cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI (SOROT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 306 Documents
KONSTRUKSI SOSIAL PENDIDIKAN MASYARAKAT ADAT BADUY Gabriel, Gabriel; Nugroho, Wahyu Budi; Kamajaya, Gede; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KONSTRUKSI SOSIAL PENDIDIKAN MASYARAKAT ADAT BADUY: ANALISIS EKSTERNALISASI, OBJEKTIVASI DAN INTERNALISASI Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial pendidikan dalam masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Banten. Pendidikan formal merupakan suatu proses modal dasar bertahan hidup untuk menghadapi dunia. Pendidikan memberikan seseorang ilmu pengetahuan, kompetensi, metode, dan data. Menempuh pendidikan formal individu dapat mengembangkan wawasan serta potensi yang dimiliki untuk kelanjutan hidup individu tersebut. Berbeda dalam masyarakat Baduy untuk mengenyam pendidikan formal, mereka memiliki pandangan bahwa bila bersekolah formal nanti akan mengancam adat istiadat suku Baduy akibat kebebasan yang terkontrol di dunia luar. Tabu akan pendidikan formal bukan berarti masyarakat Baduy menolak Ilmu pengetahuan, observasi penulis di lapangan ternyata masyarakat Baduy memiliki sistem pendidikan sendiri yang sesuai dengan adat istiadat atau pikukuh karuhun yang disebut dengan ngolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Analisis teori yang digunakan sebagai pisau bedah dalam penelitian ini adalah konsep eksternalisasi, internalisasi, dan objektivasi menurut Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Hasil penelitian ini mengungkapkan pada konstruksi pendidikan adat baduy disebut ngolah yang disesuaikan dengan adat istiadat masyarakat Baduy. Ngolah memprioritaskan tananan hukum adat yang berlaku dan memiliki tujuan untuk mewariskan nilai-nilai kebudayaan leluhur. Ngolah berlangsung secara turun-temurun melalui keluarga dan tokoh adat dengan fokus pembelajaran ialah aspek pertanian, nilai-nilai kebudayaan, aturan tantanan adat istiadat Baduy. Sehingga ngolah dapat mengkuatkan adat istiadat masyarakat Baduy dalam menghadapi pengaruh modernisasi sejak dini. Kata Kunci: Pendidikan, Baduy, Konstruksi Sosial
Habitus Fotografer Wedding dan Prewedding di Kota Denpasar Saputra, Gede Wahyu; Nugroho, Wahyu Budi; Mahadewi, Ni Made Anggita Sastri; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 3 No 2 (2023): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wedding and pre-wedding photography fall under the category of documentary photography. In Bali, these photography services are increasingly in demand, especially by the millennial generation in Denpasar City. Along with the increase in demand, the profession of wedding and pre-wedding photography has also increased. This research aims to examine the habitus that drives wedding and pre-wedding documentation photographers in Denpasar City to pursue the sector, and also how the habitus of these photographers later turns out to affect the personal style of the photos produced. This research uses Pierre Bourdieu's habitus concept as the basis for analyzing the problems that occur. The method used in analyzing the phenomenon of habitus of wedding and pre-wedding photographers in Denpasar City is descriptive-explanatory with a qualitative approach. From the research conducted, it was found that: 1) The habitus of wedding and pre-wedding photographers in Denpasar City is composed of the capitals they have and the realm where they practice. Capitals such as symbolic, cultural, economic, or social are found in different forms in each informant, and 2) Photographers' personal style is formed through their mindset, behavior, and preferences that are influenced by their social environment, culture, and past experiences. These habitual dispositions shape the way photographers act or respond in certain situations. Habitus can also influence the photographic techniques used in framing, composition and photo editing. Keywords: Wedding and pre-wedding photography, Photographer, Habitus, personal style.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN TRADISI MEAMUK-AMUKAN DI DESA ADAT PADANG BULIA KECAMATAN SUKASADA KABUPATEN BULELENG Dewi, Ni Komang Triska Vania Cahya; Arjawa, I Gusti Putu Bagus Suka; Kamajaya, Gede
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research describes a community participation in the preservation of a tradition that is still maintained in Padang Bulia Traditional Village, Sukasada District, Buleleng Regency. This research aims to determine the process of implementing the Meamuk-Amukan tradition and the form of community participation in the preservation of the Meamuk-Amukan tradition, as well as knowing the meaning contained in the Meamuk-Amukan tradition. The results of this study revealed that the implementation of the Meamuk-Amukan tradition was carried out after performing the pecaruan ceremony in Suter and after the community paraded the ogoh-ogoh. The form of community participation in the implementation of this tradition is in the form of money participation, property participation, energy participation, and skill participation. The Meamuk-Amukan tradition has its own meaning for the people of Padang Bulia Traditional Village, namely social meaning, religious meaning, and cultural meaning.
PRAKTIK KEAGAMAAN DIGITAL (DIGITAL RELIGION) PADA JEMAAT GEREJA KRISTEN KUDUS INDONESIA RUMAH DOA HOSANA (GKKI RDH) KOTA DENPASAR Sitorus, Kristina; Tamim, Imron Hadi; Nugroho, Wahyu Budi
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research focuses on the phenomenon of changing traditional religious practices into digital religious practices in the congregation of the Indonesian Holy Christian Church Hosana Prayer House (GKKI RDH), Denpasar City. This research aims to explain and analyze digital religious practices and the congregation's perceptions of the presence of technology in religious practices at the GKKI RDH church, Denpasar City. The method used in this research is a qualitative approach with a descriptive- explanatory type. The theory used as a scalpel to analyze this research is William F. Ogburn's theory of social change. The results of this research reveal that the implementation of digital religious practices began in 2020 when the Covid-19 virus attacked Indonesia. The reason behind why the GKKI RDH church implements digital religious practices is because the government issued regulations to carry out activities from home and away from crowds. Apart from that, the implementation of digital religious practices at the GKKI RDH church is also to ensure that the entire congregation continues to carry out their worship and also hopes that the congregation can start learning to operate digital technology that is currently developing. The presence of technology in religious practices makes it easier for congregations to carry out their religious practices so that digital religious practices can be said to be effective and efficient. Also, digital religious practices remain sacred, because true worship is a person's own person, not the form in which the worship is carried out. However, in fact, digital religious practices are not going well at the GKKI RDH church. This is because the congregation is still dominated by elderly parents, making it difficult for them to accept and learn new things. Apart from that, the level of congregational literacy regarding technological developments is still low, which makes the implementation of digital religious practices experience many obstacles as well as supporting economic factors.
MOTIF INDIVIDU TERGABUNG DALAM KOMUNITAS MOTOR VESPA DI DENPASAR Putra, Hafizh Naufal; Arjawa, I Gst Putu Bagus Suka; Kamajaya, Gede; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 3 No 2 (2023): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persoalan yang hendak dikaji dalam penelitian, yaitu bagaimana motif individu berkomunitas. Komunitas dipandang sebagai interaksi dalam struktur sosial yang berdiam pada lokasi berbeda dan mungkin dipersatukan oleh kepentingan atau nilai nilai yang sama, seperti komunitas pecinta otomotif dan sebagainya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimana motif dan manfaat individu bergabung ke dalam komunitas vespa di Denpasar dan apa saja faktor pendorong individu tersebut bergabung ke dalam komunitas dan manfaat apa saja yang dirasakan individu. Hasil penelitian menunjukan bahwa para anggota komunitas vespa memiliki motif untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhannya masing-masing di antara mereka, Seperti motif akan pencapaian, motif pengembangan diri, motif akan hubungan atau persahabatan dan motif kekuasaan. Dengan motif yang berbeda dengan tujuan yang sama yaitu memenuhi kebutuhannya masing-masing.
PERILAKU KONSUMSI PHOTOCARD PADA PENGGEMAR K-POP DI KECAMATAN BEKASI SELATAN Bernita, Ribka; Mahadewi, Ni Made Anggita Sastri; Kamajaya, Gede
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 3 No 2 (2023): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aims to analyze and describe how the consumption patterns of K-Pop idola fans in consuming photocards and what is the impact of the consumerity of K-Pop idol fans.This research was conducted on K-Pop fans in Bekasi.This research uses a qualitative descriptive research type.The population of this study are fans of K-Pop idol groups in Bekasi.The results of the study show that K-Pop fans in Bekasi carry out consumption activities that aim to seek satisfaction solely, this is due to the encouragement of the individual to continue to consume KPop goods for the emotional benefit of being a fan coupled with theenvironmental influence of the Bekasi K-Popers community.make their desire to continue consuming.The results of this study also show that K-Pop idol fans in Bekasi make them sick and feel guilty to their parents.
Jaringan Sosial Industri pada Kain Gringsing di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem, Bali Pratiwi, Ni Komang Rahma Tri
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to explain and analyze how social networks are formed in establishing cooperation in Gringsing fabric industry activities together with other economic actors such as Consumers, Producers, and Distributors. The method used in this study is a qualitative approach with a descriptive-explanatory type. The theory used in analyzing this study is the social network theory by Mark Granovetter. The results of this study reveal that there is a basis for principles that make the formation of a social network between economic actors in the Gringsing fabric industry. The social network formed is based on four principles, namely norms, the strength of weak and strong bonds, other roles that bridge actors, and the interpenetration of economic action in non-economic areas. This study reveals that Gringsing fabric craftsmen as well as producers have succeeded in realizing their economic activities based on the attachment of their social activities through four principles of social networks, namely norms, the strength of weak and strong bonds, other roles that bridge actors, and the interpenetration of economic action against non-economic ones. Keywords: Social network, Gringsing fabric, Economic actor
ADAPTASI MASYARAKAT TERHADAP PEMBARUAN PROGRAM PEMILAHAN SAMPAH: ANALISIS TEORI JARINGAN AKTOR Savirna, Made Ayu Sheikha; Ranteallo, Ikma Citra; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas proses adaptasi masyarakat Desa Akah dengan program pemilahan sampah yang baru, didalam proses tersebut terdapat interaksi antaraktor yang dianalisis menggunakan teori jaringan aktor. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menjelaskan proses adaptasi masyarakat Desa Akah dengan program pemilahan sampah yang baru serta memahami dan menganalisis interaksi antaraktor yang terlibat dalam proses adaptasi tersebut. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus intrinsik yang menggunakan data kualitatif dan bersumber dari data primer serta data sekunder. Data yang didapat selanjutnya dipilah, dan disederhanakan, kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif, setelahnya akan diambil kesimpulan dari data yang disajikan. Berdasarkan data yang sudah ditampilkan maka kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu proses adaptasi dimulai sejak bulan Agustus, pada awal pelaksanaannya terdapat kendala yang dialami masyarakat, namun seiring berjalannya waktu kendala tersebut mulai menemukan solusi. Proses adaptasi masyarakat ini dibantu juga dengan adanya interaksi antaraktor yang terlibat seperti pemerintah desa dinas dan desa adat yang memfasilitasi masyarakat untuk menampung aspirasi dan memberikan sanksi bagi yang tidak memilah, serta pegawai pengangkut sampah yang memberikan teguran dan pegawai pengolahan sampah yang mengolah sampah dengan baik. Interaksi yang terjadi antaraktor membentuk sebuah jaringan karena dalam prosesnya seluruh aktor dan aktan saling terhubung, dengan sampah dan informasi sebagai penghubung antara aktor dan aktan, yang selanjutnya membentuk pergerakan yang bersirkulasi, dan menghasilkan performativitas dan derajat ketahanan yang menyimpulkan bahwa jaringan akan memiliki ketahanan dan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Kata kunci: Adaptasi, program pemilahan sampah, teori jaringan aktor.
REFLEKSIVITAS DAN KEINTIMAN PADA FLIGHT ATTENDANT YANG MENJALANI LONG-DISTANCE ROMANTIC RELATIONSHIP Monica, Arvela Cahya; Ranteallo, Ikma Citra; Nugroho, Wahyu Budi
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berfokus pada pengalaman-pengalaman para pramugari dalam hubungan jarak jauh dan berbagai strategi yang dilakukan untuk mengatasi hambatan yang muncul akibat hubungan ini. Penelitian ini mengungkapkan bahwa individu-individu ini menggunakan beberapa teknik, termasuk refleksi diri dan menenangkan diri, untuk mengelola stres dan ambiguitas yang menyertai terpisah dari pasangannya dalam waktu yang lama. Selain itu, para pramugari menggunakan berbagai platform komunikasi, seperti chatting, telepon, dan panggilan video, untuk tetap terhubung dengan pasangannya, memberikan kepastian, dan tetap dapat beradaptasi dalam hubungan mereka. Keintiman dalam hubungan diwujudkan melalui prinsip-prinsip seperti kesetaraan, kejujuran, kebebasan, dan komunikasi yang terbuka. Mereka memperhatikan kebutuhan dan preferensi pasangan mereka dan bersedia berkorban untuk memastikan kedua belah pihak merasa didengar dan dihargai. Dengan memprioritaskan prinsip-prinsip dan praktik-praktik ini, pramugari dapat berhasil menemukan tantangan hubungan jarak jauh dan mempertahankan hubungan yang kuat dan sehat dengan pasangan mereka.
FENOMENA NGELAGA PADA MASYARAKAT DESA ADAT PESABAN, KECAMATAN RENDANG, KABUPATEN KARANGASEM Juliarsana, I Gede Ari; Kamajaya, Gede; Krisna Aditya, I Gusti Ngurah Agung; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 3 No 2 (2023): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kekayaan tradisi yang dimiliki. Salah satu tradisi yang ada di masyarakat Bali yaitu tradisi ngayah. Namun seiring berjalannya waktu tradisi ngayah mulai mengalami pergeseran akibat perubahan mata pencaharian dari sektor agraris ke industri terutama industri pariwisata. Melalui perubahan ini, banyak masyarakat desa di Bali yang merantau ke pusat industri dan pariwisata yakni Denpasar dan Badung yang tentu mengakibatkan mereka terikat dengan jam kerja. Masyarakat yang merantau ini kemudian menghadapi persoalan yaitu membagi waktu antar pekerjaan dengan kewajiban mereka untuk ngayah piodalan di desa. Salah satu desa yang menghadapi persoalan ini yaktu Desa Adat Pesaban yang kemudian menerapakan kebijakan meli ayahan ini yang dikenal dengan istilah ngelaga. Namun pada perjalannya munculnya fenomena ngelaga ini pada akhirnya menilbulkan pro kontra di Tengah krama Desa Adat Pesaban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif eksplanatif. Teori cultural lag William F. Ogburn digunakan sebagai pisau bedah untuk menganlisis terkait adanya pro dan kontra terhadap penerapan ngelaga di Desa Adat Pesaban. Bentuk pro krama yakni taat membayar iuran serta melungkan waktu ngayah fisik di waktu senggang sedangkan bentuk kontranya yaitu adanya pakrimik dan medaya. Munculnya pro kontra ini akibat kesenjangan penerimaan difusi kebudayaan antara generasi muda dan generasi tua. Disimpulkan bahwa ngelaga ini menjadi solusi bagi krama yang merantau yang menghadapi persoalan waktu. Disarankan agar pemerintah untuk mencari formulasi yang tepat untuk menghadapi persoalan ini di masa yang akan datang. Kata Kunci : Ngelaga, Desa Adat Pesaban, Piodalan, Krama, Cultural Lag