cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Hikayat Nakhoda Asik Sapirin bin Usman, Hikayat Merpati Mas Muhammad Bakir Fathurahman, Oman
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.422

Abstract

Henri Chambert-Loir (ed.), Hikayat Nakhoda Asik Sapirin bin Usman, Hikayat Merpati Mas Muhammad Bakir. Jakarta: Masup Jakarta, Ecole francaise dExtreme-Orient, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2009, 335 hlm, ilustrasi. ISBN 978-979-1570-66-4
Upaya dan Penyelamatan Naskah Kuno Lampung Syahrul, Ninawati
Manuskripta Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i2.423

Abstract

Naskah kuno Lampung adalah salah satu warisan kebudayaan yang secara nyata memberikan pada kita semua bakti catatn tentang kebudayaan masa lalu sebagai potret zaman yang menjelasakan berbagai hal yang mempunyai hubungan dengan masa sekarang. Karena nilainya yang sangat penting dan strategis, aka perlu ada langkah-langkah konkret dalam upaya penyelamatan dan pelestarian naskah tersebut. Hingga saat ini, upaya pengidentifikasian naskah kuno Lampung, apalagi mengakaji isinya belum banyak dilakukan. Katalog panduan khusus mengenai naskah kuno sumber tentang Lampung belum ada sama sekali. Upaya pengenalan tentang Lampung masih terselip di antara identifikasi naskah lain sehingga hal ini sangat menyulitkan para peminat yang secara khusus ingin mengetahui Lampung secara mendalam. Di atara khazanah kebudayaan Lampung adalah Kitab Ketaro Berajo Sako yang digunakan dearah Pubian Telusuku dan Kitab Sinabur Cahaya yang digunakan di Pesisi Krui. Kitab-kitab tersebut merujuk kepada Kitab Kuntara Raja Niti. Kitab ini merupkan kitap rujukan masyarakat Lampung mulai dari adat istiadat, kesenian, sejarah, sampai kitab adat yang sangat banyak jumlahnya. Naskah-naskah kuno Lampung biasanya diturunkan dari kepala adat kepada keturunannya. Orang yang menerima lalu menganggapnya sebagai benda pusaka sehingga harus memotong kambing dan mengadakan selamatan bila ingin membuka naskah kuno tersebut. Karena takut, masyarakat biasanya tidak ingin mengetahui isi naskah kuno itu. Maka, menyimpannya asal saja, tanpa teknik penyimpanan yang tepat sehingga keberadaan naskah kuno itu terancam rusak dan lenyap. Hal yang pertama kali perlu dilakukan adalah melakukan upaya pengkajian naskah-naskah kuno Lampung yang masih ada. Dimulai dari pendataan naskah kuno, penyalinan dan penerjemahan isi naskah kuno. Pembuatan katalog yang memuat data lengkap tentang koleksi naskah kuno Lampung adalah salah satu contoh konkret yang data membantu mempermudah melacak dan melakukan akademik terhadap naskah kuno.
Inventarisasi Naskah Lama Madura Sukmawati, Dwi Laily
Manuskripta Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i2.424

Abstract

Naskah merupakan salah satu warisan budaya yang sangat berharga. Melalui naskah kita bisa mengetahui pemikiran, pengetahuan, adat istiadat, dan perilaku masyarakat di masa lalu. Oleh karena itu, perlu ada upaya serius untuk menjaga dan memeliharanya agar naskah tersebut tidak punah. Madura sebagai salah satu daerah di Jawa Timur menyimpan banyak naskah Lima peninggalan zaman dulu. Naskah-naskah tersebut ada di berbagai tempat, termasuk perpustakaan-perpustakaan luar negeri. Pada umumnya, naskah-naskah lama Madura masih menjadi milik perorangan. Bahkan, ada seorang warga Madura yang menyimpan kurang lebih tiga puluh naskah dalam sebuah peti tanpa ada perawatan khusus. Minimnya tingkat pemahaman pemiliknya terhadap fungsi dan makna yang terkandung di dalamnya, menjadikan naskah-naskah tersebut kini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ironisnya} tidak ada upaya penyelamatan dari, pemerintah setempat terhadap naskah lama tersebut. Oleh karena itu, artikel ini akan memaparkan data mengenai keberadaan naskah-naskah lama Madura, baik yang ada di Pulau Madura maupun yang ada di luar pulau Madura, mulai yang tersimpan di museum, pondok pesantren, perpustakaan, hingga yang masih ada di masyarakat.
Tradisi Pembacaan Naskah Nyi Sri Pohaci di Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat Supriadi, Dedi
Manuskripta Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i2.425

Abstract

Artikel ini membicarakan tradisi pembacaan sebuah naskah berbahasa Sunda, yaitu Nyi Sri Pohaci,, di daerah Rancakabng., Sumedang, Jawa Barai. Nyi Sri Pohaci merupakan kisah tentang Dewi Sri, Dewi Padi yang dihormati oleh para petani yang tinggal di daerah Rancakalong. Pembacaan kisah ini terkait erat dengan sebuah upacara yang selalu diselenggarakan setiap tahun di daerah tersebut, yaitu Upacara Ngalaksa, yang merupakan simbolisasi penghormatan terhadap dewi padi. Dewi Sri. Pembacaan kisah ini diiringi dengan alat musik tradisional yang disebut Tarawangsa.
Iluminasi Naskah Cirebon Safari, Achmad Opan
Manuskripta Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i2.446

Abstract

Iluminasi memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kaitannya dengan telaah terhadap kandungan isi naskah. Namun studi yang khusus membahas iluminasi yang terdapat dalam sebuah naskah masih sangat langka di Indonesia, padahal Indonesia memiliki sumber-sumber naskah (beriluminasi) yang sangat kaya dan beragam. Karena itulah dalam tulisan ini dibahas iluminasi yang terdapat pada naskah-naskah Cirebon; salah satu wilayah yang memiliki kekayaan iluminasi pada naskah-naskahnya. Secara garis besar dalam tulisan ini dibahas tiga hal: pertama, aspek kodikologis naskah-naskah Cirebon yang meliputi: unsur media yang digunakan sebagai media tulis dan unsur pewarna yang digunakan dalam penulisan naskah-naskah Cirebon; kedua, jenis-jenis iluminasi yang ditemukan dalam naskah-naskah Cirebon; dan ketiga, fungsi sosial iluminasi di Cirebon.
Problematika Penelitian Filologi: Tinjauan dari Perspektif Edisi Teks dan Kajian Teks Istadiyantha, Istadiyantha
Manuskripta Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i2.447

Abstract

Philological work is used to pure the text by having criticism toward the text, and the textual criticism objective is to produce a text which is most equivalent with the source. The text which has been cleared from the error and has been reorganized as the original is a text which can be responsible as a source for many researches in other disciplinary knowledge. Some people regard that editing text is not a research. This assumption is not true because the text editing in the scope of philology must be based on the study using textual criticism method. The manuscript transliteration which is not through critical edition has many weaknesses. Due to the high possibility that the text purity cannot be proved scientifically, meaning that the text validity will be doubtful. Hence, any text analysis must be initially by a critical edition or philological study. The philological analysis through critical edition can be developed to the other form of analysis by using literal and multidisciplinary methods. It can be done after it has been known the content of the edited text previously. Therefore, the philological expert has much opportunity to understand any other relevant disciplinary and the philological science, since to understand the other relevant science in order that the text is appropriate to the recent context and the text is suitable with the text situation when the text is written, it can be separated from the other disciplinary science.
Kearifan Lokal dalam Syair Nasihati Perubahan Cara Pandang Masyarakat Melayu terhadap Lansia dan Lembaga Keluarga Wirajaya, Asep Yudha
Manuskripta Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i2.448

Abstract

Manula adalah manusia lanjut usia atau dikenal dengan istilah lansia. Lansia merupakan periode akhir dan sebuah rentang kehidupan manusia. Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh lansia sangat kompleks dan khas, seperti mengalami penurunan kondisi fisik dan masalah psikologis. Pada fase-fase ini, mereka sangat menbutuhkan kehadiran keluarga yang selalu memberikan dukungan, perhatian, dan kasih sayang Namun, kini muncul kecenderungan sebagian masyarakat Indonesia untuk menempatkan anggota keluarga mereka yang telah memasuki usia lanjut ke panti wredha. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tengah mengalami pembahan perilaku terhadap perawatan anggota keluarga yang telah memasuki periode lansia. Padahal bila dikaji lebih dalam, jumlah panti wredha jauh dan memadai untuk dapat menampung lansia yang ada. Oleh karena itu, perlu ada perlu ada kajian komprehensif untuk melihat kembali pola berperikehidupan para nenek moyang kita dulu sehingga dapat menjadi cermin sekaligus alternatif solusi di masa kini sehingga potensi “manula" dapat diubah menjadi sebuah sumberdaya yang bermanfaat, baik bagi diri pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negaranya.
Naskah Yama Purwana Tattwa dan Naskah Usadha Sawah: Sumber Upacara Ngaben Tikus di Tabanan, Bali Renawati, Pande Wyn
Manuskripta Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i2.449

Abstract

Bali merupakan daerah agraris yang terkenal dan sangat menarik ketika tanaman padi atau tanaman yang lainnya tumbuh subur dan menghijau serta saat padi menguning di sawah dan dipanen oleh petani. Namun ada pasang surutnya. Indahnya pertanian yang hijau terkadang mengalami juga adanya perubahan saat diserang hama seperti tikus, wereng, dan walangsangit menimbulkan permasalahan yang berakibat padi menjadi rusak tidak bisa dipanen atau gagal panen, pada akhirnya menimbulkan keresahan petani. Petani berusaha menggunakan pengemposan atau penyemprotan pestisida} fungisida, dan sejenisnya, namun padi masih saja diserang terutama oleh tikus. Hingga dilakukanlah penangkapan secara masal dan besar-besaran sampai ribuan ekor juga tidak membuat hama menjadi berhenti tetapi malah semakin banyak.Akhirnya petani mengambil langkah dengan mengadakan upacara ngaben, pada umumnya untuk umat Hindu yang telah meninggal namun uniknya dilakukan untuk tikus melalui upacara ngaben, bikul atau upacara pembakaran atau kremasi tikus dengan lima warna dan ribuan ekor tikus, dalam suatu upacara mereka merana. Dasar pelaksanaan upacara ini tercakup dalam beberapa naskah lontar namun dua naskah diantaranya digunakan khususnya untuk ngaben dan mengusir tikus yaitu dengan menggunakan Naskah. Lontar Yama Purwana Tattwa dan Naskah. Lontar Usadha Sawah. sebagai dasar pelaksanaannya.
Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Minangkabau; Tela’ah Teks al-Manhal al-’Adhb li-Dhikr al-Qatb Hadi, Syofyan
Manuskripta Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i2.450

Abstract

Artikel ini memberikan bukti baru yang berbeda dengan kapan-kapan dan teori-teori para peneliti sebelumnya tentang proses masuk dan dinamika perkembangan ajaran tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah di Minangkabau. Dalam artikel ini dibuktikan bahwa tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah masuk dan berkembang di Minangkabau pada awai abad ke-19 M melalui kawasan pantai timur Sumatera Barat atas pengaruh dan jasa Shaykh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi. Artikel ini berupaya menempatkan Shaykh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi dalam porsi yang sesusungguhnya dalam kapasitasnya sebagai tokoh sentral ajaran tarekat Naqshabandiyah di MinangkabauDi samping itu, artikel ini ini juga mengemukakan beberapa kenyataan dan dinamika perkembangan ajaran tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah di Nusantara,, yaitu; Pertama} dalam hal ajaran dan praktek ritual ibadah yang diterapkan bagi. pengikut ajaran tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah di Nusantara tidak jauh berbeda dengan apa yang dipraktekan para pengikut Naqshabandiyah Khalidiyah di kawasan dunia Islam lainnya termasuk Haramayn sebagai pusatnya. Hanya saja, pada beberapa bagian tertentu terdapat hal-hal yang merupakan modifikasi Shaykh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi sebagai upaya penyesuaian dengan situasi dan kondisi pengikutnya waktu itu.Kedua, dari jaringan intelektual, tarekat Naqshabandiyah dari Haramayn hingga Minangkabau terlihat bahwa Shaykh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi tidak pernah memiliki murid resmi dalam artian memberikan ijazah tarekat kepada shaykh-shaykh tarekat Naqshabandiyah Minangkabau Namun, dia lebih berperan sebagai “mediator" dan penghubung jaringan bagi. calon murid tarekat Naqshabandiyah dengan zawiyah Jabal Qubays yang dikelola oleh temannya Shaykh Sulayman al-Qirimi dan khalifahnya Shaykh Sulayman al-Zuhdi. Realitas bahwa semua ulama tarekat Naqshabandiyah asal Minangkabau mengambil ijazah tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah di Jabai Qubays, dan tidak satupun yang mengambil ijazah tarekat Naqshabandiyah Muzhariyah maupun tarekat Naqshabandiyah wa-Qadiriyah adalah bukti betapa kuatnya pengaruh dan kharismatik Shaykh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi dalam memberikan tuntunan dan gamblengan kepada calon jamaah haji dan calon murid tarekat Naqshabandiyah asal Minangkabau yang akan menuju tanah suci.Ketiga, semenjak awal kedatangannya di Nusantara telah terjadi polemik dan pertikaian hebat antara Shaykh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi dengan ulama-ulama Hadramaut seperti Salim bin Samir dan Sayyid Uthman al-Husayni. Pertikaian dan polemik juga terjadi antara Shaykh Ismail al-Khalidl al-Minangkabawi dengan tokoh-tokoh pengembang ajaran tarekat Naqshabandiyah cabang lainnya, yaitu dengan Shaykh Abd al-Azim Mandura dan Shaykh ‘Abd al-Ghani Sumbawa, Pertikaian dan polemik Shaykh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi dengan ulama-ulama Hadramaut disebabkan oleh dua hal; yaitu aspek dogmatis dan kecemburuan sosial. Secara dogmatis masing-masing menuduh dan mengklaim sesat pihak lainnya. Dan secara sosial muncul ketidaksenangan ulama Hadramaut atas keberhasilan Shaykh Ismail al-Khalidi al-Minangka bawi dalam menarik para penguasa lokal untuk menjadi pengikut tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah.
Dialektika Hindu-Jawa dan Islam dalam Serat Miraj Ratnawati, Sri
Manuskripta Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i2.451

Abstract

Masuknya Islam di Jawa memberikan kontribusi khususnya terhadap perkembangan kesusasteraan Jawa. Seperti Setat Mi’taj dan Madura yang diadaptasi dari surat al Asra (QS. 17:1) yang menggambarkan perjalanan Nabi Muhammad ke surga dan neraka di iringi oleh Malaikat Jibril. Namun dalam Setat Mi’raj diceritakan Nabi Muhammad SAW diiringi oleh Malaikat jibril dan bidadari. Kehadiran bidadari merupakan karakteristik cerita Hindu-Jawa.

Page 3 of 4 | Total Record : 31