cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM" : 33 Documents clear
AKSIOLOGI REOG PONOROGO RELEVANSINYA DENGAN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA Achmadi, Asmoro
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The study has been chosen because it is very interesting to explore. Indonesia has diverse arts and cultures in its tradition. Within such diversities, there are significant values to develop the national character, one of them being that of Reog Ponorogo. The purpose of this research is to reveal that the art of Reog is attractive and full of magnificent values. During this reform era, in which corruptible practices and radicalism are rampant, the values contained in the Reog art ​​can be used as a foundation for better national character building. The methods used in this study were hermeneutics and heuristics. The former was employed to disclose the meaning contained in the research object in the form of life phenomenon through understanding and interpretation, while the latter was used to discover and develop other new methods in science especially philosophy. The result of this research is that the art of Reog Ponorogo is part the typically original culture from Ponorogo. When viewed from the perspective of hierarchical values, Reog contains holiness, spiritual, living, and joyful values. The Indonesian nation current­ly faces corruption, terrorism, radicalism, and globalization challenges that may lead to the weakling of the national character. The values of Reog art ​​can be used as a source of inspiration and may contribute to the character building of the nation. What needs to be presented is the strengthening of the four pillars of the nation and the reflection of the five essential virtues of the Reog art. Abstrak:Tema ini dipilih karena sangat menarik untuk dijelajahi. Indonesia memiliki beragam seni dan budaya dalam tradisi.Dalam ke­beragaman tersebut, ada nilai-nilai yang signifikan untuk me­ngembang­kan karakter nasional, salah satunya adalah bahwa Reog Ponorogo.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bahwa seni Reog menarik dan penuh dengan nilai-nilai yang luar biasa.Selama era reformasi ini, di mana praktek-praktek yang fana dan radikalisme yang merajalela, nilai-nilai yang terkandung dalam seni Reog dapat digunakan sebagai landasan untuk membangun karakter bangsa yang lebih baik.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah herme­neutika dan heuristik.Yang pertama digunakan untuk meng­ungkapkan makna yang terkandung dalam objek penelitian dalam bentuk fenomena kehidupan melalui pemahaman dan interpretasi, sedangkan yang kedua digunakan untuk menemukan dan mengembangkan metode baru lainnya dalam ilmu terutama filsafat.Hasil dari penelitian ini adalah bahwa seni Reog Ponorogo adalah bagian budaya biasanya asli dari Ponorogo. Bila dilihat dari perspektif nilai-nilai hirarkis, Reog me­ngandung kekudusan, spiri­tual, hidup, dan nilai-nilai yang menyenang­kan.Bangsa Indonesia saat ini menghadapi korupsi, terorisme, radikalisme, dan tantangan globalisasi yang dapat menyebabkan lemahya karakter nasional.Nilai-nilai seni Reog dapat digunakan sebagai sumber inspirasi dan dapat berkontribusi pada pembentukan karakter bangsa.Apa yang perlu disajikan adalah penguatan empat pilar bangsa dan refleksi dari lima kebajikan penting dari seni Reog. Keywords: reog Ponorogo, nilai, karakter bangsa, Babad Ponorogo, seni rupa, seni pertunjukan.
FILSAFAT PERENIAL SEBAGAI ALTERNATIF METODE RESOLUSI KONFLIK AGAMA DI INDONESIA Baharudin, M
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The article aims to offer the perennial philosophy can be used as an alternative method of resolving a conflict of religion in Indonesia. For this purpose the perennial philosophy offers several approaches were: a.) Offering a dialogue method, perennial philosophy offers a method of inter-religious dialogue, the method of phenomenology (phenomenology of religion). This method is a way of understanding the appreciative attitude without the attitude of conquest and accused infidels other faiths. This method avoids the external attitude that considers religion of others is definitely wrong and only the one true religion. Then the ethics of dialogue is not intended to interfere in the affairs and other religious teachings, nor to make others fall into his faith, but to deepen their own faith traditioncritically. b.) the inevitability of their commitment to religious plurality. Perennial philosophy in the context of religious plurality believes that inview of this religious plurality perennial philosophy seeks to find common plat forms or common vision in tracing the chain of the historicity of religious growth, searching for the essence of the plurality exotericesoteric in each of the religions. Perennial philosophy in view of religious pluralism believe that every religionis derived from the same source, namely from the Absolute, the truth comes from the One. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menawarkan  filsafat perennial dapat dijadikan sebagai alternatif metode resolusi koflik agama di Indonesia. Untuk maksud tersebut filsafat perennial menawarkan beberapa pendekatan antara lain yaitu: a.)Menawarkan metode dialog, filsafat perennial menawarkan suatu metode dialog antar umat beragama, yaitu metode fenomenologi (fenomenologi agama). Metode ini merupakan cara memahami dengan sikap apresiatif tanpa sikap pe­naklukan dan pengkafiran penganut agama lain. Metode ini menghindari sikap eksternal yang menganggap agama orang lain pasti salah dan hanya agamanyalah yang benar. Maka secara etik dialog tidak dimaksudkan untuk mencampuri urusan dan ajaran agama lain, juga tidak untuk menjadikan orang lain masuk dalam keyakinan yang dianutnya melainkan untuk memperdalam tradisi agama sendiri-sendiri secara kritis.b.)Komitmen keniscayaan adanya pluralitas dalam agama. Filsafat perennial dalam konteks pluralitas agama meyakini bahwa dalam melihat pluralitas agama ini filsafat perennial berusaha mencari titik temu (Common Platfom atau Common Vision) dalam menelusuri matarantai historisitas tentang pertumbuhan agama, mencari esensi esoteris dari pluralitas eksoteris pada masing-masing pada agama yang ada. Filsafat perennial dalam melihat pluralism agama meyakini bahwa setiap agama berasal dari sumber yang sama yaitu dari Yang Mutlak, kebenaran berasal dari Yang Satu. Keywords: Filsafat Perennial, Resolusi Konflik, Indonesia, dialog, pluralitas
MENYOAL KESENJANGAN ANTARA DAS SOLLEN ISLAM DENGAN DAS SEIN PRAKSIS KEHIDUPAN KAUM MUSLIMIN Suyono, Yusuf
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This paper embarks from the question why the valuable Islamic ethics cannot  be ethos grounded in the nation-state Muslim majority country-including in Indonesia? Phenomena such as the majlis taklim, majlis dhikr, interest pilgrimage exceeds the quota, the Islamic banking activity is equally excited, is real. However, it is not enough. Muslims should master the science, economics, and the strategic role of national politics. Islamic ethics is Das sollen, the Muslims condition is Das Sein. Prophet Muḥammad has abled   to unite Das sein and Das sollen in his life, because Islam has become his blood so that he is a mirror and store front of Islam par excellence. Muslims, as his follower, not been able to do like him. Al-Amir Arsalan Syākib, Muḥammad ‘Abduh, Mohammad Iqbal, Muḥammad al-Ghazālī, Ḥassan Ḥanafi have tried to formulate how to bridge the gap between Das sollen and Das Sein for Muslims. They have a deep concern about the wide gap between Das Sein praxis in life of Muslims with Das sollen Islamic teachings in slogan ya’lu walā yu’la ‘alaih. While at the same time they see how the beruf ethos of Calvinism could encourage the ethos of modern capitalism to its adherent sin Western Europe, a Zen Buddhist ethos could push the Japanese into the Asian tigers, and spirit Confucius encourage the Korean people into the Asian dragon. Abstrak:Tulisan ini berangkat dari pertanyaan mengapa etika Islam yang adiluhung itu tidak bisa membumi menjadi etos bangsa di negara-negara yang  mayoritas penduduknya Muslim–termasuk di Indonesia. Fenomena seperti majlis taklim, majlis zikir, minat menunaikan ibadah haji melebihi kuota, aktivitas perbankan syariah  tak kalah bersemangat, adalah nyata. Namun, itu  tidak cukup. Umat Islam seharusnya lebih dari itu dalam penguasaan ilmu pengetahuan, ekonomi,  dan peran strategis politik kebangsaan. Etika Islam itulah Das Sollen, keadaan kaum Muslimin itulah Das Sein. Muhammad Rasulullah telah mampu menyatukan Das Sein dan Das Sollen dalam hidupnya. Hal itu dikarenakan Islam telah menjadi darahnya sehingga beliau adalah cermin dan etalase Islam par excellence. Kaum Muslimin, sebagai pengikutnya, belum mampu berbuat seperti uswah mereka itu. Al-Amir Syakib Arsalan, Muhammad Abduh, Mohammad Iqbal, Muhammad al-Ghazali, Hassan Hanafi telah berusaha menformulasikan bagaimana menjembatani jurang pemisah antara Das Sollen dan Das Sein kaum Muslimin itu. Semuanya itu karena didorong oleh keprihatinan melihat betapa dalam dan menganganya jurang antara Das Sein praksis kehidupan Umat Islam dengan Das Sollen ajaran Islam yang ya’lu wa lā yu’lā ‘alaih itu. Sementara di saat yang bersamaan mereka melihat betapa etos beruf Calvinisme bisa  mendorong etos Kapitalis­me modern bagi pemeluknya di Eropa Barat, etos Buddha Zen bisa mendorong bangsa Jepang menjadi macan Asia, dan spirit Konfucian (Kong Hu Cu) mendorong bangsa Korea  menjadi dragon Asia. Keywords:filsafat Islam, dialektika sirkular, etika Islam, filsafat Iqra’, Das Sollen, dan Das Sein.
ILMU ḤUḌŪRĪ Khazanah Epistemologi Islam Saidurrahman, Saidurrahman
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Knowledge of the presence (ḥuḍūrī) with mystical experience as describe above is deemed the most popular models of knowledge in Islamic philosophy at the same coloring methodology and epistemology of Islam. Through logical arguments, semantic analysis and epistemo­logy sharp Suhrawardī considered very successfully demonstrate authenticity huduri science as a science model of non-representational. Among the classical epistemological problems that have not been resolved until now-but able to be dissected in clear and distinct- is about the relationship of subject and object of knowledge, that is the problem more acute in modern Western philosophy. What is interesting is when when to review the issues very carefully and consistently Mehdi directing and bringing the students (who interest in Islamic philosophy) into the recesses of the inner world and the dialogue with the depth of their own existence. It is undeniable that Hairi Mehdi Yazdi take existentialist philosophy illumination Suhrawardī and Mulla Ṣadrā as a main reference, as he learned the lesson of Plato, Aristotle, Plotinus, Ibn Sīnā, and al-Ṭūsī, citing the idea of ​​a number of Western philosophers were actually familiar with the science huduri that he wanted to offer. However unique, he expertly directs their ideas to the conclusion that it is inevitable for us to acknowledge the existence of non-phenomenal knowledge. Abstrak: Pengetahuan dengan kehadiran (ḥuḍūrī) dibarengai pengalaman mistik seperti yang paprkan diatas dipandang model pengetahuan yang paling populer dalam filsafat Islam sekaligus mewarnai metodologi dan epistemologi Islam. Melalui argumen-argumen logis, analisis semantik dan epistemologi yang tajam Suhrawardī dipandang sangat berhasil mendemonstrasikan keautentikan ilmu huduri sebagai sebuah model ilmu non-representasional. Diantara problem-problem klasik episte­mologis yang belum terselesaikan hingga kini—tetapi mampu dibedah secara clear dan distink—adalah tentang hubungan subjek dan objek pengetahuan, yang problemnya makin akut dalam filsafat Barat modern. Yang menarik adalah ketika ketika mengulas masalah-masalah itu Mehdi sangat cermat dan konsisten mengarahkan dan membawa para murid-muridnya (peminat filsafat Islam) memasuki relung-relung dunia batin dan berdialog dengan kedalaman eksistensi mereka sendiri. Tak dapat dipungkiri bahwa Mehdi Ha’iri Yazdi mengambil filsafat iluminasi Suhrawardī dan eksistensialis Mulla Ṣadrā sebagai acuan utamanya, seraya memetik pelajaran dari Plato, aristoteles, Plotinus, Ibn Sīnā, dan al-Ṭūsī, mengutip gagasan sejumlah filosof Barat yang sebetulnya asing dengan ilmu ḥuḍūrī yang hendak ia tawarkan. Akan tetapi uniknya, dengan piawai ia mengarahkan gagasan-gagasan mereka kepada penarik­an kesimpulan bahwa adalah tak terelakkan bagi kita untuk mengakui eksistensi pengetahuan non-fenomenal itu. Keywords: ilmu ḥuḍūrī, khazanah, epistemology, cogito ergo sum, atheisme.
FILSAFAT ANALITIK Kritik Epistemologi Ide Analitik Logis Bertrand Russell Muhmidayeli, Muhmidayeli
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:Each logical statement reflected in the way expressed in a logical language. If a statement is expressed by a language that one would then have it wrong, therefore, necessary test of logical forms that fit with the empirical facts. In short every statement must be understood by returning to the real meaning or context. Russell offers a translation grammatically any statement that may seem misleading to the appropriate forms and logical. Bertrand Russell described his philosophy asan area of human thought that was between theology on the one hand and science on the other side. Philosophy can be said astheology, due to the nature and character of philosophy which also contains a world speculations about the definitive knowledge, but it can notbe ascertained. On the other hand, itcan be said as science, because the working procedures of philosophy that is moreleads and functioning sense like science knowledge (science). Anydogma, because it transcends knowledge certainly, including in the sphere of theology. In between there is this no mans land area that is prone to both theology and science issues.Abstrak: Setiap penyataan logis tercermin dari cara mengungkapkannya dalam bahasa logis. Jika suatu pernyataan diungkap dengan bahasa yang salah maka akan memiliki maka yang salah, oleh karena itu, diperlukan uji bentuk-bentuk logis yang cocok dengan dengan fakta empiris. Pendeknya setiap pernyataan mesti dipahami dengan mengembalikannya pada makna riil atau kontekstual. Russell menawarkan pener-jemahan secara gramatikal setiap pernyataan yang mungkin saja tampak menyesatkan ke dalam bentuk-bentuk yang tepat dan logis. Bertrand Russell menggambarkan filsafat sebagai suatu wilayah pemikiran manusia yang berada antara teologi di satu sisi dan ilmu pengetahuan di sisi lainnya. Filsafat dapat dikatakan seperti teologi, karena sifat dan watak filsafat yang juga bersikan dunia spekulasi-spekulasi tentang pengetahunyang pasti namun ia tidak dapat dipastikan. Di lain pihak, ia dapat dikatakan pula seperti ilmu pengetahuan, karena tata kerja filsafat yang memang lebih banyak mengarah dan memfungsikan akal seperti layaknya ilmu ilmu pengetahuan (sains). Segala dogma, karena ia melampaui pengetahuan pasti, termasuk dalam lingkup teologi. Di antara keduanya inilah ada daerah yang tak bertuan yang rentan terhadap kedua persoalan teologi dan sains.Keywords:filsafat analitik,analytic logic, metodologi filsafat, atomic facts, dan logical form.
KRITIK AL-GHAZĀLĪ TERHADAP PARA FILOSOF Munir, Ghazali
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: al-Ghazālī called Bahr al-Mughriq (an ocean away) because he mastered various sciences: Fiqh , Uṣūl , Mantiq and Theology. The number of contradictory religious beliefs, and the influence of Greek philosophy, arose doubt about what is right and what is wrong. Then he learned all the knowledge to get ‘Ilm Yaqin can clearly reveal the knowledge of the mutakallimun, Shiite Batinites ( Ismailism ), philosopher and sufism, so he left his carrier. He did not accept simply of religious truth, without knowing the reason. He divided the philosopher into three: al- Dahriyūn (materialists), al-Ṭabiiyūn (naturalists), Ilāhiyūn (Theists). In philosophy, there are 20 issues , 3 of those mark philosophers as unbelievers, and other is bidah. Three of those are: the world eternity, unknowable particulars of God, and no physical resurrection.Abstrak: al-Ghazālī, seorang ulama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan: Fiqh, Ushul, Mantiq (Logika) dan Ilmu Kalam, sehingga ia memperoleh sebutan Bahrul Mughriq (lautan yang menenggelamkan). Banyaknya aliran keagamaan yang sering bertentangan dan pengaruh filsafat Yunani ke dalam pemikiran umat Islam, sehingga menimbulkan syak (kebimbangan, keraguan) tentang mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian ia mempelajari seluruh ilmu untuk mendapatkan ‘Ilmu Yaqin yang dapat mengungkap secara jelas yaitu ilmunya para mutakallimun, Syi’ah Batiniyah (Isma’iliyah), filosof dan sufi, sehingga ia meninggalkan jabatan dan kedudukannya. Ia tidak bertaklid tanpa mengetahui alasannya. Filosof ada tiga macam: al- Dahriyūn (materialis), al-Ṭabiiyūn (naturalis) dan Ilāhiyūn (theis). Dalam filsafat terdapat 20 persoalan, 3 diantaranya menjadikan filosof kafir, dan lainnya bid’ah. Tiga (3) itu adalah: Pendapat tentang keazalian alam, pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz’iyyat (rinci), dan kebangkitan jasmani tidak ada.Keywords: syak, ‘ilm al-yaqīn, al-Dahriyūn, al-Ṭabiiyūn, Ilāhiyūn
INTUISI SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN Tinjauan terhadap Pandangan Filosof Islam Irawan, Bambang
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The Islamic philosophers believe that Islam has a main pillar in the search for truth (epistemology), one of which is intuition. Aspects of Islamic epistemology can be used as an alternative in this modern era where most human hegemony has been dominated by the paradigm of positivistic science-empiricism and western culture and sekularistik materialitik. Philosophy of western knowledge that only assess the validity of the science that is purely inductive-empirical, rational-deductive, and pragmatic, considered to have been denying or rejecting science non-empirical and non-positivism. This causes acute problems. Because at the time of this paradigm managed to find a disciplinary branch of science, discovery often reduce a reality to be just a collection of facts and material. Departing from concerns that the writer through a simple work explores the views of Sufi -related urgency intuition in generating knowledge. Abstrak: Para filosof Islam meyakini bahwa Islam memiliki sejumlah pilar utama dalam pencarian kebenaran (epistemologi), salah satunya adalah intuisi. Aspek epistemologi Islam ini dapat dijadikan sebagai alternatif di jaman modern ini dimana kebanyakan manusianya telah dikuasai oleh hegemoni paradigma ilmu pengetahuan positivistic-empirisme dan budaya barat yang materialitik dan sekularistik. Filsafat pengetahuan barat yang hanya menilai keabsahan ilmu pengetahuan semata-mata yang bersifat induktif-empiris, rasional-deduktif, dan prag­matis, dianggap telah menafi­kan atau menolak ilmu pengetahuan non-empiris dan non-positivisme. Hal ini menyebabkan persoalan yang akut. Karena pada saat paradigma ini berhasil menemukan cabang disiplin suatu ilmu, maka penemuannya sering mereduksi sebuah kenyataan menjadi hanya kumpulan fakta dan bersifat material. Berangkat dari kekhawatiran itulah penulis lewat karya yang sederhana mengeksplorasi pandangan para sufi terkait urgensi intuisi dalam menghasilkan ilmu pengetahuan. Keywords: intuisi, sumber pengetahuan, filosof Islam, idealisme, rasionalisme.
INSĀN KĀMIL , ANTARA MITOS DAN REALITAS Danusiri, Danusiri
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Islam as a religion delivered by Muhammad saw. bin Abdullah (w.632) is based on the revelations he received from God. At the end of his age, the religion is stated as a perfect religion because it contains a description of all aspects of life (tibyanan likulli syai). To become the most religionist in Islam, every Moslem should follow the religious way he was because he is a good example (uswatun hasanah), especially the religious rituals dimension. The implication is clear that looking for other models of religious practices except him are certainly would not be the best because there is no guarantee of truth. Over time, many factors occur in the dynamics of the history of Moslem. The values of Islam built by the Messenger have changed a lot in the society. Muhammad position as the top model has shifted into the lower one. The concept of insān kāmil  (perfect man) pops out then. They are also the loyal followers of the Messenger of Allah, introducing the idea of speculative-philosophical-mystical religious rituals and a very extreme and radical practice of religious rituals if measured from his norm and religious practices. Nevertheless, the mass movement of Moslem under the shadow of the perfect man considered as something between a myth and reality refer to the texts of the Quran and al-sunnah. Abstrak: Islam sebagai agama disampaikankan oleh Muhammad saw. bin Abdullah (w.632) atas dasar wahyu yang ia terima dari Tuhan. Pada usia akhir-akhir hayatnya, agama ini dinyatakan sebagai agama yang sempurna karena memang mengandung penjelasan semua aspek kehidupan (tibyanan likulli syai’). Untuk menjadi agamawan yang paling baik di dalam Islam, setiap muslim supaya mengikuti cara ia beragama karena ia adalah contoh yang baik (uswatun hasanah), khususnya dimensi ritual keagamaan. Implikasinya mencari model praktik-praktik keberagamaan selain beliau tentu tidak akan menjadi yang paling baik karena tidak ada jaminan kebenarannya. Seiring perjalanan waktu, banyak faktor terjadi dalam dinamika sejarah umat Islam. Nilai-nilai yang dibangun oleh pembawa Islam pun banyak yang berubah. Posisi Muhammad saw. sebagai top model dalam beragama tergeser pada peringkat yang lebih rendah. Konsep insān kāmil  bermunculan. Mereka yang juga ‘pengikut setia’ Rasulullah, memper­kenalkan gagasan spekulatif-filosofis-mitis dan praktik ritual keagamaan yang sangat eks­trim dan radikal jika diukur dari norma dan praktik keberagamaan beliau. Meskipun demikian, gerakan massal umat Islam di bawah bayang-bayang insān kāmil  yang jika ditimbang dengan neraca teks-teks al-Quran maupun al-sunnah dapat dinyatakan sebagai sesuatu antara mitos atau realitas. Keywords: uswatun hasanah, penggeseran nilai, insān kāmil,  praktik keberagamaan, mitos.
IBN MISKAWAIH Filsafat al-Nafs dan al-Akhlāq Safii, Safii
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Ibn Miskawayh known not only in philosophy but also in other fields of scientific disciplines, such as history and Arabic literature. Even through one of his master piece, entitled Tahżīb al-Akhlāq wa Tatkhīr al-A’rāq name is becoming increasingly popular in many parts of the world. On this occasion the author deems it necessary to show the figure of Ibn Miskawayh by stressing his thoughts on the study of the study of nafs philosophy and morals. According to Ibn Miskawayh explained that between the soul and the sense that one is.That is the soul and intellectin his view can not be distinguished. Even sense to him it is one of the power of the forces that existin the soul and is a manifestation of the existence of the soul it self. Thus it can be said that there a son bagi¬nya is one proof for the existence of the soul.Abstrak: Ibn Miskawaih dikenal tidak hanya dalam bidang filsafatnya melainkan juga dalam bidang disiplin keilmuan lainnya, seperti sejarah dan sastra Arab. Bahkan melalui salah satu master piece-nya yang berjudul Tahżīb al-Akhlāq wa Tatkhīr al-A’rāq namanya menjadi semakin populer di berbagai belahan dunia. Dalam kesempatan ini penulis memandang perlu untuk menampilkan sosok Ibn Miskawaih tersebut dengan stressing kajian pada telaah pemikirannya tentang filsafat al-nafs dan al-akhlak-nya. Menurut Ibn Miskawaih menerangkan bahwa antara jiwa dan akal itu satu adanya. Artinya jiwa dan akal dalam pandangannya tidaklah dibedakan.Bahkan akal baginya justru merupakan salah satu daya dari daya-daya yang ada dalam jiwa dan merupakan manifestasi dari adanya jiwa itu sendiri. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa akal baginya merupakan salah satu bukti bagi adanya jiwa.Keywords: akhlak, filsafat, Yunani, al-nafs, al-akhlāq
FILSAFAT CINTA MUHAMMAD IQBAL Suprapto, Rohmat
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In the academic world, Iqbal is known as a poet, philosopher, sufism, historian, and politician. The professions which he elaborated could reach the peak levels in their respective fields of life. In addition to his character, the concept he introduced and the reflection of his life were not only a synergy with Islamic law that derived from the Quran and As Sunnah, but also indeed both codices that leads his way of life. Due to these facts, he was dubbed as greatest Mujaddid in 20-th century.One of the concepts that makes him well recognized is the concept of love as expressed in a series of poems and was described as ishq. Ishq is given from birth as Gods grace by which will be cultivated and tested during the life to encounter all forms of humanity impairment leading to the perfection of life with the title the perfect Man’. Inside there is a blend of love and sense of intellect, love and reason, vision and power that are manifested in acts of prayer and work of scientists, and crystallized in the life of mysticism and scientism.Abstrak:Dalam dunia akademik, Iqbal dikenal sebagai penyair, filosof, sufisme, sejarawan, dan politikus. Profesionalisme yang ia tekuni mencapai tingkat puncaknya di atas masing-masing bidang kehidupan ini, di samping karakternya, baik level konseptual maupun refleksi hidupnya, bukan hanya sinergi dengan syariat Islam yang bersumber kepada Al-Quran dan sunnah Rasululillah, melainkan memang kedua naskah kuno itulah yang menuntun jalan hidupnya.Pantas kalau ia digelari mujaddidterbesar di abad 20.Satu diantara konsep yang menjadikan ia memperoleh nama besar adalah konsepnya tentang cinta yang diungkap dalam rangkaian puisi dan ia sebutnya sebagai ‘isyq. ‘Isyq diperoleh sebagai bawaan lahir dari rahmat Tuhan yang dengannya dipupuk dan diuji dalam medan kehidupan sambil menepis segala bentuk pelemahkan kemanusian menuju ke-sempurna-an hidup dengan predikat ‘the perfect Man’. Di dalamnya berpadu antara cinta dan akal intelek, love and reson, vision and power yang diwujudkan dalam tindak shalat dan kerja ilmuwan, dan mengkrital dalam kehidupan mistisime syar’iKeywords: cinta, intelek, the Perfect Man, khalīfah Allāh, waḥdah al-wujūd.

Page 1 of 4 | Total Record : 33