cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 493 Documents
EPISTEMOLOGI AL-QURAN DALAM MEMBANGUN SAINS ISLAM Mishbahuddin, Iing
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.1.404

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate on the Quran as the basis of Islamic epistemology in building science. The concept of science in the Quran, from the point of view of philosophy. Framework used to analyze this theme is the philosophical framework. In the paradigm of philosophy, science concepts can be classified in three dimensions; the first, an epistemological dimension, namely the study of philosophy from the aspect of how to acquire knowledge. Part of this philosophy is called the theory of knowledge, namely methodology to gain knowledge or science, or how to obtain a true knowledge; second, the ontological dimension, namely the branch of philosophy that discusses the object of study of science, or the nature of the study of science; and the third, axiological dimension, namely the branch of philosophy that discusses the purpose and use value and the value of the benefits of science. Part of this philosophy better known as the theory of value. And what about his role in building the Islamic sciences in Islamic universities in particular and in the Islamic world in general. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi al-Quran sebagai landasan epistemologi dalam membangun sains Islam. Konsep ilmu dalam al-Quran, ditinjau dari sudut pandang filsafat. Kerangka yang dipakai untuk menganalisis tema ini adalah kerangka pemikiran filsafat. Dalam paradigma filsafat, konsep ilmu dapat diklasifikasi dalam tiga dimensi; pertama, dimensi epistemologis, yakni kajian filsafat dari aspek bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. Bagian filsafat ini disebut teori ilmu pengetahuan, yaitu metodologi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar; kedua, dimensi ontologis, yakni cabang filsafat yang membahas tentang objek kajian ilmu pengetahuan, atau hakikat segala yang menjadi kajian ilmu; dan ketiga, dimensi aksiologis, yakni cabang filsafat yang mem-bahas tentang tujuan dan nilai guna serta nilai manfaat ilmu pengetahuan. Bagian filsafat ini lebih dikenal dengan teori nilai. Dan bagaimana peranannya dalam membangun sains Islam di perguruan tinggi Islam khususnya dan di dunia Islam pada umumnya. Keywords: al-Quran, ayat al-matluwah, ayat al-majluwah, al-‘ilm, al-ḥikmah, dan al-ma‘rifah.
TASAWUF SEBAGAI SOLUSI BAGI PROBLEMATIKA KEMODERNAN: Studi Pemikiran Tasawuf M. Amin Syukur Thohir, Umar Faruq
Jurnal THEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): TASAWUF
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2013.24.2.327

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate Sufism thought of Amin Syukur. Hepositioned Sufismas one of the solutions to the problems of modernity who have lost the vision of divinity that result in psychological symptoms, namely spiritual emptiness. Then, the people would become stress and worry wart because of their hopless feeling. For this reason, M. Amin Syukur endorsed the problems of modernity with always optimistic, positive thinking, resting every intention and good deeds only to worship God and sharing (solidarity) for fellow creatures of God. In addition, he recommends to remember (al-żikr) to Godhowever, whenever, and wherever. Remembering God can calm the soul (sakīna) and mind that will affect the nerve, the nerve will affect the glands, the glands will produce healthy liquid. Healthy liquid which is a calm soul effect which will make man have the "immune power" against all diseases. In medical the termis called psycho-neuroen docrine immunology. Furthermore, according to Amin Syukur, problems of modernity can besolved by Sufism through methods like ma'rifa Allāh obtained via stairs of ma'rifa al-nafs, ma'rifa al-nās, and ma'rifa al-kawn. Abstrak: Artikel bertujuan untuk mengelaborasi pemikiran tasawuf Amin Syukur. Ia memposisikan tasawuf sebagai salah satu solusi terhadap problematika kemodernan ini yang sudah kehilangan visi keilahian yang mengakibatkan timbulnya gejala psikologis, yaitu adanya kehampaan spiritual. Akibatnya, orang akan menjadi stres dan gelisah karena merasa tidak mempunyai pegangan hidup. Untuk alasan ini, Untuk alasan ini, M. Amin Syukur mengarahkan penyelesaian problematika kemodernan ini dengan selalu optimis, berpikir positif, menyandarkan setiap niat dan perbuatan baik hanya untuk ibadah kepada Allah dan berbagi (solidaritas) untuk sesama makhluk ciptaan Allah. Selain itu, ia juga menganjurkan untuk selalu ingat (al-dzikr) kepada Allah bagaimana pun, kapan pun, dan dimana pun. Mengingat Allah dapat menenangkan (sakīnah) jiwa dan pikiran yang akan berpengaruh pada syaraf, syaraf akan memengaruhi kelenjar, kelenjar akan mengeluarkan cairan yang sehat. Cairan sehat yang merupakan efek jiwa tenang ini akan menjadikan orang memiliki "daya kebal" terhadap segala penyakit, yang dalam istilah medis disebut psycho neuroen dokrin immunology. Lebih jauh lagi, menurut M. Amin Syukur, problematika kemodernan ini dapat diselesaikan dengan tasawuf melalui metode ma'rifah Allāh yang diperoleh melalui tangga ma'rifah al-nafs, ma'rifah al-nās, dan ma'rifa al-kawn. Keyword: Sufism, ma'rifah al-nafs, ma'rifah al-nās, ma'rifa al-kawn, and immune power.
MONOTHEISME RADIKAL: Telaah atas Pemikiran Nurcholish Madjid Hakim, Didik Luthfi
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.383

Abstract

Abstract: Nurcholish Madjid is a Muslim intellectual of Indonesia who has given contribution toward Islamic thinking in Indonesia. Although his thoughts of Islam to be critiqued from other intellectual, he stayed to give enlightenment to Indonesia Muslim society. One of his thought is important about radical monotheism. By it, he offered to Islam umma to adhere pure monotheism in God in order to they will free from tyranny which come from the same human and place man in the same line as it is God Willing. By his concept, the tauḥīd produces social dimensions like equality, freedom, cooperation, and discussion. Abstrak: Nurcholish madjid adalah seorang cendekiawan Muslim Indonesia yang semasa hidup¬nya, telah banyak memberikan sumbangan pemikiran tentang Islam di Indonesia. Walaupun pemikiran-pemikirannya tentang Islam banyak mendapat kritikan dari para cendekiawan yang tidak seide dengan¬nya, ia tetap saja berupaya me-lakukan pen¬cerahan terhadap masyarakat Muslim Indonesia. Salah satu pemikirannya yang sangat menonjol adalah tentang monotheisme radikal. Dia menawarkan agar umat Islam bertauhid yang semurni-murninya kepada Tuhan, sehingga ia terbebas dari berbagai macam tirani yang datang dari sesama manusia dan mem¬posisikan manusia harkat dan martabat yang sama sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Dengan konsep¬nya ini, tauhid menghasilkan dimensi-dimensi sosial seperti persamaan, kebebasan, saling bekerja sama, dan bermusyawarah. Keywords: tauhid, monotheisme radikal, kebebasan, persamaan.
PENYERAPAN DAN MOTIVASI UMAT ISLAM MENGEMBANGKAN FILSAFAT Mufid, Fathul
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.921

Abstract

Abstract: A touch of Hellenistic culture on Muslims was apparent in the first Umayyah caliph era, Mu'a>wiyah ibn Abi Sufya>n (41-60 H), who was kind to officially appoint high officers and his personal physician of the Roman scientists. At that very moment, the translation of books from Greco-Roman to Arabic had not been done, but the absorption of Greco-Roman culture was done by regular interaction or everyday conversation (social interaction). The aim of the paper is to track when the absorption of the Muslims started concerning on the Greco-Roman philosophy, because there is information that they, in first century of Hijriyah, had started copying Greek books into Arabic. According to historical data, at the time of the Umayah, the Caliph Kha>lid ibn Yazi>d had ordered a Greek scientist who lived in Alexandria to translate the Organon of Aristotle from Greek into Arabic. This paper is a literary study that particularly discusses the absorption process and the motivation of Muslims in developing a philosophy imported from the Greco-Roman, and some part of the world in general. Abstrak: Sentuhan budaya hellenistik pada umat Islam sebenarnya sudah nampak signalnya pada perilaku khalifah pertama Bani Umayyah, Mu’āwiyah ibn Abī Sufyān (41-60 H), yang dengan penuh toleran mengangkat pejabat tinggi dan dokter pribadinya dari ilmuan Romawi. Pada waktu itu memang kegiatan penerjemahan buku-buku Yunani-Romawi ke dalam bahasa Arab belum dilakukan, tetapi penyerapan budaya Yunani-Romawi dilakukan dengan jalan pergaulan biasa atau percakapan sehari-hari (interaksi sosial). Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melacak sejak kapan penyerapan kaum Muslimin terhadap filsafat Yunani-Romawi, sebab ada informasi bahwa mereka sejak abad pertama Hijriyah telah memulai menyalin buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Menurut data sejarah, pada zaman Bani Umayyah, yaitu Khalifah Khālid ibn Yazī d telah memerintahkan seorang ilmuan Yunani yang berdomisili di Iskandariyah untuk menerjemahkan buku Organon karya Aristoteles dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Tulisan ini merupakan kajian literer yang membahas tentang proses penyerapan dan motivasi umat Islam mengembangkan filsafat yang diimport dari Yunani-Romawi khususnya, dan belahan dunia lain pada umumnya.
KRITIK JÜRGEN HABERMAS TERHADAP PERAN DAN FUNGSI AGAMA DALAM MASYARAKAT MODERN Viktorahadi, Bhanu
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 2 (2017): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.2.1879

Abstract

Abstract: The wrong understanding of role and function of religion will make religion just function as instruments of legitimating those who use it irresponsibly. Therefore, it is important to take a certain paradigm to see and analyze the role and function of religion. That paradigm in its turn will restore religion in its essential role and function as a system of orientation and interpretation of the meaning of human life, as well as its relationship with God and others. The Theory of Religious Criticism and Communicative Practical Theory of Jürgen Habermas offers evaluative, reflective, and corrective critics of the role and function of religion. The fired criticism will, in turn, help religion restore its role and function as a bridge communicative and relational between human and God and the others. At the same time, religion is expected to return to its role and function in contributing to the realization of a receptive society in rational discursive rooms which in turn will enable the process of human emancipation. The further process of human eman­cipation is the formation of an increasingly strong personal and social identity, rooted in values or virtues derived from religion itself as the bridge that leads people to the real truth.Abstrak: Pemahaman peran dan fungsi agama yang keliru akan menjadikan agama sekadar menjadi alat legitimasi pihak yang memanfaatkannya secara tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma untuk melihat sekaligus menganalisis peran dan fungsi agama supaya kembali pada hakikatnya sebagai sistem orientasi dan interpretasi atas hidup manusia pemaknaannya, serta relasinya dengan Tuhan dan sesama. Teori Kritik Agama dan Teori Praksis Komunikatif dari Jürgen Habermas menawarkan peluru-peluru kritik evaluatif, reflektif, dan korektif atas peran dan fungsi agama. Kritik yang ditembakkan tersebut pada gilirannya akan membantu agama mengembalikan peran dan fungsinya sebagai jembatan penghubung antara manusia dengan Tuhan dan sesamanya yang bersifat komunikatif dan relasional. Sekaligus dengan itu, agama diharapkan kembali pada peran dan fungsinya dalam memberi sumbangan atau berkontribusi pada upaya mewujudkan masyarakat yang reseptif pada ruang-ruang diskursif rasional yang pada gilirannya akan memungkinkan proses emansipasi kemanusiaan. Proses selanjutnya dari emansipasi kemanusiaan adalah pembentukan identitas personal dan sosial yang semakin kuat, yang berakar pada nilai-nilai atau keutamaan yang berasal dari agama itu sendiri sebagai jembatan yang mengarahkan manusia kepada kebenaran sejati. 
AL-UKHUWAH AL-IJTIMA’IYAH WA AL-INSANIYAH Hamidah, Hamidah
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1678

Abstract

The paradigm of freedom and religious tolerance in Islam contains teachings about human equality. Above equation can be formed brotherhood and friendship among religious social life based on humanity in order to create social order together. Thus from the side of humanity, Islam does not recognize exclusiveness, and from the side of faith, Islam does not recognize intolerance. In social interaction, Islam outlines the people not to argue with the followers of other religions but in a polite way, and ethical, and they should do well, and be fair to other religious communities. Expansion of the actual and empirical interpretation of religious teachings and by adjusting the reality aspects of socioeconomic, political and cultural socialization and assimilation is an effort and cultural assimilation of religious values in the society and the nation in particular in the development, so that religion can be played in development. And the vastness of religious insight of the religion will grow an attitude and an open and inclusive approach to social problems of mankind and humanity.Paradigma kebebasan dan toleransi beragama dalam lslam mengandung ajaran tentang persamaan manusia. Di atas persamaan ini dapat dibentuk persaudaraan dan persahabatan antar pemeluk agama dalam kehidupan sosial berdasarkan kemanusiaan demi terwujudnya ketertiban sosial bersama. Dengan demikian dari sisi kemanusiaan, lslam tidak mengenal eksklusivisme, dan dari sisi akidah, Islam juga tidak mengenal intoleransi. Dalam pergaulan sosial lslam menggariskan kepada umatnya yaitu tidak boleh berbantahan dengan penganut agama lain melainkan dengan cara yang sopan dan etis, dan mereka boleh berbuat baik dan berlaku adil terhadap komunitas agama lain. Perluasan penafsiran ajaran agama secara aktual dan empiris dengan merelevansikannya dengan aspek-aspek realitas sosial ekonomi, politik dan budaya merupakan upaya sosialisasi dan inkulturasi nilai-nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa khususnya dalam pembangunan, sehingga agama dapat diperankan dalam pembangunan. Dan keluasan wawasan penganut agama akan ajaran agamanya akan menumbuhkan sikap dan pandangan yang terbuka dan inklusif terhadap masalah-masalah sosial dan kemanusiaan umat manusia.
RESPONS NABI TERHADAP TRADISI JAHILIYYAH: Studi Reportase Hadis Nabi Sattar, Abdul
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 1 (2017): TAFSIR DAN HADIS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1338

Abstract

Abstract: This writing aims to study about the dialogue between norm and culture; in this case dialogue between Muhammad as Messenger of God with his people at that time. As we knew that all societies, including Arabic people, absolutely had their own specific tradition. When Muhammad comes to them and offering new norm, ideology and believe, it will appear the dialogue between these two traditions. The question is what is Muhammad do to respond that tradition? This article is based on library research relating to the hadith literature dealing with Muh}ammad’s respond to the tradition of Arabic people. To make the research easier, the word “al-jāhiliyyah” will be used as an entry point to look for jāhiliyyah tradition. The are four important things can be noted to explain the response of Muh}ammad to the tradition of jāhiliyyah. The first, total accommodation. The second, total refuse or total correction. The third, particular accommodation. The fourth, synchronization and modification.Abstrak: Penelitian ini bermaksud mengkaji tentang dialog agama dan budaya; dalam hal ini dialog antara Nabi Muhammad dengan budaya masyarakat Arab jahiliyyah saat itu. Sebuah masyarakat, termasuk masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam, bukanlah masyarakat yang steril dari pengaruh agama, adat istiadat, akhlak serta peraturan-peraturan hidup yang telah ada di kalangan mereka. Begitu Islam datang dengan segala norma yang ada di dalamnya, maka Islam menjadi filter bagi budaya, adat istiadat dan keyakinan yang sudah ada di kalangan masyarakat Aran pra Islam. Pertanyaannya adalah bagaimana respon Muh}ammad saw terhadap tradisi itu? Kajian ini didasarkan pada penelitian literatur  ḥadīth yang berisi respon Nabi terhadap tradisi masyarakat Arab saat itu. Untuk memudahkan pembahasan ini, kata “al-jāhiliyyah” digunakan sebagai entri point guna melacak hadis-hadis yang berkenaan dengan tema kajian ini. Ada empat temuan penting yang bisa dicatat berkenaan dengan respon Nabi terhadap tradisi jāhiliyyah. Pertama, tradisi yang secara utuh diakomodasi (total accomodation). Kedua, tradisi yang secara total ditolak atau total dikoreksi (total refuse or total correction). Ketiga, tradisi yang sebagiannya diadopsi tetapi sebagian yang lain ditolak  (particular accomodation). Keempat, tradisi yang secara prinsip tetap dilestarikan dengan sedikit modifikasi di sana-sini (sincronization and modification). 
DIALOG LINTAS IMAN DALAM KOMUNITAS LINTAS BUDAYA (Telaah Diskursif Polemik Ahmadiah dalam Milis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta) Said, Nur
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 2 (2016): TEOLOGI ISLAM DAN ISU-ISU KEBANGSAAN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1072

Abstract

The development of social media has made the world like folded. The actual issues to be so fast and easy to synthetically discussed through a mailing list included in the polemic issue of Ahmadiyah. This paper discussed the genealogy and characteristics of CRCS UGM student mailing list in response to issues of Ahmadiyah in Indonesia and how far it reinforce the idea of archeology students in nurturing empathetic intelligence in internal conflicts of Islam. This study was a library research that relied on documents as objects of study then to do in contents analyzed. The conclusion is in polemics on Ahmadiyah in mailing CRCS indicate an attempt to find "objectivism" and "rationality" in the understanding that the issue be debated Ahmadiyah distintinkly and contextually. But among those showing different domination between objectivism and rationality that sometimes still have not found any common ground between the pro and anti Ahmadiyah although  they generally in inclusive way of life. However, the process of intense discussion through the mailing list is very helpful in understanding the sow intelligence building empathy among Muslims especially those who are experiencing conflict.Perkembangan media sosial telah menjadikan dunia bagai dilipat. Isu-isu aktual menjadi begitu cepat dan mudah untuk didiskusikan melului sarana mailinglist (milis) termasuk dalam polemik isu Ahmadiyah. Paper ini mendiskusikan genealogi dan karakteristik milis mahasiswa crcs UGM Yogyakarta dalam merespon isu-isu Ahmadiyah di Indonesia dan sejauhmana hal itu memperteguh arkeologi pemikiran mahasiswa dalam menyemai kecerdasan empatik di tengak konflik intern umat Islam. Penelitian ini merupakan library research yang mengandalkan dokumen sebagai obyek kajiannya kemudian dilakukan analisis isi. Kesimpulannya adalah dalam berbagai polemik tentang Ahmadiyah di milis crcs menunjukkan upaya menemukan  “obyektivisme” dan “rasionalitas” dalam memahami polemik Ahmadiyah sehingga isunya menjadi distintif dan kontekstual. Namun diantara mereka menunjukkan dominasi yang berbeda antara obyektivisme dan rasionalitas sehingga terkadang masih dijumpai belum adanya titik temu antara yang pro maupun yang kontra meskipun secara umum nalarnya inklusif. Namun proses diskusi yang intens melalui milis tersebut sangat membantu dalam membangun kesepahaman dalam menyemai kecerdasan empati antar umat Islam terutama yang sedang mengalami konflik.
PREVENTING RELIGIOUS PERSECUTION AGAINST AHMADIYAH Anshori, Afnan
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1801

Abstract

As a global phenomenon, religious persecution might occur within all religions as well as nations. In  Indonesia, this phenomenon occurs within Islam. One of the most controversial cases regarding religious persecution is the discrimination experienced by Ahmadiyah. Here, they could not perform religious active­tie­s freely as they are prohibited to do so. In ad­dition, their properties as well as their religious and educational facilities have been destroyed. To resolve this case, there are at least, two approaches that can be used, which include judicial and non-judicial strategies. This resear­ch suggests the use of non-judicial strategies, which aim at eradicating religious persecution experienced by Ahmadis by raising people’s consciousness about religious tolerance and human rights. This includes intra-religious di­alog­ue and multicultural and human rights education. In terms of dialogue, this research suggests the use of intra-religious dialogue within Islam, especially between Ahmadiyah and orthodox Muslims.
DECLARATION TOWARD A GLOBAL ETHIC OF THE PARLIAMENT OF THE WORLD’S RELIGIONS AND BUILDING WORLD PEACE Sholihan, Sholihan
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1758

Abstract

Tulisan ini  membahas Etika Global Deklarasi Parlemen Agama-agama Dunia dan signifi­kan­sinya bagi penciptaan dunia yang damai, dalam pengertiannya sebagai  negative peace ataupun positive peace. Ada beberapa nilai yang harus ada dalam dunia yang damai, yaitu: non-keke­rasan, kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, keseimbangan ekologis, dan kesetaraan, khu­sus­­nya keseteraan gender. Nilai- nilai ini pulalah yang dipromosikan oleh Deklarasi Etika Global  yaitu, komitmen pada budaya non-kekerasan dan hormat pada kehidupan,  komitmen pada bu­daya solidaritas dan tata ekonomi yang adil, komitmen pada budaya toleransi dan hidup yang benar, dan komitmen pada budaya per­samaan hak dan kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian jelaslah signifikansi deklarasi etika global bagi upaya penciptaan dunia yang damai