Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian welcomes high-quality, original and well-written manuscripts on any of the following topics: 1. Geomorphology 2. Climatology 3. Biogeography 4. Soils Geography 5. Population Geography 6. Behavioral Geography 7. Economic Geography 8. Political Geography 9. Historical Geography 10. Geographic Information Systems 11. Cartography 12. Quantification Methods in Geography 13. Remote Sensing 14. Regional development and planning 15. Disaster
Articles
20 Documents
Search results for
, issue
"Vol 15, No 2 (2018)"
:
20 Documents
clear
ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG BENCANA GEMPA BUMI DAN ERUPSI GUNUNG BERAPI (STUDI KASUS KECAMATAN PRAMBANAN KABUPATEN KLATEN)
Indraswari, Devita
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.14920
Kecamatan Prambanan, Klaten merupakan sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah dan di sebelah barat kecamatan ini berbatasan langsung dengan kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu di daerah ini terdapat candi prambana yang berada antara dua provinsi yang berbeda pula yang meliputi sebagian di Daerah Istimewa Yokyajarta (DIY) dan Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah. Selain itu juga terdapat pula beberapa candi lainnya seperti Candi Sojiwan dan Candi Plaosan yang berada di kecamatan perambanan. Penelitian ini dapat mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat dan tingkat pengetahuan mitigasi tentang bencana di Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten berkenaan dengan bencana gempabumi dan erupsi, partisipasi masyarakat tentang gempa bumi dan erupsi Gunung Merapi di Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus instrumental. Pendekatan studi kasus instrumental bertujuan memfokuskan satu persoalan untuk mengkaji secara terperinci dan mendalam suatu penelitian. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan penelitian ini mengamati tingkat pengetahuan bencana, tingkat mitigasi bencana dan tingkat partisipasi bencana di Kecamatan Prambanan, Klaten.
IDENTIFIKASI KESIAPSIAGAAN RENCANA KONTINJENSI MENGHADAPI BAHAYA GAGAL TEKNOLOGI DI LINGKUNGAN KAMPUS B UHAMKA
Rosyidin, Wira Fazri
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.15416
Penelitian ini merupakan  analisis bahaya kegagalan teknologi di lingkungan UHAMKA (Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA) khususnya kampus B FKIP UHAMKA Jakarta Timur. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi bencana kegagalan teknologi dilingkungan kampus B FKIP UHAMKA, dan mengidentifikasi kesiapsiagaan apa saja yang dimiliki oleh institusi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu untuk identifikasi bahaya dengan melakukan interpretasi data citra satelit dan Digital Elevation Model (DEM) SRTM, yang dianalisis secara kualitatif. Tahapan yang dilakukan yaitu identifikasi zona bahaya, dan pemetaan zonasi bahaya khususnya bencana kegagalan teknologi yang berupa kerawanan kebakaran, kebocoran saluran pembuangan, termasuk dampak turunan jika terjadi adanya bahaya gempabumi. kajian difokuskan terkait titik-titik vital yang diperkirakan berpotensi bahaya tinggi. Identifikasi selanjutnya berfokus kepada kesiapsiagaan UHAMKA dengan metode HIRAC dilakukan dengan mengkonsentrasikan potensi bahaya awal, dan lanjutan dari sistem yang sedang berlangsung produksinya dalam menghadapi bahaya bencana gagal teknologi ataupun dampak lainnya sebagai turunan adanya bencana. Identifikasi kesiapsiagaan dengan melihat kebijakan yang ada termasuk adanya suatu rencana kontinjensi dalam menghadapi suatu kedaruratan. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa Kampus B FKIP UHAMKA berpotensi terdampak bahaya kegagalan teknologi berupa kebakaran, ledakan, dan potensi ketidakhandalan sarana teknik . Secara kontijensi hasil menunjukkan tidak adanya kebijakan khusus oleh lembaga yang mengatur tentang keselamatan penggunaan sarana teknik dan mekanik sebagai manajemen keselamatan/kesiapsiagaan pada penggunaan gedung di Kampus B UHAMKA.
PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS DI KABUPATEN KULON PROGO
Rini, Melania Swetika
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.15455
Penelitian ini bertujuan untuk; 1) Mengkaji kemampuan citra Landsat 8 OLI dan sistem informasi geografis dalam mengidentifikasi Lahan Kritis di Kabupaten Kulon Progo; 2) Melihat sebaran lahan kritis dan luasan lahan kritis di Kabuapten Kulon Progo. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan data penginderaan jauh dan analisis sistem informasi geografi (SIG) untuk identifikasi lahan kritis di Kabupaten Kulon Progo. Penentuan parameter lahan kritis di daerah penelitian mengacu pada kriteria lahan kritis menurut Peraturan Menteri Kehutanan RI No. P.32/Menhut-II/2009. Parameter lahan kritis di daerah penelitian tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode scoring dengan pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang, dimana setiap parameter lahan kritis akan diberi harkat secara berjenjang dan diberi bobot secara berbeda sesuai dengan dominasinya dalam pembentukan lahan kritis. Landasan dari penentuan harkat dan bobot dalam metode scoring adalah berdasarkan pengetahuan ahli (expert knowledge).Hasil penelitian menunjukan bahwa; 1) Citra Landsat 8 OLI dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi penutupan lahan dan penggunaan lahan sebagai data untuk mengidentifikasi lahan kritis di Kabupaten Kulon Progo;2) Persebaran luasan dan persentase lahan kritis di Kabupaten Kulon Progo yang dibagi kedalam 3 kawasan yaitu Kawasan Lindung, Kawasan Budidaya dan Kawasan Lindung di Luar Kawasan Hutan, yang masing-masing persentasenya adalah sebagai berikut: 18380.94 ha, 18292.56ha, dan 20490.95 ha.
KEBUTUHAN RUANG FASILITAS PELAYANAN MEMASUKI ERA BONUS DEMOGRAFI DI KECAMATAN PURBALINGGA
shalihati, sakinah fathrunnadi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.13624
Pemusatan kepadatan penduduk tertinggi di Kabupeten Purbalingga berada di Kecamatan Purbalingga dengan rata-rata 4.011 jiwa/km2 pada Tahun 2015, melonjak drastis dibandingkan pada satu tahun sebelumnya, dimana kepadatan penduduknya pada angka 3.968 jiwa/km2. Pertambahan penduduk yang mencapai 631 jiwa dalam kurun waktu satu tahun tersebut, tentunya mengakibatkan komposisi jumlah penduduk terus meningkat dan memberikan efek pada permasalahan akan kebutuhan dan ketersediaan fasilitas pelayanan, diantaranya seperti fasilitas pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi, umum dan pelayanan publik. Adapun jumlah penduduk saat ini dapat digunakan untuk memprediksi jumlah penduduk pada masa puncak bonus demografi, yang diperkirakan terjadi 15 tahun yang akan datang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan ruang fasilitas pelayanan 15 tahun yang akan datang di Kecamatan Purbalingga. Metode yang digunakan adalah analisis data primer dan sekunder, dengan teknik analisis diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan fasilitas pelayanan pendidikan memasuki 15 tahun yang akan datang masih membutuhkan kebutuhan ruang, sedangkan untuk fasilitas pelayanan kesehatan, ekonomi, umum dan pelayanan publik belum diperlukan urgensi penambahan kebutuhan ruang, dikarenakan ruang yang ada saat ini masih dapat mencukupi kebutuhan dimasa yang akan datang.
KAJIAN VARIASI PEMODELAN PETA KLASIFIKASI CURAH HUJAN PADA ANALISIS KEKERINGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : KABUPATEN BLORA)
Suprayogi, Andri;
Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.15453
Menurut Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI), terlihat bahwa dari sekitar 1.800 kejadian bencana periode tahun 2005 hingga 2015 lebih dari 78% (11.648) merupakan bencana hydro meteorology dan sisanya merupakan bencana geologi (BNPB, 2016). Curah hujan termasuk salah satu aspek fisik alami disamping kelerengan, jenis tanah dan batuan. Persebaran curah hujan pada umumnya dihitung dengan pemodelan berbasis poligon thiessen dan pemodelan grid yang berbasis diantaranya inverse distance weighting (IDW) dan Kriging dari curah hujan di stasiun pemantauan hujan (NWS, 2005). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan sebaran, klasifikasi, dan hasil analisis kekeringan secara kuantitatif dari data curah hujan yang diolah dengan model poligon thiessen atau   pemodelan grid berbasis (IDW) kriging pada area studi Kabupaten Blora. Dalam penelitian ini data hasil klasifikasi curah hujan ditumpangsusunkankan dengan parameter lain yang bobotnya diperoleh dengan pendekatan Analytical Hierarchihcal Process (AHP). Kabupaten Blora merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah, yang 14 dari 16 kecamatan diantaranya memiliki kerawanan bencana kekeringan pada tahun 2016 (Pemerintah Kabupaten Blora, 2017). Hasil dari penelitian ini adalah klasifikasi curah hujan dan klasifikasi kekeringan antar metode penentuan kelas curah hujan yang digunakan pada Kabupaten Blora. Curah hujan yang masuk kelas rendah luas terbesarnya diperoleh dengan metoda thiessen (60.294,36 ha) dan luas terkecilnya diperoleh dengan metode IDW(6.697,59 ha). luas kelas kekeringan Sangat Berat yang curah hujannya diolah dengan pemodelan poligon thiessen memiliki nilai luasan paling besar (96.199,68 ha) dan paling rendah dari pemodelan IDW (53.542,46 ha).).
MODEL CELULLAR AUTOMATA UNTUK PENGEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA PEKALONGAN
Sidiq, Wahid Akhsin Budi Nur;
Hanafi, Fahrudin
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.15451
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distibusi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dari tahun 2005, tahun 2010, tahun 2015 dan menyusun model distribusi spasial RTH tahun 2025 di Kota Pekalongan. Distribusi spasial RTH dan perubahan penggunaan lahan diperoleh dari hasil pengolahan data citra Digital Globe tahun 2005 dan tahun 2010 serta citra SPOT 5 (tahun 2015). penyusunan model distribusi spasial RTH pada tahun 2025 mempertimbangkan RTRW Kota Pekalongan yang terdiri dari ruas jalan (jalan eksisting dan rencana pengembangan jalan) dan rencana pengembangan kawasan.Penelitian ini menggunakan pemodelan berbasis raster dengan menggunakan pendekatan cellular automata yang memanfaatkan LanduseSim 2.0 sebagai software pengolahannya selain Arc.GIS 10.5  Berdasarkan hasil penelitian, menunjukan bahwa penggunaan lahan di Kota Pekalongan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sangat dinamis. Permukiman merupakan kelas penggunaan lahan dengan peningkatan luas terbesar sebesar 313,17 hektar. Sedangkan penurunan luas terbesar terjadi pada lahan pertanian yang berkurang sebesar 392,58 hektar. Luas RTH eksisting sebesar 614,51 hektar atau sekitar 13,17% dengan trend tren perkembangan yang meningkat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (201,63 hektar). Hasil model yang disusun dengan tren perkembangan yang terus meningkat maka RTH di Kota Pekalongan diprediksi memiliki luas 816,14 hectar pada tahun 2025. RTH di Kota Pekalongan sebagian besar didominasi oleh jenis RTH sepadan jalan dan sepadan sungai dengan pola memanjang. Prediksi yang telah dilakukan maka dapat digambarkan akan terjadi penambahan luas RTH dengan pola memanjang sepanjang jalan dan sungai. Kedepannya pemerintah daerah perlu melakukan terobosan-terobosan dalam pengembangan RTH di Kota Pekalongan dengan alokasi dana yang memadahi yang dapat diaplikasikan dalam bentuk hutan kota, taman dan sabuk pantai mangroveÂÂ
KELAYAKAN TEKNIS PENAMBANGAN PASIR PADA WILAYAH PERTAMBANGAN RAKYAT DI SUNGAI PROGO, KABUPATEN KULON PROGO
Santoso, Dian Hudawan;
Gomareuzzaman, Muammar
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.15454
Kegiatan penambangan oleh masyarakat di Kabupaten Kulonprogo dilakukan tanpa didahului kajian kelayakan teknis sehingga berpotensi mengakibatkan kerusakan lahan dan kecelakaan bagi penambang dan masyarakat. Kegiatan penambangan pasir di Kabupten Kulon Progo banyak dilakukan di Sungai Progo.Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui kelayakan teknis penambangan rakyat material pasir. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian survei dan pemetaan. Analisis kelayakan teknis pertambangan rakyat pasir dilakukan dengan metode pengharkatan (rating). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan evaluasi analisis kelayakan teknis, dari 4 lokasi penambangan pasir aktif yang dinyatakan “layak†secara teknis adalah Dusun Dlaban dan Dusun Nepi, sedangkan lokasi yang “kurang layak†secara teknis adalah Dusun Karang Wetan dan Dusun Sapon.
PEMANTAUAN SEDIMENTASI TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI WADUK KEDUNGOMBO PERIODE 2014-2018 BERBASIS CITRA LANDSAT 8
Sukmono, Abdi;
Rajagukguk, Trevi Austin;
Subiyanto, Sawitri;
Bashit, Nurhadi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.15457
Sedimentation is a problem that often occurs in reservoirs in Indonesia. One reservoir that has the potential to be affected by sedimentation is the Kedungombo Reservoir. The water volume of the Kedungombo dam is estimated to shrink 40% of the planned water volume due to the sedimentation problem. The condition of the reservoir water needs to be monitored periodically to determine the development of sedimentation in the reservoir area. The large reservoir area of 6,000 ha requires considerable energy and cost if monitoring is done conventionally. Remote sensing technology with Landsat-8 satellite imagery can be used as an alternative technology that is more efficient in reservoir sedimentation monitoring. Reservoir sedimentation monitoring can be observed from the development of the value of total suspended solid (TSS).. The results of multitemporal TSS processing for the period 2014-2018 showed that the quality of the Kedongombo Reservoir TSS generally began to improve despite high sedimentation in some areas. The class of heavily polluted / sedimentated TSS decreased from 380, 97 Ha in 2014 to 353.61 Ha in 2014 and continued to improve to an area of 120.96 Ha in 2018. But at the estuary of Laban Sub-watershed and Ivory Sub-watershed TSS remained has a high concentration.
PREDIKSI DEBIT JANGKA PANJANG UNTUK SUNGAI BENGAWAN SOLO
Widyastuti, Marliana Tri;
Taufik, Muh;
Santikayasa, I Putu
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.15387
Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa dimana daerah alirannya telah diklasifikasikan sebagai salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis di Indonesia. Penelitian ini mencoba memprediksi debit jangka panjang Sungai Bengawan Solo, dengan tujuan khusus untuk (i) melakukan kalibrasi dan validasi model Soil and Water Assessment Tool (SWAT) dalam mengestimasi debit skala bulanan, dan (ii) mensimulasikan debit bulanan untuk periode 1901 – 2016. Penelitian ini, model SWAT menggunakan input data iklim bulanan, penggunaan lahan, dan karakteristik tanah. Berdasarkan hasil evaluasi, secara statistik model mampu mensimulasikan debit bulanan dengan baik ditunjukkan dengan nilai yang rendah dari percent bias (PBIAS: -2.30%) dan RMSE standard ratio (RSR: 0.44), dan nilai Kling-Gupta Efficiency yang tinggi (KGE: 0.87). Berdasarkan debit hasil simulasi, kami menemukan bahwa debit maksimum terjadi pada bulan Maret, sedangkan debit minimum terjadi pada bulan Agustus. Karakteristik debit bulanan Sungai Bengawan Solo untuk aliran tinggi (Q5) sebesar 198.00 mm/bulan, sedangkan aliran rendah (Q90) sebesar 13.00 mm/bulan. Informasi tentang karakteristik hidrologi sungai sangat penting untuk pengelolaan DAS terpadu, terutama untuk mengantisipasi iklim yang sering berubah.
Assesmen indek kerentanan pantai Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Iryanthony, Sigit Bayhu;
Santoso, Budi;
Hartanto, Pungki
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/jg.v15i2.14908
Indonesia is an archipelago country that has the longest coastline after Canada (UNCLOS). Rembang District is a coastal area in Northern Java, which has a very dynamic development because of its location of the capital city that located along the coastal area. The purpose of this study is to assess the degree of coastal vulnerability in Rembang District with the higher level of development. The CVI method (Coastal Vulnerability Index) of evisien sting is used to assess vulnerability. The coastal vulnerability is very low over 8 km, with a 15.4% of coastal length of Rembang District. Low vulnerability occurs in areas that are located in areas close to settlements area, with beaches already experiencing human intervention. The low category is about 12 km long, reaching 23.3% of the existing coastal length in Rembang District. The middle category is about 16 km, equivalent to 30.8% of shoreline. While the high category is about 10 km, equivalent to 19.2% of coastal length. The highest category has a length of 6 km, equivalent to 11.5% of the coastal area of Rembang district.