cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 493 Documents
LANDASAN FILOSOFIS PEMIKIRAN TASAWUF ABDURRAUF SINGKEL TENTANG ALLAH, MANUSIA, DAN ALAM Rivauzi, Ahmad
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 2 (2017): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.2.1451

Abstract

Abstract: Abdurrauf Singkel (d. 1105 H / 1693 AD), was one of the great scholars of the 17th century and he was a key figure in the development of Islam, especially in the field of Sufism,it was as one of the forms of education in the aspect of mankind in the archipelago. Almost all of the Shaṭāriyyah lineage is centered on itself and through some of his students, this congregation is spread to various regions of the Malay-Nusantara world. Through the research with a hermeneutic approach to his works, this paper aims to reveal the philosophical foundation of the Abdurrauf Singkel thought about Sufism that puts the Quran and Ḥadith as the basis and normative source of it. The affirmation and reinforcement of tauhid, its reinter­pretation to the concept of waḥdāt al-wujūd which places man as the shadow of Allah, the concept of the creation of nature through the process of emanation and awakening the consciousness of servanthood through the effort of dying (ikhtiyari) by fana in zikrullah as the way of recognizing the nature of being and ma'rifatullāh, is the philosophical foundation of the Sufism thought which he developed in the Shaṭāriyyah.Abstrak: Abdurrauf Singkel (w. 1105 H/1693 M), adalah salah seorang ulama besar pada abad ke-17 dan merupakan tokoh kunci dalam perkembangan Islam terutama pada bidang tasawuf sebagai salah satu bentuk pendidikan pada aspek keruhanian di Nusantara. Hampir semua silsilah tarekat Shaṭāriyyah berpusat kepada dirinya dan melalui sejumlah muridnya, tarekat ini tersebar ke berbagai wilayah di dunia Melayu-Nusantara. Melalui penelitan dengan pendekatan hermeneutik terhadap karya-karyanya, tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan landasan filosofis pemikiran tasawuf Abdurrauf  Singkel yang menempatkan al-Qur’an dan Hadis sebagai dasar dan sumber normatif dari pemikiran tasawuf­nya. Penelitian menemukan bahwa penegasan dan penguatan tauhid, re­inter­pretasi­nya terhadap konsep waḥdāt al-wujūd yang menempatkan manusia sebagai bayangan dari Allah, konsep penciptaan alam melalui proses pe­mancar­an (emanasi) serta membangun kesadaran kehambaan melalui upaya mati ikhtiyari dengan cara fana dalam dzikrullah sebagai  jalan untuk mengenali hakikat wujud dan ma’rifatullāh, merupakan pondasi filosofis dari bangunan pemikiran tasawuf yang dikembangkannya dalam tarekat Shaṭāriyyah. 
KONSEP ISLAM DAN IMAN Analisis Pemikiran Inklusivisme Muhammad Shahru>r Rohani, Laila
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1674

Abstract

The basic question being answered in this paper is how to construct inclusiveness thinking of Muhammad Shahrur about Islam and Iman (faith) he explores from the Quran? And what are the implications of such thinking. From his depth studies of the Quran, Shahrur believes that salvation doesn't only belong to one religion or the salvation of Muslims alone but it can also be found in a religion other than Islam. Anyone who surrenders to God believes in the Day of Judgment and doing a good deed, according to Shahrur, referred to as Muslims. It does not distinguish who he was and comes from what kind of formal religion. That is the conclusion found from his thoughts about religious attitudes. Pertanyaan mendasar yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah bagaimana konstruk pemikiran inklusivisme Muh}ammad Shah}ru>r tentang Islam dan iman yang dieksplorasinya dari al-Quran? Dan  apa implikasi dari pemikirannya tersebut. Dari kajianya yang mendalam terhadap al-Quran, Shah}ru>r berkeyakinan bahwa keselamatan tidak hanya milik satu agama atau orang Islam saja tetapi keselamatan itu bisa pula ditemukan di dalam agama selain Islam. Siapa  saja yang pasrah kepada Tuhan beriman kepada hari akhir, dan beramal saleh, menurut Shah}ru>r, disebut sebagai seorang Muslim. Ia tidak membedakan siapa orang itu dan berasal dari agama formal apa, demikian kesimpulan yang ditemukan dari buah pikirannya tentang sikap keberagamaan.
“AKTIVASI” MAKNA-MAKNA TEKS DENGAN PENDEKATAN KONTEMPORER: Epistemologi Hermeneutika Subjektif-Fiqhiyyah El-Fadl Luthfi, Khabibi Muhammad
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 1 (2017): TAFSIR DAN HADIS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1195

Abstract

Abstract: This paper aims to review the use of hermeneutics Khaled M. Abou El-Fadl in finding a potential meaning of the text Quran and the hadith in terms of epistemology. It departs from El-Fadl is one of the contemporary Muslim intellectuals who has criticized the authoritarianism of most Muslims to be removed because against God and just believe in the single meanings. Though the text made by God to contain the potential meanings can be harmonized and contextualize the demands of the times. In addition, hermeneutic departing from the study of Islamic law or fiqh, which is often confused with the Quranic text or as fiqh is the text itself. With a philosophical approach based on literature data and discourse analysis found that El-Fadl offers hermeneutics subjective-fiqhiyyah based on the interaction between the text and the interpretive community and "a little concerned" about the role of the author or the Lord so as to present a reinterpretation of the text in the form of the potential meaning of the text which at the same time avoiding the imposition of the single meaning that generally do lending institutions fatwa. Besides that distinguishes it from other contemporary hermeneutics Muslim intellectuals or philosophers west are El-Fadl did not recognize the individual's ability to interpret text, but "community" or in the language of jurisprudence called mujtahid jam'ī and was able to explain the position of God in the stage of interpreting the text without having to remove it as subjective hermeneutics of the West.Abstrak: Tulisan ini bertujuan mengulas hermeneutika yang digunakan Khaled M. Abou El-Fadl dalam menemukan potensi-potensi makna dalam teks Alquran dan hadis ditinjau dari epistemologi. Ini berangkat dari El-Fadl merupakan salah satu intelektual muslim kontemporer yang kritis atas otoritarianisme sebagian umat muslim harus dihilangkan karena melawan Tuhan dan hanya percaya terhadap pemaknaan tunggal. Padahal teks yang dibuat oleh Tuhan mengandung potensi-potensi makna yang bisa diselaraskan dan dikontekstualisasikan dengan tuntutan zaman. Selain itu hermeneutikanya berangkat dari kajian hukum Islam atau fikih yang sering tertukar dengan teks Alquran atau seolah fikih adalah teks itu sendiri. Dengan pendekatan filosofis berbasis data pustaka dan analisis wacana, ditemukan bahwa El-Fadl menawarkan hermeneutika subjektif-fiqhiyyah yang berbasis pada interaksi antara teks dan komunitas interpretasi dan “sedikit peduli” terhadap peran pengarang atau Tuhan sehingga mampu menghadirkan pemaknaan ulang terhadap teks berupa potensi-potensi makna teks yang sekaligus menghindari pemaksaan terhadap pemaknaan tunggal yang umumnya dilakukan lembaga pemberi fatwa. Selain itu yang membedakannya dengan hermeneutika intelektual muslim kontemporer lain atau filosuf Barat adalah El-Fadl tidak mengakui kemampuan individu dalam menafsirkan teks, melainkan “komunitas” atau dalam bahasa fikih disebut mujtahid jam’ī dan mampu menjelaskan posisi Tuhan dalam tahapan menafsirkan teks tanpa harus menghilangkannya sebagaimana hermeneutika subjektif dari Barat.
METODE MEMAHAMI NAṢ-NAṢ TEOLOGIS: Studi tentang Wacana Inklusif Ahl al-Kitāb Sakhok, Jazilus
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 2 (2016): TEOLOGI ISLAM DAN ISU-ISU KEBANGSAAN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1068

Abstract

This paper examined how to understand the texts of the Qur'an and Ḥadīth concerning the concept of Ahl al-Kitāb. The concept of the Ahl al-Kitāb becomes frequently debatable for there have been contradictions of the texts with other texts. To avoid contradictory understanding, it can be reached by way of compromising various existing texts. Through this method, it reveals that there is no contradictory theological understanding in the Qur'an and Ḥadīth about how Muslims should behave towards and treat Ahl al-Kitāb. From the texts it precisely shows an understanding that Muslims have to give respect, to recommend for doing good, and to acknowledge the existence of the Ahl al-Kitāb as long as each of them does not meddle in the affairs of each faith. The texts also produce a strong message that alludes to an inclusive teaching of Islam towards Ahl al-Kitāb.Tulisan ini mengkaji tentang cara memahami nash-nash al-Qur’an dan Hadis mengenai konsep Ahl al-Kitāb. Konsep Ahl al-Kitāb selalu menjadi per­­­debatan karena seolah-olah telah terjadi kontradiksi di antara satu naṣ dengan nash yang lainnya. Untuk menghindari pemahaman yang kontradiktif, bisa ditempuh dengan cara mengkompromikan dan menjama’kan berbagai naṣ yang ada. Melalui metode tersebut ternyata tidak ditemukan kontradiksi pemahaman secara teologis di dalam al-Qur’an dan Hadis mengenai bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap  Ahl al-Kitāb. Dari naṣ-naṣ itu justeru me­nunjuk­kan satu pemahaman supaya memberikan respek, menganjurkan berbuat baik, dan mengakui eksistensi Ahl al-Kitāb yang harus dihormati, selama tidak saling men­campuri urusan keimanan masing-masing. Naṣ-naṣ tersebut juga meng­hasilkan pesan kuat akan sikap inklusif ajaran Islam terhadap Ahl al-Kitab.
TOLERANSI BERAGAMA DAN MAHABBAH DALAM PERSPEKTIF SUFI Muzakkir, Muzakkir
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1763

Abstract

Dalam kacamata kaum sufi, tidak ada orang lain (the other) di duniaini. Mereka melihat orang lain sebagai sebuah kesatuan makhlukyang bernaung di bawah kasih sayang Tuhan. Landasan cintamerupakan titik berpijak bagi mereka untuk melihat orang lain.Dalam pandangan kaum sufi, semua manusia adalah indah.Keindahan dalam pandangan itulah yang membimbing merekauntuk tidak melihat orang lain secara lebih rendah. Keindahanpandangan itu juga meliputi para penganut agama yang berbedabeda. Ajaran kedamaian, cinta dan kasih sayang yang diususng parasufi, bagian yang cukup menarik untuk disingkap, sekaligus sebagaiupaya membangun hubungan umat beragama yang harmonis.Tulisan ini akan memaparkan kasih sayang dan toleransi beragamadalam persektif tasawuf.
INTEGRASI ILMU-ILMU ALAM DAN ILMU-ILMU SOSIAL DENGAN PEMAHAMAN HADIS NABI: Telaah atas Konsepsi, Aplikasi, dan Implikasi Afwadzi, Benny
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 2 (2017): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.2.1972

Abstract

Abstract: This article discusses an integration of natural and social sciences through understanding prophetic ḥadīth(s). It focuses on its conceptions, applications, and implications. The word “integration” is aimed to comprehend the ḥadīth in relation to those two particular sciences. This paper concludes that the conception of ḥadīth integration with the sciences lies on a paradigm shift in the study of ḥadīth. In this concept, ḥadīth(s) are used as material objects that are approached by the natural and social sciences as its formal objects (approach). In practice, four ḥadīth(s) are understood by the natural sciences, and the other four ḥadīth(s) as objects are understood by the social sciences. The understanding of ḥadīth through the natural sciences is textually stronger than that through directly understanding the textual ḥadīth, while the understanding through the social sciences alludes to the emergence of contextual understanding.Abstrak: Tulisan ini mengkaji integrasi ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial dengan pemahaman hadis Nabi, yang menitiberatkan pada kajian konsepsi, aplikasi, dan implikasi. Integrasi dalam tulisan ini dimaksudkan dengan pemahaman hadis dengan perangkat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Tulisan ini menyimpulkan bahwa konsepsi integrasi hadis dengan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial berpijak pada pergeseran paradigma dalam studi hadis. Dalam konsep ini, hadis berposisi sebagai objek material yang didekati dengan ilmu alam dan ilmu sosial sebagai objek formalnya (pendekatan). Dalam tataran aplikasi, empat hadis dipahami dengan ilmu-ilmu alam dan empat hadis sebagai objek yang dipahami dengan ilmu-ilmu sosial. Implikasi yang ditimbulkan oleh ilmu-ilmu alam adalah pemahaman tekstual yang lebih kuat dibandingkan dengan pemahaman langsung dari teks hadisnya, sedangkan ilmu-ilmu sosial berimplikasi munculnya pemahaman yang kontekstual. 
KEMAJEMUKAN AGAMA MENURUT IBN AL-‘ARABI Adam, Syahrul
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1679

Abstract

Ibn al-'Arabi> considers that religious pluralism is inevitable necessities. His opinion is actually rooted in his main Sufi he achieved wah}dat al-wuju>d. With such diversity, it is not necessary to the claims of truth (truth claim) on a particular religion. All religions should live together in harmony for the worship of the same God, who is called by different names attributed to differences in the perception of God as well as differences in appearance (tajalli) of God. The understanding of causality religious diversity will make believers can appreciate the existence differences.Ibn al-‘Arabī  menganggap bahwa keberagaman agama merupakan suatu keniscayaan yang tak terelakkan. Pendapatnya tersebut sebenarnya berakar dari konsep utama pemikiran sufistik yang dicapainya yakni wah}dat al-wuju>d. Dengan keragaman tersebut, maka tidak diperlukan adanya klaim-klaim kebenaran (truth claim) pada agama tertentu. Semua agama yang ada harus hidup harmonis sebab sama-sama melakukan penyembahan kepada Tuhan yang sama, yang disebut dengan nama-nama berbeda disebabkan adanya perbedaan persepsi terhadap Tuhan dan juga perbedaan penampakan (tajalli>) Tuhan. Pemahaman terhadap kausalitas keberagaman agama akan membuat penganut agama dapat menghargai perbedaan yang ada.
UTOPIA KHILÄ€FAH ISLÄ€MIYYAH: Studi Tafsir Politik Mohammed Arkoun Muqtada, Muhammad Rikza
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 1 (2017): TAFSIR DAN HADIS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1410

Abstract

Abstract: This paper aims to study Muhammed Arkoun’s political interpretation thought about the ideal state. He shows that each political contestation often uses religion as a legitimation of political interest. Many of discourses in Qur’an, such as old narratives of Qur’an (amtsal al-Qur’an), is often presented to modify the existing political conditions. Moreover, some of the terms of Quranic discourse, like as ‘Muslim’ or ‘Kafir’ (infidel), is always in a binary position to create sharp differences between the militant and the opposition. The Qur'anic discourses, intentionally or not, since the time of revealing of the Qur’an has been dragged into the political territory as well the theological territory, so it is able to change the profane history into the sacred story with the great power of sacralization. Although the Qur’an is within the dialectic area, some of Islamist always reduces the meaning of Qur’an to support their agenda in realizing the Islamic State (Khilafah Islamiyah). For Arkoun, that desire is a utopian politics idea and nothing more than an interpretation of religious texts. There is no agreement among the people about the ideal state concept. Therefore, Arkoun offers the concept of ideal state is if religious authorities and political authorities apply their function professionally yet integrated.Abstrak: Tulisan ini menggagas pemikiran tafsir politik Muhammed Arkoun tentang negara ideal. M. Arkoun menggambarkan bahwa dalam setiap kontestasi politik sering menyeret agama sebagai legitimasi pemangku kepentingan. Wacana-wacana dalam al-Qur’an seperti teladan-teladan kuno (amthāl al-Qur’an) sering dihadirkan untuk memodifikasi kondisi politik yang ada. Selain itu, beberapa istilah dalam wacana al-Qur’an, seperti ‘Muslim’ dan ‘kafir’, diposisikan biner untuk menciptakan perbedaan tajam antara kelompok militan dan oposan. Wacana-wacana qur’ani tersebut, dengan sengaja atau tidak, sejak masa turunnya ayat telah diseret masuk ke dalam wilayah politik sekaligus wilayah teologis, sehingga mampu mengubah sejarah yang profan menjadi kisah sakral dengan kekuasaan sakralisasi yang besar. Meskipun al-Qur’an berada dalam ruang dialektis yang bebas, oleh sebagian kelompok Islamis pemaknaan al-Qur’an direduksi dan dibawa untuk mendukung agenda mewujudkan Islamic State (negara Islam). Bagi Arkoun, keinginan tersebut merupakan gagasan politik yang utopis dan tak lebih dari sebuah interpretasi atas teks agama. Tidak ada kesepakatan di kalangan umat mengenai konsep negara ideal. Karena itu, Arkoun menawarkan konsep negara ideal adalah jika otoritas keagamaan dan otoritas politik berlaku sesuai dengan fungsinya namun tetap terintegrasi.
PEMIKIRAN ISLAM PROGRESSIF: Dua Dekade Pemikiran dan Gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL) Ismail, A. Ilyas
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1670

Abstract

Theologically, Islam is one (single) and absolutely true. However, historically, after being understood, and translated into the reality of life in the dimensions of space and time, Islam is not a single, but wide in variety or has plural form and manifest in at least three schools of thought, the traditional Islamic revivalist Islam (fundamentalism), and Islam liberal (progressive). Group of the Liberal Islam Network (JIL) represents the latter mindset. Although it is relatively young, only 10 years old, JIL became popular because it brings new ideas that often arouse controversy in the community. The progressive thoughts carried out by JIL concerning the four areas. First, the reformation in politics, JIL forwards the idea of secularism. Second, in the field of social reforms and civic religion, JIL brought the idea or concept of pluralism. Third, reforms in individual freedom, JIL put forward the idea of liberalism both in thought and action. Fourth, reforms in the field of women, JIL brought the idea of gender equality. These thoughts get some pros and cons in the community. Some denounce and condemn it, but others appreciate and support it. In such an atmosphere, JIL continues to grow as a progressive Islamic thought and movements in Indonesia.Secara teologis, Islam adalah satu (tunggal) dan mutlak benar. Namun, secara historis, setelah dicoba dihayati, dipahami, dan diterjemahkan dalam realitas kehidupan dalam dimensi ruang dan waktu, Islam tidak tunggal, tetapi beragam alias plural yang mewujud dan mengejawantah setidak-tidaknya dalam tiga aliran pemikiran, yaitu Islam tradisional, Islam revivalis (fundmentalisme), dan Islam liberal (progresif). Kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) mewakili pola pemikiran yang terakhir. Meski usianya relative muda, baru 10 tahun, JIL menjadi popular karena mengusung pemikiran-pemikiran baru yang sering memunculkan kontroversi dalam masyarakat. Pembaharus pemikiran yang diusung JIL menyangkut empat bidang. Pertama, pembaruan dalam bidang poiitik. Di sini, JIL mengedepankan gagasan sekularisme. Kedua, pembaruan dalam bidang social agama dan kemasyarakatan. Di sini, JIL mengusung ide atau konsep pluralisme. Ketiga, pembaruan dalam kebebasan individu. Dalam hal ini, JIL mengedepankan gagasan liberalism baik dalam berpikir maupun bertindak. Keempat, pembaruan dalam bidang perempuan. Di sini JIL mengusung ide kesetaraan gender. Pemikiran pembaharuan JIL ini mendapat pro dan kontra dalam masyarakat. Sebagian mencela dan mengecamnya, tetapi sebagian lagi memberi apresiasi dan mendukungnya.Dalam suasan semacam itu, JIL terus tumbuh sebagai pemikiran dan gerakan Islam progresif di Indonesia.
KARAKTER KEILMUAN ISLAM DI PESISIR UTARA DAN PEDALAMAN JAWA TENGAH, NUSANTARA ABAD KE 15-17 WATI, ISMA
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1803

Abstract

Awal penyebaran keilmuan Islam di pesisir utara dan pedalaman Jawa Tengah memiliki rentang waktu berbeda. Di pesisir utara ma­sya­rakat menerima penyebaran lebih dahulu dibanding daerah pedalaman. Hal ini meng­akibat­kan perbedaan tingkat pemahaman di antara dua entitas masyarakat tersebut. Peng­ajaran agama di pesisir utara didahului dengan pengajaran membaca al-Qur’an sebagai elemen penting dalam praktik keagamaan, dilanjutkan membaca dan menulis huruf Arab di rumah-rumah atau di mushalla. Anak-anak muda me­lan­jutkan belajar pengetahuan yang tingkatnya lebih tinggi, berupa naskah klasik berbahasa Arab dan tarekat Syattariyah. Karakter ke­il­muan Islam di pesisir utara Jawa Tengah mem­per­li­hatkan corak legalistik dan menjaga dari aspek mistisisme yang menye­sat­kan. Sementara di daerah pedalaman Jawa Tengah pengajaran ke­ilmuan Islam menekan­kan aspek tarekat yang bercorak heterodoks. Ke­ilmuan ini bermula dari ajaran Syaikh Siti Jenar dan pengaruh Hindu yang lama berakar pada masyarakat Jawa, sehingga keilmuan Islam berkarakter kurang memperhatikan aspek legalistik.