijumpai di tempat kerja. Faktor eksternal yang memengaruhi kesejahteraan psikologis di tempat kerja, salah satunya adalah tuntutan pekerjaan. Penelitian ini ingin melihat peran obsessive passion sebagai mediasi hubungan antara tuntutan pekerjaan dan kesejahteraan psikologis di tempat kerja pada karyawan. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner self-report. Partisipan penelitian berjumlah 217 karyawan bank BUMN dengan karakteristik minimal bekerja 1 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling. Dalam penelitian menggunakan instrumen penelitian diantaranya Kesejahteraan Psikologis di Tempat Kerja (2012) untuk mengukur kesejahteraan psikologis di tempat kerja, Questionnaire on The Experience and Evaluation of the Work Scale dan Technology Acceptance Model (2017) untuk mengukur tuntutan pekerjaan, selain itu digunakan instrumen Passion Scale (2003) untuk mengukur obsessive passion. Untuk menguji hipotesis menggunakan teknik analisis Process Macro for SPSS yang dikembangkan oleh Hayes. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tuntutan pekerjaan tidak secara signifikan memiliki hubungan dengan kesejahteraan psikologis di tempat kerja (b = - .044, p> .05), dan tuntutan pekerjaan berpengaruh secara negatif pada obsessive passion (b= - 1.96, p< .05). Selain itu, obsessive passion berpengaruh secara negatif dengan kesejahteraan psikologis di tempat kerja (b= - .192, p< .01). Penelitian ini juga menemukan peran obsessive passion memediasi hubungan antara tuntutan pekerjaan dan kesejahteraan psikologis di tempat kerja (b= - .082, p> .05). Kata kunci: Kesejahteraan Psikologis di Tempat Kerja, Obsessive Passion, Tuntutan PekerjaanAbstract. The phenomenon related to the low psychological well-being of employees is often found in the workplace. External factors that influence psychological well-being at work, one of which is job demands. This research was conducted to find the role of obsessive passion as a mediator in the relationship between job demands and psychological well-being at work. Data collection was done by using self-report questionnaires. Research participants were 217 state-owned enterprises bank employees with a minimum requirement of a year working experience in that respective workplace. The method of data collection was accidental sampling. Research instruments, namely Psychological Well-Being at Work (2012) was used to measure psychological well-being at work, Questionnaire on The Experience and Evaluation of the Work and Technology Acceptance Model (2017) to measure job demands, as well as Passion Scale (2003) to measure obsessive passion. Hypothesis was tested and analyzed using Process Macro for SPSS which was developed by Hayes. The result shows that job demands are not significantly related to psychological well-being at wok (b = - .044, p>0.05), and job demands negatively affect the obsessive passion (b= - 1.96, p<0.05). In addition, obsessive passion negatively affects psychological well-being at work (b= - .192, p< .01). Further, this finding also described the role of obsessive passion mediates the relationship between job demands and psychological well-being at work (b= - .082, p> .05).Keywords: Job Demands, Obsessive Passion, Psychological Well-being at Work