cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 493 Documents
MAKNA HIDUP BAGI PENGIKUT AJARAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH (TQN) DI SUKAMARA KALIMANTAN TENGAH Soleha, Soleha
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015): TASAWUF DAN KEARIFAN LOKAL
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.2.436

Abstract

Abstrak: Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah yang ada di desa Sungai Pasir Kecamatan Pantai Lunci Kabupaten Sukamara Kalimantan Tengah merupakan salah satu komunitas tarekat yang memiliki ruang gerakan dalam menyebar luaskan serta melestarikan ajaran sufi dengan menggunakan metode dzikir sebagai bentuk pelaksanaan dari ajaran tasawuf. Selain menjalankan aktifitas ritual para anggota tarekat ini juga memiliki dimensi kehidupan yang salah satunya adalah melakukan pemahaman terhadap kehidupan bermakna. Hal ini menjadi sebuah tolak ukur penting dalam meneliti perkembangan keagamaan yang ada di Indonesia. Komunitas tarekat yang ada di desa Sungai Pasir pada dasarnya memiliki ikatan emosional sesama anggota tarekat dengan ikatan normatif yang ada di dalam kelompok mereka sesuai dengan ajaran yang ada di dalam tasawuf. Namun demikian mereka juga memiliki tujuan dari sebuah komunitas yang salah satunya adalah mencapai ridha Tuhan. Keywords: Sukamara, Makna Hidup, Victor Frankl, Guru, murid, manaqiban, dzikir.
FILSAFAT ANALITIK Kritik Epistemologi Ide Analitik Logis Bertrand Russell Muhmidayeli, Muhmidayeli
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.340

Abstract

Abstract:Each logical statement reflected in the way expressed in a logical language. If a statement is expressed by a language that one would then have it wrong, therefore, necessary test of logical forms that fit with the empirical facts. In short every statement must be understood by returning to the real meaning or context. Russell offers a translation grammatically any statement that may seem misleading to the appropriate forms and logical. Bertrand Russell described his philosophy asan area of human thought that was between theology on the one hand and science on the other side. Philosophy can be said astheology, due to the nature and character of philosophy which also contains a world speculations about the definitive knowledge, but it can notbe ascertained. On the other hand, itcan be said as science, because the working procedures of philosophy that is moreleads and functioning sense like science knowledge (science). Anydogma, because it transcends knowledge certainly, including in the sphere of theology. In between there is this no man's land area that is prone to both theology and science issues. Abstrak: Setiap penyataan logis tercermin dari cara mengungkapkannya dalam bahasa logis. Jika suatu pernyataan diungkap dengan bahasa yang salah maka akan memiliki maka yang salah, oleh karena itu, diperlukan uji bentuk-bentuk logis yang cocok dengan dengan fakta empiris. Pendeknya setiap pernyataan mesti dipahami dengan mengembalikannya pada makna riil atau kontekstual. Russell menawarkan pener¬jemahan secara gramatikal setiap pernyataan yang mungkin saja tampak me¬nyesat¬¬kan ke dalam bentuk-bentuk yang tepat dan logis. Bertrand Russell menggambarkan filsafat sebagai suatu wilayah pemikiran manusia yang berada antara teologi di satu sisi dan ilmu pengetahuan di sisi lainnya. Filsafat dapat dikatakan seperti teologi, karena sifat dan watak filsafat yang juga bersikan dunia spekulasi-spekulasi tentang pengetahun yang pasti namun ia tidak dapat dipastikan. Di lain pihak, ia dapat dikatakan pula seperti ilmu pengetahuan, karena tata kerja filsafat yang memang lebih banyak mengarah dan memfungsikan akal seperti layaknya ilmu ilmu pengetahuan (sains). Segala dogma, karena ia melampaui pengetahuan pasti, termasuk dalam lingkup teologi. Di antara keduanya inilah ada daerah yang tak bertuan yang rentan terhadap kedua persoalan teologi dan sains. Keywords:filsafat analitik,analytic logic, metodologi filsafat, atomic facts, dan logical form.
MEMBACA AYAT-AYAT AL-QURAN DENGAN PERSPEKTIF IAN G. BARBOUR Bisri, Achmad
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.1.408

Abstract

Asbtract: This aticle aims to understand the science verses of the Quran with Ian G. Barbour perspective. To elaborate the problem, I used the qualitative research with hermeneutic analysis. There are three findings important in the research. Firstly, regarding the relation between religion and science Ian G. Barbour divided four typologies: conflict, independence, integration, and dialogue. Secondly, regarding to the Quran verses in the line with Barbour’s thought to be found that some possibilities the science explain the scientific verses of the Quran. Thirdly, with Barbour’s perspective it was found the fact that relation the Qur’an and the science were conflict, independence, and integration. Abstrak: Artikel ini bertujuan memahami ayat-ayat sains dengan perspektif Ian G. Barbour. Untuk menjelaskan masalah ini, saya menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan analisis hermeneutik. Adapun temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: Pertama, dalam mengemukan hubungan antara agama dan sains, Ian G. Barbour membagi ke dalam empat tipologi (konflik, independen, integrasi, dan dialog). Ia melihat bahwa keempat tipologi ini dijumpai di kalangan saintis dan agamawan. Kedua, Berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran yang senada dengan pemikiran Ian G. Barbour memang ditemukan adanya kemungkinan sains menjelaskan ayat-ayat ilmiah dalam al-Quran. Ketiga, dengan perspektif Ian G. Barbour, ditemukan fakta bahwa relasi al-Quran dan sains berada pada tipologi konflik, independen, dan integratif. Konflik terjadi ketika sains berbicara tentang alam yang terbebas dari campur tangan Tuhan; independensi terjadi ketika berkaitan dengan teori evolusi Darwin. Namun, integrasi terjadi juga ketika sains mampu memecahkan informasi-informasi ilmiah yang disajikan al-Quran. Keywords: al-Quran, sains, dialog, integrasi, independen.
MISTIK SUNAN BONANG Ulfah, Rokhmah
Jurnal THEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): TASAWUF
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2013.24.2.331

Abstract

Abstract: This article will explain the mystical teachings of Sunan Bonang. He is a member of the Board Walisongo, which has a major role in the process of Islamization in Java. In preaching Islam, he is not only a cultural approach, but by creating songs and gending; he is also very closely related to the mystical teachings. In a mystical concept, humans must do the cleaning him self well so that it can unite with God. Mystical of Sunan Bonang can not classified as pantheism, but rather based on the Shari'a. He emphatically stated that there was separation between God and man, not fused together so that it difficult to separate between them. His teachings are very common among Walisogo which is to up hold the Sufism teachings of Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Abstrak: Artikel ini akan menguraikan ajaran mistik Sunan Bonang. Ia adalah salah satu anggota Dewan Walisongo, yang memiliki peran besar dalam proses islamisasi di Jawa. Iatidak hanya melakukan pendekatan kultural, menciptakan tembang dan gending-gending, tetapi ia juga sangat lekat dengan ajaran mistiknya. Dalam konsep mistiknya, manusia harus melakukan pembersihan diri dengan baik sehingga bisa bersatu dengan Tuhan. Mistik Sunan Bonang bukan tergolong pantheisme, tetapi lebih berdasarkan pada syariat. Ia dengan tegas menyatakan adanya pemisah antara Tuhan dan manusia, bukan lebur menjadi satu sehingga sulit memisahkan antara keduanya. Ajaran seperti ini sudah sangat umum di kalangan Walisogo yang memang memegang teguh ajaran tasawuf Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Keywords: Mistik, Pantheisme, Syariat, Tuhan, Walisongo.
IBLIS DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI SAYYID QUṬB Norjenah, Norjenah
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.392

Abstract

Abstract: The Devil is the cause of the fall of man to the earth. He had got Adam and Eve in paradise into eating the forbidden fruit, although God had warned them both to not approach the forbidden tree. The attempt of Devil remove them is due to their reluctance prostrate to Adam even thought he command of God. Devil disobey God and considers himself better than Adam. Defiance against the theologians have their own interpretation, including Sayyid Quṭb. This article will explore the deeper thinking about the devil Sayyid Quṭb. Abstrak: Iblis adalah penyebab jatuhnya manusia ke bumi. Ia telah memperdaya Adam dan Hawa di surga agar memakan buah terlarang, meskipun Tuhan sudah me-ngingatkan mereka berdua untuk tidak mendekati pohon terlarang tersebut. Usaha Iblis untuk mengeluarkan mereka ini disebabkan oleh ke¬enggan¬an mereka bersujud kepada Adam meskipun itu perintah dari Tuhan. Iblis membangkang perintah Tuhan dan menganggap dirinya lebih baik dari Adam. Terhadap pembangkangan para teolog mempunyai interpretasi sendiri-sendiri, termasuk di dalamnya Sayyid Quṭb. Artikel ini akan mengeksplorasi lebih dalam pemikiran Sayyid Quṭb mengenai Iblis. Keywords: Iblis, setan, sujud, teolog, malaikat, surga.
KOMODIFIKASI BUDAYA DI ERA EKONOMI GLOBAL TERHADAP KEARIFAN LOKAL: Studi Kasus Eksistensi Industri Pariwisata dan Kesenian Tradisional di Jawa Tengah Irianto, Agus Maladi
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.935

Abstract

Abstract: The culture commodification is the sale-purchase transaction of cultural objects through industrial process that was born along with the globalization era. The tourism industry is the child of globalization that produce cultural objects to be traded for the financial benefit. One form of the commodification cultural objects in the globalization era is the traditional arts. The problem is how the strategy needs to be developed so that the traditional arts as the subject of its supporting society's local wisdom is remain protected, but on the other hand it is expected to accomodate the demand of economic globalization that has conducted the culture commodification? With the aim to synergize the presence of traditional arts as the cultural identity of its supporting society and the tourism industry demands that conduct culture commo¬dification, then through a field research using qualitative method, it resulted the following description. First, the culture commo¬dification becomes a necessity in the global economy era that evolve in this era of postmodernity, especially it's marked by the growing of the tourism industry. Second, the culture commo¬dification to the local wisdom can basically be solved by several strategies without marginalizing the supporting society of the local wisdom. Third, the existence of traditional arts as a cultural identity can be protected and revitalized from the demands of the culture commodification, as long as it is also developing a concept that is able to synergize the perception and responses of the supporting society to the demands of the tourism industry. Fourth, one of the most relevant concepts to accommodate the demands of the culture com¬modification is a concept that is commonly referred as the pseudo traditional art. Abstrak: Komodifikasi budaya adalah transaksi jual beli benda budaya melalui proses industri yang lahir seiring dengan era globalisasi. Industri pariwisata adalah anak kandung globalisasi yang memproduksi benda budaya untuk diperjualbelikan demi keuntungan secara finansial. Salah satu bentuk benda budaya yang dikomodifikasi di era globalisasi adalah kesenian tradisional. Permasalahannya adalah, bagaimana strategi yang perlu dikembangkan agar kesenian tradisional sebagai subjek kearifan lokal masyarakat pendukungnya tetap telindungi, tetapi di sisi lain ia diharapkan bisa mengakomodasi tuntutan globalisasi ekonomi yang telah melakukan komodifikasi budaya? Dengan tujuan untuk mensinergikan antara keberadaan kesenian tradisional sebagai identitas kultural masyarakat pendukung dan tuntutan industri pariwisata yang melakukan komodifikasi budaya, maka melalui penelitian lapangan yang menggunakan metode kualitatif telah menghasilkan gambaran sebagai berikut. Pertama, komodifikasi budaya menjadi keniscayaan di era ekonomi global yang berkembang di era pascamodernitas ini, terutama ditandai dengan kian berkembangnya industri pariwisata. Kedua, komodifikasi budaya terhadap kearifan lokal pada dasarnya dapat dipecahkan dengan sejumlah strategi tanpa harus memarjinalkan masyarakat pendukung kearifan lokal tersebut. Ketiga, keberadaan kesenian tradisional sebagai identitas kultural dapat terlindungi dan direvitalisasi dari tuntutan komodifikasi budaya, sepanjang dikembangkan suatu konsep yang mampu mensinergikan antara persepsi dan respons masyarakat pendukung dengan tuntutan industri pariwisata. Keempat, salah satu konsep yang paling relevan untuk mengakomodasi tuntutan komodifikasi budaya adalah konsep yang lazim disebut sebagai psedo traditional art.
ETIKA PEMERINTAHAN: KONTRIBUSI TAFSĪR FĪ ẒILĀL AL-QUR’ĀN KARYA SAYYID QUṬB Shomad, Bukhori Abdul
Jurnal THEOLOGIA Vol 22, No 2 (2011): ILMU-ILMU USHULUDDIN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2011.22.2.611

Abstract

Asbtrak: Fungsi etika pemerintahan adalah untuk me-wu¬judkan good governance and clean government dalam organisasi pemerintahan. Hal ini meru¬pa¬kan tuntutan bagi terselenggaranya mana¬je¬men pemerintahan dan pembangunaan yang berdaya guna, berhasilguna dan bebas korupsi, kolusi, maupun nepotisme. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan sistem akuntabilitas, tran¬sparansi, keterbukaan dan aturan hukum yang baik sesuai dengan penerapan/tuntutan ke-bu¬tuhan pada seluruh jajaran aparat negara yang di¬bimbing oleh norma, nilai-nilai dan etika agama. Di sinilah, kontribusi penting dari pemikiran Sayyid Quṭb. Kata Kunci: etika, keadilan, sistem politik, syūrā.
FILSAFAT CINTA MUHAMMAD IQBAL Suprapto, Rohmat
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.345

Abstract

Abstract: In the academic world, Iqbal is known as a poet, philosopher, sufism, historian, and politician. The professions which he elaborated could reach the peak levels in their respective fields of life. In addition to his character, the concept he introduced and the reflection of his life were not only a synergy with Islamic law that derived from the Qur'an and As Sunnah, but also indeed both codices that leads his way of life. Due to these facts, he was dubbed as greatest Mujaddid in 20-th century.One of the concepts that makes him well recognized is the concept of love as expressed in a series of poems and was described as' ishq. 'Ishq is given from birth as God's grace by which will be cultivated and tested during the life to encounter all forms of humanity impairment leading to the perfection of life with the title 'the perfect Man’. Inside there is a blend of love and sense of intellect, love and reason, vision and power that are manifested in acts of prayer and work of scientists, and crystallized in the life of mysticism and scientism. Abstrak:Dalam dunia akademik, Iqbal dikenal sebagai penyair, filosof, sufisme, sejarawan, dan politikus. Profesionalisme yang ia tekuni mencapai tingkat puncaknya di atas masing-masing bidang kehidupan ini, di samping karakternya, baik level konseptual maupun refleksi hidupnya, bukan hanya sinergi dengan syariat Islam yang bersumber kepada Al-Quran dan sunnah Rasululillah, melainkan memang kedua naskah kuno itulah yang menuntun jalan hidupnya.Pantas kalau ia digelari mujaddidterbesar di abad 20.Satu diantara konsep yang menjadikan ia memperoleh nama besar adalah konsepnya tentang cinta yang diungkap dalam rangkaian puisi dan ia sebutnya sebagai ‘isyq. ‘Isyq diperoleh sebagai bawaan lahir dari rahmat Tuhan yang dengannya dipupuk dan diuji dalam medan kehidupan sambil menepis segala bentuk pelemahkan kemanusian menuju ke-sempurna-an hidup dengan predikat ‘the perfect Man’. Di dalamnya berpadu antara cinta dan akal intelek, love and reson, vision and power yang diwujudkan dalam tindak shalat dan kerja ilmuwan, dan mengkrital dalam kehidupan mistisime syar’i Keywords: cinta, intelek, the Perfect Man, khalīfah Allāh, waḥdah al-wujūd.
PEMIKIRAN ANNEMARIE SCHIMMEL TENTANG SIFAT FEMININ DALAM TASAWUF Purwanto, Ahmad
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015): TASAWUF DAN KEARIFAN LOKAL
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.2.430

Abstract

Abstract: The article explores the ideas of Annemarie Schimmel relating to aspects of feminism in Sufism. According to Schimmel, that Sufism, or mystical Islam is the awareness of a single reality and love of the Absolute, because the forces that separate the true mystic by asceticism is love. Even true love can make enjoyment of all that painful. Mystical considered a mysterious thing that can not be achieved by ordinary means or by intellectual effort. While the literature and difficult spiritual life depicted as blind men touching an elephant, in pengambaraannya will say according to the elephant body parts are touched. While the nature of feminine in Sufism has been revealed as to uncover the elements of womanhood is in Sufism itself, like having love, affection, obedient, patient, prejudiced either (ḥusnu ẓan), and willing to sacrifice. From here it turns keperempuan nature not only possessed by women alone, but is owned by the Sufis men. Abstrak: Artikel ini akan mengeksplorasi pemikiran Annemarie Schimmel yang berkaitan dengan aspek feminisme (keperempuan) dalam tasawuf. Dalam pandangan Schimmel, bahwa tasawuf atau mistik Islam merupakan kesadaran terhadap kenyataan tunggal dan cinta Yang Mutlak, sebab kekuatan yang memisahkan antara mistik sejati dengan hanya sekedar tapa brata (asceticism) adalah cinta. Bahkan cinta sejati dapat menjadikan kenikmatan terhadap segala yang menyakitkan. Mistik dianggap sebagai hal yang misterius yang tidak dapat dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual. Sedangkan literature dan kehidupan rohaninya sulit digambarkan sebagaimana orang buta yang menyentuh gajah, dalam pengambaraannya akan mengatakan sesuai dengan bagian tubuh gajah yang disentuhnya. Sedangkan sifat keperempuan (feminin) dalam tasawuf telah terungkap sebagaimana mengungkap unsur-unsur kewanitaan yang ada dalam tasawuf itu sendiri, seperti memiliki cinta, kasih sayang, taat, sabar, berprasangka baik (ḥusnu ẓan), dan rela berkorban. Dari sini ternyata sifat keperempuan tidak hanya dimiliki oleh perempuan saja, tetapi dimiliki oleh para sufi laki-laki. Keywords: feminism, tasawuf, asketicisme, Jalāl, dan Jamāl.
AKSIOLOGI REOG PONOROGO RELEVANSINYA DENGAN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA Achmadi, Asmoro
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.336

Abstract

Abstract: The study has been chosen because it is very interesting to explore. Indonesia has diverse arts and cultures in its tradition. Within such diversities, there are significant values to develop the national character, one of them being that of Reog Ponorogo. The purpose of this research is to reveal that the art of Reog is attractive and full of magnificent values. During this reform era, in which corruptible practices and radicalism are rampant, the values contained in the Reog art can be used as a foundation for better national character building. The methods used in this study were hermeneutics and heuristics. The former was employed to disclose the meaning contained in the research object in the form of life phenomenon through understanding and interpretation, while the latter was used to discover and develop other new methods in science especially philosophy. The result of this research is that the art of Reog Ponorogo is part the typically original culture from Ponorogo. When viewed from the perspective of hierarchical values, Reog contains holiness, spiritual, living, and joyful values. The Indonesian nation current¬ly faces corruption, terrorism, radicalism, and globalization challenges that may lead to the weakling of the national character. The values of Reog art can be used as a source of inspiration and may contribute to the character building of the nation. What needs to be presented is the strengthening of the four pillars of the nation and the reflection of the five essential virtues of the Reog art. Abstrak: Tema ini dipilih karena sangat menarik untuk dijelajahi. Indonesia memiliki beragam seni dan budaya dalam tradisi. Dalam ke¬beragaman tersebut, ada nilai-nilai yang signifikan untuk me¬ngembang¬kan karakter nasional, salah satunya adalah bahwa Reog Ponorogo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bahwa seni Reog menarik dan penuh dengan nilai-nilai yang luar biasa. Selama era reformasi ini, di mana praktek-praktek yang fana dan radikalisme yang merajalela, nilai-nilai yang terkandung dalam seni Reog dapat digunakan sebagai landasan untuk membangun karakter bangsa yang lebih baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah herme¬neutika dan heuristik. Yang pertama digunakan untuk meng-ungkapkan makna yang terkandung dalam objek penelitian dalam bentuk fenomena kehidupan melalui pemahaman dan interpretasi, sedangkan yang kedua digunakan untuk menemukan dan mengembangkan metode baru lainnya dalam ilmu terutama filsafat. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa seni Reog Ponorogo adalah bagian budaya biasanya asli dari Ponorogo. Bila dilihat dari perspektif nilai-nilai hirarkis, Reog me¬ngandung kekudusan, spiri¬tual, hidup, dan nilai-nilai yang menyenang¬kan. Bangsa Indonesia saat ini menghadapi korupsi, terorisme, radikalisme, dan tantangan globalisasi yang dapat menyebabkan lemahya karakter nasional. Nilai-nilai seni Reog dapat digunakan sebagai sumber inspirasi dan dapat berkontribusi pada pembentukan karakter bangsa. Apa yang perlu disajikan adalah penguatan empat pilar bangsa dan refleksi dari lima kebajikan penting dari seni Reog. Keywords: reog Ponorogo, nilai, karakter bangsa, Babad Ponorogo.