cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Core Subject : Education,
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 590 Documents
ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA TUTURAN PENYIAR ACARA CAMPURSARI RADIO PESONA FM Sukoyo, Joko
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis alih kode dan campur kode pada tuturan penyiarcampursari radio Pesona FM. Subyek penelitian ini adalah bahasa yang digunakan para penyiar acaracampursari di radio Pesona FM Sukoharjo, sedangkan obyeknya adalah alih kode dan campur kode padatuturan penyiar acara campursari radio Pesona FM. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakandalam penelitian ini adalah metode simak, dengan teknik rekam dan catat. Data-data yang diperoleh,kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif sesuai dengan konteksnya. Jenis-jenis kode yangditemukan adalah alih kode intern yang meliputi 1) alih kode antarbahasa yaitu bahasa Jawa ke bahasaIndonesia (50%) dan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa (23,6%). 2) alih kode antartingkat tutur (undhausukbasa) yaitu dari ragam krama ke ragam ngoko (17,6%) dan sebaliknya, dari ragam ngoko ke ragamkrama (8,8%). Jenis campur kode yang muncul pada tuturan penyiar acara campursari radio Pesona FMadalah 1) campur kode ke dalam (88,1%) dan alih kode ke luar (11,9%). Alih kode ke dalam meliputicampur kode antara kode bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia. Alih kode ke luar meliputi campur kodeantara bahasa Jawa dengan bahasa asing, misalnya bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kata kunci: campur kode, alih kode, tuturan, penyiar, campursari
PENDEKATAN KOMUNIKATIF DENGAN ROLE PLAY DALAM PEMBELAJARAN KAIWA PADA MAHASISWA SEMESTER V TAHUN 2013/2014 Supriatnaningsih, Rina
Lingua Vol 10, No 1 (2014): January 2014
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pengaplikasian pendekatan komunikatifteknik role play berupa pemberian latihan berdialog dengan berbagai peran gunamemperbaiki hasil pembelajaran mata kuliah kaiwa (percakapan) mahasiswa semester Vtahun 2013/2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitiantindakan kelas. Pengambilan data dilakukan dengan teknik tes. Hasil penelitian yangdicapai adalah sebanyak 56 mahasiswa nilai rata-ratanya mencapai 83. Selain itu, 48(85,71%) mahasiswa memilih role play jenis kedua yakni dialog yang berbeda denganbuku teks. Berdasarkan hasil tersebut, ada peningkatan nilai yang diperoleh dariperkuliahan sebelumnya. Banyaknya mahasiswa memilih tes jenis kedua menunjukkanbahwa pengajaran dengan pendekatan komunikatif dalam pengajaran kaiwa berhasilditerapkan sesuai dengan yang diharapkan. This research aimed to describe application of communicative approach if role playtechnique, which was giving dialog exercise with various roles in order to improvelearning outcome of kaiwa (conversation) course of fifth semester students of 2013/1014academic year. Method applied in this research was action research method. Datacollection was done by test technique. Result of this research showed that there were 56students having average score 83. Besides that, 48 (85,71%) students chose role play typetwo that was constructing different dialogs from the textbook. Based on that finding, therewas increasing score achieved compared to previous lecture. The great numbers ofstudents took test type two showed that learning with communicative approach in kaiwateaching and learning process was successful to be applied in accord with what it wasexpected.
PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG PADA MATA KULIAH CHOKAI DENGAN METODE DISKUSI Diner, Lispridona
Lingua Vol 7, No 2 (2011): July 2011
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pembelajaran melibatkan dua pihak yaitu pengajar dan pembelajar. Kedua pihak tersebut harus aktif agar tujuan suatu pembelajaran tercapai dengan baik. Dalam proses pembelajaran bahasa Jepang terutama pembelajaran yang membutuhkan keterampilan berbahasa (yon ginou) yaitu mendengar (kiku ryoku), berbicara (hanasu ryoku), membaca (yomu ryoku), menulis (kaku ryoku) pengajar perlu menggunakan metode pengajaran yang tepat agar keempat keterampilan berbahasa dapat tercapai. Pada penerapannya pembelajaran empat keterampilan berbahasa tersebut terpisah, meskipun dalam prosesnya saling berkaitan. Mata kuliah chokai adalah mata kuliah mengutamakan keterampilan mendengar. Berdasarkan pengamatan, terdapat pembelajar yang kemampuan menyimak baik, namun dalam komunikasi pasif (tidak dapat mengungkapkan apa yang didengar/simak dengan komunikasi verbal). Oleh karena itu, pengajar menerapkan metode diskusi pada pengajaran chokai. Tujuan penerapan metode diskusi adalah pembelajar dapat mengapresiasi keterampilan mendengar dan keterampilan berbicara dengan baik dalam proses pembelajaran chokai. Sebelum melakukan pembelajaran chokai melalui metode diskusi, pengajar perlu memperhatikan kelemahan dari metode diskusi. Terutama pengajar memberikan kesempatan yang sama kepada pembelajar yang keterampilan berbicara kurang. Dengan demikian, kelemahan metode diskusi dapat diatasi dengan baik. Setelah menerapkan metode diskusi dalam proses pembelajaran, maka hasil yang diperoleh, keterampilan berbicara dan mendengarkan mengalami peningkatan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar mata kuliah Chokai dan proses pembelajaran yaitu pembelajar yang cenderung pendiam memiliki tingkat kepercayaan diri dan keterampilan berbicara yang meningkat. Kata Kunci: mata kuliah chokai, metode diskusi
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYUSUN TEKS EKSPOSISI MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DENGAN MEDIA KARIKATUR BERPIDATO BERTEMA KEBUDAYAAN INDONESIA Ridianur, Fajrina; Utami, Santi Pratiwi Tri
Lingua Vol 11, No 1 (2015): January 2015
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterampilan menyusun teks eksposisi pada peserta didik kelas VII H SMP Negeri 1 Banjarnegara belum mencapai nilai ketuntasan minimal. Rendahnya nilai tersebut disebabkan  minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, kurangnya penerapan model dan media yang variatif, dan sulit mengembangkan kerangka menjadi sebuah teks yang utuh. Oleh karena itu, guru harus lebih variatif dalam menerapkan model serta media pembelajaran untuk menarik minat peserta didik dalam pembelajaran menyusun teks eksposisi. Penggunaan model pembelajaran berbasis proyek dan media karikatur berpidato bertema kebudayaan Indonesia diharapkan bisa mengatasi masalah diatas. Pengumpulan data menggunakan nontes dan tes. Dari hasil penelitian, proses pembelajaran, sikap religius dan sosial peserta didik mengalami perubahan kearah yang positif. Proses pembelajaran mengalami peningkatan rata-rata sebesar 10% dari siklus I ke siklus II. Sikap religius mengalami peningkatan sebesar 1 dari siklus I ke siklus II. Adapun sikap sosial mengalami peningkatan 0,69 pada sikap jujur, 0,44 pada sikap santun, dan 0,33 pada sikap tanggung jawab. Hasil keterampilan juga mengalami peningkatan  sebesar 0,56 dari 2,76 pada siklus I menjadi 3,39 pada siklus II.The skill of arranging exposition text in the VII H students of SMP Negeri 1 Banjarnegara does not reach the minimum completeness grade. It is happened because the lack of interest from the students, less variation in the applied model and media, and the difficulty to develop the framework into one whole text. Therefore, the teacher has to find the students’ interest and applied more variation of model and media in the teaching and learning process. The project based and recite caricature Indonesian culture themed are use in the teaching and learning process to solve the problems. Test and non-test is use to collect the data. The results of the research indicate that the student’s religious and social attitude positively improved. Learning increased an average of 10% from the first cycle to second cycle. A religious posture increased by 1 from the fisrt cyce to second cycle. The social attitudes 0,69 increased in the attitude of honest, 0,44 in the attitude manners, and 0,33 in the attitude of responsibility. The students’ skill shown the improvement in the amount of 0,56; it was 2,76 in the first cycle, and it become 3,39 in the second cycle.
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MIKRO INOVATIF BAGI PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK CALON GURU BAHASA INDONESIA Zulaeha, Ida; Luriawati, Deby
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Micro teaching sebagai mata kuliah yang wajib diberikan kepada mahasiswa sebelum diterjunkan ke sekolahlatihan seharusnya menjadi wadah pematangan mental dan karakter mahasiswa calon guru bahasa dan sastranamun pada kenyataannya, pembelajaran mikro belum tergali secara maksimal. Mahasiswa masih kesulitandalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Berdasarkan hal itu, penelitian ini bertujuanmenemukan hal-hal yang menjadi kebutuhan materi perkuliahan micro teaching, mahasiswa dan dosenberkenaan dengan pengembangan draf model pembelajaran mikro inovatif, dan menemukan karakteristik modelpembelajaran mikro inovatif yang dapat meningkatkan kompetensi pedagogik calon guru bahasa Indonesiadalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif untuk membentuk karakter siswa. Model pembelajaranmikro inovatif ini, memiliki tiga konsep utama , yaitu penelitian atau inquiry, pengetahuan atau knowledge, dandinamika belajar kelompok atau the dynamics of the learning group. Dalam interaksinya model ini melibatkanberbagai proses berbagai ide dan pendapat serta saling tukar pengalaman melalui proses argumentasi dalamdiskusi.Kata Kunci: pengembangan model, pembelajaran mikro inovatif, kompetensi pedagogik, calon guru bahasaIndonesiaPENDAHULUAN
PENERAPAN MODEL EXPLICIT INSTRUCTION UNTUK PEMBELAJARAN MEMBACA INDAH GEGURITAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 39 SEMARANG Sabrina, Firda Rokhmatika Melly; Edy Nugroho, Yusro
Lingua Vol 12, No 1 (2016): January 2016
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study is to explain the difference between the results of reading geguritan by control class and by experimental class using model of explicit instruction in VII grade students at SMPN 39 Semarang. Design of this research is true experimental design using posttest-only control design form. Research data collection techniques including observation, testing, and interviews to students. Data analysis techniques is the description of qualitative and quantitative data, analysis of prerequisite test (homogeneity test), and hypothesis test using IBM SPSS Statistics 20 program.The research results are (1) The average value of the experimental class is 81.25, while the control class the average score was 68.96. Different test results obtained t = -6.639 and sig. (2-tailed) of 0.000, due to different test significance level of less than 0.05, it can be concluded there are significant differences in learning outcomes geguritan reading skills between the experimental class and control class. (2) Learning with the learning model of explicit instruction more effective than learning without the use of model explicit instruction. (3) Learning with the learning model of explicit instruction more fun and easily understood by students rather than learning that is done without the use of model explicit instruction. (4) The behavior of the students in the experimental class is more active, while the control class tend to be passive.Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan perbedaan hasil membaca indah geguritan antara kelas kontrol dengan kelas experimen melalui model explicit instruction siswa kelas VII di SMP Negeri 39 Semarang.Desain penelitian ini adalah true experimental design dengan menggunakan bentuk posttest-only control design.Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes, dan wawancara kepada siswa. Teknik analisis data menggunakan deskripsi data kualitatif dan kuantitatif, uji prasyarat analisis (uji homogenitas), dan uji hipotesis (uji-t) menggunakan program IBM SPSS Statistics 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran explicit instruction dalam membaca indah geguritan siswa kelas VIII SMP Negeri 39 Semarang lebih efektif, baik dari hasil pembelajaran maupun proses pembelajaran, secara rinci dijelaskan sebagai berikut. (1) Nilai rata-rata kelas eksperimen adalah 81,25, sedangkan kelas kontrol nilai rata-ratanya adalah 68,96. Hasil uji beda diperoleh t = -6,639 dan sig.(2-tailed) sebesar 0,000, karena tingkat signifikasi uji beda kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan adanya perbedaan yang signifikan pada hasil belajar keterampilan membaca indah geguritan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. (2) Pembelajaran dengan model pembelajaran explicit instruction lebih efektif untuk pembelajaran membaca indah geguritan daripada pembelajaran yang dilakukan tanpa menggunakan model explicit instruction. (3) Pembelajaran dengan model pembelajaran explicit instruction lebih menyenangkan dan mudah dipahami oleh siswa daripada pembelajaran yang dilakukan tanpa menggunakan model explicit instruction. (4) Perilaku siswa pada kelas eksperimen lebih aktif, sedangkan kelas kontrol cenderung pasif.
SIKAP DAN PREFERENSI KEPALA SEKOLAH SMA SE JAWA TENGAH TERHADAP BAHASA ASING PILIHAN Astuti, Dwi
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sikap Kepala Sekolah SMA seJawa Tengah terhadap bahasa asing pilihan di SMA, (2) preferensi KepalaSekolah SMA se Jawa Tengah terhadap bahasa asing pilihan di SMA, serta (3)kendala-kendala yang dihadapi sekolah dalam membuka Jurusan Bahasa.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalahpara Kepala Sekolah SMA baik negeri maupun swasta di Jawa Tengah. Tekniksampling yang digunakan adalah quota area random sampling. Denganmenggunakan teknik tersebut didapat sampel Kepala Sekolah yang berada diSMA di Kota Semarang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Wonogiri, dan KotaPekalongan. Untuk mendapatkan data digunakan instrumen berupa angket.Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisisdeskriptif persentase serta kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paraKepala Sekolah SMA di Jawa Tengah bersikap positif terhadap bahasa asingselain bahasa Inggris. Preferensi Kepala Sekolah terhadap bahasa asing pilihanyang ada di SMA berturut-turut dari atas diduduki oleh bahasa Arab, Mandarin,Jepang, Prancis, kemudian Jerman. Kendala utama yang dihadapi sekolahketika akan membuka Jurusan Bahasa adalah kurangnya minat siswa untukmasuk di jurusan tersebut.Kata kunci: sikap, preferensi, bahasa asing
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN MENGGUNAKAN STRATEGI LIPIRTUP MELALUI MEDIA REALITY SHOW “MY TRIP MY ADVENTURE” Yulianti, Riska Anisa; Sumartini, Sumartini
Lingua Vol 11, No 2 (2015): July 2015
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis cerpen dan mendeskripsikan perubahan perilaku siswa setelah menulis cerpen menggunakan strategi Lipirtup melalui media reality show “My Trip My Adventure” pada siswa kelas X-D MA PPKP Darul Ma’la Winong. Proses pembelajaran dilaksanakan melalui dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Tiap siklus meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen tes dan nontes. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 67,5 atau dalam kategori cukup dan mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 87 atau dalam kategori sangat baik. Pada siklus I dan siklus II meningkat sebesar 14,5 atau 21,5%. Peningkatan menulis cerpen juga diikuti dengan perubahan sikap belajar siswa yang lebih baik selama proses pembelajaran menulis cerpen menggunakan strategi Lipirtup melalui media reality show “My Trip My Adventure”.The purpose of this research is to describe the improvement of writing ability in short story and describe the transition of students attitude after writing in short story by using Lipirtup strategy through reality show “My Trip My Adventure” media at the X-D class of MA PPKP Darul Ma’la Winong. This research is conducted in two cycles, these are cycle I and cycle II. Every cycle includes planning, action, observation an reflection. The instrument of this research are test and non test. The technique of data analysis in this research uses quantitative and qualitative technique. The result of this research shows that the average score in cycle I is 67,5 in sufficient category and in cycle II shows the improvement around 87 in very good category. In cycle I and cycle II shows the improvement around 14,5 or 21, 5%. Improving writing ability in short story is also followed by the transition of students attitude in study that more better in teaching and learning process of writing short sory by using Lipirtup strategy through reality show “My Trip My Adventure” media.
BENTUK, STRATEGI PENGGUNAAN, DAN KESANTUNAN TINDAK TUTUR MENOLAK DALAM INTERAKSI ANTARMAHASISWA PRODI SASTRA PRANCIS FBS UNNES Santoso, Wahyudi Joko; Widayanti, Diah Vitri; Astuti, Dwi
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problems that were examined: (1) how the realization of speech act of refuser in French by the researchsubjects are used? (2) what strategies are used by research subjects in refuser to their partners? and (3) howthe politeness levels are used in the Speech Act of refuser by Semester VI Students?Data obtained by “fishing” techniques, “fishing” the respondents using a questionnaire. The data wereanalyzed using equivalent analytical methods subtypes with a pragmatic “tool partners of the respondents" (thelittle brother, their lover, their rector, and their parking worker) and the power of mental sort (referential) ownedby the researcher.The results showed that (1) of the realization of the speech act refuser, the respondents prefered the"declarative" mode to reject the partners than the other modes, both single mode and dual mode, (2) from thepoint of strategy used to "reject" partner respondents, most respondents tended to reject "indirectly" because itallows both participants involved in feel “face saving”, and (3) of the level politeness in the use of strategies,respondents tend to use the level politeness "very polite" and "polite" to others (lovers, rectors, and parkingworker) and tend to "not polite" to the little brother/sister.Keywords: pragmatic, speech act, realization, strategy, levels of politeness
PROFIL PENGENDALIAN MUTU PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2006 DI SMA/MA KOTA SEMARANG Hartono, Bambang
Lingua Vol 10, No 2 (2014): July 2014
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah  mendeskripsikan profil pengendalian mutu pembelajaran mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA/MA negeri  dan swasta di Kota Semarang, terutama berkait dengan aspek perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Subjek  percontoh dalam penelitian ini adalah guru bahasa Indonesia dan atau kepala SMA/MA di Kota Semarang di 30 sekolah. Ke-30 sekolah itu dipilih secara variatif, baik negeri maupun swasta. Data penelitian ini diperoleh dengan cara mengumpulkan langsung dari lapangan melalui nontes. Teknik yang digunakan di antaranya angket, kuesioner, pengamatan langsung/lapangan, penilaian dokumen, dan wawancara. Dalam penelitian ini, analisis data menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan: 1) secara umum profil untuk pengendalian mutu pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia jenjang pendidikan SMA/MA di Kota Semarang berkategori mutu cukup (2,31). Adapun pengendalian mutu tiap-tiap aspek 1) perencanaan pembelajaran berkategori cukup (1,99), sedangkan responden yang belum melaksanakan atau belum ada berbagai hal/proses pengendalian mutunya ada 271 (30,11%); 2) pengendalian mutu pada aspek pelaksanaan pembelajaran berkategori baik (2,52), sedangkan responden yang belum melaksanakan atau belum ada berbagai hal/proses pengendalian mutunya ada 284 (17,75%); dan 3) pengendalian mutu pada aspek evaluasi pengajaran berkategori cukup (2,35), sedangkan responden yang belum melaksanakan atau belum ada berbagai hal/proses pengendalian mutunya ada 107 (16,03%).  This research aims to describe the profile of Indonesian language and literature leaning quality control in public and private senior high school and Islamic school in Semarang city, especially relating to the aspects of lesson planning, lesson implementing, and lesson evaluating. Subject samplings in this research are Indonesian language and literature teachers and/or the principals of public and private senior high school and Islamic school in Semarang of thirty schools. The thirty schools is selected variously, both public and private schools. The research data is acquired by field direct collection through non-test. The techniques applied are questionnaire, direct/field observation, document assessment, and interview. Data analysis, in this research, uses qualitative descriptive analysis method. Result of this research shows that the profile of Indonesian language and literature leaning quality control for public and private senior high school and Islamic school in Semarang is categorized as fair (2,31). The quality control of each aspect depicts that 1) the lesson planning is categorized fair (1,99), whereas respondents which have not done or there have not been various quality control processes are 271 (30,11%); 2) the learning implementing aspect is categorized good (2,52), whereas respondents which have not done or there have not been various quality control processes are 284 (30,11%); and 3) the learning evaluating aspect is categorized fair (2,5%), whereas respondents which have not done or there have not been various quality control processes are 107 (16,03%)