cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Nadwa : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 19791739     EISSN : 25028057     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 522 Documents
Transcendence and Immanence: Teacher Professionalism in Islamic Religious Perspectives Hady, Soufian
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13, No 2 (2019): Islamic Education and Trancendence
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2019.13.2.4918

Abstract

The purpose of this research is to describe what is essence of professionalism teacher in Islamic perspective. This research uses library research. The results showed that the professionalism of teachers in Islam is based on two basic criteria, namely a call of life (Abdullah; transcendence) and expertise (khalifatullah; immanence). Therefore, the Professional teachers in Islam have the dual task of being carriers of religious (trancendence) and scientific missions (immanence). The first mission of professional teacher is to convey the da'wah and values of religious teachings to students, so students can live their lives in accordance with religious norms and have an awareness that all their actions are worthy of pure worship only for their Lord. While the second mission (immanence) of a teacher is to bring students to be intelligent student and master the latest knowledge according to students' interests. Hopefully this idea can be the spirit of future teacher professional development such as the implementation of Teacher Professional Education (TPE / PPG).Keywords: transcendence; immanence: teacher professionalism; Islamic religious; Teacher Professional Education; TPE AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan esensi profesionalisme dalam perspektif Islam. Metode penelitian menggunakan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme guru dalam Islam pada dasarnya didasarkan pada dua kriteria dasar, yaitu panggilan hidup (transendensi Abdillah) dan keahlian (khalifatullah immanence). Oleh karena itu, para guru profesional dalam Islam memiliki tugas ganda yaitu menjadi pembawa misi keagamaan (trancendence) dan misi ilmiah (imanensi). Misi pertama guru profesional adalah untuk menyampaikan dakwah dan nilai-nilai ajaran agama kepada siswa, sehingga siswa dapat menjalani kehidupan mereka sesuai dengan norma-norma agama dan memiliki kesadaran bahwa semua tindakan mereka layak ibadah murni hanya untuk Tuhan mereka. Sedangkan misi kedua (imanensi) seorang guru adalah membawa siswa menjadi siswa yang cerdas dan menguasai pengetahuan terbaru sesuai dengan minat siswa.Kiranya hal ini bisa menjadi semangat pengembangan profesi guru mendatang seperti pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG).Kata Kunci: transendensi; imanensi: profesionalisme guru; agam Islam; Pendidikan Profesi Guru (PPG)
Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Membina Kecerdasan Emosional dan Spiritual Siswa Berkebutuhan Khusus Zainal Arifin, Adita Pramanasari dan
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 9, No 1 (2015): Kualitas dan Pemasaran Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2015.9.1.508

Abstract

The background of this research is the need for Students with Special Needs (SBK) in SMP PGRI will Pity the extra handling of teacher Counseling (BK) in the development of Emotional and Spiritual Intelligence (ESQ). The results showed:First, SBK is emotionally not able to manage their emotions, but capable of fostering social relationships with both. Spiritually, SBK has not been able to practicewell, but was able to do good to both parents. Second, the role of teachers Counseling (BK) in fostering ESQ as: a communicator, facilitator, motivator and advisor. Third, the implementation of the BK inhibiting factors include: the student's family background differences, and differences in the characteristics of individual students. While supporting factors include: BK teacher morale in providing guidance and mentoring, and guardians AbstrakLatar belakang penelitian ini adalah kebutuhan Siswa Berkebutuhan Khusus (SBK) di SMP PGRI Kasihan akan penanganan ekstra dari guru Bimbingan Konseling (BK) dalam pengembangan Kecerdasan Emosional dan Spiritual (ESQ). Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, SBK secara emosional belum mampu mengelola emosi, namun mampu membina hubungan sosial dengan baik. Secaraspiritual, SBK belum mampu menjalankan ibadah dengan baik, namun mampu berbuat baik kepada kedua orang tua. Kedua, Peran guru Bimbingan Konseling (BK) dalam membina ESQ sebagai: komunikator, pendamping, motivator dan penasehat. Ketiga, faktor penghambat pelaksanaan BK meliputi: perbedaan latarbelakang keluarga siswa, dan perbedaan karakteristik individu siswa. Sedangkan faktor pendukungnya meliputi: semangat kerja guru BK dalam memberikan bimbingan, dan pendampingan, dan wali murid.
Pengukuran Keimanan: Perspektif Psikologi Shodiq, Shodiq
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8, No 1 (2014): Kepribadian Anak
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2014.8.1.573

Abstract

Faith material is the basic and essential part of the learning goals in the context of strengthening the students' personalities, especially in teaching religious education. As the purpose of learning, faith must also be evaluated and measured so that it is known to what extent the learning objectives have beenachieved. The problem is how to evaluate and measure one's faith? Only Allah can measure and determine the degree of one's faith, don’t you? How to measure the faith will be discussed in this paper. This study would be useful for teachers in detecting an increase or decrease of the quality of students' faith in accordance with the indicators that have been determined. AbstrakPada konteks penguatan kepribadian siswa, materi keimanan dan ketakwaan merupakan bagian pokok dan penting dalam tujuan pembelajaran bagi siswa, khususnya pembelajaran pendidikan agama, tidak terkecuali Pendidikan AgamaIslam (PAI). Sebagai tujuan pembelajaran, keimanan juga harus dapat dievaluasi dan diukur sehingga dapat diketahui sejauh mana tujuan pembelajaran tersebut telah tercapai. Persoalannya adalah bagaimana mengevaluasi dan mengukurkeimanan seseorang? Tidakkah yang berhak mengukur dan menentukan derajat keimanan seseorang hanyalah Allah, Tuhan Yang Maha Tahu? Bagaimana mengukur keimanan inilah yang hendak dibahas dalam jurnal ini. Sehingga denganadanya kajian tentang penguatan keimanan secara psikologis, akan bermanfaat bagi guru dalam mendeteksi peningkatan atau penurunan kualitas keimanan anak didik sesuai indikator keimanan yang sudah ditentukan.
Implementasi Pembelajaran Baca Tulis al-Qur’an dengan Metode Iqra pada Anak Usia Dini di RA Perwanida Slawi Kabupaten Tegal Srijatun, Srijatun
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 1 (2017): Pendidikan Anak
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2017.11.1.1321

Abstract

The research aims to know how to read and write the application of Al quran with Iqro methods in early childhood and the factors that support and impede learning to read and write the Qur’an. This research is a qualitative descriptive which examines data quality (concepts, thoughts and actions) and describe what it is. The results of learning to read and write first penelititan Al quran with methods Iqro prepared in a planned and systematic based on the curriculum RA. Secondly, there is a supporting factor in the application of methods Iqro is the availability of books, media, and other learning tools that support this learning process. Their infrastructure and tenacity educators in the implementation of learning. While the inhibiting factors such as lack of training on a regular basis for the application of methods for Teachers Iqro RA. Still their parents are less attentive to the children in learning Al-Quran.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan baca tulis Al-Qur’an dengan metode Iqro pada anak usia dini dan faktor-faktor yang menunjang dan menghambat pembelajaran baca tulis Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yakni mengkaji data-data kualitas (konsep, pemikiran dan tindakan) dan mendeskripsikannya apa adanya. Hasil penelititan, pertama pembelajaran baca tulis Al-Qur’an dengan metode Iqro dipersiapkan secara terencana dan sistematis dengan berpedoman pada kurikulum RA. Kedua, terdapat faktor pendukung di dalam penerapan metode Iqro yaitu tersedianya buku-buku, media, dan alat-alat pembelajaran lainnya yang menunjang proses pembelajaran ini. Adanya sarana prasarana dan keuletan para pendidik di dalam pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan faktor penghambat antara lain karena kurangnya pelatihan secara rutin untuk penerapan metode Iqro bagi Guru RA. Masih adanya orang tua yang kurang perhatian kepada anaknya dalam pembelajaran Al-Qur’an.
The Elite Deliberative Democratic Model in The Public Policy Formulation for Madrasah Diniyyah (Islamic Non Formal School) Development in East Java, Indonesia Ismail, Ismail; Wardi, Moh
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13, No 1 (2019): Islamic Education and Liberation
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2019.1.1.2331

Abstract

This research intend to discuss about public policy from East Java province government to improve the quality of Islamic religious education. The results of this study were: (1) East Java Provincial Government used policy formulation model in the name "elite deliberative democratic ". A policy formulation model that combines several theories of policy formulation, there are elite, deliberative theory, and democratic theory. (2) The policy formulation was done through several stages: They are reading of the reality; preparation of the general policy of long-term development; arrangement of short-term development policy; the preparation and stipulation of Regional Regulations, and the Governor Regulation on Translation of APBD; (3). The government of East Java province has under graduate Scholarship program (S.1) for Madrasah diniyyah teachers. AbstrakPenelitian ini bermaksud membahas tentang kebijakan publik dari pemerintah provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam. Hasil penelitian ini adalah: (1) Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggunakan model perumusan kebijakan dengan nama "elite deliberative demokratis". Sebuah model perumusan kebijakan yang menggabungkan beberapa teori perumusan kebijakan, ada elit, teori deliberatif, dan teori demokrasi. (2) Perumusan kebijakan dilakukan melalui beberapa tahap: Mereka membaca realitas; persiapan kebijakan umum pembangunan jangka panjang; pengaturan kebijakan pembangunan jangka pendek; persiapan dan penetapan Peraturan Daerah, dan Peraturan Gubernur tentang Penerjemahan APBD; (3) Pemerintah provinsi Jawa Timur memiliki program sarjana (S.1) untuk guru Madrasah diniyyah 
Early Childhood Care in Sambas Muslim Family: Cultural and Religious Influences Suratman, Bayu; Nurjannah, Nurjannah
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2021.1.1.7513

Abstract

This article reports an in-depth study on early childhood care in Sambas Malay Muslim family.  This research incorporated a qualitative method with a descriptive approach through observations and interviews with parents and Sambas local figures.  The findings indicate the influence of local culture and religious values on Sambas Muslim parenting style. More specifically, this study showed that parenting practices of Muslim Sambas Malay parents are carried out through the tradition of pantang larang and kemponan. Pantang larang and kemponan become parts of collective memory so that they become social educative traditions in early childhood care in the Muslim Sambas Malay family.
Integrasi Pembelajaran Active Learning dan Internet-Based Learning dalam Meningkatkan Keaktifan dan Kreativitas Belajar Effendi, Mukhlison
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 2 (2013): Inovasi Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2013.7.2.563

Abstract

The learning process in higher education can use constructivist learning strategies for activeness and creativity of students. This study aimed to describe the integration of active learning and internet-based learning and to explain the factors supporting and inhibiting. From the observation data, interviews and documentation of the 31 students of the Department of TeacherEducation for Islamic Primary Education (PGMI) and the lecturer of STAIN Ponorogo can be seen that the integration of active learning and Internetbased learning can enhance the activeness and creativity of student learning in the course. Factors  supporting this result are the application of learningstrategies, giving clear guidance, student learning motivation high and the availability of learning facilities and infrastructure. The factors that inhibit is the limited time, the dominance of smart students and unpreparedness of students receiving new material.AbstrakProses pembelajaran di perguruan tinggi dapat menggunakan strategi pembelajaran konstruktivistik untuk keaktifan dan kreativitas mahasiswa. Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan integrasi active learning daninternet-based learning untuk menjelaskan faktor pendukung dan penghambatnya. Dari data observasi, interview dan dokumentasi terhadap 31 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan dosen STAIN Ponorogo dapat diketahui bahwa integrasi active learning dan internet-based learning dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitasbelajar mahasiswa di program studi tersebut. Faktor yang mendukung hasil ini adalah penerapan strategi pembelajaran, pemberian pengarahan yang jelas, motivasi belajar mahasiswa yang tinggi dan tersedianya sarana dan prasarana  pembelajaran. Adapun faktor yang menghambat  adalahketerbatasan waktu, dominasi mahasiswa pintar dan ketidaksiapan mahasiswa menerima materi baru.
Prestasi Belajar Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) X Sleman Yogyakarta Ditinjau Dari Dimensi Religiusitas Amrih Latifah, Sutipyo R dan
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 1 (2016): Pendidikan Islam dan Humanisme
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2016.10.1.908

Abstract

ABSTRACT Religiosity is an important element because religiosity as a “drive” in  person's life. Religiosity, also expected to affect a person's success in learning. This study took place in a Madrasah Aliyah Negeri X Sleman, Yogyakarta. The method used quantitative approach to research subjects students of class XI with a total of 118 students with a sample of 84 people. The results showed a positive relationship with the Islamic Religiosity student achievement Madrasah Aliyah Negeri X SlemanYogyakarta, but the relationship is very low with indicated Pearson correlation value of 0.094. After the regression test, the result shown that Islamic religiosity can not be used as a predictor to  rise and fall on the students' learning achievement of the MAN.ABSTRACTReligiusitas adalah unsur penting, karena religiusitas sebagai drive dalam kehidupan seseorang. Religiusitas, diperkirakan juga mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar.  Penelitian ini mengambil setting di sebuah Madrasah Aliyah Negeri X Sleman Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif dengan subyek penelitian  siswa kelas XI dengan jumlah total siswa 118 orang dengan sampel 84 orang.Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan positif Religiusitas Islami dengan prestasi belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri X SlemanYogyakarta, namun hubungan tersebut sangat rendah dengan ditunjukkan nilai korelasi Pearson sebesar 0,094. Setelah dilakukan uji regresi, ternyata Religiusitas Islami tidak dapat dijadikan prediktor akan naik turunnya prestasi belajar pada siswa MAN tersebut. Kata kunci :
De-Radicalization through Prophetic Education in High School Solikhin, Mat
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 1 (2020): Islamic Education and Radicalism
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2020.14.1.5707

Abstract

This research analyze the management of de-radicalization through the prophetic education, case study in State Senior High School (SMAN 1) and State Islamic High School (MAN 1) Kendal, Jawa Tengah, Indonesia. The research used qualitative method. Data collection technique in this research are observation, interview and documentation. The results showed; 1) the humanizing human beings is the key in organizing the radicalism ideological movement in prophetic education in Indonesia. Meanwhile, in the relationship between religious values and national culture, it must provide space for pluralism and multiculturalism 2) the process of de-radicalization in prophetic education in Indonesia through prophetic values in Islamic Civilization History (Sejarah Kebudayaan Islam, SKI), Al-Qur'an, Hadith, Akidah Akhlaq, and various extra-curricular activities. Based on the evaluation conducted most of students are already good in showing anti-radicalism attitude.AbstrakPenelitian ini menganalisis pengelolaan de-radikalisasi melalui pendidikan kenabian, study kasus di Sekolah Menengan Atas 1 (SMAN 1) dan Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN 1) Kendal, Jawa Tengah, Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan; 1) bahwa memanusiakan manusia adalah kunci dalam menata gerakan ideologi radikalisme dalam pendidikan profetik di Indonesia. Sedangkan dalam relasi antara nilai-nilai agama dan budaya bangsa maka harus memberi ruang pada pluralisme dan multikulturalisme. 2) proses deradikalisasi dalam pendidikan kenabian di Indonesia melalui nilai-nilai kenabian dalam SKI, Al-Qur'an, Hadits, Akidah Akhlaq, dan berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, sebagian besar siswa sudah bagus dalam menunjukan sikap anti radikalisme.
Pendidikan Perempuan di Pondok Pesantren Muafiah, Evi
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 1 (2013): Pendidikan Islam Unggul
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2013.7.1.545

Abstract

This article attempts to show women's education reality in pesantren, par-ticularly pesantren that administers the two institutions at the same time, the education for men and for women. This is certainly different from those car-ry out the education specific for women. Indonesia has started to open edu-cational opportunities for women at the time of R.A. Kartini, in which the previous women education was limited by the culture. The spirit to obtain education that equal with men was stated in her letters. Kartini had inspired some Indonesian women to get education as men. Later, some women who pioneered education for women appeared such as Rahmah el-Yunusiyah, Rangkayo Rasuna Said, Dewi Sartika etc. Each of them established a special school for girls with different studies taught.AbstrakTulisan ini berupaya menunjukkan beberapa realitas pendidikan perempuan di pesantren, utamanya pesantren yang mengelola dua lembaga sekaligus, yaitu pendidikan untuk laki-laki dan pendidikan untuk perempuan. Hal ini tentunya berbeda dengan pendidikan yang dilakukan di lembaga pendidikan yang memang didirikan khusus untuk perempuan. Indonesia dapat dikatakan telah mulai membuka peluang pendidikan bagi perempuan pada masa RA Kartini, dimana sebelumnya pendidikan bagi perempuan sangat dibatasi oleh budaya yang terjadi saat itu. Semangat untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan para laki-laki tertuang dalam surat-surat-nya. Kartini telah memberikan inspirasi bagi beberapa perempuan di Indonesia untuk men-dapatkan pendidikan sebagaimana laki-laki. Hingga muncul pada masa-masa setelahnya beberapa perempuan yang mempelopori pendidikan bagi perem-puan itu sendiri. Sebut saja misalnya: Rahmah el-Yunusiyah, Rangkayo Rasuna Said, Dewi Sartika dan lain sebagainya, dimana masing-masing dari mereka mendirikan sekolah khusus bagi perempuan dengan berbagai kajian yang berbeda yang diajarkan di sekolah tersebut.

Filter by Year

2012 2025