cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Core Subject : Education,
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 590 Documents
VARIASI PEMAKAIAN TINGKAT TUTUR BAHASA JAWA DI WILAYAH EKS KARESIDENAN KEDU (KAJIAN SOSIODIALEKTOLOGI) Astuti, Eka Yuli
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims at studying the use of Javanese in Ex. Karesidenan Kedu (abbreviated as BJKK). Itis based on sociodialectology approach. This study deals with the social variables of the subjects includingtheir education, occupation, and age; besides rural-urban distinction that influences the variations BJKKspeakers. The language uses are classified into variations related to phonological, morphological,syntactical, lexical, speech-level aspects.The drawing of primary data was based on a research instrument containing 1001 questionsqualitatively developed from Swadesh List containing 200 new base-word items. The research location (RL)was classified into three RLs according their historical relations. There are RLs, i.e. RL -1 Magelang, RL -2Kebumen, RL -3 Dieng Wonosobo. The criterion of RL selection was based on the BJJS similarities (OP-1),Banyumas as well as Sundanese (RL-2) dialect influence, and lingual characteristics that are similar to thatof Banyumas dialect and BJJS (RL-3). All data have been analyzed using descriptive method.The research finding on phonological level showed that among he speakers at BJKK the phonologicalsystem has 8 vowels and 20 consonants. The BJKK words were formed through morphological process,such as affixation, reduplication, and composition process. In syntactical level, this research founddeclarative, interrogative, and imperative sentences based on the function and the related context, whosevariation can be applied in various speech level context such as Ng, Md, Kr, and KI. The acquisition ofspeech level of the three OP and six variables are different from each other. The speakers in RL-1 acquirethe speech level better than the ones in RL -2 and RL -3. The educated speakers whose occupation werefarmers, acquired the speech level better than the other variables.Among the speakers of Javanese at BJKK, there was a variety uses of phones and morphs such asthe use of {-aken} affix. This affix was intensively used at RL-2 and RL-3 as imperative Ng marking affix. Thistype of suffix was not used at BJJS whose affix was used in Kr level. The syntactical variation took place inthe part of imperatives and the use of dialect such as [si], [sih], [je], [lah], [.diG] used in informal situation.The dominating variety of lexicon that is different from BJJS was found in RL-2. In the speech level, thedominating variety was found in Kr level. BI interferences were intensively used in peripheral location. That isnot an extraordinary phenomenon when the speakers have obstacles to choose the best speech level order.Key words: sociodialectology, social variation, speech level variation
KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DALAM WACANA DAKWAH AGAMA ISLAM KAUM WANITA Pristiwati, Rahayu
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wacana dakwah agama Islam kaum wanita sangat dipengaruhi faktor-faktor sosial dan situasional yangmelingkupinya. Walaupun bahasa yang digunakan bahasa Indonesia resmi. Namun demikian, kenyataannyadalam dakwah sering digunakan alih kode dan campur kode. Penelitian perihal keefektifan penggunaan alihkode dan campur kode di dalam wacana dakwah agama Islam belum diteliti. Masalah yang diteliti di dalampenelitian ini adalah apa sajakah fungsi dan keefektifan penggunaan alih kode dan campur kode dalamwacana dakwah agama Islam kaum wanita. Penelitian ini bertujuan menemukan fungsi alih kode dancampur kode dan mengidentifikasi keefektifan penggunaan alih kode dan campur kode di dalam wacanadakwah agama Islam kaum wanita.Data dalam penelitian terdiri atas wacana, penggalan wacana, dan kalimat tuturan dakwah agamaIslam kaum wanita yang diduga mengandung unsur alih kode dan campur kode bersumber wacana dakwahradio RCA Tegal. Korpus data berupa transkripsi delapan wacana dengan topik yang berbeda.Pengumpulan data menggunakan teknik rekam dan teknik catat. Teknik analisis yang digunakan adalahteknik kontekstual dan teknik analisis normatif.Hasil penelitian bersimpulan bawha keefektifan alih kode dapat berwujud (1) meyakinkan, (2)mengakrabkan, (3) mengajak, (4) menyampaikan maksud tertentu, (5) memberikan nasihat, dan (6)mengingatkan. Adapun keefektifan campur kode berwujud (1) menjelaskan, (2) menyampaikan implikatur,(3) menonjolkan keterpelajaran, dan (4) menghormat pendengar. Keefektifan penggunan alih kode dancampur kode dalam wacana dakwah agama Islam kaum wanita ditentukan oleh derajat komunikasi antarapenceramah dengan pendengar.Kata Kunci: fungsi, keefektifan, wacana dakwah
BENTUK DAN FAKTOR PENYEBAB PENGGUNAAN JARGON MASYARAKAT NELAYAN DI REMBANG N, Deby Luriawati
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jargon adalah kosakata khusus yang digunakan dalam setiap bidang kehidupan, keahlian, dan lingkunganpekerjaan yang tidak dimengerti kelompok lain. Masyarakat nelayan di Rembang dalam komunikasi sehariharimenggunakan jargon, tetapi, mereka tanpa sadari kadang-kadang menggunakan jargon dengan orangdi luar kelompoknya sehingga lawan tutur mereka tidak paham. Permasalahan dalam penelitian ini adalahbentuk jargon apa sajakah yang digunakan oleh masyarakat nelayan di Rembang dan faktor-faktor apasajakah yang menyebabkan jargon digunakan oleh masyarakat nelayan di Rembang , Data penelitian iniberupa wacana dialog masyarakat nelayan di Rembang yang di dalamnya diduga mengandung jargon. Datadikumpulkan dengan teknik wawancara dan perekaman. Data dianalisis dengan menggunakan metodenormatif dan metode etnografi komunikasi digunakan untuk mengidentifikasi faktor penyebab jargondigunakan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Jargon yang digunakanmasyarakat nelayan di Rembang ada yang berbentuk kata tunggal dan kata kompleks, frasa, serta ada yangberbentuk singkatan dan akronim. Faktor yang mentebabkan jargon digunakan, yaitu faktor kebiasaan yangturun temurun dan faktor keinginan masyarakat untuk menunjukkan identitas kelopoknya. Sesuai denganpenelitian ini, saran yang disampaikan adalah (1) bagi masyarakat luar yang ingin berhubungan secaraefektif dengan masyarakat nelayan tersebut harus memahami jargon itu. Diharapkan masyarakat luarmempelajari jargon di sana, (2) situasi kebahasaan dalam masyarakat nelayan dengan segala keunikan dilingkungan mereka ini masih memungkinkan untuk dikaji dari berbagai sudut pandang keilmuan, tidak hanyadari linguistik saja, tetapi dari sudut pandang ilmu lain misalnya ilmu antropologi untuk memperoleh deskripsikeebudayaan pada masyarakat tuturannya secara sistematis dan mendalam.Kata Kunci: bentuk, faktor penyebab jargon, dan masyarakat nelayan
PERSEPSI DAN HARAPAN MAHASISWA DAN DOSEN TERHADAP PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BAHASA ARAB -, Zukhaira; Kuswardono, Singgih
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap persepsi mahasiswa dan dosen terhadap penyelenggaraan danpelaksanaan pembelajaran keterampilan berbahasa Arab, dan mengungkap harapan-harapan mahasiswadan dosen tentang pembelajaran keterampilan berbahasa Arab di Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Penelitianini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Secaragaris besar persepsi mahasiswa dan dosen terhadap pembelajaran keterampilan berbahasa Arab ekspresifdan reseptif sudah berjalan dengan baik. (2) Kelemahan yang menonjol dalam proses belajar mengajarketerampilan berbahasa Arab yaitu; banyaknya materi pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhanmahasiswa dan tidak membantu mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab, dosendalam penyampaian materi tidak menggunakan metode bervariasi, banyaknya dosen yang tidakmenggunakan media pembelajaran, dan pola evaluasi yang tidak sesuai dengan materi yang diajarkan sertahanya menguji pada ranah kognitif saja. (3) Mahasiswa dan dosen berharap agar pembelajaranketerampilan dapat berjalan dengan baik dengan dukungan fasilitas dan sarana yang lebih memadai.Kata kunci : persepsi, harapan, pembelajaran keterampilan, bahasa Arab
PENGEMBANGAN RANCANGAN MATA KULIAH SASTRA BANDINGAN DENGAN METODE SINKRONIK-DIAKRONIK BERBASIS LAPANGAN DI PRODI BAHASA DAN SASTRA JAWA -, Sukadaryanto; Nugroho, Yusro Edy
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, apakah pengembangan rancangan perkuliahan Sastra Bandingandengan metode sinkronik-diakronik berbasis lapangan dapat meningkatkan hasil belajar dan etosmahasiswa . Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang dirancang melalui duasiklus. Subjek penelitiannya, mahasiswa prodi Sastra Jawa Unnes semester 6 sejumlah 30orang.Penelitian menggunakan dua instrumen, yaitu instrumen tes dan instrumen nontes.Teknik analisisdata menggunakan analisis deskriptif prosentase dan secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasilpenelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut. Hasil penelitian menunjukkan bahwarancangan perkuliahan sasta bandingan dengan metode sinkronik-deakronik berbasis lapangan terbuktisecara maknawi mampu meningkatkan kompetensi mahsiswa dalam membandingkan cerita rakyat yangmeliputi aspek peceritaan, unit naratif, fungsi pelaku, motif cerita, dan latar belakang cerita. Pada siklus Inilai rata-rata hasil belajar mahasiswa yang diungkap dalam kompetensi membandingkan cerita rakyatberbasis lapangan adalah 81,64, pada siklus II naik menjadi 88,09. Etos belajar mahasiswa menunjukkanperilaku yang positif dilihat dari awal perkuliahan sampai akhir perkuliahan. Hal ini tampak pada keaktifanselama perkuliahan, keterlibatan dalam bekerja sama di lapangan, dan keseriusan dalam mengerjakantugas.Kata kunci: sastra bandingan, sinkronik-diakronik
GAYA BAHASA DALAM CERPEN “WARGA KOTA KACANG GORENG” KARYA ADEK ALWI Wulandari, Rini Susanti
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam beragam tulisan dapat dilihat adanya suatu kekhasan dari penulis yangsatu dengan penulis yang lain. Kekhasan tersebut salah satunya adalah tekniktertentu yang dimiliki penulis ketika menuangkan idenya ke dalam susunankata-kata, frasa-frasa dan kalimat-kalimat yang menggambarkan pola ataucorak tertentu. Teknik penulisan tersebut merupakan gaya penulisanpengarang atau penulis. Stilistika sangat berperan dalam penciptaan suatukarya tulisan atau karya sastra, diantaranya gaya bahasa, yang meliputi gayabunyi, gaya kata, gaya kalimat dan wacana, dan lain sebagainya. Analisisterhadap tulisan Adek Alwi terfokus pada analisis gaya bahasanya.Kata kunci: gaya bahasa, gaya bunyi, gaya kata, gaya kalimat, wacana
KLASIFIKASI KALIMAT PASIF BAHASA JEPANG Hernawati, Heni
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kalimat pasif bahasa Jepang dikenal dengan istilah ukemi. Akan tetapi, adabeberapa ahli yang menyebutnya dengan istilah judoobun. Suatu kalimatdisebut kalimat pasif apabila kalimat tersebut memenuhi syarat secaramorfologis, sintaksis, dan semantis. Secara morfologis terdapat perubahanbentuk verba dari konstruksi aktif menjadi pasif dengan menambahkan sufikspada verba aktif. Secara sintaksis yaitu frase nomina pengisi nonsubjek kalimataktif transitif atau ditransitif dijadikan pengisi subjek kalimat pasif, dan pengisisubjek kalimat aktif menjadi nonsubjek pada kalimat pasif. Secara semantis,apabila pelaku tidak lagi menjadi topik suatu kalimat. Klasifikasi kalimat pasifbahasa Jepang dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu kalimat pasif yangberasal dari kalimat aktif transitif, kalimat pasif yang berasal dari kalimat aktifitrbansitif, kalimat pasif yang berasal dari kalimat berpredikat verba intransitif,dan kalimat pasif yang berasal dari kalimat aktif berobjek frase nomina posesif.Kata kunci : ukemi, judoobun
APRESIASI CERPEN “OTSUBERU TO ZOO” KARYA MIYAZAWA KENJI DENGAN METODE STRUKTURAL GENETIK Wardhaningtyas, Setiyani
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Goldmann, sebagai pencetus teori struktural genetik, menyatakan adanyahubungan homologi antara karya sastra dengan dunia nyata. Akan tetapi,hubungan itu bukan hubungan langsung melainkan dimediasi oleh pandangandunia pengarang. Melalui karya sastra, pengarang menciptakan dunianyasendiri, yaitu dunia imajinatif. Tiga hal penting dalam struktural genetik yangdijadikan objek data penelitian, yaitu struktur karya sastra, latar belakangsosial historis masyarakat, dan pandangan dunia (worldview) pengarang.Cerpen yang berjudul “Otsuberu to Zoo” karya Miyazawa Kenji menarik untukditeliti karena isi cerpen tersebut menceritakan tentang dunia imajinatif yangdijadikan simbol untuk menyindir kehidupan dunia nyata yang terjadi di Jepangpada saat itu. Isi cerpen tersebut menceritakan tentang seekor gajah yangbekerja di sebuah tempat penggilingan padi milik Ostuberu. Di tempatpenggilingan padi tersebut, sang gajah bekerja sangat keras, bahkan sampai iasendiri tidak kuat menanggung beban kerjanya. Akan tetapi, sang gajahdikurung dan tidak mempunyai pilihan hidup lainnya, sang gajah tidak bisaberbuat apa pun selain melaksanakan pekerjaan tersebut. Pada akhirnya, sanggajah menyadari bahwa ia bisa mempunyai kehidupan yang lain, dan ia bisamelarikan diri dari tempat bekerjanya setelah ia meminta tolong kepadateman-temannya. Struktur karya sastra yang diteliti adalah plot, tema,penokohan, dan latar. Latar belakang sosial historisnya adalah kehidupanpetani Jepang pada masa awal Meeji, dan pandangan dunia pengarang adalahkeadilan. Dari ketiga objek data tersebut, penulis menyimpulkan bahwa temacerpen “Otsuberu to Zoo” merupakan refleksi dari latar belakang historis, yaitumasalah sosial, dalam hal ini adalah ketidakadilan dan ketamakan kaum kapitalterhadap para petani Jepang pada masa awal Meeji.Kata kunci: Struktural genetik, struktur karya sastra, latar belakang sosial-historis,pandangan dunia.
ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN UNGKAPAN YANG MENUNJUKKAN WAKTU (KALA DAN ASPEK) DALAM KARANGAN BAHASA JEPANG Diner, Lispridona
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam bahasa Jepang, tanpa menyebutkan keterangan waktu pun, dapatdiketahui kapan peristiwa itu terjadi melalui perubahan kata kerja yangmengikuti kalimat tersebut. Mahasiswa mengalami kesulitan dalam memilahmilahantara kata kerja bentuk –ta, –te atau –masu yang dicocokkan denganalur cerita dan tema dalam sebuah karangan. Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengemukakan permasalahan yaitu kesalahan apa saja(penggunaan kala dan aspek) yang terdapat dalam sebuah karangan, serta apapenyebab terjadinya kesalahan tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui kesalahan apa saja (penggunaan kala dan aspek) yang terdapatdalam sebuah karangan, serta apa penyebab terjadinya kesalahan tersebut.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Populasi penelitianadalah mahasiswa Jurusan BSA Program Studi D3 Bahasa Jepang. Sampel yangdigunakan adalah total sampling yaitu seluruh mahasiswa D3 Bahasa Jepangsemester 5. Teknik pengumpulan data melalui dokumentasi berupa hasilkarangan yang bertema Tanoshii Ichinichi, Daigaku Seikatsu dan Watashi noKuni no Kyooiku. Langkah analisis data yaitu mengumpulkan hasil karangan,mengidentifikasi kesalahan, menjelaskan kesalahan, mengklasifikasi kesalahan,dan mengevaluasi kesalahan. Melalui penelitian ini diketahui bahwa kesalahankala dan aspek pada sebuah karangan khususnya pada tema Tanoshii Ichinichi,Daigaku Seikatsu dan Watashi no Kuni no Kyooiku terdapat pada kata kerja,kata sifat dan kata benda. Kesalahan tersebut dikarenakan kekurangpahamantentang penggunaan kala dan aspek yaitu penggunaan kata kerja, kata sifatdan kata bentuk lampau, sekarang dan akan datang, dalam menulis sebuahkarangan tidak memperhatikan makna dan maksud alur cerita, tidakmemperhatikan tema dan situasi yang berhubungan dengan tema sehingga isikarangan tidak sesuai, misalnya; tema yang menceritakan pengalaman berartikata kerja, kata sifat dan kata benda yang umumnya digunakan adalah bentuklampau. Jenis aspek yang menjadi kesalahan yaitu aspek abituatif adalah aspekyang menggambarkan perbuatan yang menjadi kebiasaan, aspek inkoatifadalah aspek yang menggambarkan perbuatan mulai, aspek inkompletif adalahaspek yang menggambarkan perbuatan yang belum selesai dan aspekkompletif adalah aspek yang menggambarkan perbuatan selesai.Kata Kunci: kala, aspek inkoatif, aspek abituatif, inkompletif, aspek kompletif
AKSEN FEMINITAS MASYARAKAT NELAYAN JAWA DI PESISIR REMBANG: TELAAH PERBEDAAN GENDER DALAM PENGGUNAAN BAHASA Qomariyah, U’um
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mencoba untuk memaparkan hubungan antara bahasa dangender dalam kaitannya dengan aksen bahasa. Permasalahan yang diangkatdalam penelitian ini adalah bagaimana aksen feminitas yang digunakan olehmasyarakat nelayan Jawa di pesisir Rembang dan faktor-faktor yangmenyebabkan perbedaan aksen tersebut. Pendekatan kualitatif digunakanuntuk menemukan keunikan objek dari sudut pandang yang utuh,komprehensif, dan holistik. Selain itu, pendekatan gender dalam kaitannyadengan sosial budaya suatu masyarakat juga digunakan dalam penelitian ini.Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa konstruksi bahasa, khususnyaaksen antara laki-laki dan perempuan mengalami perbedaan. Perbedaan itulebih disebabkan banyaknya vokal /o/ yang digunakan dalam tuturan laki-laki.Sedangkan perempuan lebih banyak menggunakan vokal /e/ atau /i/. Hasilpenelitian menengarai bahwa perbedaan aksen tersebut biasanya dilakukanoleh anak muda sedangkan para orang tua mereka cenderung bicara apaadanya. Kecuali beberapa keluarga yang dipandang sebagai keluarga berada.Mereka cenderung melakukan penyesuaian berdasarkan lingkungan terbarumereka. Hal yang menarik ternyata meskipun laki-laki dikatakan mempunyaiaksen yang lebih kasar dan terbuka dibandingkan perempuan, ternyata laki-lakitidak ingin meniru aksen yang dituturkan perempuan. Mereka lebih cenderungingin berbicara apa adanya. Untuk beberapa hal, terkadang perempuan di sanacenderung ”ambigu” Di satu sisi ketika mereka berbicara dengan orang yang”di atas” mereka, aksen mereka lebih cenderung halus, namun jika berbicaradengan orang sepadan atau ketika kemarahan muncul, mereka tidak akanmemperhatikan lagi aspek kesopanan. Faktor yang menyebabkan perbedaantuturan antara laki-laki dan perempuan di antaranya faktor sosial ekonomi dankonstruksi gender yang timpang.Kata Kunci: aksen, gender, bahasa

Page 3 of 59 | Total Record : 590